Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning! Hard OOC, Typo, Absurd, DLDR, Abal, Receh, Garing, Romens gagal, Bahasa tidak baku, dan beberapa peringatan yang Sky lupa sebutin.
Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Terinspirasi dari beberapa sumber.
Sebelumnya
Ino sedikit melonggarkan pelukan untuk mendongak menatap langsung wajah maskulin itu. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk memasang raut wajah marah. Namun mata birunya agak berkaca-kaca mengkhianati, semakin berkilau indah karena pantulan lampu-lampu kejam yang sedari lebih dulu mengerti mereka. Menyebabkan visual yang terlihat kejam malah tampak sedikit imut.
"Kau terlambat, Suke."
Dan Uchiha Sasuke pun semakin melebarkan seringainya.
THE BRIDAL'S BRIDE
Skyzofrenia
.
.
.
Drrt drrt
Getar ponsel membuat Ino beralih fokus dari menu makan siang favoritnya, Yakiniku. Aish. Ia baru bisa menyantap sesuatu yang 'layak' disebut makanan setelah berhari-hari usus dan lambungnya hanya terisi makanan cepat saji, kopi, dan gula-gula sampai lidahnya mati rasa. Namun panggilan telepon dari entah siapa itu malah mengganggu waktu berharganya saat ini. Ino kesal, dan ia sama sekali tidak ada niatan untuk mengangkat panggilan. Karena si penelepon menggunakan nomor pribadi, yang berarti Ino tidak mengenal orang itu.
Hmm, atau bisa jadi salah satu dari ladang uang alias klien baru yang menghubunginya. Namun biasanya sang asisten akan mengkonfirmasi padanya terlebih dulu, tetapi sampai sekarang Tenten masih anteng dan tidak menghubunginya. Apa ia sesibuk itu hingga tak sempat memberi kabar? Yah maklum, lumayan banyak hal-hal remeh yang harus dibereskan pasca pagelaran busana minggu lalu yang terbilang cukup sukses. Sudahlah, angkat saja dulu. Ladang uang, aku dataang~
"Moshi-moshi"
'... Ino—'
Klik.
Panggilan diputuskan sepihak oleh Ino, secepat bahkan matanya belum sempat berkedip.
Karena Ino sudah tahu siapa yang menghubunginya. Ia sudah terlalu hapal dengan suara itu hanya dari sekali dengar, bahkan jika gendang telinganya rusak pun ia masih akan tetap mengenali pemilik suara itu. Ino speechless. Sambil berusaha memulihkan diri, ia memutar nomor yang otomatis sudah ia hapal melampaui kepala.
'Hn.' Ah cuek sekali.
"..."
'...'
"..."
'... Kututup'
"SAI!"
'...?'
"Sai. Dia ... menghubungiku." Aish kenapa suaranya terdengar gemetar begini sih? Menjijikan!
'...' Tidak terdengar sahutan dari ujung telepon.
"Suke? Masih hidup?"
' Tuut tuut tuut '
Namun sayang, belum sempat Ino meluapkan curhatannya, si Uchiha Sasuke sudah menutup telepon sepihak. Dasar bocah emo sialan!
.
- The Bridal's Bride -
.
Sore itu sunyi di salah satu ruangan luas milik Uchiha Building, hanya terdengar suara berisik kertas yang dibolak-balik, dan kadang disertai suara jari jemari memukul keyboard. Uchiha Sasuke—satu-satunya penghuni ruangan itu rupanya sedang sibuk melakukan hal-hal yang biasanya seorang pemimpin perusahaan besar lakukan—berpose sok tampan sambil sesekali mencoret sesuatu di kertas atau sok serius mengetikkan sesuatu sambil duduk nyaman dibalik meja hitam elegannya. Lengan kemejanya sudah digulung sampai siku dengan wajah kaku yang bisa membuat seluruh karyawati menderita anemia karena mimisan mendadak. Sayang sekali hanya ia sendirian di ruangan dan tak ada yang menikmati berkah visual tersebut—Atau tidak?
BRAK.
"Suke! Beraninya kau menutup telepon di saat-saat penting dalam hidupku. Bosan hidup ya?" Yamanaka Ino—gadis perawakan semampai bak model kaukasian dimana senyum anggunnya sering menghiasi sampul majalah mode, kini sedang berteriak bagaikan berada di tengah hutan belantara sambil mengambil langkah besar-besar menuju meja si tampan Uchiha.
Sasuke hampir saja ingin melempar Macbooknya ke kepala pirang itu karena kaget sekaligus marah jika tidak ingat harga mahalnya yang mencekik. Menatap garang mata biru itu yang malah dibalas pandangan mematikan penuh keluhan oleh wanita yang saat ini sudah berdiri tepat dihadapannya, keduanya tampaknya tidak mau mengalah berharap bisa mengiris arteri lawan lewat tatapan. Kemudian manik hitam pekat dan biru jernih itu pun beradu dalam kontes menatap. Setidaknya selama sepuluh menit kedepan.
Ha—ah. Mengalah saja, batin Sasuke kalem memaklumi tabiat sahabatnya. "Apa maumu?"
Sadar pria di depannya sudah menyerah kalah membuat hati Ino yang sudah terbang kesenangan karena berhasil membuat sang mantan di tahap awal penyesalan menjadi semakin melayang. Sudut bibir ranumnya terangkat menjadi senyum nakal. Namun bukannya segera menyahuti, Ino malah duduk nyaman di kursi tepat dihadapan Sasuke yang membuat si empunya ruangan hanya bisa memejamkan mata mengais sisa kesabaran yang telah berhamburan.
"Akhir pekan ini temani aku."
"Tid—"
"Bibi sudah mengijinkan."
Oh, oke. Nyonya Besar sudah bersekongkol dengan gadis sinting ini rupanya. Sasuke merasa dikhianati.
Merasa sudah tak bisa menemukan sanggahan, akhirnya Sasuke dengan terpaksa mengangguk tanpa kata-kata. Ch! Secepat itu kau menyerah Sasuke? Kemana perginya harga diri Uchiha yang tegak kokoh peninggalan nenek moyangmu itu? Dasar lemah.
Ah sudahlah. Ia ingin cepat pulang.—Mood bekerjanya sudah luntur karena kedatangan boneka pirang berisik ini. Toh dia boss, satu-satunya yang bisa bebas keluar masuk perusahaan tanpa terikat peraturan—itu yang dilakukan CEO lain, ia hanya mencontoh. Jadilah ia berdiri menyambar jas, ponsel, dan kunci mobil kemudian berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke belakang. Karena ia tahu, tak perlu dikomando Ino tetap akan mengikutinya seperti anak ayam kemanapun secara otomatis.
"Aku ingin makan Yakiniku!" Celetuk Ino riang sambil melompat kecil mengikuti Sasuke.
'Ya, yaa. Terserahmu. Makan saja sampai perutmu meledak' Sahut Sasuke jengkel dalam hati.
.
- The Bridal's Bride -
.
Akhir pekan pun tiba secepat kilat. Seperti yang sudah disepakati—dengan pemaksaan tentu saja, saat ini Sasuke sudah menunggu didalam mobil yang diparkir tidak jauh dari kediaman Yamanaka untuk menjemput sang Rapunzel kabur dari menaranya. Salah. Untuk menjemput Ino Yamanaka yang sepertinya suka menjadikan Sasuke supir pribadi, mengantar kemanapun ia inginkan.
Sasuke yang sedang iseng memeriksa notifikasi ponsel merasa kursi sampingnya melesak karena beban pun menengok. Dan Yamanaka Ino dalam balutan kemeja santai dipadu boyfriend jeans nampak cantik dan segar tersaji di hadapannya. Tangan kiri memegang sebungkus almond kering kesukaannya ia sodorkan kearah Sasuke, yang tentu saja Sasuke terima dengan senang hati. Asalkan bukan sesuatu yang manis, selera mereka hampir sama. Ia melemparkan pandangan bertanya.
"Sai yang mengirimkannya." Ino berkata santai sambil tersenyum riang. Namun sukses membuat Sasuke bete. Lihat siapa yang sebulan lalu datang menangis keras karena diselingkuhi sampai-sampai beredar rumor di antara karyawan perusahan bahwa mereka berdua putus—Sasuke dan Ino, dan dia—Sasuke lah yang mencampakkannya. Seharusnya Sasuke abadikan wajah jelek Ino saat itu, agar disaat-saat seperti sekarang dimana kepercayaan diri gadis itu terbang terlalu tinggi bisa kembali memijak bumi. Lupakan, biar saja dia tersenyum selebar mungkin sampai otot wajahnya mati rasa. Biarkan saja. Anggap ia sedang memberi tumpangan kepada badut ulang tahun.
Dan begitulah Uchiha Sasuke menguatkan diri menjalankan Maybach Exelero hitam menjauhi komplek kediaman Yamanaka.
.
.
.
"Suke—"
"Tidak."
"Sukeeee~"
"Sekali tidak tetap tidak Yamakana Ino." Sasuke menatap sengit mata biru besar yang sedikit berkaca-kaca.
"Ayolaaah~ Kumohon, janji hanya sekali. Hm?" Ino masih tidak menyerah.
Sasuke kesal. Ia sadar Ino mengetahui ketidaksukaannya akan ketinggian. Tapi gadis busuk ini malah dengan keras kepala mengajaknya naik wahana Tornado. Ya, saat ini mereka berdua sedang berada di taman hiburan yang ramai dikunjungi pasangan atau keluarga terlebih ketika akhir pekan seperti sekarang—entah apa tujuan Ino mengajaknya kesini. Dan untukmu yang belum tahu apa itu Tornado, sudah terlihat dari namanya—sebuah wahana dimana penumpang akan diputar-putar seperti sedang memanggang barbekyu di atas ketinggian dan tidak akan berhenti sampai seluruh isi perutmu menyatu secara sukarela. Hanya orang-orang masokis yang suka disiksa seperti itu, dan Uchiha Sasuke bukan salah satunya. Jadi tentu saja ia menolak keras permintaan sahabatnya.
"A-ano, permisi." Sebuah suara lirih menginterupsi pertengkaran mereka. Sasuke dan Ino menoleh mendapati sekelompok gadis yang sepertinya memang berniat berbicara dengan mereka walaupun dengan nada yang tidak yakin. Mereka berpandangan sejenak saling melemparkan tatapan bertanya.
"Yamanaka-san, bo-boleh minta foto?" Salah satu dari gadis-gadis itu memberanikan diri.
Ah, penggemar rupanya. Raut Yamanaka Ino sekejap berubah kalem, menghilangkan ekspresi termehek-mehek seperti tidak pernah terjadi. "Mm tentu saja." Ia balas tersenyum.
Kemudian setelah berfoto, salah satu dari gadis itu menyeletuk. "Yamanaka-san sedang berkencan ya?" Menatap bergantian antara Ino dan Sasuke.
Sasuke yang berubah menjadi fotografer dadakan mereka pun seketika mengedip kaku kearah Ino. Yang dilirik malah tertawa malu "Apakah terlalu jelas?" Jawabnya ambigu.
Para gadis akhirnya tertawa heboh entah karena apa. Kemudian mereka berpamitan menjauh sambil sesekali cekikikan melirik mereka berdua. Mereka hanya cuek, namun Sasuke yang masih terheran-heran kemampuan sahabatnya dalam memanipulasi orang lain sama sekali tidak sadar bahwa dirinya sedang digiring Ino menuju pintu masuk wahana Tornado. Mungkin jika ia tahu ia sudah pasti akan berkata kasar.
Sudah bisa ditebak bahwa setelah keluar dari zona berbahaya wajah Sasuke seputih kertas, sedangkan penampilan mereka jelas semakin berantakan namun tak menghilangkan binar kekanakkan di mata Ino. Namun saat melihat wajah Sasuke seakan bingung ingin muntah atau pingsan duluan, ia jadi sedikit merasa bersalah. Yaah, hanya sedikit.
"Mau istirahat dulu?" Tanyanya basa-basi karena jawabannya sudah pasti, jelas mereka perlu beristirahat. Terlebih lagi kini Sasuke merasakan isi lambung dan ususnya sudah bercampur menjadi satu yang membuat ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tanpa menjawab pertanyaan Ino, kaki panjangnya tanpa kata-kata mendekat ke salah satu kursi taman yang redup oleh pepohonan.
Setelah Ino duduk disampingnya, Sasuke dengan tidak sopan meletakkan kepala diatas paha Ino. Namun tak ada reaksi yang berarti dari gadis itu seolah itu adalah hal biasa. Sebaliknya ia malah memijat lembut sisi kepala Sasuke, menyebabkan jemari lentik itu tenggelam di balik surai hitam kebiruan yang tidak terduga lembut. Bukannya sok perhatian, anggap saja permintaan maaf.
"Lebih baik?"
"Hn." Kemudian hening, keduanya tenggelam dalam kegiatan masing-masing tanpa peduli hiruk pikuk orang di sekitar.
Hal itu berlangsung tak lebih dari sepuluh menit ketika Sasuke tiba-tiba berkata, "Giliranku." Sambil menyeringai dibalik telapak tangan yang masih menutupi sebagian wajahnya.
Ino yang tidak siap kemudian sudah diseret bangkit menuju arah barat daya dimana wahana yang tak kalah ramai dengan mayoritas antrean adalah para pasangan berada.
Lima belas menit kemudian, keadaan berbalik dengan kini wajah cantik si gadislah yang putih pucat dengan pandangan goyah gemetar dan si pemuda yang menyeringai puas setelah balas dendam. Tak ada lagi jejak-jejak menyedihkan dampak dari serangan Tornado seperti beberapa saat lalu.
"Hantu palsu sialan!" Jerit Ino.
Ya, benar. Teman tercintanya ini telah menarik ia masuk ke wahana Rumah Hantu secara paksa. Ulangi lagi, secara paksa. Sungguh, Ino menyesali tindakan perhatiannya beberapa saat lalu. Adalah suatu hal yang bodoh untuk merasa bersalah pada Uchiha Sasuke. Setan tampan ini tak bisa menanggung keluhan sedikitpun!
Ouh! Lihatlah seringai jelek itu. Ia berharap otot wajah Sasuke kram sepanjang hari agar semua wanita buta yang menjadi penggemarnya akan kabur ketakutan.
Sayangku Ino, di dunia ini hanya kau yang menganggap Uchiha Sasuke jelek. Kau yakin matamu sendiri tidak buta?
.
- The Bridal's Bride -
.
Menikmati senja di pinggir pantai memang cara terbaik untuk menutup hari yang panjang nan melelahkan. Pemandangan matahari terbenam ditelan lautan luas mengaburkan cahaya keemasan terpantul indah di atas air—seperti yang dua sejoli ini sedang lakukan, menikmati matahari terbenam di meja luar Lemonade yang menghadap langsung ke arah laut, Ino ditemani segelas limun dingin dan Sasuke dengan secangkir espresso tercintanya. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"..Cantik" Lirih Sasuke terbawa suasana memuji sajian eksotis senja di depan matanya.
"Hn. aku tau aku cantik." Jawab Ino seadanya. Membuat Sasuke melemparkan tatapan aneh ke sosok di hadapannya. Ia lupa bahwa kualitas percaya diri si Pirang ini setinggi bintang di langit.
'Haruskah aku diam-diam berpindah meja menjauh dari wanita gila ini?' Pikir Sasuke.
Lupakan. Bukan Yamanaka Ino namanya jika tak membuatnya malu barang seharipun. Sasuke maklum kembali menyeruput espresso pahitnya.
Yamanaka Ino—andai ia bisa membaca pikiran, sudah pasti Sasuke akan mati tenggelam di lautan lepas tanpa mayat utuh. Ia sibuk memikirkan konsep untuk perayaan ulang tahun pernikahan Mikoto dan Fugaku. Pemandangan senja di pantai sungguh membuat idenya mengalir lancar bak sungai dikala musim hujan. Beach Party terdengar bagus, dengan gaya dekorasi sederhana namun dikelilingi perpaduan mawar putih dan lily yang mewah. Ino bahkan sudah menentukan konsep kasar keseluruhan dalam sekejam mata.
"Suke, bagaimana jika ulang tahun pernikahan Paman dan Bibi berkonsep Beach Party? Diadakan saat senja dengan konsep sederhana dan cozy. Kemudian-" Ino membagikan pemikirannya pada Sasuke meminta pendapat.
Sasuke pun membayar perhatian penuh walau tak menatap langsung sang lawan bicara sambil sesekali mengangguk kalem. "Hm. Cukup menarik."
Ino tersenyum cantik. Untuk dipuji oleh seorang Uchiha Sasuke yang perfeksionis, Ia nyatanya cukup puas dengan otak Einstein kecilnya.
Saat matanya menyapu sekeliling pantai untuk meninjau lokasi terbaik untuk acara, ia tidak sengaja menemukan gumpalan rambut merah muda dari arah bibir pantai berjalan menuju Lemonade. Mungkin karena kekuatan pikiran, wanita cantik berambut tak biasa itu merasakan tatapan Ino, kemudian ia bergegas ke meja mereka berdua.
Sasuke merasakan sosok mendekati mereka menjauhkan cangkir kopi dari wajahnya kemudian mendongak. Hanya untuk menemukan tubuhnya kaku selama tiga detik, kemudian kembali meminum kopinya sambil memasang wajah dingin nan jauh khas Uchiha.
.
.
.
"Hai" Sapa wanita itu.
"…"
"…Halo, Sakura" Ino menjawab setelah diam sesaat. Kemudian secara refleks ia melirik Pria di hadapannya. Sasuke tidak membalas sapaan Sakura, hanya mengangguk ringan sambil memfokuskan pandangan pada cangkir di depan mulutnya seolah akan muncul lumba-lumba dari sana.
Suasana mendadak canggung.
Mungkin wanita pendatang itu sadar akan suasana, kemudian ia melemparkan tatapan meminta maaf ke Ino, "Bisakah aku berbicara dengan Sasuke-kun sebentar?"
Ino terkejut sesaat. Lalu benar-benar menoleh ke Sasuke seakan meminta persetujuan tanpa kata. Namun sayang, tak ada kata terucap dari pria itu seakan ia tidak mendengar apa-apa. Kemudian dengan berbekal pemahaman bahwa ada sesuatu yang penting untuk didiskusikan, Ino mengundurkan diri dari hadapan kedua orang itu. Ia pergi cukup santai karena yakin tak akan ada baku hantam.
Sambil menyusuri bibir pantai, pikiran Ino melayang kembali ke masa sekolah menengahnya bersama Sasuke. Dan wanita itu Haruno Sakura, teman sekelas Ino—sekaligus mantan kekasih pertama Uchiha Sasuke.
Saat asyik meninjau lokasi sekitar, Ino merasakan kehadiran tambahan disampingnya. Tanpa menoleh pun ia tahu itu Sasuke yang berhasil menyusulnya. Sebenarnya lidah Ino gatal ingin bertanya urusan antara dia dan Sakura, tapi pengendalian diri Yamanaka Ino Selalu baik. Jadi ia hanya diam dan menunggu Sasuke bercerita tanpa perlu diminta.
"Sakura…meminta maaf." Nah, benar kan.
"Lalu? Bagaimana perasaanmu?" Sebagai orang yang mengetahui sebagian besar cerita masa lalu, Ino pun langsung ke Intinya.
"Well, itu masa lalu. Lagipula aku sudah lupa."
'Oh berarti kau memaafkannya?'
"Ayo pulang, Suke. Aku lelah." Entahlah, terlalu banyak terpapar angin pantai membuat hatinya sedikit kosong. Ino berjalan mantap sambil memeluk lengannya sendiri.
"Hn"
"Tidak ingin menggendongku?"
"Tidak. Terimakasih." Lalu Sasuke memimpin ke arah mobil mereka berada, meninggalkan Ino beberapa langkah dibelakangnya.
.
- The Bridal's Bride -
.
Sekiranya sudah dua minggu sejak pertemuan kebetulan mereka dengan Sakura, Ino sibuk seperti biasa bolak balik ke Mansion Uchiha. Bukan untuk menemui Sasuke sialan itu, ia menemui Mikoto untuk membicarakan konsep perayaan ulang tahun pernikahannya. Setelah saling bertukar pikiran dan revisi konsep sana-sini akhirnya tinggal mematangkan persiapan.
Ketika Ino keluar dari pintu utama Uchiha, ia mendial nomor Sasuke.
'Hn'
"Dasar anak durhaka. Kapan kau pulang? Bibi mengeluh padaku bahwa kau sudah melupakannya."
'Ck. Katakan aku sibuk. Ada apa?'
"Besok temani aku survei lokasi"
'Maaf….kau sendirian saja, Ino.'
"Besok akhir pekan, kau tidak akan bekerja Suke. Ayolaah~"
Agak lama diam, kemudian suara maskulin itu menjawab kalem,'Sakura memintaku menemaninya mencari sesuatu.'
Ino diam berhenti ditempatnya selama dua detik. "…Aish. Harusnya kau bilang dari awal. Baiklah kalau begitu. Daah!" Dan panggilan ditutup sepihak oleh Ino.
Sepertinya musim semi Sasuke akan segera hadir. Dalam benak Ino sudah menyusun bayangan Sasuke dan Sakura duduk saling berpandangan penuh arti di sisi luar Kafe, dengan ia sebagai pejalan kaki tidak penting sebagai latar belakang.
Ino menghela napas panjang. Adalah hukum alam bahwa cinta pertama sulit dilupakan. Benar 'kan?
Dering ponsel membangunkan lamunan Ino. Ia memasuki mobilnya sambil melihat sang penelpon yang bukan salah satu dari sekian kontaknya. Nomor asing yang tanpa bantuan cenayang pun Ino tahu itu siapa, karena ini bukan kali pertama nomor itu menghubunginya.
Ino menunggu sampai dering berakhir sebelum memasukkan nomor tersebut ke daftar hitam kontaknya. Entah sejak kapan ia sudah tidak tertarik dengan skenario 'membuat mantan pacar menangis menyesal dan meminta berbaikan' miliknya. Ia hanya sedang tidak mood karena tidak ada waktu.
Ya, ia tidak ada waktu. Pekerjaannya menumpuk bagai gunung yang tak bisa dibelah. Satu mantan pacar tak akan bisa menghalanginya.
Hanya perasaannya saja atau ia merasa agak takut. Di hatinya sedikit tumbuh perasaan krisis tak jelas entah dari mana datangnya ketika bayangan Sasuke dan Sakura hadir kembali.
'Hei pejalan kaki bodoh, jangan mengurusi kisah cinta orang lain! Pekerjaan masih menunggumu untuk dibelai' Batin Ino mengarahkan kembali ke kenyataan.
Ino menyalakan mesin mobilnya sambil mengusir perasaan tak enak yang sekelebat hadir, kemudian melaju membelah jalanan malam, menuju tempat Studionya berada.
.
.
.
-TBC-
A/N: Para Mantan datengnya keroyokan~
/kabur karena takut disambit SasuIno Stan/
Yaah, siapa suruh Sasuke kelewat ganteng? Mantannya jd kebayang-bayang kan HEHEHE
SEMBAH SUJUD KEPADA YANG MASIH SETIA BACA SAMPE SINI YAWLAA kuterharu semoga suka yaa:"
Terimakasih kepada teman-teman onlen yang masih setia baca kisah Mbak Ino dan mas Cugay ini, baik yang terlihat di kolom ripiu atau yang kasat mata(?)
Maafkan jika menunggu terlalu lama HEHEHE
Sky masih menerima masukan teman-teman sekalian dengan sukacita loh, jd kalo ada uneg-uneg pencet aja tombol review. Ok, Love 3
Selamat Natal buat yang merayakan, dan Sampai Ketemu Tahun depan (yang entah kapan) HEHEHE
Sign,
Cleaning Servicenya Lemonade.
