-NEO NAMIKAZE NARUTO-
Chapter 34 ~ Lucy Heartfilia.
Rated : M+-:x
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Gaje, Abal, Typo(s), OC!, OOC, idenya pasaran(maybe), Lemon18+, Fic ini menyebabkan kematian dan bila anda beruntung anda hanya akan mengalami stroke itu bila anda membaca lemon padahal anda belum 18 tahun keatas^^v
Waktu membaca NNN pastikan ruangan terang dan jangan membaca terlalu dekat, dan siapkan cemilan yang enak ya yg banyak kalo bisa, dan jika sudah selesai membaca pejamkan mata dan gerakan mata reader ke atas, bawah, kiri, dan kanan supaya mata reader tetap sehat walhafiat.
Happy Reading!
.
.
Terlihat seorang pria yang masih dalam keadaan tertidur bergerak-gerak di kasurnya. Pria pirang itu nampak tak nyaman dengan sinar matahari yang mengenai wajahnya yang berasal dari jendela yang gorden nya sudah terbuka itu. Akhirnya dalam beberapa kedipan mata, kelopak mata itu terbuka, menampakkan mata bagai biru safir itu. Bergerak ke kiri dan menatap langit-langit ruangan, ia menyadari sesuatu, ia semalam habis bercinta. Menatap sebelah kirinya dan menyadari kalau gadisnya sudah tidak ada.
Akhirnya dirinya bergerak mendudukkan dirinya di pinggiran kasur super nyaman itu. Tangannya bergerak ke pipinya, menggaruk pelan pipi yang sedikit gatal itu. Dan matanya tanpa sengaja menoleh ke tubuhnya dan mendesah kalau dirinya tak berbusana. Matanya meneliti mencari pakaiannya yang semalam dilucutioleh gadisnya.
Dirinya tersenyum menatap pakaiannya yang sudah dilipat dan di letakan pada meja kecil di samping kasur berukuran queen size ini. Berdiri dan sedikit menggerakkan badannya melakukan perenggangan otot setelah semalam bergerak tanpa henti menyerang gadisnya itu.
Tangannya memungut pakaian yang sudah dilipat itu, dan mulai memakainya satu persatu. Gadisnya itu sangat baik, terbukti bahkan pakaiannya yang semalam dilucuti oleh gadisnya itu dilipat dengan rapih. Dirinya nampak tersenyum mengingat hal semalam, dirinya dan gadisnya sama-sama menyatakan perasaannya.
Dirinya tak menyangka bisa menjadi orang yang spesial bagi gadis yang bernama Lucy Heartfilia itu. Memang ia akui kalau dirinya adalah seorang yang rupawan, banyak wanita yang sudah ia taklukkan, hanya dengan senyuman ia yakin wanita akan langsung lumer oleh dirinya, ya ia harus bangga akan dirinya yang rupawan ini. Menatap dirinya di sebuah kaca super besar dan merasa kalau ada bekas ruam kemerahan di sekitar bibir pipi dan dagunya, dan sepertinya ada lagi di sekitar leher. Nampaknya Lucy sangat bersemangat semalam, bergumul mesra dengan semangat memang sangat menyenangkan.
Tersenyum mengingat hal-hal menyenangkan semalam, dirinya mencoba merapihkan tataan rambut nya menggunakan tangannya. Dirinya sudah tak memotong rambut selama lebih dari 4 tahun tidak pernah memotong rambut nya, dan sekarang rambut pirangnya sudah panjang, panjangnya hingga melewati bahunya. Tapi ia menyukai rambutnya yang sekarang, nampak seperti ada yang spesial jika mempunyai rambut panjang seperti ini.
Tangan telah selesai memasang kembali celananya. Dan sekarang tatapannya mengarah ke perutnya, mata biru itu terus menatap sebuah luka. Luka yang bisa dibilang bisa membunuhnya waktu itu…..
Flashback.
Di sebuah tempat gelap, yang hanya disinari oleh sebuah lilin kecil. Terlihat ada dua orang yang saling menatap. Di sisi kanan ada seorang pria muda berambut pirang bermata biru dan mengenakan pakaian serba hitam. Sementara di sisi kiri ada seorang yang lebih tua di bandingkan pria dihadapan nya ini, pria dengan luka di setengah bagian wajahnya itu, pria yang menutup mata sebelah kirinya itu sementara di mata kanannya itu ada sebuah mata merah yang bersinar. Mata itu adalah Sharingan, dengan tiga tomoe menatap balik pria muda pirang yang berada di hadapannya.
Api dari lilin itu yang semula diam tak bergerak namun seketika bergoyang tertiup angin pelan, menandakan ada sesuatu terjadi di dekat lilin itu. Dan benar saja, pria pirang itu menghilang, meninggalkan percikan kilat kuning yang tersisa. Sharingan itu bergerak ke kiri dan ke kanan, memperhatikan sekitaran nya, memperhatikan kemana perginya pria yang tadi di hadapannya itu.
Pria dengan luka di setengah bagian wajahnya itu menggerakkan tangannya, menepis pukulan dari pria pirang yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Dengan pergelangan tangannya yang dilapisi oleh besi, ia menangani pukulan tangan itu, dan berbalik mulai
menyerang pria pirang itu dengan tendangan. Menggerakkan kaki kanannya berusaha menendang dengan roundhouse kick ke arah pirang itu.
Pria pirang itu menundukkan kepalanya, menghindari serangan kaki itu dengan cepat. Setelah serangan kaki itu berhasil ia hindari, ia menggerakan kakinya dengan gerakan memutar untuk berusaha menjatuhkan musuh di hadapannya itu dengan cara menendang kaki lawan nya.
Menyadari bahwa pria pirang itu tengah memutarkan badannya untuk menyerang nya balik. Ia juga dengan sedikit melompat berusaha menyerang lagi pria pirang itu, berusaha menendang pria yang berada dibawahnya itu dengan tumitnya.
Mata biru itu menatap ke atas, serangannya yang mengincar kaki lawannya gagal, lawannya sepertinya bisa dengan cepat membaca serangannya. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menerima atau bisa dibilang mem-block serangan dengan tumit kaki itu. Dengan kedua telapak tangannya itu , ia berhasil menangkis serangan tumit kaki itu. Dengan gerakan untuk berdiri, ia ingin membalik menyerang lawannya itu.
Dengan gerakan dengkul nya, ia mengincar dagu pria dengan luka di setengah bagian wajahnya itu. Pria dengan luka itu menyadari kalau ia tak bisa mengelak mengingat ia dengan keadaan sehabis melompat. Ia juga dengan kedua telapak tangannya, menepis serangan dengkul pria pirang itu. Tapi ia hanya terfokus pada dengkul pria itu, ia tidak menyadari kalau pria pirang itu mengarahkan tinju keras ke arah rahangnya.
Buaghhhk
Kepalan tangan pria pirang itu sukses mengenai rahang kanan pria ber-Sharingan itu. Dengan sedikit terpental ia menahan sakit di rahangnya itu, ia tersenyum, dirinya sudah terkena pukulan pria yang bisa di lihat lebih muda di bandingkan dengan dirinya. Ia berusaha meningatkan tempo serangannya, dengan menaikan kecepatan serangannya ia akan menyerangnya balik.
Ia mulai dengan pukulan tangan kanannya, ia arahkan ke wajah pria pirang itu. Tapi dengan mudah kepala pirang itu menghindari serangan tangannya. Lagi dengan tangan kirinya ia berusaha memukul lagi pria pirang itu, dan lagi-lagi tidak berhasil, pria itu pasti memiliki refleks yang sangat cepat. Terus memukul dengan kedua tangannya, tapi hasilnya nihil, pria pirang itu dengan cepat menghindari semua pukulan nya. Dirinya baru menyadari bahwa pria pirang itu juga menggunakan hal yang sama dengannya yaitu dengan Sharingan, pria pirang itu pantas bisa menghindari seluruh serangan nya.
Dengan kuda-kuda sempurna pria pirang itu terus saja mundur menghindari serangan dirinya. Tapi seketika pria bermata satu itu memutuskan untuk sedikit lebih serius, ia menaikkan level Sharingan miliknya. Mata merah itu berubah. Berubah yang tadinya dengan tiga tomoe, sekarang mempunyai pola tersendiri. Ia menaikan Sharingan-nya menjadi Mangekyo Sharingan.
Pria pirang itu menatap balik Sharingan yang sudah naik menjadi Mangekyo Sharingan itu. Dirinya akan menyerangnya balik, dengan terus menghindari setiap pukulan pria itu, ia menunduk dan dengan sedikit gerakan memutar, ia mengarahkan siku kirinya ke dada pria itu.
Gigi pria pirang itu mengeras, ia seharusnya sudah berhasil mengenai lawannya. Tapi ia sudah tau jika pria itu mengaktifkan Mangekyo Sharingan miliknya itu, dirinya sudah tak bisa lagi mengenai dirinya itu. Menatap wajah yang tersenyum itu, ia merasakan kalau dirinya sendiri bingung harus bagaimana. Dirinya harus menyerang nya dengan dua serangan di tempat yang sama dalam waktu secepat mungkin.
Dengan Hiraishin mungkin akan membantu dirinya. Pria pirang itu menghilang, meninggalkan sebuah Kunai yang sangat khas yaitu milik seorang yang menyandang gelar Yondaime Hokage yang tertancap di tempat ia berpijak tadi. Secara tiba-tiba ia muncul di belakang leher pria itu, dan langsung menebas punggungnya, dan lagi serangan itu hanya menembus pria itu. Terus menyerang dengan Kunai itu, dan hasilnya tetap sama, dan dalam sesaat ia membuat sebuah segel tangan, dan muncul sebuah bunshin.
Bunshin itu juga menggunakan Kunai, dan mulai menyerang pria dengan Mangekyo Sharingan itu. Dan dengan sekali gerakan tangan, ia melempar Kunai itu dengan sangat cepat kearah badan pria itu. Sementara tubuh pria pirang yang asli mengamati dan memprediksi kapan Kunai itu akan mengenai targetnya. Dan pada saat sudah mengenai targetnya dan kunai itu menembus dirinya, ia segera mungkin menghilang.
Sementara itu pria ber Mangekyo Sharingan itu sedari tadi hanya diam menghindari serangan jarak dekat pria itu namun sekarang dirinya sudah siap untuk menyerang balik pria pirang itu. Sesuai dengan dugaan nya, pria pirang itu dengan sangat cepat muncul dihadapannya. Kunai milik Yondaime Hokage itu masih bergerak menembus dirinya, ia dalam kondisi sangat berbahaya. Namun ia mengambil resiko itu.
Ia menggerakkan tangannya sama seperti pria pirang itu yang menggerakkan tangannya dengan memegang Kunai sebagi ujung di tangannya. Dengan tangan kiri, ia mencekal lengan pria pirang itu dan dengan kecepatan tinggi ia menangkap Kunai yang sudah menembus dirinya dan menangkap Kunai itu dengan tanhan kanannya. Dan masih dengan keadaan kaget, pria pirang itu masih terpaku ternyata pria ini bisa juga bergerak dengan sangat cepat.
Namun selanjutnya ia merasakan sesuatu. Ia merasakan sesuatu yang menembus bagian bawahnya, Sharingan itu berubah ke warna aslinya yaitu biru. Matanya yang berwarna biru bagai safir itu menatap bagian perutnya. Perut nya ter tembus serangan pria yang tadi berusaha ia serang terlebih dahulu. Rasa sakit mulai mengambil alih kesadarannya, ia merasakan sesuatu yang bergerak-gerak di perutnya, dan ternyata tangan pria itu menembus perutnya juga.
Serangan itu menembus perutnya. Dengan rasa sakit yang teramat sangat, pria pirang itu terjatuh dan langsung memegangi bagian perutnya.
Tangan pria itu berlumuran darah, menggerakkan tangannya melempar Kunai itu ke tanah menghasilkan Kunai itu tertancap di tanahnya ia tersenyum, lagi-lagi pria pirang itu ia kalahkan. Namun kali ini ia merasakan kemenangan yang sebenarnya, tanpa Ninjutsu, hanya hampir 15 menit ia mampu mengalahkan pria pirang itu. Sharingan itu menoleh menatap seorang pria tua dengan rambut yang sudah penuh dengan uban itu, dan berbalik berusaha membersihkan tangannya.
Sambil menahan sakit di perutnya, ia merasakan ada juga yang memegang punggungnya, ya bagian belakangnya juga terluka karena tertembus serangan tadi. Sepertinya rasa sakit di bagian belakangnya sudah mereda.
"Kau terlalu banyak bergantung pada Hiraishin mu Naruto-sama!" Ujar suara yang ia kenal dengan makhluk yang sangat menyebalkan.
Mata biru itu menoleh menatap makhluk berwarna putih itu, wajahnya tidak pernah terlihat. Ia hanya melihat bentuk spiral pada wajahnya itu. Ia memanggil makhluk itu dengan sebutan Tobi. Makhluk yang mempunyai sebuah tujuan yaitu ingin mengetahui bagaimana rasanya buang air. Makhluk aneh yang tidak jelas nada bicaranya maupun isi ucapannya itu selalu membuat dirinya kesal.
"Terlentang lah, aku akan mengobati luka pada perutmu." Ujarnya memperintahkan pria yang umurnya baru menyentuh 14 tahun beberapa bulan lagi. "Punggung mu sudah ku obati, sekarang giliran perutmu, kalau perutmu tidak ku obati, nanti kau akan buang air langsung dari perutmu lho!" Ocehan konyol itu terdengar lagi. Ia hanya diam menahan rasa sakit di perutnya, dan sepertinya benar, ia sudah tidak merasakan sakit lagi di punggungnya. Sepertinya makhluk itu memang sangat ahli dalam hal penyembuhan.
Dia hanya diam, mata biru itu dengan malas akhirnya menatap makhluk aneh bernama Tobi itu. Dan menurut padanya untuk memutar badannya membuat badannya telentang di tanah dingin ini.
"Nah kalau begini aku dengan mudah dan cepat bisa menyembuhkan luka mu ini Naruto-sama!" Lagi ia mengucapkan segala kata-kata nya itu dengan penuh semangat.
Tangan putih itu mengeluarkan semacam chakra hijau, chakra itu langsung masuk kedalam bagian yang tertembus Kunai itu. Perlahan, darah yang mengalir keluar berhenti. Luar biasa, dalam beberapa saat saja, luka itu merapat. Sepertinya ia hanya melihat garis tipis hasil dari serangan tadi. Dirinya tersenyum, begitu tak ada lagi rasa pedih di perutnya maupun punggungnya.
Matanya menatap Tobi, ia mau tak mau harus mengakui kalau makhluk aneh itu mempunyai kemampuan medis yang sangat baik. Kurang lebih dia tau, kalau ada sel Hashirama di dalam makhluk aneh itu. Jadi wajar saja jika makhluk aneh itu mampu menyembuhkan berbagai macam luka dengan sangat cepat.
Tangannya bergerak, membuka baju hitam yang sudah tertembus itu yang berlumuran darah nya dan membuangnya sembarangan. Ia lalu menoleh menatap pria tua yang duduk dengan mata menyala berwarna merah atau yang bisa disebut dengan Sharingan. Ia berjalan menuju pria itu, pria tua itu hanya diam memperhatikan dirinya.
"Kau terlalu bergantung pada Hiraishin mu itu." Ucapnya dengan nada datar, ucapannya sama dengan makhluk bodoh itu.
"Kau harus tau, kecepatan dengan menggunakan Ninjutsu seperti Hiraishin, hanya akan membuat dirimu terbuai dengan jutsu itu. Kau akan selalu melakukan jutsu itu lagi dan lagi, membuat seluruh latihan berat mu dengan segala macam Taijutsu menjadi sia-sia" Ujarnya memberi sebuah kelemahan baginya dari jutsu milik Yondaime Hokage yang menjadi seorang ayahnya atau paling tidak ia tidak mengakui bahwa Yondaime Hokage adalah ayahnya.
"Lebih baik gunakan kecepatan dari hasil latihan fisik mu. Gunakan itu, itu akan jauh lebih berguna. Karena kecepatan dari hasil fisik mu sangat mempengaruhi proses berkembang nya kemampuan dirimu untuk menebak dan memprediksi dimana kau harus menyerang lawan mu." Jelasnya lagi.
Dirinya mungkin salah, mungkin benar. Entahlah, dirinya hanya ingin sekuat mungkin dengan sangat cepat. Tapi benar yang dikatakan orang tua yang duduk di hadapannya ini, dirinya terlalu bergantung pada Hiraishin.
Dirinya lagi-lagi hanya meninggalkan bekas luka di bagian tubuhnya. Bagaimana nanti ia akan akan menghancurkan Konoha? Dirinya harus lebih menurut kepada orang tua yang masih dalam keadaan duduknya itu.
"Aku mengerti Madara-sensei."
Flashback end.
Dirinya memejamkan matanya, berusaha untuk melupakan semua masa lalu itu. Dirinya sudah jauh lebih kuat di bandingkan dengan masa lalunya, tidak ada yang bisa membuat luka seperti yang ada di perutnya lagi. Kecuali musuhnya adalah seorang yang sebanding dengan dirinya. Ia hanya akan fokus untuk rencana mata bulan nya, selanjutnya adalah Konoha beserta isinya akan ia porak-poranda kan.
Mata biru itu terlihat, menatap pantulan dirinya melalui kaca super besar ini. Ia tersenyum menatap tiga garis yang berada di pipinya, ciri khas milik dirinya dan Kushira. Mereka berdua adalah satu, tapi kenapa hanya Kushira yang di nomor satukan. Ia pun menyesali
segala sesuatu tentang keluarga nya. Kenapa ia harus lahir dari keluarga itu. Kenapa ia harus punya orang tua seperti mereka. Kenapa ia yang di abaikan. Seharusnya Kushira lah yang di abaikan. Karena ia tau semua Jinchuricki hidupnya terasingkan. Mereka semua di jauhi oleh penduduk desa nya masing-masing.
Masa lalu itu, sungguh menyakitkan mengingat kebenaran yang terjadi. Tapi seberapa keras ia mencoba melupakan masa lalu itu, ia merasakan kalau masa lalu itu memang tidak bisa ia hilangkan. Masa lalu itu seperti sudah menempel pada otaknya, tidak ingin menjauh dari pikirannya. Mungkin kenangan yang tak terlupakan ada pada saat dirinya sendiri pergi pada malam itu. Ia di tampar oleh ibunya, itu merupakan salah satu hal yang ia benar-benar ingat, karena pada saat itu ibunya berjanji akan memberikan kasih sayangnya kepada dirinya. Tapi ia sudah terlalu banyak mendapat rasa sakit dan kesepian. Ia memutuskan untuk pergi dari keluarganya mulai saat itu.
Dirinya tersadar dari lamunannya begitu ia mendengar derit suara dari pintu yang terbuka. Arahnya dari kamar mandi. Ia menoleh dan memakai kembali bajunya, dan berjalan menuju asal suara tersebut. Ia menatap dapur yang rapih, dan menatap sebuah meja makan dia menatap ada sebuah tudung saji di atas meja itu, pasti ada makanan di dalam situ.
Mata biru itu menatap arah kamar mandi, dan melihat kalau pintu kamar mandi sudah tertutup. Isi dari kamar mandi itu sudah ia duga dan pasti isinya adalah Lucy Heartfilia. Dirinya bergerak, berjalan menuju arah dapur. Mengambil sebuah gelas dan segera mengisi gelas itu dengan air putih, melepas kan dahaganya. Mendudukkan dirinya di sebuah kursi, dan mulai meminum air putih itu.
Meletakan gelas itu di atas meja makan, dan menatap isi dapur itu. Dapur yang tidak terlalu besar tapi sangat rapih dan bersih, segala sesuatu sudah tersusun dengan baik. Sepertinya yang punya dapur ini sangat suka dengan kerapihan. Ia tersenyum, memikirkan kalau gadisnya itu adalah orang yang sangat peduli terhadap kebersihan dan sangat rapih.
Matanya bergerak menuju derit suara pintu yang terbuka, ia mendengar kalau pintu kamar mandi terbuka. Ia menoleh dan menatap seorang gadis pirang tergerai masih dalam keadaan setengah basah, mengenakan kimono mandinya yang berwarna ungu dan putih. Kimono itu membuat Lucy sangat cantik.
Gadis itu tersenyum lebar melihat Naruto yang sudah bangun dari tidurnya. "Kau sudah bangun, Naruto.", Dirinya tersenyum makin lebar. "Maaf aku tidak membangunkan mu tadi, kupikir kau terlalu lelah, jadi aku tidak membangunkan mu." Dirinya berjelan mendekati Naruto. Ia sangat suka jika gadisnya itu tersenyum membuat lesung pipi itu terbentuk, sangat manis.
"Tak apa Lucy, aku memang lelah, mengingat hal semalam itu loh." Jelas Naruto yang membuat semburat merah tercetak jelas di wajah manis Lucy Heartfilia.
Lucy mengingat hal semalam yang ia lakukan bersama Naruto, hal yang baru pertama kali ia alami seumur hidupnya. Ia menikmati hal semalam yang ia lakukan bersama Naruto, segala sesuatu yang Naruto lakukan padanya ia menerima nya dan menyukainya.
Sambil terus mengingat hal yang semalam ia memeluk Naruto dan mencium puncak kepala pirang yang lebih terang dari rambut pirangnya. "Selamat Pagi Naruto." Ujarnya dengan nada mesra untuk Naruto nya.
Tangan kekar itu membalas pelukan gadis itu, tangan itu melingkar di pinggang gadis kesayangan nya itu. "Selamat pagi Lucy Heartfilia." Setelah mengatakan itu ia meraup bibir itu dan mengecup bibir merah itu.
Lucy pun mendudukkan dirinya di pangkuan Naruto. Membalas kecupan pada bibirnya, membuat dirinya senyaman mungkin dalam pangkuan pria pirang ini. Kegiatan yang ia lakukan ini mungkin akan menjadi kebiasaan nya nanti. Karena baginya Naruto sudah tinggal bersamanya. Melapas persatuan bibir nya dengan Naruto, ia menatap wajah pria itu. Sangat tampan, pria itu punya sesuatu yang sangat ia suka, yaitu mata biru itu. Ia sangat suka dengan mata yang indah itu, sangat menyukai kedua mata biru itu.
"Mau mandi atau makan dulu, Naruto?" Tawar Lucy kepada Naruto.
"Aku mau makan dirimu boleh?" Ujar Naruto bertanya kepada Lucy. Sementara Lucy hanya tersenyum mendengarnya.
Dengan senyuman manis itu, ia meraup kembali bibir milik Naruto. Mencium bibir seorang yang sekarang ia sangat cintai. Tangan pria itu ia rasakan makin keras memeluk dirinya. Ia menyukai itu, ia sangat suka dengan pelukan menghangatkan dari Naruto. Awalnya hanya lumatan yang ia lakukan, tapi Naruto makin nakaldengan mulai menggerakkan lidahnya menyapu bibir ranum Lucy Heartfilia.
Lidah keduanya beradu, Saliva keduanya saling bersatu, tak peduli kalau hari masih pagi. Keduanya hanya ingin sekali melampiaskan hasrat dan kasih sayangnya. Tangan Naruto mulai bergerak, kali ini gerakannya turun memegang dua bongkah bokong kenyal milik gadis pirangnya, bermain dengan bokong Lucy, sambil tak melapas kecupannya pada Lucy.
Lucy yang di perlukan seperti itu, makin mengencangkan pelukan pada leher kokoh milik
Naruto-nya. Terus menggerakkan lidahnya melawan balik lincahnya pergerakan lidah
Naruto. Ia makin menikmati permainan yang dilakukan oleh Naruto begitu salah satu tangan
Naruto memegang dadanya. Tangan itu bermain dengan dadanya, ia menikmati itu.
Kebutuhan udara membuat Lucy menarik kepalanya. Menggerakkan jempol tanganya membersihkan air ludah yang masih ada di pinggiran bibir Naruto. "Kau seperti anak kecil, belepotan." Lalu kali ini telunjuknya menyentuh ujung hidung pria pirang kesayangan itu.
Naruto terbuai, ia menggerakkan tangannya kirinya menarik salah satu ikatan pada kimono mandi gadisnya ini. Melepas ikatan itu dan langsung memembuka lebar kimono yang
menutupi dada kesayangannyaitu. Bermain dengan dada yang masih tertutup dengan bra hitam berenda itu membuat desahan terdengar di telinganya. Puting itu masih berwarna merah muda, sangat indah. Dada itu kenyal dan tidak kendur, kencang terisi. Sangat cocok untuk di mainkan di tangannya.
Tok tok tok!
"Luceee, ini kami. Bangun dan buka pintunya!"
Keduanya terdiam sejenak mendengar suara dari arah pintu masuk kamar milik Lucy Heartfilia.
Naruto menatap wajah gadis itu. "Siapa itu Lucy?" Tanya Naruto yang dengan keadaan belum melepas kan tangannya pada dada Lucy.
Gadis pirang itu melebar kan matanya, ia mencium bibir Naruto sekilas dan melepaskan diri dari pelukan pria pirang itu. "Mereka teman-teman ku Naruto." Ujarnya lalu berdiri dan membetulkan posisi kimono nya.
Naruto kaget, ia mendengar kalau yang di luar itu adalah teman-temannya Lucy. Baru saja dirinya semalam menolak ajakan Lucy, untuk bertemu dengan teman-temannya Lucy. Tapi sekarang ini dibalik pintu itu sudah ada teman-teman Lucy. Sekarang mau tak mau ia akan bertemu dengan teman-temannya yang menjadi kan dirinya menjadi target buruannya. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa nanti jika Lucy tau kalau dirinya adalah buruan dirinya dan teman-teman nya.
Mata biru itu menatap kepergian Lucy ke arah pintu masuk, asal suara yang meminta di bukakan pintu itu. Melihat Lucy yang memegang kenop pintu itu dan membuka pintu masuk itu.
Mata biru itu menatap tajam kearah pintu masuk kamar Lucy. Menatap pria dengan rambut warna seperti abu-abu tapi ada sedikit pink, entah lah warna apa rambutnya itu. Dengan menggunakan kemeja biru dengan mengenakan syal yang di kalung kan di lehernya.
Lalu ia melihat seorang wanita dengan rambut yang mengingatkan dirinya pada ibunya, rambutnya sama-sama berwarna merah terang. Wajah wanita itu nampak sangat cantik dan ada aura membunuh keluar dari wanita itu.
Dan terakhir ada seorang pria berambut hitam. Pria ini kepanasan atau apa, seperti nya diluar juga tidak panas tapi kenapa pria itu tidak menggunakan baju dan hanya mengenakan celana hitam pendek selutut. Sepertinya teman-teman nya Lucy adalah orang-orang aneh? Entahlah.
"Naruto kemari lah, aku akan memperkenalkan dirimu bersama teman-teman ku!" Ia mendengar kalau Lucy memanggil namanya dan menginginkan dirinya berkenalan dengan orang-orang itu.
"Jadi selama ini ada orang di sini, Luce?" Naruto mendengar suara yang sama dengan yang tadi memanggil dari luar sebelum pintu itu terbuka.
Memilih untuk mengikuti apa yang Lucy perintahkan, kakinya berjalan menuju ruang tengah, salah satu tempat ia dan Lucy ber senang-senangsemalam tadi. Dirinya akhirnya muncul dari dapur, menatap ke-tiga orang asing yang menjadi teman Lucy.
Mereka menatap Naruto dengan tatapan menyelidik, memperhatikan ujung kepala sampai ujung kaki Naruto. Meneliti siapa yang berada di hadapannya ini, dan siapa pria pirang itu, bisa-bisanya dia berada di dalam kamar temannya ini.
"Siapa kau?" Tanya pria pirang berambut seperti warna pink tua.
Sementara Naruto hanya tersenyum mendengarnya, menatap balik pria itu. "Dimana sopan santun mu, menanyakan nama orang lain, tapi kau tidak memberi tau lebih dulu siapa namamu."
Lucy kaget mendengar ucapannya yang ia dengar langsung dari pria yang ia sayangi itu. Memilih berjalan mendekati pria itu dan menggenggam tangan Naruto erat. Ketiga orang itu melihat hal yang ada di hadapan mereka kaget. Lucy, teman mereka menggenggam tangan pria asing di depan mereka.
"Perkenalkan ini pacarku, Naruto." Ujar Lucy memperkenalkan Naruto sebagai pacarnya.
Semua orang selain Lucy, terkejut mendengar kata-kata yang dikeluarkan dari mulut Lucy. Bahkan Naruto terkejut diperkenalkan sebagai pacarnya Lucy. Dirinya juga tidak menyangka kalau dirinya dan Lucy berpacaran(?) "Dia bukan pria bernama Namikaze Naruto yang Mizukage-sama tugaskan kepada kita untuk membunuhnya. Pria ini adalah Naruto." Ujar Lucy membela sebuah kebenaranyang ia percayai tentang pria yang sudah ia anggap pacarnyaitu.
Mata biru Naruto menatap ke-tiga orang yang dihadapannya itu. Tatapan mereka seolah menunjukkan ketidakpercayaan terhadap segala ucapan yang dikeluarkan oleh Lucy.
Menatap setiap jengkal tubuh ketiga orang teman Lucy itu, ia punya sebuah fakta kalau Lucy mempunyai tatoyang sama. Lucy memiliki tatoyang sama seperti yang ada di dada kanan pria berambut hitam itu, dan juga sama seperti tatoyang berada di tangan kiri wanita berambut merah itu. Sementara ia belum melihat ada tato yang dimiliki oleh pria berambut pink tua itu. Tato mereka semua sama, yang membedakan hanya lah warna nya. Ditelapak tangan Lucy tato itu berwarna merah muda, sementara pria itu berwarna hitam, dan wanita berambut merah itu warna biru gelap.
"Kalau begitu maaf, namaku Natsu Dragnell." Penelitiannya buyar begitu dia mendengar kalau pria berambut pink itu memperkenalkan diri.
"Namaku Gray Fullbuster." Selanjutnya adalah pria yang berada disampingnya, pria berambut hitam itu memperkenalkan dirinya.
Sementara wanita berambut merah itu hanya diam sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia terus menatap Naruto, sementara Naruto juga terus menatap wanita itu. Keduanya saling bertatapan, bedanya si wanita menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.
Lucy yang tau bagaimana karekteristik dari teman nya itu berusaha mencairkan suasana. "Ummm.. Nama temanku itu, Erza Scarlet." Ujar Lucy memperkenalkan teman yang mempunyai jenis kelamin yang sama dengan dirinya.
Naruto hanya dengan merasakan nya saja tau, wanita itu punya kekuatan tersendiri. Tidak ada aliran chakra, sama seperti kedua pria itu dan Lucy sendiri. Entah ia merasakan ada yang lain dari ke empat orang ini, seperti ada sesuatu yang baru, sesuatu yang ia tidak ketahui. Wanita dengan bodi seksi itu memiliki aura pembunuh.
Wanita bernama Erza itu berjalan mendekati Naruto. Berdiri di hadapan Lucy yang menghalangi Naruto. Mata coklat milik Erza terus menatap Naruto, mengamati rambut pirang panjang itu, mata birunya, dan setiap detail dari fisik Naruto ia amati.
"Siapa namamu?" Suara Erza terdengar dengan nada datar mempertanyakan siapa nama pria itu.
Naruto sendiri bergerak semakin dekat dengan Erza. "Naruto. Namaku Naruto." Balasnya dengan percaya diri.
"Hanya itu? Kau pasti memiliki nama belakang bukan?" Tanya lagi Erza kepada Naruto.
Lucy yang merasakan sesuatu yang tidak enak kepada Naruto, kenapa Naruto jadi di interogasi seperti ini, mungkin karena namanya yang sama seperti buruan mereka itu. Masih menggenggam tangan Naruto erat ia memberikan kehangatan dan ketenangan dengan terus menatap pria yang ia sayangi bernama Naruto.
"Tidak ada nama belakang. Just Naruto." Erza mendengar suara yang ia yakin betul ada nada meremehkan keluar dari mulut pria pirang itu.
"Jadi kau tidak punya nama belakang ya, kalau begitu katakan siapa orang tua mu? Namikaze Minato bukan?" Tanya lagi Erza kepada Naruto.
"Kau sepertinya sangat ingin tau ya, apa untungnya untukku jika kuberi tau itu semua?" Jawaban yang keluar dari Naruto sangat ketus, ia malah menantang balik wanita berambut merah itu.
Erza tersenyum mendengarnya jawaban itu. "Tentu ada keuntungannya." Erza memasang kembali posisi lipatan tangannya. "Kita sama-sama memiliki keuntungan jika kau menjawab pertanyaan ku tadi." Lanjut Erza.
Sementara di belakang Erza dua pria Natsu dan Gray hanya diam tidak berani ikut campur jika sudah Erza yang turun tangan. Keduanya memilih diam dan menunggu perintah dari Erza karena keduanya takut oleh wanita berambut merah itu.
Naruto tersenyum mendengar itu, satu lagi orang yang tak sadar siapa dirinya. "Lalu keuntungan untuk mu apa?" Kali ini dengan santainya Naruto mengucapkan kalimat pertanyaan itu untuk Erza. Lucy yang awalnya membela Naruto kini, hanya diam mendengarkan setiap jawaban yang di keluarkan oleh pria yang ia sayangi itu.
"Keuntungan untukku tentu, jika kau adalah anak dari Namikaze Minato, aku akan memutuskan kaki mu dan membawa mu kepada Mizukage." Dengan tegas Erza mengatakan ancaman langsung di hadapan Naruto.
Lucy pun tidak percaya mendengar ancaman dari Erza. "Erza, sudah kubilang dia bukan orang itu." Lucy membela kebenaran yang ia anggap benar kalau Naruto bukan lah anak dari Namikaze Minato.
Erza tak menjawab ucapan Lucy. Ia hanya fokus pada ucapan yang akan di keluarkan oleh pria pirang itu.
"Dan dengan apa kau akan memutuskan kaki ku, dan bagaimana caranya?" Kali ini Naruto menantang Erza.
Erza melepaskan lipatan tangannya. "Dengan ini!" Lalu sesat kemudian terlihat cahaya putih bersinar di tangan kanan wanita berambut merah itu. Dan sesaat kemudian, munculah sebuah pedang di tangan kanan wanita bernama Erza itu. "Dan caranya adalah dengan menebas salah satu kakimu saja itu sudah cukup untukku." Ujar Erza memasang wajah garang dan menodongkan pedangnya di hadapan pria pirang itu.
Naruto tidak percaya, wanita ini tidak memiliki chakra, tapi ia seperti punya sebuah jutsu untuk mengeluarkan pedang itu dari dalam fuin penyimpanannya. Ia merasakan kalau genggaman tangannya mengeras, ia melirik Lucy yang kali ini memperlihatkan dirinya. Dirinya tersenyum menatap balik Lucy Heartfilia.
"Baik aku akan jujur pada kalian." Semua orang itu bersiap mendengar jawaban dari pria pirang bernama Naruto itu. Erza dari tadi masih memasang wajah garang nya dan terus menodongkan pedangnya ke arah Naruto.
"Sejak lahir, aku memiliki nama Naruto." Lucy menahan nafas mendengar jawaban dari pria paling ia sayangi itu. "Aku punya orang tua, tapi aku tidak menganggap mereka adalah orang tua ku!" Lucy makin mengeras kan lagi genggaman tangannya pada Naruto.
Dan selanjutnya Erza melihat mata biru itu berubah menjadi mata merah dengan pola yang cantik. Erza melebarkan matanya itu Sharingan. Namun sesaat kemudian, ia tak sadarkan diri dan jatuh kelantai dan langsung tak bergerak lagi. Kedua orang itu kaget melihat kalau seorang yang mereka takutiambruk, mereka langsung berusaha menolong Erza yang terjatuh ke lantai. Begitu juga Lucy. Ia melepaskan genggaman tangannya pada Naruto, dan berjongkok membantu Erza.
"Ayahku bernama Namikaze Minato. Dan namaku Namikaze Naruto!" Ujar Naruto membuat ketiga orang itu terkejut dengan kebenaran yang diucapkan oleh Pria itu.
Natsu langsung berdiri berusaha untuk memukul pria yang ternyata ada seorang buruannya. "Brengsek kau!" Pukulan itu di hindari oleh Naruto, dan menendang betis Natsu, membuat pria pink itu terjatuh dan kembali menendang kepala pink itu, membuat Natsu tak sadarkan diri.
Gray yang melihat itu tak percaya, Natsu di kalahkan hanya dengan serangan seperti itu. Berdiri dan menendang bagian dada pria pirang itu, seperti sudah akan mengenai pria pirang itu. Pria pirang itu kali ini sudah berada di sebelah kirinya. Dengan gerakan tangan ia mencekik leher Gray, dan mengangkat tubuh Gray.
Lucy yang melihat itu menangis, melihat sosok asli pria yang ia cintai. Menyerang teman-temannya dan membuat mereka tak berdaya seperti ini. Bergerak memeluk pria itu dari belakang.
"Hentikan Naruto!" Kali ini pelukan itu benar-benar keras, sekeras suara teriakan Lucy ditelinga nya. Mengeraskan cekikan yang ia berikan kepada pria yang ia tau bernama Gray itu sebelum melepaskan cekikan itu dan membuat Gray jatuh menghantam lantai keramik dibawahnya.
Dirinya terdiam, hanya mendengar isakan tangis Lucy, gadis itu menangis. Menangis di punggung nya. Gadis itu memeluk tubuh nya dengan keras, menggerakkan tangannya memegang tangan bergetar itu.
"Aku minta maaf sudah berbohong pada mu Lucy." Ujar Lucy menatap Gray yang tak sadarkan diri. "Aku hanya ingin jujur, pada kalian, dan tentunya aku ingin jujur pada mu." Kali ini tangisan Lucy makin keras terdengar di telinga Naruto.
"Maafkan aku." Lanjut Lucy menggenggam pergelangan tangan Lucy yang memeluk dirinya.
Lucy tidak tau tau harus bagaimana, dirinya sangat menyayangi pria yang ia peluk ini, dan disisi lain ia sudah lama mengenal teman-teman nya ini, Natsu, Gray, dan Erza. Mereka adalah termasuk temannya Lucy.
Ia tak menyangka kalau pria yang ia cintai ini adalah buruan mereka. Mereka telah di bayar mahal dan diberi banyak fasilitas oleh Mizukage untuk bisa membawa pria yang kali ini ia peluk ke hadapan Mizukage. Tapi ia tak bisa, ia sudah mencintai pria ini. Setelah apa yang
sudah ia lakukan dengan pria ini, ia tentu akan membela Naruto. Meskipun ia mendapat tantangan dari teman-temannya.
Tapi faktanya, pria yang sekarang ia peluk ini adalah biang keladi dari banyak kekacauan di duniayang ia tempati sekarang ini. Ini memang sama-sama bumi, namun ini semuaberbeda. Di dunia ini tidak ada penyihir lain selain dirinya dan teman-teman nya.
Berbeda meskipun banyak yang sama, salah satunya adalah bahasa, makanan, dan juga banyak manusia yang mempunyai kekuatan. Lucy menyadari kalau ia berada di dunia yang berbeda dengan dunia yang dulu mereka tempati.Entah kenapa ini bisa terjadi, yang ia tauwaktu itu mereka tengah berhadapan dengan….
"Lucy kau tak apa bukan?" Tanya Naruto membuyarkan lamunan Lucy terhadap bedanya dunia ini.
Dirinya melepaskan pelukannya dan berjalan menatap wajah pria yang sekarang sudah mempunyai tampilan yang berbeda. Ya ada yg berbeda dari Naruto, mata pria itu, tadinya berwarna biru, sekarang berwarna merah dengan sebuah pola yang unik dan cantik.
"Kenapa dengan mata mu Naruto." Tanya Lucy Heartfilia kepada pria itu.
Naruto yang di tanya seperti itu langsung merubah kembali matanya menjadi warna aslinya yaitu biru. "Tak ada Lucy." Ujarnya setelah merubah tampilan warna matanya.
Sekali lagi Lucy merasa ada sangat banyak yang belum ia ketahui tentang pria pirang yang berada di hadapannya ini. Matanya menoleh menatap kebawah nya, menatap wajah tak berdaya teman-temannya. Sepertinya semua teman-teman nya dalam kondisi pingsan setelah diserang oleh Naruto.
Merasakan kalau kedua tangannya di genggam oleh Naruto ia menoleh dan menatap Naruto. Mata biru itu lagi-lagi menatap wajah, ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa dalam keadaan seperti ini.
"Maafkan aku Lucy, aku telah melukai teman-teman mu." Ujar Naruto meminta maaf kepada Lucy. "Aku hanya tidak suka di lakukan seperti tadi, apalagi kalian menginginkan diriku ditangkap hidup-hidup lalu di serahkan kepada Mizukage, dan itu semua kulakukan dalam keadaan bisa dibilang bertahan diri Lucy." Ujarnya terus terang lalu melepaskan genggaman tangannya pada Lucy.
Lucy yang melihat itu menatap Naruto lekat, melihat kalau pria itu berjalan di antara tubuh Natsu dan Erza yang terkapar pingsan akibat ulahnya. Menatap pria pirang itu berjalan menuju sofa biru miliknya, dan melihat kalau Naruto mendudukkan dirinya. Dirinya berjalan menuju ke Sofanya, sambil menatap pria pirang itu yang tengah bergerak memasangkan sepasang sepatu di kakinya.
Memilih untuk berlutut dan mengikat tali sepatu milik pria pirang itu. "Tak perlu Lucy, ak–" Ucapan Naruto terhenti saat melihat Lucy membuat sebuah tatapan aneh padanya.
Naruto hanya diam, memilih untuk membiarkan Lucy memasangkan sepatu sebelah kirinya yang belum ia pasang tadi. Tangan itu dengan baik mengendur kan tali sepatu itu dan bergerak memasukan kaki kiri Naruto kedalam sepatu itu. Tangan kanan ber tatoaneh berwana pink itu terlihat dengan sangat baik mengencangkan kembali tali sepatu miliknya. Selesai, Lucy menatapnya dengan senyuman, Naruto membalas senyuman yang terbaiknya untuk gadis itu.
"Aku minta maaf sekali lagi. Lucy." Lalu Naruto mengelus puncak kepala nya, dan berdiri berjalan perlahan menuju pintu keluar.
"Tunggu!" Teriak Lucy kepada Naruto. Naruto sendiri berhenti dan menoleh menatap Lucy yang mengambil posisi berdiri.
"Kau mau kemana Naruto?" Tanya Lucy dengan nada sendu.
Naruto tersenyum. "Aku akan kembali ke rumah ku." Ujarnya sambil merapikan tatanan rambut pirang panjang miliknya. "Terimakasih untuk segalanya Lucy. Kita akan bertem—"
"Boleh aku ikut denganmu Naruto?" Lagi-lagi Lucy menyela ucapan Naruto.
Naruto tidak menyangka, Lucy mengatakan hal kalau gadis itu ingin ikut dengan dirinya. Padahal disini ada teman-teman nya yang terkapar pingsan tak sadarkan diri, teman macam apa yang meninggal temannya yang lagi kesusahan seperti ini. Atau jangan-jangan Lucy mempunyai niat untuk membalas perbuatan yang ia lakukan terhadap teman-teman nya itu. Ia menatap mata coklat lebar itu, ia merasakan kalau tidak ada kebohongan di mata itu, mata itu memancarkan kebenaran.
"Lalu bagaimana teman-temanmu?" Kali ini Naruto bertanya dengan nada yang lebih tinggi. Dirinya merasa sesuatu yang baru pertama kali ia alami, ia baru melihat kalau ada seorang teman yang tega meninggalkan temannya yang tengah dalam keadaan tak sadarkan diri seperti ini.
Lucy mengerucutkan bibirnya, ia mungkin salah besar dengan meninggalkan teman-teman nya disini dengan keadaan pingsan seperti ini. Tapi yang Naruto katakan kepadanya itu benar, dari ucapan yang ia dengar dari Naruto tadi dan yang ia lihat tadi pun benar kalau Naruto hanya mempertahankan diri nya sendiri. Bagaimana pun juga Naruto adalah buruan dirinya dan juga teman-teman nya.
Ia mungkin salah membela Naruto, tapi bagaimana pun juga ia sudah membuat sebuah keputusan, gadis itu sudah memiliki ikatan dengan pria itu. Dirinya sudah menjadi satu dengan pria bernama Naruto itu. Sudah menjadi miliknya dan miliknya sudah menjadi Naruto.
Menggigit bibir bawahnya, ia tetap merasakan rasa salah yang teramat besar terhadap teman-teman nya itu. Karena jelas mereka semua adalah teman yang sudah banyak sekali pengalaman dan petualangan dengan dirinya. Hampir mati, makan enak, hal-hal buruk, hal-hal lucu, tingkah konyol mereka, rasa sakit dan senang, saling tolong-menolong, segalanya sudah dilakukan dengan mereka. Mungkin tanpa mereka Lucy tidak akan bisa seperti ini, dan tentu tanpa mereka Lucy tidak akan pernah bisa muncul di dimensi ini.
Ia sudah menganggap mereka bagaikan keluarga nya sendiri, tapi sekarang ini, ia sudah menemukan sesuatu untuk melengkapi itu semua. Ia sudah menemukan rumahnya, ia sudah menemukan seseorang yang ia cintai dan dicintai. Ia akan menjadi kan Naruto sebagai rumahnya dan dirinya akan dijadikan rumah bagi Naruto.
"Aku ingin tinggal bersama dengan mu Naruto." Permohonan itu terucap oleh Lucy. Ia benar-benar ingin bersama pria itu mulai dari sekarang.
Naruto hanya diam mendengar kalau gadisnya itu ingin tinggal dengan dirinya. "Jujur, tempat ku tidak senyaman tempatmu ini Lucy." Ujar Naruto memberi tau kalau dirinya sendiri tidaklah mempunyai yang nyaman untuk di tinggali.
"Tak apa, bagiku denganmu saja aku sudah merasa nyaman Naruto." Ujar Lucy jujur, karena memang Lucy sangat nyaman kalau dirinya berada dan bersama pria pirang itu.
Naruto tersenyum mendengar hal itu. "Mana mungkin kau bisa nyaman jika tinggal dengan ku nanti di tempatku Lucy." Jelas Naruto kepada Lucy.
"Bagiku bila dirimu sudah merasa nyaman di tempat mu tinggal, berarti aku juga pasti merasakan hal yang sama dengan dirimu Naru!" Kali ini ucapan Lucy penuh dengan semangat. Ia benar-benar ingin bersama pria pirang itu.
Naruto hanya diam tak merespon kata-kata yang di ucapkan oleh Lucy. Matanya menatap sebelah kirinya, melihat tubuh ketiga orang yang pingsan tak sadarkan diri. "Baiklah, lalu bagaimana dengan teman-temanmu? Tidak mungkin bukan kau meninggalkan mereka disini." Kali ini Naruto bertanya kepada Lucy mengenai teman-temannya tak sadarkan diri oleh ulahnya.
Mata lebar itu menatap teman-temannya iba, ia benar-benar merasakan kalau dirinya sendiri sangat salah melakukan itu. Tapi ia hanyalah manusia biasa, ia tetap mempunyai rasa egois. Dan kali ini ia memilih untuk mengikuti egonya, ia memilih untuk tinggal bersama Naruto.
"Baiklah aku tau kau itu bisa menggunakan sihir—ummm maksudku.. mmm apa ya… tunggu dulu…" Kali ini Lucy meletakan tangannya di keningnya, ia memasang pose berpikir sepertinya. "Oh ya, kau bisa melakukan semacam sebuah teknik teleportasi bukan?" Kali ini Lucy bertanya kepada Naruto semacam teknik untuk memindahkan sesuatu objek dari sisi satu ke sisi lainnya. Karena ia sudah menganalisis kekuatan dan kemampuan pria yang ia sudah ketahui bernama Namikaze Naruto.
"Kau menginginkan aku memindahkan mereka kemana?" Tanya Naruto sedikit tersenyum, sepertinya dirinya punya sebuah buku manual sekarang ini.
"Fiore." Ujarnya singkat sambil memberi tau lokasi yang tidak diketahui oleh Naruto.
"Dimana?" Naruto bingung, ia tidak pernah mendengar tentang apa itu atau dimana itu Fiore? Pasti semacam kota kecil dengan penghuni seperi mereka ini. Orang-orang yangtidak mempunyai chakra tapi memiliki kekuatan misterius yang belum ia ketahui dari mana asalnya itu.
"Jadi kau tidak tau ya. Hmmm, baiklah aku ingin teman-teman ku di teleportasi menuju konoha. Jalan utama selatan no 3, itu Naruto." Ucap Lucy memberi kan alamat yang ia ketahui dimana itu, ia tidak tau dimana itu jalan utama no 3 tapi ia tau dimana itu Konoha. Tempat yang suatu saat nanti pasti akan ia ratakan dengan tanah hingga menjadi hancur sehancur-hancurnya.
"Baiklah." Lalu tangan Naruto bergerak memegang pergelangan tangan kanan Lucy dan melakukan sesuatu. Dan setelah melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangannya pada Lucy terlihat sebuah segel dengan tanda huruf N berada di pergelangan tangannya.
Lucy heran sebuah tanda dengan huruf N muncul di pergelangan tangannya, apa maksudnya Naruto. "Apa ini Naru?" Tanya dengan heran, apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ada simbol huruf N di pergelangan tangannya.
Naruto tersenyum, memutar badannya menatap ketiga orang yang terkapar itu. "Kau sentuh mereka bertiga, nanti kau akan tau apa yang akan terjadi selanjutnya Lucy." Ucapnya menjelaskan agar Lucy bergerak menyentuh ketiga orang temannya itu.
Lucy yang mendengar kalau dirinya agar menyentuh ketiga temannya itu segera berjalan dan berlutut ketika berada di depan teman-temannya. Tangan kanan gadis pirang itu memegang pundak Erza dan menatap Naruto. "Lalu apa Naru?" Tanya dengan bingung ketika sudah memegang pundak dari wanita berambut merah itu.
"Kau harus menyentuh mereka secara bersamaan Lucy " Jelas Naruto memerintahkan agar Lucy bergerak menyentuh mereka bertiga secara bersamaan.
Tangan kanan yang kurus ber tatopink itu memegang pundak Erza terlebih dahulu, lalu tangan kirinya bergerak sedikit jauh agar bisa memegang tubuh pria berambut hitam bernama Gray. Tangan itu akhirnya bisa memegang pergelangan tangan kiri Gray, dan dirinya menoleh menatap pria yang sudah ia kenal dengan sangat baik, Natsu Dragnell. Pria itu cukup jauh dari jangkauan nya, dan lagi kedua tangannya sudah memegang Erza Scarlet dan Gray Fullbuster. Kata-kata Naruto teringat lagi di kepala pirang Lucy, katanya menyentuh berarti dirinya hanya perlu menyentuh pria pinkish itu. Kaki yang panjang itu bergerak berusaha mengenai bagian yang bisa ia kenai dengan ujung kakinya yang
beralaskan sebuah sendal untuk dikamar mandinya tai. Dan berhasil dirinya mengenai bagaimana yang sebenarnya tidak ingin ia sentuh, tapi mau bagaimana lagi, dengan jaraknya sekarang ini hanya bagian wajah Natsu lah yang hanya bisa ia jangkau.
Dengan sedikit tertawa Naruto melihat Lucy yang kesusahan untuk mengambil posisi mudah untuk menyentuh teman-temannya itu. Tapi dengan posisi itu Lucy bisa menyentuh ketiga nya. "Baik Lucy kau siap?" Tanya Naruto sambil memasang sebuah segel tangan dengan tangan kirinya.
"Siap untuk apa?" Tanya Lucy dengan posisi sedikit menahan nafas karena posisinya seperti ini sangat sulit. Kedua tangannya ia renggangkan, dan kaki kirinya menyentuh wajah Natsu, dirinya dengan wajah yang mulai memerah menatap Naruto.
"Tentu untuk memulangkan teman-teman mu…." Ujar Naruto sambil memejamkan matanya
dan menatap Lucy sambil tersenyum. ".. dan dirimu. Kita akan bertemu lagi Lucy!" Ujarnya lalu memfokuskan Jutsu nya pada Lucy ke arah gerbang Konoha.
"Tungguuuu, tidakkkk…" Kilatan petir berwarna kuning seketika muncul membuat suara
teriakan Lucy menghilang dari ruangan yang menjadi milik yang berteriak tadi.
Dirinya bukannya tidak ingin Lucy untuk ikut dengannya, untuk tinggal dengannya. Dirinya hanya belum siap dengan semuanya yang ia miliki sekarang ini. Tentu yang pertama dirinya dan Lucy sudah resmi berpacaranberkat pengakuan dari Lucy yang memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya Lucy dirinya tentu akan membuat Lucy mempunyai tempat tinggal yang nyaman dan aman dari orang-orang yang mengincar dirinya. Dan yang kedua adalah ia belum tau bagaimana latar belakang dari gadis pirangnya itu, ia tidak tau siapa orang tua nya, tidak tau kapan dia berulang tahun, dan bahkan ia tidak tau berapa umur dari Lucy.
Sementara Lucy tentu pasti sudah mempunyai buku manual tentang dirinya berkat terungkap sudah siapa dirinya sebenarnya. Meskipun belum ia ucapkan langsung dari mulutnya, ia yakin Lucy sudah tau banyak hal tentang dirinya.
Dirinya tersenyum menatap kamar yang sekarang kosong ini, tatapan mata biru itu menatap kebawah, ke sepatu miliknya. Tadi Lucy yang mengikat sepatu ini. Ia tidak bisa mengingat apakah orang tuanya pernah melakukan hal yang tadi Lucy lakukan untuknya, atau pernah kan orang tua nya membeli kan dirinya sepasang sepatu.
Merasakan sesuatu pada dirinya lalu dirinya mendesah pelan, ia merasakan sesuatu bergetar pada bagian perutnya. Ia lapar, sepertinya tadi ia ingat kalau Lucy menawarkan dirinya untuk makan, tapi dirinya malah menyeranggadis itu. Ia harus mencoba lagi masakan gadis itu. Ia yakin masakan gadis pirangnya itu lezat, apalagi dalam keadaan yang belum lama baru matang itu.
.
.
.
Mata biru itu berbinar melihat apa yang tengah ia lihat dari kejauhan, ia sudah melihat gerbang masuk desanya, Konoha. Akhirnya setelah mengalami hal-hal melelahkan dirinya dan tim 7nya dan juga tim Guy, si guru alis tebal, sukses kembali ke desa Konoha dengan selamat dan sukses melaksanakan misi yang diluar skenario menjadi misi kelas S.
Mereka harus menyelamatkan nyawa dari Kazekage Gaara dari tangan Akatsuki, dan mereka berhasil berkat bantuan dari orang tua yang sangat besar peranannya dalam misi untuk menyelamatkan Kazekage. Orang tua itu rela menukar nyawanya demi menghidupkan kembali sang pemimpin Sunagakure, Gaara. Orang tua itu bernama Nenek Chiyo, orang tua yang menjadi nenek kandung dari salah satu anggota Akatsuki yaitu Akasuna No Sasori, si master Kugutsu.
Namun sebelumnya, Nenek Chiyo terpaksa harus berhadapan dengan cucunya sendiri. Dengan bantuan dari rekan setimnya yaitu Haruno Sakura, mereka berdua berhasil mengalahkan Sasori. Membunuh cucunya sendiri dengan Kugutsuyang ternyata dibuat dari tubuh orang tua kandung Sasori sendiri. Mereka berhasil membunuhnya, membunuh salah satu anggota Akatsuki, artinya mengurangi jumlah orang-orang berbahaya dari kelompok aneh itu.
Dirinya juga berhasil menyelesaikan salah satu dari mereka, ya meskipun bukan dirinya sendiri yang membunuh anggota Akatsuki itu. Pria pirang bernama Deidara itu meledakan dirinya sendiri, berusaha untuk membunuh dirinya dan Kakashi dan juga tim Guy, tapi untungnya tidak ada yang terkena serangan itu. Mereka semua selamat, meskipun mendapatkan luka yang lumayan serius, seperti contohnya gurunya, Kakashi.
Dirinya menggunakan sebuah teknik Sharingan miliknya yang membuat dirinya kehabisan Chakra akibat menggunakan jutsu matanya itu. Sekarang Kakashi saja bahkan harus digendong dengan penuh semangat oleh guru Guy, saingannya.
Mungkin setelah ini dirinya akan beristirahat mengingat dirinya sudah sangat lelah, berjalan dan bertarung sudah menjadi kegiatan yang dilakukan oleh dirinya akhir-akhir ini. Beristirahat dengan cara tidur pasti sangat pas dan nikmat untuk dilakukan olehnya, tapi mungkin ia akan mampir dulu ke kedai kesukaan dirinya, yaitu kedai ramen ichiraku. Ramen yang nikmat itu sangat ia rindukan, itu adalah makanan para dewa bagi dirinya, ia sangat suka dengan menyebut kalau ramen adalah makanan para dewa.
Ia tersenyum lagi-lagi mengingat kata-kata kalau ramen adalah makanan para dewa, ia tersenyum karena itu adalah kata-kata kakaknya, Naruto. Kakaknya sangat sering mengucapkan kalimat kalau ramen adalah makanan para dewa, itu mungkin karena kelezatan makanan itu.
Sambil tersenyum mata biru itu melihat tak jauh darinya, kalau ada seorang wanita yang menggunakan sebuah kimono mandi sepertinya, dan ia melihat kalau wanita itu tengah berbicara dengan dua orang penjaga gerbang utama Konoha Izumo dan Kotetsu. Mata biru itu menatap wanita berambut pirang dan tatapan mata itu langsung menuju ke bawah tanah,
ada beberapa orang yang tergeletak di tanah. Ia mempercepat langkah kakinya menuju gerbang desa Konoha itu.
Guru guy dan yang lainnya melihat Kushira yang sedikit berlari menuju gerbang desa, berusaha mencari apa yang membuat Kushira mempercepat langkah kakinya itu. Dan ternyata tatapan mereka melihat ada seorang wanita pirang yang sedang berbicara dengan dua orang penjaga gerbang desa Konoha, dan ada juga orang-orang yang terkapar di tanah dekat pos penjagaan itu.
Kushira melihat wanita, bukan gadis itu masih muda seperti seumuran dengan dirinya. Dirinya tidak mengenal gadis itu, gadis itu tidak pernah ia kenali, ia tidak melihat ada ikat kepala yang memberi tahu kalau dirinya bukanlah seorang Shinobi. Hanya dengan kimono mandi dan tak mengenakan sendal sepertinya gadis itu baru selesai mandi, dan ia juga menatap wajah orang-orang yang terkapar di tanah dengan keadaan tak sadarkan diri itu. Tak ada yang dikenali oleh dirinya, dua pria itu berwajah asing bagi dirinya, dan juga wanita berambut merah itu.
Salah satu pria yang mempunyai warna rambut mirip teman satu tim nya itu yang memiliki warna rambut pink itu mulai terbangun dengan menggerakkan tangannya memegang kepala pink-nya itu. Dirinya yang melihat itu berusaha lagi mengingat siapa pria pink itu, dan hasilnya tetap tak ia kenali. Dia benar-benar orang yang tak ia kenali.
Sementara itu kepala pirang gadis itu menatap dirinya, mata coklat itu menatap dirinya dengan tatapan seperti orang kaget. Kushira makin mendekati gadis pirang yang ia akui cantik itu.
"Ada apa?" Tanya Kushira kepada gadis pirang itu. Sementara gadis pirang itu terlihat menoleh membuang wajahnya.
"Ah Kushira." Mata Kotetsu menatap Kushira dan melirik ke arah luar gerbang Konoha dan melihat tim yang sukses menjalankan misi yang sangat penting. "Untunglah kalian semua selamat, kalian sudah di tunggu oleh Hokage-sama!" Ujar Kotetsu sambil memberi tau kalau dirinya dan yang lain sudah ditunggu oleh sang pemimpi dan pemberi misi ini yaitu Tsunade.
Tatapannya menoleh ke arah kanan, ke arah pahatan patung yang sekarang sudah memiliki lima pahatan wajah para pemimpin desa api ini. Ia menatap pahatan patung yang berada di pahatan ke empat, disana terpahat wajah yang ia anggap tidak mirip dengan wajah aslinya. Wajah aslinya lebih tampan dan keren di bandingkan dengan yang di pahat di batu yang berada tepat di gedung dari pemimpin negara api ini.
Sekelebat bayangan kakaknya lagi-lagi muncul didalam pikiran nya, ia ingat kalau dirinya dulu sangat sering mencorat-coretpahatan patung para pemimpin Konoha itu. Dirinya selalu saja dibantaioleh ibunya setelah melakukan itu, tidak hanya dirinya, meskipun kakaknya tidak di rawat dengan baik, tapi dengan kelakuan yang ia lakukan dengan dirinya, kakaknya pasti langsung di ocehi habis-habisan oleh ibunya. Hanya untuk sekedar mencari perhatian dari kedua orang tuanya, ya ajakan kakaknya itu hanya untuk sekedar mencari perhatian
kedua orang tuanya itu. Tapi setelah itu perlakuan kedua orang tuanya kepada Naruto seperti biasa nya, kakaknya selalu di acuhkan.
Tangan kirinya itu memegang perut ratanya, ia sedikit meremas perutnya. ' kenapa kau harus berada didalam tubuhku? Karena kau kami terpisah! Aku membencimu Kyuubi, selalu membencimu!'batin Kushira jujur membenci makhluk yang bersemayam di dalam tubuhgadis berambut merah sebahu itu. Dia sudah tau dari banyak Shinobi di luar Konoha, hidup menjadi seorang Jinchuricki tidaklah pernah tenang, selalu saja ada orang yang mengusik dan membuat kekerasan kepada Jinchuricki diluar desa Konoha. Tapi disini, hanya ada beberapa orang saja yang mengusik dirinya, ia sadar mungkin tak ada yang melakukan itu padanya karena figur ayahnya. Jika ayahnya tidak ada ia sudah yakin pasti hidupnya sudah sama seperti jinchuricki dari desa lain itu.
Tapi jika ayahnya tidak ada, otomatis dirinya akan bersama sang kakak. Ya kakaknya pasti akan bersamanya sekarang ini, bersama sebagai seorang saudara kandung akan saling mengisi dan melengkapi, keduanya adalah kembar. Bagaimanapun pasti kakaknya akan melindungi diri nya dari orang-orang yang tidak menginginkan kehadiran dirinya jika ayahnya tidak ada. Dan dirinya akan melengkapi apa yang tidak dimiliki oleh seorang kakak, dirinya akan menjadi adik yang baik dan patuh kepada kakaknya. Ia juga punya perasaan kalau lebih baik tidak mempunyai seorang ayah. Pegangan pada bahunya membuat dirinya tersadar dari lamunannya. Tangan ini ia tau pasti rekan ber dada-ratanyaSakura.
"Kenapa kau diam Kushira?" Tanya sahabatnya itu.
Kushira tersenyum mendengarnya, ia sadar kalau dirinya tadi melamun. "Tak apa aku ha—"
"Luceeeee dimana si Naruto brengsek itu?!" Matanya melebar mendengar teriakkan yang menyela pembicaraan nya tadi. Ia tidak percaya kalau pria pink itu berteriak mencari kakaknya.
Kushira bergerak mencengkeram kuat bahu pria pink itu, meskipun pria pink itu tengah berusaha untuk menyeimbangkan badannya yang baru saja berdiri. Dengan tatapan serius mata biru itu menatap pria pink itu. "Apa yang kau maksud dengan Naruto brengsek?" Kali ini dengan lantang bicara apa yang tadi di ucapkan oleh pria pinkish itu.
Lucy yang melihat itu berusaha mencegah terbongkarnya kejadian yang mereka alami tadi. "Tak ada apa-apa." Ujarnya berusaha menarik temannya yang bernama Natsu itu. Tapi tarikannya justru membuat dirinya sendiri berhadapan langsung dengan wajah Natsu.
Kushira yang tadinya ingin menanyakan lagi apa maksud ucapan pria pink tadi itu terhenti setelah melihat pria pink dan gadis pirang itu saling berhadapan. Justru tatapannya mengarah ke pria yang tidak memakai baju itu yang sekarang sudah terduduk sambil memegangi bagian lehernya. Pria ini aneh, padahal pagi menjelang siang ini cuaca lumayan dingin, tapi dirinya hanya memakai celana saja.
Ia terus saja memperhatikan wajah pria berambut hitam itu, dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Pria itu membuang lirikan matanya dan menatap kedua temannya, dan berusahalah untuk berdiri.
"Aku tanya sekali lagi, dimana Naruto!" Kali ini ia melihat pria pink yang terlihat sangat marah itu. Pria pink itu terlihat mengepalkan kedua tangannya erat. Sementara itu gadis pirang hanya menunduk tak menjawab pertanyaan tersebut.
"Kau kenal dengan Naruto?" Sambil semakin mendekat ke arah pria pink itu Kushira menatap pria pink itu.
"Tidak, tapi kalau aku bertemu dengannya, aku akan menghancurkan kepala kuningnya itu!" Kali ini kepalan tangan itu beradu dan Kushira bersumpah kalau ia melihat percikan api terlihat dari kepalan tangan itu.
Meraih kerah pria pink itu dan mengeraskan rahangnya ia menatap pria pink itu dengan rasa amarah memuncak di kepalanya saat ini. Mendekat kan wajahnya dengan wajah pria pink itu. "Sebelum itu terjadi, aku dulu yang akan menghancurkan kepala pink mu ini!" Kali ini Kushira balik mengancam pria pink ini. Ia tidak terima kalau kakaknya ingin diperlakukan seperti itu. Ia merasa kalau badannya ditarik, ia merasakan kalau yang menariknya adalah Sakura. Dan ia juga melihat kalau guru Guy—sambil menggendong Kakashi—berdiri diantara dirinya dan pria pink ini.
Dan keadaan selanjutnya adalah pria pink itu menatap dirinya dengan tatapan mengancam, dirinya merasakan sesuatu yang sangat kuat dari pria pink itu. Dan pria berambut hitam yang kini berada di sampingnya melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan oleh pria pink itu.
"Maafkan teman-teman ku, sepertinya teman-temanku ini masih merasakan kalau mereka masih di dunia mimpi haha." Kali ini gadis dengan kimono mandi itu memecah ketegangan yang terjadi di gerbang Konoha.
"Tidak Luce. Kali ini aku serius, dia sudah membuat sebuah kesalahan besar!" Kali ini nada bicaranya tidak sebesar tadi, tapi tetap ada rasa emosi yang ia dengar tadi.
Guy yang menatap Kushira melirik pria pink itu melalui ujung matanya, ia tak percaya ada orang yang berurusan dengan anak dari salah satu gurunya. Kali ini—masih dengan menggendong Kakashi—Guy memutar badannya menatap wajah pria pink itu. "Kau ada masalah dengan Naruto?" Kali ini Guy bertanya pada pria pink itu.
Pria pink itu mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan kepada nya. "Dia sudah membuat teman-teman ku dan diriku tak sadarkan dir—" Namun tiba-tiba mulut pria pink itu ditutup oleh tangan kurus gadis pirang itu. Dengan senyuman yang bisa dibilang memaksa itu, gadis itu bergerak mundur berusaha menarik kepala pink itu mundur menjauh dari kerumunan Ninja Konoha ini. Bisa gawat kalau kejadian tadi terbongkar.
Pria berambut hitam itu hanya diam mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan oleh teman-temannya dan para orang-orang dihadapannya ini, yang ia tau dihadapannya ini adalah ninja Konoha. Dan dirinya sekarang berada di desa Konoha juga, ia tahu karena ia sudah hafal dengan gerbang besar yang menjadi gerbang utama untuk bisa masuk kedalam desa Konoha ini.
"Naruto menyerang kami!" Ucapan pria tanpa baju itu menambahkan ketegangan lagi di kerumunan orang ini.
"Gray!" Protes dari gadis pirang itu terdengar di telinga semua orang yang berada di gerbang utama ini. Termasuk dua orang penjaga gerbang utama Konoha Izumo dan Kotetsu ini, dirinya hanya diam, tidak tau harus berbuat apa, ini masalah serius, masalah Naruto.
"Kau sungguh membela pacarmu itu ya, Lucy?" Kali ini semua orang yang berada di gerbang Konoha melebarkan matanya kaget mendengar hal yang sungguh baru. Tidak bisa dipercaya kalau seorang Naruto bisa memiliki seorang pacar.Ayolah dia itu anggota Akatsuki.
"Kau bilang apa tadi! Kakakku punya pacar?!" Kali ini Kushira benar-benar berteriak antara senang dan tidak percaya.
Sementara Gray, Lucy, dan pria pink bernama Natsu yang mulutnya masih dibekap oleh tangannya baru sadar kalau gadis berambut merah sebahu itu sangat mirip dengan Naruto. Dan ternyata benar, dia adalah adik kembarnya seorang Naruto.
Namun keterkejutan mereka sirna sesaat datang secara tiba-tiba enam belas anggota ANBU yang melingkari orang yang ribut membahas Naruto.
"Kalian semua, Hokage-sama memperintahkan kalian untuk menuju ke ruangannya sekarang juga!" Ujar seorang wanita yang menjadi salah satu ANBU itu.
Lucy tau mereka ini, mereka yang melingkari mereka ini adalah ANBU. Sebuah pasukan khusus yang ditugaskan untuk membunuh dan taktik desa Konoha, mereka lagi-lagi dalam masalah. Dan mereka diberi perintah supaya mereka menghadap pemimpin desa Konoha. Sial ini semua karena Natsu!
.
.
Mata biru gelap itu menatap awan. Seorang gadis cantik dengan warna kulit kelewat putih dengan rambut biru menatap awan di jendela sebuah rumah berlantai tiga di sebuah desa bernama Konoha. Gadis itu bosan, ia menunggu seseorang yang sangat ia tunggu kepulangan nya. Ia terus membayangkan seorang pria berambut hitam itu pulang kembali ke sini, menemani dirinya. Tapi sudah hampir pukul sebelas, tapi tak ada tanda-tanda pria itu akan muncul.
Sambil menumpu kepalanya pada kedua telapak tangannya ia terus menatap awan itu. Dirinya harus lebih lama lagi menunggu pria itu datang. Dirinya tadi meminta untuk ikut, tapi tidak diperbolehkan oleh pria yang sekarang ia tunggu itu. Dirinya sudah sangat bosan, harus sampai kapan lagi menunggu pria itu datang.
"Hmmm.. Gray-sama kenapa kau sungguh lama kembalinya." Kali ini gadis berambut biru itu bergumam sendiri sambil terus menatap langit yang senada dengan warna rambutnya itu.
Memasang wajah super-sebalnya terus saja memikirkan pria es itu. Dirinya sungguh lebih dingin dari es-miliknya. Namun ia sangat-sangat suka dengan sifat super sedingin esitu, membuat dirinya kehabisan nafas merasakan kalau dirinya di cuekinoleh Gray-sama-nya.
"Sekarang ini Gray-sama lagi apa ya?" Kali ini pikiran nya sungguh liar memikirkan apa yang dilakukan oleh pria itu.
Dia memikirkan kalau Gray-sama-nya tengah menggerakkan sendok makan yang mengarah ke mulut seorang yang menjadi TEMANNYA yaitu LUCY! "Aaaa" suara Gray-sama-nya terngiang di kepalanya, dan bayangan itu terlihat jelas. "Lezat sekali, Gray-kun!" Kali ini suara dari gadis pirang itu terdengar di kepalanya. Dan ia membayangkan kalau Gray-sama-nya tengah menyuapi temannya LUCY HEARTFILIA!
Tidak-tidak! Hal itu tidak mungkin terjadi! Ia berusaha membuang jauh-jauh pikiran tadi. Kini ia membayangkan sesuatu yang lain.
Dan pikiran liarnya kini tengah mencari apa yang sekarang sedang dilakukan oleh Gray-sama-nya.
Dirinya membayangkan kalau punggung super keren dan kokoh Gray-sama-nya tengah di gosok oleh salah satu temannya lagi, temannya itu berambut merah dengan rona merah di wajahnya. "Mau ku gosok bagian depannya Gray-kun?" suara dari gadis berambut merah itu terdengar juga dikepalanya. "Kenapa tidak dari tadi, Erza-chan!" Kali ini ia muak. Dan yang membuat dia muak adalah yang menjadi pikiran liarnya itu adalah seorang ERZA SCARLET! Berengsek teman merahnya itu berani-beraninya menggosok sesuatu yang belum dan yang sangat ingin dia lakukan. Ia lagi-lagi menggelengkan kepalanya membuyarkan pikiran super dusta dari kepala birunya itu. Dirinya bisa dibilang sudah gila secara permanen jika terus memikirkan apa yang dilakukan oleh Gray-sama-nya.
"Tidak mungkin, tidak mungkin!" Kepala biru itu menggeleng-geleng, hal itu sungguh tidak mungkin. Gray-samaadalah miliknya tidak mungkin itu terjadi.
Dirinya masih dengan pikiran Gray-sama-nya mendengar suara terbuka nya pintu kamarnya. Kepala biru itu menoleh, menatap siapa yang membuka kamarnya. Itu adalah seorang yang gadis yang sangat muda dalam FAIRY TAILdia adalah Wendy Marvell.
"Juvia-san mau ikut denganku? Aku mendapat giliran sekarang untuk berbelanja bahan makanan untuk hari ini?" Ujar suara yang begitu ketara kalau gadis ini masih sangat muda.
Dirinya tersenyum, dari pada terus-terusan memikirkan Gray-sama lebih baik dirinya membantu Wendy berbelanja, lagipula kasihan gadis itu bila seorang diri berbelanja porsi makanan yang sudah pasti akan sangat banyak itu.
"Tentu, Juvia akan ikut!"
.
.
"Baiklah kalian boleh keluar."
Terdengar suara wanita yang mempersilakan Tim Guy untuk keluar dari ruangan yang menjadi kantor dari pemimpin desa Konoha, yaitu kantor Hokage. Dan mereka, yaitu Neji, Rock Lee, Ten-ten, dan Guy sendiri dengan sedikit membungkuk lalu berbalik berjalan menuju pintu keluar dari ruangan ini.
Terdengar suara tertutup nya pintu, dan tidak terdengar apapun selain suara lembaran kertas yang halamannya dibuka satu persatu. Mata coklat dari Godaime Hokage, Senju Tsunade, menatap setiap kata-kata yang tercetak di salah satu halaman buku yang tengah ia baca kali ini. Buku yang ia baca kali ini adalah buku yang isinya adalah target dan eksekutor dari Terget yang bisa dibilang adalah buku buronan. Dan dia melihat sebuah tim yang berisikan delapan orang yang mengisi peringkat ke empat besar Tim pemburu buronan Dunia.Tim itu berisikan delapan orang yang terdiri dari empat wanita dan empat laki-laki, timitu bernama Fairy Tail.
Ada sebuah informasi yang masuk ke telinganya, kalau mereka baru saja bertemu dan berhadapan dengan peringkat satu Buronandunia yaitu Namikaze Naruto. Dan mereka dikabarkan dikalahkan oleh Naruto sendiri. Dan dengan cepat ada bawahannya yang mengatakan kalau orang-orang yang berhadapan dengan Naruto berada di Konoha. Dan ternyata disini lah orang-orang itu, hanya ada tiga orang, sementara satu orang itu masih tak sadarkan diri akibat Genjutsu dari Naruto sendiri.
Dan yang lebih menariknya lagi, gadis pirang itu dikabarkan adalah seorang pacardari Naruto. Dan sudah pasti gadis itu tau dimana letak Naruto tinggal, dimana ia berada sekarang ini. Gadis itu ia akui cantik, memperhatikan badan yang proporsional untuk menopang kecantikan dirinya.
"Jadi bagaimana kalian bertiga bisa bertemu dengan Naruto?" Tanya Tsunade kepada ketiga orang yang berada di hadapannya kini, berusaha menghentikan pengamatan pada gadis pirang itu.
Pria berambut pink bernama Natsu ingin mengucapkan segala sesuatu yang ia alami tadi, tetapi ia melihat kalau Lucy memajukan langkah kakinya mendekati sang pemimpin desa Konoha itu.
"Teman-temanku ini datang ke hotel tempat diriku tinggal." Ujar Lucy jujur kepada pemimpin desa Konoha. "Semua berjalan baik, tidak ada kekacauan, sebelum salah satu temanku menggunakan sebuah kata-kata yang bernada ancaman bagi Naruto." Lanjut Lucy menceritakan kebenaran yang terjadi.
Natsu dan Gray hanya diam mendengarkan setiap kata-kata yang di ucapkan oleh Lucy, semua yang dikatakan oleh Lucy benar. Erza memang mengancam Naruto, tapi hanya dengan menatapnya saja, Erza sudah terkapar hingga sekarang belum sadarkan diri. Ya wajar saja Erza mengancam Naruto, sudah lama mereka semua mencari keberadaan pria pirang itu, dan seketika pria itu ada di hotel tempat mereka biasa beristirahat, dan pria pirang itu berada di Kamar salah satu temannya, Lucy.
Lucy memperkenalkan pria pirang bernama Naruto itu sebagai seorang pacarnya. Mereka terkejut, bagaimana tidak yang mereka tau Lucy tidak kenal dan tidak harus berkenalan dan akrab dengan siapapun pria asing di dunia ini. Bagaimana pun dunia ini berbeda.
"Apa maksudnya ancaman? Temanmu itu mengancam Naruto bila berani-beraninya berbuat yang tidak-tidak pada dirimu begitu?" Tanya Tsunade kepada Lucy.
Kepala pirang itu menggeleng.
"Naruto adalah buronan kami!" Namun dengan tiba-tiba mulut dari pria berambut pink yang bernama Natsu berbicara mengucapkan sesuatu yang sangat susah ia ucapkan, dan memang itulah kenyataannya. Naruto adalah buronan Fairy Tail.
Tsunade menurunkan buku yang tadi ia baca itu. Mereka ini tim pemburu buronan, tidak memiliki chakra ditubuh mereka, mereka pikir siapa mereka ini. Mereka jika hanya dengan kemampuan bertarung tangan kosong mereka pikir bisa mengalahkan Naruto. Sulit rasanya jika tidak menggunakan Chakra bila ingin mengalahkan Naruto, bahkan banyak Shinobi yang mempunyai Chakra pun tidak berkutik berhadapan dengan Naruto. Harus memiliki sebuah strategi yang tepat, dan harus tau apa kelebihan dan kelemahannya. Jika itu mereka miliki tidak mungkin Naruto akan menjadi sebuah piala untuk mereka Fairy Tail.
"Jadi kalian bertarung di kamarmu?" Tanya lagi Tsunade.
Kepala pirang itu lagi-lagi hanya menggeleng sambil matanya terus menatap lantai.
"Kami berusaha menghentikan nya," Kali ini temannya yang bernama Gray membuka suara. "tapi kurangnya strategi dan begitu cepatnya pria itu membuat kami dijatuhkan dengan sangat cepat oleh pria itu." Jelas Gray mengucapkan sesuatu yang sangat cepat ia alami itu. Pria yang tak mengenakan baju itu merasa kalau Tsunade menatap dirinya sambil mengeraskan rahangnya, sepertinya Hokage itu kesal atau marah.
Dan benar pemikiran dari Tsunade, mereka tanpa strategi dan chakra mustahil bisa mengalahkan Naruto. Kecuali mereka punya sesuatu yang benar-benar spesial hingga bisa mengalahkan Naruto, tanpa itu rasanya mustahil untuk bisa mengalahkan Naruto.
Namun Tsunade mengerti, mereka adalah orang-orang yang menjadikan buronan sebagai mata pencaharian utama mereka. Jadi ia tau, suatu saat nanti mereka akan kembali beraksi, entah siapa yang akan mereka buru. Selama itu tidak melanggar hukum dan ketentuan yang berlaku menurut nya itu baik-baik saja. Dan ia sangat yakin bahwa mereka akan membalaskan sesuatu yang bisa dibilang sebagai kekalahan mereka ini kepada anak dari Namikaze Minato itu. Ia hanya berharap agar mereka bisa mengalahkan Naruto, bagaimana juga Naruto sudah bukan lagi seorang ninja Konoha, ia sekarang menjadi orang yang ditakutkan menjadi sesuatu yang menjadi momok menakutkan dunia selanjutnya yaitu menjadi seorang yang menjadi lawan kakeknya.
Tapi tetap, ia mengharapkan kalau Naruto berhenti dan kembali ke desa. Bagaimanapun ia tau, kelakuan Naruto yang diluar logika ini, buka kesalahannya sendiri. Ia juga pernah melihat secara langsung kalau Naruto benar-benar tidak dianggap oleh keluarganya sendiri, wajar jika Naruto melakukan hal itu. Dan sekarang, dirinya tetap menganggap bahwa Namikaze Naruto adalah buronan Konoha tingkat tinggi.
"Baiklah, kalian boleh kembali ke rumah kalian." Tsunade memperbolehkan mereka kembali ke rumah mereka, setelah ia sudah tau kenapa dan apa yang menyebabkan mereka bertemu dengan Namikaze Naruto.
.
.
Sementara itu kedua orang yang menjadi Suami dan Istri itu tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Mereka berdua sekarang berada di salah satu kamar rumah sakit Konoha, menjenguk anak mereka yang sebenarnya hanya di check-up karena baru saja pulang menyelamatkan nyawa dari Kazekage.
Si pria yang mempunyai rambut pirang yang berstatus sebagai seorang suami dari wanita yang kini berderai air mata itu bisa dibilang mempunyai banyak sekali perasaan yang aneh begitu mendengar kata-kata yang diucapkan tadi ole anaknya.
"Naruto sudah punya pacar?" Kushina si ibu dari dua orang anak kembarnya tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari anaknya. Mata violet nya meneteskan air mata, anak laki-lakinya yang sudah tidak tinggal lagi bersama dirinya sudah mempunyai pasangan. Ia tidak akan tau kalau anak perempuan nya tidak memberi tau hal ini. Dirinya dan Minato langsung menuju rumah sakit begitu mendapatkan kabar kalau Kushira sudah kembali dari misinya. Dirinya bersyukur karena Kushira tidak terluka, namun ada hal yang ia khawatirkan, yaitu munculnya Kyuubi. Kushira sempat berubah menjadi sesuatu yang ia takuti, sesuatu yang ia harapkan menjadi hal yang istimewa yang ia percayai dari suaminya.
Namun Kakashi berhasil menormalkan kembali hal yang di alami oleh Kushira, dan Kushira masih dapat mengkontrol dirinya kembali. Dan mereka berhasil menyelesaikan misi mereka, ia bangga dengan anak perempuan nya akan hal itu. Namun begitu sampai di Konoha, anaknya bertemu dengan orang-orang yang ternyata yang sepertinya mempunyai dendam dengan anak laki-lakinya. Salah satu orang itu menyebutkan kalau gadis bernama Lucy itu adalah pacar dari Naruto, dan tentunya Kushira terkejut mendengar hal itu.
Dan belum lama Naruto muncul, ia membuat luka di tubuh dan hati ayahnya. Dan kali ini ia mendengar kalau Naruto kini punya seorang pacar, dirinya sama sekali tidak menduga kalau Naruto itu masih memiliki kasih sayang. Ia sudah berpikiran kalau Naruto saja tega melukai ayahnya hingga ayahnya memiliki luka besar di dadanya, dan mempunyai pacar berarti ia sudah menyatakan perasaannya kepada seorang wanita, dan terjadi lah sebuah hubungan yang bisa berlanjut hingga kejenjang yang lebih tinggi dan serius lagi.
Tersenyum memikirkan hal itu, dan tetap berharap dirinya bisa memeluk anak laki-lakinya yang sangat ia cintai dan rindukan itu, dirinya berharap kalau dirinya bisa bertemu dengan wanita yang menjadi pacar Naruto itu. Ia ingin sekali tau bagaimana rupa wanita yang menjadi pacar dari Naruto itu, bagaimana penampilannya, dan ia yakin seyakin-yakinnya kalau wanita yang menjadi pacar dari Naruto ini sudah pasti cantik, mengingat Naruto yang ia akui sangat rupawan, anak laki-lakinya itu sangat tampan, lawan dari kecantikan kedua anaknya yang berjenis kelamin perempuan itu.
Kedua anak perempuan nya, itu sama-sama sedang berada diatas kasur rumah sakit Konoha ini. Bedanya anaknya yang masih kecil yang mempunyai rambut sama seperti kakak laki-lakinya dan ayahnya sedang tertidur di pelukan kakak perempuannya yang mempunyai warna rambut senada dengan dirinya. Sang kakak hanya di chek-up dan semua hasilnya bagus, tidak ada luka serius, dirinya hanya sedikit terluka dan terlalu banyak menggunakan fisiknya, anak perempuannya itu kelelahan dilewat batas.
"Lalu dimana gadis itu?" Pertanyaan Minato memecahkan keheningan yang terjadi di ruangan ini.
Kushira sambil memeluk adik pirangnya itu menoleh pada ayahnya. "Sepertinya masih di ruang Hokage, Tou-chan." Balas Kushira, karena dirinya tadi sempat berada di ruang Hokage, lalu Tsunade meminta dirinya, Sakura, dan Kakashi mengecek keadaan dirinya masing-masing.
Kushina yang mendengar itu langsung berdiri meraih pergelangan tangan Minato dan menarik lengan itu. "Ayo Minato!" Kushina Uzumaki tersenyum lebih dahulu kepada anak perempuannya. "Kaa-chan titip Naruko ya Kushira." Ucap ibunya meminta Kushira menjaga adiknya.
Minato segera mengikuti tarikan tangan Kushina yang menarik tangannya, dirinya sudah pasti akan segera menuju ke ruang yang pernah ia tempati itu. Gadis yang menjadi pacar
Naruto itu adalah jalan untuk bertemu lagi dengan anaknya itu. Ya sudah pasti gadis itu tau dimana Naruto tinggal dan menetap dimana.
.
.
"Aku akan ke rumah sakit, aku akan menjenguk Erza!" Kali ini setelah gadis pirang bernama Lucy menutup pintu dari ruangan dari Hokage, Lucy berencana untuk menjenguk temannya yang hingga tadi terkahir dirinya dan teman-temannya di datangi oleh ANBU, temannya yang bernama Erza itu belum sadarkan diri.
"Begitupun dengan ku Luce!" Kali ini Natsu berkomentar mengikuti kegiatan yang akan dilakukan oleh Gadis pirang itu.
"Akupun juga akan menjenguk Erza" Dan pria yang dari tadi tetap tidak memakai baju itu ikut dengan Lucy juga.
Ketiganya akhirnya tersenyum dan kembali berjalan menuju rumah sakit tempat Erza di rawat. Menurut salah satu petugas medis tadi yang menangani Erza, sepertinya Erza terkena Genjutsu yang tak terlalu mematikan, hanya pingsan tak sadarkan diri. Semoga saja hasil yang mereka dapati nantinya sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Mereka bertiga lalu keluar dari sebuah lorong dan pandangan mereka melihat pria pirang yang mereka sudah tau itu adalah seorang Yondaime Hokage dan Istri yang keduanya memiliki kemiripan yang sangat dengan Naruto. Keduanya berjalan dengan tergesa-gesa, sepertinya mereka menuju ruang Hokage, dan tatapan mereka bertemu. Ketiga nya bertatap langsung dengan orang tua dari Naruto, sedikit bergeser memberi jalan untuk Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina.
Dan seketika mata Violet Kushina bertemu dengan mata Coklat Lucy Heartfilia. Gadis yang masih mengenakan Kimono mandinya itu menatap wajah cantik dari ibu pria yang ia sayangi itu, wajahnya sangat cantik, pasti siapapun tidak akan menyadari kalau wanita itu sudah memiliki tiga anak. Dan Kushina juga tetap menatap wajah gadis pirang itu, tadi ia sudah mendengar dari anaknya, Kushira, kalau pacar Naruto memiliki rambut pirang dan mengenakan kimono mandi. Dan sepertinya orang itu ada dihadapannya.
Kushina berhenti, dirinya sendiri berjalan mendekati gadis pirang itu. Ya ia yakin gadis pirang ini adalah gadis yang dibicarakan oleh Kushira tadi, ia yakin gadis pirang ini adalah pacar dari anaknya Naruto.
Minato segera melakukan apa yang dilakukan oleh istrinya, dia juga ikut berhenti dan melirik gadis pirang itu. Ia juga merasakan hal yang dirasakan oleh istrinya, ia menduga kalau gadis pirang ini adalah pacar dari anaknya, Naruto.
"Kau pacar dari anakku, Naruto? Benar bukan?" Sementara Lucy, wanita yang ditanya hal seperti itu membuat semburat merah muncul diwajahnya, ia merasakan sesuatu yang aneh begitu mendengar kalau ibu dari pacarnya itu. Ia seketika bungkam tak dapat menjawab apapun.
Kushina melihat ada semburat merah di wajahnya, dan mata violet itu melihat ada ruam kemerahan di sekitar dagu dan leher gadis itu, itu pasti ulah anaknya. "Benar bukan?" Tanya Kushina lagi.
Sementara kedua teman Lucy, Gray dan Natsu, hanya diam. Mereka berdua saling bertatapan dan kembali menatap wajah cantik ibu dari buruannya, Naruto.
Minato mengamati gadis pirang ini dari rambut pirang panjang itu, mata coklat, dan ada ruam kemerahan yang tidak terlalu jelas tapi mata biru itu bisa melihat nya, dan ia yakin kalau itu ulah anaknya. Dan mata birunya turun lagi ke bagian dada gadis pirang itu, gadis pirang itu punya dua buah properti yang sangat bagus, badan yang sangat ideal. Anaknya sangat pintar mencari seorang pasangan, matanya tetap menatap tubuh berbalut Kimono mandi itu, dan terus turun hingga ia melihat kaki putih itu tanpa pelindung kaki, gadis itu tidak memakai sandal maupun sepatu.
Dan fokus mata biru itu menatap pergelangan tangan gadis itu, ada sebuah yang ia yakin adalah sebuah segel. Ada sebuah simbol N di pergelangan tangan gadis pirang itu, itu adalah segel fuin seperti miliknya dan hanya berbeda simbol. Ia yakin itu adalah untuk semacam Hiraishin milik anaknya, dan dengan senyuman ia sudah menemukan sesuatu yang bisa membuatnya bertemu dengan Naruto.
.
.
Hey hey hey i'm back hahaha:)
Ini udah lumayan cepat kan update-nya? Gimana Chapter kali ini? Word ya kurangkah atau gaje atau gimana-gimana wkwk(?) Disini saya pengen munculin sesuatu yang menjadi awalpertikaianantara Naruto dan Fairy Tail hahaha. Dan kalo menurut kalian tadi Erza, Gray, ama Natsu kok gampang banget dikalahin sama Naruto ya itu kan belum apa-apa, kan belum ada persiapan dari mereka dan FAIRY TAIL belum lengkaphehehedan mereka gatau tuh dibalik pintu kamar Lucy ada buruonan mereka. Danyah next chapter insyaallah bakalan ada sesuatu yang sangat spesial hahahaha. Makanya pantengin aja terus NNN yaaa;) oh iya maaf ya belum bisa bales ripiuw kalian, tapi saya udehan baca kok ripiuw kalian semua, ternyata masih banyak ya peminat NNN dan tenang aja saya berani jamin NNN gabakalan HIATUS! oke sekian dari saya, dan silahkan berikanpendapat dan masukkan kalian maupun itu Flameatau
komen yang menjadi ide untuk NNN atau mau kenalan sama saya silahkan saja ya di kolom RIVIEWdibawah ini.
OKE SEE YA!
XXXXXXX
VVVVVV
VVVVV
VVVV
VVV
VV
V
