"Sudah bulan November, ya?"

"Uhm. Sudah November ..."

Udara musim gugur yang dingin menerbangkan dedaunan kering di sekitar. Kenji membenarkan letak syal yang melilit lehernya, menghalau dingin yang lumayan bisa membuat tulang seolah beku—beberapa pekan lagi Desember tiba dan mengawali musim dingin, pasti ini yang jadi penyebab udaranya lebih dingin ketimbang bulan lalu.

"Mitsu-san masih lama, kah?"

Di sebelahnya, Chuuya mengangkat bahu.

Mereka berdua—sebetulnya bertiga, namun Takamura Koutarou yang tadi bersama mereka kembali ke dalam perpustakaan buat beberapa menit—masih duduk di salah satu kursi taman belakang perpustakaan. Mendiskusikan ide untuk puisi baru Takamura, begitu awalnya tujuan mereka berkumpul—namun jadinya obrolan mereka malah ngalor ngidul, dan udara yang makin dingin membuat Takamura berinisiatif masuk sebentar, ke dapur untuk membuat cokelat panas buat bertiga. "Masih siang, jangan mabuk dulu, Chuuya-san." Kata Takamura ketika Chuuya protes ingin minum sake, sebelum dia betulan pergi.

"Chuuya-kun juga mau menulis puisi?" Kenji memilih membuka topik baru, sejak rasanya mereka makin hening.

Chuuya menggelengkan kepalanya. "Entahlah," ucapnya, sebelum mengangkat bahu buat yang kedua kalinya. "Kenji-sensei sendiri, kau mau menulis dongeng? Atau puisi, mungkin?"

"Mungkin ..." Kenji mangut-mangut sendiri. "Aku ingin mencari ide yang cocok juga—mungkin nanti bisa sekalian diskusi dengan Mitsu-san."

"Begitu ..."

Lagi, hening. Takamura tak kunjung kembali, dan udara rasanya mengalami penurunan suhu. Namun meski begitu, keduanya tidak ada yang mau beranjak. Di sana saja, setidaknya sampai Takamura kembali.

"November ..." Chuuya menggumam lagi.

Kenji menoleh. "Iya, November," jawabnya sambil tersenyum tipis.

Chuuya mengalihkan pandangannya, melirik kolam yang letaknya tak jauh di sebelah mereka. "Aku ... benci November, kurasa."

Kenji mengerjap. Butuh beberapa waktu untuk mencernanya, sebelum akhirnya penulis yang bereinkarnasi menjadi anak-anak itu memahaminya. "... Ah ..."

Kebahagiaan Nakahara Chuuya semasa hidup direngut pada bulan November, bulan penghujung musim gugur, membuat udara yang sudah dingin jadi semakin dingin.

"Aku ingin sekali melihatnya tumbuh besar, lalu mengantarnya ke sekolah pada musim semi," Chuuya menggumam lagi, pilu. "Fumiya—ya, dia pasti cocok kalau memakai seragam sekolah. Ah, menurutmu apa dia akan suka puisi juga?"

"Chuuya-kun ..." Kenji menatapnya.

"Sayang sekali, aku tidak bisa melihatnya lagi." Gelengan kepalanya seolah tidak mendengar Kenji yang barusan menyebut namanya. Chuuya masih bermonolog. "Tidak hari ini, besok, selamanya ... Oh, apa dia bertemu dengan adikku di sana? Ah, ya, mereka pasti akrab. Dia pasti menjaga Fumiya di sana ...

"Kan, Kenji-sensei?"

Yang ditanya mengangguk perlahan, ikut merasa sakit. Chuuya mengembuskan napas. "... Ya ..."

Lalu hening lagi. Udara lagi-lagi makin dingin, akan tetapi Takamura kembali tak berapa lama kemudian. Diskusi dilanjutkan dengan secangkir cokelat panas di tangan masing-masing, walau Takamura sadar ada yang aneh dari nada bicara Chuuya dan Kenji pada awal-awal obrolan—kendati, nada bicara keduanya kembali jadi seperti biasa setelah beberapa saat.

.

.

.

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

Alurnya lebih gampang dimengerti di kepalaku. Ini eksekusinya kenapa makin absurd ...