flaming

hot

cheetos


i wanna be the one you think about at night

i wanna be the one that you would put up a fight for

i wanna be the one you adore that even you're bored

—sakura haruno


satu.

MENJADI pacar dari seniman paling populer di Tokyo bukan ide yang bagus. Kalau dikalkulasi, lebih banyak sisi negatif daripada keuntungan yang didapat. Tapi, apa yang paling penting bila kalian tinggal di klaster masyarakat modern? Tentu saja popularitas. Di tengah zaman milineal, hitungan dan angka pengikut diutamakan dalam bertahan hidup. Memang bukan kehidupan yang disarankan dokter jiwa kebanyakan, tapi, hidup memaksa beberapa orang untuk bertahan dengan cara begitu meskipun tidak baik bagi pikiran. Jelas, dirinya bukan sosok yang mengikuti tren tersebut. Meski, benar kadang keserakahan soal atensi itu diperlukan untuk membungkam rubah-rubah dalam selimut yang hanya mengandalkan mulut gosip mereka untuk bertahan hidup.

Sakura meletakkan kepalanya di atas meja, tidak peduli dengan riuh ruangan yang yang tak jua reda, "Mengapa dia tidak bisa seperti Sai?"

"Apa maksudmu?" Tanya Ino, teman kerjanya di divisi materi yang tidak mengerti perkataan sahabat merah mudanya. Kini, pandangannya mengarah pada seorang laki-laki di bangku sudut kafetaria, mengobrol dengan beberapa teman se-agensi yang tak bisa disangkal memiliki ketenaran serupa.

"Dia itu labil sekali, hari ini bisa jadi pangeran kuda dalam mimpi. Esoknya, ia akan menjadi setan neraka yang beku tak punya hati. Apakah dia cuma bercanda ketika memintaku jadi pacarnya?" Sakura membalikkan kepalanya lagi, kali ini menatap Ino yang tengah menyantap roti manis pemberian si kekasih beberapa saat lalu, mendengarkan keluh kesah karyawan kebanggaan kantor yang tiada henti sejak tadi pagi.

"Menurutku, Sasuke bukan tipikal orang yang suka bercanda." Sakura menatap Ino lekat-lekat sebelum menghela nafas panjang. Menurutnya, menjadi seorang Yamanaka Ino itu sangat menyenangkan. Sai selalu bersikap romantis dan manis. Sesibuk apapun dirinya, ia sangat pengertian serta selalu memberi Ino surat cinta yang menyenangkan.

Beberapa detik setelahnya, Sakura mendapati sang pacar yang juga menatapnya dari jauh. Merasa jengah dengan keadaan yang ada, perempuan itu bangkit dari tempat duduknya dan berlalu tanpa sepatah kata yang membuat Ino kebingungan tidak tertata.

Setelah jeda beberapa saat, Sasuke menghampiri perempuan pirang yang masih bingung dengan keadaan, "Ada apa dengannya?"

"Aku tidak tahu, dari tadi pagi ia terus mengeluh soal dirimu yang hanya menjadikannya pacar mainan. Selalu bertanya kenapa sikapmu sulit ditebak hingga protes padaku mengapa dia tidak punya pacar seperti Sai yang bersungguh."

Tangannya menuliskan kalimat acak pada selembar kertas sedangkan matanya melamunkan sesuatu yang membuat pikirannya kusut sedari bangun. Ketika memasuki pintu, hal yang pertama dia cari adalah rambut merah muda di antara kubikel-kubikel kosong ini.

Sasuke duduk di bangku sebelah si perempuan untuk menatap kekasihnya yang terlihat begitu mengkhawatirkan, "Kamu kenapa?"

Sakura berdehem ketika mendengar pertanyaan dari suara yang begitu familier di telinga, menghentikan kegiatan tak bergunanya kemudian berpura untuk sibuk.

"Aku tak apa," Menghela nafas atas perlakuan si gadis merah muda yang kini sedingin es, membuat hatinya tak nyaman akan sikap sang kekasih yang biasanya cerah.

"Kau yakin?" Tidak ada jawaban yang terlontar karena Sakura memilih tenggelam ke dalam pekerjaan kosong ketimbang harus meluangkan waktunya untuk mengajak bicara si pacar yang tidak pandai membujuk serta berkata.

Dari tadi pagi ia terus mengeluh soal dirimu yang hanya menjadikannya pacar mainan. Selalu bertanya kenapa sikapmu sulit ditebak hingga protes padaku mengapa dia tidak punya pacar seperti Sai yang bersungguh.

Ia mengerti serta memahami bahwa setiap wanita membutuhkan kasih sayang untuk asupan harian. Namun, jadwalnya yang lumayan padat dan ketidakmampuannya menyusun kata menjadi penghalang hubungan yang sumpah demi Yang Maha Esa dia mulai karena niat yang suci dan murni. Bukan untuk menjadikan gadis manis ini sebuah mainan atau hal buruk lain seperti yang dikira oleh si puan.

"Pergilah, bukankah engkau ada jadwal pembicara selepas makan siang?"

Alih-alih menyanggupi usiran halus itu, pria tersebut mengambil sebuah sticky notes berwarna biru muda di meja Sakura yang membuat si empu bingung bukan kepalang. Kegiatan berpuranya berhenti sejenak hanya untuk meneliti apa yang tengah dilakukan oleh lelaki dengan rambut gelap gulita.

"Aku tak pandai bercakap, kau tahu itu. Namun, kalau cuma menuliskan kata picisan seperti kegiatan reguler Sai ke Ino, aku bisa melakukannya jikalau aku ingin, Sayang. Lebih banyak dari yang bisa diberikan Sai untuk Ino. Tapi, bukankah kita tak perlu mengumbar kemesraan di depan umum? Cukup kita saja yang tahu manisnya kan?" Kata Sasuke seraya menempelkan sticky notes yang sudah ia tulisi di dahi Sakura sebelum tersenyum, bangkit dan mengacak lembut surai panjang Sakura yang berbau stroberi.

"Esok malam, bagaimana kalau kita pergi ke perayaan musim gugur? Mumpung jadwalku kosong. Lagipula, sudah sebulan semenjak kencan terakhir kita. Jadi, kamu harus mau, oke?"

Sakura masih mematung padahal pacarnya telah hilang dari pandangan. Ia mencabut sticky notes di dahinya, senyum terukir ketika melihat apa yang telah dituliskan Sasuke untuknya. Singkat tapi menggambarkan segala.

Titik dua, tanda bintang.

.

.

.

.

.

to be continued