Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning! Hard OOC, Typo, Absurd, DLDR, Abal, Receh, Garing, Romens gagal, bahasa tidak baku, dan beberapa peringatan lainnya Sky lupa sebutin.

Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Terinspirasi dari beberapa sumber.


THE BRIDAL'S BRIDE

Skyzofrenia

.

.

.

Bahu ringkih Ino masih sedikit bergetar walaupun sudah tak ada isakan lagi yang keluar. Ia lelah setelah kurang lebih satu jam menangis sambil bergelung bagai bayi Koala di pangkuan Sasuke.

Iya. Di pangkuan Sasuke. Dengan tangan lelaki itu yang sesekali mengusap punggungnya. Entah sejak kapan posisi mereka seperti ini. Mungkin Ino terlalu asyik menangis hingga tidak menyadari manuver Sasuke sampai mereka berdua berakhir duduk di sofa dengan keadaan saling berpelukan.

"Ha—ah"

Helaan napas hangat yang menabrak pucuk kepalanya membuat perhatian Ino teralih, manik sayunya menengadah menatap Sasuke penuh tanya. Sedang yang ditatap malah asyik menerawang.

"Kau harus bertanggung jawab."

Kerut tipis menghiasi dahi Ino yang tertutup anak rambut yang sudah acak-acakan. Tanpa melempar satupun kata, namun sepertinya Ino tahu bahwa Sasuke belum menyelesaikan kalimatnya.

"Kemeja ku basah." Lanjut Sasuke dengan mata yang melirik bergantian antara Ino dengan sisi kanan kemejanya yang memang basah total dengan tatapan penuh keluhan.

Ino pun mengikuti arah pandang Sasuke, lalu kembali lagi menengadah, melirik kemeja Sasuke lagi, lalu menengadah lagi. Selanjutnya mereka saling berpandangan beberapa detik.

"Baiklah." Suaranya masih parau. Tapi setidaknya masih bisa ditangkap Sasuke dengan jelas.

Sebenarnya ucapan Sasuke tadi cuma bercanda. Toh ia tidak dihamili kan? Buat apa ia minta pertanggung jawaban. Hanya saja Sasuke sudah bingung duluan mencari topik pengalihan agar atmosfer 'aneh' karena keterdiaman Ino bisa hilang.

Tetapi apa yang terjadi selanjutnya membuat Sasuke sungguh merasa menyesal pernah meminta hal random itu pada Ino. Wanita itu malah meninggalkan jejak ingusnya di sana. Iya, di kemeja Sasuke.

Ewh!

.

.

.

"Jadilah pacarku."

Ha?

Belum juga Sasuke selesai mempersiapkan ceramah panjang lebarnya karena merasa telah dinodai Ino, perkataan singkat itu membuatnya menelan amarah kembali ke kerongkongan. Apa-apaan gadis sinting di hadapannya ini? Mengajak pacaran dengan ekspresi dan intonasi seperti sedang mengajaknya ke kantin. Dan lagi, hal-hal seperti 'menembak' itu bukan pekerjaan yang lumrah untuk kaum hawa kan? Harusnya ia sebagai pria yang mengatakannya.

Lagipula—Heh! Ini Ino. Wanita yang bahkan walaupun seluruh populasi kaum hawa tiba-tiba punah, tetap tak akan membuat Sasuke meliriknya.

"Bantu aku buktikan kepada Sai bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa."

"..."

"..."

Terlalu syok, baik keduanya mendadak hening. Setelah mengambil napas banyak-banyak, Sasuke baru bisa berpikir jernih. "Aku menolak."

Jawaban singkat yang terlontar dari bibir tipis Sasuke membuat Ino mengernyitkan dahi. Apa yang salah dengan dirinya?

Apa ia kurang cantik?

Atau kurang seksi?

Oh ayolah, ini Sasuke. Sasuke yang notabene pria yang paling dekat dengan Ino saja ogah menjadikan dia sebagai pacar, apalagi Sai? Pantas saja pria brengsek itu selingkuh darinya. Atau memang dalam kasus mereka, Sai tidak sepenuhnya bersalah.

Mungkin Ino memang tidak se menarik itu untuk dijadikan wanita satu-satunya. Mungkin Ino memang tidak layak untuk dimasukkan kriteria sebagai wanita-yang-ingin-dijadikan-sebagai-pacar oleh para pria, hingga posisinya di hati Sai tergeser bahkan terdepak dan oleh wanita lain yang lebih plus-plus darinya. Pantas saja pria itu tak segera melamarnya, rupanya ia tak pernah menganggap hubungan mereka serius. Memikirkan pemandangan mengerikan yang telah ia saksikan sebelumnya membuat mata Ino kembali basah. Ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya, tidak berani menatap Sasuke. Ino mencoba berpikiran positif terhadap Sai, namun tanpa sadar malah balik berpikiran negatif terhadap dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya Ino merasa kepercayaan dirinya yang sudah setinggi gunung sejak ia dilahirkan mendadak luruh bagai butiran debu di depan Sasuke. Sahabatnya sendiri.

Dan si pantat ayam sialan itu tentu saja tak sadar bahwa kata-kata 'waras'nya telah mempengaruhi Ino sepenuhnya. Jika saja ia tidak segera mendapati Ino menundukkan wajahnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca dan bibir tertarik ke bawah.

"—Kecuali jika kau bisa menjauhkan gadis-gadis yang Kaasan sodorkan padaku."

Ino sudah cukup putus asa untuk membuat dirinya sendiri tidak terlihat 'ngenes' di depan Sai dengan secepatnya mencari pengganti pria pucat itu. Dan perkataan Sasuke sukses membuatnya kembali mendongak, masih dengan pipi lembab dan hidung semerah tomat.

"Apa?"

Melihat tampang bodoh Ino membuat Sasuke tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis.

"Bantu aku menyingkirkan lalat-lalat pilihan Kaasan dan aku akan menjadi pacarmu. Deal?"

"..."

Sekarang gantian Ino-lah yang tidak tahu harus tertawa atau kembali menangis. Hey, bukankah pantat ayam ini ingin memanfaatkannya secara terang-terangan? Kalau begitu, baiklah! Biarlah mereka berdua menjalin hubungan di mata semua orang dan saling mendapat keuntungan untuk diri mereka sendiri.

"Deal!" Ino tertawa serak. Jawaban singkat itu membuat sudut-sudut bibir Sasuke juga perlahan naik.

MAsa bodoh. Ino tak ingin memikirkan apapun lagi selain rencana-rencana yang akan mereka wujudkan di masa depan dengan 'status' baru mereka. Seperti apa yang telah mereka sepakati sebelumnya—Ino membantu Sasuke menjauhkan wanita-wanita cantik pilihan Mikoto yang dengan sinting ia sebut 'lalat', dan lelaki itu membantunya 'membalas' Sai. Ino sadar, setelah puas menghabiskan stok air matanya barulah ia bisa berpikir jernih. Hidup tak akan berakhir hanya dengan kehilangan satu pria. Dan pria itu sungguh bodoh jika ia menganggap bahwa Yamanaka Ino sama dengan perempuan lain. Cih! Ia benar-benar menantikan saat dimana Sai akan menyesali perbuatan dengan berlutut minta maaf di hadapannya. Kalau perlu di hadapan orang banyak.

.

.

.

Tentu tanpa Sasuke sebutkan, Ino juga tahu bahwa mereka tidak boleh terbawa perasaan jika tidak ingin ini semua berakhir buruk. Hei itu hal mudah! Toh partnernya bukan orang asing, melainkan Sasuke.

Sebaliknya, Ino benar-benar yakin bahwa di antara jutaan populasi pria di muka bumi pasti akan ada seseorang yang ditakdirkan untuknya. Dan Ino bertekad akan menemukan pria itu bahkan walau ia harus mencari ke sudut sudut terpencil Konoha atau dunia sekalipun! Secuil Shimura Sai yang tidak berharga tidak akan pernah menghalanginya. Ha!

Ino merasa moodnya sudah kembali normal, bahkan kepercayaan dirinya kini sudah kembali tegak bagai gunung. Bukannya beranjak dari pangkuan, dengan penuh senyuman ia malah semakin merangsek ke dada bidang Sasuke. Kedua tangannya asyik melingkar sepanjang pinggang pria itu dan separuh wajah bahkan batang hidung Ino sudah tenggelam di ceruk lehernya. Tanpa persetujuan apa-apa, seiring napasnya makin teratur dan ia jatuh lelap.

Sasuke kesal? Tentu saja! Grrhh—Tidakkah Ino sadar bahwa lengannya sudah pegal sedari tadi menopang bayi Koala cengeng di pangkuannya ini agar tidak terjatuh? Ingin rasanya ia mengunyah wajah bengkak wanita tak peka ini. Hah~ Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas dengan sangaaaat pelan, takut jika pergerakannya membangunkan sang bayi Koala dari tidurnya. Dengan sangaaaat terpaksa pula ia semakin mengeratkan pelukan mereka, menjaga agar wanita ini tidak jatuh terjerembab ke lantai kantornya yang dingin nan keras—kemudian menyandarkan sisi wajahnya pada pucuk kepala Ino dan ikut memejamkan mata.

.

.

Emm, haruskah ku katakan pada mereka bahwa...kau juga tersenyum Sasuke?

.

.

.

-TBC-


A/N: Bisa ajalu Sas! Wkwk Segini aja dulu ya:')))

Sky harus baca lg dari awal krn MASA IYA ADA ORANG BIKIN CERITA TAPI LUPA SAMA JALAN CERITANYA SENDIRI LOL /tapuq/

Kadang suka pgn nangis gitu kalo baca2 ripiu (Rasanya deg-degan macem anak SMA mau nembak gebetan modelan Mas Cuke) Takut ada yg gasuka sm ide ceritanya gicuu. Maafin yak kalo gak sempet bales ripiu satu-satu HEHEHEHE

Yah walaupun segini mungkin cuma nyelilit di sela-sela gigi tp semoga kalian suka yaa. Dan Yap! Cerita sebenarnya baru akan dimulai wkwkwk selamat menebak-nebak! Jangan lupa lemparkan kritik dan saran ya~

Bagi yang masih setia membaca fiksyen ini walaupun ceritanya terombang-ambing, terimakasih ea. Sini Sky cium satu-satu :"*

Bagi yang baru mampir kemari, Sky ucapkan selamat datang HEHEHEHE (2)

Sampai jumpa lagi~

Skyzofrenia.