Wajah Naruto memanas menahan malu. Ini bukan rasa malu ketika tak sengaja berpegang tangan dengan gadis pujaan tapi malu karena harus duduk di atas kuda yang sama dengan salah satu prajurit Toneri.
Ia terpaksa meminta salah satu prajurit mengantarnya untuk mengekori Hinata. Rasanya benar-benar memalukan, ia sampai tak berani mengangkat kepala.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Diffrent
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Diffrent by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 15
.
.
"Wah, ini sama sekali tak bisa dipercaya." Gaara tercengang setelah mendengar cerita dari mulut gadis yang kini ia tahu bernama Hinata. Portal? Dia berasal dari dunia lain? Katakan bagaimana bisa kau mempercayai cerita seperti itu? Meskipun buktinya terduduk di depan matamu, rasanya masih saja mustahil.
"Percaya tak percaya, begitulah kenyataannya." Ucap Toneri sesudah menyeruput teh dari atas meja. Mereka tengah terduduk santai di atas meja yang terletak di halaman istana, menikmati enaknya teh hangat di tambah cuaca sore hari yang sangat menyejukkan.
"Ini benar-benar mengejutkan tapi kamu baru memberitahuku sekarang?" Gaara menuntut jawaban dari Toneri yang tampak sangat santai sekali.
"Ini bukan urusanmu, mengapa kamu harus tahu?"
"Kamu memang benar tapi ini adalah keajaiban, apa salahnya aku tahu?" jawabnya tak senang. Lihatlah dua gadis yang sangat mirip duduk bersebelahan, satu menikmati teh layaknya seorang putri sedangkan yang satu lagi meniup teh panas itu sekuat tenaga seolah ingin menumpahkan semua isinya.
Mereka berbeda sekali meski memiliki wajah yang sangat mirip sampai-sampai membuatnya menggelengkan kepala.
"Lagipula, Hinata akan segera kembali ke dunianya."
"Uhm!" hampir saja Hinata terbatuk karena cairan panas tadi melewati tenggorokannya. Dengan segera ia meletakkan cangkir kaca cantik itu ke atas tapak di atas meja.
"Naruto!" ucapnya teringat pada Naruto yang ia tinggalkan.
"Hah? Kau baru saja ingat padaku?" raut wajah Naruto sangat masam sekali, suaranya membuat semua orang yang ada di halaman menatapnya.
Dua orang prajurit yang mengunci kedua tangannya membuat tubuhnya jatuh dalam posisi berlutut.
"Hei, lepaskan dia." Hinata bangkit dengan mendorong salah satu prajurit yang menahan pergerakan Naruto.
"Biarkan dia, kalian boleh pergi." Tapi dua prajurit itu hanya mau bergerak atas perintah Gaara.
"Arg tanganku terasa seperti patah." Ia mencoba masuk ke dalam istana setelah tiba tapi dua prajurit tadi malah menangkapnya tapi mungkin ia harus merasa berterima kasih karena jika bukan karena mereka, ia mungkin harus bersusah payah mencari Hinata di tempat besar ini.
"Kamu mengenalnya?" Gaara menatap heran. Lelaki itu mirip dengan prajuritnya yang kemarin menghilang tapi Hime telah mengantarnya kembali. Jadi, jelas sekali lelaki itu adalah orang yang berbeda.
"Maaf, Tuan Gaara. Saya tak berkata jujur sebelumnya tapi sebenarnya alasan Prajurit anda menghilang adalah karena lelaki itu muncul di sini." Gaara tak terkejut tapi sebaliknya, ia mengerti pada permintaan maaf Hime. Dia tak bisa mengatakan yang sejujurnya, sebelumnya karena akan kesusahan untuk menjelaskan.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini, Naru?" tanya Hinata penasaran. Ia yakin sebelumnya Naruto bilang tak bisa berkuda?
"Abaikan itu." Malu untuk menjawab, Naruto berjalan melewati Hinata dengan menghampiri Toneri. "Aku rasa kami akan kembali sekarang."
"Kembali?" tanya Gaara tak paham. Apa maksudnya dengan kembali? Apakah kembali ke dunianya?
"Hinata bilang lelaki yang mirip denganku itu berada di sini, jadi aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk berpisah."
"Tapi, tidakkah kalian terlalu terburu-buru?" jujur, Hime merasa cukup senang melihat Hinata maupun Naruto. Rasanya terlalu cepat untuk berpisah.
"Hei, Sebenarnya aku tak keberatan kalau kalian tak menyukai kerjaan Toneri, kalian bisa tinggal denganku." Tawar Gaara lengkap dengan senyumannya. Daripada Hime, Hinata jelas lebih menyenangkan, suaranya membuat istananya terasa ramai.
"Aku tak suka padamu." Jawab Hinata yang muncul dari punggung Naruto. Dia membalas melototi Gaara yang menatapnya kesal. "Blueeek" ejeknya dengan menjulurkan lidah.
"Tidak, aku hanya berpikir kami sudah terlalu lama di sini, aku harap kalian tak menahan kami lebih lama lagi." Tak ada jawaban dari Toneri maupun Hime untuk beberapa saat. Mereka seolah berpikir, entah mengapa perpisahan ini terasa berat.
"Biarkan aku memelukmu, Hinata." Hime mengulurkan kedua tangan dan Hinata langsung menerima pelukan darinya.
"Nggg aku berharap bisa lebih lama di sini." Ucapnya sedih, kedua sudut bibirnya tertarik ke bawah. Rasanya seperti menangis tanpa air mata.
"Aku minta maaf atas apa yang telah terjadi dan terima kasih telah menjaga Hinata dan juga memperlakukan kami dengan baik." Naruto melakukan hal yang sama, dia memberikan pelukan hangat untuk Toneri karena selain itu tak ada yang bisa ia lakukan untuk membelas semua kebaikannya.
"Mari hentikan saja."
"..." Gaara membisu melihat mereka yang mencoba memeluk satu sama lain tapi malah saling menghentikan.
"Oke" Hinata menarik Naruto menjauh sedangkan Toneri menarik Hime. Mereka tak izinkan Naruto dan Hime saling memberikan pelukan.
"Hah~" sikap posesif mereka membuat Gaara merasa sangat kesepian.
.
.
.
.
.
.
Dua pasang manusia yang memiliki wajah mirip itu saling menyatukan tangan dalam posisi melingkar. Mata mereka sama-sama terpejam.
"..."
"..."
Entah sudah berapa lama berdiri sambil memejamkan mata, Hinata merasakan kakinya lelah dan juga ia merasa sangat bosan sekali.
"Tidakkah ini terla" mata Hinata terbuka dan ia baru saja menyadari tangan kirinya yang digengam Hime tadi sudah terlepas. Ia menoleh kemana-mana dan pemandangannya sekarang telah berubah.
"Naru!" Naruto membuka mata karena Hinata mengguncang badannya. Seperti Hinata, dia mengamati sekitarnya. Tempat yang tadinya hanya berisi halaman yang luas, sekarang tergantikan oleh gedung-gedung yang tinggi.
Deg!
Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia mencoba menekan rasa terkejut. Apakah ia sungguh sudah kembali ke dunianya?
Tapi...
"Tapi ini tak tampak seperti Jepang?" Jepang memang punya banyak gedung tinggi tapi gedung di sini berbeda dan suasanya juga tampak tak sama. Bahkan penduduk yang sedang bergegas kesana-sini juga tak terlihat seperti orang Jepang.
Mata Hinata memicing, dia memasang telinganya untuk menangkap suara dari seorang gadis yang tengah berbicara melewati telepon yang akan melewatinya.
Deg!
Matanya terbelak sempurna saat itu juga. Dia membeku.
"Na-Naru."
"Apa?"
"Kita sedang berada di"
.
.
.
.
.
.
"Hongkong." Hime tersenyum lucu. Maafkan jika dirinya jahat tapi setidaknya sekali dalam seumur hidup, ia ingin tahu bagaimana rasanya mengerjai seseorang.
"Aku melihatnya di TV, hongkong sangat cantik sekali. Ada Jackie-chan di sana." Toneri menatap penuh dengan tanda tanya, tak paham sama sekali apa kata Hime.
"TV? Hongkong? Jackie-chan? Benda apa itu?"
.
.
.
.
.
.
"Aaaarrggg! Hime keparat!" katakan bagaimana caranya Hinata untuk tak mengumpat?! Bagaimana caranya untuk pulang sekarang?!
"Telepon, Hinata." Naruto mengambil tangan Hinata dan menariknya ke tempat telepon umum yang tertangkap oleh matanya.
"Tapi kita tak ada uang." Kepala Naruto berdenyut mengingat fakta penting itu. Tak ada uang, maka telepon umum ini tak akan bisa di pakai. SEMUA ORANG DI SEKITARNYA MENGGUNAKAN BAHASA YANG TAK BISA IA PAHAMI SAMA SEKALI!
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?!"
.
.
.
.
.
.
Baru sehari kedua manusia itu pergi dari istana ini, bahkan pagi pun baru saja datang tapi rasa rindu sudah hadir di hati Hime. Dia menghentikan acara sarapannya dan menatap Toneri yang seperti biasa akan duduk di depannya.
"Bolehkah aku bertanya?" dia menatap dengan raut wajah ingin tahu, Toneri meletakkan sendok dan garfu di tangannya untuk berfokus pada Hime, menunggu apa yang akan dia tanyakan.
"Mungkinkah kamu membenciku?" Toneri tersenyum tipis, menatapnya lembut.
"Aku tidak membencimu." Jawabnya jujur.
"Aku hanya ingin memastikan." Kedua tangannya, Hime turunkan ke bawah meja, di atas pahanya dan ia memainkan dua jarinya untuk menekan rasa gugup. "Aku merasa khawatir." Lihatlah, setelah menyakitinya, mata itu masih menatapnya sangat lembut dan penuh cinta. Bagaimana bisa ia tak merasa menyesal?
"Hime, jika saja waktu itu aku tetap membiarkanmu pergi. Jika sekarang kamu tak duduk di depanku setelah Naruto dan Hinata kembali ke dunia mereka. Sekarang, aku mungkin akan termenung di sini menyesali kesalahanku karena mencoba membencimu." Toneri melanjutkan. "Aku senang karena rasa takut itu datang hingga aku memilih untuk menemuimu." Dia tersenyum dengan sangat tulus. Dia memilih melupakan rasa kecewanya agar tak mendapatkan rasa sakit yang lebih menyakitkan lagi. Dan sekarang ia merasa sangat senang atas pilihannya dan semua itu karena kata-kata Hinata kemarin.
"Pertama kali kamu melihat Hinata, seperti apa reaksimu?" pertanyaan itu langsung menghadirkan senyuman di bibir Toneri. Ia tak harus berpikir untuk menjawab pertanyaan itu.
Tentu saja ia ingat hari itu, ia tak akan pernah melupakannya.
"-Na-Na-Naruto!"
"Naruto!"
"Hinata tiba-tiba datang dengan meneriaki sebuah nama, aku sangat kaget sekali tapi aku lebih merasa takut." Toneri mulai menjelaskan pertama kali ia bertemu Hinata. Hari itu, sewaktu Hime akan menolak lamarannya tapi malah tiba-tiba berteriak.
"Takut?" sang Hime bertanya. "Kenapa kamu takut?"
"Rambut perak dan lihat tatapanmu itu. Kau terlihat sangat menyebalkan!"
"Aku berpikir apa yang terjadi dengan Hime? Mengapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu? Apakah dia baik-baik saja? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika dia menjadi gila karena lelah terus menolakku?" Toneri mencontohkan betapa panik dirinya waktu itu di balik wajah datarnya hingga membuat Hime terkekeh.
Melihat kekehan itu, membuatnya tersenyum. Ia bahagia melihat wajah tertawa Hime.
"Sikapnya sangat berbanding terbalik denganmu dan hal itu membuatku sangat dan semakin merindukanmu, aku tak bisa mempercayai bahwa dia bukan dirimu tapi di saat yang bersamaan, aku sangat tahu bahwa dia bukan kamu."
"Aku sangat merindukanmu sampai-sampai aku mencoba menganggapnya adalah Hime yang sedang lupa ingatan." Ucapnya jujur. Dulu hal itu sangat menyedihkan tapi sekarang cerita itu adalah guyonan untuknya. Semirip apapun Hinata dan Hime, Hinata tetap saja bukan gadis yang ia cintai. Semirip apapun wajahnya, mereka tetaplah orang yang berbeda.
"Ada satu hal yang paling aku ingat, aku katakan pada Hinata." Toneri berucap dengan ragu-ragu membuat Hime menatapnya penuh dengan tanda tanya.
"Apa itu?" mengapa Toneri terlihat ragu mengatakannya?
"Hime..." dia memberi jeda karena ragu.
Toneri memang mengatakan kata-kata yang dia katakan adalah untuk Hinata tapi mengapa melihat tatapan matanya membuat Hime berpikir bahwa kata-kata itu tertuju untuknya?
"Apakah kamu bersedia menikah denganku?"
"..."
.
.
.
.
.
.
.
"Sangat indah, bukan?" malam hari sudah cukup menyiksa mereka untuk mencari tempat untuk tidur tapi matahari yang baru saja terbit ini memancarkan kecantikan yang bisa menenangkan hati siapa saja yang melihat.
Hinata menyandarkan kepala ke pundak Naruto yang terduduk di sebelahnya. Mereka berdua tengah duduk di ujung jembatan sebuah pelabuhan besar.
Apa kau tahu apa yang sudah Hinata dan Naruto alami? Mereka harus bersusah payah meminta uang pada orang-orang untuk menggunakan telepon umum. Mereka berhasil melakukannya tadi malam dan ibu Hinata akan segera datang untuk menjemput mereka. Masih ada beberapa jam sebelum ibunya tiba.
"Ne, Naru."
"Hm?" Naruto menoleh ke arah Hinata.
.
.
.
.
.
"Maafkan aku, mungkin aku terlalu terburu-bu"
"Aku bersedia." Raut wajah Toneri yang semulanya menyesal menjadi terkejut. Apakah ia salah dengar? Ia menatap Hime dengan kedua matanya yang penuh tanda tanya.
"Apa yang baru saja kamu katakan?"
Bukan jawaban tapi sebuah senyuman penuh makna, Toneri dapatkan. Senyuman itu seolah mengatakan semuanya.
Dan senyuman itu membuat pipi Toneri memerah.
.
.
.
.
.
.
"Apakah akan aneh jika tiba-tiba aku bilang aku mencintaimu?" mata Hinata tak berpaling sedetikpun dari matahari jauh di depannya.
"Ssstt jangan katakan." Padahal itu hanyalah sebuah pertanyaan tapi entah mengapa jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.
"Mari kita tetap berteman baik, Hinata." Hinata mengulum senyuman.
"Hingga suatu hari nanti, aku akan melamarmu."
"..."
.
.
.
.
Tamat
Yey yey yey
Tinggal dua cerita yg masih tbc
I dunt know ending ini Bagaimana tapi nikmatilah.
Author sayang kalian
Byee byee
