-NEO NAMIKAZE NARUTO-
Chapter 33 ~ Keinginan.
Rated : M+-:x
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Gaje, Abal, Typo(s), OC!, OOC, idenya pasaran(maybe), Lemon18+, Fic ini menyebabkan kematian dan bila anda beruntung anda hanya akan mengalami stroke itu bila anda membaca lemon padahal anda belum 18 tahun keatas^^v
Waktu membaca NNN pastikan ruangan terang dan jangan membaca terlalu dekat, dan siapkan cemilan yang enak ya yg banyak kalo bisa, dan jika sudah selesai membaca pejamkan mata dan gerakan mata reader ke atas, bawah, kiri, dan kanan supaya mata reader tetap sehat walhafiat.
Happy Reading!
Lucy Heartfilia, wanita muda dengan usia 18 tahun itu dengan perasaan senang sekaligus gembira milihat apa yang baru ia beli, yah meskipun harganya lumayan membuat dompetnya menipis tapi itu setara. Celana dan baju yang ia beli ini memang sudah menjadi incarannya, sudah sering ia melihat barang incarannya ini di banyak iklan yang membuatnya tidak tahan untuk tidak buru-buru membeli barang-barang tersebut.
Perlahan tangannya menerima kartu ATM yang di arahkan kepadanya. "Terimakasih nyonya, ini kartu ATM anda." Ucap petugas kasir berjenis kelamin perempuan itu memberikan kartu ATM tersebut kepada pemiliknya. Lucy pun tersenyum menanggapi petugas kasir itu.
Setelah meletakan kembali kartu ATM nya kedalam dompet, ia langsung mengarahkan jari-jarinya mengambil sebuah kantung plastik berwarna hitam yang berisi pakaian yang ia beli. Berjalan menjauh meninggalkan kasir pembayaran, ia berjalan keluar dari toko yg lumayan ramai dari pembeli. 'Setelah ini kemana ya?' Batin Lucy setelah ia puas berbelanja pakaian yang ia inginkan.
Tangannya memegang sebuah pagar pembatas di luar toko pakaian yang tadi ia masuki, ia menatap banyak sekali toko, ia bingung, dari lantai 3 ini ia dapat melihat banyak toko makanan, melihat itu ia menjadi lapar. Lalu ia putuskan untuk berjalan menuju salah satu tempat makan yg berada di dekat eskalator, sepertinya tempat makan itu lezat, terlihat dari ramainya pengunjung yang makan di tempat makan itu. Tapi baru saja hendak berjalan, mata caramel-nya menatap seseorang yang ia kenal.
Pria pirang dengan mata biru, ya pria itu sendirian dan juga membawa barang belanjaan meskipun tidak sebanyak dirinya. Pria itu mengenakan sebuah baju polo hitam, celana panjang berwarna krem cerah, sepatu cassual berwarna hitam juga dengan tiga garis berwarna marah putih dan biru, ya wanita tahu meskipun setelan Naruto sesederhana itu tapi harga dari setelan itu lumayan tinggi. Dirinya tersenyum menanggapi pria itu juga menatapnya, pria itu menghampiri dirinya. Jarak keduanya tidak terlalu jauh, ya karena pria itu baru saja keluar dari toko sepatu yang berada di samping tempat makan incarannya tadi.
Dengan ramah pria itu mengarah kan tangannya menyalami dirinya. Lucy pun juga mengarahkan tanganya menyabut salaman yang pria itu. Mata biru itu terlihat ramah, dengan terikan bibir yang membuat senyum kecil di wajah pria yang bisa di bilang tampan itu. "Apa kabarmu Lucy?" Tanya pria itu kepada dirinya.
"Tentu seperti yang kau lihat, aku baik Naruto." Dirinya tersenyum menanggapi pertanyaan pria yg bernama Naruto itu. "Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri Naruto? Dan sepertinya kau baru saja keluar dari toko sepatu itu? Ada apa dengan sepatu mu hah?" Tanya Lucy dengan nada bercanda dan sedikit tertawa.
"Aku juga baik, sama seperti dirimu, dan yah aku hanya ingin membeli sepatu itu karena ya, sepertinya sepatu itu cocok untuk ku haha." Balas Naruto sama dengan Lucy dengan nada bercanda dan dengan sedikit tertawa. "Dan sepertinya kau juga membeli barang-barang yang lumayan banyak ya, biar kutebak…" Mata biru Naruto menatap bawaan yg di pegangin oleh wanita dihadapannya ini. "Sepertinya kau kehilangan kendali lalu memborong semua pakaian yang menurut mu menarik? Benar bukan?" Tanya Naruto membalas ledekan wanita pirang itu.
'Lucu juga orang ini' Batin Lucy. "Tidak Naruto, aku hanya membeli sebuah celana jeans, dan sepasang baju." Ucapnya sambil mengangkat bawaannya itu dihadapan Naruto.
Naruto hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia mengerti. "Bagaimana kalau kita makan Lucy? Hari sudah mulai gelap, kau pasti belum makan bukan?" Tanya Naruto sambil menawarkan untuk makan bersama.
Lucy tersenyum mendengar tawaran makan dari pria dihadapannya ini, yah pikirannya setuju dengan perutnya yang mulai keroncongan akibat sedari siang belum di isi olehnya.
Dengan anggukan ia mengiyakan ajakan untuk makan yang bisa dibilang makan malam ini. Matanya menatap sebuah restoran yang menjadi incarannya tadi. "Kita makan disana saja Naruto?" Tawarnya kepada yang mengajaknya untuk makan.
Mata Naruto menoleh menatap restoran yang lumayan ramai, lalu ia menatap nama restoran tersebut. 'Delicious Seafood' ah tidak ia tidak suka dengan makanan laut, membuat hilang nafsu makanya, mencium aroma makanan laut artinya mencium kematian bagi Naruto. Dari kecil ia memang tidak suka dengan makanan laut.
Mengingat itu ia menjadi mengingat kembali masa lalunya. Ya meskipun ia benci dengan masa lalunya ia mau tidak mau ingatan tersebut akan muncul jika sesuatu terjadi yang mengingatkan ia tentang masa lalunya. Bersama dengan orang tua brengseknya dan adiknya yang lugu dan polos. Ia benci dengan segala hal dengan masa lalunya. Ia benci jika harus mengingat kembali masa suramnya yang tidak dianggap oleh orang tuanya.
Hanya Kushira, Kushira, Kushira, Kushira. Dirinya jauh lebih baik dalam segala hal dibandingkan dengan Kushira. Sebelum Kushira sudah mahir menggunakan Kawarimi, ia sudah mahir dalam melempar Kunai tepat pada target berjalan. Jauh sebelum Kushira mengenal apa itu dasar-dasar Shinobi, ia sudah tau apa yang dilakukan oleh Shinobi untuk bertahan hidup dari serangan musuh.
Ia akan muncul suatu saat nanti, ia akan muncul kembali untuk membumi hanguskan konoha sialan negara brengsek yang sudah mengacuhkannya. Menghancurkan seluruh harapan warga Konoha, Menghancurkan seluruh impian setiap warga Konoha. Membunuh seluruh orang yang dulu pernah mengacuhkannya. Tidak ada ampun bagi mereka, ia akan menghabiskan seluruh Konoha hingga ke akar-akarnya hingga tidak ada kesempatan untuk Konoha bangkit kembali.
Dan waktu itu akan tiba, dimana ia akan—
"Hey jadi makan tidak Naruto?" Lamunan Naruto buyar oleh suara feminim dihadapannya ini. Naruto menatap wanita cantik dihadapannya memiringkan sedikit kepalanya dan juga menatapnya dengan pandangan bingung. "Kau kenapa Naruto? Tiba-tiba melamun. Apa yang kau pikirkan?" Tanyanya lagi.
Naruto menggeleng pelan, sambil sedikit tersenyum ia menggerakkan tangannya mencari tangan Lucy. Menggenggam tangan wanita itu dan mulai berjalan perlahan mencari tempat makan lain. "Kita cari tempat makan lain saja Lucy. Aku tidak suka makanan laut." Ujarnya memberi tahu kepada Lucy sesuatu hal yang ia tidak suka.
Sementara Lucy, wajahnya memerah. Pria itu tidak salah, ia menggenggam tangannya. Seluruh perasaannya campur aduk, ia bahkan tidak peduli apa yang dikatakan oleh Naruto tadi. Ia berusaha menghilangkan Nervous-nya dengan menggerakkan tangan kanannya yang tidak di genggam oleh Naruto untuk mengambil kacamatanya di kantung Jaket Jeans biru pudar tersebut.
Naruto yang memang dari tadi menatap Lucy melalui ujung matanya, menggerakan tangan kirinya untuk mengambil alih bawaan Lucy. "Biar kubawa Lucy." Ujarnya, dengan sedikit anggukan dari kepala pirang berkucir dua itu, lalu mengambil ia kantung plastik hitam yang cukup besar dan berat itu.
Wajahnya makin memerah, niatannya untuk memakai kacamata hilang. Ia makin nervous dibuat oleh pria pirang yang panjang rambutnya sudah melewati pundak. Mengacuhkan tatapan pengunjung mall yang mulai menatap mereka berdua, ia menyadari dirinya dan Naruto sudah didepan restoran Seafood tadi yang menjadi targetnya untuk mengisi perutnya.
"Naruto ayo kita makan disini." Tawar Lucy kepada Naruto.
Pria itupun menggerakan tangan kanannya yang masih bertautan dengan tangan kiri Lucy. Menunjuk salah satu restoran yang sepertinya menjajakan makanan daging-dagingan seperti steak, dan makanan barat sana. "Bagaimana kalau kita makan disana Lucy?" "Tawar Naruto mengajak Lucy makan ditempat lain.
Anggukan kepalanya mengiyakan ajakan Naruto. "Baiklah Naruto sepertinya makanan ditempat itu enak." Balasnya sambil mengukir senyum diwajahnya.
Melihat wanita pirang itu tersenyum membuat Naruto senang. Wanita itu jika senyum enak sekali untuk dilihat, pipinya yang besar atau bisa dibilang tembem, membuat sebuah lubang yang sangat nyaman jika dilihat, yah jarang-jarang wanita mempunya lesung pipi seperti dirinya. Sadar jika dilihat terus oleh dirinya, wanita yang sedari tadi jadi bahan tatapannya itu menoleh membuang wajahnya, sepertinya ia malu jika dilihat seperti tadi. Genggaman tangan Lucy pun mengeras menggenggam tangannya. Hangat, itu yang ia merasakan dari tangan wanita itu.
Dirinya bukanlah seorang pemalu, tapi jika di tatap seperti tadi, yah sudah pasti dirinya akan malu. Apalagi yang menatap adalah Naruto. Pria yang maskulin bukan main. Pria sempurna dengan wajah tampan, mata birunya begitu bisa membuat siapa saja terpukau pada dirinya. Kulit coklat susu yang membuat nilai plus seorang Naruto yang maskulin menjadi seorang yang terlihat…. Yummy.
Tangan besarnya terasa sangat nyaman menggenggam erat tangan Lucy. Terhanyut perasaan singkat ini, hingga sadar dulu waktu pertama kali ia bertemu dengan Naruto ia mengira kalau pria dihadapannya ini adalah targetnya. Seorang buronan bernama NAMIKAZE NARUTO.
Pertemuan pertama mereka disebuah bar, ia melihat pria pirang yang setengah mabuk, dan langsung menghampiri pria pirang itu. Mengintrogasi pria yang sepertinya menjadi targetnya. Tapi jawabannya bukan, namanya juga sama Naruto, tapi dirinya bukan targetnya. Banyak orang juga yang bilang kalau dirinya itu memang seperti buronan yang dicari oleh banyak pihak. Dia mengatakan kalau dirinya hanyalah pengusaha impor-ekspor dari negara Amegakure, dan mempunya sebuah Onsen kecil-kecilan, yang lumayan ramai oleh penikmat air panas untuk memanjakan diri.
Namun demikian dirinya sendiri sudah percaya kepada pria ini kalau Naruto itu memang bukan targetnya dan teman-temannya. Ia sudah 3 kali bertemu, dan ini sudah kali ke 4 mereka berdua bertemu dengan cara yang sama yaitu, tidak sengaja. Sebuah kebetulan yang aneh bisa dibilang seperti itu. Bisa dibilang kalau Lucy memang sudah mulai nyaman dengan pria ini. Tapi bagaimana pun juga pria ini adalah pria asing, ia hanya nyaman karena siapapun yang punya mata pasti tahu kalau Naruto adalah pria idaman wanita manapun.
Matanya menatap Naruto baru saja melihat sebuah arloji yang melingkar di tangan kirinya. Sepertinya ia merasakan kalau dengan Naruto ada sebuah perasaan kalau waktu berjalan menjadi sangat lamban, tapi bagaimana juga ia menikmati waktu itu.
Tidak hanya Lucy, Naruto juga mengalami hal serupa, ia menatap arloji plastiknya, menatap arloji tersebut sekarang pukul 5 lewat 15 menit waktu yang ditunjukkan oleh arloji plastik bermerek Swatch itu. Hingga tak sadar kalau restoran steak itu sudah berada dihadapan kedua nya. "Ayo Lucy, kita makan." Ujar Naruto dan dibalas senyum kesukaan dirinya.
.
.
.
Kushira tidak salah, ia memukul pria yang seharusnya berada dihadapannya itu. Ia menoleh kebelakang menyadari kalau pria yang seharusnya dihadapannya itu menghindari dirinya dengan cara menghilang dari hadapannya. Tidak tinggal diam begitu saja, Kushira berusaha menendang pria itu, dan lagi, pria itu menghilang lagi dari hadapannya. Sepertinya makin banyak saja orang yang mempunyai jutsu seperti ayahnya, dan tentunya kakaknya.
'Dimana dia' batin Kushira mencari pria yang bernama Dreyoka. Mata birunya mengekplorasi sekitar. Dirinya tidak menemukan pria itu. Hingga terdengar sebuah sebuah suara katana yang ditarik keluar dari sarungnya. Dan seketika pria itu berada lagi dihadapannya.
Trankk.
Terdengar suara beradunya kedua besi. Mata biru Kushira menatap pria dengan Sharingan itu mengarahkan katana-nya kepada dirinya. Tapi ia tahu siapa yang mengahalau serangan Dre kepada dirinya.
"Jangan ceroboh seperti tadi Kushira, pria ini sangat berbahaya." Ujar gurunya, Hatake Kakashi yang tengah menangkis serangan Dre dengan sebilah Kunai.
Shanarooooo!
Teriak seorang yang ia tau siapa itu.
Blarr.
Dirinya menghindar bersama Kakashi setelah tau Sakura mengarahkan pukulan mautnya kepada Anggota Akatsuki Yaitu Dreyoka.
Dirinya tersenyum sepertinya berhasil, Sakura sepertinya mengenai targetnya.
Sementara Chiyo yang berada di belakang mereka menatap abu yang dihasilkan oleh beradunya tenaga besar Sakura ke targetnya dan menyentuh tanah dibawahnya. Serangan Sakura sepertinya tidak mengenai targetnya. Pria itu lagi-lagi menghilang.
"Kalian semua orang-orang Konoha, lumayan ada kemajuan." Terdengar suara yang asalnya dari belakang mereka semua.
Seluruh Ninja itu menoleh menatap kebelakang dan melihat kalau musuh merek berdiri membelakangi sebuah batu besar yang menghalangi jalan untuk masuk kedalam salah satu markas Akatsuki.
Dreyoka atau bisa dibilang Inazuma, menggerakkan katana-nya dan memasukkan kembali ke dalam serungnya. "Lalu bagaimana dengan kalian" Sharingan itu menatap Mizukage dan ninja Kirigakure.
Mei Terumi yang mendengar itu mengeraskan kepalan tangannya, dirinya kesal bukan main mendengar ucapan dengan nada merendahkan dari pria dihadapannya ini. Menatap ninja kepercayaan yaitu Ao, ia bersiap untuk menyerang pria itu.
"Aku tanya sekali lagi, dimana Naruto?" Suara yang dikeluarkan oleh Mizukage kali ini benar-benar bernada ancaman.
Dreyoka hanya tersenyum mendengarnya, dia menggerakkan tangannya untuk membuka dua kancing atas overcoat-nya, ia sedikit risih dengan kerah yang menutupi bagian wajahnya. Sedikit menampakkan senyum di wajahnya, dan menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan membuat sebuah suara di lehernya.
"Sudah kukatakan tadi, kalau kau ingin jawabannya, setidaknya beri luka pada tubuh ku!" Jawabnya lagi-lagi dengan nada mengejek.
Sementara disekitarnya ia sudah bisa merasakan kalau air yang ia pijak ini mulai bergetar, Sharingan-nya menatap kalau salah satu ninja Kirigakure merapal sebuah segel.
Riku membuat segel tangan jutsu air kelas menengah untuk menyerang pria dihadapannya itu. "Suiton: Suishi." Lalu air disekitarnya bergerak membuat lima pilar runcing yang langsung diarahkan kepada pria dihadapannya.
Dreyoka yang melihat itu berusaha menghindar kearah lain, bergerak ke arah kiri menghindari serangan air yang jika terkena pasti tubuhnya akan tertembus serangan air itu. Namun tidak di sadari oleh Dre, ada seorang Ninja Kirigakure berlari menuju ke arahnya.
Daaaaghhk
Terdengar suara beradunya air dan batu besar yang menjadi pintu masuk kedalam markas Akatsuki. Dan Dre behasil menghindari serangan air dari wanita itu, matanya menatap pria berambut biru mengarahkan sebuah pedang yang menjadi salah satu dari 7 pedang legendaris dari Kirigakure.
Dirinya juga bergerak mengambil katana-nya. Chojuro mengarahkan serangan degan pedang besarnya ke arah Dre, tapi dalam sekali tarikan tangan, Dre sudah mengarahkan katana-nya untuk menangkis pedang itu.
Trankk
Kedua pedang itu beradu membuat suara besi beradu. Dirinya belum menyadari kalau sang Mizukage sudah membuat sebuah segel tangan. "Katon: Dai Endan!" Mei meniup sebuah api besar dari mulutnya, api itu dengan cepat membesar mengarah ke arah Dre. Chojuro yang melihat itu berusaha menghindar menjauh meninggalkan Dre yang terpaku menatap api besar yang diarahkan kepadanya.
Sementara Kakashi, Kushira, dan Sakura menatap pertempuran para Ninja Kirigakure yang di pimpin langsung oleh sang pemimpin desanya yaitu Mei Terumi. Pasti akan terjadi pertempuran tingkat tinggi disana. Kakashi tentu tidak lupa dengan Team Guy yang berpencar mencari kertas fuin untuk membuka batu besar yang menghalangi jalan untuk masuk kedalam markas Akatsuki.
"Hey kalian bersiaplah kita akan membuka kertas fuin itu sebentar lagi." Ucap Kakashi melalu radio kepada keempat anggota Team Guy.
Blaaarrr
Terdengar suara api yang menghantam sebuah batu besar. Disisi lain Dre tidak terlihat menghindari serangan api dari Mizukage tersebut. Sang Mizukage terlihat terengah-engah mengatur nafasnya, mengeluarkan jutsu tingkat A seperti tadi sangat menguras tenaganya. Matanya menatap pria itu menghilang bersamaan munculnya asap yang dihasilkan oleh beradunya api dan batu besar tadi.
"Kemana lagi dia?" Ujar Ao mencari pria berkostum Akatsuki yang berhadapan dengan mereka.
.
.
.
Sementara itu didalam dari goa yang menjadi salah satu markas Akatsuki itu terlihat dua makhluk dan tujuh siluet tubuh yang berbeda berdiri pada masing-masing jari dari sebuah patung bernama Gedo Mazo.
Sepertinya mereka semua terlihat kelelahan setelah selesai menyegel dua monster berekor.
"Akhirnya selesai juga, sungguh melelahkan!" Teriak salah satu siluet tubuh yang mempunyai sabit bermata tiga yang sepertinya bernama Hidan.
Deidara tersenyum mendengarnya, ya dirinya sangat lelah dengan penyegelan ini. Dengan menggerakkan tangannya merenggangkan otot tangannya, ia pegal selama berhari-hari ia hanya memasang segel tangan dan berdiri terus menerus, dirinya lelah. Sepertinya setelah ini dirinya akan sedikit bersantai setelah melakukan aktivitas melelahkan ini, menyegel makhluk seperti ini sangat melelahkan.
Sementara siluet bermata Rinnegan menatap seluruh bawahannya, menatap seluruh anggotanya yang sudah berkerja dengan sangat baik. Hampir dua tahun Akatsuki berdiri, sudah 3 ekor bijuu yang sudah tersegel di dalam Gedo Mazo. Ini sangat bagus, tinggal 6 ekor bijuu lagi tersisa untuk mereka semua taklukkan.
Semua itu tentu saja membuat nama Akatsuki semakin dikenal banyak orang, semua negara akan memperketat penjagaan dan pengawasan terhadap seluruh bijuu yang tersisa di dunia ini. Tentu dengan itu pasti kerja dari bawahannya semakin sulit, tapi ia tidak peduli. Jika ia sudah memberikan tugas untuk menangkap salah satu Bijuu maka misi tersebut harus sukses terlaksana.
Yah meski demikian dirinya harus mengapresiasi seluruh kerja anggotanya. "Baiklah kita sudah berhasil menyegel masuk dua monster berekor, tidak ada salahnya bagi kalian untuk bersenang-senang selama akhir pekan ini." Ujar Pain sang 'pemimpin' Akatsuki.
Seluruh orang yang berada di dalam Goa mengalami hal yang sama yaitu rasa senang, sudah berhari-hari mereka didalam goa ini menyegel dua makhluk itu. Sedikit liburan tentu akan sangat bermanfaat sekali bagi mereka.
Seluruh siluet tubuh menghilang, meninggalkan satu siluet dan dua orang yang berada di dalam goa tersebut. Siluet bermata Rinnegan menatap ke dua orang yang tersisa. "Kalian pasti masih ingat bukan, dibalik fuin itu masih ada seekor jinchuricki lagi dan Inazuma juga yang tengah mengurus mereka diluar. Jadi aku memberi kalian kebebasan, bersenang-senang sedikit juga tak masalah bagiku." Ujar sang pemimpin dengan Nada datarnya.
"Lagipula Kyuubi itu berada di urutan terakhir, jadi Sasori, Deidara, kalian bebas mau melakukan apapun terhadap mereka." Lalu siluet Pain menggerakan tangan kirinya membuka lebar telapak tangannya dan menutup kembali telapak tangannya. Dan kejadian selanjutnya batu besar itu hancur lebur oleh sang pemimpin. Lalu Pain menghilang menghilangkan dua orang tersisa.
.
.
Blarrrrr
Seluruh orang yang kini tengah menatap pria berkostum Akatsuki yang berdiri di atas gerbang toriji terkejut melihat dan mendengar kalau batu besar yang menghalangi mereka untuk masuk kedalam markas Akatsuki itu hancur lebur dengan sendirinya.
Inazuma yang bisa mendengar ucapan Pain karena ia memakai salah satu cincin yang melingkar di jari tengah tangan kanannya paham apa yang akan ia lakukan selanjutnya, ia akan sedikit berdansa dengan Mizukage Mei Terumi dan bawahannya.
Mata Sharingan itu menatap Mizukage dengan tatapan tajam, beda dengan tatapan sebelumnya yaitu tatapan meremehkan. Menggerakkan tangannya untuk mengambil Katana-nya dan mengarahkan kepada Mei.
Melihat itu Mei memicingkan matanya menatap balik wajah pria yang berdiri di atas gerbang toriji raksasa itu. "Kalian Ninja Konoha masuklah kedalam, biar kuhadapi pria ini." Ujar Mei kepada Seluruh ninja Konoha dan termasuk Nenek Chiyo yang seorang ninja yang berasal dari Sunagakure.
Kakashi yang mendengar itu mengerti, dan memang sepertinya hanya Mizukage yang bisa menghadapi Pria yang Mei Terumi panggil dengan sebutan Dreyoka rekan setimnya Namikaze Naruto. "Baiklah, kami akan masuk kedalam Mizukage-sama." Ucap Kakashi merespon perintah Mei Terumi.
Sakura dan Kushira berjalan menuju Goa yang sudah terbuka untuk mereka masuki. Berjalan mendekati pintu raksasa, dan menginjak reruntuhan batu besar, Mata biru Kushira menatap kedalam Goa tersebut, didalam Goa tersebut hanya disinari oleh cahaya yang berasal dari Pintu Goa tersebut.
Matanya melebar ia menangkap ada dua orang yang berada didalam goa tersebut, pakaian yang sama yaitu Overcoat hitam dengan motif awan merah. Mereka berdua anggota Akatsuki. "Hati-hati Kushira." Ujar suara yang ia kenal dengan suara dari gurunya, Hatake Kakashi.
Kakashi tau jika Kushira tidak di ingatkan seperti itu, pasti ia sudah melakukan hal yang sangat berbahaya, jika ia melakukan hal yang ceroboh dirinya pasti akan di tangkap oleh mereka. Jangan lupakan kalau Kushira itu adalah Jinchuricki Kyuubi.
Sementara itu di sana 'Makhluk' besar bongkok bercadar menatap dengan mata memerahnya pria pirang berkucir yang bernama Deidara. "Aku urus wanita itu, sisanya kau urus Deidara." ucap pria yang dikenal dengan nama Sasori itu.
Deidara menatap balik wajah menyeramkan itu. "Maksudmu Kyuubi, Sasori-danna? Tentu tidak aku akan mengurus Kyuubi Sasori-danna...hmm." Balas Deidara menegaskan kalau dirinyalah yang akan 'mengurus' Kyuubi.
"Bukan Kyuubi, tapi dia" Balas lagi Sasori.
Mata kanan Deidara menatap seluruh 'wanita' yang masih berada tidak jauh dari pintu masuk Goa tersebut. Hanya ada tiga wanita, dan tunggu yang Sasori ucapkan itu wanita, berarti itu adalah seorang yang sudah lewat delapan belas tahun keatas. Dan menurut perkiraan Deidara, dua wanita berambut nyentrik itu paling-paling belum genap tujuh belas tahun. Berarti yang akan di urus oleh Sasori adalah seorang Nenek-nenek(?)
Ayolah ia harus akui kalau Sasori lebih kuat di bandingkan dirinya. Dan sekarang Sasori akan melawan seorang wanita tua? "Jadi kau memilih lawan yang lebih mudah kau hadapi dengan melawan seorang wanita tua, Sasori-danna?" Tanya Deidara menatap balik wajah menyeramkan itu.
"Dia nenekku." Jawaban singkat dari Sasori adalah kejutan bagi Deidara. Dirinya baru tau kalau seorang ninja seperti Sasori masih memiliki seseorang yang bisa dibilang berarti bagi Sasori.
Deidara melakukan segel tangan dan muncullah seekor burung putihnya yang terbuat dari tanah liat andalannya. "Aku mengerti Sasori-danna, Aku akan mengurus sisanya." Ucap Deidara, lalu burung tersebut menggulung ekornya untuk mengambil tubuh seorang pria yang sepertinya seorang Kazekage Gaara. "Aku akan membawa Kazekage." Ujarnya lalu burungnya ia kendalikan mengepakkan sayapnya mulai untuk terbang.
.
.
.
Diluar goa, masih dengan posisi seperti tadi Dreyoka masih mengarahkan katana-nya kepada para Ninja Kirigakure beserta pemimpinnya Mizukage Mei Terumi.
Dan dengan sekali gerakan seperti membuka kunci rumah, ia menggerakkan pedangnya dan dirinya sudah berada di tempat yang berbeda. Ia menatap wajah kebingungan ninja Kirigakure, dan tentunya wajah dari Mei Terumi, Wanita cantik itu terlihat syok seperti nya, lalu beberapa saat kemudian, tatapan matanya memicing kembali masih dengan tatapan merendahkannya yang ia lihat dari pria rekan setimnya Namikaze Naruto.
Memasukan kembali katana miliknya kedalam sarungnya ia melipat tangannya didepan dadanya. "Tolong jangan menatapku seperti itu Mei." Ujar Dreyoka yang ditatap seperti itu oleh Mei Terumi.
"Dimana ini?" Mei yang sudah sadar sepenuhnya bertanya kepada Dreyoka.
"Sangat jauh dari tempat tadi." Balas Dreyoka menjawab pertanyaan tersebut.
Mata Mizukage tersebut menatap sekitar, dirinya masih menginjak air sungai, dan di sebelah kirinya bukan pegunungan, melainkan ilalangn yang lumayan lebat, dan disebelah kanan nya adalah tanah hijau yang sangat sepi tidak ada siapapun disini kecuali dirinya dan bawahannya dan tentu pria yang berada dihadapannya itu.
"Kalian bersiap. Kita akan menyerang total pria ini!" Ujar pemimpin desa Kirigakure yang sekarang sudah memegang Kunai di tangan kanannya. "Ao, Chojuro, gunakan kemampuan kalian dalam pertarungan jarak dekat. Riku kau bersiap melakukan jutsu tingkat tinggi, mengerti?" Perintah dan strategi yang di ucapkan oleh Mei di balas anggukan kepala oleh Ao, Chojuro, dan Riku.
Masih dengan memegang salah satu dari tujuh pedang legendaris dari Kirigakure Chojuro mengeraskan genggaman tangannya pada gagang pedangnya. Ia akan berhadapan dengan pria itu dengan kemampuan pedang yang ia harapkan masih amatir. Menatap Ao, dirinya mulai berlari menghampiri pria itu. Berhadapan langsung dengan menggunakan pedang nya, ia mengarahkan pedangnya ke arah Dreyoka.
Dreyoka hanya bergerak mundur menghindari serangan pedang itu, dan tatapannya mengarah ke pria yang bernama Ao itu, dengan menggerakkan kaki kanannya ia menendang Ao dengan keras. Ao menahan rasa sakit di pinggang kirinya yang berhasil di tendang oleh pria Akatsuki itu, sambil menahan rasa sakit, Ao mengambil tiga buah Kunai lalu melemparkannya ke arah Dreyoka.
Kejadian selanjutnya membuat Ao dan Chojuro terkaget, Kunai yang tadi di arahkan ke arah Dreyoka berbelok arah dengan sendirinya setelah tepat berada di hadapan Dreyoka. Seperti ada yang menggerakan Kunai itu membuat Kunai tersebut berbelok arah. Tidak tinggal diam Chojuro masih dengan pedangnya lagi-lagi berusaha untuk mengambil serangan terhadap Dreyoka.
Chojuro melompat berusaha menyerang Dreyoka dari atas, mengarahkan pedangnya langsung menuju Dreyoka yang tidak bergerak sama sekali. Namun hasilnya sia-sia, targetnya menghilang, Dreyoka menghilang dari hadapannya. Ia menoleh kebelakang hanya ada Ao yang sama kebingungan seperti dirinya.
Jrashhh.
Namun kebingungan itu hilang. Rasa sakit yang teramat sangat sangat terasa, menoleh menatap dada kanannya yang sudah tertembus pedang hitam yang sudah terkena darah segarnya. Ao yang melihat itu berusaha menyelamatkan nyawa Chojuro, dirinya melakukan serangan terhadap Dreyoka, namun lagi-lagi Dreyoka menghilang.
Tubuh Chojuro ambruk, darahnya bercampur dan mengikuti aliran sungai yang sekarang membuat dirinya mengambang ikut terbawa arus, melakukan pertolongan pertama, Ao segera melakukan gerakan untuk menghentikan pendarahan pada dada kanan Chojuro. Mei Terumi juga langsung memerintahkan Riku untuk menolong Chojuro. Pria bernama Dreyoka itu diluar kemampuan para bawahannya, sepertinya ia sangat mahir dalam menggunakan Sunshin no Jutsu, dirinya tidak bisa mengimbangi kecepatan tinggi pria bernama Dreyoka itu, dalam kira-kira sekedipan mata, pria itu sudah hilang dan di kedipan mata selanjutnya pria itu sudah muncul di tempat lain. Kecepatannya memang sangat berbahaya, tapi dirinya tidak bisa menandingi kecepatannya.
Melihat bawahannya hanya tergeletak pasrah dengan mengeluarkan darah, terus menerus membuktikan kalau dirinya harus menggunakan kekuatan penuhnya. Melihat sekeliling berusaha mencari pria berambut hitam spiky berjubah Akatsuki, dirinya tidak menemukannya, sepertinya Dreyoka sudah melarikan diri, atau itu yang dipikirkannya.
Sebuah punggung tangan berada di pundak seorang Mei Terumi, yang empunya pundak pun terkejut melihat ada sebuah tangan berada di pundaknya. "Kenapa kau rela jauh-jauh datang kemari hanya untuk Naruto, Mei?" Tanya Dreyoka masih dengan meletakkan punggung tangannya di pundak Mizukage itu.
Mei terus menatap telapak tangan itu, telapak tangan yang terbuka itu seakan-akan siap untuk menyerangnya itu. Pundaknya bergetar, ia ketakutan, ia takut akan kematian, apalagi yang akan membunuhnya adalah seorang yang dulu pernah ia sewa. Bersama dengan orang yang hingga saat ini menjadi rasa cinta nya. "Tolong katakan dimana Naruto?" Entah kenapa itu yang di ucapkan oleh Mei Terumi kepadanya. Sepertinya ia tidak akan melawan lagi jika pria itu menyerang nya. Ia hanya butuh jawaban dimana Naruto, meskipun setelah ia tau dimana Naruto dirinya sudah tewas di tangan pria yang sekarang sudah merapatkan dadanya pada punggung nya.
Dreyoka merapatkan badannya ke punggung Mei Terumi. "Aku tidak tau, Mei Terumi." Jawaban singkat dari Dreyoka membuat mata Mei menutup, ia sudah tak berdaya lagi mendengar jawaban itu. Tapi ada sesuatu yang lain begitu ia membuka matanya, pemandangan disekitarnya berbeda. Dirinya berdiri di tanah hijau luas dengan banyak sekali jenis bunga-bunga beraneka warna di sekitarnya.
"Lupakan Naruto!" Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia merasakan ada persamaan ucapan yang di ucapkan oleh Dreyoka itu. Seperti ada hubungan atau bisa juga dibilang ada ikatan antara Dreyoka dan Naruto.
Ia sudah tak merasakan ada sesuatu pada punggung dan pundaknya. Sepertinya pria itu sudah pergi meninggalkan dirinya. Tapi salah ia mendengar ada langkah kaki di sebelah kanannya, ia menatap pria berkostum Akatsuki itu menatap luasnya tanah hijau ini dengan memandangnya.
Dengan sedikit menoleh ia memberikan senyuman kepada Mei Terumi. Namun lagi-lagi sosok Dreyoka menghilang lagi dari pandangan mata Mei, namun ia tidak salah lihat tadi kalau Dreyoka tersenyum kepadanya. Namun dirinya terkejut dengan kedatangan Dreyoka yang langsung berada di depan wajahnya. Dirinya menatap Byakugan yang berada pada mata kanan itu, mata seindah bulan, mata kanan itu benar-benar indah. Dirinya mengarahkan pandangannya menatap mata kiri yang masih tertutup itu, ia tau di balik kelopak mata itu terdapat sesuatu yang sangat mengerikan, Sharingan itu adalah hal yang sungguh mengerikan. Hal-hal buruk pasti terjadi dengan hal-hal yang di luar nalar manusia normal.
Dirinya tanpa sadar memunculkan semburat merah pada wajahnya, bagaimana tidak, wajahnya sangat dekat jaraknya dengan pria ini. "Bisa kau lakukan itu?" Tanya lagi Dreyoka kali ini dengan nada suara yang lebih kecil dan lebih halus. Mei masih membeku, semburat merah itu perlahan hilang begitu melihat tangan kanan pria itu bergerak ke arah wajahnya. Tangan itu menyingkirkan helaian rambut merah yang menutupi bagian wajah Mizukage Mei Terumi. Jarinya bergerak menyapu halus pipi yang memerah kembali, Mei merapatkan matanya, begitu dekat dengan pria itu. Pipinya di sentuh seperti itu membuatnya merasakan sensasi aneh menjalar pada seluruh aliran darah nya.
"Jadilah milikku!" Kali ini Dreyoka mendekat kan wajahnya menuju telinga milik Mei.
Dengan jarak sedekat ini Mei merasakan sesuatu yang makin aneh. Setelah lama tidak 'bersentuhan' secara langsung dengan 'pria' ia merasakan sensasi yang bisa di bilang kenikmatan. Leher jenjangnya merasakan hembusan nafas pria itu, tangannya yang tadi sempat berada di pipinya bergerak turun, perlahan tangan Dre bergerak dengan perlahan turun melewati buah dadanya. Mei sedikit mendesah secara tertahan merasakan dadanya 'disentuh' seperti tadi, ia merasakan kalau tangan itu kembali turun dan berhenti di lekukan pinggangnya.
Dirinya merasakan kalau dirinya dipeluk oleh pria ini. Rasanya seperti ada yang yang nyaman bagi dirinya sendiri. Tangan milik orang yang memimpin Kirigakure itu bergerak berusaha membalas pelukan hangat pria itu. Ia memeluk pria itu dan menjadikan pundak pria itu sebagai tumpuan dagunya, dan menyenderkan kepala merahnya Kel kepala milik Dreyoka.
Keduanya berpelukan di tengah hembusan angin, menikmati pelukan hangat keduanya, ditengah hembusan angin keduanya diam. Mei lagi-lagi merasakan sensasi aneh kala Dreyoka mengeraskan pelukannya pada dirinya, dan juga ikut meletakan kepalanya pada pundaknya.
Mei berusaha senyaman mungkin bersender pada pundak dan kepala pria yang kini tengah memeluknya, ia masih ingat perkataan pria ini. Pria ini menginginkan dirinya menjadi milik pria bernama Dreyoka itu. Tapi ia sudah tak lagi sama, ia sudah disentuh, ia sudah tak lagi suci, ia sudah dinikmati oleh pria lain d, ia pun sudah menikmati pria lain, apa pria ini mau dengan dirinya.
"Aku sudah tak ada apa-apa untukmu. Aku tak bisa memberikan yang 'pertama' untukmu, aku sudah tida—"
"sssttt…" Perkataan Mei Terumi terhenti begitu Dre berucap di telinganya.
"Jadi kau sudah melakukan banyak hal dengan Naruto ya? Itu sebabnya kau ingin mencari nya?" Tanya balik Dreyoka pada dirinya.
Dreyoka merasakan kalau kepala merah yang bersandar pada pundaknya itu mengangguk mengiyakan pertanyaan tadi. Dre tersenyum, si Naruto itu telah jauh mengambil start dari dirinya ternyata. ' 'Keponakan kurang ajar' batin Dreyoka kesal dengan Naruto yang sudah menikmati wanita yang sekarang di peluknya ini.
"Berarti kau mau menjadi milikku?" Kali ini Dreyoka menggerakkan kepalanya menatap wajah wanita ini.
Mei lagi-lagi memunculkan semburat merah, bagaimana tidak wajah pria ini sangat dekat dengan dirinya, bahkan hidung mereka saling bersentuhan. Tanpa sadar ia mengeratkan pelukannya pada pria itu. "Jadi lah milikku Dreyoka" Ucap Mei Terumi Wanita cantik yang menjabat sebagai Mizukage yang artinya adalah seorang yang paling kuat diantara ninja lain di Kirigakure.
Dreyoka tersenyum mendengarnya, ia mendapat kan wanita cantik ini menjadi miliknya. "Namaku Inazuma." Ujar Dreyoka mengatakan bahwa nama aslinya ada Inazuma.
Mei yang mendengar itu sedikit terkejut mendengar jawaban pria itu, jadi selama ini pria itu menggunakan nama palsu? "Kenapa tidak kau gunakan saja nama asli mu itu? Aku suka dengan nama mu itu, Inazuma." Kata terakhir yang di ucapkan oleh Mei penuh dengan penekanan, ia menatap kalau wajah pria yang di depan matanya ini tersenyum.
"Aku memiliki adik yang sedikit menyebalkan, dan dia orang berpengaruh di dunia ini." Jawaban yang membingungkan terdengar di telinga Mei Terumi. Ternyata Inazuma ini memiliki seorang adik, dan adiknya orang yang berpengaruh di dunia ini. Siapa orang yang berpengaruh di dunia ini?
"Menyebalkan bagaimana, Inazuma? Dan sebenarnya siapa adikmu itu, sampai bisa menjadi orang yang berpengaruh—.."
"Namikaze Minato….." Kata yang di keluarkan oleh pria itu mengagetkan dirinya, ternyata pria ini adalah kakak dari seorang Yondaime Hokage Namikaze Minato, sang Kiiroi Senko atau bisa di bilang kilat kuning dari Konoha.
Dan lagi kalau Minato adalah adiknya, berarti dia adalah seorang Paman dari….. Naruto. Ia adalah paman dari Naruto. Dan Naruto adalah keponakan dari pria ini. Astaga, ternyata dunia ini benar-benar sempit, ia tidak menduga dan tidak tau kalau seorang Namikaze Minato mempunyai seorang kakak.
Inazuma memperhatikan wajah wanita yang berada tepat diwajahnya ini. Wajahnya terlihat kebingungan, ya wajar saja pasti seluruh orang di dunia ini tidak ada yang mengetahui kalau ia adalah kakak dari Yondaime Hokage. Bibir merah muda itu terbuka sedikit, sepertinya wanita itu masih terkejut.
Sementara Mei merasakan kalau kakak dari Yondaime Hokage itu menggerakan kepalanya membuat hidung mereka bertemu dan beradu. Dan merasakan kalau nafas hangat pria itu mengenai wajahnya. Ia sudah terpikat, lagi-lagi Namikaze yang bisa membuat nya terpikat, dan lagi kali ini sang paman dari pria yang hingga kini ia masih cintai. Tapi ia berharap tidak ada lagi cinta untuk Naruto, biarlah yang lalu berlalu, ia berharap setelah ini ia menjadi wanita yang baik dan berguna bagi pria yang baru saja mengucapkan nama aslinya. Tersenyum manis memikirkan itu, lalu Mei menggerakkan kepalanya mendekat ke wajah pria itu.
Bibir kedua nya bersentuhan, ciuman diantara mereka terjadi, meski Inazuma nampak kaget tapi, ini bukanlah ciuman pertamanya, ia merasakan kenikmatan yang tak terjadi di ciuman sebelum-sebelumnya dari ini. Berusaha memperdalam ciuman mereka dan saling menikmati bibir dan Saliva keduanya.
.
.
.
.
Sementara team 7 plus nenek Chiyo melihat burung yang akan terbang dengan bawaan seorang Kazekage, Gaara. Kushira yang melihat itu berusaha untuk menahan diri agar tidak semakin emosi. Dirinya pergi sejauh ini untuk misi menyelamatkan seorang Kazekage dari tangan Akatsuki, dan dirinya sekarang tepat dihadapan misinya.
Burung putih itu bergerak mendekati pintu masuk Goa. Dengan kecepatan sedang burung itu terbang di atas team 7 plus nenek Chiyo. "Hey brengsek kau ingin kemana hah!" Teriak Kushira melihat burung yang sepertinya dikendalikan oleh pria pirang salah satu anggota Akatsuki.
Lalu Kushira mulai mengejar burung itu. "Sakura kau bersama dengan Chiyo-san, aku akan bersama Kushira." Ujar Kakashi mengejar burung tersebut tepat dibelakang Kushira.
Sekarang Kushira berlari keluar dari goa mengikuti arah burung yang membawa tubuh Kazekage itu terbang menjauh dari dirinya. Tapi ia juga mempercepat langkah kakinya. Ia berusaha agar tak terlalu jauh dari burung itu. Dan dirinya menoleh kebelakang kalau dirinya di ikuti oleh sang guru, Hatake Kakashi.
Sekarang ia harus berhasil menghentikan burung itu, bagaimana juga ia harus berhasil, ia sudah sangat kesal sedari tadi. Kali ini orang yang sama seperti dirinya sudah berhasil didapatkan oleh Akatsuki. Memangnya mereka itu mau apa sih? Menangkap para Jinchuricki dan menyegel bijuu yang ada di tubuh mereka.
Kushira tau, kalau setiap makhluk yang tersegel di dalam tubuh Jinchuricki pasti sangat kuat dan memiliki chakra yang sangat banyak dan sangat berbahaya. Apa mungkin karena makhluk itu sangat kuat lalu di peralat oleh Akatsuki untuk hal-hal negatif, ya meskipun dirinya tak pernah melihat kalau Jinchuricki ada yang berbuat positif tapi meskipun begitu, tak seharusnya makhluk seprti bijuu di lakukan seperti itu. Dan juga apabila anggota Akatsuki itu ingin mengeluarkan bijuu itu dari dalam tubuhnya otomatis Jinchuricki tersebut akan mati jika bijuu di dalam dirinya di Tarik keluar secara paksa.
Ia juga tidak ingin mengalami hal seperti itu, ia akan kembali berlatih bersama orang tuanya dan ero-sennin untuk memperkuat dirinya agar tidak ada Akatsuki mana pun yang bisa memperoleh bijuu dari dalam tubuhnya. Meskipun itu kakaknya, karena ia yakin kalau kakaknya tidak akan melakukan hal yang seperti itu, kakaknya yang ia yakini masih menjadi orang baik.
Menggelengkan kepalnya, ia sekarang ini hanya fokus untuk menjatuhkan burung itu dan menyelamatkan Kazekage dari Akatsuki pirang itu.
"Aku ingin memperkenalkan dirimu pada teman-teman ku Naruto." Ujar Lucy dengan girang mengajaknya untuk berkenalan dengan teman-teman nya.
Ia lagi-lagi tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya jika bersama wanita ini. Lucy mengajaknya untuk bertemu dengan teman-temannya, dirinya sangat tidak ingin untuk berinteraksi dengan orang lain yang belum ia kenal. Ia tidak ingin ada orang yang tau penyamarannya ini. Ia menikmati penyamarannya ini jika sudah bersama Lucy. "Bukannya aku menolak Lucy, tapi lain kali saja." Ujarnya. "Lagipula aku tidak tahu apa yang teman-teman mu pikirkan tentang diriku." Lanjutnya lagi.
Lucy mengembungkan pipinya membuat Naruto tersenyum melihat itu, jujur ia sangat senang melihat tingkah Lucy yang seperti ini. Sangat menggemaskan, yang ia lakukan sungguh menggemaskan.
Dirinya sudah berada di sebuah bangunan berlantai 8 yang ternyata adalah sebuah hotel. Hotel ini lumayan ramai dikunjungi oleh pengunjung yang ingin bermalam disini, dan ia merasakan kalau Lucy menarik tangannya lagi, dan ia menurut saja ketika Lucy menariknya masuk kedalam lobby hotel itu.
"Jadi kamu bermalam di sini Lucy? Atau kamu memang tinggal disini untuk sementara waktu?" Tanya Naruto yang sekarang tengah memperbaiki posisi rambut Lucy yang menutupi mata caramel kanannya. Menggerakkan tangannya dan mencubit pipi tembem itu dan menggerakkan pipi itu, Naruto sangat suka dengan pipi ini, sungguh kenyal.
"Naruuuuu, sakit" Jerit Lucy berupaya menghentikan kebiasaan yang Naruto lakukan pada pipi nya, menggerakkan tangan nya berusaha menjauhkan cubitan Naruto pada pipinya. Dan berhasil Naruto melepas cubitan itu, dan tangannya langsung mengelus pipi yang tadi baru saja di cubit.
"Maaf ya hehe, aku sangat suka dengan pipi mu." Ucap Naruto yang meminta maaf kepada perempuan itu.
Lucy justru membuat sebuah gerakan balasan yaitu cubitan pada perut Naruto. Ia membalas perbuatannya dengan mencubit balik Naruto. Perut keras itu ia cubit dengan keras supaya Naruto yang terbiasa memainkan pipinya itu mengurangi kebiasaannya itu.
"He—hey Lucy… sa—sakit." Sosok Naruto kesakitan di cubit oleh seorang gadis cantik itu. "Hentikan" kali ini Naruto berhasil menangkap pergelangan tangannya, dan memberikan senyuman meremehkan kepada Lucy.
"Hari sudah larut Lucy, tidur lah." Kali ini Naruto membenarkan kembali rambut pirang itu yang lagi-lagi menutupi mata caramel itu. Dan tangannya berhenti begitu ia melihat kalau pipi yang tadi ia mainkan muncul ruam kemerahan. Sepertinya tadi ia sedikit berlebihan. "Apa ini sakit, Lucy?" Tanya sambil mengelus pipi yang memerah itu.
Lucy yang diperlakukan seperti itu kaget seperti nya Naruto merasa bersalah karena telah memainkan pipinya dengan berlebihan, tapi ia juga sih seharusnya tidak perlu menggembung kan pipinya seperti tadi, ia tau jika pipinya ini over chubby, ya mungkin Naruto menyukai pipinya.
Pipi yang tadi sedikit memunculkan semburat merah itu kini makin memunculkan semburat merah yang semakin terang, matanya menatap dagu Naruto yang kini berada di depan matanya, ia merasakan kalau jidatnya—atau bisa dibilang keningnya di cium oleh Naruto.
Ia tidak salah, dagunya pun dipegang juga oleh tangan kanan Naruto. Lucy mengeratkan genggaman tangan kanannya pada tangan kiri Naruto. Ia menyayangi pria ini. Ia baru menyadari bahwa dirinya menyayangi pria ini. Memejamkan matanya menikmati ciuman di kening nya dan berharap kalau waktu berhenti untuk dirinya berdua. Dirinya ingin terus bersama pria ini, ia inginkan itu.
Bibir hangat itu tak terasa lagi, ia membuka kelopak matanya, dan melihat kalau Naruto tersenyum kepadanya. Dan ia merasakan kalau dagunya di raba oleh jempol Naruto, ia merasakan lagi genggaman tangannya juga mengerat, perasaan ini sungguh nyaman, sungguh membuat dirinya sendiri bingung harus bagaimana. Ia sudah tak bisa mengontrol dirinya, ia menyayangi dan bisa dibilang mencintai pria itu.
"Aku pulang ya Lucy?" Pertanyaan itu terdengar, ia belum ingin berpisah dengan Naruto.
"Menginap lah disini, denganku." Permohonan itu di ucapkan oleh Lucy, ia ingin sekali ini saja memiliki pria ini. Ingin sekali ini saja saling memiliki pria ini.
"Petugas hotel pasti akan menduga yang tid—" "Hotel ini milik Mizukage, Mei Terumi. Ia mempersilakan kami untuk menginap di sini selama yang kami mau Naruto." Ucapan Nartuo terpotong oleh perkataan Lucy.
"Kami?" Tanya Naruto lagi memastikan ucapan Lucy yang tadi ia dengar.
"Ya kami, teman-teman ku, tinggal disini, tapi mereka sedang tidak berada di sini." Jelas Lucy memberi tau kalau teman-teman nya sedang tidak berada disini.
Naruto tidak yakin dengan apa yang ada di pemikiran Lucy, ia sama sekali tidak punya niatan untuk tidur dengannya, ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan Lucy. Ada yang spesial dari gadis itu, ia sama sekali tidak ingin untuk berinteraksi lebih jauh dari ini. Ia tidak ingin menyakiti gadis ini, ia begitu menyayangi gadis ini, ya ia sayang dengan gadis ini. Tapi kalau dirinya sudah berada di dalam kamar dan posisinya hanya berdua, ia tidak yakin bisa menahan diri nya untuk tidak menyakiti gadis ini.
Tapi tatapan itu, ia selama ini tidak bisa menolak permintaan Lucy, permintaan Lucy kebanyakan ia turuti, karena entah mengapa dirinya sangat senang dengan adanya gadis itu di sampingnya. Tatapan Lucy seakan-akan memohon kepada dirinya untuk bermalam dengan dirinya, apakah ia sadar kalau dirinya itu laki-laki, dirinya sendiri bingung harus bagaimana.
Begitupun dengan genggaman tangannya, semakin erat kaitannya dengan Lucy, sepertinya Lucy benar-benar tidak ingin Naruto untuk mengambil jarak untuk pergi. Dirinya tersenyum, mengingat gadis ini sungguh luar biasa, begitu sempurna, berbeda dengan wanita lain. Ia sama sekali tidak melihat kalau Lucy memang sangat berharap kalau dirinya bermalam dengan dirinya.
"Baiklah, aku akan menginap di sini." Begitu selesai mengucapkan itu, senyum sempurna terlihat di wajah cantiknya mengembang sempurna. Dirinya senang bukan main, melihat dan memperhatikan wajah Naruto, ia merasakan kalau Naruto itu sungguh rupawan, wajahnya begitu sempurna. Dengan 3 garis tipis di masing-masing pipinya membuat sebuah kesan yang lebih sempurna, yang membuat Naruto kurang dalam penampilan adalah rambutnya, rambutnya seperti tak diurus. Panjang melewati leher dan sedikit kusut, seperti kebanyakan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan atau bisa di bilang preman.
Ia akan menata rambutnya, mungkin dirinya akan meminta bantuan dari salah satu Celestial Spiritnya untuk menata rambut pirang milik Naruto. Ya ia bisa membayangkan dirinya dan Naruto sama-sama memiliki rambut pirang, bedanya dengan dirinya yang memiliki rambut pirang dengan warna sedikit pucatnya itu, sementara Naruto dengan pirang cerahnya. Menggambarkan semangat pria rupawan itu. Ia akan memperbaiki tampilan pria yang ia sayangi itu.
"Ayo Naruto, kamarku berada di lantai 4" Ujar Lucy memberi tahu kamar ia berada di lantai 4.
.
.
.
Bibir keduanya terlepas, keduanya tersenyum sambil menarik dan menghembuskan nafas mereka yang berderu, kebutuhan oksigen lah yang sebenarnya menjadi alasan keduanya melepaskan ciuman mereka.
Mei mengencangkan pegangan tangan nya pada kerah Overcoat Akatsuki milik Inazuma, ia sudah lama tidak berciuman. Terakhir kali ia berciuman adalah pada saat dirinya bercinta habis-habisan dengan Naruto. Setelah itu dirinya tidak merasakan ketertarikan dengan lawan jenisnya siapa pun itu, tapi barusan ia berciuman dengan pria yang awalnya menjadi orang yang paling tidak ia lukai. Tapi ia tau sekarang dirinya sudah memiliki ikatan dengan pria ini. Pria itu bahkan sudah berani untuk memainkan dadanya, ia sudah dari tadi diperlukan seperti ini oleh pria bernama Inazuma itu.
Tapi bagaimana pun juga ia berusaha untuk menikmati segala sentuhan pria itu. Meski demikian dirinya juga ingin menikmati pula tubuh pria ini, setidaknya ia ingin melihat sesuatu dibalik jubah super yang sudah menjadi ciri khas dari kelompok bernama Akatsuki. Ia mengharapkan sesuatu yang sempurna dibalik itu. Seperi badan sixpack sempurna dengan otot-otot keras milik pria itu.
Tapi sapuan angin pada rambut nya menyadarkan dirinya kalau mereka berdua berada di tempat terbuka ia tidak bisa melakukan lebih dari ini di tempat seperti ini, yah meskipun ia yakin tidak ada siapapun di tempat ini.
"Hentikan, jangan diteruskan. Aku tidak ingin melakukannya disini." Ucapan seorang Mei Terumi di telinga Inazuma seperti desahan. Ia juga mengerti, ia berhenti menggerakan dada milik Mei Terumi itu. Ia tersenyum dan kembali meraup bibir merah muda itu, ia mencium dengan cara yang tadi dilakukan oleh Mei, yaitu secara agresif. Tapi ia tetap tidak bisa unggul kini Mei lah yang memulai perang lidah diantara keduanya. Lidah mereka saling beradu, Saliva dan ludah mereka bertemu dan menyatu, lidah bertemu dengan gigi, bibir itu dijilat oleh lidah panas milik Mei. Wanita itu sungguh agresif. Ia selalu dominan, ia kalah dalam hal silat lidah, dan akhirnya lidah Mei berhasil masuk kedalam mulut Inazuma dan mengobrak-abrik rongga dalam mulut Inazuma. Dan akhirnya kebutuhan akan oksigen lah yang memisahkan keduanya.
Wajah keduanya merah padam, mereka berdua saling menikmati ciuman panas itu, tapi mata Mei menatap kalau hari mulai gelap, dan sekelebat bayangan tentang anak buahnya tadi yang barusan bertarung dengan pria yang habis berduel dengannya ini.
Tanpa melepaskan pelukannya ia mendekati telinga Inazuma. "Antarkan aku ketempat anak buah ku tadi Inazuma." Permohonan yang diajukan oleh Mei terdengar menggelitik bagi Inazuma, setelah tadi ia saling bertarung kini keduanya sama-sama saling terengah-engah seperti kehabisan oksigen.
"Tentu…..
Dan kejadian selanjutnya Mei tiba-tiba melihat kalau Ao dan Riku tengah memasang kain perban pada Chojuro. Dan tanpa sadar ia sudah tak lagi merasakan sensasi kalau ia masih memeluk pria bernama Inazuma. Ia mencari sekitar dan tak menemukan pria itu. Pria itu menghilang. Tapi ia yakin ini hanya karena permintaan nya tadi karena ia meminta untuk dikembalikan ke tempat anak buahnya berada. Dan sekarang ini ia akan menolong anak buahnya terlebih dahulu. Ia melihat kebawah kalau resleting jaket anti peluru miliknya sudah setengah terbuka, pria itu sangat ingin sekali dengan dadanya. Dasar pria sama saja ya, selalu mulai dengan buah dada pikir Mei Terumi. Tidak Keponakan tidak paman nya sama saja, suka sekali dengan payudara, ya meskipun ia akui bahwa kalau dirinya memiliki payudara berukuran besar dan memiliki kualitas tinggi karena sering sekali ia rawat agar tidak kendur, dan semua itu secara alami tidak ada yang namanya silikon pada payudara. Itu semua alami.
Menggelengkan kepalanya membuyarkan lamunannya tentang diri dan payudaranya ia berdiri dan berjalan ke arah anak buahnya.
.
.
.
.
Dirinya sudah sampai, kamar Lucy bernomor 79 kamar ini seperti kebanyakan kamar hanya ada 1 tempat tidur ukuran queen size, televisi, dua buah sofa biru, sebuah lemari dan disampingnya ada sebuah meja rias dengan kaca super besar, dan ada sebuah ruangan yang ia yakini sebagai ruang dapur dan kamar mandi berada di belakang.
Kamar ini terlihat rapih, semua tersusun dengan sangat rapih dan bersih. Tentu itu bisa membuat mata betah untuk menatap ruangan nomor 79 ini. Dirinya menoleh menatap Lucy yang tengah membuka Jaket Levis nya, lekukan tubuh gadis itu terlihat jelas, karena badan gadis itu hanya ditutupi oleh sebuah tanktop hitam. Dan bawahannya gadis itu masih memakai rok putih nya yang tingginya berada di atas lututnya, sedikit ia tau dibalik rok itu Lucy tak memaki hot pants, Lucy langsung memakai celana dalam. Sungguh gadis yang bisa dibilang liar secara tampilan, mungkin.
Sadar kalau dirinya diperhatikan, karena sedari tadi secara diam-diam dia menatap Naruto melalu cermin super besar di meja riasnya itu. "Jauhkan pikiranmu mengenai diriku adalah gadis yang liar Naru." Ucapan itu membuyarkan lamunannya. Naruto tersenyum mendengarnya. Tangan kiri itu bergerak mengatur posisi rambutnya ke arah belakang.
"Boleh aku duduk Lucy?" Dirinya bertanya pada yang punya sofa biru itu.
"Tentu kau boleh Naru." Ucapnya kini tengah berada di depan lemari miliknya, sepertinya ia tengah mengambil beberapa pakaian tidurnya.
Dirinya menggerakkan tangannya membuka ikatan pada tali sepatu miliknya. Sepatu ini salah satu favoritnya, Sepatu Converse All Star X John Varvatos. Sepatu yang bisa dibilang mahal hanya untuk sepasang sepatu. Dirinya melepaskan sepatu itu dari kakinya dan menggerakkan tangannya untuk membuka kaus kakinya juga. Sedikit lebih baik, karena ia memakai sepatu membuat gerah kakinya.
"Mau minum apa Naru?" Terdengar suara Lucy yang menawarkan untuk memberikan nya minuman.
"Kalau kau ingin minum apa Lucy?" Tanya balik Naruto kepada Lucy.
"Ohhh jadi kau akan meminum apa yang akan ku minum begitu Naru?" Tanya Lagi Lucy yang sekarang terhalang oleh pintu lemarinya, dan hanya kepalanya saja yang terlihat menyembul menatap Naruto dengan wajah penuh dengan keimutan.
"Ya baiklah. Aku ingin minum air putih saja Lucy." Kali ini Naruto yang mengajukan permintaan kepada Lucy untuk membawakannya segelas air putih saja.
"Tidak, tamu ku tidak bolah minum air putih saja." Lalu tak terdengar lagi suara Lucy. Naruto yang mendengar itu hanya tersenyum, sepertinya tuan rumahnya ini sangat peduli pada setiap tamunya. Dan tak lama terdengar suara langkah kaki dan kali ini Naruto menoleh menatap arah suara langkah kaki itu.
Dirinya terperangah melihat gadis itu. Celana ketat berwana abu-abu sepanjang betis, dan yang membuat ia merasakan sesuatu sensasi aneh adalah Lucy hanya menggunakan tanktop pink di badannya. Dan lagi yang membuat nya terpikat adalah Lucy menguncir rambut pirang nya ke kiri membuat wajah imut itu semakin menambah secara drastis.
Dan sekarang ia bisa merasakan kalau kedua tangan Lucy bertumpu pada pundaknya. "Jus saja ya atau cappucino?" Lagi Lucy menawarkan minuman untuk tamunya.
Naruto mendongakkan wajahnya menatap wajah Lucy yang berada diatasnya. "Jangan cappucino nanti aku tak bisa tidur.. jus saja… jus jeruk." Dirinya meminta segelas jus jeruk kepada yang menawarkan minuman yaitu yang punya kamar.
Lucy tersenyum, sepertinya ia memiliki beberapa jeruk didalam kulkasnya, ia akan membuat jus jeruk untuk pria ini. "Tanpa gula ya Lucy." Pria itu tersenyum setelah mengatakan itu. Lucy pun ikut tersenyum mendengarnya. Lalu menyatu kan dahi mereka.
"Tunggu sebentar ya, aku akan buatkan." Dan dengan sedikit gerakan Lucy menggerakan kepalanya dan berjalan menuju dapurnya. Dirinya benar-benar terpesona oleh wanita itu, baik, cantik, manis, senyuman yang luar biasa manis, lesung pipi pun ada, dan kali ini ia yakin kalau gadis ini memiliki keahlian di dapur. Lalu bagaimana ya keahlian gadis itu di ranjang. Sebuah pikiran begitu saja melesat di otaknya.
Ia sebenarnya sedari tadi sudah menahan diri agar tidak berada dalam situasi seperti ini, dan sekarang disini lah dia. Berada antara menahan nafsunya atau mengikuti nafsunya, ia tidak bisa begitu saja langsung menyergap, menyeretnya dan tentu menyerang gadis itu, ia tak bisa. Ia tak ingin gadis itu ia lukai. Gadis itu benar-benar istimewa, jauh berbeda dengan gadis yang sudah ia cobai, ia tak bisa.
Tapi ia tak pernah berada dalam posisi seperti ini. Harus bertahan melawan hawa nafsu nya, dan ayolah demi tuhan sedari tadi sudah ada yang menonjol di balik celananya itu. Ia mungkin bisa menahan hawa nafsu nya untuk sesat, tapi untuk semalaman? Ia tak bisa, ia harus membuat sebuah keputusan. Ia yakin dengan pengalaman dirinya soal ranjang bisa paling tidak mengurangi rasa sakit pada gadis itu. Ia bisa menjilati seluruh tubuh gadis itu dan membuat gadis itu menjerit kan namanya sepanjang malam, tapi apa yang terjadi jika Lucy menolak. Atau paling parah dirinya ditolak. Mau ditaruh dimana wajah nya.
Namun ia yakin Lucy juga punya pemikiran yang sama dengan dirinya, tak mungkin juga bukan seorang wanita meminta ditemani malam-malam begini dengan acara tidur dengan ku. Dan ayolah dikata itu saja sudah cukup menjelaskan kalau Lucy juga menginginkan hal yang sama seperti dirinya. Lucy ternyata gadis seksi berjiwa nakal, tapi ia berharap setelah ini ia akan tetap bersama gadis itu dan juga sebaliknya.
Ia tak peduli mulai detik ini, sekarang ini ia mendeklarasikan kalau Lucy Heartfilia adalah miliknya, dan ia yakin belum ada pria yang dekat dengannya sedekat ini pada Lucy. Dan tetap ia akan menjaga rahasia kalau dirinya adalah seorang yang ternyata menjadi misi dari wanita yang secara belum resmi sudah menjadi miliknya itu. Apa nanti ya tanggapan, ia yakin bahwa kalau Lucy akan mengerti jika suatu saat rahasia nya terbongkar. Ia hanya ingin hidup seperti orang normal, ya meskipun ia akan tetap menjalankan rencana Mata Bulan itu. Ia mengarapkan sebuah keluarga, yang bisa ia sayangi dan yang menyayangi dirinya.
Ia yakin Lucy adalah seorang itu. Naruto tersenyum membayangkan itu, hidup bersama dengan gadis itu, dan akan lebih sempurna apabila rencana itu terwujud. Ia akan hidup di dunia yang sempurna dengan Lucy. Dan untuk itu ia akan terus bersama dengan gadis itu, ya mulai sekarang Lucy adalah tempatnya untuk pulang. Dan iapun berharap Lucy juga mengalami hal yang sama.
Dirinya tersenyum sambil memejamkan mata, dan sesaat ia mencium seperti bau ayam yang dimasak, baunya lezat. Sepertinya Lucy membuat sebuah makanan untuk dirinnya.
"Maaf membuat mu menunggu Naru." Naruto menoleh menatap Lucy yang membawa sebuah pinggan. Naruto hanya tersenyum mendengarnya, ia sepertinya benar soal Lucy pandai dalam hal dapur.
Tangan itu meletakan pinggan diatas meja yang berada di dipan sofa yang Naruto duduki. Mata biru Naruto menatap apa saja yang berada di atas pinggan itu, ada sebuah teko kecil berisi air yang sepertinya adalah pesanannya yaitu jus jeruk dan dua buah gelas dan juga daging yang sepertinya adalah daging ayam yang sudah dipotong sesuai dengan satu gigitan. Dirinya lagi-lagi dibuat kagum oleh gadis ini, sangat senang sekali dengan perbuatannya itu.
Lucy medudukan bokongnya di samping Naruto. Tangannya menuangkan jus jeruk itu ke sebuah gelas kosong dan meletakkannya di hadapan Naruto. "Ini silahkan di minum." Tawar Lucy sambil memberikan sebuah gelas ber isi kan jus jeruk.
"Terima kasih banyak Lucy."
Lalu tangannya membuat gestur tubuh yang mempersilakan Naruto untuk memakan makanan yang ia buat tadi. "Ini silahkan di coba Naru." Tawar Lucy lagi sambil memegang sebuah gelas yang berisikan jus jeruk sama seperti Naruto.
"Baik akan aku coba.." Lalu tangan Naruto bergerak memegang sebuah garpu dan menusuk salah satu potongan daging ayam yang nampak lezat itu. Lalu tangannya bergerak memasukkan daging ayam itu kedalam mulutnya dan mulai mengunyah nya.
"Bagaimana? Enak Naru?" Tanya dengan mata berbinar-binar mengharapakan sebuah jawaban yang enak didengar, yaitu enak Lucy.
"Aku tak pandai menilai, tapi ayam ini sangat lezat Lucy." Ujarnya sambil menusuk lagi potongan ayam itu dan mengarahkan nya ke mulut Lucy. Lucy yang melihat itu kaget begitu melihat Naruto ingin menyuapinya, dirinya tersenyum dahulu lalu membuka mulutnya membiarkan Naruto memasukkan daging yang tadi hanya ia hangatkan saja di oven.
Naruto yang sudah merasa cukup untuk makan ayam itu meminum jus jeruk itu. Manis nya pas, seperti kesukaan nya, dan tidak ada biji jeruk yang berdada di gelasnya ini sempurna. Seperi yang ia inginkan, sebuah kesempurnaan lah yang berada di dalam Lucy Heartfilia.
Dan melalui ujung matanya ia menyadari kalau dirinya di perhatikan oleh yang punya kamar ini. Meletakan gelas itu dan menatap balik wajah cute itu.
"Sudah pukul 1 Naru, ayo tidur." Ujarnya memberi tau kalau sekarang sudah larut malam. Menatap wajah pria yang dari tadi terus menerus tersenyum menatap dirinya.
"Baiklah, aku tidur disini saja, sepertinya sofa ini nyaman juga Lucy." Ujar Naruto berusaha mencari posisi nyaman bagi bokongnya untuk duduk.
"Hmmm, aku tidak keberatan kok berbagi ranjang…." Itu dia, ajakan yang dari tadi Naruto tunggu akhirnya terucapkan juga keluar dari bibir merah merona itu. "...denganmu Naru." Lanjut Lucy dengan wajah yang mulai memerah.
Naruto tersenyum, ia sudah tak sabar untuk segera membantai gadis super imut berdada super ini. "Kau tidak keberatan Lucy?"
Hanya gelengan kepala lah jawaban yang ia dapat, ia sudah mendapatkan respon dari empunya ranjang untuk membantai gadis itu. Lalu Lucy bergerak berdiri dan memegang pundak Naruto.
"Temani aku tidur Naruhh." Akhir kata yang diucapkan oleh Lucy membuat Naruto sumringah, senang bukan main. Gadis ini sekarang tepat berada di hadapannya. Wajahnya memelas membuat dirinya 200 kali lebih imut dari biasanya. Bibir itu seperti apa ya rasanya bila ia sudah cium nantinya. Memegang pergelangan tangan kanan Lucy dan mencondongkan wajahnya mendekati wajah Lucy Heartfilia. Dan akhirnya kedua bibir itu bertemu, ciuman antara kedua terjadi. Naruto mencium lembut bibir merah merona itu, menyesapi setiap daging empuk tak bertulang itu.
Lucy juga sudah menunggu hal ini, ini yang ia inginkan, tapi ia juga tidak keberatan jika Naruto melakukan hal yang lebih jauh, apapun itu ia sudah membuat keputusan kalau ia akan menjadi miliknya utuh karena hanya Naruto satu-satunya orang yang akan dan selalu menyentuhnya.
Tangan kanannya mulai beraksi meraba dada itu dan langsung memainkan peranan untuk memainkan puting itu dari balik tanktop pink nya. Karena tidak memakai bra Naruto langsung menyelusup kan tangannya dari celah atas dan meraba dada super kenyal itu.
"Ahhn…"
Desahan tertahan karena mereka masih dalam posisi bercumbu mesra. Bibir keduanya sudah terbuka, dan sekarang lidah lah yang menjadi korban dan pelaku. pria yang dikenal sebagi Naruto mencari paha belakang Lucy dan mengeluarkan tangannya dari dalam gunung super kenyal itu dan memegang belakang leher Lucy.
Dan selanjutnya Naruto menggendong Lucy ala bridal style dan berjalan sambil terus memagut bibir itu, matanya terbuka dan menatap kalau arah yang ia tuju yaitu ranjang sudah benar. Meletakan perlahan tubuh montok itu di atas ranjang dan mencari bagian bawah dari tanktop Lucy dan menariknya keatas, membuka tanktop itu dan membuangnya sembarangan.
Lucy tak tinggal diam dia juga membuka satu persatu kancing baju polo Naruto. Dan terbuka semuanya dengan cepat ya karena hanya ada 3 kancing di baju itu. Lucy melakukan hal yang sama dengan yang Naruto lakukan tadi, menaikan baju itu ke atas dan menariknya sedikit keras dan membuang baju itu sembarangan.
Lucy melalu pandangan yang ekstrim menatap tubuh sempurna milik Naruto, sixpack sempurna dengan otot-otot yang terpahat di badannya membuat Lucy semakin bernafsu untuk meraup bibir itu kini ia yang mengambil alih permainan, dengan cara menelusupkan masuk lidahnya dan mengobrak-abrik rongga mulut Naruto.
Menyentuh setiap gigi yang dimiliki oleh Naruto dengan lidahnya dan terus beradu lidah dengan Naruto semakin membuat Lucy bergairah. Ini adalah kali pertama bagi Lucy untuk melakukan hal ini tapi ia senang bukan main. Sepertinya juga begitu ia semakin nakal menggerakkan tangannya turun hingga ke bawah pusar dan melepaskan ikatan celana milik Lucy. Kedua tangan milik Naruto mempunyai dua tugas, tangan kanannya bergerak terus untuk meremas gundukan daging kenyal itu, dan tangan kirinya kini sudah selesai membuka tali dari celana milik Lucy.
Tangan kiri itu menyelusup masuk kedalam celana milik Lucy. Lucy pun sadar kalau tangan Naruto sudah mengenai bulu kewanitaan nya. Naruto memainkan bulu halus itu dan jari tengahnya turun kebawah, ke selangkangannya dan itu dia. Jari tengahnya bermain di dua belahan yang sudah mulai licin karena Lucy mengeluarkan cairan cintanya sedikit demi sedikit.
Lenguhannya mulai terdengar, Lucy kini semakin tak terkendali kala bibir panas itu makin turun ke lehernya dan menjilati seluruh permukaan lehernya, dan bahkan ia merasakan kalau gigi milik Naruto juga ikut menggigit leher jenjangnya. Dirinya hanya menjambak rambut milik Naruto karena ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia hanya mengikuti nafsunya dan gerakan Naruto, Ia hanya mengikuti itu.
Mulut Naruto makin sibuk, lidah itu terus turun hingga ia mulai menjilati pundak yang berkeringat milik Lucy, dan terus menciumi pundak itu dan terus memberi tanda kalau pundak ini miliknya seperti tadi ia memberi kan tanda pada leher milik Lucy. Tangan kirinya sudah mulai ia masukan, dan ternyata Lucy Heartfilia adalah gadis yang masih perawan, belum ada yang menyentuh gadis ini. Dan dia akan menjadi yang pertama dan satu-satunya untuk gadisnya ini.
Jempolnya bermain dengan bulu halus kewanitaan milik Lucy sementara jari tengahnya masih berkutat di depan pintu masuk kenikmatan milik Lucy. Ia masih bermain dengan pintu masuk milik Lucy. Sementara Lucy juga dari tadi mulai mendesah nikmat akibat perbuatannya.
Dan ia sadari kalau Lucy menarik tangan kirinya dan menatapnya dengan tatapan sayu. "Buka saja celananya Naru." Suara Lucy terdengar di telinga nya membuat Naruto mengerti kalau Lucy ingin bermain penuh dengannya. "Kau dulu membuka celana ku, Lucy.* Naruto memberi tahu tugas selanjutnya untuk Lucy, yang dari tadi hanya menjambak rambut nya saja.
Tangan itu bergerak ke bawah, membuka secara perlahan ikat pinggang yang terbuat dari kulit itu, dan kedua tangan nya itu berhasil membuka ikat pinggang Naruto, dan jari-jarinya mulai membuka kancing yang masih terpasang di tempatnya. Ia mulai bergerak membuka kancing itu dan tangannya mulai bergetar untuk membatik turun celana cream milik Naruto. Dengan menaikan bokongnya membatu Lucy agar mudah membuka celana miliknya.
Dan akhirnya berhasil, Lucy sudah membuka celana milik Naruto. Dan menarik keluar celana itu dari ujung kaki Naruto, dan juga membuang sembarang celana milik Naruto. Tinggal sebuah celana pendek berwarna putih saja lah yang Naruto kenakan, tangan kurus itu bergerak lagi-lagi untuk membuka celana itu. Dan tangannya bergerak, jarinya menelusup masuk memegang dua buah kain yang ia yakini adalah pertahanan terakhir yang Naruto pakai. Dan mulai menarik turun celana dalam milik Naruto, dan berhasil dengan mudah ia langsung membuang lagi sembarang celana dalam milik Naruto.
Dan blush, wajah Lucy merah total melihat daging tanpa tulang itu berdiri melawan gravitasi. Mata caramel itu menatap wajah pria itu dan tersenyum. Gadis itu lagi-lagi menyambar bibir Naruto dan mencium nya, Naruto yang sudah telanjang bulat, juga sudah mulai menggerakkan lagi tangannya Turing untuk membuka celana milik Lucy, kedua tangan kokoh itu memegang dan menarik turun celana milik Lucy. Lucy pun tersenyum di ciuman mereka, Naruto melakukan hal ini sangat cepat, seperti tidak sabaran saja.
Menaikan bokongnya untuk memberikan keleluasaan untuk membuka celananya. Dan berhasil Naruto langsung membuang sembarangan celana milik Lucy, dan mendesah setelah begitu tau Lucy pun menggerakkan tangannya memegang barangnya dan menggerakkan tangannya naik turun membuat Naruto kenikmatan dibuatnya.
Lidah Lucy turun menyerang leher kokoh itu, menggigiti jakun pria itu dan terus turun kebawah menjilati puting di dada kokoh pria itu, menjilati dengan cara memutari puting itu dan terus mengocok batang kemaluannya semakin tinggi temponya. Lidah super panas itu turun terus memasukan lidah itu kedalam lubang pusar dan menjilati habis bagian perut sixpack sempurna itu. Dan akhirnya tatapan matanya bertemu dengan mata biru itu.
"Kau bisa menghisap nya Lucy." Ujar Naruto sambil memegang bagian kepala Lucy.
Kocokan itu tak berhenti, hanya tempo nya saja yang ia kurangi. "Aku harus menghisapnya dulu atau menjilati nya dulu Naru?" Kali ini Lucy sudah menunduk berada di depan persisi batang yang sedari tadi ia kocok.
"Terserahh, mana saja yang kau lakukan aku akan menikmati ituuuu—akhhhhhhh….." Naruto mendesah panjang begitu lidah panas itu menjilati lubang yang berada di batang besar itu. Menjilati bagian kenyal itu dan terus turun menjilati bagian bawah batang itu sambil terus mengocok nya.
Lucy sebenarnya tidak tau apa yang akan ia lakukan selanjutnya, ia hanya mengikuti nafsunya. Mulutnya sudah mulai meneteskan air liur tanda ia sudah sangat ingin menghisap batang yang tengah ia kocok ini.
"Lucyyyyy—ahhhhh—yaaaaahhh." Lenguhannya panjang, menikmati mulut yang bergerak mulai menghisap batang miliknya. Tangan kiri itu tak terkendali ia mulai menekan kepala Lucy membuat Lucy hanya bisa menelan setengah dari batang itu. Lucy menarik kepalanya terbatuk karena tidak bisa bernafas dan menjilati bibirnya yang mengeluarkan cairan lengket itu dan bergerak turun lagi berusaha mengulum lebih dari tadi.
Naruto ia benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa nikmat. Ia merasakan ada perasaan istimewa saat kepala Lucy bergerak naik turun mengulum batangnya itu, ia tak pernah merasakan kenikmatan yang seperti ini. Dari banyaknya wanita yang sudah mengulum miliknya ini lah yang paling ia sukai. Menjambak kepala Lucy dan membuat Lucy menatapnya dan tersenyum dan mengeluarkan lidahnya menjilati cairan yang berada di bibir dan dagu gadisnya ini. Dan menciumi lagi bibir gadis itu dan mulai beraksi untuk menjilati bagian bawah gadis itu. Bermain dengan dada besar gadis ini dengan terus menjilati puting payudara berwarna merah muda itu dan berharap ada cairan manis yang keluar, tapi tak ada yang keluar dan lidah itu terus turun kebawah dan menjilati perutnya rata Lucy, tangannya memegang kedua paha Lucy membuka lebar pahanya dan kepalanya bergerak terus turun kebawah, menyesapi setiap aroma yang berada di area kewanitaan yang masih tersegel itu.
Hidung mancung itu menarik nafas panjang saat hidung itu berada di bulu kewanitaan Lucy. Menghisap aroma yang keluar dari sana, dan lidah itu mulai beraksi menjilati bagian selangkangannya. Telinganya tak salah dengar Lucy berteriak menjerit kan namanya. Dirinya tersenyum sambil terus bermain dengan area kewanitaan itu, menjilati klitorisnya dan bermain dengan lubang kenikmatannya itu dengan jari tengah nya. Masih sangat rapat, Lucy pasti akan berteriak jika ia langsung masukan lubang itu dengan batangnya, ia harus membuat lubang itu elastis terlebih dahulu, ia terus menjilati klitorisnya itu dan akhirnya jari tengahnya itu perlahan-lahan mulai masuk kedalam lubang milik Lucy.
"Naruhhhhhhhh" Lucy melenguhkan namanya, ia merasakan kalau pahanya Lucy menghimpit kepalanya, seperti tidak membuat dirinya menarik kepalanya menjauh dari lubang ini. Dirinya yang sudah sangat menikmati permainannya ini semakin bersemangat begitu jari tengahnya menerobos masuk kedalam lubang milik Lucy.
Makin cepat gerakan memasukan dan mengeluarkan jari tengahnya itu. Ia sudah lebih mudah karena Lucy sudah mengeluarkan banyak cairan yang keluar dari klitorisnya dan banyak juga yang sudah ia telan, ia rasa dua jari akan muat. Ia memasukan lagi jadi telunjuknya bersamaan dengan jari tengahnya bergerak maju mundur membuat desahan makin terdengar di telinganya. Ia sudah menjadi milik gadis ini, dan begitu juga Naruto, Lucy sudah menjadi miliknya.
Kepalanya terangkat, membuat kekecewaan terasa oleh Lucy. Tapi melihat Naruto tersenyum padanya membuat sadar apa yang akan terjadi selanjutnya. "Pelan-pelan ya Naru, ini pertama kalinya untukku." Ujar Lucy sambil menggenggam tangan kanan Naruto. Naruto tersenyum menganggukam kepalanya, dan mengarahkan batang kebanggaan miliknya itu dihadapan lubang kewanitaan yang tadi ia cicipi rasanya itu. Menggesekkan ujung kepala batang itu dan pintu lubang kenikmatan itu dan mulai mendorong pelan lubang itu dan terdengar suara Seperti jeritan milik Lucy. Dirinya menggenggam tangan Lucy erat, dirinya sendiri tak tega tapi sudah sangat tanggung jika berhenti, ah masa bodo lah, nanti juga Lucy akan menikmati permainan ini.
"Akkkhhhhh, Naruhh…." Jeritan yang bercampur desahan keluar dari mulut Lucy ia menggenggam erat tangan Naruto. Ia menginginkan segala sesuatu dari pria itu. Ia ingin dilakukan lagi seperti ini lagi-lagi dan lagi. Ia sudah menjadi milik pria ini.
"Lucyyyyy…." Naruto mendesah begitu ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dan menikmati lubang yang benar-benar nikmat itu. Ia merasakan kalau Lucy juga mulai menikmati permainan yang ia lakukan, ia melakukan gerakan dengan perlahan membuat desahan namanya terus terdengar di ruangan ini.
Tangan mereka saling menggenggam, tangan kiri Naruto masih memeluk paha mulus milik Lucy agar lebih mudah bagi dirinya untuk menggerakan pinggulnya. Mulai untuk mendekatkan kembali dua kepala pirang itu dan mulai lagi meraup bibir Lucy. Menciumi bibir yang membuat candu bagi Lucy.
Dan pergerakan dibawah sama makin buas dan liar, Naruto makin tak bisa menahan nikmat yang terasa di bawah sana, ia terus saja menjilati ringan rongga-rongga mulut Lucy. Berusaha meredam desahan yang keluar dari mulut gadis ini. Lucy sudah benar-benar membuat nya gila, ia tak bisa lagi menahan ia merasakan klimaks nya sudah dekat ia makin mempercepat gerakan pinggulnya. Dan pada saat sudah didepan mata klimaks itu terjadi ia menumpahkan cairan cintanya didalam lubang milik Lucy. Dirinya terjatuh di samping Lucy, tangan Lucy makin mempererat lagi genggaman tangan mereka. Rasa ini sungguh sangat nikmat, tiada rasa lain yang mampu menyamai rasa nikmat ini, rasa yang luar biasa nikmat.
Sadar kalau Lucy mungkin keberatan karena ia dari tadi berada di atas tubuh gadis ini, ia bergerak melepas persatuan dirinya dan tidur di sampingnya, dan tak melepas genggamannya pada gadis itu. Gadis itu memeluk dirinya.
"Aku mencintaimu, Naruto. Aku mencintaimu." Suara itu terdengar, ia mencium puncak kepala pirang Lucy dan membisikkan sesuatu. "Aku juga Lucy, aku mencintaimu Lucy Heartfilia." Selepas kata itu Lucy memeluk dirinya dan menjadikan dada Naruto sebagai sandaran kepalanya. Lucy memeluk Naruto dan Naruto pun memeluk pinggang Lucy.
"Tidur lah Lucy, kau pasti kelelahan." Naruto berbisik di telinga gadis kesayangan nya itu.
Lucy tersenyum mendengarnya, makin mempererat pelukannya pada Naruto. "Selamat malam, Naruto." Lalu ia mencoba untuk senyaman mungkin untuk tidur di pelukan hangat Naruto.
Hai^^V(di injek reader) maaf ya selama beberapa hari ini(Beberapa tahun woy!) Dalam beberapa tahun ini saya ga bisa update chapter terbaru NNN. Sebenarnya banyak hal yang membuat saya ga bisa update NNN, salah satunya adalah banyak masalah yang terjadi di dunia nyata ini, misalkan hp saya yg hilang dan di hp itu ada file chapter lanjutan NNN, saya jadi super duper mager ngetiknya lagi. Dan yah baru sekarang deh bisa up nih chapter haha(di lempar keyboard) oh iya btw gimana chapter di atas? Hehe maaf ya kalo kurang baik dalam pengetikan atau alurnya yang super cepet hehe, dan buat kalian pencinta lemon, diatas udah ada tuh lemonnya hehe gimana udah asem belom, atau mungkin kurang asem hehe. Tadi juga di atas ada kan kushira dan Kakashi yang mengejar Deidara, dan nenek Chiyo dan Sakura yang berhadapan dengan Sasori, anggap aja itu kayak di Canon. Oke dan saya membuat sebuah selingan yaitu jengjeng Mei Terumi dan Namikaze Inazuma(OC) sebagai salah satu pair dari fic NNN tercinta ini haha. Maaf ya yg udah pada baper sama NaruMei maupun NaruKarin tapi udah fix, fic ini bakalan berpair utama NaruLucy hehe(di gang bang reader) oke sekian dulu ya kalo ada yang mau di tanya Monggo silahkan di review dibawah ada kan kolom riview nya kalo ga ada PM aja juga gpp lah malah seneng sayanya ada yang ngechat haha^^V
Oke terima kasih banyak buat kalian semua yang udah setia menanti fic yang awalnya saya akui banyak banget kekurangannya tapi saya janji kok kedepannya saya akan perbaiki jalan cerita, mengurangi typo, dan kalo bisa saya akan memanjakan dengan alur yang ga bisa di tebak hehe itu si harapan saya… oke sekali lagi terimakasih banyak ya. Silahkan tulis pendapat kalian soal chapter ini ya, kalo kaga nulis gapapa sih.
Oke see ya
