Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning! OOC, Typo, Absurd, Abal, Receh, Garing, Bahasa tidak baku, First fic, NOOB. Maklumin. Don't like don't read.
Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur.
Sebelumnya..
"Yamanaka Ino, tamat riwayatmu." Kata-kata eksekusi dari raja iblis namun diucapkan dengan nada yang memanjakan sambil meraih kunci mobilnya kemudian berlalu pergi dari ruangan dingin nan mencekam tersebut.
THE BRIDAL'S BRIDE
©Skyzofrenia
.
.
.
Cuaca Kiri yang sedikit lebih rendah dari Konoha membuat Yamakana Ino mengeratkan hoodienya sambil menikmati sarapan sederhana di kedai kopi seberang hotel tempat ia menginap. Awalnya Ino hanya ingin bersantai di ranjang seperti yang selalu ia lakukan sejak tiba di Kiri tepat sebulan yang lalu. Namun ketika Tenten menyebut pipinya terlihat lebih bulat tadi malam ketika mereka melakukan panggilan video, ia memutuskan untuk berolahraga tepat setelah ia membuka mata tadi pagi.
Dan disinilah ia sekarang, menikmati caramel macchiato bersama dengan sepiring roti isi telur ditemani aroma biji kopi di sekelilingnya yang membuat ia betah. Ponselnya tidak berhenti berbunyi dari kemarin sejak ia memutuskan untuk membuka kembali jalur komunikasinya.
Hal pertama yang ia lakukan adalah tentu saja menghubungi Ibu Negara nomor 1 dan nomor 2. Alias sang ibu, Nyonya Yamanaka dan Nyonya Uchiha kesayangannya. Kemudian setelah menghabiskan berjam-jam mendengarkan omelan dari masing-masing wanita kesayangannya, Ino beralih menelpon Tenten. Hanya sekedar melepas rindu sejenak, kemudian berlanjut ke urusan pekerjaan. Untung saja ia memutuskan untuk tidak menerima proyek besar setelah acara Uchiha bulan lalu. Jika tidak, sudah pasti Ino tidak akan bisa berlibur sebulan penuh tanpa beban seperti sekarang.
Jangan tanyakan apakah ia sudah menghubungi Sasuke atau belum. Jawabannya adalah sudah. Tapi pria sialan itu mematikan ponselnya semalam! Grrrrh! Jangan salahkan ia karena tidak menghubunginya. Biar saja lah, mungkin sedang sibuk bersama Sakura.
Memikirkan Sasuke dan Sakura yang kembali bersama membuat batin Ino sedikit ngilu. Bahkan setelah satu bulan menyendiri, perasaannya masih belum hilang sepenuhnya. Mereka hanya sedikit lebih 'terkendali'. Tak apa, ia akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu dan kembali normal. Kembali menjadi sahabat Sasuke yang baik dan selalu ada disampingnya. Bisa tersenyum bahagia dengan siapapun sahabatnya akan bersanding nanti.
Mungkin jika ia memberi waktu bagi dirinya sendiri untuk 'pulih' sedikit lebih lama lagi, ia yakin perasaan bodohnya akan menghilang sepenuhnya. Tetapi satu bulan adalah waktu yang cukup lama, sudah saatnya ia kembali ke realita. Ino hanya bisa membiarkan dirinya pulih diam-diam walaupun itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ino menghela napas, menghabiskan tegukan terakhir kemudian meraih tas kecilnya dan melenggang keluar dari kedai kopi ke tujuan utamanya—pusat kebugaran.
.
- The Bridal's Bride -
.
Matahari sudah sedikit tinggi ketika Yamanaka Ino selesai berolahraga. Kaki rampingnya berjalan menyusuri trotoar sambil jemarinya mengetik sesuatu di ponsel, membalas beberapa pesan dari teman. Sekarang hampir semua teman dan kerabat Ino—bahkan Sai, tahu dimana wanita itu berada, kecuali satu orang. Sahabatnya yang juga merangkap sebagai—ahem, mantan pacarnya alias Uchiha Sasuke. Ponsel pria itu masih tidak bisa di hubungi ketika Ino mencoba memanggilnya kembali satu jam lalu, yang membuat Ino jadi jengkel setengah mati. Ia bahkan berniat untuk tidak akan menghubungi pria itu sampai ia kembali ke Konoha.
Ketika ia sudah memasuki lobi hotel, mata biru nya menangkap sosok familiar yang sedang duduk di salah satu sofa. Ino mengerjab sejenak, mengerjab beberapa kali meyakinkan diri jika ia tidak sedang berhalusinasi. Merasakan pandangan aneh Ino, pria itu menoleh membalas tatapannya. Namun hanya sekilas, karena pria itulah yang terlebih dahulu memutus kontes tatap-menatap mereka.
Nah, lihat 'kan? Sudah pasti ia berhalusinasi. Tidak mungkin pria itu ada di sini. Kau bahkan belum bisa menghubunginya, bagaimana ia bisa tahu kau ada disini? Idiot. Batin Ino mencela diri sendiri sambil berjalan linglung menuju lift berada. Terlalu tenggelam dalam pikiran sampai wanita itu tidak sadar bahwa pria yang tadi beradu tatap dengannya sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Sudah puas bermain petak umpetnya?"
Ino mendongak hanya untuk bertemu tatap dengan obsidian hitam pekat yang memandangnya intens. Wanita itu kaget setengah mati. Loh. Jadi itu benar-benar 'dia'? Apa yang terjadi? Sejak kapan pria itu ada disini? Bagaimana bisa? Bukankah tadi hanya halusinasi? Bibir Ino lengket tak bisa mengucapkan kata-kata.
"S—suke?" Menjawab pertanyaan pria itu dengan pertanyaan. Nadanya bahkan mencicit bagai kucing yang ketahuan mencuri ikan, semakin membuat mata hitam itu mengkilat tajam. Hening, ia sengaja tak menyahut. Hanya membiarkan wanita itu memikirkan sendiri dosa macam apa yang telah ia perbuat.
Ting!
Suara lift menginterupsi mereka berdua. Ino yang kehilangan sejenak kemampuan berbicara pun hanya diam ketika kakinya kikuk melangkah memasuki lift, dengan Sasuke masih mengikutinya! Jika saja tatapan bisa membunuh, sudah pasti kepala Ino telah lepas dari lehernya beberapa saat lalu. Atau setidaknya obsidian itu tengah berusaha melubangi punggungnya.
"Um...Suke?" Panggil Ino sekali lagi, berusaha memecahkan keheningan mencekam di kotak besi itu. Wanita itu memelas, semoga ia tidak mengidap kalustrofobia setelah ia keluar dari lift ini.
"Hn."
Jutek sekali. Batin Ino serba salah—Tahan.
Kenapa ia harus merasa bersalah? Seingatnya, Ino tak melakukan kesalahan apapun! Apa karena tidak memberinya kabar lebih dulu? Ia sudah mencoba menghubungi pria ini berkali-kali, tapi siapa suruh ponselnya mati? Grrh—jelas dia yang salah, kenapa malah berbalik marah kepada Ino? Dia yang salah! Berbekal pemikiran ini, Ino mendapat keberanian entah dari mana untuk balik memelototi Sasuke.
Sasuke yang tiba-tiba dipelototi, semakin menyebarkan aura buruk yang membuat Ino menciut seketika. Aquamarine itu menangkap setelan yang masih melekat pada tubuh tegap di hadapannya. Perjalanan bisnis? Tapi kenapa terlihat lusuh begitu? Dasinya sudah tidak rapi sama sekali. Ino pun refleks mengangkat kedua tangan rampingnya untuk membenarkan letaknya agar terlihat lebih rapi. Dan untungnya Sasuke membiarkan tangan lancangnya bertindak.
"Klien akan kabur jika melihat penampilan lusuhmu sekarang." Ino menggerutu bagai ibu tua memarahi anaknya.
"Siapa bilang aku ingin bertemu klien?"
'Eh? Lalu untuk apa kau pakai setelan kerja di pagi hari, idiot? Belanja sayur?'. Tentu saja Ino hanya berani berucap dalam hati.
"Err—perjalanan bisnis?" Jawab Ino seolah mempertanyakan pemikirannya sendiri.
Sasuke hanya melempar pandangan 'dasar idiot' yang membuat Ino menelan kembali gerutuannya.
"Berkat seseorang, aku terpaksa harus naik pesawat melintasi pulau tanpa ada kesempatan untuk istirahat."
Uhuk. Jadi bukannya ia serajin sampai memakai jas di pagi hari, tetapi memang belum sempat berganti pakaian? Pantas saja lusuh. Masih menjadi misteri bagaimana Sasuke bisa menemukannya tanpa ia harus memberi tahu. Apapun itu, pria itu sudah berdiri tepat di depannya. Ya sudahlah, pasrah saja.
Ting!
Pintu lift terbuka tepat di lantai dimana kamar Ino berada. Sasuke tentu saja mengekor seperti anak ayam bahkan ketika wajahnya masih memasang raut jutek. Ino hanya bisa diam. Sampai ketika ia sampai di depan pintu bertuliskan 203. Ia berbalik menatap Sasuke.
"Kamarku disini. Dimana kamarmu?"
"Tidak reservasi"
"Bagaimana bisa? Kemarikan dompetmu, akan kubantu reservasi."
"Tertinggal di kantor." Jawab pria itu enteng.
Ino menganga. Tak kehabisan akal, tangan Ino mengadah. "Ponsel"
"Habis baterai." Sambil menunjukkan benda persegi yang layarnya hitam sepenuhnya dengan santai seakan ponsel berlogo buah di belakangnya itu tidak lebih berharga dari gantungan kunci.
ASDFGHJKL—buang saja Ino di rawa-rawa. Koper tak bawa, pakaian hanya yang melekat di tubuh, dompet, kartu identitas, bahkan ponsel mahalnya mati tak ada bedanya dengan batu jalanan. Untung saja ia tampan. Jika tidak, sudah pasti pria ini akan menjadi gelandangan di jalanan Kiri malam ini.
Ino tak punya pilihan lain, anggap saja ia ikut bertanggung jawab. Dirogohnya kartu pass dari tas kecil yang ia bawa. Setelah pintu itu terbuka, pria itu dengan leluasa melenggang masuk seolah dialah pemilik kamar tersebut sedangkan Ino yang bertamu. Melempar jas dan dasinya dengan asal ke sofa kemudian menyambungkan ponselnya ke pengisi daya milik wanita itu yang kebetulan sama dengan miliknya, lalu membiarkan tubuhnya tumbang di kasur yang menemani Ino selama sebulan ini.
Ino yang menyaksikan tingkah tidak tahu diri sahabatnya, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membereskan jas beserta dasi yang teronggok malang di sofa. Tangan rampingnya mengambil handuk serta baju ganti untuk dibawa masuk ke kamar mandi, tubuhnya sudah lengket dan membuat ia tak nyaman. Membiarkan penguasa kamar yang baru datang—Sasuke, berbaring dengan sebelah lengan menutupi wajah bertamasya ke alam mimpi.
.
- The Bridal's Bride -
.
Kedai kopi tempat Ino sarapan ternyata juga menyajikan menu makan siang, terbukti dengan ramainya tempat tersebut pada jam makan siang seperti sekarang ini. Hampir tak ada kursi kosong yang tersedia. Untung saja ia memilih untuk take away, mengingat ada pria yang sedang tidur di kamarnya. Memikirkan itu membuat Yamanaka Ino memuji kebaikan hatinya yang bersedia 'membesarkan' gelandangan seperti Sasuke—memberinya tempat berteduh serta makanan secara gratis. Sebaiknya pria itu membayarnya dengan baik setibanya mereka di Konoha. Jika tidak, Ino pasti akan menggunduli rambut hitam kebiruan yang selalu pria itu banggakan.
Tak butuh waktu lama untuk Ino mendapatkan apa yang ia pesan. Setelah membayar, wanita itu kembali ke kamar hotel tanpa ada niatan untuk mampir kemanapun. Hal pertama yang ia lihat ketika membuka pintu adalah Sasuke, dengan pakaian kasual yang entah ia dapat dari mana sedang berdiri di dekat balkon sambil menelpon seseorang. Samar Ino mendengar tentang urusan perusahaan. Pria itu melihat Ino kembali dengan beberapa kantung belanjaan berlogo biji kopi, kemudian memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Menyusul wanita itu yang telah duduk manis sambil mengeluarkan dua kotak makanan sederhana dan dua gelas es kopi.
Yamanaka Ino tidak tahu bahwa dirinya sendiri telah menyelamatkan nyawa puluhan karyawan Uchiha Building dengan 'menculik' raja iblis mereka. Para pekerja malang itu pasti tengah mengadakan syukuran saat ini. Tanpa menyadari penderitaan yang telah ia sebabkan kepada bawahannya, Uchiha Sasuke menikmati makan siangnya dalam diam.
.
- The Bridal's Bride -
.
"Ngomong-ngomong Suke, bagaimana kau tahu aku ada di sini?" Ino bertanya ketika mereka berdua bersantai menikmati pemandangan matahari terbenam di rooftop bar hotel tempatnya menginap. Dengan segelas limun dingin di tangannya, dan secangkir kopi untuk Sasuke. Ino selalu suka menghabiskan sore disini sejak hari pertama ia menginap.
Sasuke meletakkan cangkir espresso nya kemudian menunjukkan ponselnya yang menampilkan tangkapan layar dari Mikoto. Awalnya Ino tidak merasa ada yang aneh, sampai jari lentik Sasuke memperbesar gambar—tepatnya pada logo beserta nama hotel tempatnya menginap saat ini yang tidak sengaja tertangkap. Ino tertawa dangkal merutuki kecerobohannya.
"Umm, bagaimana kabar paman dan bibi?" Tanya Ino lagi, walaupun wanita itu baru saja menghubungi Mikoto kemarin.
"Mereka baik. Ibu masih cerewet setiap hari menanyakan keberadaanmu—" Kata Sasuke jengkel yang dibalas tawa renyah Ino.
"—Sakura juga menanyakanmu tempo hari." Ino perlahan berhenti tertawa, kemudian menjawab kering "Ah, katakan padanya untuk menemuiku di kantor setelah aku kembali"
"Hn. Buatkan aku gaun pengantin."
Hampir saja Ino tersedak air liurnya sendiri. Jantungnya berdetak kencang ketika ia bertanya gagap "Ap-apa?" Memastikan, takut jika ia salah dengar.
Sasuke memandangnya aneh, hanya sebentar setelah itu obsidiannya memberi atensi ke cairan hitam pekat kesukaannya. "Aku akan menikah, buatkan gaun pengantin." Pria itu berkata samar, dengan mulut yang tersembunyi di balik cangkir putih yang ia pegang.
Runtuh sudah. Yamanaka Ino merasa dunia nya runtuh sekali lagi, hanya untuk menyadari bahwa perasaan buruk yang tak pernah hilang itu kembali meluap tak terbendung. Hampir menenggelamkan kewarasannya detik itu juga. Mata Ino berkabut, membuatnya harus berkedip berkali-kali untuk menguatkan diri. Sial. tenggorokannya lengket, tak ada satupun kata yang bisa ia lontarkan. Jemarinya mengepal, mencegah gelas yang mendadak terasa berat itu agar tidak jatuh.
Ino menunduk, tidak membiarkan Sasuke melihat perasaan yang merembes perlahan dari matanya sedikitpun. Setelah menaruh gelas kaca ke atas meja sambil mengumpulkan kekuatan, Ino menjawab "Tentu, datanglah bersamanya ke kantor untuk pengukuran." Bersama Sakura. Wanita itu menggigit bibirnya ketika mendengar nada sumbang yang keluar dari dirinya sendiiri.
Sasuke merasakan ada yang salah dengan nada bicara Ino, namun ia diam saja. Tak ada yang berbicara, pun tak ada yang berusaha menghilangkan keheningan dingin di antara keduanya. Sepasang pria dan wanita dewasa itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing hingga beberapa waktu.
.
- The Bridal's Bride -
.
"Suke, aku akan kembali ke Konoha besok pagi" Ino yang telah membisu begitu lama, memutuskan untuk mengutarakan pikirannya. Mereka tengah berada di koridor tempat kamar Ino berada. Hanya beberapa langkah lagi menuju pintunya tetapi jarak yang ia tempuh terasa sangat panjang, Ino tidak sabar untuk segera meringkuk diatas kasur dan menangis sejadi-jadinya.
Sasuke kaget. Menghentikan langkahnya, yang membuat Ino ikut berhenti. "Kenapa mendadak?" tanyanya bingung. Ia baru beristirahat sebentar, kenapa wanita ini kembali mengajaknya berlarian?
Yang ditanya hanya memberi tawa sebagai jawaban. "Aku sudah berlibur terlalu lama, saatnya kembali bekerja."
Uchiha Sasuke jengkel mendengar respon Ino yang terkesan masa bodoh. Kemudian kejengkelan itu berubah menjadi marah ketika mendengar kalimat yang dilontarkan wanita itu selanjutnya.
"Kau bisa datang bersama Sakura untuk membicarakan detail pernikahan di kantorku besok lusa. Tenang saja, aku tidak akan mengecewakanm—" Belum sempat Ino menyelesaikan kalimat bunuh diri itu, bibirnya sudah dibungkam oleh Sasuke.
Otak Ino kosong seketika. Semua kata-kata kembali tertelan ke kerongkongan. Yang bisa ia rasakan hanya usapan 'marah' dari bibir lembut Sasuke di bibirnya. Ketika Ino sadar kembali, Sasuke masih melumat bibirnya kasar seakan ingin menelan dirinya dan seluruh kalimat yang akan keluar. 'Tidak, ini tidak benar'. Wanita itu berusaha menjauhkan diri namun gagal karena lengan Sasuke yang memenjarakannya dalam pelukan.
Ino sudah akan menangis menyalahkan tubuhnya sendiri yang dengan munafiknya malah menerima perlakuan tak tahu malu Sasuke, pria yang sekarang mencumbunya paksa namun akan menikahi wanita lain di kemudian hari.
Plak!
Sasuke merasa telinganya berdengung tiba-tiba menghentikan sejenak ciumannya pada wanita itu. Ino menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari pelukan pria itu yang seolah sadar akan tindakannya. "Ino—maaf" ujarnya lirih tidak perduli pipi kirinya yang panas. Tatapannya tampak menyesal yang membuat Ino semakin marah—tidak. Lebih tepatnya kecewa.
'Maaf? Jadi dia menyesal telah menciummu, ketika kau jadi satu-satunya orang yang menikmatinya? Haha—Kau jalang, Ino'
Pemikirannya sendiri membuat Ino mempertanyakan harga dirinya. Tak kuat, Ino berkata diantara isakan yang ia tahan sekuat tenaga. "Aku akan berpura-pura kita tidak pernah bertemu. Sampai jumpa." Setelah mengatakan itu, Ino berlari masuk ke kamarnya dengan terburu-buru. Meninggalkan Sasuke yang mematung berusaha mencerna kalimat yang Ino lontarkan. Ketika ia tersadar, dirinya sudah menjadi satu-satunya orang di koridor sunyi tersebut. Tubuhnya refleks bergegas ke depan pintu Ino, mengetuknya berkali-kali, sampai kedua tangannya mari rasa sambil memanggil nama Ino berkali-kali. Tetapi pintu dingin itu masih berdiri sombong tak terusik seolah mengejeknya.
Yamanaka Ino, wanita yang dipanggil sedari tadi sudah merosot jatuh tepat ketika kakinya menginjak lantai kamar. Duduk bersandar di pintu yang berguncang tak ada habisnya sambil terisak. Hancur sudah. Semua pertahanan dirinya yang ia bangun mati-matian selama sebulan sudah runtuh tak tersisa. Ia membiarkan perasaannya lolos lagi, dan membiarkan dirinya jatuh babak belur sekali lagi.
Setelah satu jam duduk meringkuk tanpa bergerak, tubuh ringkih Ino berdiri perlahan, menuju tenpat dimana ia terakhir kali meninggalkan ponselnya. Jemari itu menekan ikon pemesanan tiket pesawat online kemudian mencari tiket kembali ke Konoha paling cepat. Menunggu pagi pun sudah tak kuat, biar saja ia kembali malam ini. Kemudian setelah mendapatkan tiket, Ino menuju barang-barangnya untuk berkemas. Dua jam lagi pesawat terakhir akan lepas landas, ia harus bergegas.
.
- The Bridal's Bride -
.
Tak terhitung berapa kali lengannya berusaha mengetuk dan mendobrak pintu itu sampai seluruh tubuhnya mati rasa, Sasuke tidak berhenti. Ia merasakan urgensi untuk segera menjelaskan perilakunya kepada Ino. Ia harus meminta maaf karena mecium wanita itu tanpa persetujuannya, tanpa mengatakan isi hatinya terlebih dahulu. Raut wajah kesakitan Ino masih melekat dalam pandangan Sasuke, dan itu sangat mengganggunya. Wanita bodoh itu suka menyimpulkan seenaknya sendiri, ia yakin pasti Ino sedang berpikiran macam-macam sekarang. Karena itulah Sasuke memutuskan untuk berdiri diam menunggu di depan pintu, bahkan semalaman pun ia akan terus menunggu.
Hingga terdengar pergerakan dari benda persegi itu diikuti suara menandakan pintu telah terbuka, tanpa banyak berpikir, Sasuke membawa tubuhnya masuk seolah pintu itu akan kembali menutup selamanya di detik berikutnya. Hanya untuk menemukan Yamanaka Ino, dengan pipi basah dan koper besar di sisi tubuhnya menatapnya dengan terkejut.
Sudah dia duga, wanita ini akan mencoba kabur tepat dibawah hidungnya jika ia tidak waspada. Beruntung ia tetap menunggu, jika tidak—Sasuke tidak berani membayangkan betapa melelahkannya permainan petak umpet yang wanita itu mulai.
"K—kenapa kau masih disini?" Oh tidak, suara parau itu sungguh terdengar sumbang di telinga sensitif Sasuke.
"Kemana kau akan pergi? Mencoba kabur lagi?" Sasuke menggertakkan giginya merebut koper dan menjauhkannya dari jangkauan Ino, menggagalkan upaya wanita itu untuk pergi sekali lagi. Mereka perlu bicara.
Mata Ino kembali berkabut, ia tidak tahan lagi. "Cukup Suke, aku tidak akan pergi jauh. Hanya beri aku waktu untuk berpikir tenang. Kumohon."
Sasuke tetap diam, ia lebih memilih membiarkan wanita itu meluapkan apa yang ia pendam sampai masalahnya—masalah mereka berdua terselesaikan.
Tak ada sahutan dari pria itu membuat Ino hanya bisa melanjutkan kalimatnya, "Ada yang salah denganku, tolong beri aku waktu untuk memperbaikinya. Aku janji akan kembali, menjadi sahabat yang baik yang akan selalu ada disampingmu." Semakin lama semakin memelas. "Kumohon?"
"….Aku tidak ingin menjadi sahabatmu lagi."
"H—hah?" Ino terdiam mematung, seluruh tubuhnya bagai disiram air dingin. Matanya membola, kemudian tersenyum getir mencela dirinya sendiri. Yah, anggaplah ini sebagai konsekuensi dari perasaan terlarangnya. "Baiklah, aku janji tidak akan muncul di depanmu lagi di masa depan. Selamat tingg—"
Belum sempat kata perpisahan Ino selesai terucap, ia didorong paksa menuju tembok dan untuk kedua kalinya bibir bengkak itu dibungkam dalam ciuman. Kali ini Sasuke lebih kasar dari yang sebelumnya. Seakan ia mencurahkan semua kemarahan dan kekesalannya lewat bibirnya. Kedua lengan Ino seakan serapuh kertas ketika dihadapkan dengan tubuh tegap Sasuke.
Ketika Ino hampir pingsan kehabisan napas, Sasuke dengan enggan melepaskan tautan mereka. Membuat tubuh lemas wanita itu jatuh pasrah dalam pelukannya, yang disambut erat oleh lengan Sasuke. Ino terengah, namun sialnya Sasuke tidak.
"Aku tidak ingin kita menjadi sahabat selamanya." Kalimat Sasuke berhasil membuat Ino mendongak, memperlihatkan bibir merahnya yang membengkak basah nan indah. Lembut. Tak tahan, Sasuke kembali melumatnya. Kali ini lebih lembut. Tampaknya Sasuke telah menemukan favorit barunya yang ia yakin tak akan pernah membuat ia bosan. Sasuke tiba-tiba menyesali masa mudanya yang terbuang percuma. Jika Sasuke tahu rasa bibir Ino akan seenak ini, sudah pasti ia akan menciumnya sejak dulu. Sahabat? Persetan!
Ino dengan sisa kekuatannya berhasil menghentikan ciuman Sasuke, membuat pria itu menggerutu kesal karena kegiatannya diganggu.
"Apa maksudmu Suke?" Ino bertanya tak mengerti. Seluruh sel otaknya membeku akibat serangan Sasuke yang bertubi-tubi.
"Aku mencintamu, bodoh. Bagaimana bisa aku tahan menjadi sahabat selama sisa hidupku?"
Bibir Ino sedikit terbuka karena terkejut, menyebabkan Sasuke gemas mencuri beberapa kecupan. Hanya berhenti ketika mulutnya disegel oleh telapak tangan Ino, yang kembali membuatnya menggerutu jengkel. Ino pun tak kalah jengkel. Setidaknya biarkan dia selesai berbicara dulu! Grrhh!
"Sakura? Bagaimana dengannya? Bukankah kalian akan menikah?" Ino melontarkan pertanyaan besar yang bersarang di kepalanya. Sekaligus ketakutan terbesarnya.
Sasuke memandangnya aneh, menjauhkan tangan yang menutup mulutnya sambil menjawab. "Siapa bilang aku akan menikah dengannya? Idiot."
Ino semakin tak mengerti. 'Bukankah…bukankah tadi ia bilang akan menikah? Apa ia salah sangka? Tunggu. Kalau bukan dengan Sakura—lalu dengan siapa?'
Tak butuh seorang jenius untuk mengetahui isi pikiran Yamanaka Ino saat sudah tergambar jelas di seluruh raut wajahnya. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi Sasuke kembali melumat benda favoritnya itu. Biarkan tindakan yang menjelaskan segalanya. Yamanaka Ino, yang awalnya kewalahan pun lama kelamaan ikut berperan aktif dalam ciuman mereka kali itu.
Kiss and Make Up 'eh?
.
- The Bridal's Bride -
.
Entah bagaimana mereka berdua berakhir di sofa, dengan Yamanaka Ino duduk di pangkuan Uchiha Sasuke dan memeluknya bagai koala. Hmm seperti Déjà vu. Bibir keduanya membengkak merah, Ino dengan wajah basah namun kali ini dengan rona bahagia. Saling bersandar tanpa bertukar sepatah kata pun. Hening, namun menenangkan. Nyaman.
Hampir saja Ino jatuh tertidur jika Sasuke tidak memecah keheningan. "Sudah tidak ingin kabur lagi?"
Yamanaka Ino, yang berada di pangkuannya itu mengerutkan wajah. Sial, Ino harus merelakan tiket pesawat yang terbang sia-sia. "En, lima menit lagi aku akan kabur. Jangan mencegahku." Lain di mulut lain di hati, tangan rampingnya malah semakin mengeratkan pelukan koala nya sambil mengubur wajahnya di leher Sasuke. Menyebabkan sang induk koala menyeringai senang. Sasuke tidak bisa menahannya lagi. Harus dikatakan sekarang—
"Menikahlah denganku, Yamanaka Ino."
Sasuke yang lega telah mengungkapkan lamarannya, bisa merasakan tubuh wanita di pelukannya membeku. Namun tidak memberinya respon seperti yang ia harapkan, hanya diam. Hingga membuat Sasuke was-was entah kenapa. Apa terlalu mendadak? Apa karena ia lupa membawa cincin? Ugh, Sasuke merutuki kebodohannya sendiri.
"Ino..?"
Tanpa peringatan Ino melonggarkan pelukan mereka, kemudian bergerak untuk mencium Sasuke lebih dulu—memberikan elemen kejut pada pria itu sesaat. Hanya sesaat, kemudian Sasuke membalasnya dengan senang hati. Menganggap ciumannya sebagai jawaban 'YA' besar dengan huruf kapital, ia tidak akan membiarkan wanita itu lolos dengan mudah. Lagipula Ino duluan yang memulai, dan Sasuke tidak berniat untuk melepaskannya begitu saja. Di angkatnya bayi koala di pangkuannya menuju ke kasur besar tanpa melepaskan tautan mereka.
Pada akhirnya, petak umpet itu dimenangkan oleh Uchiha Sasuke. 'Saatnya menikmati hadiah bagi pemenang, dan hukuman bagi yang kalah'. Batin Sasuke menyeringai.
.
.
.
FIN
A/N: [WARN! Long Note]
AKHIRNYA TAMAT JUGAAA /tebar bunga/
Sky mau ngucapin terimakasih banyak buat manteman sekalian yang setia ngikutin cerita ini dari awal sampe akhirnya tamat, sekaligus yang selalu kasih support Sky buat terus belajar dan berkembang di dunia perfiksyenan.
Jujur ini fiksyen pertama, masih banyak cacat di sana sini. Mohon maklum ya HEHEHE.
Butuh keberanian besar buat memulai sebuah karya. Tapi butuh keberanian yg lebih besar lagi buat tetap melanjutkan sampai tuntas.
Buat kamu-kamu yang ingin mencoba nulis tapi masih nyaman di zona membaca, gapapa #MulaiAjaDulu
Kamu gak akan tahu potensi diri kalau belum mencoba 'kan?
Yuk, ramaikan arsip Mbak Ino bareng-bareng!
Sampai jumpa di project selanjutnya~
Kecup manja,
Skyzofrenia.
OMAKE
.
.
.
"Sudah kubilang. Mempelai pria dan wanita tidak boleh bertemu sebelum pemberkatan, Suke! Bisa membawa nasib buruk! Shuh shuh~" Yamanaka Ino melambaikan tangannya yang berbalut renda brokat putih ke arah Sasuke.
Pria itu terlihat seribu kali lipat lebih tampan dengan setelan jas formal. Jika saja ada kuda putih berdiri di sampingnya, sudah pasti semua orang menganggapnya pangeran yang keluar dari buku dongeng. Namun pangeran gadungan ini tidak se-kalem yang ada di dongeng. Pangeran ini sangat-sangat serampangan dan bertindak semaunya sendiri. Butuh serangkaian bujukan agar bisa meyakinkan Uchiha Sasuke untuk meninggalkannya sendirian di ruang tunggu mempelai wanita, setelah Ino dengan mati-matian berusaha mencegahnya merusak riasan—terutama lipsticknya.
Ino tidak tahu sejak kapan pria yang akan naik pangkat menjadi suaminya dalam satu jam ke depan itu menjadi sangat kekanakan. Oh, dan mesum. Memikirkannya saja membuat pipi Ino memerah panas. Wanita itu berusaha menutupi wajahnya dengan veil, seakan kain transparan itu bisa menyembunyikan rona merahnya dengan sempurna. Cih. Ino merasa geli dengan dirinya sendiri yang bertingkah seperti remaja puber.
"Ino, sudah saatnya."
Wanita itu mendongak, menyambut uluran tangan sang ayah. Mengantar sang putri satu-satunya menuju kebahagiaan. Ino bisa melihat mata merah kepala keluarga Yamanaka itu yang sungguh kontras dengan senyum bahagia di bibirnya.
Puluhan pasang mata seakan mengebor di setiap langkah yang Ino ambil melewati jalan setapak penuh kelopak bunga. Setelah bertahun-tahun merancang kebahagiaan pasangan lain, tiba saatnya ia merancang kebahagiaanya sendiri. Pernikahannya. Dilihat raut wajah orang-orang terdekatnya. Ah—ternyata ini bukan hanya kebahagiaanya sendiri. Melainkan juga kebahagiaan mereka. Ino hampir tak bisa menahan tangis ketika melihat kedua ibu Negara nya menangis haru.
Ia hanya bisa mengalihkan pandangannya, ke sosok tepat di ujung jalan berbunga ini. Melihatnya begitu khusyuk mengawasinya, bahkan setelah pria itu telah menyusup diam-diam menemuinya satu jam yang lalu membuat senyum kecil terbit di bibir Ino. Ketika Ino sampai di depan altar, Yamanaka Inoichi dengan enggan melepas genggaman Ino dan menyerahkannya kepada Sasuke. Ayah yang bangga itu berbisik di telinga Ino, "Berbahagialah, tuan putri." Membuat bibir Ino gemetar.
Dengan mata berkaca-kaca dibalik kain transparan itu, Ino menjawab dengan percaya diri. "Tentu. Terimakasih Ayah." Setelah bertukar senyum dengan ayahnya yang kembali ke tempat dimana keluarga berkumpul, Ino berganti menatap Sasuke sambil menyambut uluran tangannya yang hangat nan kokoh mengantar mereka berdua maju beberapa langkah ke depan.
"Selamat atas kenaikan pangkatmu, Tuan Uchiha."
Sasuke menyeringai. "Selamat untukmu juga, Nyonya Uchiha."
Dan begitulah, status partner in crime mereka naik pangkat menjadi partner in life.
.
.
.
END.
