Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning! Hard OOC, Typo, Absurd, DLDR, Abal, Receh, Garing, Romens gagal, Bahasa tidak baku, First fic, Nyubi. Maklumin.

Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Terinspirasi dari beberapa sumber.

Pojok ripiu gak login (yang gatau kenapa malah lebih banyak dari yg login TT):

Diffa Hasni : Nih udah lanjut, khususson buat kamu muehehe. Ditunggu loginnya ya :*

Azzura Yamanaka : Belom deh keknya, gatau peletnya Suke ga manjur kali wgwg. Semoga kamu masih suka yaa :*

xoxo : Kalo nunggu Ino berhenti cuek sih keknya kayak lagi donlot kapasitas 4gb di kecepatan 3kbps deh. Luamaaaa wgwgwg /ditampol/ Semoga kamu suka chapter ini yaa :*

YI : uhuhu makasih udah disemangatin :"))) bener yaa~ pokoknya kudu setia nungguin sampe TBBS tamat dan punya anak2 fiksyen lain loh yaa. Wajib wgwgwg. Selamat menikmati~

De-chan : Aakk kok ga login sih? Padahal ena sambil mesra2an di pm loh /ditampol/ muehehe semoga kamu puas(?) sama chap ini ya. Special pake telor bebek buat kamu :*

Guest : Yah namanya udah cinta mah ibaratnya biar tai kucing juga rasa coklat kali ya wgwgwg ntar Sky suruh Ino buat belek nya diilangin, biar bisa liat penampakan gantengnya Suke kek gimana wgwg

Makasih RnRnya, Enjoy ~

THE BRIDAL'S BRIDE

Skyzofrenia

"Tenten, bagaimana?"

"Check, Ino." Sahut Tenten dari seberang saluran Walkie-Talkie

"Oke, tolong minta Tamaki untuk membawakan Lili putih kemari. Aku butuh beberapa di sini."

"Siap bos."

Dan berakhirlah percakapan tersebut. Mereka—kru Bouquette termasuk Ino dan Tenten sedang sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan Aktris Sabaku Temari dengan anggota parlemen Nara Shikamaru yang diadakan dalam hitungan beberapa jam lagi. Semua orang sibuk dengan bagian masing-masing. Bahkan Ino yang notabene adalah 'bos'nya pun juga turut andil menata dekorasi sementara Tenten ia beri tugas meng-handle hidangan untuk para tamu undangan. Jadi demi kepraktisan, beginilah cara mereka saling berkomunikasi. Menggunakan Walkie Talkie yang wajib dimiliki tiap kru dengan saluran yang sudah diatur.

"Ino-san, Lighting sudah siap." Walkie Talkie Ino berbunyi.

Ino yang sedang menata buket buket kecil untuk dekorasi pun segera menyambar benda yang tergeletak di sampingnya itu. "Bagus, Hide. Kau boleh istirahat."

"Hai'."

Sekarang memang sudah menjelang petang jika Ino lihat dari jendela luar K-Empire. Mereka sudah berada di sini dari pagi tadi. Capek? Tentu saja. Tetapi untung saja gaun pengantin sudah selesai kemarin lusa sehingga dirinya bisa fokus menyulap K-Empire sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati.

Ino menghela napas pelan. Stok lili putih yang dibawa pegawainya kemari ternyata kurang, menyebabkan dia harus menunggu Tamaki membawakan pesanannya terlebih dahulu sebelum bisa menyelesaikan buket buket yang rencananya akan disematkan di sekitar pembatas kursi tamu undangan.

Ting!

Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel pintar Ino. Dari Sai, isinya mengingatkan untuk tidak melupakan makan malam. Ahaha kekasihnya memang tahu Ino sedang sangat sibuk hingga terkadang lupa memberi makan cacing-cacing di perutnya. Setelah membalas pesan tersebut, Ino kembali meletakkan ponselnya di atas meja.

Sai, kekasihnya itu akan pulang lusa sehari setelah hari pernikahan Temari. Dan rencananya Ino akan memberi Sai kejutan di hari kepulangannya. Ia sudah memberi tahu Sai terlebih dahulu bahwa dirinya tidak bisa menyisihkan waktunya lusa, karena ada janji dengan keluarga besarnya—yang tentu saja bohong belaka.

Memikirkan akan menghabiskan waktu bersama Sai seharian membuat rasa lelah Ino menguap seketika. Pun ketika Tamaki datang tergopoh-gopoh menyerahkan seikat bunga lili putih sambil menggumamkan maaf karena salah menghitung keperluan tadi pagi, Ino hanya tertawa seolah ia yang terpaksa harus pulang paling terlambat diantara kru yang lain bukan suatu masalah yang berarti.

Dan tangan terampil Ino kembali merangkai bunga bunga cantik itu sambil sesekali bersenandung. Oh jangan lupa dengan senyum yang belum luntur sedari tadi.

- The Bridal's Bride –

Selesai sudah!

Semua kerja keras Yamanaka Ino dan para kru Bouquette terbayar sudah. Meskipun mereka harus datang sebelum sang pengantin wanita bangun di pagi buta dan baru bisa pulang setelah petugas bersih-bersih K-Empire menyelesaikan tugasnya dengan semua persendian yang terasa ingin rontok dari tempatnya serta harus mengalami tegang otot wajah dadakan selama seharian. Semua itu terbayar lunas hanya dengan decakan kagum para tamu undangan dan raut puas keluarga mempelai pengguna jasanya.

Yah meskipun tak bisa di bilang tak ada gangguan juga sih. Salahkan saja bungsu Sabaku yang selalu menempel padanya selama acara berlangsung, beralasan bahwa ia juga ingin memantau acara pernikahan kakak perempuannya dan memastikan bahwa tidak ada kekacauan sedikitpun. Membuat Ino mendengus jengkel, tak sadarkah bahwa si kepala merah itulah kekacauan sebenarnya? Cih. Untung saja Ino bisa profesional, jika tidak sudah ia cium bibir Gaara dengan sol sepatu yang dipakainya hari itu.

Sungguh, kalau boleh jujur proyek ini adalah proyek paling berat yang dilakukan Bouquette tahun ini. Budget yang di keluarkan memang tak tanggung-tanggung, tapi justru karena biaya yang tinggi tersebut tekanan kesempurnaan dan kepuasan penyewa jasanya juga harus tercapai. Ino ingin berteriak bahagia karena beban berat di pundaknya yang menyebabkan dirinya sulit tidur akhir-akhir ini hilang sudah.

Ah, tiba-tiba ia ingin berendam di air hangat beraroma terapi selama mungkin tidak peduli sampai ujung jarinya keriput sekalipun.

- The Bridal's Bride –

Rambut, Check.

Make up, Check.

Kado, Check.

Ino memandang pantulan dari kaca spion mobilnya untuk memastikan sekali lagi tidak ada noda lipstic yang melenceng di luar garis bibirnya, atau goresan maskara yang mengotori wajah. Setelah dirasa rambut pirang dan dandanannya sudah oke, ino beranjak keluar dari mobil kesayangannya sambil membawa bingkisan plastik dari salah satu restoran terkenal menuju unit apartemen sang kekasih.

Yak. Hari ini adalah tepat hari jadinya dengan Sai. Berperan sebagai kekasih yang baik, Ino menyiapkan kejutan kecil untuk mereka berdua. Rencananya Ino akan menyiapkan makan malam romantis di apartemen Sai. Bukan tanpa tujuan Ino melakukan ini, makan siang kejutan dengan suasana romantis diharapkannya dapat memberi inspirasi Sai untuk melamarnya. Yah semoga saja.

Pip pip pip.

Cklek.

Ino kini sudah berada di dalam apartemen Sai. Jangan tanya kenapa Ino bisa masuk dengan mudah ke tempat tinggal kekasihnya ini. Tentu saja karena Ino hapal kode digit apartemen Sai dan bukan sekali ini dirinya berseliweran kemari. Dan kemanakah Sai sekarang ini hingga lampu apartemennya masih gelap gulita? Kekasihnya itu masih ada pemotretan yang baru akan selesai satu jam lagi. Cukup untuk menyiapkan kejutanmu, 'kan Ino?

Ketika Ino selesai menata gelas terakhir di meja makan milik Sai, bunyi kode digit apartemen tib-tiba terdengar. Dan dengan itu Ino buru-buru mematikan saklar lampu ruangan menjadi gelap gulita kemudian bersembunyi di balik lemari pendingin besar di dapur Sai. Menggigit bibir, Ino tidak bisa berhenti menahan senyum sampai kedua rahangnya kram.

"Sai-kun, kepalaku pusing."

Tunggu, suara sayu milik siapa itu? Ino yakin hanya dirinya satu-satunya wanita di sini.

"Tunggu sebentar Samui. Sebentar lagi sampai." Ini suara Sai. Ino yakin itu. Tapi siapa 'Samui'? Ino menahan diri untuk melongkkan kepala, mengintip dari balik bayang bayang lemari pendingin.

"Ngh, Sai-kun. Aku mencintaimu~" What? Ino tidak salah dengar kan?

"Sam—" Kata-kata Sai terpotong membuat Ino tidak sabaran keluar dari tempat persembunyiannya.

Dan seketika dunianya runtuh. Di hadapannya, Ino melihat Sai. Kekasihnya itu sedang berpagut mesra dengan gadis pirang lain berpotongan sepundak yang terlihat seksi di depan pintu kamar lelaki itu. Tak perlu penerangan berlebih untuk Ino bisa melihat lengan Sai melingkar mesra di punggung si Samui-Samui itu. Tak cukup sampai di situ, tangan nakal Samui bergerak melepas kancing teratas kemeja Sai dengan bibir keduanya yang masih saling mencecap. Tak sekali dua kali pula terdengar erangan dari hasil pagutan panas itu.

Masih belum mempercayai matanya, Ino beranjak menuju saklar lampu dengan dua sejoli yang tak terusik dengan kehadirannya. Dan ketika keseluruhan apartemen Sai terang, jantung Ino serasa diremas. Matanya benar-benar tak salah lihat.

Walaupun hanya surai hitam itu yang terlihat dan walaupun keseluruhan wajahnya teredam di lekukan leher sang gadis, Ino benar-benar tak salah mengenali. Itu benar Sai. Kekasihnya.

Ya Tuhan.

Dan karena sekelilingnya berubah terang mendadak, kedua orang itu seketika menghentikan kegiatan saling meraba satu sama lain.

Sai melebarkan matanya. Di hadapannya, terlihat sosok Ino dengan pipi basah total. Mata biru yang sering memandangnya hangat penuh cinta itu kini memandangnya kosong. Mata biru itu mengkilap semakin bening seperti kaca karena banyaknya air mata yang keluar. Tapi Sai tidak mendengar suara isakan sama sekali.

"I-ino"

Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir bengkak nan basah Sai. Lengannya tak lagi merangkul punggung Samui, tetapi jatuh pasrah di kedua sisi tubuh tegangnya. Tak dipedulikannya tubuh Samui yang bersandar di bahunya. Wanita itu terlalu mabuk untuk menyadari suasana tegang di sekitarnya.

Sedangkan Ino beranjak ke arah tas tangannya berada di atas meja makan kering, tepat di samping dua buah piring berisi steak dan dua buah gelas berkaki berisi cairan merah keunguan. Ketika sudah mendapat apa yang ia cari, Ino mengeluarkan bungkusan persegi berwarna coklat gelap kemudian di letakkannya kotak itu di atas meja makan. Semua pergerakannya tak lepas dari mata hitam Sai.

"Selamat hari jadi yang keempat—" Ino memberi jeda sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang semakin lama semakin bergetar. "—dan selamat tinggal."

Sai masih tercengang melihat benda-benda yang ada di atas meja makannya ketika Ino sudah berlalu keluar dari apartemenya. Ia benar-benar lupa tentang hari jadi mereka berdua. Bodohnya.

Dan lebih bodoh lagi, kakinya yang tiba-tiba lumpuh untuk sekedar digerakkan mengejar wanita yang masih jadi kekasihnya setidaknya beberapa saat lalu. Di otaknya hanya terpikir kilasan-kilasan kebersamaan mereka berdua selama empat tahun ini. Dan rasa bersalahnya semakin membengkak hingga terasa menyesakkan.

- The Bridal's Bride –

Seluruh penghuni kantor baik lelaki maupun wanita serempak mencurahkan beberapa detik waktunya untuk menatap heran wanita yang berlalu tanpa menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu. Bagaimana tidak heran? Siapa wanita gila yang datang ke kantor masih menggunakan sandal rumahan dan wajah sembab dengan rambut yang sudah tak tertata rapi.

Dia, Yamanaka Ino—sadar jika sedari tadi dirinya jadi bahan tontonan orang yang dilewatinya. Bahkan selama di dalam lift pun Ino baru sadar penampilannya sehabis dari apartemen Sai berkat pantulan dari dinding lift. Yuck! Benar-benar kacau. Ino tertawa miris dalam hati.

.

Sasuke Uchiha mengumpat pelan dari balik meja kerjanya sambil mengarahkan pandangan ke sosok tidak tahu sopan santun yang memasuki ruangannya tanpa berniat mengetuk dulu. Tetapi ketika netranya menangkap sosok Yamanaka Ino versi menyedihkannya Sasuke dengan cepat beranjak menghampiri wanita itu. Semakin dekat semakin Sasuke terheran menatap Ino dari ujung rambut sampai ujung kepala. Menimbulkan kerutan samar diantara kedua alis tebalnya. Bukannya seharusnya hari ini dia bersenang-senang karena bisa menghabiskan waktu bersama kekasih pucatnya itu? Lalu kenapa Ino ada disini?

"Hai Suke"

Merasa ada yang tidak beres dengan suara serak Ino, Sasuke langsung bertanya. "Ada apa?"

Yang ditanya malah tertawa kosong. "Aku membencinya, Suke."

Dan bertambah dalam lah kerutan di dahi Sasuke.

Tawa tanpa nyawa Ino berhenti. "Aku—" Mengambil napas banyak-banyak karena dadanya terasa sesak, Ino melanjutkan dengan suara yang semakin serak "Aku membencinya...karena aku bukan satu-satunya." Satu tetes air mata mengalir di pipi Ino.

Tak perlu penjelasan panjang lebar untuk Sasuke segera merengkuh tubuh ringkih Ino ke dalam dekapan hangatnya. Perlahan tubuh ringkih Ino bergetar. Isakan yang setengah mati ditahannya sedari melihat sang kekasih bercumbu di depan matanya hingga kini perlahan terdengar. Mulahnya hanya isakan kecil. Tetapi ketika Ino merasakan belaian lembut di rambutnya, isakan ino mengencang kemudian berubah menjadi raungan. Dan Sasuke dapat merasakan tangan Ino mencengkeram kuat jas yang melekat di punggungnya, serta basah yang semakin kentara di kemeja yang ia pakai ketika Ino semakin menyerukkan wajah di dekapan Sasuke.

Jujur, hati Sasuke berdenyut melihat Ino seperti ini sekarang. Ketika ia terbiasa tumbuh dengan mendengar tawa ceria nan konyol Ino di telinganya, suara raungan Ino menjadi sesuatu yang memicu ketenangannya runtuh. Direngkuhnya Ino semakin erat.

"Apa yang harus kulakukan, Ino?" Sasuke bertanya lirih.

Dan telinga Sasuke masih mendengar tangisan pilu Ino yang sungguh sangat asing di telinganya, sekaligus mencubit hatinya.

TBC

A/N: AMPUN! SaiIno-shipper-garis-keras, mohon jangan gorok hamba~ TT TT

Jujur, bikin chapter ini juga bikin Sky ketar-ketir. Pasalnya Sky juga suka SaiIno. Suer ga bo'ong.

Maaf juga kalo feelnya belom 'ngena' di hati. Maklum, remahan rengginang di toples kongguan mah bisa apa :")))))

Chapter ini buat kamu. Iya kamu, yang masih setia mantengin TBBS dengan mental baja walaupun yang ngarang modelnya minta ditampol gini. Makasih masih setia baca :'*

RnR nya ditunggu ya~ Semoga suka~ :"*

Sign,

Remahan rengginang di toples kongguan.