Matahari naik semakin tinggi ke atas kepala tapi seseorang yang tengah ditunggu kehadirannya, tak kunjung menampakan diri.
Hinata dan Naruto berdiri di dekat Toneri yang terduduk di atas singgahsana. Sama halnya dengan Toneri, mereka berdua penasaran akan kabar Hime.
Pintu di depan mereka terbelah tapi siapa yang berjalan menghampiri dan langsung membungkuk hormat bukanlah orang yang mereka tunggu sedari tadi.
Prajurit itu memberi hormat kepada Toneri, dia kemudian mengatakan. "Maaf, Yang Mulia. Tuan Gaara mengirimkan pesan ini untuk anda." Dia menyodorkan sebuah amplop merah dengan kedua tangannya.
Hinata mengambil amplop itu dan sang prajurit berjalan mundur keluar dari ruangan.
"Apa yang tertulis di sana?" tanya Naruto penasaran pada raut wajah khawatir Hinata yang telah membaca secarik kertas di dalam amplop tadi.
"Aku tak bisa baca." Ucap Hinata yang sudah lelah mencoba membaca tulisan tangan di kertas di tangannya. Ia memang belajar di sini tapi tulisan di dunia ini sangat sulit untuk bisa ia pahami.
Dahi Naruto berkerut, ia menatap sinis Hinata tapi Toneri tak berani melakukannya. Toneri menerima sodoran kertas tadi dari Hinata dan langsung saja membacanya.
"..." nafasnya tercekat, matanya melebar karena terkejut, tentu saja respon Toneri menghadirkan rasa penasaran dari Naruto maupun Hinata.
"Datang kemari dan jemput mayat gadismu"
Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membulat karena terkejut begitu juga dengan Naruto. Mayat?
"Apa maksudnya? Dia tak mungkin serius." Apa yang di maksud dengan mayat?
"Toneri?!"
Bracckk
"Hei!" kalimat tadi terus mengulang di kepalanya. Apa maksud Gaara mengirim surat itu?
"Kita harus pergi dengannya." Hinata mengambil tangan Naruto dan membawanya pergi menyusul Toneri sampai keluar istana.
"Tunggu Toneri! Ugh!" Hinata berguman kesal. Tanpa basa-basi sebentarpun, Toneri melaju pergi dengan kuda hitamnya.
"Aku tak bisa menunggangi kuda." Ucap Naruto ragu. Mereka harus mengejar Toneri secepat mungkin sebelum dia semakin menjauh tapi ia tak pernah menunggangi kuda sebelumnya, ia tak tahu bagaimana caranya.
"Aku bisa." Hinata naik ke atas kuda putih yang baru saja di sediakan oleh beberapa prajurit, "Ayo, naik!"
"..." Naruto ragu. Ia membeku karena tak cukup percaya pada kuda di depan matanya dan ia juga tak begitu percaya pada kepercayaan diri Hinata.
"Ugh!"
"Hei! Hei Hinata!" mengabaikan dirinya yang terdiam, Hinata malah meninggalkannya dan pergi melaju mengejar Toneri.
"Dia benar-benar bisa..." pikirnya terkejut. Hinata hebat sekali, selain bisa berpedang, dia juga bisa berkuda. Naruto hampir tak bisa mempercayai apa yang ia lihat.
"Tapi dia meninggalkanku, sial!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Diffrent
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Diffrent by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 14
.
.
"Tuan Gaara, tolong biarkan saya pergi." Langsung saja, mata hijau itu mendelik sangat tajam sekali seperti tajamnya ujung pedang.
"Sudah kukatakan, kamu hanya bisa pergi setelah mengalahkanku." Bibir itu tersenyum sinis, tak mau memperdulikan raut wajah putus asa gadis di depannya.
"Kamu harus melindungi Rajamu atau aku akan membunuhnya."
.
.
.
.
.
.
.
Para prajurit membungkuk homat ketika Toneri berjalan dengan sangat cepat melewati tempat dimana mereka berjaga.
"Hei tunggu!" Hinata kelelahan mengikuti cepatnya langkah kaki Toneri. Tanpa sengaja kakinya tersandung tapi untung saja ia tak terjatuh ke lantai.
"Toneri?" Ketika kepala Hinata terangkat, Toneri di depannya tadi sudah tak lagi terlihat. Kemana dia pergi?
Hinata menatap ke kanan dan juga kiri bahkan juga belakang, mencari kemana Toneri pergi.
.
.
.
.
.
.
.
Braccckk
Pintu terbelah, menampakkan seorang lelaki dengan mata tajamnya. Kehadirannya membuat dua orang yang tengah duduk berhadapan menoleh padanya.
"Oi Toneri." Sapa Gaara santai tapi gadis di depannya menatap terkejut.
"Apa kau sudah gila hah?!" Toneri berlari menghampiri dan mencengkram kerah baju Gaara, menariknya hingga posisi Gaara yang semula duduk menjadi berdiri.
"Yang Mulia." Hime ikut berdiri dan menatapnya terkejut. Mengapa orang ini tiba-tiba muncul dan dia tampaknya marah?
"Santailah, aku tak melakukan apapun padanya." Tangan Gaara menepis tangan Toneri. Surat itu hanya agar Toneri datang secepat mungkin. "Aku hanya mengajaknya bermain catur." Tambahnya jutek.
"Aku juga tahu kamu tak akan berani melakukan apapun padanya." Jawab Toneri, yang malah membuat Gaara menatap heran. Kalau saja dia tahu, mengapa dia terburu-buru langsung datang ke sini?
"Aku tak suka kamu mengatakan bahwa Himeku adalah mayat." Mata Hime terbelak, ia membeku karena terkejut Toneri tiba-tiba memeluknya lembut, tangannya menekan pelan kepalanya agar wajahnya tetap bersandar di dada bidangnya. "Himeku, bukan mayat. Aku tak suka kata mayat membuatku membayangkan Hime terbaring di peti mati." Raut wajah Toneri jelas mengatakan bahwa membayangkan Hime mati adalah hal yang akan sangat menyakitkan tapi mari berfokus pada wajah Gaara.
Bagaimana cara menjelaskan raut wajah Gaara saat ini?
Matanya menatap geli, jijik bahkan muak tapi juga terkejut. Apakah Toneri sadar seperti apa sikapnya sekarang? Perut Gaara mual melihat sikapnya yang ugh, rasanya seperti akan muntah.
"Kau benar-benar menggelikan." Gaara merasakan tubuhnya berdigik ngeri.
"Menjijikkan."
"TONERIII!" nafas Gaara tercekat, matanya membulat sempurna menatap siapa yang tiba-tiba masuk dari balik pintu. Apa yang baru saja ia lihat? Hime?
Tapi Hime berada di dalam pelukan Toneri. Tapi jelas sekali Hime baru saja masuk melalui pintu itu?!
"Toneri, apa kamu tak lihat Hime ada dua?" mengapa respon Toneri bahkan Hime sendiri biasa saja melihat siapa yang kini berjalan mendekat?
"Halo Gaara, aku sudah lama tak melihatmu. Kau makin jelek saja." Nafas Gaara semakin tercekat mendengar suara yang bahkan sangat mirip itu. Ia melihat dua Hime berdiri berdampingan. Apa yang sedang terjadi?
"Hime?" Gaara menatap kedua Hime secara bergantian.
"Kamu bukan Hime." Tangannya menunjuk wajah Hinata. "Ciri khas Hime adalah wajahnya yang terlihat sangat lembut. Lihat wajahmu, menyebalkan sekali." Tapi jika saja dia bukan Hime, siapa dia? Mereka sangat mirip sekali.
"Heh?!" dahi Hinata berkerut, ia tersenyum menahan kekesalan.
"Kau mau mati hah?!"
.
.
.
.
.
Hime pov
"Bagaimana menurut anda, jika saya menikah dengan Yang Mulia Toneri?" langsung saja ke point mengapa aku datang ke istana ini. Aku melihat Gaara menatapku heran. Jelas sekali dia heran mengapa aku tiba-tiba menanyakan hal ini.
"Apakah kemarin kamu berpura-pura tak sadarkan diri karena kamu berubah pikiran?"
"Tidak." Aku menjawab jujur. "Saya hanya terus kepikiran kalau saya tak pantas menikah dengannya." Begitulah jawabku tapi dia malah terdiam untuk beberapa saat.
"Pffftt hahahahah" mengapa dia tertawa seperti itu? Apa yang lucu dari perkataanku?
"Mengapa kamu berpikiran seperti itu? Toneri saja tak perduli."
"Tentu saya perduli, saya"
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan." Dia menyelaku dan aku diam untuk mendengarkan apa yang ingin dia katakan. "Ketika dia menikah denganmu daripada seorang putri, dia telah kehilangan kekuatan yang akan mendukung kerajaannya. Tapi." Dia menjeda ucapannya lama sekali membuat aku sungguh tak bisa sabar menahan rasa ingin tahuku soal apa yang akan dia katakan tapi aku memilih untuk tetap tak mengatakan apapun.
"Tapi tak ada kerajaan yang benar-benar bersekutu ataupun bersatu. Ketika ada kesempatan, mereka akan mencoba melahap satu sama lain. Kamu mungkin mengira Toneri akan dalam masalah karena menikahimu tapi kamu tak tahu justru dengan menikahinya, kamu telah menyelamatkannya." Aku tersentak mendengar apa yang Gaara katakan padaku tapi aku masih tak paham apa maksudnya menikah dengan Toneri adalah menyelamatkannya?
"Maaf tapi saya tak mengerti. Saya menyelamatkannya, bagaimana caranya?" aku tak paham sama sekali, apakah dia hanya sedang mencoba menghiburku?
"Apa kamu tahu sudah berapa banyak kali raja dari kerajaan lain mencoba menjodohkan Toneri dengan putri mereka?" Aku mengangguk sebagai jawaban karena aku tahu akan hal itu, aku selalu berada di dekat Toneri. Aku tahu seperti apa orang-orang itu mencoba mendapatkan jawaban iya dari Toneri dengan berbagai macam ancaman dan juga kemarahan.
"Jika kamu menikah dengannya, kau akan menjadi ratu dan mereka tak akan lagi mengejar Toneri karena posisi yang mereka incar telah tidak ada. Itu yang pertama." Dia melanjutkan lagi.
"Dan kedua, seperti kataku tak ada yang namanya bersekutu ataupun bersatu, hal itu hanya sementara. Jika Toneri menikah denganmu, nol kemungkinan kamu akan berbalik melawannya dan mereka yang mengincarnya juga tak akan punya kesempatan untuk berkhianat. Mereka hanya bisa tak setuju ataupun membuat kegaduhan tapi hanya sampai di sana."
"Toneri selalu lebih kuat dari mereka semua karena dia punya aku yang tak berniat menikamnya sama sekali, begitu juga sebaliknya. Dua kerajaan kami bersekutu, kami sudah lebih kuat dari kerjaan manapun. Dia tak butuh kekuatan lagi. Justru yang dia butuhkan hanyalah orang yang membuatnya mabuk cinta." Gaara menghela nafas dan dia menggeleng singkat. Aku tak tahu mengapa tapi beberapa kali dia membahas Toneri yang sedang jatuh cinta, dia tampak putus asa.
"Kamu juga sangat lucu sekali. Toneri adalah Rajamu, dia jelas lebih hebat dan tahu apa yang dia lakukan. Mengapa kamu meragukan keputusannya?" dia menatapku tak suka dan spontan, aku menunduk. Entah mengapa aku merasa malu, kalimatnya barusan bagaikan pedang menghunus ke dalam hatiku. Aku tak pernah tahu apapun yang ada di dalam pikiran Toneri karena dia juga tak pernah menjelaskan apa rencananya tapi mengapa setelah mendengar penjelasan Gaara membuat aku menyesal? Aku melakukan apa saja berharap aku bisa membantu tapi mengapa rasanya yang aku lakukan adalah menyusahkannya?
"Aku hanya mencoba membantunya." Aku tak tahu harus menjawab apa tapi Gaara tampaknya tak puas pada jawabanku, dia tampak kesal.
"Kau menyusahkan dia. Bayangkan saja jika kalian menikah sedari awal." Dia mengangkat jari kelingking. "Dia tak harus menolak kerajaan lagi dan membuat mereka menaruh benci." Kemudian Gaara mengangkat satu jari yang lain. "Kekacauan yang disebabkan oleh berita kalian akan menikah sudah lama tenggelam dan ketiga kamu tak akan memilih datang padaku karena merasa sangat cemas." Aku tak tahu harus menjawab apa tapi aku bertanya.
"Mengapa Yang Mulia Toneri tak mengataka apapun pada saya?" seandainya lelaki itu mengatakan semuanya secara jujur, sekarang ia mungkin tak akan di landa kebingungan dan juga semua ini tak akan terjadi. Ia tak akan menyakiti Toneri dan mungkin dirinya juga tak akan merasakan apa itu sakit hati.
"Mengapa? Mungkin karena dia tak mau kau merasa tertekan seolah menikah dengannya hanya karena untuk membantunya. Kau pasti tahu kalau dia sangat-sangat jatuh hati padamu." Aku tak menjawab. Aku merasa bodoh sekali sekarang. Aku bahkan tak bisa menjelaskan seperti apa kebodohanku selama ini.
"Dia benar-benar sangat menggelikan, padahal dia adalah seorang raja tapi ketika menyebut namamu, dia seperti anak kucing yang minta diperhatikan. Dia benar-benar menjijikkan." Bahkan ketika aku mendengar Gaara menghina Toneri seperti itu, aku selalu tahu bahwa Gaara tak bermaksud berkata sekasar itu. Mereka selalu menjadi teman yang baik.
"Saya minta maaf dan terima kasih karena telah mendengarkan." Aku membungkuk hormat dan kemudian meminta izin untuk pulang. "Saya tak akan lagi menyita waktu Tuan Gaara jadi, saya akan segera kembali ke istana." Begitu kataku tapi suara Gaara membuatku kembali mengangkat kepala.
"Sebagai balasannya, bermain catur denganku. Kamu bisa pulang jika kamu mengalahkanku." Dia mengangkat satu sudut bibirnya dan saat itu juga aku tahu dia berniat mengerjaiku.
Aku tak akan pernah bisa mengalahkannya tapi aku juga tak bisa menolak.
"Sebelum itu, istirahatlah terlebih dulu, dayang akan membangunkanmu setelah matahari muncul."
Hime pov end
.
.
.
.
.
.
.
.
Hime tak kuasa menahan senyuman ketika ia melihat senyuman lebar dari lelaki di sampingnya. Toneri tersenyum, dia tersenyum melihat tingkah Hinata dan juga Gaara tapi apa yang lebih membuat Hime tersenyum adalah mengingat pembicaraannya dengan Gaara.
"Aku bodoh."
"Hm?" Toneri mengalihkan matanya ke Hime. Ia seperti mendengar Hime mengatakan sesuatu.
"Iya'kan? Begitu yang aku katakan. Anak kembar saja tak semirip ini." Gaara mengamati Hinata dari segala sisi. Semakin lama melihat Hinata, semakin ia tak percaya Hinata itu nyata.
"Tunggu tunggu." Gaara mengingat suatu hal, pertama kali ia merasa sikap Hime berubah. "Waktu itu, waktu aku bilang kamu sedikit lebih jelek dari terakhir kali aku melihatmu, itu kamu?!"
"Iya!" Hinata menjawab dengan cepat dan langsung saja Gaara menahan nafasnya, tak percaya bahwa ternyata waktu itu bukanlah perasaannya saja, tapi dia memang bukan Hime. "Itu aku! Itu pertama kali kita bertemu." Lanjut Hinata cepat.
"Sudah kuduga! Aku tahu ada yang berbeda." Apakah ini hal yang bisa dibanggakan? Karena Gaara merasa sangat bangga bahwa ia menyadari dua orang yang sangat mirip ini.
"Ya! Wah kau hebat sekali hahahha" Hinata tertawa penuh dengan kebanggaan, senang karena tahu ternyata ada yang menyadari bahwa dirinya bukan Hime.
"Iya! Aku hanya tak kepikiran bahwa di dunia ini ada dua orang yang sangat mirip apalagi kamu datang bersama Toneri. Hahaha" jika saja dia tak datang bersama Toneri waktu itu, jelas sekali ia akan sangat yakin bahwa gadis ini bukanlah Hime.
"Lagipula semakin dilihat kalian tak begitu mirip. Kau ini lebih jelek. Hahaha!"
"..."
.
.
.
.
To be continue.
