Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning! OOC, Typo, Absurd, DLDR, Abal, Receh, Garing, Menstrim, Romens gagal, Bahasa tidak baku, First fic, Nyubi. Maklumin.
Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Terinspirasi dari beberapa sumber.
THE BRIDAL'S BRIDE
Skyzofrenia
Sinar matahari pagi menembus hangat dari sela-sela gorden ungu yang tersibak, membelai lembut kulit tanpa cela dan sedikit mengusik tidur cantik wanita yang masih nyaman menenggelamkan kepala pirangnya di dalam buaian bantal. Yamanaka Ino masih akan melanjutkan tidurnya jika tidak merasakan dering dari ponsel yang berada di nakas tempat tidur, menyanyikan lagu yang dia atur khusus untuk orang tertentu.
Mendengar itu tangan ramping Ino bergerak meraba-raba dan ketika ponselnya sudah di genggaman langsung saja dirinya menggeser layar ke kanan dan menempelkan ponsel di telinga kirinya. Tak perlu melirik siapa yang menelpon, karena itu sudah jelas pria-nya. Ya siapa lagi kalau bukan kekasihnya, Shimura Sai.
"Selamat pagi, nona cantik." Oh betapa indahnya pagi ini.
"Hmm selamat pagi juga , tuan tampan." Terdengar kekehan halus diseberang sana. Masih memejamkan mata dan memeluk bantal tentunya.
"Aku tahu kau masih bermesraan dengan ranjangmu." Sekarang gantian Ino yang terkekeh. Sai terlalu tahu akan dirinya.
"Iya-iya aku bangun sekarang." Dan benar saja, beberapa detik kemudian Ino mulai bangkit duduk dan merenggangkan tubuh sintalnya—masih diatas kasur tentu saja.
"Baiklah princess, tugasku sebagai alarm-mu sudah terlaksana. Mandi dan bersiaplah. Aku mencintaimu." Sai berujar kalem.
Sambil beranjak ke pinggiran kasur lagi-lagi Ino terkekeh "Aku lebih mencintaimu." Setelah yakin sambungan telpon mati, Ino meletakkan ponselnya kembali di nakas dan meraih jepit rambut dan menggulung asal-asalan rambutnya sebelum beranjak ke kamar mandi. Itu semua sudah menjadi kebiasaan mereka berdua selama kurang lebih 4 tahun ini. Sai yang menelponnya di pagi hari dan mengucapkan selamat pagi, membangunkannya dengan cara yang terbilang romantis, kemudian diakhiri dengan kata cinta. Selalu seperti itu.
Itu salah satu keuntungan memiliki pacar 'kan Ino?
Ah Ino jadi merindukan kekasihnya. Cih, dasar wanita –tidak –jomblo.
Setelah memoleskan lipmatte berwarna nude dan merapikan ponytail pirangnya, Ino bergegas menyambar tas serta ponselnya di nakas dan keluar dari kamar bernuansa ungu lembut miliknya untuk turun ke dapur. Hari ini dirinya memakai ripped jeans dengan crop sweater putih dan tas selempang yang tersampir di bahu kanannya. Cukup kasual, dan tidak ada heels hari ini. Ino malas membayangkan dirinya harus berjinjit seharian, toh seingatnya tidak ada klien penting hari ini. Sekedar bocoran, Ino memang mementingkan penampilan—apalagi tuntutan profesinya sebagai perancang busana pengantin—tapi Ino lebih mementingkan kenyamanan.
Dan entah karena sneakers nyaman yang hari ini dipakainya ataukah karena efek alarm paginya yang masih belum hilang, Ino meloncat riang menghampiri wanita paruh baya yang saat ini sedang berkutat di dapur kediaman Yamanaka.
"Pagi Kaasan!" Ino cengengesan memeluk Yamanaka Sara—ibunya dengan erat dari belakang sambil mencuri ciuman selamat pagi dari pipi Sara.
Diperlakukan begitu Sara hanya mendelik. "Kau itu sudah besar, jangan seenaknya bermanja-manja begitu. Seperti Inojin saja." Ibunya terus mengomel, membandingkan dirinya dengan Inojin—keponakannya, anak dari Dei-nii dengan Konan-nee. Merasa disindir Ino jadi dongkol sendiri. Dengan itu diambilnya gelas di pantry dan menuangkan jus jeruk yang ada di meja makan.
"Oiya ngomong-ngomong Sai apa kabar?" Ditanya seperti itu Ino pun menoleh ke arah ibunya, tumben bertanya tentang Sai.
Sara menangkap arti tatapan Ino. "Hhh, kapan kalian akan menikah? Kaasan bosan melihat kalian terus saja betah berpacaran. Ingat Ino, usiamu itu sudah sangat matang. Mau menunggu apa lagi? Kaasan tahu kalian berdua sama-sama sibuk, tapi jika seperti ini terus kaulah yang dirugikan Ino."
Ino tahu ibunya tidak marah. Tidak. Sara hanya berbicara dengan nada lembut khas keibuannya seperti biasa. Hanya saja kata-kata ibunya cukup 'membekas' di hati Ino. Benar juga. Sampai kapan dirinya dan Sai terus berpacaran? Siapa sih wanita yang tidak ingin menikah dengan pria yang dicintai? Ino pun begitu. Dan sebagai wanita, Ino cukup tercubit dengan kata-kata sang ibu.
Tapi apakah Sai juga berpikiran begitu?
Sebenarnya sudah cukup lama Ino menunggu Sai melamarnya, namun hari itu tak kunjung datang. Dan kata-kata ibunya benar. Mereka sama-sama sibuk. Sai yang sibuk berkeliling dunia karena profesinya yang sebagai fotografer, dan dirinya yang sebagai perancang busana sekaligus wedding organizer terkenal membuat mereka tak memiliki waktu berdua bahkan untuk sekedar membicarakan hal-hal seperti ini.
"Kaasanmu benar, hime." Sebuah sahutan lain dari arah meja makan menyadarkan Ino dari lamunannya. Ditatapnya sang ayah—Yamanaka Inoichi dengan seksama. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu berkata tenang sambil mencecap kopi paginya, ternyata ayahnya menyimak apa yang dibicarakannya dengan sang ibu. "Atau perlukah Tousan menelpon Sai dan membawanya berlutut untuk melamarmu?"
Ino terkekeh masam. Sejak kapan jus jeruk kesukaannya jadi terasa seperti larutan oralit begini?
"Atau kau menikah dengan Sasuke saja bagaimana?" Ino mengerjap menatap ayahnya yang kini malah menerawang. "Jadi nanti aku bisa berbesan dengan Fugaku hahaha" Kelakarnya tiba-tiba membuat rasa galau Ino berubah menjadi bete. Kenapa malah jadi pria tidak waras itu yang dibahas? Cih.
Ino menghabiskan jus oralitnya dan dengan segera menyambar selembar roti tawar di di depannya. Dan dengan itu Ino berlalu berpamitan setelah mencium pipi kedua orang tuanya. Pekerjaannya sudah menunggu.
- The Bridal's Bride –
Sesampainya di Bouquette sang asisten sekaligus sahabatnya sudah menunggu. "Hari ini ada jadwal penting apa Tenten?"
Gadis brunette itu segera menyahut sambil mengecek agenda kecil yang selalu ada di tangannya, "Kurasa tidak ada yang penting hari ini." Tenten pun mendongak "Kurasa kau bisa fokus untuk merancang gaunnya, Ino."
Ino mengangguk. "Kalau begitu pastikan bahwa kau menghubungi pihak K-Empire dan cek apakah pada tanggal itu mereka memiliki venue lain atau tidak. Buatkan janji dengan mereka besok, aku akan kesana langsung."
Tenten mengangguk. Dirasanya cukup, Ino pun masuk menuju ruang kerjanya. Disana terdapat dua buah manekin untuk nya menyalurkan ide rancangan, satu set sofa ungu beludru dengan meja kaca di depannya, dua buah rak berisi dokumen-dokumen dan koleksi majalah mode, satu meja kerja dengan tumpukan kertas diatasnya dan kursi kerja ungu gelap di baliknya. Setelah menyampirkan tasnya di gantungan dekat meja kerja, Ino pun memakai kacamata baca ber-frame hipster dan mulai mengerjakan tugasnya.
Konsentrasi Ino terusik ketika mendengar dering telpon dari meja kerjanya. Tanpa menoleh sama sekali disambarnya gagang telpon dan sejurus kemudian bicara—dengan tangan yang masih mencoret-coret sketchbooknya, "Ya, ada apa Tenten?"
"Ada tamu untukmu, Boss"
Ino mengerut, pasalnya dirinya memang tidak membuat janji dengan siapapun hari ini. Atau mungkin ini masalah mendesak? "Hm, baiklah Tenten." Ditutupnya telpon dan tak berapa lama kemudian pintu ruangannya terbuka. Menampilkan sosok salah satu kliennya, Sabaku Temari. Bersama dengan...entahlah Ino tidak mengenalinya.
"Ino, maafkan aku datang tidak memberitahu lebih dahulu." Temari tersenyum sambil berjalan memasuki ruangan dengan pria yang senantiasa mengekori dirinya.
Ino beranjak dari kursinya menyambut Temari dengan bercipika-cipiki. "Tak apa Temari-san, duduklah" Ucap Ino ramah mengarahkan kedua tamunya ini ke sofa. Setelah itu Ino beranjak menuju meja kerja nya, menelpon tenten untuk meminta dibawakan minuman. Kemudian kembali ke sofa dengan menenteng sketchbook. Masih dengan kacamata yang bertengger di wajahnya tentu saja.
"Jadi, ada apa Temari?" Tenten datang mengantarkan minuman kemudian berlalu pergi meninggalkan bossnya dan sang klien itu.
"Umm tidak ada hal khusus, aku hanya ingin melihat seperti apa rancangan untuk pernikahan ku" Temari terlihat antusias. Tak heran dirinya menjadi aktris, parasnya cantik dan tubuhnya tinggi semampai membuatnya cocok sering-sering berseliweran di layar kaca.
"Ah kebetulan sekali kalau begitu. Aku baru saja menyelesaikan rancangan dekorasinya, yah walaupun masih coretan kasar. Kau mau melihatnya? Siapa tahu ada yang ingin kau koreksi." Ino tersenyum. Tentunya hal ini memudahkan pekerjaannya tanpa harus bolak balik revisi dengan klien 'kan. Dan mengalirlah bermenit-menit kedua sosok wanita itu tanpa menyadari kepala merah yang sedari tadi menjadi pengamat.
Sabaku Gaara masih anteng memandangi dua sosok wanita pirang dihadapannya ini sambil bersandar santai dan tangan bersedekap di depan dada. Pria duapuluh enam tahun ini adalah adik bungsu dari Sabaku Temari, sekaligus dokter bedah di Konoha Hospital. Dirinya dipaksa setengah diseret untuk mengantarkan sang kakak kemari, mengingat calon suami kakaknya sedang sibuk. Rejeki anak bungsu.
Jade nya bergulir ke wanita pirang platina yang ikatannya sudah sedikit acak-acakan. Dengan anak rambut yang jatuh cantik di sekitar wajahnya entah kenapa membuat kesan tersendiri dari Gaara. Alis tipisnya berkerut ketika melihat keseluruhan penampilan wanita itu. Benarkah ini Yamanaka Ino yang 'itu'? Yang katanya wajahnya sering nampang di sampul majalah mode itu? Yang katanya dinobatkan menjadi desainer muda berbakat itu? Yang katanya lagi dijuluki 'Barbie Hidup' itu? Tapi...jeans robek di lutut, sneakers, sweater, kacamata hipster? Masa 'sih?
Gaara skeptis.
Namun ketika ino mendongak menatapnya, Gaara yakin bahwa wanita didepannya ini memanglah Yamanaka Ino yang 'itu'. Mata biru jernih itu balik menatapnya penuh perhitungan. Mungkin merasa diperhatikan. Temari yang baru sadar pun segera memecah aksi saling tatap mereka berdua.
Dirinya berdehem. "Oh maaf aku lupa mengenalkannya. Ino perkenalkan, Sabaku Gaara. Adikku, dokter bedah di Konoha Hospital." Merasa namanya disebut , Gaara segera mengangguk sopan pada ino. "Salam kenal."
Ino yang tersadar pun segera melepas kacamata bacanya, berganti tersenyum ramah pada Sabaku Gaara. Pria yang disadarinya menatap dirinya sedari tadi. "Ah, saya Ino Yamanaka. Salam kenal, Gaara-san." Ujarnya sambil menatap Gaara dengan mata birunya. Gaara yang ditatap seperti itu hanya mengerjap beberapa kali. Ternyata dibalik hipster itulah Yamanaka Ino yang 'itu' bersembunyi. Hm, menarik.
Lamunan Gaara buyar ketika ponsel Temari berbunyi. Membuat si empunya meminta ijin mengangkat panggilan. Dan ketika tubuh Temari lenyap dibalik pintu barulah Gaara angkat bicara, "Aku tidak menyangka bahwa kau adalah Yamanaka Ino."
Merasa dipanggil, Ino pun mendongak. "Ah benarkah? Apakah aku lebih cantik ketika di foto?"
'Justru sebaliknya'. Hati berkata begitu tetapi tubuhnya kaku dengan tetap memasang wajah datar andalannya.
Ino familiar. Seperti tingkah seseorang. Batinnya keki melihat polah batu es Gaara.
"Sudah menikah?" Ino kaget. Kenapa bertanya begitu?
"Belum". Jawab Ino kalem.
"Berapa usiamu?" Ino mengerjab, matanya bergulir ke kanan. "Umm duapuluh...delapan?" Nadanya malah balik bertanya.
"Jadi ternyata rumor itu benar, ya."
Ha?
"Rumor apa?"
"Kau tidak pernah dengar? Katanya, seorang perancang busana pengantin tidak akan bisa menjadi pengantin." Gaara berucap enteng sambil tangannya masih bersedekap.
Ino diam beberapa detik, sebelum kemudian tertawa pelan. "Itu hanya mitos". Tentu saja dirinya tidak percaya. Tidak bisa menjadi pengantin katanya? Konyol. Sebenarnya sudah sering dirinya mendengar ini. Tapi namanya juga mitos, tidak bisa dipercaya. Buktinya sekarang dirinya memiliki Sai. Dan Ino optimis akan menjadi 'pengantin' bersama Sai.
Percakapan mereka terhenti ketika Temari kembali lagi dan berkata pada Ino bahwa mereka harus segera pulang. Dan dengan perginya Sabaku bersaudara, Ino kembali duduk manis di kursi kerja nya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda sekaligus membenahi sesuai apa yang telah didiskusikan.
Belum lima menit Ino berkutat lagi dengan sketchbooknya pintu ruangan tersebut kembali dibuka.
"Ada apa Temari-san? Ada ya— Suke?" Ino mendapati Sasuke Uchiha berjalan santai menuju sofa ungunya sambil menenteng tas karton dengan logo salah satu restoran terkenal di Konoha. Setelah mengambil duduk manis di sofa, Sasuke beranjak mengambil beberapa sterofom berisi aneka sushi dari dalam tas karton tersebut. Kemudian tangannya yang lain membuka penutup kotak sterofom dengan anteng tanpa melirik Ino sama sekali.
"Kau tidak ingin memberiku minum? Aku kan tamu."
Dih. Tamu gila mana yang seenak jidat masuk ke tempat orang lain tanpa ketuk pintu dulu? Ino hanya memandang seolah Sasuke memiliki tahilalat besar di pipi sebelum kemudian mengubungi Tenten untuk meminta diantar minuman lagi. Setelahnya Ino menghampiri Sasuke yang tengah membuka bungkus sumpit.
Dan ketika Ino telah duduk disebelahnya tanpa banyak bicara disodorkannya sumpit tersebut ke wanita disebelahnya itu. Ino sih cuek saja, dicomotnya sushi-sushi menggiurkan itu dan dimakan dengan lahap. Dia memang lapar.
Tak lama tenten masuk dengan membawa dua botol air mineral dingin dan ditaruhnya di atas meja. Ino yang mengetahui hal tersebut langsung menyambar salah satu kotak sushi yang belum terbuka dan menyodorkannya pada tenten. Untuk cemilan, katanya dengan mulut sibuk mengunyah. Tinggallah Sasuke dan Ino berdua di ruangan.
"Twumbwen khau membawa mwakhanan khemwari swuke."
Si pemuda menengok ke wanita dengan pipi menggembung penuh makanan sambil berdecak ilfeel. Jika ada media yang tahu sisi Yamanaka Ino yang 'ini' maka julukannya bukan lagi Barbie hidup, melainkan babi hidup. Untung cantik.
"Baasan memberitahuku kalau kau melewatkan sarapanmu." Lagaknya cuek sambil mencomot sushi dan memakannya dengan kalem.
Mendengarnya Ino berheti mengunyah, kemudian disambarnya botol air dingin tersebut dan meminum dengan rakus.
"Aish tadi pagi saja mengomeliku seperti anak kecil, sendirinya malah memperlakukan aku seperti Inojin. Cih" Dasar anak durhaka.
Seakan teringat sesuatu, Ino berhenti dari acara sarapan –kesiangan –tersebut. "Oiya Suke, pria suka apa untuk diberikan sebagai hadiah?"
"Maksudmu?"
Ino meletakkan sumpitnya, memberikan atensi penuh pada sahabat prianya ini. Duduknya lebih dicondongkan pada Sasuke.
"Sebentar lagi perayaan empat tahun hubunganku dan Sai. Kira-kira apa yang harus kulakukan? Dan kado apa yang sekiranya para pria suka?" Mata biru yang tersembunyi dibalik kacamata hipster itu menatap Sasuke bimbang.
Yang ditatap malah ikut bingung. Pasalnya dirinya juga tak pernah memberi kejutan pada seorang lelaki. Tapi otak cerdasnya itu pun memikirkan sebuah ide. Bukan ide cemerlang sihh, tapi ide random yang didapat dari sinetron yang belum lama ini dilihat kaasannya—jangan tanya mengapa Sasuke bisa tahu.
"Kenapa kau tidak datang saja ke apartemennya dan memberi kejutan disana? Dan pria tidak suka kado yang terlalu mencolok. Dasi saja."
Seakan mendapat ide brilian setara otak Einstein, Ino tersenyum sambil menjentikkan jari. "Deal!"
Ino tidak tahu saja ide yang dikiranya setara otak einstein ternyata hanya ide receh otak-otak korban sinetron ckckck.
"Ngomong-ngomong sushinya enak"
- The Bridal's Bride –
Esoknya adalah tepat hari dimana Sasuke dijadwalkan 'ketemuan' dengan anak teman kaasannya. Mereka berdua berjanji bertemu di Coffeshop di persimpangan jalan dekat Bouquette. Sasuke sengaja memilih tempat ini karena memang dekat dengan kantor Ino, mengingat sahabatnya itu tengah sibuk-sibuknya. Dan tentu saja dirinya bersama Ino, kini mereka sedang mengadakan briefing sebelum eksekusi dimulai.
Jadi, teknisnya begini. Sasuke datang menemui gadis itu, kemudian berbasa-basi sedikit. Bertanya ini itu dahulu supaya tidak terlalu kentara niat busuknya. Yamasa langsung ke inti pembicaraan? Kan harus ada pembukaan dulu. Nah kemudian setelah Sasuke bosan, pria itu tinggal mengirim sinyal pada Ino lewat pesan teks atau chat. Setelah itu barulah Ino yang sebenarnya berdiam di mobil yang diparkir di seberang jalan Coffeshop tersebut menghampiri, dan memulai sandiwara sebagai pacar –bohongan –Sasuke. Tugasnya disini adalah memanas-manasi si gadis agar meledak dan menampar Sasuke. Agar hal itu bisa dijadikan alasan untuk mengadu pada kaasannya bahwa si gadis cemburu pada Ino yang notabene adalah sahabatnya, atau sekarang berubah menjadi partner in crime-nya. Dan Voila! Perjodohan gagal.
Oke, ready action!
Sasuke masuk ke coffeshop tersebut, dirinya sengaja datang sepuluh menit lebih lama dari janjinya. Matanya mengedar mencari sosok gadis yang dimaksud kaasannya. Dan ah! Mungkin gadis itu yang dimaksud.
Gadis yang duduk sendiri di dekat jendela kaca besar. Rambutnya berwarna gelap panjang dengan tubuh mungil. Dihampirinya gadis yang sedang melihat jalanan itu. "Hinata-san?"
Merasa namanya dipanggil, hyuuga hinata pun menoleh. Mata peraknya menatap mata hitam Sasuke. Dirinya berdiri dan menyambut "U-Uchiha Sasuke-san, si-silahkan duduk."
Setelah mengambil tempat duduk, Sasuke memperhatikan gadis didepannya ini. Hm hm hm, dilihat dari sisi manapun gadis didepannya ini terbilang cantik. Mata, hidung, bibir mungil, serta tubuhnya yang mungil namun sedikit berisi di beberapa tempat yang tepat itu cukup memanjakan Sasuke. Aish kalau saja dirinya pria bajingan, sudah digebetnya Hinata. Tapi sayangnya dirinya terlalu malas berurusan dengan banyak wanita. Jadi, mari mulai pembukanya.
"Jadi Hyuuga Hinata –san, berapa usiamu?"
Hinata yang sedari tadi menunduk itupun mendongakkan wajahnya, bertemu tatap dengan mata penuh selidik itu membuat hinata gugup seketika.
"Du-duapuluh enam tahun. Sa-Sasuke –san?"
"Duapuluh delapan." Oh. Hinata sudah duga pria didepannya ini tipe-tipe lemari es. Dingin, dan kaku.
"O-oh. Sa-Sasuke –san kerja dimana?"
"CEO Kirin." Hinata mengerjap. Kirin? Kirin Departement Store? Pusat perbelanjaan termegah di Konoha itu?
Sasuke tidak berbohong soal itu. Memang dia adalah direktur utama Kirin Departement Store. "Kau?"
"A-ano, aku menjalankan sebuah Cafe." Hinata berujar kalem sedikit gugup.
Setelah bermenit-menit tak ada obrolan berarti, Sasuke memecah keheningan diantara mereka. "Kenapa kau menerima perjodohan ini?"
Hinata yang sedang memainkan bibir cangkir capuccino nya pun mendongak. "A-aku tidak bisa menolak permintaan K-kaasan."
Sudah Sasuke duga. Tipikal gadis rumahan yang membosankan. Tidak bisa Sasuke bayangkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka nanti. Mati bosan? Mengerikan. Baru pertama kali bertemu saja sudah seperti ini. Cih. Sasuke diam-diam mengirim pesan teks ke Ino dari bawah meja.
Dan di menit berikutnya ponselnya berdering. Membuat hinata menoleh ke arah Sasuke yang dengan tanggap mengangkat panggilan dari Ino.
"Oh kau dimana?" Sasuke mengedarkan pandangan menyelusuri isi coffeshop tersebut.
...
"Ya aku bisa melihatmu."
...
"Baiklah." Sasuke menutup panggilan ketika dirasanya sesosok wanita cantik dengan flowerprint sundress selutut berwarna biru datang menghampirinya. Dirinya bangkit dan segera menarik bahu wanita pirang itu dan dengan mesra mencipika-cipiki pipi Ino mesra.
"Sasuke –kun maaf aku terlambat. Sudah menunggu lama?" Ino yang masih didekap dan bercipika-cipiki mesra merasa dirinya sebentar lagi akan muntah jika masih bersikap –sok –mesra begini bersama Sasuke. Ewh.
"Baru saja Ino. Duduk lah" Sasuke menarik kursi di sebelahnya untuk diduduki Ino. Dan semua itu disaksikan hinata dengan pandangan bertanya.
Merasa ini saatnya, Ino pun menoleh ke arah hinata yang tiba-tiba menjadi kikuk dan Sasuke bergantian. "Kau ada janji dengan seseorang, Sasu –kun?" memasang tampang pura-pura tidak tahu. Oh seharusnya ekspresinya ini direkam dan dikirimkan ke agensi aktris.
"Dia anak teman Kaasan, Ino." Mendengarnya, Ino langsung menoleh dan menatap hinata ramah.
Dengan tersenyum manis Ino mengulurkan tangan lentiknya ke hinata "Yamanaka Ino, kekasih Sasuke-kun."
Hinata kaget, entah karena apa. Mata peraknya melebar dengan tubuh menegang. Terkejut 'eh? Pikir Ino ingin tertawa sebenarnya
"Ya-Yamanaka Ino...pemilik Bouquette itu? De-desainer baju pengantin yang terkenal itu?"
Lah?
Raut muka hinata berubah cerah seketika. Dijabatnya tangan Ino masih terulur. Dan dengan bersemangat dirinya berseru "Hyu-Hyuuga Hinata. Senang bertemu denganmu Yamanaka-san. Oh aku adalah penggemarmu!"
Baik Sasuke maupun Ino sama-sama bingung antara ingin menangis atau ingin tertawa.
Ino yang sadar dari keterjutannya pun langsung merespon baik. "A-ah benarkah? Haha senang mendengarnya Hinata-san, ngomong-nomong panggil Ino saja." Tidak lupa diiringi senyum marketting penuh kepalsuan andalannya yang sialannya malah terlihat natural. Dan jabat tangan itu pun terlepas.
Dan tahu apa selanjutnya?
Hinata, gadis yang dikira Sasuke lugu dan pemalu bak putri raja yang anggun itu malah nyerocos dengan muka merona sambil menatap Ino, membicarakan bagaimana kiprah Ino di dunia mode yang menurutnya keren. Dan tentunya direspon Ino dengan tawa –sok –malu-malunya.
"Oiya, anda bilang anda kekasih Sasuke –san 'kan?"
Matih. Mereka berdua lupa tentang sandiwara pacar bohongannya. Boleh Ino pura-pura sakit perut saja?
"A-ah. Iya Hinata-chan. Memang ada apa?"
Hinata yang ditanya malah tersenyum malu. "Kalian serasi."
Sasuke dan Ino kicep. Sambil sesekali lirik-lirikan.
Ino pura-pura tertawa malu lagi. Sasuke tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Plot drama yang terjadi telah melenceng jauh dari apa yang dia dan Ino perkirakan tadi.
"Jika saja aku tahu, maka aku akan membatalkan perjodohan ini dari awal." Hinata berucap dengan muka merona sambil menunduk.
Eh? Tunggu. Ino tahu apa arti ekspresi senang-tapi-malu milik Hinata.
"Jangan-jangan, kau juga sudah memiliki kekasih 'ya Hinata?"
Tak disangka Hinata gelagapan sendiri. "Bu-bukan! Ah maksudnya...be-belum." Jawabnya ragu dengan suara yang kian mengecil.
Jadi tebakan asal Ino tadi benar?
Ino merasa ingin tertawa sekarang.
"Po-pokoknya aku akan mengatakan kepada Kaasan bahwa Sasuke –san telah memiliki kekasih. Ja-jadi perjodohan ini bisa dibatalkan." Ucapnya senang dengan senyum kecil di bibirnya.
Kemudian hinata menyambar tasnya dan berpamitan pada Ino dan Sasuke sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali. Sebelum tubuh mungilnya hilang dibalik pintu coffeshop. Tak lupa dengan raut wajah yang begitu sumringah seperti sehabis menang lotere.
Sasuke menghela napas yang entah sejak kapan ditahannya.
Ino merosotkan badannya di meja.
Jadi, rencana busuk mereka ini termasuk dalam kategori berhasil...atau malah gagal sih?
Ino dan Sasuke saling pandang. Merasa acara 'menahan diri' yang mereka lakukan mati-matian dalam membangun kemesraan tadi terasa –sangat – sia-sia.
-TBC-
A/N: Memang ya, mumpung ide lagi ngalir cepet-cepet ditulis sebelum mager melanda. Hehe makasih banyak Sky ucapkan kepada teman-teman dan senpai sekalian yang udah berkenan 'notis' fiksyen receh ini /sembah sujud/
Ya memang masih belum sempurna. Pasti pada sering nemu typo kan? Hehe /getok boleh kok/
Review dari kalian jadi penyemangat Sky. Jadi boleh dong RnR lagi? Menerima kritik dan saran dengan dada terbuka (?) kok /senyummesum/
Thanks for reading~
Skyzofrenia.
