Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning! Hard OOC, Typo, Absurd, DLDR, Abal, Receh, Garing, Romens gagal, Bahasa tidak baku, dan beberapa peringatan yang Sky lupa sebutin.

Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Terinspirasi dari beberapa sumber.


.

.

.

I'm telling you

I softly whisper

Tonight, You're my angel

Ino mengernyit merasakan ponselnya berbunyi. Kami—sama, ia baru bisa tidur dini hari tadi karena kesakitan akibat nyeri datang bulan! Bajingan sialan mana yang punya seribu nyali untuk merusak tidur cantik Ino yang berharga?

Eh? Apakah Sai?

Emm... apakah pria itu mendadak amnesia atas kelakuan bejatnya tempo hari, kemudian dengan santainya menelpon Ino pagi-pagi seperti kebiasaannya?

Tapi... kenapa nada deringnya berbeda?

Butuh waktu hampir lima detik untuk mengembalikan ingatan Ino bahwa jari jempolnya sudah benar-benar telah memasukkan nomor Sai dalam daftar blokir dari kontaknya—dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Lantas siapa pelaku dibalik bunyi nada dering itu? Ino terus berpikir hingga tak menyadari bahwa ponselnya sudah senyap, tanda si penelpon telah mengakhiri panggilan.

Namun belum sempat Ino berkedip, ponselnya sudah kembali berdering. Takut jika memang ada sesuatu yang penting, tangan putih Ino pun menyambar benda pipih itu kemudian langsung mendekatkannya ke telinga setelah menggeser tombol hijau. Tentu saja dengan posisi tubuh tenggelam di dalam selimut dan hanya pucuk pirangnya saja yang terlihat sedikit menyembul.

'Hei bodoh. Bangun.'

"..."

'...'

"..."

'...'

"UCHIHA SASUKEEE!"

Dan seluruh penghuni kediaman Yamanaka pun bangun seketika.


THE BRIDAL'S BRIDE

Skyzofrenia

.

.

.

"Sialan kau Suke. Sudah bosan hidup ya?!"

'Santai saja. Ingin merobek gendang telinga ku ya?'

"Aku akan merobek isi kepala mu!"

'Ck wanita yang sedang datang bulan memang mengerikan.'

"Si—"

'Cepat siap-siap. Limabelas menit lagi kujemput. Kita punya mangsa baru.' Klik.

Tidak menunggu Ino menjawab, si penelpon yang ternyata adalah Uchiha Sasuke sang bujang lapuk paling tampan itu pun telah menutup panggilan secara sepihak. Membuat Ino sudah misuh-misuh di pagi hari. Idiot sialan itu.

Kesal, Ino sengaja berlama-lama berendam di kamar mandi. Belum lagi mencuci rambut indahnya yang panjaaang sampai-sampai sengaja ia ulangi dua atau tiga kali, entah sudah berapa puluh menit ia berada di dalam sana. Ketika pintu kamar mandi terbuka, seluruh ruangan bernuansa ungu itu pun semerbak beraroma lavender kemanapun Ino melangkah.

Ketika pantat Ino sudah duduk manis di jok mobil samping pengemudi, mata jernihnya sudah bisa melihat ekspresi kecut Sasuke. Ha! Rasakan itu. Siapa suruh membangunkan harimau tidur.

Sasuke—dengan wajah yang benar-benar kusut nan cemberut dan pandangan mematikan—mengulurkan tangan ke jok penumpang dan meraih sekantong plastik kemudian menaruhnya asal ke pangkuan Ino, kemudian dengan cuek mulai menjalankan kemudi. Ketika si pirang melongok ke isi kantong, sontak wajahnya bertambah cerah seratus kali lipat.

Coklat rendah lemak! Es krim! Almond kering!

Ahh~ Ino sudah akan menciumi wajah kaku lelaki di sampingnya jika tidak sadar bahwa ia sedang mengemudi. Peka sekali siiih~ jadi gemas hihihi. Sayang sekali tak laku-laku.

.

.

.

"Halo Suke, kau dimana?"

'...'

"Oh—aku bisa melihatmu." Ino mendekat ke sebuah meja yang hanya diisi seorang wanita berambut merah dan seorang pria berambut gelap, lebih tepatnya mendekat ke si pria. Ketika pria berambut gelap yang tak lain adalah Sasuke itu 'melihat' Ino, ia segera berdiri dari duduknya dan menjemput Ino ke dalam pelukan.

"Lama menunggu?" Sialan, sejak kapan suara Ino bisa selembut ini? Membuat Sasuke merinding kalau boleh jujur.

"Tidak juga. Duduklah, kau pasti lelah." Ujar Sasuke tak kalah ewh—lembut—ewh, sambil membimbing Ino duduk tepat di kursi sebelahnya.

"Mau kupesankan Limun dingin?" Ino hanya mengangguk kalem sambil memasang senyum manis.

Ketika Sasuke selesai berbicara dengan pelayan, ia pura-pura tidak menyadari tampang kaku-kaku-tersakiti wanita di hadapannya dan malah menoleh ke tampang palsu Ino. "Oh Ino perkenalkan, Karin. Karin, ini Ino" Ujarnya masih kalem.

"Yamanaka Ino, pacar Sasuke—kun. Senang bertemu denganmu Karin—san" Ino yang juga berpura-pura tidak menangkap perubahan ekspresi wanita berkacamata di hadapannya berujar kalem, mengulurkan tangan tentu dengan senyum bisnis yang semakin merekah. Ia tidak berbohong, toh dirinya dan Sasuke saat ini memang sedang berpacaran kok. Batinnya tertawa jahat.

Bukannya menjawab sapaan Ino, wanita yang bernama Karin itu malah mengadap Sasuke. "Apa-apaan ini Sasuke—san? Dia siapa?"

"Yamanaka Ino, pacarku." Jawab Sasuke teramat enteng.

Sedang ekspresi Karin kian memburuk, ia menggebrak meja seraya berdiri—membuat seisi restoran bahkan si pelayan malang pun kaget hingga tak sengaja membasahi seragamnya dengan Limun dingin pesanan Sasuke—kemudian menyambar tas tangan yang ada di sampingnya dengan kasar, berbalik dan melangkah barbar ke arah pintu restoran.

Tanpa membalas jabat tangan Ino.

"Sudah kubilang, wanita itu merepotkan." Sasuke menghela napas melas dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Aku tidak." Jawab Ino kalem juga dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Sasuke? tentu saja otomatis meliriknya sebal.

.

.

.

"APA LAGI KALI INI SASUKE?"

Teriakan Mikoto menggelegar, bahkan sebelum Sasuke dan Ino menjejakkan kaki di pelataran mansion Uchiha. Dan berlanjut ketika dua kepala masing-masing berambut gelap dengan kilau biru dan pirang panjang menyembul di ruang tamu kediaman.

"Apa kau memanfaatkan Ino-chan ku lagi?!" Mikoto menghampiri mereka sembari mengangkat tangan kanannya.

Sasuke sepertinya sudah tahu seperti apa nasib daun telinga nya sebentar lagi, maka ia segera berlindung di belakang punggung Ino. "Kaasan belum lihat beritanya ya?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan, dasar anak nakal! Berita apa lagi hah?!" Mikoto sudah dibutakan oleh amarah tanpa sungkan menerjang ke sosok di belakang Ino. Kemudian terjadilah aksi kucing-kucingan dengan tubuh Ino yang ditarik ke kanan-kiri sampai kepalanya pusing.

"Ayolah Kaasan, aku tidak berbohong! Lihat saja kiriman terbaru akun gosip di sosial media jika tidak percaya."—Tolong jangan menilai Sasuke negatif dahulu karena tahu hal-hal semacam itu. Berterimakasih kepada gadis pirang di depannya dan tak lupa sang mama tercinta yang telah meracuninya dengan konten-konten tak berfaedah itu.

Kata-kata Sasuke membuat Mikoto jadi penasaran, ibu dua anak itu langsung menyambar ponsel pintarnya sendiri. Selagi sang ibu sedang sibuk dengan pencariannya, Sasuke dan Ino diam-diam melarikan diri ke dapur melewati Fugaku dan Itachi yang tengah mengobrol entah apa di ruang makan.

"KAMI-SAMA!" Seruan Mikoto kembali membahana. Fugaku mengernyit, sejak kapan istrinya jadi hobi berteriak?

Mikoto pun segera menyusul ke ruang makan dengan pantulan mata yang berkaca-kaca. Tak ada angin tak ada hujan, Ia bergegas memeluk Ino sambil berujar, "Ino-chan." Dengan nada sedikit prihatin.

Mungkin karena terbawa perasaan mood Ino jadi sedikit cengeng, ia berniat membalas pelukan wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu kemudian menangis mengadu seperti anak kecil penuh keluhan. Namun belum sampai tangan Ino membalas pelukan Mikoto, sang ibu negara kedua itu berujar, "Akhirnya kalian putus juga!" Dengan nada yang begitu lega membuat tangan Ino membatu—bahkan Fugaku dan Itachi pun ikut terdiam. Suasana termehek-mehek beberapa saat lalu mendadak buyar sudah.

Kemudian Mikoto melepaskan pelukan mereka secara sepihak lantas berganti memeluk Sasuke. "Kerja bagus Suke!" Ucap Mikoto bangga sambil menepuk punggung Sasuke. Fugaku dan Itachi yang mendengarnya hanya bisa terbatuk kering, berakting pura-pura tidak mendengar sesuatu kemudian melanjutkan diskusi mereka yang tertunda seolah tidak ada apapun yang terjadi.

Jangan tanya Ino. Suasana hatinya mendadak anjlok karena awalnya ia kira Mikoto berkaca-kaca memeluknya untuk memberi kata-kata mutiara pasca putusnya dengan Sai, bukannya malah berkaca-kaca karena menangis bahagia seperti ini. Kami-sama~ Batin Ino ngenes.

Malamnya, atmosfer di ruang makan kediaman Uchiha malam itu entah kenapa tampak sumringah tidak seperti biasanya—terimakasih kepada aura yang disebarkan Mikoto. Sedangkan di sisi Ino malah terasa sedikit suram seperti ada awan mendung tepat di atas kepalanya entah berisi badai hujan atau petir. Iseng ia menoleh ke arah para pria Uchiha, Fugaku dan Itachi masih saja kalem seperti biasa. Ketika tiba ia melirik Sasuke, si empunya malah asyik mengunyah makanan. Merasa ada yang mengawasi Sasuke balas melirik Ino. Masih dengan kegiatan mengunyah Sasuke kemudian mengedipkan sebelah matanya—dengan ekspresi provokatif tentu saja. Ino melotot.

Jika saja saat ini tidak sedang makan bersama dan hanya ada mereka berdua, sudah bisa dipastikan Ino akan naik ke atas meja untuk memuaskan rasa gatal di telapak tangannya dengan menampar pipi mulus Sasuke.

Sampai ketika mereka berdua pamit pulang—Sasuke pulang ke apartemen tentu saja—Mikoto masih saja menebar aura bahagia. Ketika mobil Sasuke meninggalkan pelataran Uchiha barulah ibu dua anak itu kemudian menyambar ponselnya secepat kilat, mengutak-atiknya sebentar kemudian menempelkan di telinga. Rupanya ia sedang menelpon seseorang. Ketika telepon sudah tersambung, Mikoto otomatis memekik bahagia. "Sara!"

.

.

.

"Aku pulang."

"Oh Ino, kebetulan ada yang ingin Ibu tanyakan." Ibunya, Yamanaka Sara sudah menanti di ruang tamu datang mendekatinya.

Ino melemparkan pandangan bertanya, menunggu sang ibu melanjutkan kalimatnya.

"Kau dan Sasuke pacaran ya?" Sara memang sudah tahu perihal putusnya ia dengan Sai berikut cerita dibaliknya, namun ia sama sekali tidak tahu jika Ino sudah berpacaran dengan Sasuke. Jadi ketika Mikoto menelponnya beberapa menit lalu ia sempat kaget.

Ino hanya menaikkan alis dan mengangguk santai sebagai tanggapan. Tumben-tumbenan ibunya kepo hanya untuk masalah remeh begini. Ayolah ia hanya memacari Sasuke, bukannya seorang raja minyak dari daratan Timur Tengah atau bahkan Crazy Rich Asian. Sepele, ok.

"Lalu, kapan kalian akan menikah?"

What the— Ino terkejut bukan main.

Hello~ Belum juga berpacaran genap seminggu, sudah disodorkan pertanyaan keramat ini. Lagipula, ia dan Sasuke berpacaran hanya untuk kepentingan masing-masing dan bukan karena saling suka! Mau dijawab apa?

'Oh Ibuku sayang, aku dan Sasuke berpacaran hanya sekedar settingan'

Bah. Tentu saja kalimat itu terucap hanya dalam batin Ino. Jika mulutnya berani menyuarakan, sudah pasti ia akan jadi Rapunzel si tahanan rumah selama lebih dari tiga bulan.

Jadi demi keamanan bersama, Ino hanya berlalu santai ke kamarnya di lantai atas tanpa ada niat menjawab pertanyaan berbobot sang ibu. Tidak perduli se antusias apapun Sara mengejarnya bak reporter haus berita, sampai sosoknya tenggelam ditelan pintu kamar pun Ino masih saja bungkam.

Benar, demi keamanan bersama.

.

.

.

Waktu cepat berlalu, tanpa terasa terasa sudah satu bulan pacaran settingan ini mereka lakukan. Dan itu juga berarti sudah hampir seminggu Sasuke ada di Kiri untuk urusan pekerjaan, meninggalkan dirinya sendiri di Konoha. Yah meskipun setiap hari pria itu akan selalu menelponnya setiap pagi untuk jadi alarm baru menggantikan Sai—kemudian mereka hanya berkirim pesan tidak lebih dari tiga kali selama sehari.

Maklumlah, keduanya sedang sama-sama super sibuk. Sasuke dengan proyek pembukaan pusat perbelanjaan baru di Kiri, dan Ino dengan kegiatan peragaan busana koleksi terbarunya yang akan diadakan lusa. Tak bisa dipungkiri, Ino sedikit merindukan pria menyebalkan itu disampingnya. SEDIKIT. Dan catat itu dengan huruf kapital.

Tapi dengan adanya peragaan busana ini agaknya mengurangi pikiran Ino yang sedikit absud. Kalau ditanya apakah Ino sesibuk itu? Tentu saja ia sangat sangaaat sibuk. Peragaan busana adalah agenda penting untuk karirnya. Dan ia benar-benar tak ingin ada kesalahan dalam acara, jadi ia mengorbankan dirinya sendiri baik itu waktu maupun tenaga.

Seperti sekarang contohnya. Saat ini ia sedang sibuk mengatur para model yang akan memamerkan hasil karyanya. Ia tenggelam dalam diskusi dengan para kru akan gaun apa dan riasan dengan konsep seperti apa yang sekiranya akan disematkan pada masing-masing dari total belasan peragawati cantik di ruang rapat siang itu. Ketika ia selesai mendengarkan pendapat dari salah satu kru, ponselnya berdering tanda pesan masuk.

Dari: Sasuke

Jangan lupa makan.

Singkat. Tapi seketika membuat ino melihat jam di ujung layar ponselnya—hampir pukul dua siang. Dan karena itulah ia menunda rapat sebentar, memberi waktu untuk para kru, asisten, beserta model untuk makan siang.

Untung saja ada Sasuke yang walaupun sama sibuknya, tetap tak lupa mengingatkan ia untuk mengisi perut setiap hari. Jika tidak mungkin ia benar-benar akan melupakan kegiatan penting itu.

.

.

.

Malam ini adalah malam peragaan busana berlangsung. Aula gedung yang disulap dengan keseluruhan warna putih seperti suasana altar pernikahan pun tampak sudah penuh dengan para undangan dan awak media. Acara yang selalu diadakan setiap enam bulan sekali itu selalu saja disambut dengan antusias, bahkan ada salah satu stasiun televisi yang berniat menayangkannya secara langsung karena banyak para undangan yang berasal dari para petinggi dunia mode. Sepopuler itu lah reputasi seorang Yamanaka Ino.

Jika persiapan acara saja sudah cukup menguras tenaga, belum lagi hari-H nya. Andaikan para reporter turut meliput backstage maka bisa dipastikan seluruh dunia akan tahu betapa repot dan cerewetnya Yamanaka Ino sekarang dibalik panggung yang cantik malam itu. Mulai dari mondar mandir antara ruang ganti, ruang kontrol dan belakang panggung, hingga walkie talkie-nya yang tak pernah diam.

Ia sibuk sedari pagi bahkan sampai lupa pukul berapa tepatnya ia terakhir makan hari ini. Bukan karena ia malas untuk makan atau malah sedang berdiet, namun karena ia benar-benar lupa dan tidak ada waktu berhenti barang sejenak untuk mengisi perut. Ia hanya menggenggam satu kantong kecil permen kemanapun ia pergi untuk setidaknya menjaga agar kadar gula darahnya tidak turun dan berakhir pingsan. Seluruh proses jalannya acara pun selalu ia pantau melalui walkie-talkie walaupun saat ini ia sedang berada di ruang ganti, karena sebentar lagi waktunya penutupan acara dan ia diharuskan tampil di panggung.

Nah, sudah saatnya ia keluar. Setelah memperbaiki ekspresi wajahnya yang sedari tadi kaku dengan mencoba tersenyum beberapa kali, ia berjalan perlahan keluar dari balik panggung di dampingi salah satu model yang memegang tangannya sepanjang catwalk. Ia menggunakan gaun kuning pucat panjang dan riasan sederhana, dikelilingi para model yang seluruhnya bergaun layaknya seorang pengantin tidak membuatnya terlihat layu. Namun malah terkesan anggun dan apa adanya dengan segala kecantikan yang ia punya.

Dari atas sini Ino bisa melihat puluhan lampu blits dan tepuk tangan riuh untuknya. Ketika ia sedang asyik tersenyum sambil mengedarkan pandangan, matanya menangkap suatu warna mencolok diantara para undangan yang hadir—kepala merah jambu. Ino mengernyit, seingatnya ia tidak pernah mengundang Haruno Sakura ke acaranya. Mengapa ia bisa ada disini? Apakah ia salah satu kenalan?

Ah tidak penting. Ia sedang sibuk melebarkan senyum bisnis andalannya sambil menerima beberapa karangan bunga cantik dari keluarga, rekan, dan perwakilan kru serta model. Tidak sempat hanya untuk memikirkan salah satu mantan Sasuke yang telah menghilang sejak lama dan mendadak kembali muncul di acaranya. Dan saat itulah matanya menangkap sosok tegap seorang pria—dengan setelan baju kerja dan buket bunga tulip kuning besar di tangannya diantara sisa-sisa sorot lampu kamera, berjalan mendekat.

Ino membeku selama beberapa detik. Sontak menyerahkan karangan bunga yang dari tadi ia peluk bahkan tanpa menengok kepada salah satu model cantik di sampingnya, kemudian bergegas ke arah lelaki yang sekarang sudah berhasil naik ke atas panggung.

Melihat Ino yang menuju ke arahnya, sang pria merentangkan lembut kedua tangannya dan Ino pun sukses mendarat ke pelukan pria itu.

"Merindukanku?" Ia terkekeh.

Ino diam tidak merespon. Hanya tangannya yang semakin erat mengalung di leher dan bahu pria itu.

Tak perduli lampu blits kamera yang kian kejam menyorot mereka, tak perduli seluruh penikmat televisi menyaksikan, yang ia tahu hanya ia begitu merindukan pria yang memeluknya saat ini. Satu minggu tidak bertemu ternyata cukup untuk membuat Ino menyadari bahwa ia terlalu terbiasa dengan sosok ini disampingnya, dan tidak bisa terlalu lama menjauh darinya se-menyebalkan apapun dia.

Ino sedikit melonggarkan pelukan untuk mendongak menatap langsung wajah maskulin itu. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk memasang raut wajah marah. Namun mata birunya agak sedikit berkaca-kaca mengkhianati, semakin berkilau indah karena pantulan lampu-lampu kejam yang sedari tadi menyoroti mereka. Menyebabkan visual itu bukannya terlihat kejam malah tampak sedikit imut.

"Kau terlambat, Suke."

Dan Uchiha Sasuke pun semakin melebarkan seringainya.

.

.

.

TBC


A/N : Kalo masih ada yg bilang ini kurang panjang, mending ke rumah Sky sini. Bantuin Sky ngetik HEHE /tapuq/

Aduh Sky udah gangerti lagi mau ngomong apa.

Intinya semoga suka yaa :*

Kasih pendapat, kritik, dan saran di kolom ripiu eaa. Mau buat Sky, buat Mba Ino, Mas Sasuke, ataupun buat ngajak kenalan Mba2 pelayan restorannya juga boleh HEHE (2)

Terimakasih masih sudi membaca bahkan sampai A/N nya yg tdk berfaedah pun juga dibaca HEHE (3)

Akhir kata, sampai jumpa di chapter depan!

Skyzofrenia.