dua.

Udara musim gugur betul beku meski tidak terlihat adanya salju. Banyak pohon telah kehilangan klorofil pada daun, beberapa di antaranya telah habis dibabat angin yang bertiup kencang, menerbangkan semua daun yang melekat.

Labu-labu dengan ukiran seram terpampang di pinggir jalan Tokyo demi totalitas dalam menyambut perayaan halloween yang dirayakan setiap tahun oleh pemerintah hanya untuk menarik wisatawan pembawa uang yang rela membayar tinggi demi untuk melihat pesta kostum paling nyeleneh di Jepang.

Kali ini, Sakura berdandan sebagai Judy Hopps, si polisi kelinci dalam serial zootopia, lengkap dengan nerfgun yang ia beli khusus untuk acara spesial malam ini. Sedangkan pacarnya, Sasuke Uchiha berperan sebagai vampire seksi disertai gigi palsu runcing yang membuatnya menjadi bahan sorotan publik.

Menjadi pacar dari lelaki berwajah bak adonis juga tidak selalu menyenangkan. Ada masa ketika Sakura harus menghadapi beberapa perempuan sialan yang terang-terangan mengambil aksi untuk mencuri hati kekasihnya yang sebetulnya tidak terlalu peduli.

Mata hijaunya memicing tajam pada seorang perempuan berdada besar dengan kostum bikini tengah menggoyang-goyangkan bulatan bersilikon itu tepat di depan Sasuke yang sibuk memilih dagangan yang dijajakan wanita tersebut.

Menyadari tekanan di sekitar menjadi berat tak tertahan, Sasuke segera menggiring kekasihnya untuk menjauh dari tempat kejadian — setelah menolak barang percuma yang wanita itu tawarkan secara gratis khusus untuknya, Sasuke menggenggam erat tangan Sakura yang masih nyalang kepada si wanita penggoda.

Melihat Sakura yang masih memasang wajah cemberut, ia berinisiatif untuk menghibur suasana hati gadisnya itu dengan membawa ke arena bermain yang berisi kedai-kedai permainan menyenangkan.

Pemberhentian pertama mereka adalah kedai tembakan. Mata hijau pepohonan berbinar melihat hadiah utama yang terpajang, sepasang boneka penguin! Binatang kesayangannya di seluruh dunia, selain jerapah dan singa tentunya. Pria raven itu tersenyum tipis dan mengeluarkan selembar uang untuk ditukarkan menjadi tiga buah peluru. Baru membidik, penjaga kedai menyela kegiatannya.

"Kalau kau membawa pasanganmu maka, si perempuan yang harus menembak ke sasaran."

"Peraturan macam apa itu?!"

"Saya hanya berusaha mematuhi suruhan atasan."

Sasuke protes, bersungut pada selaan penjaga kedai yang tidak bisa diterima akal. Mengambil alih pistol dari tangan pacarnya dengan senyuman untuk menengahi perang dingin yang bakal dilancarkan, "Aku akan berusaha."

Pria itu masih mencibir ketika memilih mengalah dan berdiri tepat di belakang punggung kekasihnya yang telah siap siaga.

"Peraturannya sederhana, tembak tepat di tengah sasaran yang berjalan dan semua sasaran akan berhenti bergerak. Ingat, hanya ada tiga kali kesempatan."

Beberapa gadis bersiap dengan semangat sedang kekasih mereka menunggui di belakang. Bersorai sekuat tenaga dengan panggilan sayang, kecuali Sasuke yang hanya diam. Memasang muka masam karena masih merasa kesal. Ketika bendera merah di ayunkan, Sorak semakin menggaung.

Tembakan pertama. Gagal. Tembakan kedua. Gagal. Tersisa satu peluru, pikirannya kalut karena sorakan pria lain untuk kekasih masing-masing. Semenjak permainan dimulai, Sasuke sama sekali tidak terdengar menyemangati.

Sebuah tangan besar menggenggam tangan Sakura yang memegang erat senapan. Punggungnya membentur dada yang keras, pekik wanita kini mendominasi melihat pemandangan yang betul memanjakan mata, protes juga terdengar ketika pacar mereka tidak bisa seromantis itu.

Degup jantung gadis merah muda menggila, rona merah jua menjalar tatkala mendapati Sasuke yang memberikan senyum terbaik untuk si kesayangan yang hanya bisa berkedip syok akan kejadian. Mata hitam itu melihat lurus ke depan, konsentrasi dengan titik yang bergerak lumayan cepat. Sakura juga membangun fokus dalam kepala, ketika genggaman tangan kekasih mengerat. Dia paham.

Peluru terakhir diluncurkan dengan teriakan penonton yang menunggu kepastian. Pasangan yang menjadi sorotan juga berharap cemas di tengah ramainya keadaan. Suara 'tuk' mengalun ketika plastik dan kayu beradu membuat semua sasaran yang bergerak itu berhenti, mengumandangkan kemenangan untuk keduanya yang berteriak heboh dan saling berpelukan.

Dua buah boneka penguin diberikan atas kerja keras yang menyenangkan. Sakura berbinar dan menerima itu dengan hati yang riang. Pria itu tersenyum, memperlihatkan kedua taringnya yang menyembul. Mengusap pucuk kepala merah muda dengan rasa sayang yang tak bisa dibendung.

Aslinya bertaut tatkala melihat sebuah boneka yang disodorkan padanya, "Untuk siapa?"

"Tentu saja untukmu, bodoh!" Sasuke meraih benda itu disertai helaan nafas yang kentara setelah mendengar cacian Sakura yang berhasil keluar dengan lancar.

"Kenapa kau menghela nafas begitu?"

"Aku tidak menghela nafas. Kamu salah dengar, sayang."

Mengamati sebuah boneka penguin berwarna biru tua di tangan dengan sedikit sudut bibir yang terangkat, mengalihkan pandangannya pada pasangan dari si benda yang berwarna hijau muda tengah dipeluk erat oleh gadisnya. senyuman itu terpatri indah di bibir pacarnya, membuatnya lega tidak bisa dikata.

"Ayo kita bermain wahana yang lain."

Sakura melihat tangan besar yang kini menggenggam tangannya erat dengan senyum semakin mengembang, taburan kebahagiaan kini tertuai dalam hatinya menimbulkan perasaan hangat yang menjalar nyaman. Matanya teralih untuk melihat ke depan, melihat punggung sang pacar yang tampak begitu tegap dan tinggi seolah memang diciptakan untuk melindunginya yang kecil.

Mereka bersenang malam itu, mencoba berbagai macam permainan yang ada. Beberapa memang kalah tapi hampir seluruh yang dicoba berhasil membawa hadiah. Sakura kesulitan membawa seluruh barang yang berhasil didapat dari seluruh permainan yang telah mereka coba, Sasuke berinisiatif membantu dengan mengambil beberapa sehingga terlihat sama rata.

Kaki terus berjalan di antara kedai makanan yang menyuguhkan hal menggiurkan. Perut keduanya memberontak setelah melakukan banyak hal yang tak ayal membuat lapar kini terasa di perut yang keroncongan, "Kamu mau makan apa, sayang?"

Pertanyaan Sasuke membuat Sakura menoleh ke segala arah, bingung untuk memilih karena semuanya terlihat begitu menggoda selera. Matanya jatuh pada kedai ramen paling terkenal di kota, Ichiraku yang begitu dipadati.

Paham dengan apa yang kekasihnya mau, menarik gadis itu untuk duduk di sebuah undakan menuju kuil. Melepaskan jubah vampirnya untuk disampirkan di pundak Sakura, mengusir hawa dingin yang semakin berhembus tidak karuan, "Biar aku yang mengantre. Kamu duduk saja di sini, oke?"

Sakura menopang wajahnya bosan, sudah lebih dari tiga puluh menit dan tidak ada tanda kekasihnya bakal segera muncul dari ramainya kerumunan. Matanya bergulir ke kanan dan kiri tubuhnya, melihat banyaknya hadiah yang mereka dapatkan sehingga satu anak tangga tidak cukup menampung semuanya. Kemudian, tangannya terangkat untuk menyentuh jubah yang menyelimuti tubuh kecilnya dengan senyum yang terbit. Hangat itu bukan hanya berada di luar tapi menyebar indah di dada.

Tangannya meraih boneka penguin hijau muda dan memangkunya di paha sembari tersenyum begitu lebar—hingga otot pipinya terasa tertarik. Mengelus kepala boneka dengan lembut.

"Aerith, hari ini aku sangat senanggg sekali, hehehe. Bisa berkencan dengan Sasuke-kun yang sibuk dan mendapatkan banyak hadiah. Halloween tahun ini benar-benar sempurna."

Sakura berbicara dengan suara lucu seolah-olah mengimpresikan boneka penguin tersebut, "Pasti kencan Sakura-chan dengan Sasuke-kun yang lain akan sukses besar juga!"

"Hahaha tentu saja Aerith! Kami adalah pasangan terpanas tahun ini, bukan?"

"Sayang, Kamu...berbicara dengan siapa?"

Kepalanya menoleh dengan cepat untuk menemukan sumber suara yang menenteng sekantong plastik makanan dengan mimik wajah memendam tanya.

"Aku berbicara dengan Aerith." Sakura menunjuk boneka penguin hijau muda yang tengah ia pangku dengan seulas senyum manis.

"Aerith? Jadi, apa yang kalian bicarakan?" Sasuke duduk di sebelahnya sembari membuka kantong plastik untuk mengeluarkan makanan yang telah dibeli tadi.

"Rahasia, hihihi." Sakura terkikik kecil membuat si pemuda mengerutkan alis. Segera menyambar boneka penguin biru tua di dekat kakinya.

"Cloud, apakah kamu bisa bertanya ke pacarmu tentang rahasia itu?"

"Aerith-chan, rahasia apakah yang kamu tadi bicarakan dengan Sakura-chan?" Pemuda itu mengubah suaranya menjadi sedikit serak—berusaha sebaik mungkin mengimpresikan boneka penguin tersebut.

Sakura menahan tawanya. Laki-laki beku ini ternyata bisa juga diajak bercanda. Setelah berdehem singkat untuk menjernihkan suara, ia pun menjawab dengan suara lucu.

"Kenapa kamu ingin tahu, Cloudy? Siapa yang menyuruhmu?"

"Sasuke-sama."

"Hei, kamu ini kejam sekali. Kenapa Cloud harus menyebutmu dengan suffix -sama?"

Sasuke mengedik, "Tentu saja karena aku majikannya."

"Coud dan Aerith bukan pembantu, tahu. Mereka itu teman kita."

"Kalau kamu ingin menganggap Cloud atau Aerith sebagai teman ada syaratnya. Tidak ada yang gratis di dunia ini."

Mengangkat alis lalu membuka suara, "Syarat? Apa syaratnya."

"Makan bersamaku sekarang dan..."

Sasuke menghentikan kalimatnya hanya untuk menunjuk pipinya sendiri. Perempuan itu tidak memperhatikan apa yang digesturkan oleh kekasih karena sibuk memperhatikan mata hijau berkilau milik Aerith.

"Kamu tadi bilang ap—"

Belum sempat bertanya, sebuah benda lembut membungkamnya. Sengatan manis dan adrenalin memompa ke seluruh tubuh, membuat mukanya merah padam.

1..

2..

3...

4...

5...

Waktu serasa berhenti, otaknya stagnan. Dirinya gagal menghitung dan kini jantungnya mulai menggila dalam dada. Tangannya masih memegang erat Aerith, namun matanya sudah melebar. Menyalurkan segala rasa luar biasa dalam tubuh.

"Sekarang, mari kita makan sebelum dingin."

Wajah Sakura memerah bak kepiting rebus, badannya serasa lemas ketika ciuman itu berakhir. Menjadikannya agar-agar yang bisa saja tergeletak di jalanan ramai ini.

"Jangan cuma melamun, sayang. Aku membawakanmu ramen udon kesukaanmu."

Baru hendak membuka bungkus makanannya, sebuah sodoran takoyaki telah melayang dekat bibir. Sasuke tersenyum dengan sumpit yang memegang makanan bulat itu.

"Cobalah, ini enak."

Mengedipkan matanya sebentar sebelum menerima suapan sang kekasih yang masih menatapnya begitu hangat, "Sasuke-kun...?"

Sebuah panggilan membuat si empu menarik suapan, Sakura merengut kesal. Melirik tamu tak diundang yang berani mengganggu acara romantisnya dengan sang kekasih yang entah kapan lagi bisa ia dapatkan.

Se-gerombol perempuan muda — usia belasan tahun bergerombol. Menatap Sasuke dengan tatapan berbinar lapar. Sakura bangkit dari tempat duduknya ketika melihat salah seorang dari mereka berbicara pada Sasuke dengan gugup.

"B-bolehkah kami meminta foto?"

Laki-laki dengan mata segelap langit malam menggaruk lehernya sebelum berdiri dan mengangguk. Berpose dengan keren — menurut para gadis remaja itu.

"Kak, tolong fotokan kami."

Mulut Sakura membuka tidak percaya, hampir mengeluarkan makian kasar karena setelah mengacaukan kencan mereka, kini dia harus menjadi tukang foto? Cih.

Dengan wajah yang tertekuk masam, Sakura mengambil ponsel keluaran terbaru itu dari tangan si remaja dan segera memotret gadis itu dan pacarnya. Mengambil potret dengan pose-pose menggoda dari gadis berpakaian seifuku itu.

"Jepretanmu kurang bagus. Temanku saja yang akan memfotokan kami."

Kedua matanya membelalak. Dasar tidak tahu berterima kasih. Ia sudah banyak mengambil foto sesuai perhitungannya. Bilang saja dia ingin berduaan lebih lama dengan pacarnya, dasar!

"Bukankah itu Uchiha Sasuke?!"

"Benar, itu Uchiha Sasuke!"

"Aku ingin berfoto!"

"Aku juga!"

Semakin lama semakin banyak perempuan yang mengantri. Membuat wajah Sakura semakin kusut tak berbentuk. Uchiha Sasuke dan segala ketenarannya. Kencan ini sudah sia-sia. Yang ada adalah ia yang terpinggirkan. Hanya memeluk Aerith dengan erat, sedang jubah milik Sasuke sudah hilang entah kemana. Mungkin sudah jatuh dan diinjak-injak oleh kerumunan.

Empat puluh menit ia berdiri, menunggui si kekasih yang menggelar fanmeet dadakan. Tiada habis sesi foto ini, bahkan pacar sialannya itu bersemangat sekali. Menerima hadiah yang tak terkira juga jumlahnya.

"Lebih baik kita pulang, Aerith. Lagipula, dia juga tidak akan mencariku kalau aku hilang kan?"

Kakinya berjalan menjauh, memeluk boneka itu dengan erat. Menyalurkan rasa kecewa dan marah yang kini mendominasi dalam hatinya. Dalam hingar bingar yang ada di sekitaran, dengan lampu yang menyala hangat. Hatinya kini biru.

Bisa apa dia?

Sakura Haruno hanya seorang gadis biasa, dengan buah dada tidak sebesar model di luaran sana, wajahnya pun masih kalah jauh dengan artis tenar ibukota.

Ia hanya Sakura. Si gadis yang bekerja sebagai pegawai kantoran biasa dengan gaji yang tidak seberapa. Apa yang bisa dia banggakan? Tidak ada.

Sedangkan harus bersanding dengan pangeran kebanggaan Jepang bukanlah sesuatu yang gampang. Banyak yang harus dipertaruhkan untuk mendapatkan sesuatu yang bagus dan hampir semuanya sudah ia pertaruhkan hanya untuk bersanding dengan Sasuke.

Akankah suatu saat ia akan kehilangan dirinya karena pertaruhan itu?

Bunyi bising dalam kepalanya berdengung keras. Hingga tak sadar dirinya hampir terjungkal karena tidak lagi memperhatikan jalanan.

"Maafkan aku, nona."

Sakura tersenyum walau rona kesedihan itu masih bisa tampak dilihat mata. Menggelengkan kepalanya maklum.

"Tidak apa-apa."

Ketika mata pepohonan bersibobrok dengan warna mutiara putih yang berkilau, ada sebuah rasa akrab yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Kepalanya menoleh dan masih mendapati kerumunan itu yang semakin besar sebelum mendengus dan membungkuk pada lelaki yang sudah ia tabrak secara tidak sengaja, "Maafkan saya."

Berjalan secepat yang ia bisa untuk sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Menghentikan taksi yang melintas, secepatnya harus pulang ke rumah dan beristirahat. Esok masih ada dan pekerjaan sudah menanti dikala matahari terbit.

Setelah menyalakan lampu dan membersihkan diri, ia mengambil sejumlah snack persediaan untuk menemaninya menonton film malam ini. Dengan Aerith yang duduk di sofa sebelahnya, ia membuka snack itu terburu.

Perutnya keroncongan.

Ramen Ichiraku yang seharusnya menjadi santapan makan malam belum sempat dinikmati dan semuanya harus sudah kacau. Halloween paling buruk. Dinyalakannya ponsel yang belum sempat tersentuh selama berjam-jam.

Tidak ada pesan dari Uchiha Sasuke.

Sudah lebih dari satu jam dia pulang dan lelaki itu masih belum sadar?

"Hah..apa yang kau harapkan bodoh? Melihat Sasuke menjadi seseorang romantis seperti Sai atau perhatian bak Shikamaru? Jangan bermimpi." Ucapnya meradang, Membanting ponselnya di atas sofa dan segera menyalakan teve dengan wajah yang bersungut-sungut.

Ting!

Dengan kecepatan kilat ia membuka ponselnya, berharap Sasuke yang mengabari. Senyumnya luntur tapi digantikan dengan wajah bingung tak tertata.

From: Unknown

Selamat malam, Sakura. Semoga halloweenmu menyenangkan.

.

.

.

.

to be continued