Semua Karakter Naruto Hanya Milik Masashi Kishimoto. Saya minjem doang kok.
SEKRETARIS TERBUANG by me
"Turunlah Sakura, mau sampai kapan kau melihat butiran boba itu?" Sasori menatap kesal kearah Sakura yang hanya melihat sisa boba dalam minumannya sejak 15 menit yang lalu.
"Eh Sasori-nii, Aku curiga kalau boba itu sebenarnya telur katak yang diolah" Sakura masih serius dengan boba di genggamnya
"Ya kau benar, besok pagi jika kau merasa mulas, pasti keluarnya telur katak, jangan lupa berikan telur katak itu kepada Jiraya-jisan kurasa dia akan senang melihat koleksi katak pink jika menetas"
"Itu menjijikkan Sasori-nii, berhentilah berimajinasi liar, Sudahlah aku menemui ayah dulu. Jangan lupa jemput aku. Aku kabarin"
"Iya. Pastikan kau mendapat pekerjaan, ku lihat mukamu semakin berkerut karena stress"
Sakura mendengus kesal, dia keluar dan menutup pintu mobil dengan kasar. Sasori merasa kagetpun membuka kaca jendela.
"Woy Saki, ingatt, Cicilan mobil ini belum lunas, jangan kau rusakk Sakura gilaa"
"Bodo amat Sasori-nii" Sakura berlari dan tertawa senang melihat Sasori jengkel.
Akibat lari dan tak melihat kedepan tanpa sengaja, Sakura tak sengaja menabrak orang di depan.
Brukk
"Kalau jalan itu pakai mata ya" Ucap pemuda itu
"Dimana mana kalau jalan pakai kaki lah" Sakura tak kalah sewot.
"Eh bener juga ya"
"Iyalah, benarr, Wanita selalu benar. Kau menghalangi jalanku minggir tuan" Sakura berjalan menabrak bahu pemuda tersebut.
Pemuda itu hanya bengong memikirkan perkataan Sakura, benar juga jalan pakai kaki, tapi mengapa disinetron kok ngomong jalan pakai mata?
"Sui, Kau kenapa bengong seperti itu?"
"Sasuke, boleh aku bertanya?"
"Hn"
"Kita jalan pakai Mata atau Kaki?"
"Pakai Otak, kalau otakmu tak menyuruh melangkah tidak bakal jalan. Dan sekarang berhenti bertanya hal konyol, suruh otakmu untuk melangkah masuk, Haruno-jisan menunggu kita"
"Kok beda lagi ya. Mengapa hari ini banyqk orang aneh. Woi Sasuke tunggu aku" pemuda bergigi hiu alias runcing runcing, mengejar langkah pemuda didepannya.
"Ayame-nee apakah ayah ada diruangan?"
"Ayah anda ada diruangannya nona, masuk saja"
Sakura mengangguk tersenyum dan melangkah menuju ruangan Ayahnya, namun alangkah terkejut Sakura mendapati ayahnya.
"A-ayah, apa yang ayah lakukan"
Kizashi dan perempuan itu gelagapan mendapati Sakura masuk ruangannya.
"Bisa Ayah jelaskan Sakura, tolong kamu jangan bilang Ibu dulu"
"Permisi tuan Saya keluar ruangan sebentar"
"Ayah tau? Bagaimana Ibu melihat ini, betapa marahnya sesuatu yg berharga milik ibu dirusak"
Kizashi terdiam melihat Sakura dengan mata merahnya menahan tangis, ia tau nyawanya diujung tanduk.
"Hmm, Ayah akan memberikan apapun asal kamu mau menyembunyikan ini. Bagaimana?"
Sakura memicing tak suka, tapi bukankah ini kesempatan bagus, Sakura menyeringai, dan mendeham.
"Baiklah, berikan aku pekerjaan, ayah. tapi tidak dikantor ayah, aku ingin bekerja dimanapun asal tidak disini"
"Baiklah. Deal" Kizashi tersenyum terselamatkan dan menjabat tangan Sakura.
"Apakah Ayah yakin akan pulang malam ini? Kalau ayah pulang dengan keadaan seperti ini aku rasa ibu siap menikammu ayah"
"Lalu ayah harus bagaimana Sakura"
"Beli Tupperware yg baru, Warna itu bukan warna langka, coba di kedai Pain, ibu membelinya disana"
"Ayah berniat memperbaikinya, Ayah berharap Yuki dapat memperbaiki ternyata semakin tidak berbentuk seperti ini" Kizqshi menunjukkan tempat minum tupperware berwarna hijau yg telah tergores sana sini.
"Lagian kenapa bisa tergores seperti ini?"
"Kau tau Sakura bagaimana ibu jika melihat barang kesayangannya terkena noda, ayah bahkan tidur dilantai saat itu karena ayah tidak sengaja menjatuhkan diselokan depan rumah, dan sekarang tak sengaja terkena tinta bolpoin dan nodanya tidak hilang, ayah mencoba membersihknnya menggunakan cuter, ternyata seperti ini"
"Ayahkan kaya, kenapa tidak membeli baru saja?" Sakura kini duduk dengan setoples cemilan ditangannya.
"Ayah takut ibu akan curiga. Ibu sangat teliti dengan barangnya. Dasar buk-ibuk."
"Hmm. Bagaimana Ayah? Apa kau berfikir aku ditepatkan dimana?"
"Aaa.. Kolega Ayah sebentar lagi akan datang, Ayah akan menanyakannya"
Tok.. Tokk
"Tuan Haruno, Kolega anda ingin menemui anda, mereka ada di ruang tunggu".
"Suruh mereka masuk kemari Yuki-san"
Sakura melihat Ayahnya senang, Kizashi hanya memutar bola matanya melihat kelakuan anak gadisnya.
"Ayah harap kau tidak mempermalukan Ayah, Sakura"
"Siap Ayahh. Hihihi"
Sakura memasang wajah elegan dan membenarkan posisi duduknya. Lalu pintu terbuka nampak 2 model kukang tampan memasuki areahhh. Ehm, area. Sakura kaget, habis sudah wajah elegan Sakura, melotot melihat seseorang yang ia tabrak.
"Kau.. Hei, ada urusan apa kau, kalau memang ngefans kau tak harus mengejarku tuan."
"Ngefans? Kau untuk apa kemari, apa kau mau menjual di-" Suigetsu berapi api, tanpa sadari aura hitam menguar dari diri pemuda di depannya, kang ayam pasar cimahi, siapa lagi, Sasuke lah.
"Hentikan, Sui" Sasuke memotong perkataan sui yang menurutnya tak pantas diungkapkan.
"Maafkan kelakuan asisten saya Haruno-jiisan"
"Tak masalah, Sasuke, semua juga akibat anakku yang bar bar ini mulutnya" Kizashi memicing tajam kearah Sakura. Ciut juga si Gulali akhirnya.
"Silahkan duduk Sasuke."
"Terima kasih Haruno-Jisaan"
"Panggil aku Kizashi, Sasuke, kau sudah kuanggap seperti anakku"
"Terimakasih Kizashi-jisaan, sekali lagi maaf membuat kegaduhan"
Kizashi mendudukan dirinya di kursi tunggal, diikuti Sakura, Sasuke dan Suigetsu. Namun aura permusuhan SakuSui tak berakhir mereka saling memicingkan mata tak suka. Sasuke menatap Sakura tengah memandang musuhnya, Sasuke tersenyum tipis. Aaa.. Kawaiii.
"Ada apa Sasuke? Apakah ada yg kau sampaikan?"
"Ayah memberikanku wewenang menghandle perusahaan di Korea, aku berniat mengajak jisaan secara hormat membantu kami, jisaan bisa menaruh saham, Saya berniat mengembangkan perusahaan ayah yang telah redup" Sasuke memberikan map dimeja.
"Bukankah perusahaan ayahmu di korea bergerak dibidang game? Apa kau berniat menjadikan perusahaan itu seperti dijepang? Menjadi manufaktur? " Kizashi melihat isi dalam map itu dan tersenyum lalu menutupnya.
"Tidak jisaan, aku tetap mempertahankan menjadi perusahaan game, aku telah menemukan beberapa peluang agar perusahaan ini tetap terjaga atau menambah provit"
"Bukankah itu beresiko? Bagaimana sahamku akan berkembang jika usaha yang kau lakukan menurun? Kau tau sendiri bagaimana perusahaan manufaktur yang Uchiha corp dirikan sejak dulu? Tak pernah ada yang gagal. Bukankah itu bisa kau pertimbangkan?" Kizashi bediri dqn berjalan menuju meja kerjanya,
"Mungkin jisaan benar, tapi bukankah membuka peluang baru bisa lebih menguntungkan?"
"Bagaimana kau tau itu menguntungkan? Ayahmu bahkan tidak sanggup menjalankannya dengan baik?"
"Ayah, bukan maksudku ikut campur, tapi apa yang disampaikan uchiha-san memang benar, mungkin di tahun tahun seperti ini tak apa jika kita memcoba mengembangkan game? Dijaman ayah dan sekarang bukankah game akan semakin maju, bukankah generasi sekarang game bisa merupakan hal yang sangat diminati dari bebagai umur? Entah game itu online maupun offline. Apalagi remaja sekarang suka mencoba hal baru, termasuk game? Hm? Bagaimana? "
Baik Kizashi, Sasuke dan Suigetsu tertegun mendapati pernyataan Sakura, dan itu benar adanya, bukankah game untuk masa seperti sekarang termasuk dalam hal primer, bagi pemuda pemudi milenial?
"Terimakasih kasih Haruno-san, itu benar" Sasuke tersenyum samar, Sakura merona, lalu memalingkan mukanya.
"Baiklahh, aku setuju untuk membantumu Sasuke"
"Jisaan bisa Memikirkannya lagi, tidak perlu terlalu terburu"
"Aku mempercayaimu Sasuke. Aku akan memberikan tanda tanganku, besok kau bisa kembali lagi kemari. Sebelum itu perkenalkan ini putriku Haruno Sakura"
Sasuke mengulurkan tangannya pada Sakura, Sakura tersenyum manis.
"Sasuke Uchiha. Panggil saja Sasuke"
"Sakura Haruno, panggil sayang biar akrab"
Sasuke diam mematung, bapaknya shock, Sui sawan.
"Hehe. Bercanda, panggil Sakura saja."
Sasuke tersenyum lega huft untung ga baper, bapaknya mencoba sadar, Sui istigfar menghilangkan sawan.
"Ehm, Sakura ini anak bungsu ku Sasuke, dan entah angin apa yg membuat putriku ingin bekerja kantoran, aku rasa pamornya turun jadi artis" Bisik Kizashi
'Oalah, bapack bapack kang gosip' Sasuke dan Suigetsu tidak habis pikir.
"Aku disini Ayah, Kok dighibahin, jangan membuat cerita sedih begitu, aku ini anak Ayah bukan pemeran Manusia pinggiran" Sakura tak terima.
Keluarga koplak.Sasuke tersenyum tipis, mengerti maksud Kizashi.
"Taka apa jiisan, biarkan Sakura bekerja di perusahaanku, Sakura kau bisa menjadi Sekretarisku kan?"
"Boss, terus aku bagaimana??" Sui kaget mendengar putusan Sasuke
"Kita bicarakan nanti, oke. Jadi Sakura kau besok bolehh mendatangi kantorku"
"Dengar Sakura, kuharap kau tidak terlambat dan membuat ayah malu,"
"Siap Sasuke, Baiklah sepertinya aku ada acara hari ini, ayah aku pergi dulu ya, Sasuke dan err, asisten aku pamit dulu yaa" Sakura bergegas keluar dan menghubungi Sasori untuk menjemputnya.
"Sepertinya Jiisan juga ada pekerjaan, saya mohom undur diri dulu Jiisan, Terimakasih atas kerjasamanya" Sasuke menjabat tangan dan berojigi.
"Tak perlu malu, anggap aku ini ayahmu Sasuke"
Sasuke dan Suigetsu keluar kantor. Namun Suigetsu seakan tak terima,
"Sasuke, kau bagaimana sih, aku bekerja dimana kalau si pinky menjadi penggantiku?" Sui mencak mencak tak karuan
"Besok kau ke perusahaan nii-san, mulai besok kau dan aniki mengawasi proyek Italia, mungkin beberapa disana"
"Bukankah kau tidak mau memiliki Sekretaris seorang perempuan? Mengapa kau berubah, aaaa. Kau jatuh cinta pada pandangan pertama yaa?" Sui menggoda Sasuke, kena kau ayam."Berisik Sui, kau seperti dobe."Suigetsu menaikkan bahunya. Bodo amat.
.TBC.
