'Dari Tsukishima
Buku bahasa Inggrismu terbawa olehku. Besok kukembalikan.
143.'
.
Selesai membaca pesan itu, Hinata langsung mengaduk isi tasnya. Benar juga, buku teks bahasa Inggrisnya tidak ada. Untungnya besok ia sendiri tidak ada pelajaran itu, sih, jadi ini tidak mendesak. Namun, karena Tsukishima sudah berinisiatif memberitahunya begitu, Hinata kemudian membalas 'oke' singkat dengan tanda senyum.
"Hm?" Hinata baru tersadar setelah mengirim balasan. "Hm, satu-empat-tiga?"
.
.
Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: oneshot, TsukiHina
.
.
143
by Fei Mei
.
.
Tanpa ba-bi-bu, Tsukishima menyodorkan buku teks milik Hinata pada yang punya sebelum latihan pagi. Middle Blocker yang lebih pendek itu mengangguk sambil berterimakasih, segera menyimpan buku itu dalam tasnya. Kemudian, ia menanyakan apa yang membingungkannya saat membaca pesan itu kemarin.
"Tsukishima, satu-empat-tiga itu maksudnya apaan?"
"Hah?" tanya Si Kacamata malas.
"Ituuu," Hinata meraih ponselnya, membuka pesan yang semalam, ditunjukannya pada sang lawan bicara. "Belakangan ini, kalau kamu mengirim pesan padaku, paling bawah selalu ada tiga angka ini, apaan maksudnya?"
Tsukishima menatap malas layar ponsel di hadapannya. "Kepencet."
"Yeee, kepencet kok selalu, sih," cibir Hinata. Tsukishima tidak merespon lebih lanjut karena sudah berbalik pergi menghampiri Yamaguchi.
.
.
Sampai pulang sekolah pun, Hinata masih penasaran. Jika ini baru pertama kali, ia tentu sudah kepikiran bahwa Tsukishima pasti tidak sengaja memencet tiga angka itu. Apalagi memang rekan Middle Blocker-nya itu hampir tidak pernah mengirim pesan padanya, kecuali kalau terlalu mendesak atau diancam Kapten. Tetapi belakangan, sesuatu yang sebenarnya bisa dibicarakan di grup atau sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diberitahu lewat pesan, malah dikirim Tsukishima ke nomor pribadi Hinata. Seperti yang semalam itu, bisa saja Si Kacamata tidak kirim pesan apa-apa, tiba-tiba hari berikutnya langsung mengembalikan bukunya, bisa saja. Dan dari setiap pesan pribadi Tsukishima, ia selalu menambahkan '143' di paling bawah.
'Apa itu bentuk ejekan yang baru?' pikir Hinata.
Terlarut dalam rasa penasarannya, tanpa sadar ia mengantukkan roda depan sepedanya pada Kageyama yang berjalan di depannya. Jelaslah si Setter langsung mengomel sambil melontarkan umpatan.
"S-sori, Kageyama!" ucap Hinata buru-buru.
"Makanya kalau lagi bawa sepeda, jangan sambil SMS-an!" bentak Kageyama. Oke, sebenarnya dia bukan membentak juga, sih, memang cara bicaranya yang seperti itu.
"A-aku gak SMS-an, kok!"
"Lah itu megang ponsel, ngapain!?"
Benar, Hinata menuntun sepedanya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya memegang ponsel. Matanya terpaku pada layar, melihat setiap pesan dari Tsukishima untuk menemukan angka '143'. "Erm, Kageyama, aku mau tanya, deh."
"Apaan?"
"Satu-empat-tiga itu apa ya?"
Jelas Kageyama tidak paham. "Hah?"
"Iniii, Si Tsukishima belakangan ngirim pesan selalu diakhiri dengan '143', tadi kutanya dan dia jawab kepencet. Tapi masak kepencet melulu, sih?"
Partnernya ini agak menunduk, melihat pesan yang Hinata pamerkan padanya. Benar juga, ada ketiga angka itu. "Hmmm, bukannya itu pi?"
"Pi?"
"Dua puluh dua pertujuh itu, yang kalau dibuat jadi desimal jadi panjang banget sehingga disingkat jadi satu koma empat tiga?"
Hinata mendengus. Itu Kageyama mau sok pintar bawa-bawa matematika, tapi angkanya salah. "Itu sih, tiga koma empat belas! Tiga-satu-empat!"
"Eh? Bukan satu-empat-tiga?" tanya Kageyama.
"Tiga-satu-empat!" ulang Hinata yakin. "Kemarin kan, baru diajarin Ennoshita-san!"
Kageyama manggut-manggut.
Lagi si Middle Blocker mencibir. "Lagian kalau bener ini pi, ngapain juga Tsukishima ngirim beginian melulu?"
"Mungkin ingetin kamu soal pi?"
Hinata mendengus lagi. "Matematika itu bukan cuman pi, tahu."
Lalu si Setter mengangkat bahu. "Coba aja cari di internet."
Ah, Si Cebol baru kepikiran. Tapi … kalau hanya angka begitu saja, memangnya internet bisa bantu apa?
.
.
Hinata Shoyo tercengang luar biasa. Otaknya memproses apa yang didapatnya lewat internet dengan sempurna. Tetapi karena sempurna itulah, hatinya menolak untuk percaya bahwa '143' yang dikirim Tsukishima itu sama artinya dengan apa yang ia dapat di internet. Dengan gugup dan terburu-buru, ia mengambil ponsel, mencari nomor Kageyama. Tidak ada arti khusus kenapa ia ingin segera menghubungi rekannya yang itu, hanya karena kebetulan Kageyama-lah satu-satunya orang yang ia beritahu mengenai pesan dari Tsukishima.
"K-KAGEYAMA!" sahut Hinata begitu teleponnya diangkat oleh yang diseberang.
"GAK USAH TERIAK DI TELINGAKU, BOKE!"
"KAMU SENDIRI JUGA TERIAK!"
"AKU, KAN, IKUTIN KAMU!"
"YA JANGAN IKUTAN—"
—"Nii-chan udah malem jangan berisik!"
… nah lho, malah Natsu yang lebih galak. "S-sori, Natsu," cicit Hinata. Kemudian ia berdeham, berbicara lagi lewat telepon. "Kageyama, tadi aku nyari satu-empat-tiga."
"Terus?"
" … anu, dari mesin pencarian … semua bilang itu artinya I love you."
" … "
" … "
"Oh."
"Kok, cuman 'oh'?"
"Memangnya aku harus respon apa? Dan lagi, ini kan, masalahmu, gak ada hubungannya sama aku, kan?"
"T-tapi—Kageyama, ini yang kita omongin si Stingyshima, loh."
"Yaaah, mungkin itu ada arti lain? Versi dia, gitu? Kamu tanya aja lagi sama dia."
"T-tapi, kalau ternyata arti versi dia malah ejekan, gimana?"
Terdengar dengusan di telinga Hinata. "Bukannya kamu udah biasa diejek dia?"
"I-iya, sih, tapi, erm—belakangan, dia udah gak pernah ejek aku … kalau tangannya pegang kepalaku, sudah bukan pakai cengkeraman lagi, dia hanya mengacak rambutku."
" … Hooo, Si Cebol sekarang suka Si Tiang Listrik ya?"
Jika ia mendapat pertanyaan itu tidak lama setelah bertemu Tsukishima pertama kali, dengan cepat Hinata bisa menjawabnya dengan 'tidak mungkin, lah!'. Tetapi, entah kenapa, ketika Kageyama menanyakan itu, respon pertama tubuh Hinata saat ini adalah menghangatnya bagian wajah.
Apa, eh, apa jangan-jangan dirinya jadi menyukai Tsukishima yang belakangan ini tidak begitu cari masalah dengannya?
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Hinata memencet tombol 'tutup' dan mengakhiri panggilan teleponnya dengan si Setter begitu saja. Dibukanya aplikasi pesan, dan mengirimnya pada rekan Middle Blockernya.
.
'Untuk Tsukishima
1432.'
.
Mungkin sekitar lima detik sejak pesan itu terkirim, ponsel Hinata bordering, tanda ada panggilan masuk. Ia terperanjat melihat nama yang tertera di layar: Tsukishima. Dengan agak gemetar, ia menjawab telepon itu.
"Ha—"
"Itu serius?"
"Eh?"
"Pesan yang kamu kirim barusan, kamu serius? Apa cuman bercanda? Apa kamu iseng kirim angka yang mirip dengan yang kukirim?"
"Ah—enggak, anu, itu—"
"Memang kamu udah ngerti arti satu-empat-tiga?"
"Erm, a-aku tadi cari di internet … uhm, semuanya bilang itu artinya, eh, I love you—aku cinta kamu, gitu."
"Percaya diri banget kamu, yakin kalau yang dariku itu artinya sama dengan yang di internet itu?"
Hinata tersentak. Tentu ia kepikiran, tapi mendengarnya langsung dari Tsukishima itu terasa seperti ditikam pisau. "Erm—jadi … bukan, ya?"
" … "
"Tsukishima?"
"Iya, hasil pencarianmu di internet itu memang sesuai dengan maksud pesanku."
"B-beneran!?"
"Aku gak bakal tulis secara gamblang, jadinya aku hanya akan kirim angka itu."
Rona merah kembali keluar di wajah Hinata. "K-kalau begitu! Eh, a-aku juga akan kirim yang tadi juga sebagai balasannya! Jadi, kalau kamu kirim satu-empat-tiga, aku juga bakal kirim satu-empat-tiga-dua! Hehehe~"
" … hm. Oh, jangan berani-beraninya cerita soal ini ke siapa-siapa, lho, ya, termasuk ke adikmu!"
Aduh, mampus. "Erm, sori, Tsukishima … tapi Kageyama udah tahu—"
"HAH—"
"MAAF!" potong Hinata segera. "Habisnya, aku bingung banget, jadi aku diskusi sama dia! Begitu dapet jawaban di internet, aku diskusi lagi sama dia sebelum akhirnya kirim pesan ke kamu tadi!"
" SI CEBOL BEGO INIII—"
.
.
Selesai
.
.
A/N: FEI BIKIN INI NGEBUT! Awalnya mau unggah DaiSuga, apalagi fict itu udah diketik dari kemarin, udah siap publish buat hari ini. Udah tahu juga pengen ngetik sesuatu buat TsukiHina day, ada idenya, tapi tiba-tiba males sehingga gak jadi. Tiba-tiba ngebet pengen ngetik TsukiHina, eeehh, ide buat pairing lain malah dipakai buat fict ini. Maapkeun. Disini Tsukishima malah berasa kayak Kageyama, ya? Maaf deh, gak terbiasa ngetik karakteristik Saltyshima kalau lagi sama Hinata.
'143' itu Fei baru tahu saat nonton salah satu video HQtext di Youtube (tapi jalan ceritanya jauh banget kok). Waktu ngetik fict ini, Fei iseng nyari di gugel cuman ngetik '143' dan ternyata memang benar itu adalah slang dari I (1) Love (4) You (3). Sedangkan angka 2 maksudnya Too.
Review?
