Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning!OOC, Typo, Absurd, Abal, Receh, Garing, Bahasa tidak baku, First fic, NOOB. Maklumin. Don't like don't read.

Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Maaf menunggu lama. Muehehehe.


Sebelumnya..

Sudah berakhir. Semuanya sudah berakhir, Yamanaka Ino. Menangislah sampai tertidur lelap, kemudian bangun dan menjadi orang yang baru.

THE BRIDAL'S BRIDE

©Skyzofrenia

.

.

.

"Aku sudah tamat."

Kata seorang pria dengan lesu begitu memasuki pantry milik karyawan Uchiha Building sore itu, menghampiri gerombolan karyawan lainnya.

Iya, sore. Atasan tampan mereka baru-baru ini sering bekerja lembur, mengabiskan hampir sebagian waktu untuk membusuk di kantornya. Dan sebagai bawahan yang malang, tidaklah sopan untuk pulang sebelum sang bos pulang 'kan? Untung saja perusahaan membayar kesopanan mereka dengan pantas. Jadi meskipun beban kerja meningkat, rekening mereka juga jadi lebih gendut.

"Apa dosa yang kau lakukan kali ini?" Sahut wanita yang merupakan rekan kerjanya.

"Aku salah memasukkan takaran gula di kopi Uchiha-sama." Pria itu mengaku dosa kepada rekan-rekan kerjanya—salah. Rekan-rekan gosipnya.

Setelah kalimat itu jatuh, keheningan merayap di pantry secara tiba-tiba. Tak ada yang berbicara sepatah katapun, bahkan suara tarikan napas bisa terdengar jelas. Wajah pucat menyebar satu demi satu.

Hening selama lima menit, kemudian wanita lainnya membalas dengan mencicit, "Tamatlah sudah."

Pria 'pendosa' itu membenturkan kepalanya di meja. "Apakah sudah waktunya bagiku untuk menulis surat wasiat?"

Rekan-rekan gosipnya tak ada yang berani menjawab lagi. Hanya sesekali menepuk pelan punggungnya tanda menguatkan. Mereka semua tahu apa konsekuensi terburuk yang kemungkinan akan terjadi. Setiap hari bisa menjadi hari terakhir bekerja bagi mereka-mereka para 'pendosa', walau dosa yang mereka tanggung bisa sangat tidak masuk akal samasekali.

Dua hari yang lalu, Uchiha-sama memecat seseorang hanya karena lupa menutup pintu setelah keluar dari ruangannya. Sungguh konyol, namun itulah yang terjadi. Sekarang para rekan-rekan gosip itu sedang berunding lewat tatapan tentang menyiapkan hadiah perpisahan pada rekan 'pendosa' nya itu.

Firasat semua orang menjadi kenyataan ketika seorang rekan kerja mereka yang adalah asisten sekretaris Uchiha-sama datang memasuki pantry dengan dalih memanggil pria 'pendosa' itu. Kemudian rekan-rekan gossip itu mengantar kepergiannya dengan berat hati.

Seluruh penghuni Uchiha Building telah berada dalam situasi hidup dan mati ini selama kurang lebih satu bulan. Entah kejadian kiamat apa yang memicu Uchiha-sama sang bos tampan mereka hingga berubah menjadi raja iblis nyata sebulan lalu. Mereka hanya bisa mengasihani diri sambil berusaha membuat aura keberadaan mereka sendiri setipis mungkin setiap berada di sekitar sang raja iblis.

.

- The Bridal's Bride -

.

Sang raja iblis baru—Uchiha Sasuke saat ini tengah duduk berkutat di meja kerjanya. Dengan tangan kanan memegang pena hitam mengkilat, memberi coretan di setiap halaman berkas yang tengah ia baca. Sesekali alis nya mengkerut dengan mata menyipit tajam. Sungguh, jangan tanyakan auranya. Hanya dia yang bisa bernapas leluasa ditengah hawa pekat yang ia ciptakan sendiri.

Sudah genap sebulan ini ia jadi uring-uringan tak jelas. Semua tampak salah dimatanya. Semuanya.

Bahkan keluarga dekat pun ikut terkena imbas kelakuan buruknya. Sasuke menjadi orang yang sangat-sangat cerewet, mengkritik apapun yang mereka lakukan. Kemarin ia mencaci Itachi yang masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu selama seharian penuh. Membuat kakaknya itu hanya bisa mengelus dada meraih puing kesabaran yang tersisa. Semua orang terdekatnya tidak tahu hal buruk apa yang membuat Sasuke mendadak kehilangan kewarasan.

Tetapi semua jelas tahu bahwa hal itu terkait dengan satu-satunya wanita yang ada disisi Sasuke selain sang ibunda, Yamanaka Ino. Wanita itu berlibur—tepatnya menghilang sejak sebulan yang lalu. Ia hanya pamit berlibur namun kemudian mematikan semua akses komunikasi, membuat supaya tidak ada orang yang bisa menghubunginya kecuali dia sendiri yang menginginkan.

Mikoto yang cukup peka mengendus adanya pertengkaran antara calon menantu kesayangannya dengan anak bungsu buruknya. Namun karena menganggap pertengkaran di antara pasangan adalah hal yang lumrah, maka ia hanya bisa diam berpura-pura tidak tahu apapun sambil menunggu keduanya berbaikan.

Awalnya Sasuke tidak tahu apa yang membuatnya menjadi semakin sensitif. Ia hanya tahu bahwa Ino tengah berlibur dan melihat kejadian tempo lalu di halaman rumah Yamanaka mungkin ia hanya ingin mencari suasana baru, jadi ia berbaik hati dengan memberi wanita itu waktu.

Namun, satu minggu alias tujuh hari alias seratus enam puluh delapan jam adalah waktu maksimal yang bisa ia beri. Setelah melewati batas waktu yang ia tentukan secara sepihak telah berlalu tanpa ada perubahan berarti, tanpa kabar, tanpa berbagi sapa sekedar "Hai"—kewarasan Sasuke pun ikut berlibur. Mengomel, mengernyit, mencaci, dan menyebarkan aura buruk adalah keseharian utamanya dalam tiga minggu ini. Ia agaknya menularkan rasa frustasi kepada orang-orang didekatnya.

Merasa semakin kesal dengan berkas-berkas di tangannya, Sasuke melemparkan kertas beserta pena malang itu di sudut pinggir meja. Merenggangkan tubuhnya yang kaku entah berapa jam duduk tanpa bergerak, ia berjalan mendekati kaca besar yang memperlihatkan pemandangan malam jalan-jalan Konoha—kemudian berdiri disana dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, lagi.

Ia sadar bahwa hubungannya dengan Ino bisa dibilang rumit. Mereka berpacaran hanya untuk tujuan masing-masing. Namun lambat laun ia ikut tenggelam dalam perannya menjadi kekasih Yamanaka Ino, dan ia rasa Ino pun sebaliknya. Sampai Haruno Sakura kembali muncul, ia merasa Ino sedikit berubah.

Sasuke sangat mengenal Ino. Wanita itu hobi menghilang tanpa jejak jika ada masalah yang mengusik hatinya dan hanya akan kembali ketika ia sudah 'baik-baik saja'. Sama seperti dulu ketika mereka masih di sekolah menengah. Tepatnya saat libur musim dingin. Dulu ia tidak tahu apa yang salah dengan Ino dan hanya beranggapan ia berlibur bersama orang tuanya.

Tetapi setelah ia pikir-pikir kembali, hal itu terjadi setelah ia memberi tahu bahwa ia dan Sakura berpacaran. Setelah kesimpulan liar itu ia temukan, semua menjadi jelas akan alasan kepergian Ino kali ini. Lagi-lagi karena Sakura. Sasuke menghela napas. Wanita bodoh yang sialnya adalah sahabatnya itu pasti salah paham akan kedekatannya dengan Sakura. Sialan. Yamanaka Ino bodoh. Dan ia bahkan lebih bodoh untuk terlambat menyadarinya.

Jika ia tahu bahwa hari ketika mereka berbicara di halaman Yamanaka adalah hari terakhir mereka bertemu, dia akan menolak mati-matian ketika Ino meminta putus dan mengurungnya di dalam kamarnya tanpa membiarkan dia pergi. Jika perlu memborgol tangan mereka berdua agar Ino bisa terus berada dalam pandangannya.

Sungguh, saat itu ia menyetujui keinginan Ino untuk mengakhiri hubungan karena sadar dalam hati bahwa hubungan mereka telah salah sejak awal, jadi ia setuju untuk putus sementara sebelum mendekatinya kembali dengan benar dan secara tulus. Namun hal itu justru malah membuat Ino-nya kabur dari cengkeraman tangannya. Sasuke merutuki milyaran sel otaknya yang bodoh.

Sekarang, bahkan jika ia membedah seluruh negara hingga gang tersempit sekalipun ia yakin bahwa Ino tak akan ditemukan. Kecuali wanita itu sendiri yang muncul lebih dahulu.

.

.

.

Ting!

Notifikasi sederhana dari ponselnya membuat Sasuke sadar dari lamunannya.

Sebuah pesan dari Mikoto. Tidak ada kata, hanya sebuah gambar tangkapan layar yang diambil sang ibu saat sedang melakukan panggilan video. Yang membuat Sasuke mematung adalah sosok pirang yang berada di tangkapan layar itu. Calon kekasih nakalnya yang tengah asyik bermain petak umpet. Yamanaka Ino! Wanita itu sudah mulai membuka akses komunikasi!

Jempol Sasuke tanpa sadar gemetar mencari kontak Ino kemudian terburu-buru menekan tombol hijau.

'Nomor yang anda tuju sedang sibuk—"

Kami-sama. Ingin rasanya Sasuke membanting ponselnya, namun ia tahan sekuat tenaga. Bernapas banyak untuk meredakan detak jantungnya dan meraih kembali kewarasan yang telah berlibur cukup lama, ia kembali ke gambar tangkapan layar Mikoto—mencoba mencari petunjuk sekecil apapun yang tak sengaja tertangkap. Ayolah sel otak, saatnya untuk bekerja!

Memandangi satu gambar membutuhkan waktu limabelas menit penuh sebelum kernyitan Sasuke hilang. Mata menyipit tajam digantikan dengan binar nakal dalam sekejap. Tergesa meraih interkom yang tersambung langsung dengan sekretarisnya yang ia yakin pasti masih setia di tempat.

"Pesankan tiket ke Kiri penerbangan paling cepat. Sekarang juga."

Tanpa menunggu sahutan balik, ia memutuskan secara sepihak. Sasuke tersenyum kecil bangga akan pencapaian otak jeniusnya, kemudian digantikan dengan seringai mematikan—namun kata yang terucap dari bibirnya sungguh kontras.

"Yamanaka Ino, tamat riwayatmu." Kata-kata eksekusi dari raja iblis namun diucapkan dengan nada yang memanjakan sambil meraih kunci mobilnya kemudian berlalu pergi dari ruangan dingin nan mencekam tersebut.

.

.

.

TBC


A/N: Ino udh physical distancing malah disamperin sm Sasuke hmmm tyda patuh protokol nih.

BTW BTW BTW Sementara Mbak Ino nongolnya via skrinsyut dulu yhaa HEHEHE

Buat yang masih setia menunggu cerita ini, Sky kecupin satu-satu :*

Walau masih banyak cacat di sana sini, tapi SEMOGA SUKAAA 3

.

.

PS. Next nya gaakan lama kok. HEHEHE See u next (last) chapter~

Sign,

Skyzofrenia.