Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning! = OOC, Typo, Absurd, DLDR, Abal, Receh, Garing, Bahasa tidak baku, First fic, Nyubi. Maklumin.
Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Terinspirasi dari beberapa sumber.
Sebelumnya..
Hanya perasaannya saja atau ia merasa agak takut. Di hatinya sedikit tumbuh perasaan krisis tak jelas entah dari mana datangnya ketika bayangan Sasuke dan Sakura hadir kembali.
'Hei pejalan kaki bodoh, jangan mengurusi kisah cinta orang lain! Pekerjaan masih menunggumu untuk dibelai' Batin Ino mengarahkan kembali ke kenyataan.
Ino menyalakan mesin mobilnya sambil mengusir perasaan tak enak yang sekelebat hadir, kemudian melaju membelah jalanan malam, menuju tempat Studionya berada.
THE BRIDAL'S BRIDE
Skyzofrenia
.
.
.
(Flashback)
Sudah menjadi hal yang lumrah jika tempat dimana terdapat banyak buku manapun akan selalu sunyi tak banyak orang, tak terkecuali perpustakaan Konoha High. Bahkan saat bel istirahat berdering pun tak akan ada siswa yang mengunjunginya. Kecuali para kutu buku dan siswa-siswa terlampau teladan yang sedang memilih tempat nyaman untuk tidur, hanya ada segelintir kehidupan yang bisa dirasakan disini.
Salah satunya Yamanaka Ino. Gadis cantik pengunjung setia perpustakaan sejak junior sampai kini ia menjadi siswa tahun kedua, tak pernah sekalipun ia absen dari kunjungan rutinnya ke tempat ini. Bukan untuk tidur sebenarnya, bukan pula ia kutu buku. Ia hanya tak suka keramaian dan sebisa mungkin menghindari para siswa berdarah panas yang selalu merecokinya dengan pernyataan cinta. Walaupun terkadang masih ada lelaki nekat yang mengundangnya keluar dengan alasan 'ada sesuatu yang harus kukatakan'.
Menerima pernyataan cinta memang menyenangkan, itu tandanya ada orang yang menyukaimu. Tapi jika itu terjadi berkali-kali sampai ia pusing memikirkan berbagai alasan penolakan yang tak menyakiti hati juga cukup mengganggunya.
Bukan salahnya untuk terlahir cantik.
Oleh sebab itu sebisa mungkin ia mencoba untuk tetap low profile—menghindar dan bersembunyi di sudut terdalam perpustakaan, tempat yang terhalang rak-rak buku besar dan menghadap ke jendela dengan pemandangan indah taman belakang sekolahnya, seperti siang itu. Saat kepalanya mendongak ke arah jendela, ia melihat hal biasa lainnya.
Uchiha Sasuke berhadapan dengan siswi yang selalu berbeda-beda.
Oh, apakah Ino sudah bilang bahwa bukan hanya ia seorang yang sedang mengalami masalah penolakan cinta? Ya, sebagai sesama orang dengan penderitaan yang sama ia merasa kasihan dengan Uchiha tampan itu. Dengan hasil akhir siswi-siswi yang kalah berbalik seperti menahan tangis dan Uchiha yang masih berdiri kokoh bagai pohon pinus di musim dingin. Mereka berdua—Ino dan Sasuke melahirkan julukan yang sama di kalangan pelajar Konoha. Keindahan yang hanya bisa dilihat tetapi tak bisa dijangkau. Namun rumor keduanya sedikit berbeda.
Yamanaka Ino, si gadis cantik yang setia dengan cinta tak berbalasnya. Dan Uchiha Sasuke si penyuka sesama jenis.
Setidaknya rumor itu bertahan sampai seminggu yang lalu, dimana mereka berdua tanpa sengaja bertemu dengan keadaan sama seperti siang ini. Namun entah kenapa Sasuke yang biasanya menolak pernyataan cinta tanpa alasan, hari itu mau repot-repot membuang napasnya untuk menolak dengan alasan yang sama dengan Ino. "—Aku sudah menyukai orang lain."
Membuat rumor penyuka sesama jenis Sasuke hilang dan berganti menjadi si pangeran tampan dengan cinta tak berbalas.
Memikirkan hal itu membuat Ino mendesah dalam lamunan panjangnya. Manusia memang makhluk visual.
Saat Ino melirik lagi ke arah taman, sosok Uchiha Sasuke sudah tidak terlihat entah kemana. Namun ketika ia ingin kembali fokus ke bacaan yang ada di tangannya, ia mendengar suara maskulin dari arah di depannya.
"Bersembunyi lagi, Yamanaka?"
.
- The Bridal's Bride -
.
"Oh ayolah Sasuke. Bantu aku dengan materi ini."
Saat ini Ino sedang terpaksa merengek meminta pertolongan pada Sasuke. Catat, terpaksa.
Jika bukan karena ia yang payah dalam hal fisika, ia tidak akan terancam remidi sampai harus mengemis meminta bantuan dari Sasuke yang Maha Kuasa kesayangan Orochomaru-sensei sang Guru Fisika.
"Tidak"
Pelit. Seperti yang ia duga. Cih!
"Sasuke yang tampan, aku janji tidak akan terlalu bodoh sampai kau harus mengajariku berulang-ulang."
"…."
"Ayolah, Sasuke~" Uh, Ino merasa ingin memotong lidahnya sendiri karena jijik.
"Hn."
"Yeah! Janji ya! Kau tidak boleh menyesal. Atau berpura-pura amnesia! Atau menghilang tiba-tiba!" Ino berbicara terlampau cepat karena antusisas.
"Cerewet."
Yihaa~ selamat tinggal remidi fisika~
.
.
.
Sasuke kesal. Untuk pertama kalinya, ia kesal kepada Yamanaka Ino. Teman dadakan yang baru-baru ini ia temukan menyenangkan, karena hanya dia yang tidak tergila-gila mengejarnya seperti gadis-gadis lain yang ia temui. Tapi siang ini ia menemukan wajah imut Yamanaka Ino menyebalkan.
Pasalnya ia telah berjanji akan mengajari gadis itu belajar di Café dekat sekolah mereka, namun yang membuat ia kesal adalah gadis pirang itu tidak bilang bahwa bukan dirinya saja yang akan menjadi murid bimbingannya hari ini. Melainkan ada satu gadis lain dengan rambut gulali mencolok yang terlihat pendiam dengan mata hijau yang selalu menatapnya membuat ia risih. Sedangkan si gadis pirang itu hanya melempar senyum cengengesan seakan tidak ada yang salah, membuat wajahnya semakin terlihat menyebalkan di mata Sasuke.
Hah. Yasudahlah. Toh ia sudah terlanjur berjanji. Mau pergi dan berpura-pura sakit perut pun sudah terlambat. Alhasil ketiganya pun memulai sesi bimbingan dengan Sasuke menjalankan peran sebagai Tutor tampan, dan dua gadis yang –sangat mengejutkan- pendiam menjadi murid teladan. Sasuke cukup puas dengan itu. Membuat penilaian awalnya pada si gadis gulali berubah sedikit lebih baik.
Kemudian, ketika ada waktu ketiganya sering berkumpul dan belajar bersama. Dengan Sasuke yang tetap menjadi Tutor tentu saja. Si gadis gulali yang ia tahu namanya Haruno Sakura ternyata tidak begitu menjengkelkan seperti gadis-gadis lainnya yang berusaha mengejarnya. Namun ia juga tahu bahwa Haruno Sakura sebenarnya menyukainya, hanya saja ia tetap tampil kalem.
Dan itulah yang membuat Sasuke memandangnya sedikit lebih banyak, karena perasaan diperhatikan diam-diam namun tidak terlalu berambisi ternyata cukup bagus. Selain Yamanaka Ino dan ibunya, gadis ketiga yang cukup mengenalnya adalah Haruno Sakura. Ia tahu bagaimana harus bersikap seperti yang diharapkan Sasuke. Dan itu cukup bagus untuk perkembangan keduanya.
.
.
.
Yamanaka Ino? Tentu saja ia tahu apa yang terjadi antara kedua temannya. Meskipun ia pun baru dipertemukan dengan Sakura di tahun keduanya karena remidi Fisika, namun karena pada dasarnya Ino mudah bergaul membuat mereka cukup dekat. Ia tak menampik kedekatan Sasuke dan Sakura. Disatu sisi ia tahu Sasuke tidak suka gadis yang secara 'gamblang' menyukainya bahkan tergila-gila padanya. Namun kedekatannya dengan Sasuke jauh sebelum intervensi Sakura juga cukup bagus.
Sasuke adalah teman lelaki pertamanya yang benar-benar berteman tanpa ada maksud dan tujuan lain seperti pria-pria yang mendekatinya. Oleh karena itu membuat Ino nyaman dengan adanya Sasuke. Kemanapun ia pergi akan ada Uchiha Sasuke. Dan kemanapun Sasuke pergi akan ada sosok pirang Yamanaka Ino disampingnya. Dua 'keindahan yang hanya bisa dilihat namun tak bisa dijangkau' itu sungguh baik di mata orang lain, dan menjadi bahan perbincangan antar siswa pula. Dua orang dengan cinta tak berbalas sering terlihat jalan bersama. Tentu siswa lain menebak secara acak bahwa mereka saling friendzone. Namun hanya Ino dan Sasuke yang tahu bahwa mereka berdua 'murni' berteman.
Setidaknya sekarang dengan hadirnya Sakura, rumor friendzone itu sedikit demi sedikit lenyap. Ino tak masalah dengan itu, dan dari penglihatannya pun Sasuke terlihat tak ambil pusing. Jadi ia memutuskan dalam hatinya bahwa jika, di kemudian hari dua temannya memutuskan untuk ke tahap yang lebih dari teman pun Ino rasa ia tak ada masalah. Sebagai teman yang baik ia akan selalu mendukung kebahagiaan temannya. Itulah prinsip Ino.
Sehingga ketika ia tak sengaja melihat Sasuke dan Sakura menghabiskan waktu istirahat siang berdua, ia hanya tersenyum dan diam-diam bersembunyi di sudut terdalam perpustakaan. Mencoba menjadi teman yang baik dan selalu mendukung apapun yang temannya lakukan. Lagipula jauh sebelum adanya Sasuke ia pun selalu menghabiskan waktu sendirian di perpustakaan. Ia hanya kembali melakukan kebiasaan lamanya.
.
- The Bridal's Bride -
.
Hari itu hari ketiga libur musim dingin di tahun keduanya. Ino sedang bersembunyi di dalam selimut hangatnya di pagi hari sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan mengingat ia menolak mengikuti orang tuanya yang menghabiskan waktu akhir tahun dengan liburan ke Suna dimana cuaca lebih hangat di sana.
Hmm pertama-tama menghubungi Sakura dan Sasuke, mungkin mereka punya ide. Ngomong-ngomong sepertinya ponselnya berdering beberapa kali tadi malam saat ia tidur. Namun karena godaan ranjangnya yang terlampau nyaman, ia mengabaikan si penelpon malang tersebut.
Saat ia membuka kunci layar ponselnya, nampak beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dari Sasuke dan pesan Sakura. Hm? Ada apa dengan mereka berdua? Pertama Ino putuskan untuk menggeser layar menampilkan pesan Sakura. Setelah selesai melihat isi pesan itu, jari Ino membeku. Ino terpaku pada kata demi kata yang ada di layar ponselnya.
Dari: Sakura
'Aku berencana menyatakan perasaanku pada Sasuke-Kun'
Oke, itu hanya sekedar menyatakan perasaan kan? Ino sudah sering melihat Sasuke 'ditembak' jadi ia pikir ia sudah terbiasa dengan ini.
Kemudian ia keluar dari pesan Sakura tanpa bermaksud membalas dan berbalik mengirim pesan ke penelpon malang yang memenuhi log panggilannya.
'Ada apa?'
Kemudian tak sampai lima detik, datang notifikasi balasan.
Dari: Sasuke
'Aku dan Sakura berpacaran'
Hening di kamar bernuansa Ungu itu bertahan selama sekitar sepuluh menit, hanya terdengar detak jam di dinding.
Mungkin karena sepuluh menit dirasa terlalu lama dengan tanda pesan telah terbaca tanpa ada balasan, Sasuke mengirim pesan lagi.
Dari : Sasuke
'Ino?'
Layar ponsel yang telah lama gelap kemudian menyala lagi, membuat Ino tersadar dari lamunannya. Jarinya kemudian mengetik perlahan-lahan.
'Wow, Selamat! Jangan lupa traktir aku~'
Kemudian setelah memastikan pesan balasan terkirim, Ino mematikan data ponselnya. Membaca kembali pesan Sasuke dan Sakura bergantian, lalu menaruh ponselnya di nakas samping tempat tidur. Kembali menenggelamkan diri ke dalam selimutnya.
Ino benci. Bukan karena berita tak terduga ini, tetapi benci terhadap dirinya sendiri. Ino tidak suka dirinya yang bukannya ikut senang dengan kebahagiaan temannya, malah sedikit takut. Dan…tidak rela? Entahlah yang jelas hampir tidak ada senang yang ia rasakan, dan itu membuat Ino merasa dirinya jahat. Kepalanya pusing. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan keduanya yang jelas Ino hanya tahu bahwa ia membenci dirinya sendiri sekarang.
Lama sebelum Ino mengumpulkan niat untuk bangkit dari buaian ranjangnya menuju komputer di atas meja belajar. Membuka situs pemesanan pesawat online kemudian memesan tiket penerbangan ke Suna, ia memutuskan untuk menyusul kedua orang tuanya yang sudah berada disana sejak dua hari lalu. Menghabiskan waktu di tempat yang lebih hangat diharapkan akan mencairkan otak Ino yang serasa beku sekarang.
.
.
.
Seperti untuk Sasuke, ia sedikit jengkel dengan Ino. Sudah seminggu ia tidak ada kabar, apalagi pagi itu ia melihat postingan terbaru yang Ino bagikan di media sosialnya. Dimana di gambar tersebut terlihat Ino berjalan menoleh ke belakang dengan latar belakang matahari tenggelam. Dilihat dari pakaian yang ia kenakan, jelas terlihat bahwa ia tidak sedang berada di Konoha.
Ia jengkel karena Ino mengingkari janji yang ia katakan saat hari terakhir sekolah sebelum libur musim dingin dimulai, dimana ia bilang tidak akan kemana-mana dan memutuskan untuk menghabiskan waktu bersamanya dan Sakura. Sekarang Ia malah menemukan bahwa gadis sialan yang sayang sekali adalah sahabatnya malah meninggalkannya berlibur sedangkan ia stuck dengan cuaca dingin di Konoha yang membuatnya semakin malas keluar rumah.
Untung saja Sakura cukup pengertian. Mengetahui Sasuke benci berkeliaran di musim dingin ia tidak banyak tingkah dengan mengajaknya pergi kencan keluar rumah. Hanya sesekali mereka menghabiskan waktu di siang hari dimana cuaca sedikit lebih bisa ditoleransi untuk sekedar menemaninya membeli sesuatu dan diakhiri dengan berbincang singkat di Café sambil makan siang. Sejauh ini Sasuke cukup puas dengan kekasih barunya ini. Tidak banyak tingkah dan sedikit kalem. Tidak seperti seseorang berambut pirang tertentu yang baru—baru ini menghilang dengan tidak bertanggung jawab.
.
- The Bridal's Bride -
.
"Hei, Suke. Kau marah?"
"…."
"Baiklah aku salah. Maafkan aku karena pergi tidak bilang-bilang."
"…."
"Ayolah Sukee~"
Hari pertama setelah liburan musim dingin yang panjang, Sasuke mendapati Ino sudah menunggunya di depan lokernya. Tentu saja Sasuke mengabaikannya sepanjang jalan jalan seakan tidak saling mengenal. Aura yang keluar dari tubuhnya pun sedikit lebih pekat setelah matanya melihat kehadiran gadis pirang tak tahu malu yang masih saja mengikutinya sepanjang lorong dimana kelasnya berada.
"Sasukeee~"
"Berisik" Akhirnya Sasuke tak tahan juga.
"Hehehe maafkan aku. Aku janji liburan kedepannya akan menghabiskan waktu dengan kalian, dan tidak akan pergi sendiri." Sasuke muak melihat mimik Ino yang menyedihkan itu. Jelas sekali berpura-pura. Cih.
"..."
"Suke—"
"Hn."
Tetapi mengingat beberapa minggu tanpa gadis ini juga cukup membuat Sasuke tidak tahan karena bosan jika bukan karena ada Sakura, ia memutuskan untuk memaafkan Ino dan kelakuan bejatnya yang menghilang tiba-tiba.
"Yeah, aku tahu kalau Sasuke adalah pria tampan yang pemaaf. Sebagai hadiah, aku meninggalkan sesuatu di bawah meja mu. Sampai jumpa nanti~" Kemudian tampak Ino menghilang dengan senyum menghiasi wajahnya kembali ke kelasnya sendiri.
Sasuke yang ditinggalkan pun mendecih sebal, setidaknya sampai ia melihat apa yang Ino sebut hadiah di bawah mejanya. Sebuah jam tangan elegan dengan merk khas dari Suna, Sasuke tahu merk ini cukup terkenal disana. Ia anggap ini kompensasi yang cukup atas kelakuan sahabatnya tempo lalu. Awas jika ia melakukan hal ini lagi, bahkan jika ia disogok dengan berlian ia tak akan berpaling.
Dan Yamanaka Ino telah kembali menjadi gadis yang ceria seperti tak pernah terjadi apa-apa. Setelah liburan di tempat tropis membuat seluruh bebannya meleleh dan hilang tanpa bekas. Ia kini bisa tertawa dan mulai terang-terangan menjahili Sasuke, menjadi tempat curhat Sakura, serta sedikit demi sedikit mulai berteman dengan siswa lainnya. Acap kali Sasuke melihat Ino sedang berbicara dengan gadis sekelasnya. Dan yang membuat Sasuke kagum adalah Ino memamerkan nilai kuis Fisikanya yang cukup tinggi dengan bangga, tanpa bantuan Sasuke lagi. Yah setidaknya banyak hal positif yang terjadi pada gadis pirang itu.
Satu hal yang membuat Sasuke sedih adalah waktunya dengan Ino semakin hari semakin berkurang. Jika ia sedang bersama Ino kemudian Sakura datang, Ino akan mencari alasan tak masuk akal untuk pergi sambil melemparkan pandangan nakal ke arah mereka berdua. Membuat Sasuke geram setengah mati.
Yamanaka Ino merasa seantero Konoha High sudah mengetahui bahwa Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura berpacaran, namun tak ada hal khusus yang terjadi. Hanya saja ia bisa merasakan tatapan iba teman-teman sekelasnya saat mereka kebetulan melihat Sasuke dan Sakura berjalan bersama, namun ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan. Hanya melempar tatapan polos 'aku tidak tahu apa-apa' sebagai balasannya.
Sialnya, Ino masih rajin menolak pernyataan cinta yang datang sedangkan sudah tak ada pergerakan dari para siswi terhadap Sasuke sejak ia berkencan dengan Sakura—yang membuat Ino mendecih. Menyesalkan bahwa ia sendiri tak punya kekasih. Dan hal itu berlanjut sampai pertengahan tahun ketiga mereka di sekolah menengah.
.
- The Bridal's Bride -
.
Yamanaka Ino mendesah lega menutup buku soal yang telah selesai ia kerjakan susah payah sedari siang. Sungguh ia heran dengan dirinya sendiri yang betah mengerjakan soal dengan tenang tanpa mengalami ledakan otak. Tetapi setelah semuanya selesai badai kelelahan menyerangnya bertubi-tubi. Saat berpikir akan terjun ke ranjangnya untuk istirahat, ponsel Ino berdering. Melirik jam di atas meja belajarnya yang menunjukkan angka sebelas, ino memicing. Orang gila mana lagi yang menghubunginya malam-malam?
Memeriksa ponsel, Ino menemukan orang gila itu adalah sahabatnya. Uchiha Sasuke. Hm, untuk apa bocah ini menelponnya jam segini? Tak banyak berpikir takut ada hal penting yang disampaikan, Ino menggeser ke ikon berwarna hijau.
"Moshi-moshi. Ada apa Suke?"
'…'
"…"
'…' Masih tak ada sahutan, membuat Ino jengkel setengah mati.
"…..kalau tidak ada hal penting aku tutup—"
'Kami putus'
"…Hm? Apa maksudmu Suke? Bicaralah yang jelas."
'Aku dan Sakura. Kami putus'
Seketika hilang sudah rasa kantuk dan kelelahan Ino. Punggungnya lurus dan tegang
"Kau—maksudku…kenapa bisa? Apa—apa yang terjadi?" Ino bingung harus merespon seperti apa.
'…'
"Uchiha Sasuke?"
'…Hn.'
"Ceritakan padaku. Apa yang terjadi?"
'Dia bilang bosan. Dan kami putus'
"…" Sesaat hening di antara keduanya. Tetapi Ino tahu ada lebih banyak kata yang ingin diucapkan Sasuke saat ini. Ino cukup mengenal Sasuke. Untuk menelponnya selarut ini menandakan bahwa ia seharian ini sedang kalut namun ragu untuk bercerita entah kepada siapa—Ino tebak bahkan Bibi Mikoto pun tak tahu bahwa anak bungsunya sedang berpacaran. Karena ia yakin Sasuke tak akan berbicara lebih banyak dari ini, Ino memutuskan untuk mengalihkan topik.
"Baiklah, ceritakan detailnya besok. Ngomong-ngomong hari ini aku bisa menyelesaikan buku soal fisika dalam 5 jam loh. Hahaha!"
'Aku tidak tahu kau sebodoh itu'
"Apa maksudmu Uchiha?"
'Aku bisa menyelesaikan seluruhnya dalam waktu 2 jam'
Sialan. Ia bisa merasakan Sasuke kini tengah mengangkat alisnya sambil menyeringai dinilai dari nada bicaranya. Ino mulai menyesal membahas Fisika. Tapi hati kecilnya tersenyum, setidaknya persoalan Sakura bisa tersingkir sementara. Kemudian obrolan mereka berisi seputar ejekan dan topik yang sungguh tidak penting lainnya sampai telinga Ino panas dan ia jatuh tertidur, tanpa mematikan sambungan telepon. Ketika ia bangun keesokan harinya ponselnya kehabisan baterai yang membuat Ino mengerang kesal dan memutuskan untuk tidak membawa ponsel ke sekolah. Semua gara-gara Uchiha Sasuke sialan itu.
.
.
.
Mungkin karena tamu bulanannya datang tiba-tiba pagi ini membuat Ino jadi uring-uringan seharian. Entahlah ia rasanya ingin mencakar wajah Sasuke yang dilihatnya beribu-ribu kali lipat lebih menyebalkan dari biasanya. Ia pun batal meminta keterangan lebih lanjut perihal putusnya ia dengan Sakura. Ino sedikit menyesal dan memutuskan akan menebusnya nanti sepulang sekolah.
Saat ini Ino sedang berada di bilik terdalam toilet wanita sekolahnya. Ia ijin meninggalkan kelas sesaat sebelum bel istirahat berdering karena nyeri datang bulan yang ia rasakan. Ino lebih suka duduk meringkuk di toilet bahkan jika ia tak melakukan apa-apa dibandingkan dengan berbaring di ruang kesehatan yang berbau desinfektan. Hingga bel istirahat berdering pun ia masih setia diam meringkuk di atas toilet, menghindari bertemu dengan teman-temannya karena ia takut mengalami mood swing dan membuatnya kesal tanpa alasan yang jelas dan menyebabkan teman-temannya jengkel padanya.
Suara pintu toilet terbuka dan suara beberapa gadis mulai terdengar pun Ino tidak perduli, sampai ia mendengar suara yang cukup familiar di telinganya.
"Kemarin aku melihatmu di Café bersama Kabuto—senpai, Sakura."
"Ah, aku memintanya mengajariku cara masuk jurusan kedokteran."
"Kabuto—senpai memang siswa kebanggaan Konoha High. Dia mendapatkan beasiswa jurusan kedokteran di Universitas Konoha. Bisa mendapatkan bimbingannya, kau beruntung sekali Sakura!"
"Hmm tentu saja~ dia juga tampan dan sangat baik."
"Ngomong-ngomong kau jalan bersama Kabuto—senpai, Sasuke tidak cemburu?"
"Oh, kami sudah putus." Suara akrab itu terdengar enteng.
"Ya Tuhan. Kau bercanda kan Sakura?" Balas suara asing yang terengah kaget.
"Serius. Kami putus kemarin."
"Kenapa?"
Terdengar helaan napas. "Kau tahu, Matsuri? Perasaan ketika kau terlalu menyukai dan mengidolakan seseorang , mencoba menjadi seperti yang orang itu inginkan sampai kau kehilangan dirimu sendiri. Itu sungguh melelahkan. Aku hanya ingin membebaskan diriku."
Hening di toilet itu. "Kau gila, Sakura."
Suara tawa kecil menggema, disertai suara keran air. "Kau benar, kurasa aku memang sudah gila. Tapi sekarang aku sudah kembali sadar."
"Lalu, jangan bilang kalau sekarang kau dengan Kabuto—senpai…"
Tawa kembali terdengar.
"Well, hanya orang bodoh yang tidak menyukai pria tampan dan pintar sepertinya."
"….Wow. Membuang Uchiha untuk Kabuto—senpai. Hanya kau yang bisa, Sakura."
"Hahaha sudahlah jangan dibahas lagi. Ayo ke kantin, aku lapar."
Percakapan berhenti diakhiri dengan suara pintu terbuka dan kemudian seluruh toilet jatuh kedalam hening mencekam. Kemudian di tengah ketenangan, pintu bilik dibuka dengan kasar. Yamanaka Ino—sang pelaku seakan tak perduli dengan perusakan properti yang tengah ia lakukan, melangkah besar-besar menyusul keluar dari toilet.
Haruno Sakura masih tertawa cekikikan melewati koridor kelas tahun ketiga menuju kantin bersama teman sekelasnya, Matsuri. Sampai ia merasa ada sosok pirang dibelakangnya, Sakura berhenti dan menoleh hendak menyapa mengajaknya ke kantin bersama. Tetapi ekspresi gadis pirang itu tampak salah.
"Ino—"
PLAK.
Sakura berhenti karena merasakan panas di pipi kanannya. Kepalanya berputar menoleh ke gadis pirang di hadapannya. Seisi koridor kaget dengan kejadian itu. Sejauh yang mereka tahu, Sakura dan Yamanaka Ino berteman. Apa yang terjadi tak pelak membuat jiwa gosip penuh rasa ingi tahu mereka tumbuh.
"Ya Tuhan!" Matsuri yang takut terlibat mencicit kecil namun dengan sadar menyingkir. Ia sadar arah datangnya Yamanaka Ino adalah dari toilet. Jika, hanya jika—apa yang terjadi adalah benar seperti yang ia bayangkan. Matsuri tidak berani membuat suara, bahkan bernapas sepertinya rasanya sulit. Mata paniknya melihat sekitar, hanya untuk menemukan bahwa semua mata siswa memandang pertengkaran Haruno dan Yamanaka. Seluruhnya hening bahkan suara jarum jatuh pun akan terdengar. Ia semakin panik saat melihat sosok tampan di ujung koridor.
Si gadis Haruno merasa ia tak pernah melakukan kesalahan yang menyinggung Yamanaka Ino pun bingung. Sambil memegang pipi panasnya, ia memandang Ino dengan tatapan meminta penjelasan.
"Apa maksudnya ini, Ino?"
"Kau tadi bilang bahwa kau sudah gila kan? Aku hanya membantu membuatmu tetap waras." Nada suaranya dingin, ditambah tatapan jijik yang dia lemparkan pada Sakura. Ia menyesal merestui gadis semacam ini untuk mendekati sahabatnya.
"Ap-apa maksudmu?" Sakura sedikit ketakutan namun ia tetap berusaha terlihat seperti tak melakukan sesuatu yang salah.
"Di masa depan kau membicarakan orang lain, pastikan itu bukan di toilet umum sekolah. Jika aku melihatmu lagi itu tidak sesederhana tamparan." Apa yang ia katakan terdengar jelas di koridor yang sunyi. Kemudian Yamanaka Ino berjalan dan sengaja menyenggol bahu Sakura sampai dirinya terseret mundur. Mata hijaunya syok mengikuti punggung Ino, hanya untuk menemukan Sasuke tengah menatapnya dingin nan acuh. Tak hanya Sasuke, seluruh mata para siswa kini memandangnya seakan melihat monyet sirkus. Tidak tahan, Sakura berbalik ke arah kelasnya sendiri disusul Matsuri yang melangkah kikuk dibelakangnya.
.
.
.
Ino merasakan kemarahannya sedikit mereda setelah menampar Sakura. Sungguh ia ingin melakukan lebih dari sekedar tamparan, namun ia masih waras dengan melihat situasi tempat dimana ia berada. Ia tak mau menodai reputasi siswi teladannya dengan memasuki ruang konseling untuk pertama kalinya hanya demi Haruno Sakura. Ia sadar bahwa mungkin setelah ini siswa lain akan memandangnya sedikit berbeda, Yamanaka Ino yang lembut di mata mereka sudah tak ada lagi. Ia tahu bahwa ia sedikit berlebihan tadi. Tapi sungguh ia marah, sangat marah.
Ketika mencapai ujung koridor ia melihat sosok pria yang ia kenal. Seketika perasaan marah semuanya menguap tak berbekas. Ia meraih tangan Sasuke dan menariknya pergi, ia tak mau Sasuke bertemu lagi dengan gadis tak tahu diri itu.
Sasuke yang ditarik paksa pun mengikuti dengan sukarela di belakang Ino seperti Induk ayam yang melindungi anaknya. Bisa ia lihat tangan Ino yang tidak menggengamnya mengepal sampai buku jarinya memutih, berbanding terbalik dengan tangan yang menggengam lembut tangannya sendiri. Ia menghela napas. Kemarahan dan kekalutannya yang ia pendam sejak kemarin hilang tanpa bekas melihat kejadian di koridor tadi. Saat keduanya berhenti, Sasuke melihat bahwa mereka berdua saat ini tengah berada di taman belakang sekolah.
Kemudian ia merasakan tangan yang menggenggamnya terlepas. Walau hanya bisa melihat punggungnya, ia bisa melihat gadis itu bergetar. Ia pikir Ino akan bersumpah serapah dan memaki, namun yang ditunggunya tak kunjung datang. Ia malah melihat bahu ringkih Ino bergetar dengan kepala menunduk. Disusul isakan yang sekuat mungkin ditahan.
"Maaf" Suara gadis itu kecil sekali sampai Sasuke hampir tak bisa mendengarnya.
Tak tahan lagi, Sasuke behenti tepat di depan Ino. Sudah ia duga, si pirang itu menangis. Ia sungguh tidak tahu harus bekata apa. Hanya tangannya yang bergerak sedikit lebih cepat daripada bibirnya, menepuk pelan pucuk kepala Ino. Membuat isakan gadis itu menjadi lebih terdengar jelas. Kedua tangan putih itu menutupi wajahnya yang bersimbah air mata, keras kepala menolak untuk dilihat Sasuke di waktu terjeleknya.
"Maafkan Aku, Suke" Ucapnya lagi di selingi tangisan dan kepala yang semakin menunduk bersembunyi dibalik tangan dan poni pirangnya.
"Aku yang putus kenapa kau yang menangis? Dasar bodoh." Lain di mulut lain dihati. Sasuke merasa ada yang salah dengan dirinya, namun ia merasa sedikit terhibur. Hatinya sedikit ringan walau kata-katanya masih saja menyebalkan. Melihat sahabatnya melampiaskan kekesalan mewakilinya, membuat ia menyesal menghabiskan waktu untuk bersedih sendiri kemarin.
Hah~ apa yang harus ia lakukan dengan gadis seperti Yamanaka Ino sebagai sahabatnya ini?
Yamanaka Ino sendiri merasa ini semua terjadi karena mood swing yang parah membuat ia marah berapi-api kemudian menangis lembek di detik berikutnya. Namun yang jelas saat mata Sasuke melihat ke dalam aquamarinenya dan saat tangan besar itu membelai kepalanya, saat itu pula keteguhan Ino ketika mengadapi Sakura hilang bagai tersapu angin. Matanya semakin dan semakin berair. Sampai ia tak sanggup melihat Sasuke karena terlampau malu.
Hah~ apa yang harus ia lakukan dengan lelaki seperti Uchiha Sasuke sebagai sahabatnya ini?
.
.
.
TBC
A/N:
Jadi giniloh cerita putih abu-abu versi Mas Sasukey sama Mbak Ino, yang ngakunya cantik dari lahir HEHEHE munmaap kalo kurang puas(?)
Semoga suka yhaaa:*
Sekali lagi, maaf sudah menunggu terlalu lama :"))
Dan terimakasih buat yang masih setia baca fiksyen yang semakin lama semakin absurd ini HEHEHE. Ailafyuu~
PS: Jangan lupa jaga kebersihan, makan makanan bergizi, dan sebisa mungkin tetep #Dirumahaja ya manteman~
Sampai jumpa di chapter depan!
Skyzofrenia.
