Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning! Hard OOC, Typo, Absurd, DLDR, Abal, Receh, Garing, Romens gagal, Bahasa tidak baku, First fic, Nyubi. Maklumin.

Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Terinspirasi dari beberapa sumber.

Pojok balesan ripiu gak login:

-Azzura Yamanaka: Udah di next nih, RnR lagi yak :* Btw Salam kenal uga~

-xoxo : Sky seneng deh kalo TBBS ada yang suka hehe. ditunggu loginnya ya, biar kita bisa mesra-mesraan di pm /kedip/

-Guess : Udah di next nih, semoga kamu suka :*

-Diffa Yuna : Aww disemangatin hehe. ini udah update, semoga kamu suka :*

- YI : Terimakasih juga sudah notis dan suka TBBS. Terimakasih juga udah di semangatin unch :*

- Uchiyama : Oya? muehehe syukur deh ada yang suka fiksyen receh macem TBBS ini. ditunggu loginnya yaa :*

Enjoy~

THE BRIDAL'S BRIDE

Skyzofrenia

"APA-APAAN INI SUKE?" Teriak Mikoto membahana dari ruang tamu Mansion Uchiha.

Sasuke dan Ino yang baru saja melewati pintu utama hanya bisa terkaget-kaget melihat Mikoto berteriak dan langsung mengambil langkah besar-besar menghampiri keduanya.

"Ada ap –argh!" Belum sempat sasuke menyelesaikan kalimatnya, Mikoto sudah menarik telinga pemuda itu keras sampai Sasuke harus membungkuk sedikit. Ya salah sendiri tinggi.

"Apa maksud dari pihak Hyuuga yang membatalkan perjodohan sepihak karena kau sudah memiliki kekasih, Uchiha Sasuke?"

"Kaasan, aku bisa jelaskan." Sasuke berusaha tetap kalem walapun telinga sudah berdenyut.

"Sudah Kaasan bilang, tidak ada alasan lain lagi kali ini Suke!"

"Ka—" Belum juga tiga detik Sasuke membuka mulut, Mikoto sudah nyerobot.

"Duuh, ingin sekali Kaasan berkata kasar. Demi Kami-sama, berani-beraninya kau berbohong bahwa kau sudah memiliki kekasih padahal belum sama sekali? Atau jangan-jangan kau membayar wanita lain untuk berpura-pura sebagai kekasihmu seperti apa yang ada di drama-drama itu?"

Ibu-ibu dengan segala tontonannya.

"Oh! Atau kau memang sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuan Kaasan 'huh Uchiha Sasuke?" Balas Mikoto sengit.

"Belum Ka—"

"OH! Jadi benar kau menyewa wanita untuk menjadi kekasih bayaranmu ya?" Sambar Mikoto tambah sengit.

Sasuke hanya bisa mengelus dada melihat cerocosan wanita paling hiperbolis nomer satu di dunia ini dengan prihatin.

"Jadi siapa wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasihmu hah? Mana dia? Mau-mau saja sih diakali bujang lapuk sepertimu. Kau bayar berapa dia?"

Mikoto tak tahu saja subyek yang dia sumpah serapahi sedari tadi berada di hadapannya. Yamanaka Ino sebagai sang terdakwa hanya bisa memasang wajah menuduh pada Sasuke seakan dia meminta pertanggung jawaban setelah dihamili tujuh bulan.

Kini tatapan Mikoto melembut separuh iba pada anaknya. "Suke, Kaasan tahu seberapa putus asanya orang sebagai bujangan tak laku-laku."

Lah? Sasuke speechless.

"Sudah banyak contohnya, Paman Obito misalnya. Kaasan tidak mau kau berakhir seperti orang yang kemana-mana selalu bersama Kakashi sampai akhirnya dikira Homo oleh para tetua. Oleh karena itu sebelum terlambat, Kaasan harus segera bertindak. Kau mau sep—EH? Ino –chan?"

Mikoto baru sadar ada sosok lain di sebelah Sasuke setelah bermenit-menit berlalu dengan adegan dramatis penuh drama. "Sejak kapan kau datang?"

Ino yang namanya disebut hanya bisa cengengesan sambil menyelipkan poni pirangnya ke belakang telinga. "Sejak tadi, Bibi."

"Oh maaf Bibi tidak menyadarinya, Ino –chan." Mikoto perlahan menghampiri Ino untuk sekedar cipika-cipiki. Mengabaikan Sasuke yang dongkol setengah mati setelah dikatai bujang lapuk oleh ibunya sendiri. Cih, salah sendiri jones kelamaan.

"Apa kau tahu siapa kekasih Suke, Ino –chan?"

Ino hanya tertawa gugup, bingung harus menjawab apa. Manik aquanya bergulir menatap Sasuke seolah minta bantuan.

Yang ditatap? Hanya acuh tak acuh nyelonong masuk ke dapur seakan memang tidak terjadi apa-apa.

Ingatkan Ino untuk menaburkan bubuk gatal di seluruh isi lemari milik bungsu Uchiha itu ya.

"Jadi? Siapa? Tak mungkin kan si balok es itu mengajak wanita random untuk diajak kencan? 'Kan setahu Bibi seumur hidupnya hanya Ino-chan saja wanita yang dekat dengan anak itu hahaha."

"I-iya Bibi. Haha" Ino hanya bisa tertawa tanpa nyawa menanggapi Mikoto yang terkekeh riang di sampingnya. Habislah dia.

"Jadi benar dia menyewa wanita untuk mengaku sebagai kekasihnya?" Mikoto menatap penuh selidik ke dalam mata aqua itu.

Uluh uluhh Ino jadi tambah gugup 'kan.

"Atau jangan-jangan..." Wanita paruh baya itu sengaja berhenti bersuara sejenak supaya terkesan misterius. "—Ah! Tapi tak mungkin kan Ino-chan yang berpura-pura jadi kekasihnya Suke? Hahaha lucu sekali aku ini" Mikoto masih akan tertawa renyah jika saja tidak merasakan gadis pirang itu entah kenapa jadi membatu, memasang ekspresi seperti terdakwa hukum gantung hendak dieksekusi.

Lah? Kok firasat Mikoto jadi tidak enak.

"Jadi, benar ya Ino –chan?" Mikoto bertanya lamat-lamat.

Keringat dingin mulai bermunculan di pelipis Ino. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan wanita yang sudah dianggap seperti Ibu Negara kedua di hidupnya itu.

Tak perlu otak sekelas Einstein untuk menebak apa arti mimik Ino. Jadi dengan langkah besar-besar Mikoto menghampiri Sasuke yang sedang meneguk air mineral di dapur dan menepuk punggung lelaki itu keras sampai tersedak.

"Uhuk!—AP Uhuk!" Sasuke baru saja mau mengumpat siapa pelaku yang membuat punggungnya terasa panas jika tidak sadar itu adalah sang ibunda.

Mikoto memasang wajah garang dan beralih mencubiti lengan Sasuke. "Argh—"

"Dasar anak nakal! Berani-beraninya memperalat Ino-chan ku!"

Tolong, ini yang anaknya siapa ibunya siapa.

Ino pun buru-buru menyusul ke dapur dan melihat adegan cubit-cubitan ibu dan anak itu dengan horror. "B-Bibi—"

Mikoto masih saja mencubiti lengan kekar Sasuke. Oh man, ini sakit.

Benarkah ini Mikoto? Setahu Ino, Mikoto memiliki pembawaan yang jauh lebih kalem dibanding ibunya sendiri loh. Kadang dulu ketika Ino masih kecil Sara mengomelinya, Mikoto lah yang membela dan berkata "Jangan omeli Ino-chan ku, Sara" dengan suara kalem. Ya memang sih, faktor karena hidup terkungkung bersama tiga pria membuat Mikoto begitu memanjakan Ino seperti anak perempuan sendiri.

Dan, hal itu berlanjut hingga kini. Ino ingin tertawa melihat Mikoto yang cukup 'beringas' menghukum Sasuke.

Dan kekehan halus tak tertahankan dari bibir merona Ino agaknya dapat menghentikan interaksi tak wajar ibu-anak itu.

"Sudahlah Bibi. Suke memang nakal sedari kecil 'kan?" Ino masih saja tertawa sembari menjauhkan Mikoto dari Sasuke yang kini sudah terlihat acak-acakan. Kemeja santai yang kusut, rambut tak serupa pantat ayam lagi, dan wajah penuh peluh akibat menahan cubitan Mikoto. Yamasa Sasuke membalas cubitan ibunya sendiri? Kan gak gentle.

Mikoto menghembuskan napas lelah. "Kalau kau masih saja seperti itu, Kaasan akan benar-benar menikahkan mu dengan Ino –chan, Suke." Tentu saja Mikoto hanya menggertak. Wanita itu tahu Ino memiliki kekasih. Setidaknya masih.

Dan ternyata kata-kata Mikoto cukup ampuh mempengaruhi keduanya. Baik Sasuke maupun Ino langsung kicep sambil saling melirik. Dan belum tiga detik, keduanya sudah sama-sama membuang muka ogah-ogahan. Idih~ batin Ino.

"Baasaan~" Ino merengek manja. Masih tak terima dengan celetukan Mikoto tentang dirinya dan Sasuke.

Sasuke? Dengan tidak sopannya malah melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.

Mikoto berbalik ke arah Ino. "Nah mumpung Ino-chan disini, kau harus ikut makan siang bersama." Berusaha mengalihkan pembicaraan. Belum sempat Ino protes, dirinya sudah ditarik masuk ke dapur duluan.

- The Bridal's Bride –

Suara deru mesin mobil memasuki pelataran Mansion Uchiha membuat Mikoto pamit ke depan untuk menyabut kedatangan pria yang diyakini adalah Fugaku, suaminya. Ino sendiri? Sedang menata meja makan karena memang masakannya sudah matang selagi Mikoto mengurus suaminya.

Aish. Harusnya Sai melihat dirinya yang seperti ini. Mungkin saja Sai langsung dapat ilham untuk melamar Ino yang istri-able saat itu juga. Yah namanya juga berkhayal, ya 'kan Ino?

"Ada Ino rupanya" Suara bariton khas pria paruh baya menggema dari ruang tamu membuat Ino reflek mendongak. Wajahnya seketika berubah cerah.

"Paman!" Ino berlari kecil menghampiri Fugaku yang masih dengan setelan kerja –minus jas dan tas kerja yang kini ditenteng Mikoto.

"Apa kabar Ino?"

"Hehe baik Paman." Ino terkekeh.

"Oiya Ino –chan yang memasak untuk makan siang kali ini loh, Fuga –kun!" Ungkap Mikoto riang. Ino? Jangan ditanya, pasti pasang tampang sok-malu-malu.

"Benarkah?"

"Ahaha Bibi terlalu melebih-lebihkan, Paman. Padahal aku hanya membantu sedikit." Cih. Sok-sokan jaga image.

"Yasudah. Bibi minta tolong panggilkan Suke di kamarnya ya, Ino-chan."

"Siap Bibi." Dan dengan itu Ino langsung naik ke lantai dua dimana kamar Sasuke berada. Ia memang sudah sering keluar-masuk Mansion Uchiha hingga sudah menganggapnya rumah sendiri. Masa bodoh si pantat ayam itu mengatainya tidak sopan. Toh Ibu Negara sudah bertitah.

Sesampainya di pintu bercat putih kedua dari tangga, Ino langsung saja nyelonong masuk tanpa diketuk. Saking terbiasanya seperti ini sampai-sampai seluruh penghuni Mansion Uchiha mahfum, bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa seenaknya keluar-masuk kamar sang Tuan Muda Uchiha satu itu. Dan Yamanaka Ino salah satunya.

Pemandangan yang didapati netra aqua itu membuat Ino harus mengelus dada. Bagaimana bisa dirinya yang harus berkeringat bau minyak panas berjuang menyiapkan makanan, ehh si Tuan Muda tak tahu diri ini malah keenakan bergelung di tempat tidur. Berlebihan? Kalau tidak berarti bukan Yamanaka Ino 'kan?

Dengan dongkol Ino berjongkok di samping ranjang Sasuke dan mengamati pria itu tidur. Posisinya tengkurap dengan posisi wajah miring ke arah Ino membuat wanita itu leluasa mengamati wajah tidur ala Sasuke Uchiha.

Well, tidak jelek juga kok. Polos seperti anak kecil dan yah...sedikit tampan. SEDIKIT.

Memandangi wajah Sasuke membuat pikiran Ino melayang ke celetukan Mikoto yang katanya akan menikahkan mereka. Dih. Membayangkannya saja sudah membuat Ino bergidik.

"Sudah puas mengagumi ketampananku?"

Ewh.

Ino melirik skeptis manik hitam yang perlahan menyembul dari balik kelopak mata Sasuke.

"Masih siang, bodoh. Jangan bermimpi."

Sasuke tidak menyahut. Hanya perlahan duduk di kasur dengan sebelah tangan mengucek matanya.

How cute.

Ino yakin matanya mulai rabun.

"Makan siang sudah disiapkan, Tuan Muda. Cepat turun atau jatahmu aku makan."

Setelah berkata dengan nada ketus, Ino dengan entengnya keluar kamar. Meninggalkan si Tuan Muda yang masih sibuk mengumpulkan nyawa.

- The Bridal's Bride –

Suasana makan siang di Mansion Uchiha itu berlangsung syahdu tanpa ada pembicaraan berarti –sangat tipikal Uchiha. Dan Ino cukup tahu diri untuk tidak merusak tradisi yang ada. Toh, dia sudah terbiasa dengan kebiasaan Uchiha yang satu ini.

Hanya saja entah kenapa sedari tadi Sasuke sengaja –atau tidak sengaja membuat mood Ino rusak.

Mulai dari adegan sinetron receh seperti saling mengambil piring yang sama lah, menendang-nendang kaki Ino dari bawah meja lah, sampai sok-baik mengambilkan lauk di depan Mikoto dan Fugaku. Membuat manik birunya hampir kram karena harus melotot sedari tadi.

Sasuke mah anteng-anteng saja.

Duh! Jangan sampai si pantat ayam menyebalkan ini benar-benar jadi suaminya kelak, Kami –sama. Ino bisa hipertensi di usia muda.

Dan semua itu tak luput dari pandangan haus romansa khas ibu-ibu milik Mikoto. Hanya saja nyonya itu pura-pura memasang wajah sok kalem saja. Aslinya mah kegirangan bagai fansgirl yang mengetahui bahwa 'kapal' nya telah berlabuh.

- The Bridal's Bride –

"Ino –chan, apa kesibukanmu sekarang ini?"

"Hanya mengurus persiapan pernikahan Temari Sabaku, Bibi. Oiya, hari ini aku tidak melihat Itachi –niisan dan Yugao –nee. Kemana mereka?"

Acara makan siang Keluarga Uchiha telah selesai. Kini dua wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang keluarga, sedangkan para lelaki sibuk entah apa di kamar masing-masing. Ino mempertanyakan kehadiran pasangan pengantin baru Uchiha yang absen pada hari itu.

"Mereka sedang mengunjungi orangtua Yugao di Kiri. Sekalian bulan madu kedua katanya—Umm, kalau untuk bulan depan?"

Tawa ino pecah "Haha mumpung masih pengantin baru, Bibi." Ino melanjutkan sambil mengingat-ingat agenda nya, setahunya masih belum ada proyek penting untuknya bulan depan. " Dan kurasa aku kosong untuk bulan depan bibi. Ada apa?"

"Sebenarnya bulan depan adalah ulang tahun pernikahanku dengan Fuga –kun. Apa kau bisa merancang pesta untuk kami Ino-chan?"

Raut Ino berubah cerah. "Benarkah? Tentu Bibi! Aku akan dengan senang hati membuatkan pesta untuk kalian. Kalau perlu jika kalian ingin mengadakan pesta pernikahan kedua, akan aku siapkan!" Sahut Ino dengan cengiran yang dibalas tawa halus dari bibir Mikoto, menambah kadar kecantikan wanita paruh baya itu.

Percakapan keduanya diinterupsi oleh Sasuke yang menghampiri ruang keluarga, tepatnya menghampiri Ino dan Mikoto. Penampilannya sudah rapi kembali dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana jeansnya.

"Ayo."

Singkat. Padat. Memaksa. Dan tampan. Halah.

Mendengar titah Sasuke kontan membuat Ino bersiap-siap pula. Pasalnya mereka sepakat akan ke K-Empire terlebih dahulu sebelum mengantar Ino pulang. Sebagai imbalan dirinya telah diculik pagi-pagi sekali. Lagipula Ino memang tidak membawa mobil.

"Terlalu dini untuk pulang. Kalian mau kemana?"

"Kami akan ke K-Empire terlebih dahulu, Bibi. Membuat janji untuk reservasi gedung." Tentu saja Ino yang menyahut. Wanita itu beranjak berdiri sambil menjinjing tas tangannya, diikuti Mikoto mereka bertiga berjalan ke depan pintu Mansion. Dengan Sasuke berjalan di depan tentunya.

"Sampaikan salamku untuk Paman. Kami pamit dulu, Bibi." Pamit Ino bercipika-cipiki dengan Mikoto. Lihat saja? Anak sendiri malah nyelonong tanpa berpamitan padanya terlebih dahulu, membuat Mikoto hanya bisa mengelus dada.

"Baiklah. Lain kali datang lagi ya, Ino –chan. Hati-hati di jalan."

Ino berjalan menyusul Sasuke yang sudah sampai duluan di mobil. Dan Maybach Exelero hitam itu mulai meluncur menjauhi pelataran kediaman Uchiha.

- The Bridal's Bride –

Sasuke dan Ino kini sudah berada di area gedung K-Empire. Gedung ini salah satu gedung kenamaan di Konoha karena desainnya yang artistik dan kapasitasnya pun tinggi, membuat K-Empire menjadi salah satu gedung impian bagi para penyewa jasa Ino. Namun Ino sendiri baru pertama kali terjun langsung dalam pembookingan tempat seperti ini, biasanya hanya sebatas salah satu karyawan Bouquette yang memang bertugas dalam penyewaan tempat. Hanya saja karyawan tersebut sedang cuti melahirkan, membuat Ino mau tak mau turun langsung kali ini.

Samar-samar telinga Sasuke mendengar negosiasi Ino dengan perwakilan pemilik K-Empire. Well, baru kali ini pemuda itu melihat langsung kegiatan 'lapangan' Ino. Dari apa yang ditangkap Ino merupakan wanita yang teliti, wanita itu benar-benar memastikan ide yang ada di kepalanya dapat terrealisasikan di sini se detail mungkin.

Namun Ino yang sesekali meliriknya ketika berbincang-bincang dengan sang pemilik mau tak mau membuat Sasuke melemparkan tatapan bertanya pada wanita itu. Dan anehnya Ino malah mengalihkan pandangan sambil mendengus jengkel. Apa salah nian?

Negosiasi pun selesai dengan hasil yang memuaskan bagi Ino. Setelah berpamitan kepada pemilik K-Empire, Ino menarik lengan Sasuke keluar menuju tempat parkir. Selama perjalanan berlangsung tak ada yang berbicara, dan Ino masih saja memasang tampang jutek.

Merasa jengah Sasuke pun memecah keheningan. "Ada apa?"

"Aku sebal." Singkat.

"Kenapa?"

"Pak Tua tadi mengira 'kita' yang akan menikah." Ujar Ino dengan menekankan kata 'kita'.

Sasuke mengernyit. Lalu?

"Kenapa semua orang mengira aku akan menikahimu 'sih Suke?" Sambung Ino. "Padahal kan aku punya kekasih. Tidak sepertimu yang seorang bujang lapuk." Ino mendesah panjang.

Sabar Sasuke, Sabar.

"Lagipula Sai –ku lebih tampan darimu 'kan." Ino masih saja berceloteh membandingkan kekasih vampirnya dengan Sasuke dari segi apapun. Sekarang gantian Sasuke yang jengkel. Ingin rasanya ia menyumpal mulut pedas Ino dengan kaus kaki.

Sasuke hanya bisa mengambil napas banyak-banyak mengadapi kelakuan wanita 'aneh' di sampingnya ini. Iya, aneh. Karena hampir 29 tahun ia hidup hanya Ino lah satu-satunya gadis yang kebal dengan pesona seorang Uchiha Sasuke. Ketika para gadis di luar sana berlomba-lomba mendapatkan perhatiannya, hanya Ino saja yang cuek bebek walaupun berada di satu ruangan dengan Uchiha Sasuke dan ditatap secara intens dalam waktu lebih dari sepuluh detik tanpa mimisan atau menunjukkan reaksi berlebihan lainnya. Bahkan kini mereka sudah hapal aib masing-masing.

Tapi karena keanehannya itulah Ino bisa menyandang predikat sebagai satu-satunya makhluk berbeda kelamin yang dekat dengan Uchiha Sasuke selain ibumu 'kan Suke?

-TBC-

A/N : Iya tau updatenya ngaret, pake banget pula. Tapi apalah daya, draf TBBS Sky ilang jadi kudu mulai dari awal lagi hiks dahal tinggal dikit jadi. I'm like TT.. Just like TT ooh~

Semoga chapter ini cukup memuaskan (?) yaa. Ditunggu RnRnya :'*

Anw, Happy (LATE) Birthday Ino-hime! /bakar petasan/

Thank's for reading,

Skyzofrenia.