Step Brother (C) Iki Hayato 息隼人

.

.

.

EXO (C) SM entertainment, their families, and God

.

.

.

Main pair : ChanBaek!

.

Slight : Khunfany, and others

.

.

enjoy


09 April 2013

Chanyeol yang masih kelas 2 SMP, duduk dibangku salah restoran bersama ayahnya dengan gugup. Kemarin, ayahnya mengatakan kepadanya jika hari ini ia akan bertemu dengan seseorang yang spesial. Walau Chanyeol masihlah remaja yang duduk masih dibangku SMP berumur 14 tahun, tetapi dia sudah tahu ayahnya mengode jika ia akan menikah lagi.

Sebenarnya, Chanyeol tidak begitu setuju jika ayahnya ingin menikah lagi. Tetapi, Chanyeol tidak tega melihat air mata terus-terusan keluar dari kedua mata ayahnya, dan juga tatapan mata ayahnya selalu menyiratkan kesedihan. Ia ingin ayahnya bahagia walau dengan jalan yang tidak ia inginkan.

Sambil meminum minuman yang tadi ia pesan, Chanyeol memandang kearah jendela mengalihkan pikiran itu dari kepalanya. Memperhatikan orang-orang yang tengah berlalu lalang, atensinya teralihkan saat mendengar suara lembut wanita menyapa mereka.

"Maafkan aku, kalian pasti sudah menunggu lama." Suara wanita itu terdengar menyesal.

"Ani, tidak apa-apa. Kami juga belum lama disini." Ucap ayah Chanyeol.

Chanyeol melirik kearah wanita cantik itu. Wanita itu tersenyum hangat padanya dan juga ayahnya. Seperti mendiang ibunya, perhatiannya teralihkan ke seseorang yang berada dibelakang wanita itu. Chanyeol tidak tahu jika orang itu lelaki atau perempuan.

Orang itu menundukan kepalanya, sehingga wajahnya tidak terlihat. Orang itu juga tingginya sedikit pendek dibandingkan dirinya, namun perawakannya sangat mungil. Tingginya itu sangat tinggi untuk ukuran perempuan diumur seumuran Chanyeol.

"Chanyeol... perkenalkan dia adalah Tiffany. Dia akan menjadi ibu barumu mulai sekarang." Ucap ayah Chanyeol.

Wanita itu tersenyum hangat kepada Chanyeol, sedikit mirip dengan ibunya.

"Hei, namamu Chanyeol, bukan? Nickhun sudah memperkenalkanmu kepadaku. Ternyata kamu sangat tampan seperti ayahmu." Puji Tiffany.

Tiffany mendorong pelan orang itu kepada Chanyeol dan ayahnya. "Baekhyun, perkenalkan dia adalah Park Nickhun. Dia akan menjadi ayah barumu."

Anak cantik yang dipanggil Baekhyun itu mendongak lalu tersenyum kepada Chanyeol dan Nickhun. Untuk pertama kali melihatnya Chanyeol terpesona melihat kecantikan wajah anak itu. Tetapi Chanyeol juga terdiam prihatin melihatnya. Entah kenapa senyuman cantik yang dilontarkan anak itu begitu menyedihkan dimatanya.

"Selamat malam joneun Baekhyun imnida." Ucap Baekhyun. Oke chanyeol sedikit kaget, faktanya calon saudara tirinya ini adalah seorang lelaki. Padahal Chanyeol tadi cukup terpukau dengan kecantikan calon saudara tirinya ini.

Chanyeol tersenyum. "Joneun Chanyeol imnida."

Chanyeol dan Baekhyun saling berjabat tangan. Chanyeol sedikit kaget, nyatanya tangan milik Baekhyun itu lebih kecil dibanding dengan tangannya. jemari tangan lelaki cantik itu juga lentik sekali seperti seorang perempuan.

Nickhun tersenyum memandang Baekhyun. "Salam kamu manis sekali, kamu kelas berapa? Chanyeol kelas 2 SMP tahun ini." Tanya Nickhun.

Baekhyun tersenyum. "Tahun ini aku baru masuk kelas 1 SMA abeonim." Jawab Baekhyun.

Oke, Chanyeol sedikit kaget dengan fakta ini. ia kira Baekhyun itu lebih muda darinya atau seumuran dengannya mengingat betapa kecilnya tubuh Baekhyun daripada dirinya. Terutama wajah baby face-nya yang cantik sekaligus menggemaskan itu.

Nickhun menghembuskan napas kecil, lalu tersenyum hangat. "Kamu tidak perlu seformal itu Baekhyun, kamu bisa memanggilku appa." Ucap Nickhun.

"Ne, ab.. appa.."

"Eomma harap kalian akan akur untuk kedepannya." Ucap Tiffany senang. Ia senang melihat interaksi baik antara Chanyeol dan Baekhyun untuk pertama kalinya mereka bertemu.

"Ne, eomma." Balas Chanyeol.

Sedangkan Baekhyun hanya menganggukan kepalanya kecil.

Setelah itu, Tiffany dan Nickhun mencoba mengakrabkan keluarga kecil mereka dengan candaan kecil, dan juga obrolan yang bagus. Chanyeol cukup hanyut dalam suasana itu sesekali juga Chanyeol tertawa, Chanyeol langsung menyukai Tiffany awal pertemuan ini. Karena menurutnya wanita itu cukup mirip dengan mendiang ibunya.

Beda Chanyeol, beda juga Baekhyun. Baekhyun hanya menanggapi singkat obrolan itu, ia juga hanya bisa tersenyum saat Nickhun atau Tiffany melontarkan candaan dan lawakan. Sorot matanya mengatakan jika ia ingin pergi dari sini.

Chanyeol tidak bisa berkata apa-apa melihat tatapan Baekhyun yang begitu kosong. Baekhyun mengingatkan Chanyeol pada dirinya 3 tahun yang lalu. Kala itu, ibunya meninggal saat ia berumur 11 tahun. Chanyeol sangat tahu sekali betapa beratnya kehilangan orang yang disayang.

Apalagi, Baekhyun yang baru kehilangan ayahnya. Ibunya langsung menikah dengan pria lain. Pasti Baekhyun belum bisa menerima hal ini, Chanyeol pasti juga begitu saat 3 tahun yang lalu.

Chanyeol hanya memperhatikan Baekhyun sambil mengobrol dengan ayah dan ibu barunya. Tanpa melakukan apa-apa kepada Baekhyun.

.

19 April 2013

Pernikahan Nickhun dan Tiffany berjalan dengan meriah. Semuanya terlihat senang, terutama Chanyeol yang kini bisa melihat gurat kebahagiaan pada mata ayahnya. Banyak dari teman-teman Nickhun atau Tiffany yang memberikan ucapan selamat kepada mereka. Tidak ketinggalan juga sahabat-sahabat Chanyeol yang datang.

Salah satu dari sahabatnya, Zelo menyenggol lengannya. "Hei, kakak tirimu cantik sekali. lain kali kenali aku padanya." Pinta Zelo disertai senyuman jahil.

Chanyeol tertawa pelan menanggapinya. "Ya, tapi lain waktu ya. Saat ini, Baekhyun hyung tidak bisa ku ganggu."

Hyunseung menaikkan alisnya. "memangnya ada apa dengan kakak tirimu?" tanya Hyunseung.

Chanyeol menghela napasnya. "Dia berbeda dengaku, jika ibuku meninggal 3 tahun yang lalu maka ayah dari Baekhyun hyung baru meninggal beberapa waktu yang lalu. Ia masih terbayang-bayang soal kematian ayahnya, ditambah lagi ibunya langsung menikah. Pasti rasanya berat sekali untuk langsung menerima ini semua secara tiba-tiba." jelas Chanyeol.

Mereka menganggukan kepala mereka, tanda mengerti. "Ya, pasti berat sekali menjadi dirinya. Jika hal itu terjadi padaku, aku tidak tahu apa yang mesti aku lakukan." Celetuk Zico.

"Yaa..." semuanya setuju dengan apa yang dikatakan Zico. Kecuali chanyeol.

Lelaki itu hanya terdiam memperhatikan Baekhyun yang melamun sambil menatap langit biru yang sangat cerah itu.

.

.

Setelah beberapa jam kemudian, acara pernikahan itu selesai. Begitu acara pernikahan selesai, Baekhyun langsung pamit kepada ayah dan ibunya untuk pulang duluan. Chanyeol juga ikut pulang duluan bersama Baekhyun karena matanya sudah memberat. Ia sangat mengantuk sekarang.

Selama perjalanan, Baekhyun ataupun Chanyeol tidak mengatakan sepatah kata apapun. Chanyeol diam-diam memperhatikan Baekhyun hanya termenung memandangi pemandangan di luar mobil. Tangan mungil Baekhyun terkepal erat, ia juga terlihat sedang menggigit bibirnya.

Chanyeol menghela napasnya lalu ikut memperhatikan jalanan. Ia sangat merutuki kenapa ia tidak berkomunikasi dengan lancar bersama kakak barunya, padahal ia baik-baik saja dengan teman-temannya yang lain.

.

.

Chanyeol mengeringkan rambutnya yang basah begitu keluar dari kamar mandi. Ia begitu terkejut melihat Nickhyun dan Tiffany sudah dirumah. Chanyeol melihat mereka membawa dua bungkus makanan.

"Chanyeol, bisakah membawakan satu bungkus makanan ini kepada Baekhyun? Appa dan eomma lihat ia belum makan apa-apa dari pagi." Pinta Nickhun. Sebelum masuk kekamar mereka bersama Tiffany.

"Baik appa."

Chanyeol mengambil salah satu bungkus makanan itu lalu berjalan menuju kamar Baekhyun. Baru saja, Chanyeol hendak mengetuk pintu. Chanyeol menyadari jika pintu kamar Baekhyun tidak tertutup dengan benar.

Samar-samar Chanyeol mendengar suara isakan dari dalam kamar Baekhyun. Mata Chanyeol menajam, perlahan Chanyeol melebarkan sedikit pintu kamar Baekhyun. Dan Chanyeol seketika terdiam melihat keadaan Baekhyun. Baekhyun menangis didalam selimutnya. Isakannya terdengar menedihkan, rasanya air mata Chanyeol mau tumpah saat itu juga.

"Baekhyun hyung..." gumam Chanyeol lirih.

Chanyeol memilih untuk menginterupsinya dengan mengetuk pelan pintu kamar kakak tirinya. Dan sontak saja, isakan Baekhyun terhenti. Dan tidak lama kemudian Baekhyun melebarkan pintunya, ia sendiri terlihat kaget melhat kehadiran Chanyeol didepan kamarnya. Ditambah lagi pintu kamarnya sedikit terbuka tadi, Chanyeol pasti mendengar tangisannya.

Perlahan ia mengusap matanya yang membengkak karena tangisannya. Lalu ia tersenyum. Seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ada apa Chanyeol?" tanya Baekhyun lembut. Namun, nada bicara Baekhyun masih terdengar serak.

Chanyeol terdiam sebentar memperhatikan penampilan kakak tirinya yang kacau, perlahan ia menyondorkan bungkusan makanan itu. "Makanlah hyung, appa dan eomma bilang hyung belum makan apa-apa dari pagi." Jawab Chanyeol.

Baekhyun menerima bungkus makanan itu lalu ia tersenyum. "Gomawo, Chanyeol"

"Ne, hyung. Kalau begitu, aku kembali ke kamarku dulu."

Chanyeol melangkah menjauhi Baekhyun yang masih memperhatikannya. Baekhyun menatap peunggung lebar Chanyeol yang melangkah menjauhinya dengan tatapan sedih.

"Chanyeol... kau pasti mendengar tangisanku, bukan?" tanya Baekhyun tiba-tiba.

Langkah Chanyeol seketika terhenti. Ia terdiam mendengar pertanyaan Baekhyun. Dan Baaekhyun menganggap itu sebagai iya. Baekhyun kembali menundukkan kepalanya, ia menggigit bibirnya pelan.

"Aku... kakak yang buruk bukan? Seharusnya aku senang orang tua kita menikah. Tapi aku malah..."

Chanyeol masih terdiam mendengar kakak tirinya, Baekhyun menatap punggung lebar Chanyeol sedih, saat Chanyeol tidak merespon perkataannya. Baekhyun pun memilih untuk melanjutkan perkataannya.

"Kau pasti kecewa punya kakak sepertiku.."

Mata Chanyeol membulat mendengarnya, baru saja Chanyeol ingin menoleh dan membalas perkataan Baekhyun. Baekhyun sudah kembali masuk kedalam kamarnya sekaligus mengunci pintu kamarnya. Chanyeol menghela napas sedih melihat pintu kamar Baekhyun.

"Bukan begitu hyung... bukan begitu... aku hanya... ingin kau menenangkan dirimu.." gumam Chanyeol pelan.

.

.

.

27 April 2013

Sampai delapan hari pun, hubungan Chanyeol dan Baekhyun masih tetap tidak berubah. Mereka berdua masih saling mendiami satu sama lain. Bahkan Baekhyun hanya bisa diam sambil menundukan kepalanya jika Chanyeol sedang satu udara dengannya. Chanyeol hanya bisa menghela napas pasrah jika kakak tirinya seperti itu, ia juga bingung. Kenapa ia tidak bisa melakukansesuatu untuk kakak tirinya?

Chanyeol hanya bisa menatap pasrah setiap kakaknya mengunci dirinya dikamarnya setelah pulang sekolah dan sebagainya. Nickhun dan Tiffany juga khawatir dengan hubungan mereka, terutama Baekhyun yang seperti menjauhi semuanya.

"Chanyeol, Baekhyun.. Appa dan Eomma akan pergi beberapa hari keluar kota. Dan kami mungkin kembali cukup lama nanti. Mengingat ada projek yang sangat besar disana." ucap Nickhun.

"Jika kalian ingin makan. Eomma sudah mengisi penuh kulkas semalam, dan juga kalian bisa membelinya." Tiffany mengeluarkan sebuah kartu dan meletakkannya diatas meja makan.

"kalian baik-baik yan dirumah." Pesan mereka berdua.

"Ne, appa, eomma." Sahut Chanyeol.

Baekhyun hanya menganggukan kepalanya.

Nickhun dan Tiffany menatap khawatir kedua putra mereka yang masih seperti ini sejak mereka menikah. Perlahan mereka menarik koper mereka dan tas mereka keluar dari rumah itu.

"Kami pergi dulu Chanyeol, Baekhyun."

Setelah itu hening, kepergian Nickhun dan Tiffany membuat atmosfer diruangan ini semakin dingin. Baekhyun menghabiskan susu hangatnya duluan, lalu mengangkat tasnya.

"Chanyeol, aku duluan." Ucapnya lalu melangkah meninggalkan Chanyeol.

Sekali lagi, Chanyeol menatap sedih punggung sempit kakak tirinya yang berjalan menjauh darinya.

.

03 Mei 2013

Chanyeol menghela napas pelan memperhatikan pemandangan lapangan sekolahnya. Hari ini seharusnya ia ada latihan basket. Tetapi, moodnya sedang buruk untuk mengikutinya. Chanyeol tersentak kala ada yang menepuk pundaknya.

Chanyeol menoleh kesampingnya, dan ia mendapati para sahabatnya yang berkumpul kini disampingnya. Mereka semua menatap Chanyeol khawatir.

"Akhir-akhir ini kau kenapa? Tidak seperti biasanya?" tanya Zico.

"Ya, biasanya kau badmood tidak sampai melewatkan latihan basket." Timpal Peniel.

Chanyeol masih terdiam tanpa merespon satupun pertanyaan dari para sahabatnya. Mereka semua saling berpandangan, hingga Zelo bertanya kepadanya.

"Apa terjadi sesuatu antara dirimu dan kakak tirimu?" tanya Zelo.

Chanyeol masih terdiam, kemudian ia menganggukan kepalanya.

Chanyeol menghela napas pelan sebelum menjawab. "Ya, akhir-akhir ini kami saling mendiami satu sama lain. Ia salah paham denganku, ia mengira aku membencinya karena dia masih belum terima kenyataan jika orang tua kita menikah secepat ini. aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kepadanya." Jelas Chanyeol.

Para sahabatnya terdiam, memikirkan kira-kiraa apa solusi yang cocok untuk Chanyeol lakukan.

"Bagaimana jika kau memberikan kakak tirimu sesuatu?" usul Hyunseung yang daritadi hanya menyimak.

Semuanya langsung menoleh kearah Hyunseung, termasuk Chanyeol.

"Memberikan sesuatu seperti apa maksudmu?" tanya Chanyeol.

Hyunseung mendecak pelan, kenapa sahabatnya ini lemot sekali. "Ya mungkin seperti hadiah, atau semacamnya. Lalu, kau juga menyertainya dengan penjelasan atas sikapmu itu."

Oke semuanya langsung terdiam dengan saran Hyunseung. Kenapa mereka tidak kepikiran hal ini?

"Aku ingat jika Baekhyun hyung itu berulang tahun tanggal 6 Mei nanti. Sebaiknya apa yang kuberikan nanti?" tanya Chanyeol.

"Yah.. aku tidak tahu sih apa yang kakak tirimu suka. Tapi kusarankan kau memberikannya benda yang ia inginkan, atau yang ia butuhkan dan juga bisa benda yang ia suka. Tapi kau harus memperhatikan ekstra hyungmu untuk itu." Jelas Hyunseung lagi.

"Aku baru tahu jika kau bisa sebijak ini. kukira kau hanya suka memperagakan seksi dance saja." ucap Zelo.

"Yak!"

Setelah itu Zelo dan Hyunseung beradu argumen. Sementara para sahabatnya memanas-manasi keadaan, Chanyeol terdiam sambil berpikir keras.

'Sesuatu yang disukai oleh Baekhyun hyung ya?'

.

04 Mei 2013

Sampai besok harinya, Chanyeol masih belum bisa menemukan apa yang Baekhyun inginkan. Dirinya mengacak rambutnya frustasi. Ini sedikit sulit baginya, mengingat Baekhyun langsung pergi kekamarnya saat melihat dirinya.

Chanyeol menyeruput susunya sambil berjalan. Ia sudah pulang sekolah sekarang. Matanya memandang datar jalanan sambil memikirkan apa yang sebaiknya apa yang ia beli. Langkahnya terhenti saat kedua mata obsidiannya melihat Baekhyun. Kelihatannya Baekhyun baru pulang sekolah juga sama seperti dirinya, terlihat dari seragam yang masih melekat ditubuh mungil itu.

Disana Baekhyun terlihat sedang memperhatikan sebuah kue cheesecake stroberi disebuah toko kue terkenal. Pandangan Baekhyun berkata seolah ia menginginkan kue itu. Tetapi, tidak lama kemudian, datanglah dua orang laki-laki yang perawakannya sama mungilnya dengan Baekhyun menghampiri Baekhyun. Kelihatannya mereka adalah sahabat Baekhyun sekaligus teman sekolahnya.

Terlihat mereka membicarakan sesuatu hingga hyungnya tertawa lepas. Chanyeol terpukau melihatnya, ini pertama kalinya dia melihat hyungnya tertawa lepas seperti ini. hyungnya terlihat cantik sekali jika sedang bahagia seperti ini. ditambah lagi matanya yang berubah bentuk menjadi bulan sabit. Cantik sekali.

Kemudian, dua orang lelaki itu menarik Baekhyun kesuatu tempat yang tidak Chanyeol tahu. Chanyeol hanya bisa memperhatikan punggung sempit mereka bertiga hingga mereka menghilang dari pandangannya. Perlahan Chanyeol mengepalkan kedua tangannya.

Rasanya ingin sekali Chanyeol berganti posisi dengan teman-teman Baekhyun, rasanya ingin sekali Chanyeol mendorong teman-tean Baekhyun dan menggantikan posisi mereka. Tetapi, Chanyeol masih sadar jika ia tidak boleh melakukannya. Baekhyun akan sedih jika ia menyakiti sahabatnya.

Chanyeol menghela napas pelan, lalu siswa kelas 2 SMP itu memasuki toko kue yang tadi Baekhyun perhatikan. Dirinya tampak memperhatikan kue yang Baekhyun inginkan. Kue itu memang sangat mahal, tetapi cukup worth it. Mengingat ukuran kuenya yang cukup besar, bentuknya juga cantik seperti dibuat dengan penuh kehati-hatian dan detail, dan jangan lupakan buah stroberi yang besar-besar dan merah itu tampak sangat segar untuk dimakan dan dilihat.

"Adik ingin kue yang seperti apa?" tanya salah satu pelayan laki-laki.

Jika Chanyeol jumlahkan dengan uang yang selama ini ia kumpulkan, harga kue ini tidak membuat kantongnya cepat bolong. Ia tersenyum kepada pelayan lelaki itu.

"Aku ingin pesan kue stroberi cheesecake yang ini, tapi bisakah aku mengambilnya lusa? Hari itu adalah hari yang spesial." Pinta Chanyeol.

"Ya, boleh. Silahkan adik kemari untuk melakukan pemesanan." Pria itu menggiring Chanyeol menuju kasir, sekaligus membayar kue itu.

Senyuman bahagia terpampang jelas di wajah tampan Chanyeol. membayangkan wajah hyungnya yang bahagia karena pemberian itu membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Ia tidak sabar untuk lusa!

.

06 Mei 2013

Baekhyun membaca manhwa onlinenya dengan gelisah. Matanya melirik pintu sekaligus jam. Jam menunjukan pukul 18.09 PM. Ia gelisah karena Chanyeol belum pulang juga dari tadi. biasanya Chanyeol pulang sebelum pukul 17.00 PM. Baekhyun melirik pintu dengan gelisah, kemana Chanyeol. dia tidak apa-apa kan?

Tiba-tiba lampu diruang tamu mati. Baekhyun menjatuhkan ponselnya dengan refleks, ia takut dengan gelap. Semenjak kematian ayahnya, Baekhyun jadi takut dengan gelap. Dengan panik, ia mencoba mencari saklar lampu.

Tubunya membeku kala ia menabrak sesuatu. Namun, ini bukan dinding! Dinding tidak sehangat ini! dan tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dan tangan kekar satunya memeluk punggungnya.

Tubuh Baekhyun membeku. Apakah ada orang lain selain Chanyeol masuk ke rumah mereka!? Dengan cepat ia memberontak dalam pelukan itu yang semakin menguat.

"Hyung! Tenanglah ini aku, Chanyeol! adikmu." Ucap Chanyeol dengan cepat.

Begitu Chanyeol mengatakan itu, lampu ruang tamu menyala. Baekhyun menatap lega adiknya yang kini menatapnya khawatir. Baekhyun menghela napas lega, lalu menyandarkan kepalanya dibahu Chanyeol. kedua tangan mungilnya meremas pelan bagian belakang blazer SMP milik Chanyeol.

"kau membuatku kaget. Aku kira ada orang lain masuk kedalam rumah ini." ucap Baekhyun dengan napas terengah-engah.

"Maafkan aku hyung, aku tidak bermaksud untuk mengagetimu." Ucap Chanyeol sambil mengelus pelan punggung kakaknya untuk menenangkannya.

"Omong-omong hyung, aku membawakan sesuatu untukmu." Chanyeol melepaskan pelukannya lalu mengambil dus yang ia letakan diatas meja tadi.

Baekhyun begitu terkejut melihat apa yang dibawakan Chanyeol untuknya. Chanyeol tersenyum melihat ekspresi hyungnya.

"Bagaimana hyung? Hyung suka kan?" tanya Chanyeol.

"Suka sih... tapi..

Ekspresi Chanyeol berubah begitu Baekhyun mengucapkan kata tapi.

"Bukankah kue ini mahal sekali? nanti bagaimana dengan keperluanmu nanti?" tanya Baekhyun.

Chanyeol terkekeh pelan mendengarnya, perlahan tangannya yang besar menarik tangan Baekhyun yang lebih mungil darinya. "Kau tidak perlu khawatir, hyung. Aku masih punya simpanan uang lagi. Di tambah lagi aku melihat hyung sangat menginginkan kue ini dari balik kaca."

Wajah Baekhyun memerah mendengar perkataan Chanyeol. "kau melihatnya? Aduh, memalukan sekali." Baekhyun menutupi wajahnya yang begitu merah dari telinga hingga lehernya.

Chanyeol tertawa gemas melihatnya. "Ya ampun! Bagaimana bisa hyungku semenggemaskan ini!"

Chanyeol kembali menarik Baekhyun kedalam dekapannya, dan memeluknya gemas. "Yak! Apa kau bilang!? Aku ini tampan!" kilah Baekhyun.

Chanyeol hanya menanggapi perkataan kakaknya dengan tawaan. Chanyeol jadi suka memeluk Baekhyun lama-lama karena Baekhyun memiliki wangi yang memabukan dan sangat manis di inera penciumannya.

Perlahan Chanyeol menjatuhkan hyungnya disofa, dengan dirinya berada diatas hyungnya. Ia tersenyum menatap wajah hyungnya.

"Ayo kita makan kuenya." Chanyeol bangkit dari atas hyungnya dan membawa kue itu ke ruang makan.

Baekhyun menganggukan kepalanya, lalu mengikuti langkah Chanyeol ke ruang makan yang juga satu ruangan dengan dapur. Chanyeol pun meletakan kue itu diatas mejaa.

"Mungkin sebelum kita makan kuenya, sebaiknya kita makan malam dulu. Mengingat Chanyeol sudah membeli kue, hyung akan memasakan makanan spesial untuk Chanyeol." ucap Baekhyun.

Chanyeol tersenyum senang mendengarnya. bau harum masakan kesukaan Chanyeol menguar, Chanyeol tidak bisa menahan kesabarannya. Ia pun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Baekhyun. Ia meletakan dagunya di pundak Baekhyun dan memperhatikan hyungnya berkutat dengan masakannya.

Baekhyun berjengit saat merasakan lehernya diterpa oleh napas hangat. Sontak saja, Baekhyun menoleh kebelakangnya. Seketika saja Baekhyun membeku saat wajahnya berdekatan dengan wajah Chanyeol. hidung mereka saling bergesekan, bahkan mereka dapat mencium napas mereka sendiri.

Dengan cepat, Baekhyun kembali menghadap depan dan fokus dengan masakannya. Wajahnya memerah sempurna dari telinga hingga lehernya. Hell, apa-apaan itu tadi!?

Beda Baekhyun, beda juga Chanyeol. Chanyeol sendiri malah terkekeh gemas dalam hatinya melihat hyungnya yang salah tingkah karena sikapnya. Menggemaskan sekali.

"Kapan selesainya hyung? Aku sudah lapar." Rengek Chanyeol.

"Sebentar lagi, kok. Dan juga lepaskan pelukanmu, Chanyeol. aku sedikit susah untuk bergerak." Ucap Baekhyun.

Chanyeol menganggukan kepalanya lalu melepas pelukannnya. Ia kembali duduk dibangkunya sambil memperhatikan punggung sempit hyungnya. Tidak lama kemudian, baekhyun meletakan masakannya diatas meja.

"Selamat makan."

Chanyeol dan Baekhyun mulai menyendok nasi mereka, Chanyeol memakan makanan kesukaannya yang dimasak oleh Baekhyun dengan bahagia. Baekhyun tersenyum senang, ini untuk pertama kalinya ia kembali masak setelah ibunya menikah lagi. Baekhyun sangat senang mengetahui Chanyeol merespon masakannya dengan baik.

"Ini enak sekali hyung!" puji Chanyeol dengan antusias.

"Benarkah? Syukurlah jika Chanyeol menyukainya."

Baekhyun tersenyum hingga matanya berbentuk bulan sabit yang Cantik. Gerakan tubuh Chanyeol terhenti melihat pemandangan didepannya, hyungnya terlihat cantik sekali dengan senyuman bahagia seperti itu.

"Yeppeo da.." puji Chanyeol tanpa sadar.

"Hm? Kau tadi bilang apa Chanyeol?" tanya Baekhyun. Pujian Chanyeol terhadapnya memang tidak terlalu jelas di indra pendengarannya.

"Ani, bukan apa-apa." Ucap Chanyeol dengan cepat.

Setelah makan malam, barulah mereka memakan kue yang dibeli Chanyeol. mereka berdua saling menertawakan masing-masing ketika menempelkan krim diwajah mereka. Lama setelah acara makan itu, Baekhyun memasukan setengah kue itu kedalam kulkas untuk ayah dan ibu mereka yang kebetulan pulang besok.

"Hyung.." panggil Chanyeol.

"Wae?" tanya Baekhyun.

"Malam ini aku ingin tidur seranjang denganmu, tidak apa-apa kan?" tanya Chanyeol.

"Ya, tidak apa-apa kok." Jawab Baekhyun.

Chanyeol tersenyum penuh kemenangan, lalu mengikuti langkah hyungnya memasuki kamarnya sendiri.

.

.

07 Mei 2013

Jam 04.00 pagi, Nickhun dan Tiffany baru memasuki rumah mereka. Keadaan rumah masih rapi, namun mereka menemukan beberapa noda krim di atas meja. Sesaat Tiffany menepuk keningnya, ia melupakan sesuatu yang penting.

"Ada apa sayang?" tanya Nickhun.

"Aku lupa, jika kemarin adalah hari ulang tahun Baekhyun. Aku tidak mengucapkannya kemarin." Jawab Tiffany.

"Jangan khawatir, kita bisa mengucapkannya hari ini. sekalian kita membuat sesuatu untuk Baekhyunnie." Ucap Nickhun.

Tiffany tersenyum mendengarnya, lalu ia berjalan menuju kamar Chanyeol dan Baekhyun untuk memastikan keadaan mereka. Tiffany begitu kaget saat ia membuka pintu kamar Chanyeol, pasalnya pemuda itu tidak berada disana.

Perasaan negatif mulai menggerogoti pikiran Tiffany, apakah karena ketidak akraban Chanyeol dan Baekhyun membuat Chanyeol menjadi salah pergaulan? Dengan cepat wanita itu pergi ke kamar Baekhyun untuk memastikan keadaannya.

Saat Tiffany membuka kamar Baekhyun, seulas senyuman lega terpampang diwajah cantiknya. Baekhyun masih berada dikamarnya bersama Chanyeol satu ranjang dengannya. apalagi sekarang kedua saudara tidak sedarah itu saling memeluk, seakan menghangatkan diri mereka masing-masing dan tidak ingin salah satu dari diri mereka berpisah.

Perlahan Tiffany mengangkat ponselnya dan mengabadikan momen manis tersebut, dirinya tersenyum memandang gambar yang ia ambil dengan bagus. Ia pun memanggil Nickhun untuk melihat momen manis ini.

"Sayang! Cepat ke kamar Baekhyun! Kau harus melihat ini." panggil Tiffany dengan suara lirih.

Begitu mendengar panggilan dari Tiffany, Nickhun langsung pergi ke kamar Baekhyun. Nickhun terkekeh pelan melihat kedua anaknya dengan Tiffany satu ranjang sekaligus berpelukan.

"Sepertinya kita tidak perlu khawatir lagi." Ucap Nickhun sambil merangkul Tiffany.

"Ya, mereka bisa dekat tanpa bantuan kita." Timpal Tiffany.

Perlahan Nickhun menarik kenop pintu kamar Baekhyun. Dan meninggalkan dua anak laki-laki itu yang masih berenang dalam mimpi mereka.

.

Satu tahun kemudian. 07 April 2014.

Tahun ini, Chanyeol, sudah naik ke kelas 3. Begitu juga dengan Baekhyun yang tahun ini naik kekelas 2 SMA. Sekarang, Chanyeol tengah bersiap-siap sambil memakai blazernya, ia menaikan alisnya saat menyadari jika balzer SMP-nya sudah mulai tidak muat ditubuhnya. Dan Chanyeol baru menyadari jika tubunya semakin besar, namun berotot dan juga tinggi badannya bertambah sangat banyak. Sekarang tingginya sudah hampir setara dengan ketinggian diatas rata-rata pria di Korea Selatan.

Chanyeol kembali melepas blazer itu lalu memakai jaket kesayangannya sebagai gantinya. Saat Chanyeol keluar dari kamarnya, ia berpas-pasan dengan Baekhyun yang juga sedang berjalan menuju dapur.

Baekhyun menaikan alisnya begitu melihat penampilan Chanyeol.

"Kau tidak memakai blazermu?" tanya Baekhyun. Kali ini ia harus mendongak jika berbicara dengan Chanyeol.

"Tidak hyung, blazerku sudah kekecilan ditubuhku." Jawab Chanyeol.

Baekhyun tersenyum, satu tangannya ia gunakan untuk menyentuh kepala Chanyeol. walau Baekhyun harus bersusah payah karena sekarang Chanyeol begitu tinggi. Bahkan Baekhyun hanya bisa menyampai jidat Chanyeol.

"Chanyeol cepat sekali ya tumbuh tingginya, tidak seperti hyung." Baekhyun mengelus pelan jidat lebar itu.

"Entahlah hyung, akhir-akhir ini aku cepat sekali tumbuhnya. Mungkin karena aku main basket dan banyak makannya." Ucap Chanyeol.

Baekhyun terkekeh pelan lalu ia menurunkan tangannya dari jidat Chanyeol. "Jika kau masih terus tumbuh, lama-lama orang yang memandangmu sebagai kakak daripada hyung."

Chanyeol tersenyum mendengarnya. "Itu bagus, bukan? Jika seperti itu maka aku bisa melindungi hyung dengan mudah." Ucap Chanyeol.

Pipi Baekhyun memerah setelah mendengar perkataan Chanyeol. dengan cepat Baekhyun memalingkan pandangannya kearah lain. "A.. apasih! Bisa saja ngomongnya."

Pandangan Baekhyun tertuju pada dasi Chanyeol yang tidak terpasang dengan benar. Dengan cepat Baekhyun membenarkannya.

"Hei, kenapa sampai sekarang dasimu masih berantakan begini? Masa hyung terus yang harus membenarkannya." Omel Baekhyun.

"Aku sengaja tidak pernah belajar mengikat dasi lebih lanjut, agar hyung yang selalu mengikat dasiku dengan benar." Ucap Chanyeol.

Kini wajah Baekhyun memerah sempurna, setelah ia mengikat dasi Chanyeol dengan benar Baekhyun langsung meninggalkannya dengan kaki yang dihentak-hentakan. Menggemaskan sekali. lagi-lagi Chanyeol kembali tertawa dengan tingkah menggemaskan hyungnya.

.

Sekarang keluarga kecil ini sedang sarapan sambil mengobrol hal-hal ringan seperti biasanya. Ditengah momen hangat itu, tiba-tiba ponsel Nickhun berbunyi, dan langsung saja Nickhun mengangkatnya. Setelah berbicara dengan orang lain disebrang teleponnya, wajah Nickhun berubah menjadi serius.

Tiffany yang menyadari duluan, menatapnya khawatir. "Ada apa sayang?" tanyanya khawatir.

"Kita harus ke Beijing sekarang. Ada suatu hal mendesak." Jawab Nickhun.

Dengan cepat Nickhun dan Tiffany menghabiskan sarapan mereka, lalu beranjak dari ruang makan. Chanyeol dan Baekhyun saling berpandangan, apa ini artinya mereka tidak merayakan ulang tahun pertama pernikahan ibu dan ayah mereka.

"Ta.. tapi appa bagaimana dengan pesta ulang tahun pernikaha kalian? Bukankah kita sudah mendiskusikan ini bersama-sama?" rengek Baekhyun.

Chanyeol menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang diucapkan hyung-nya.

Nickhun dan Tiffany yang siap meninggalkan rumah mereka langsung terdiam, mereka memandang kedua putra mereka dengan tatapan sedih.

"Maafkan kami, Chanyeollie, Baekhyunnie sudah mengecewakan kalian. Kami juga tidak tahu ada hal mendesak seperti ini tiba-tiba." Ucap Nickhun.

"Kami berjanji akan merayakan pesta yang sudah kita rencanakan begitu pulang nanti. Bersabarlah sebentar lagi, ya" bujuk Tiffany.

Karena tidak ada pilihan lain, Chanyeol dan Baekhyun hanya mengiyakan perkataan mereka. Setelah itu pun kedua orang tua mereka pegi dari rumah ini. Baekhyun pun menghabiskan susu stroberinya, lalu berdiri dari tempat duduknya.

"Ayo Chanyeol, kita bisa terlambat nanti." Ucap Baekhyun.

Chanyeol menganggukan kepalanya, lalu ia menghabiskan susu tawarnya lalu keluar dari rumahnya menuju halte bus yang tidak jauh dari rumah mereka. Saat berjalan, mereka tidak berbicara apa-apa. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.

Tiba-tiba saja Baekhyun tersandung, tapi sebelum Baekhyun jatuh duluan Chanyeol sudah menangkapnya. Ia memandangi wajah hyungnya yang seperti sedang memikirkan sesuatu yang buruk.

"Ada apa hyung? Tidak biasanya kau seperti ini." tanya Chanyeol.

Kedua tanga mungil Baekhyun meremas jaket milik Chanyeol. "Entahlah hyung juga tidak tahu. Tapi hyung merasakan firasat buruk. Apa ini tentang appa dan eomma?"

Wajah Baekhyun berubah shock, dengan cepat Chanyeol memeluknya erat. Tangan satunya mengelus pelan punggung sempit hyung mungilnya.

"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja hyung. Aku yakin." Ucap Chanyeol.

Baekhyun mencebikan bibirnya, menahan tangis lalu memejamkan matanya. Ia berdoa dalam hatinya semoga apa yang di katakan Chanyeol benar. Terutama firasat buruknya terhadap ayah dan ibu mereka.

TBC...