Chapter 36 - Tugas dari Mizukage.
.
Namikaze Kushira lagi-lagi hanya bisa menatap sebuah Kunai yang kini ia pegang itu. Sebuah Kunai yang sangat berbeda dengan Kunai biasanya. Kunai yang menjadi sebuah ciri khas milik dari ayahnya, Namikaze Minato. Kunai dengan mata tiga itu adalah Kunai yang biasa digunakan untuk ayahnya menggunakan Hiraishin. Kali ini dirinya mencoba lagi untuk mempelajari salah satu jutsu ruang dan waktu itu. Sudah hampir sebulan penuh, Kushira selalu gagal menguasai jutsu itu. Namun demikian, Kushira tidak menyerah sama, justru sebaliknya ia makin bersemangat untuk menguasai jutsu ruang dan waktu itu.
Bila kakaknya hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan dapat menguasai jutsu itu, dan di tambah lagi kakaknya masih berusia sangat belia dapat dengan mudah dan cepatnya menguasai jutsu rank S itu. Kini dirinya sudah berusia 17 tahun lebih sebulan tidak bisa menguasai jutsu itu. Dirinya benar-benar sudah jauh tertinggal dari kakaknya. Baginya jika dirinya dapat menguasai jutsu ini, akan lebih mudah bagi dirinya untuk bertemu dengan kakaknya.
Dirinya benar-benar kangen dengan kembarannya sendiri, dirinya ingin melihat seorang laki-laki yang menjadi belahan tubuhnya itu, karena bagi Kushira dirinya dan Naruto adalah satu. Jika Naruto merasakan sesuatu kesakitan atau bahkan kesedihan, dirinya akan mengalami hal yang sama. Dan pasti sebaliknya, jika dirinya mengalami hal tersebut, sudah pasti kakaknya akan mengalami hal serupa dengan apa yang di alami oleh dirinya. Tapi kali ini, dirinya tidak pernah lagi merasakan rasa sakit atau rasa sedih dari kakaknya. Seharusnya seperti waktu itu, dirinya bisa dengan mudah larut dalam rasa sedih kakaknya. Kakaknya selalu merasa bahwa dirinya lah tempat berlindung dari kesepian dan kebencian yang seluruhnya di alami kakaknya, dan selama tidak ada Naomi, dirinya benar-benar tahu seberapa hancur perasaan kakaknya. Seberapa rapuh kakaknya itu. Dirinya mungkin sekarang ini tahu dan menyadari apa yang membuat seorang laki-laki bernama Namikaze Naruto menjadi sangat-sangat kuat, itu semua karena kakaknya itu berusaha menutupi dan mengubur dalam-dalam semua rasa sakit dan cintanya kepada keluarganya.
Membuat seorang Namikaze Naruto menjadi manusia yang benar-benar tidak ia kenali, dari sifat yang sangat berbeda dengan yang ia ketahui. Namun ia percaya dan yakin bahwa kakaknya masih memiliki sebuah cinta kepada keluarga, meski sedikit ia akan membantu Naruto untuk kembali kepada kehidupan yang lebih baik. Dan sekarang ini sudah banyak sekali orang diluar sana yang tidak menginginkan keberadaan kakaknya, banyak yang takut akan munculnya Naruto. Naruto sudah menjadi ancaman bagi dunia ini.
Namun demikian, bagaimana juga, ia sangat menyayangi kakaknya. Seorang yang sangat berharga bagi hidupnya, sudah sangat berubah menjadi seseorang yang benar-benar tidak bisa ia rasakan seperti yang dulu. Seseorang yang bergabung dengan kelompok tidak jelas bernama Akatsuki. Tujuan dari Akatsuki yaitu menangkap dan mengumpulkan ke 9 Jinchuricki yang ada di dunia ini, dan tentu Kushira adalah salah satu nya, Kushira adalah Jinchuricki dari Kyuubi no Yoko.
"Hey!" Suara pria berambut putih panjang membuyarkan lamunan Kushira. "Akhir-akhir ini, kau selalu melamun, ada apa?" Pria yang dikenal dengan nama Jiraiya itu bertanya kepada Kushira.
Mendengar itu Kushira menggelengkan kepalanya, berusaha memfokuskan perhatian pada ucapan pria berambut putih itu. "Tidak ada apa-apa."
"Kalau begitu lanjutkan lagi latihan ini, Kushira." Balas Jiraiya.
Kushira mengangguk, dirinya mengerti apa yang akan dilakukan sekarang ini. Memutar badannya menatap hamparan tanah yang luas itu, dan mata biru itu menatap sebuah pohon yang jaraknya sekitar 400 meter dari tempatnya berdiri sekarang. Di pohon itu terlihat sudah ada 3 buah Kunai yang sudah jelas menjadi milik Minato. Dan Kushira yang sudah melemparkan Kunai itu untuk mencoba menguasai jutsu itu, dan hasilnya hari ini sudah hampir sore dan dirinya belum bergerak satu inchi pun dari tempatnya berdiri sekarang ini.
Mata itu menyipit, memfokuskan perhatian pada target yang akan ia jadikan sebagai incaran Kunai nya. Menggerakkan tangannya dengan sangat cepat membuat sebuah gerakan melempar Kunai dengan kencangnya. Kunai bermata tiga itu melesat dengan kecepatan tinggi hingga tepat menancap di targetnya, yaitu sebuah pohon yang Kushira incar tadi. 'Kali ini tidak boleh gagal lagi!' Inner Kushira dengan sangat bersemangat berbicara, membuat Kushira makin bersemangat untuk menguasai jutsu ini.
"KOSENTRASI!" Inner Kushira dengan keras meneriaki nya bahwa dirinya harus berkonsentrasi. Dirinya mulai berkonsentrasi penuh untuk bisa terhubung dengan Kunai yang menancap lumayan dalam. Menutup mata birunya agar bisa lebih fokus lagi, Kushira makin keras untuk dapat menguasai jutsu itu. Namun sudah beberapa detik berlalu, konsentrasi Kushira tidak menemui hasil, dirinya tetap tidak bisa terhubung dengan Kunai itu. Sekarang sepertinya dia gagal lagi. Di percobaan yang sudah ia lakukan keempat kalinya di hari yang sama, Kushira gagal lagi.
Gagal, ya dirinya kembali gagal untuk menguasai jutsu ini. Entah, mungkin hanya pikirannya atau memang dirinya tidak bisa untuk menguasai jutsu ini. Sudah sangat sering dia bertanya dan diajarkan oleh ayahnya tentang jutsu yang membuat ayahnya menjadi salah satu Shinobi yang paling mematikan karena terkenal dengan kecepatannya yang sangat tinggi.
Mata biru Kushira menatap langit, melihat langit biru, "Kak….. apakah aku memang sepayah ini dalam mempelajari sebuah jutsu?" Gumam Kushira sedih karena jarak kekuatan yang ia akui dan ia sadari terpaut terlampau jauh dari sang kakak kembarnya.
Ayolah, kakaknya dalam usia yang sangat belia sudah bisa menguasai jutsu yang bernama Hiraishin ciptaan dari mendiang Hokage ke dua itu. Dan bahkan, sekarang kabarnya kakaknya sudah tak perlu lagi segel yang terdapat pada kunai atau segel yang ia tempelkan di mana pun kakaknya mau. Dan itu sudah sangat jauh perkembangannya, ayahnya— Minato bahkan belum bisa melakukannya.
"Kenapa aku tidak bisa sekuat dirimu kak?" Ucap Kushira yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Apa yang membuat nya kuat? Dirinya memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh kakaknya. Chakra yang melimpah. Chakra kyubi terus menerus mengalir di antara tubuh Gadis berambut merah itu. Itu yang menjadi kelebihan Kushira. Apakah mungkin karena chakra yang kapasitasnya sangat besar ini menghambat pertumbuhan nya sebagai ninja? Kushira pikir tidak. Justru dengan chakra yang sangat banyak ini, sangat membantu dalam proses memantapkan untuk terus belajar tentang jutsu ini, atau jutsu baru yang nantinya akan Kushira kembangkan, atau bahkan menciptakan sebuah jutsu yang baru.
Dan juga Kushira memiliki kelemahan yang awalnya tidak ada, yaitu dengan bertambahnya satu—bukan, dua kekei genkai yang dimiliki oleh Kakaknya yang tentunya sangat berbeda dengan dirinya yang tidak memilikinya. Kushira tidak memiliki Sharingan maupun mata yang konon katanya hanya dimiliki oleh Rikudo Sanin. Entahlah. Tapi dari banyak berita, Sharingan dapat membantu menebak dan memprediksi apa yang terjadi selanjutnya di dalam pertarungan maupun yang lain. Tanpa itu, kakaknya sudah kuat. Dan ditambah dengan mata itu, kakaknya sudah sangat kuat. Belum lagi kakaknya sangat pandai dalam Taijutsu. Pertarungan jarak dekat dulu adalah kesukaan Naruto, hingga ia bisa menjadi seperti sekarang.
Anak yang sangat berbakat, Ya. Kushira akui itu. Mungkin 1 berbanding 1 juta bahkan 1 miliar atau mungkin lebih dari seluruh ninja yang pernah ada di muka bumi ini. Kakaknya ajaib. Sementara dirinya, hanya seorang wanita yang lemah, ya. Tidak sekuat yang orang kira. Hanya seorang gadis kecil yang selalu gemetar ketika berhadapan dengan musuh yang lebih kuat darinya. Yang selalu berharap waktu bisa diputar, yang selalu berharap tidak pernah ada Kyubi di muka bumi ini, agar ia dan kakaknya kembali menjadi satu keluarga utuh.
"Kyubi, kenapa kau muncul malam itu?" Suara nya terdapat kesedihan yang sangat terasa keluar dari bibir peach Kushira. Suara kecil itu mulai membuat Kushira larut dalam kesedihannya—lagi.
Mata biru itu tertutup. Terlihat mulai basah oleh air mata yang mulai menggenangi mata biru itu. Sedih ya, Kushira sedih. Kejadian Kyubi itu lah yang membuat keadaan seperti sekarang menjadi kenyataan. Seandainya kejadian itu tidak terjadi, tentu ia akan menjadi keluarga yang sangat-sangat bahagia. Ia akan saling melengkapi dengan kakaknya. Ia akan belajar dengan kakaknya, atau mungkin kakaknya yang akan belajar dengannya. Sangat indah jika itu menjadi kenyataan, tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Dirinya memiliki satu yang menjadi kelebihan dan juga ancaman bagi dirinya dan dunia ini. Ya, Kyubi ini sendiri. Tidak berusaha munafik, kyubi telah banyak membantu dalam proses kehidupan Kushira untuk tetap hidup hingga sekarang. Dan juga dalam selama beberapa tahun ini, ia sudah berbicara secara langsung dengan Rubah ekor sembilan yang tersegel di dalam tubuhnya.
Tidak banyak yang ia bicarakan dengan Rubah yang itu, hanya saja dalam hati nya, Kushira ingin Kyubi bisa membantunya secara langsung. Seperti seorang Jinchuriki dari Ekor delapan, yang kabarnya dapat bekerja sama. Bayangkan kekuatan seperti apa yang Kushira dapatkan nantinya jika sudah dapat menjadi seperti itu.
Mungkin dengan itu, ia bisa mengimbangi kekuatan yang dimiliki oleh Kakaknya, atau bahkan bisa melampaui kekuatan yang dimiliki oleh Kakaknya.
Pundak kiri Kushira terasa dipegang, ya, ia tentu nya tau itu pasti gurunya.
"Kenapa diam?" Ucap suara yang dia kenal betul, itu suara Jiraiya, gurunya, dan juga guru dari ayahnya.
Kushira membuka kembali kedua bola matanya, memperlihatkan kedua bola mata yang terlihat sangat indah itu, ya sayang nya di kedua bola mata bagai shapire itu sangat terlihat kesedihan yang mendalam. Masih jelas terlihat ada genangan di kedua bola mata itu.
Menggerakkan tangan kanannya, menyeka keringat yang sebenarnya tidak ada di dahinya, dan menggerakan tangan kanannya sedikit turun ke arah kelopak matanya. Membersihkan sisa air yang masih menggenang di sana. "Tak apa, aku hanya bingung, kenapa aku tidak bisa menguasai jutsu ini Ero-Sennin." Kata terakhir adalah panggilan khas dan khusus untuk guru nya itu.
Mata orang yang dipanggil Ero-Sennin itu tertutup, dan membuat sebuah simpul senyum di wajah yang sudah terlihat mulai menua itu. "Kau sebenarnya bingung?" Jiraiya membuka kembali kedua matanya. "... Atau sedih? Aku ingin tau Kushira." Lanjut Jiraiya dengan penekanan pada kata sedih, karena ia tahu itulah penyebab utama kegagalan murid nya ini.
Sangat terlihat dari belakang, kalau gadis berambut berwarna merah ini sedang ada masalah dengan rasa sedih yang mengganggu nya itu. Ya baginya sedih itu wajar, tapi ia harus melawan kesedihan itu, jika tidak kesedihan itu akan semakin larut. Dan akan melemahkan dirinya sendiri. Dan itu akan sangat berbahaya, fatal akibatnya jika Kushira tetap tidak berkembang.
Sudah bertahun-tahun lamanya Naruto pergi, tapi Kushira tetap dengan kesedihan itu. Ayolah, Naruto bahkan tidak sedikit pun sedih dengan semua ini. Bahkan hampir membunuh ayahnya sendiri. Tidak mungkin jika Naruto memiliki kesedihan bisa melakukan itu.
"Aku ingin kuat seperti Kakak ku." Kushira buka suara.
"Tidak" Jiraiya melepas tangan kanannya dari pundak Kushira.
Kushira menoleh, menatap gurunya "Apa maksu…"
"Kau tidak bisa sekuat dengan dirinya" Potong Jiraiya menyela perkataan Kushira.
Hati Kushira merasakan sesuatu yang sakit masuk dari telinganya, langsung menusuk hatinya. Ya benar, Jiraiya benar. Dia tidak bisa sekuat dengan kakaknya. Butuh waktu yang sangat lama untuk selevel dengan nya. Dan tidak mungkin jika kakaknya tidak berkembang, pasti kakaknya terus berkembang, berlatih untuk menjadi jauh lebih kuat lagi dan lagi, sementara dirinya, hanya lah gadis lemah tak berdaya. Gadis Jinchuriki yang lemah, jauh lebih lemah dari Kunoichi manapun.
Tidak bisa. Itu lah yang di pikiran Kushira. Dirinya tidak bisa satu level dengan kakaknya, bahkan dengan dirinya sekarang yang tak bisa menguasai Hiraishin, dirinya sangat payah. Jurus lain, Rasengan? Itu sudah tidak cukup jika berhadapan dengan kakaknya. Ingin memulangkan nya, tapi dirinya tidak berkembang, stuck, jalan ditempat. Bahkan mundur. Miris.
Yang seharusnya dibanggakan oleh warga desa adalah Kakaknya. Bukan dirinya. Yang seharusnya disayang oleh kedua orangtuanya adalah Kakaknya, bukan dirinya. Yang seharusnya dijauhi oleh warga dan kedua orang tuanya juga seharusnya dirinya, bukan kakaknya. Kakaknya jauh berkembang dari hari ke hari, bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Sementara dirinya? Hanya menjadi—…
"Kau akan melewati kekuatan Kakakmu!" Ucap Jiraiya memecah khayalan penuh putus asa dari Kushira. "...Aku percaya itu, Kushira. Dan lebih baik, dirimu mengurangi rasa sedihmu itu." Dengan senyum ia percaya bahwa anak ini bisa lebih kuat dari Naruto.
Bibir peach Kushira membuat sebuah senyuman, entahlah. Tapi mendengar ucapan dari guru genit itu, ada semangat yang tinggi dari Kushira. Itu bukan cuma sebuah motivasi, tapi memang akan menjadi kenyataan, ya. Jika ia bisa mengurangi atau bahkan menciptakan sebuah dinding besar yang bisa membatasi antara rasa sedih yang berada di tubuhnya, ia bisa menjadi sangat kuat. Tumbuh menjadi ninja kuat, bisa setara bahkan melampaui kekuatan kakaknya, dan membawanya pulang. Ya. Ia percaya itu akan terjadi.
Dengan bertambahnya semangat di dalam tubuhnya, mata biru Kushira menatap kembali kunai yang sedari tadi menancap di pohon itu. Ia akan berusaha, paling tidak, dirinya akan meningkatkan kepercayaan dirinya untuk bisa mengembangkan kekuatannya lagi dan lagi.
Menatap gaun kesukaan nya yang tertata di atas kasur kamar hotel yang sangat mewah. Gaun itu adalah salah satu dari sekian banyak gaun yang dimilikinya, meski sudah sering dirinya dibalutkan oleh gaun biru tersebut, dirinya tetap menganggap kalau gaun ini adalah yang terbaik untuk dirinya. Ya setidaknya untuk saat ini. Saat yang sebenarnya tidak ia inginkan. Pertemuan ke-lima orang dengan keegoisan yang sangat tinggi, ya begitulah menurut dirinya.
Tapi kemungkinan besar, hanya akan dihadiri empat orang dengan keegoisan yang sangat tinggi, termasuk dirinya. Dia sebenarnya tidak ingin datang. Terlebih harus melihat wajah yang sebenarnya tidak ia sukai, Raikage.
Entah kenapa, Mei Terumi tidak menyukai pria berbadan tinggi besar itu. Entahlah. Dirinya memang tidak suka dengan orang yang terlalu banyak bicara, dan baginya Raikage sekarang ini adalah orang yang sangat berisik, terlalu banyak bicara.
"Hufttttfftt…." Godaime Mizukage itu menghela nafas. Dirinya berusaha menghilangkan pikiran tentang para kage lainnya. Berusaha memejamkan mata, dan menutup mata nya sesaat.
Mata hijau nya terbuka dan kembali menatap gaun nya. Membuat simpul senyuman di wajah cantiknya, dan memikirkan hal yang akan membuatnya rileks, tenang.
Badan Mei tinggi ramping dan sangat proporsional itu hanya di balutkan bra biru dan rok hitam pendek sepaha. Rambut pirang kemerahannya dibiarkan tergerai panjang hingga menyentuh betis belakangnya, dirinya sebenarnya baru saja selesai mandi, dan ya sebenarnya dirinya sedikit lelah dengan perjalanan nya menuju negeri Iwa ini.
Mulai menggerakan kaki jenjangnya, bergerak menuju jendela yang tertutup oleh gorden bercorak bunga sakura yang menutupi kamar hotelnya. Tangan putih Mei bergerak, menuju tali gorden dan menarik tali itu. Membuka gorden dengan motif bunga sakura. Sedikit tersenyum melihat ternyata sekarang sudah hampir malam.
Seperti yang mata hijaunya lihat, matahari sudah hampir tenggelam. Menyisakan cahaya yang sangat ia sukai. Warna keemasan, di ufuk timur. Matahari akan terbenam sebentar lagi. Ya ia suka saat momen seperti ini, dirinya salah satu pengagum keindahan alam.
Mata hijau nya meneliti rumah-rumah penduduk yang berada di area penglihatan Mei. Melihat satu-persatu lampu di rumah penduduk sudah mulai menyala. Menambah keindahan yang ia dapat kan di negeri Iwa ini.
Sesaat, dirinya yang masih melihat matahari yang mulai menghilang, tenggelam meninggalkan warna yang sangat indah itu membuatnya teringat seseorang, Naruto. Ya, Naruto Namikaze.
Pagi nanti akan diadakan pertemuan ini karena ulah bodohnya. Mei setuju dengan paman dari bocah kuning itu, Inazuma. Kalau ternyata Naruto adalah bocah yang bodoh. Untuk apa ia mengambil sesuatu yang penting dari negara ini, dan juga negara Kumo. Itu hanya senjata.
Dirinya sudah kuat tanpa senjata itu. Dan ia juga tau kalau senjata yang Naruto rebut itu adalah senjata peninggalan yang kuat dan unik. Tapi untuk apa? Ya dirinya sangat setuju dengan Inazuma. Naruto bodoh.
Tapi dibalik kebodohan nya, Naruto sudah berjalan sangat jauh menuju kegelapan. Terbukti dirinya bisa berhadapan dan tentunya bertarung dengan Tsuchikage, Oonoki. Ya setidaknya, itulah menurut keterangan orang tua itu. Mana mungkin ada orang lain yang bisa mendapatkan Rinnegan selain bocah itu. Apalagi sekarang ada banyak orang bermata serupa. Tidak mungkin orang lain, mungkin Naruto menggunakan sebuah jurus Kage Bunshin atau semacamnya. Yang membuat dirinya bisa melihat mereka semua mempunyai Rinnegan.
Naruto kuat. Itu adalah sebuah fakta. Dan fakta selanjutnya adalah, kalau Naruto adalah musuhnya, paling tidak sejauh ini hampir semua orang menganggap Naruto adalah Buronan. Tapi entah apa yang akan terjadi jika pertemuan itu digelar. Apakah bertujuan untuk membunuh bocah kuning itu atau apa? Mungkin akan membahas hal lain. Terutama hal yang lumayan mengganggu baginya. Akatsuki.
Kazekage Gaara dikabarkan kehilangan nyawanya karena sudah terpisah dari Jinchuriki yang tersegel di dalam tubuhnya. Entah apa yang terjadi, kabarnya sekarang dalam kondisi yang lebih baik, dan bernyawa. Ya Kazekage berhasil bertahan hidup, meski Ichibi—monster ekor satu, sudah tidak ada lagi pada tubuhnya.
Itu diluar logika. Karena semua Jinchuriki sebelumnya, akan mati bila sang bijuu terlepas dari tubuhnya. Tapi ini tidak. Apa yang sebenarnya terjadi, apakah ada pengaruhnya karena di tolong oleh Jinchuriki ekor sembilan, yaitu anak dari Yondaime?
Seperti nya dirinya salah tentang Akatsuki. Dirinya dulu sempat menyewa jasa mereka. Akatsuki. Ya dia menyewa satu tim dari Akatsuki, yang berisikan, seorang bocah pirang bermata biru yang ternyata adalah Naruto, dan seorang pria yang awalnya bernama Dreyoka, dan ternyata adalah paman dari Naruto, Inazuma. Benar-benar sempit dunia ini. Sekarang paman dan keponakan bisa menjadi kriminal seperti itu. Sangat jarang terjadi. Apalagi mereka bukan kriminal sembarangan.
Tangan putih Mei memegang kaca jendela, mata hijaunya melihat pantulan dirinya, menatap dirinya sendiri yang tersenyum. Dirinya harus mengakui senang sekaligus kecewa dan bingung apa yang terjadi pada bocah kuning itu. Ya setidaknya untuk sekarang, rasa kecewa itu mulai redup. Diganti rasa senang akan hadirnya seorang pria yang tidak disangka akan menjadi pengisi lubang di hatinya.
Di mana Inazuma sekarang? Setelah malam yang ia akui menyenangkan itu terjadi, ia senang. Ya ia senang akan kejadian itu. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak melakukannya. Laki-laki terakhir yang melakukannya adalah bocah kuning itu. Dia sudah melupakan kejadian itu. Ya setidaknya berusaha tidak memikirkan kejadian itu.
Tapi ini berbeda. Dengan seksama dan penuh dengan rasa yang bergejolak pada malam itu, ia menatap dan memperhatikan mata lavender pria itu, ia berharap dan yakin kalau itu bukan tatapan nafsu, tapi tatapan cinta. Ya, meski awalnya ia bertarung dengan pria itu, tapi keadaan selanjutnya adalah suatu yang baginya sangat aneh sekaligus manis.
Aneh memang, ia yang awalnya ingin menghabisi nyawa nya, berbalik ingin menghabisi waktu bersamanya. Dan ia rasa mungkin dengan kejadian itu ia mempunyai rasa kepada Inazuma. Seorang pria yang tidak diketahui keberadaannya sebelumnya. Ia bertahun-tahun lalu dikabarkan tewas bersama rekan satu team nya. Dan tibalah waktunya dia muncul bersama keponakan nya. Sungguh aneh.
Dan sungguh, ia tak peduli soal kabar yang simpang-siur tentang pria yang mempunyai satu byakugan itu.
Flashback
Wanita yang memiliki rambut yang berantakan akibat kejadian barusan sudah selesai merapikan dan memakai kembali pakaian yang tadi dilucuti. Bergerak menuju meja kerjanya, tangannya bergerak mengambil beberapa berkas yang terjatuh, entah kenapa berkas-berkas ini bisa terjatuh. Tidak ada angin, dan jendela diruangan ini tidak bisa terbuka.
Tanpa pikir panjang, jari-jari Mei Terumi sang Godaime Mizukage memungut beberapa lembaran yang terjatuh di lantai ruang yang seharusnya menjadi ruang kerja para Mizukage. Tapi berkat kejadian barusan sepertinya akan sedikit ternoda.
Lembaran berkas itu sudah di tangannya dan bergerak menuju meja, dan meletakan berkas itu diatas meja kerjanya. Tubuh wanita cantik itu berputar, mendudukkan bokong tebalnya di ujung meja. Kedua tangannya bergerak, memegang juga ujung meja, kedua tangannya menggenggam ujung meja kerjanya.
Mata hijau Mei masih menatap pria yang seharusnya tidak berada di ruangan ini. Mei masih menatap pria itu—yang tengah mengancingkan kembali kemejanya satu per satu. Rambut hitamnya terlihat berkilau, terkena sinar lampu yang tepat berada diatas kepala pria berambut hitam itu.
Pria itu sekarang tengah mengancingkan sebuah kancing pada ujung lengan kemeja sebelah kirinya. Dan sekarang bergerak mengancingkan kembali kancing kemeja sebelah kanan miliknya.
Pria itu menatapnya. Ya pria bermata Lavender di sebelah kanan itu menatapnya. Dengan mata kiri yang tertutup oleh kelopak matanya sendiri, dan ia tahu kalau mata yang tertutup itu adalah mata dari salah satu clan dari Konoha, yaitu Uchiha.
Inazuma tersenyum melihat wanita itu. Ia sedari tadi sudah sadar kalau mata wanita itu tertuju pada dirinya. Inazuma sekarang dengan keadaannya yang sudah berbusana sama seperti Mei saling beradu pandangan. Menatap wajah cantik Mei dan melihat ada semburat merah di wajah wanita yang ia akui cantik itu. Mei sangat cantik.
Inazuma bergerak maju beberapa langkah ke depan. Selangkah demi selangkah maju menuju wanitanya. Ruangan ini sangat hening, hanya ada suara langkah kakinya dan suara AC yang terdengar di indera pendengarannya. Hingga akhirnya pria itu sudah berhadapan dengan Mei.
Mei sendiri menggerakkan bola mata nya. Membuang tatapannya. Dirinya entah ada perasaan canggung ketika beradu tatapan sedekat ini dengan pria. Dan ya ia sangat jarang beradu pandang dengan lawan jenis.
Hingga ia merasakan kalau rambutnya dipegang oleh pria itu. Rambutnya ditata oleh jari tangan Inazuma. Entah kenapa suhu tubuh nya seakan tiba-tiba sangat panas, apakah AC di ruangan ini mati?
Menata rambut depan Mei yang sebelumnya searah seperti rambut kemerahan lainnya yaitu ke arah belakang, kini jari tangannya bergerak membuat sebuah poni ke arah kiri. "Kau sangat cantik." Ujar Inazuma dengan memajukan wajahnya.
Kini mereka berdua hanya berjarak sangat dekat. Bahkan Mei sudah merasakan deruan nafas pria dihadapannya ini. Mata hijau Mei turun melihat bibir pria itu. Bibir itu sangat merah. Ia sangat suka dengan warna itu. Membuka sedikit bibir peach miliknya dan hanya sedikit memajukan wajahnya. Membuat kedua bibir itu bertemu kembali.
Tangan Mei melingkari leher pria itu. Awalnya ia mulai dengan menciumi bibir bagian dalam pria itu. Ada sesuatu yang addict disana. Ia sangat suka dengan Inazuma yang membalas lidahnya dengan gigitan pada bibir bawahnya.
"Mhhhhh" Suara Mei lepas begitu sadar lagi-lagi dadanya diraba oleh Inazuma, dan tentu ia suka.
Inazuma terus memagut bibir Mai, membuat bibir peach itu makin mengeluarkan saliva yang sangat cair itu. Sambil terus memainkan salah satu bongkahan dada yang mulai sekarang menjadi kesukaan dirinya itu. Tangan kanan itu sibuk meraba dan meraba dada milik Mizukage itu. Membuat tubuh wanita itu bergerak makin mundur.
Mei kenikmatan bukan main, ini sungguh nikmat. Meski punggungnya menahan beban yang membuatnya pegal tapi tak mengapa. Tapi secara perlahan, ciuman dari Inazuma berhenti. Begitu juga dengan gerakan tangannya. Mei membuka matanya, menatap Inazuma.
"Kenapa?" Tanya Mei merasa ada yang tanggung dengan ciuman tadi.
Masih dengan mengalungkan kedua tangannya pada pria itu. Mei berusaha mempertemukan kedua bibir mereka. Tapi tangan Inazuma meraih pipi kiri Mei.
Tangan Inazuma mengelus lembut pipi kiri Mizukage Mei Terumi. "Aku harus pergi." Ujar Inazuma kepada Mei.
Mata Mei Terumi membulat. "Tinggallah disini, di rumahku, tinggal lah bersama ku" Suara Mei memelas membuat permohonan kepada Inazuma.
Inazuma kembali memajukan wajahnya. Mencium sekilas bibir Mei. Dan menarik kepalanya sedikit kebelakang. "Besok adalah hari yang penting, Mei." Lalu ia menyambar kembali bibir Mei.
Mei yang merasakan kembali ciuman dari Inazuma sekarang mulai berpikir tentang besok. Semakin mengeratkan pelukan pada leher Inazuma. Ia tidak ingin pria itu pergi ke acara itu.
Sementara itu Inazuma merasakan kalau Mei menggunakan tenaga untuk menguasai dirinya. Dan semakin merasakan lumatan di bibirnya makin terasa. Mei semakin rakus. Melumat habis rongga mulut Inazuma.
"Mheeei—.. Mheeii." Suara Inazuma tertahan karena ciuman wanita berambut merah ini.
Mata Mei sedikit terbuka melihat kalau Inazuma berusaha untuk berbicara. Tidak menanggapi hal itu, Mei terus saja melakukan aksinya. Dan Mei merasakan kedua pipinya dipegang. Mata Mei kembali terbuka, dan menyadari kalau Inazuma memegang pipinya dan menahan kepalanya agar tidak menyerangnya kembali.
Kepala Mei bergerak dan berhasil terlepas dari pegangan Inazuma dan meletakan dagunya di pundak Inazuma. "Kumohon, jangan pergi." Ucap Mei dengan nada kesedihan tepat di sebelah kuping Inazuma.
Inazuma memeluk tubuh Mei yang berbeda sedikit saja dengan dirinya, dengan dirinya yang lebih tinggi sedikit dibanding dengan Mei. Menyesap wangi dari rambut merah Mei, menikmati aroma yang menenangkan bagi dirinya.
"Aku harus tau apa yang mereka bicarakan tentang si bodoh itu." Ucap Inazuma ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh para petinggi desa lain tentang bocah bodoh alias Naruto.
"..." Mei tidak menjawab, dirinya sendiri lebih memilih diam dalam pelukan hangat pria ini.
Inazuma yang merasa diabaikan ucapannya menggerakkan kepalanya membuat pipi sebelah kirinya menyentuh puncak kepala merah Mei Terumi. Dan membiarkan pipi nya bersandar di kepala Mei.
Sementara Mei berpikir orang yang dipanggil bodoh itu. Sudah pasti itu bocah kuning alias Naruto. Ya besok dirinya akan berangkat ke Iwa untuk membahas hal itu. Jadi dirinya akan tau apa saja yang akan dibahas nanti disana, apa soal hanya soal Naruto atau ada hal lain. Atau membahas Kazekage?
Ya itu mungkin jadi salah satu pembahasan, itu bukan hal yang sepele. Karena orang sekuat Kazekage saja bisa kalah oleh Akatsuki, ini pasti akan dibahas nantinya.
Mata hijau Mei terbuka menyadari sesuatu kalau pria yang dipeluknya ini adalah salah satu anggota Akatsuki. Ya setidaknya itulah yang dia ketahui tentang pria ini.
Pria ini juga seorang buronan, banyak yang mencarinya. Memang seluruh anggota Akatsuki adalah buronan. Tapi baru beberapa yang identitasnya terungkap, dan salah satunya adalah Inazuma, yang awalnya mengaku bernama Dreyoka.
"Apakah kau masih dengan Akatsuki?" Mei bertanya ingin tahu kebenaran tentang Inazuma.
Kepala Inazuma yang awalnya bersandar di kepala Mei bergerak, menegakan kepalanya. "Ya." Balas Inazuma singkat.
Mei yang mendengar itu juga menggerakan kepalanya, menatap wajah pria dihadapannya. "Apa tujuan mu berada disana? Kau hanya menjadi seorang kriminal disana, Inazuma." Mata Mei mulai berkaca-kaca mengucapkan itu. "Kau tentu tau apa itu kriminal?" Lanjut Mei dengan mata yang makin berkaca-kaca.
Inazuma menutup matanya mendengar perkataan wanita di hadapannya itu. Mendengar ada nada khawatir yang sangat terasa keluar dari mulut wanita itu, wanita ini khawatir pada dirinya.
"Disana, aku hanya mengawasi Naruto." Balas Inazuma. Tidak menanggapi perihal kriminal yang diucapkan oleh Mei.
"Mengawasi? Naruto berbuat hal yang sangat bodoh beberapa waktu lalu." Dengan nada bicara yang ditinggikan. "Apakah itu mengawasi?" Tanya Mei.
Inazuma menghela nafas. "Tenanglah." Jari telunjuk Inazuma bergerak menyeka air mata Mei yang mulai terlihat di ujung mata hijaunya. "Aku juga tidak tahu kalau bocah itu melakukan semua itu." Lanjut Inazuma sambil menyeka kedua mata Mei.
"Aku tau berat baginya mengalami masa lalu yang sangat tidak dia inginkan, aku berharap bisa ada untuknya. Tapi dia hanya menganggap diriku seperti orang biasa." Jelas Inazuma tentang pribadi Naruto yang bersifat sangat labil padanya. Terkadang sangat dingin kepadanya, dan juga sebaliknya.
"Meski dia memanggilku dengan sebutan Paman, tetap saja ia sangat berhati-hati jika berbicara kepadaku. Dia tidak ingin terlihat sedang sedih ataupun senang. Kondisinya selalu terlihat datar, entah kenapa dia bisa seperti itu." Lanjut Inazuma dengan mengeluarkan semua kekecewaan dirinya tentang tertutupnya Naruto. "Aku sedih melihat anak itu, sangat terlihat jika anak itu mempunyai dendam yang sangat besar kepada orang tuanya." Lanjut Inazuma menjelaskan seberapa bencinya Naruto kepada Minato dan Kushina.
Mei teringat, ya Naruto memiliki masa lalu yang sangat kelam bisa dibilang seperti itu. Anak seusianya tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya. Seberapa hancur perasaan nya waktu itu, melihat Naruto kecil tumbuh tanpa dengan rasa cinta dari orang tua nya. Seberapa sedih dia waktu itu, seberapa cemburu melihat orang lain yang memiliki kehangatan dengan kedua orang tuanya.
Sementara Naruto hidup dengan dirinya sendiri. Meski begitu dia tumbuh menjadi Shinobi Konoha yang sangat baik. Berkembang sangat pesat dengan caranya sendiri, anak berbakat itu tumbuh menjadi anak yang punya rasa dendam kepada orang tuanya sendiri.
Ia tidak munafik, itu murni kesalahan Minato dan Kushina. Ya dirinya juga mengetahui jika anak dari Minato dan Kushina bukan hanya Naruto, ada lagi seorang anak dari mereka berdua. Anak normal sama seperti Naruto, tetapi ada yang berbeda. Anak itu mempunyai sesuatu yang sangat kuat tersegel di tubuh kecilnya hingga sekarang.
Kushira harus menanggung sebuah beban menjadi Jinchuriki sejak ia terlahir bersama kakak kembarnya. Tapi terbalik dengan kakak kembarnya, Kushira tumbuh dengan penuh kasih sayang dan cinta dari orang tuanya. Sangat berbanding terbalik dengan Naruto.
Kushira juga sama berlatih seperti kakaknya, tetapi pertumbuhannya tidak secepat kakaknya. Dia seperti ninja pada umumnya. Tidak ada yang spesial dari yang ia tahu tentang Jinchuriki Kyubi itu. Dia hanya gadis biasa yang mempunyai semangat yang sangat tinggi.
Hingga ia bertemu dengan Kushira beberapa hari yang lalu dengan Namikaze Kushira dan ternyata anak itu sudah berkembang sangat pesat. Terbukti ia berhasil menyelamatkan Kazekage.
"Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar penderitaan Naruto." Ucapan Inazuma membuyarkan ingatan yang ia tahu tentang masa lalu Naruto.
"Kau tentunya tau seberapa pengorbanan Naruto agar bisa dilihat oleh Minato dan Kushina." Tanya Inazuma yang membuat mata Mei bergerak ke kanan, membuang penglihatan darinya.
Mei tentu tau apa itu kesepian, bertahun-tahun lamanya dirinya tidak punya seorang yang menjadikannya rumah. Tentu dia tau apa itu rasa sakit, kesepian dan penderitaan tidak punya orang yang akan mengobati lukamu ketika dirinya terjatuh dan terluka.
"Aku ingin membantunya Mei." Ucap Inazuma sambil memegang pipi Mei.
"Membantu nya? Apa maksudmu dengan menangkap Jinchuriki?" Tanya Mei serius.
Tangan Inazuma bergerak menuju rambut Mei. Melihat rambut merah itu dan merapih kan rambut merah itu di balik kuping Mei. "Baiklah." Inazuma menghela nafas. "Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengumpulkan bijuu atau mencari Jinchuriki yang masih berkeliaran." Tangan Inazuma bergerak lagi, tapi kali ini menjauhi wajah Mei.
"Lalu kenapa kau tidak keluar dari Akatsuki?" Tanya Mei.
Inazuma menghela nafas nya lagi, lalu menatap mata Mei. "Suatu saat, tidak untuk sekarang." Ucapnya sambil membuat senyum kecil.
Mendengar itu ada sebuah rasa senang didalam diri Mei. Tapi rasa senang itu hanya sedikit, ada juga rasa sedih didalam diri Mei. Kenapa tidak sekarang juga dirinya keluar dari Akatsuki.
Mungkin Inazuma di Akatsuki hanya ingin mengawasi Naruto. Agar tidak melakukan perbuatan yang lebih berbahaya kembali. Mei yang menatap Inazuma tersenyum memajukan kembali wajahnya. Membuat bibir Mei bertemu lagi dan saling mengecap rasa dari bibir.
Ciuman wanita itu hanya sebentar, Inazuma menarik ke belakang kepala merah Mei, membuat ciuman itu terlepas. Dengan mulut yang sedikit terbuka Mei dan nafas yang terengah-engah, ingin kembali mencium bibir pria itu lagi.
"Aku harus pergi." Ujar Inazuma kepada Mei dengan memegang dagu sang Mizukage.
Lagi-lagi Mei mendengar kata-kata itu. Ia sangat sedih mendengar itu. "Kenapa harus pergi?" Balas Mei dengan nada sedih.
Inazuma tersenyum dan memajukan wajahnya, mengecup kening Mei Terumi. "Aku akan kembali padamu." Ucapnya di depan dahi Mei.
Mei sendiri merasakan nafas pria itu keningnya. Dan berusaha memeluk pria itu lebih kencang. Tapi seketika dirinya merasakan kalau dirinya sudah tidak memeluk Inazuma. Pria itu hilang bersama dengan kilatan hitam yang perlahan menghilang. Mata Mei terpejam, merasakan kesedihan tepat setelah pria itu menghilang pergi menggunakan jutsu terleportasi nya.
Flashback End.
Tatapan Mei terlihat kosong dan mata nya berkaca-kaca. Dirinya sedih kembali mengingat kejadian itu, kejadian dimana Inazuma pergi dan berjanji kepadanya akan kembali untuk dirinya.
Entah dimana sekarang pria itu, apakah ia sekarang bersama Naruto. Atau bahkan dia akan muncul untuk acara pertemuan besok pagi. Mengingat kembali kalau Inazuma perlu tau apa yang mereka akan bicarakan besok hari.
"TOK!TOK!TOK!!.."
Namun ia mendengar ada ketukan di pintu hotelnya. Siapa yang berani datang kepada dirinya disaat santai seperti ini.
"Maaf Mizukage-sama, ada tamu untuk anda" Ucap seseorang dari balik pintu hotel nya.
Dan Mei kenal dengan suara itu. Itu adalah suara dari tangan kanannya, Ao. Segera ia bergerak mengambil jubah handuk mandinya yang berwarna biru dan memakainya. Setelah jubah handuk terbalut di tubuhnya ia mengikat tali jubah handuk yang berada di sekitar perut nya dan setelah selesai ia bergerak menuju arah pintu.
Sebelum memegang kenop pintu ia melihat bagian bawahnya, hanya bagian bawah dari lututnya yang terlihat dan jubah handuk mandinya pun sudah rapih, tidak ada yang membuat keindahan tubuhnya bisa dilihat lebih dari ini.
Tangan mulus Mei memegang kenop pintu dan membukanya. Mata Mei menatap pria dengan mata kanan yang tertutup oleh penutup mata. Dan ia merasakan chakra yang kuat berada di dekat Ao si tangan kanannya.
"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, Mizukage-sama." Suara itu, ia kenal suara itu. "Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda." Lanjut pria itu.
Mei sendiri tidak bisa mengekspresikan perasaan ini. Ada rasa canggung, senang, aneh, dan heran. Kenapa pria itu datang kepadanya. Untuk apa pria ini menemuinya.
"Tak apa, silahkan masuk Minato-san." Ucap Mei kepada pria berambut kuning yang mempunyai nama Minato itu.
Di dalam sebuah ruangan kamar yang tidak terlalu besar, terlihat seorang pria berdiri. Pria itu menatap sebuah bingkai foto yang sangat tidak asing baginya. Ya meski sudah sangat lama tidak melihat foto ini, dirinya dahulu sering melihat foto ini. Di dalam foto itu ada 4 orang yang terdiri dari satu gadis dan tiga orang laki-laki.
Satu laki-laki berumur 14 tahun yang mengenakan semacam kacamata renang berambut hitam menarik ujung bibirnya membuat sebuah senyum kecil di bibirnya sambil menggigit sebuah lidi. Tidak lupa di juga ada lambang Konoha terikat di dahinya. Ia kenal laki-laki itu.
Lalu disamping laki-laki yang menggunakan semacam kacamata renang ada seorang gadis yang tersenyum lebar dan kedua tangannya berada dalam pose V—peace. Gadis itu berambut hitam pendek sebahu, wanita itu tampak cantik. Dengan dua garis biru di pipi gadis itu dan juga terikat sebuah lambang desa Konoha di dahi gadis itu. Ia tidak pernah bertemu dengan gadis itu. Ia hanya tau nama gadis itu, Nohara Rin.
Lalu disebelah Rin ada seorang yang ia kenal kali ini, di foto itu terlihat laki-laki bermasker hitam. Dan di mata kirinya belum luka dan belum ada Sharingan tertanam disana. Dengan rambut abu-abu melawan gravitasi dan ada rambut yang sengaja ia biarkan tertekan dengan ikat kepala berlambang konoha itu. Membuat rambut abu-abu itu berada diantara kedua mata laki-laki itu.
Sedikit tersenyum mengingat masa lalu. Karena ia sendiri pernah, bahkan sering berbicara dengan pria itu. Dan mata biru itu bergerak ke arah pria yang tersenyum dengan menutup kedua matanya. Ia tentu sangat mengenal pria itu, ya sangat mengenal pria berambut kuning itu. Tangan kanan pria itu bergerak, memegang bingkai foto kecil itu dan menatapnya lekat. Memfokuskan pandangannya pada pria berambut kuning yang tersenyum itu.
Pria yang berdiri sambil memegang sebuah bingkai foto itu memakai jaket hitam dengan tudung jaket yang ia lekatkan di kepalanya, menyembunyikan sesuatu yang sangat mirip dengan pria yang tengah ia lihat itu. Pria itu juga mengenakan celana cargo hitam panjang di padukan dengan sepatu boots yang dikenakannya.
Mata biru itu menatap pria berambut kuning itu sambil mengeraskan rahangnya, ia terlihat kesal. Raut wajahnya terlihat mulai kekesalan. Dengan terus menatap wajah pria berambut kuning itu. Dirinya juga mengeraskan genggaman tangannya pada bingkai foto sebuah tim itu. Jari-jari tangan kanannya semakin erat, mencengkeram bingkai itu.
Dan juga tangan kirinya yang berada di samping kiri tubuhnya juga terkepal erat. Mengisyaratkan emosi yang sangat besar. Rasa kesal itu tidak ia biarkan lama, terbukti ia menghela nafas nya. Tapi tidak melepaskan pandangannya pada pria berambut kuning itu.
Di ruangan kamar ini, tertata dengan rapih, mulai dari kasur yang sprei nya terlihat sangat rapih, dan bantal-bantal di kasur itu juga masih dalam posisi yang tertata. Dengan ukuran kasur yang besar itu tampaknya muat untuk tiga sampai empat orang tidur di kasur yang terlihat sangat nyaman itu.
Ruangan itu nampak sedikit gelap, hanya bagian kasur sebelah kanan yang mendapatkan cahaya dari lampu yang berada di samping kasur itu. Selain itu ruangan ini gelap. Dan dengan tenggelamnya matahari membuat keadaan diluar ikut membantu gelapnya kamar ini.
Sementara pria itu sudah berdiri sambil memegang bingkai foto itu tanpa menggerakkan kakinya. Sedari tadi sudah berdiri di tempat yang sama dan melihat benda yang sama. Hingga akhirnya ia merasakan ada chakra yang ia kenal dan mendengarkan juga mendengarkan sebuah suara jutsu teleportasi. Ia tahu orang itu.
Orang itu muncul dari lantai ruangan mulai dari kepalanya hingga seluruh tubuhnya keluar tanpa merusak lantai kamar ruangan itu. Pria itu menggunakan sebuah topeng spiral berwarna jingga dengan lubang pada mata kanan pria itu. Lubang pada topeng itu menampakkan sebuah mata yang sangat jelas kalau itu adalah Sharingan.
Pria itu berpakaian dengan kaos hitam lengan panjang menggunakan sarung tangan, dan celana panjang hitam dan sepatu yang semuanya berwarna hitam serupa. Pada bahu pria itu terlihat ada sebuah besi yang sepertinya untuk melindungi dari hantaman benda tajam maupun tumpul, begitu juga bagian kedua lengannya terdapat juga kedua besi di masing-masing lengannya. Pria itu mengambil posisi santai sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Rambut hitam pendek itu berdiri melawan gravitasi.
"Lama tidak bertemu." Ujar pria yang memegang bingkai foto sedari tadi itu.
Pria itu masih dengan posisi yang sama diam tidak bergerak mendengar perkataan itu. Kepala pria bertopeng itu bergerak ke arah kanan, menghadap kaca jendela yang menampilkan suasana di luar, terlihat dari gelapnya langit dibantu dengan penerangan dari lampu rumah penduduk yang menyala membuat desa ini menjadi terang.
Tatapan pria bertopeng itu masih dengan menatap salah satu yang menjadi salah satu simbol desa itu, itu adalah patung para pemimpin dari zaman ke zaman di desa ini. Terlihat kalau di pahatan berbentuk wajah itu terdapat lima pahatan wajah. Dan pahatan yang terakhir adalah pahatan seorang wanita. Yang artinya pemimpin dari desa ini sekarang di pimpin oleh seorang wanita.
Namun ia kenal betul wajah siapa yang berada di samping wanita itu. Tentu ia tahu dan ingat betul siapa itu. Orang itu pernah ia hormati dan ia kagumi, bahkan ia pernah bertarung dengannya. Dan dalam pertarungan itu, dirinya kalah melawan sang Yondaime Hokage yang terkenal akan kecepatan dari kilat kuning itu. Tapi meskipun dirinya kalah, ia tetap sukses melaksanakan misinya. Misinya adalah, melepaskan Kyubi.
Tapi seharusnya sang Jinchuriki ekor sembilan itu—yang merupakan istri dari Yondaime itu mati. Tapi kenapa sampai sekarang ia masih hidup. Itu sebenarnya sedikit mengganggu baginya, tapi tak masalah. Dirinya mempunyai sebuah alat yang akan membunuh keduanya, sang Yondaime dan mantan Jinchuriki dari musang ekor sembilan itu. Pria itu tersenyum dibalik topeng spiral nya memikirkan rencana itu. Lalu ia tentu saja ingat untuk apa tujuan dia menemui dan mendatangi pria ini.
"Ya, sejak terakhir kali kita bertemu." Ujar pria itu lalu memutar kepalanya menghadap pria yang masih menatap bingkai foto yang terdapat dirinya dalam foto itu.
Pria itu berjalan selangkah, dua langkah, tiga langkah dan langkah keempat membuatnya dapat melihat bingkai foto yang terdapat gambar dari dirinya. Mata ber tomoe tiga di mata kanannya menatap gadis di foto itu. Sesaat ia merasakan kesedihan dan rasa sakit. Mata merah itu tertutup sesaat, pria bertopeng itu menghela nafas nya, berusaha membuang kenangan itu, dirinya akan membuat dunia yang jauh lebih baik dari yang sekarang ini.
"Kau membuat masalah yang serius, Naruto." Ujar pria bertopeng itu menyebut nama pria yang sedari tadi masih memegang bingkai foto.
"Kau tentu tahu, besok akan diadakan rapat para Kage." Lanjutnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Dan itu semua berkat kebodohan dirimu." Ucap pria itu lalu menatap pria yang bernama Naruto itu.
Sementara pria yang bernama Naruto itu menggerakkan tangannya meletakkan kembali bingkai foto itu, menghela nafas nya.
Namun dengan gerakan yang sangat cepat Naruto mengarah kepalan tangan kanannya ke area wajah pria bertopeng itu. Naruto mengarah tinju yang sangat cepat itu ke pria bertopeng itu. Namun kepala tangan Naruto meski sudah tepat berada di bagian topeng pria itu, tapi kepalan tangan Naruto menembus kepala pria bertopeng itu.
Naruto yang sudah tahu pasti ia tidak bisa memukul pria itu tersenyum kecil. Lalu menarik kembali tangannya. Sementara pria bertopeng itu hanya diam sambil berposisi santai dengan kedua tangan di lipat menyilang di dadanya.
Sambil tersenyum Naruto memasukan tangan kanannya ke dalam saku celananya. "Kau tidak pernah mengeraskan tubuhmu ya, Obito." Ujar Naruto mengucapkan nama pria bertopeng itu.
Pria bertopeng yang mendengar namanya disebut oleh Naruto menggerakkan kaki kirinya. Kaki kiri pria bertopeng bernama Obito itu, bergerak mengarahkannya menuju kepala bagian kiri dari pria bernama Naruto itu. Tendangan pria bertopeng itu sangat keras, namun sesaat sebelum kaki pria bertopeng itu menghantam kepala Naruto, target tendangan nya pun menghilang. Kaki kiri pria bertopeng itu hanya menendang udara didalam ruangan kamar ini.
Sementara Naruto menghilang bersama dengan kilatan merah dan muncul seketika di belakang pria bertopeng yang menendang nya barusan. Pergerakan keduanya sangat cepat, namun Naruto dalam hal ini lebih cepat dibanding pria bertopeng bernama Obito itu.
Sementara Naruto dengan santai masih dalam posisi tangan kanannya yang masih di dalam saku celananya, pindah dengan jutsu teleportasi miliknya, jutsu itu adalah andalan dari sang ayah. Tapi Naruto sudah memodifikasi dan meningkatkan kecepatan dan ketepatan pada jutsu bernama Hiraishin itu. Dengan kilatan yang sekarang sudah berwarna merah, sudah sangat maju dibandingkan dengan yang ia baca dari gulungan milik ayahnya.
Dengan Hiraishin miliknya, Naruto mampu pergi kemanapun ia mau tanpa segel jutsu, sangat besar kemajuan jutsu yang ia kembangkan ini. Ia hanya butuh memikirkan kemana ia pergi dan seketika ia akan berada di tempat yang ia inginkan.
"Kau sepertinya masih mengandalkan kecepatan dari jutsu Yondaime ya, Naruto." Ujar pria bertopeng bernama Obito itu. Perlu diingat bahwa Obito adalah murid dari Yondaime Hokage yang juga menjadi ayah dari Naruto.
Naruto tidak diajarkan untuk selalu bergantung kepada kecepatan jutsu ini. Ya dirinya bertahun-tahun yang lalu selalu mengandalkan kecepatan dari jutsu ini. Dirinya harus selalu berimprovisasi dalam hal bertarung, dirinya sudah baik dalam Taijutsu maupun Ninjutsu, dengan mudah ia melakukan jutsu dengan kelas yang tinggi. Tapi dirinya sudah belajar, akan lebih efektif jika ia tidak mengeluarkan banyak chakra hanya untuk pamer atau menunjukkan jutsu kelas A bahkan S sekalipun. Dirinya lebih baik menggunakan Hiraishin dan menebas leher musuhnya itu adalah yang paling efektif, menurutnya.
"Apakah kau punya kenangan di kamar ini, Naruto?" Tanya pria bertopeng yang membelakangi Naruto.
Kamar ini adalah milik Minato dan Kushina. Dulu dia sering masuk keruangan ini, hanya untuk mencuri atau mencari beberapa gulungan jutsu untuk ia pelajari. Ia suka sekali masuk dengan cara diam-diam ke dalam kamar ini, dan tentunya tanpa diketahui oleh Minato. Dirinya dengan mudah mencuri apa yang ia inginkan di dalam kamar ini. Karena Minato sendiri juga menyusun beberapa gulungan jutsu di dalam lemari pakaiannya. Jadi Naruto hanya perlu melihat apa ada yang menarik dari gulungan itu dan ia akan mencuri gulungan itu dan mempelajarinya.
Itu adalah suatu kenangan yang membekas di dalam ingatan nya. "Ya, start awal mempelajari Hiraishin dimulai dari kamar ini." Jelas Naruto mengatakan kalau dirinya memulai untuk mempelajari Hiraishin dari mencuri gulungan milik Minato, atau bisa dibilang ayahnya. Tapi terlihat kalau Naruto terdiam dan juga tatapan matanya kosong, pria itu merenung.
Wajahnya yang sedikit terkena sinar lampu itu memperlihatkan juga ada raut sedih di wajah pria bermata biru langit itu. Hingga akhirnya sesaat kemudian Naruto menutup kedua matanya erat, berusaha melenyapkan kenangan itu. Berusaha mengenyahkan rasa sedih yang mengalir keluar dari hatinya yang terdalam. Berusaha untuk menutup rasa sedih itu.
Namun Naruto merasakan sakit di bagian perutnya, mata Naruto terbuka melihat pria bertopeng itu menendangnya. Naruto seketika terpental ke belakang akibat tendangan pria bertopeng itu.
'Brakk'
Suara tabrakan punggung Naruto yang menghantam lemari kayu di belakangnya. Punggung Naruto merasakan sakit ketika punggungnya menghantam lemari kayu yang ia tahu adalah milik Minato dan Kushina. Mulut Naruto sedikit terbuka menampakkan giginya yang saling menggigit, ia kesal. Tangan kanan Naruto bergerak memegang bagian lemari dan berusaha berdiri dengan normal.
Kini sudah terlihat tudung jaket milik Naruto sudah tak lagi menutup rambut kuningnya. Rambut kuning itu sudah terjulur panjang bahkan sudah melewati pundak kokohnya. Naruto berdiri dan memegang lehernya, merasakan puncak rasa sakit berada di bagian leher belakang pria berambut kuning itu.
"Ada apa denganmu? Dengan tendangan seperti itu kau tidak bisa menghindarinya?" Tanya pria bertopeng itu.
Tangan kanan Naruto kini bergerak menuju pundaknya, rasa sakit juga terasa dibagian ini. Sambil memijat pundak nya, ia juga membuka kedua matanya. Mata biru Naruto memicing tajam ke pria bertopeng itu. Namun dengan cepat menggerakkan tangan kanannya yang awalnya memijat bagian pundaknya, mengeluarkan besi hitam tajam lalu menembakkan besi hitam itu ke arah pria bertopeng di hadapannya itu.
Dengan sangat cepat besi hitam itu melesat terlontar keluar dari telapak tangan Naruto. Dengan kecepatan yang tinggi seketika besi hitam tajam itu sudah menembus bagian wajah yang dibalutkan oleh topeng spiral itu. Dan besi hitam itu dengan mudahnya seperti tidak ada yang menghalangi melewati begitu saja bagian kepala pria bertopeng itu.
'Crangg— Bruuukk'
Suara yang menjadi pengisi keheningan setelah besi itu melewati Obito begitu saja. Naruto yang sudah menduga bahwa Obito tidak akan mengeraskan tubuhnya, kecuali jika Obito yang menyerangnya terlebih dahulu. Lalu mata Naruto dengan samar menatap arah bunyi dan letaknya adalah di belakang Obito.
Mata biru Naruto menatap sebuah bingkai foto yang besar. Bingkai foto itu tampak samar karena minimnya pencahayaan di ruang kamar ini. Tapi ia tahu kalau itu adalah foto keluarganya.
Difoto itu ada dirinya yang masih bayi terbalut di gendongan oleh Ibunya, Kushina yang terlihat tersenyum dengan lebarnya, dirinya yang pada saat itu masih bayi tidak bisa mengingat kejadian itu. Lalu ditengah tatapannya di wajah Kushina ia melihat ada tangan yang merangkul pundak Kushina, tangan itu hanya terlihat bagian pergelangannya saja, setelah itu bagian tangan pria itu dibalutkan oleh baju lengan panjang biru. Mata Naruto bergerak menatap pria yang merangkul Kushina.
Pria itu tersenyum dengan menampakkan giginya yang rapih dan rambut kuning pria itu terlihat seperti biasanya, berdiri dengan melawan gravitasi. Pria itu mengenakan pakaian yang menandakan bahwa dia adalah pemimpin sebuah desa. Terlihat kalau pria itu juga memakai jubah kebanggaan nya. Ya meski tidak terlihat tulisannya, tapi Naruto tau kalau itu adalah jubah kebanggaan Minato.
Minato juga sama dengan sang Istri, Kushina. Dia juga menggendong bayi yang dengan samar sedang tertawa menatap ke arah kamera. Tapi berbeda dengan dirinya, bayi berambut merah itu digendong dengan kedua tangan Minato.
Dan itu adalah sebuah foto berukuran besar yang menampilkan sebuah potret keluarga bahagia, ya seharusnya itu menjadi kenyataan. Keluarga bahagia. Itulah keinginan hidup Naruto.
"Sepertinya kau sedih melihat foto di belakang ku ini, Naruto." Suara pria itu keluar mengisi indera pendengaran Naruto.
Naruto tersenyum mendengar kata-kata dari pria itu. Tersenyum, karena yang dikatakan pria itu adalah kenyataan. Naruto larut dalam kesedihan karena melihat foto itu. Hanya dengan melihat dan fokus pada foto yang terpajang itu, ia bisa mengalami rasa sedih pada masa lalunya yang sangat busuk itu.
Sedikit menghembuskan nafas melalui mulutnya. "Apa maumu, Obito?" Sekarang tidak lagi raut sedih di wajah Naruto, yang menatap pria bertopeng bernama Obito.
"Apa tujuanmu sebenarnya dengan mengambil barang tidak berguna milik Iwa dan Kumo?" Dengan nada meninggi pria bertopeng itu bertanya kepada Naruto.
Naruto membuka mulutnya, membuat sebuah senyuman lebar di wajahnya. "Aku punya suatu tujuan, Obito." Ucapnya.
"Apa itu?" Ucap Obito.
Naruto tersenyum sambil menutup kedua matanya. "Aku punya sebuah rencana." Ucapnya singkat. "Dan tentunya kau tidak perlu tahu apa rencana itu." Ucap Naruto.
Apa yang pria dengan durian lancip itu sembunyikan. Apa yang ia rencanakan sebenarnya. Dengan senjata bodoh itu tidak akan dengan cepat mengumpulkan semua biju dengan mudah. Sepertinya ada sesuatu yang Naruto sembunyikan darinya.
Namun sesaat Naruto melesat bergerak dengan sangat cepat berusaha lagi untuk meninju wajah pria bertopeng itu. Berhasil memukul wajah pria bertopeng itu tapi lagi-lagi tangannya menembus wajahnya. Dengan badan Naruto yang ikut menembus badan pria itu, dengan cepat Naruto memutar badannya, dan menendang bagian pinggang kiri pria bertopeng itu. Dan lagi-lagi hasilnya badan pria itu tidak bisa disentuh.
'Pooffhh'
Seketika ada sebuah Bunshin yang wujudnya sangat mirip dengan Naruto berada di samping pria bertopeng itu. Dengan cepat ia memutar badannya dan menendang bagian dada pria bertopeng itu. Dan hasilnya juga sama, tendangan pria itu menembus bagian dada pria itu. Namun tubuh asli Naruto dengan sigap dan cepat bergerak memukul keras bagian kaki Bunshin miliknya yang menembus dada pria bertopeng alias Obito itu.
Kepalan tangan keras milik Naruto memukul betis bunshin miliknya dan terus bergerak memukul dada Obito. Dan berhasil, dada Obito terkena pukulan keras milik Naruto.
'Poofhh'
Namun sesaat bunshin Naruto langsung menghilang begitu terkena pukulan dari wujud aslinya. Tapi pukulan Naruto berhasil mengenai dada pria bertopeng itu.
Dibalik topeng nya, Obito mengeraskan rahangnya, merasakan pukulan pria pirang itu berhasil mengenai tubuhnya. Merasakan rasa sakit di dadanya berkat suksesnya Naruto mengenainya.
Obito terpental tidak begitu jauh, hanya seketika empat sampai lima langkah dari tempat awalnya berdiri berkat pukulan keras Naruto.
Lalu Obito menggerakan tangan kirinya. Dia menggerakkan tangan kirinya untuk membersihkan daerah tempat Naruto memukulnya di daerah dada nya. Gerakan itu tampak meremehkan.
Sementara Naruto tersenyum melihat dirinya berhasil lagi menghajar pria bertopeng itu.
"Lumayan, Naruto." Ucap Obito lalu memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Dan kali ini bukan kebetulan aku bisa memukul mu, Obito." Naruto makin melebarkan senyumnya.
Obito tidak bereaksi mendengar ucapan pria pirang di hadapannya itu. Hanya melihat wajah Naruto yang tersenyum dan memperhatikan mata biru pria itu. Kali ini pria pirang itu bisa memukulnya tanpa Sharingan, nampaknya Naruto sudah tahu bagaimana cara untuk menyentuhnya.
Namun, keduanya mendengar langkah kaki. Langkah kaki itu terdengar cepat. Itu langkah seseorang yang sedang berlari. Suara itu semakin dekat.
"Naruto, aku minta kau tidak mengacau lagi." Lalu seketika muncul sebuah spiral yang menyedot perlahan pria bertopeng itu. "Berhati-hatilah, Naruto." Ujar pria itu lalu menghilang terhisap masuk kedalam pusaran spiral yang pria bertopeng itu buat.
Naruto hanya diam memperhatikan pria itu sudah lenyap, pergi meninggalkan dirinya di dalam kamar kedua orangtuanya.
Dan Naruto juga merasakan sebuah chakra yang ia kenal betul semakin mendekat. Ia tahu betul siapa yang berlari menuju kamar ini. Karena kamar ini berada di lantai dua dari rumah ini.
Suara itu semakin terdengar, hingga langkahnya perlahan berhenti. Dan terlihat ada bayangan yang lolos di antara celah di bawah pintu masuk ke kamar ini. Suara kenop pintu terdengar di telinga nya. Perlahan juga suara dari engsel pintu juga mulai terdengar. Dan juga cahaya dari luar kamar juga ikut menyinari gelapnya kamar ini.
Naruto tak bergerak, dia masih menatap tempat Obito berdiri tadi, yaitu di belakang lemari yang rusak akibat dirinya yang tertendang oleh pria bernama Obito itu. Menatap lemari yang rusak itu. Lalu ia merasakan cahaya menyinari kedua mata birunya.
"Kak Naruto!"
Suara itu, ia tahu betul suara itu.
Lagi ia mendengar suara langkah kaki terdengar di telinga nya.
Kepala pirang Naruto bergerak melihat gadis berambut merah bermata biru sama sepertinya, wajah yang sangat-sangat mirip dengan dirinya, garis tiga di masing-masing pipi gadis itu terlihat tersenyum sambil mengeluarkan tetesan air mata.
Tanpa peduli apa-apa, gadis berambut merah itu segera menubruk tubuh tegap pria berambut kuning di hadapannya itu. Ia sangat ingin memeluk pria itu.
Gadis berambut merah itu sudah dekat sekali, dan melebarkan kedua tangannya, bersiap untuk memeluk pria itu. Jarak mereka sudah sangat dekat. Dan dengan cepat, gadis merah itu berhasil memeluk tubuh pria kuning itu.
"Aku sangat merindukanmu kak!" Suara itu sangat keras, dan dicampur dengan tangisan.
Gadis merah itu memeluk pria berambut kuning itu erat, kepala merahnya ia biarkan berada di dada orang yang ia panggil kakak itu. Gadis berambut merah itu terisak, sambil terus memeluk tubuh kakaknya.
Tangan Naruto susah untuk bergerak, karena berada dalam pelukan dari gadis yang memanggil dirinya kakak.
Naruto dalam kondisi yang ia tak inginkan. Ia menutup matanya. Membiarkan kali ini saja kesedihan mengalir di tubuhnya. Tubuh Naruto yang merasakan kalau tubuh gadis ini bergetar hebat menggerakkan kepalanya, menjatuhkan dagunya di puncak kepala merah gadis yang memanggil dirinya dengan kakak.
"A..aku s..sangat merindukanmu Naruto-nii." Ucap gadis itu sambil menangis tersedu-sedu. Suara wanita itu terisak.
Membiarkan air matanya tumpah, membasahi Hoodie hitam kakaknya. Membuat sebuah area yang menjadi basah di dada Naruto. Pelukan gadis itu makin erat, tidak peduli kalau seberapa kuat ia memeluk pria yang menjadi kakak kembarnya itu.
Disela hidungnya yang mulai meleleh lendir, dia bisa sedikit mencium aroma tubuh dari pria yang ia peluk sangat erat itu.
Apalagi dengan merasakan kepalanya juga menjadi tumpuan dari dagu kakaknya membuat gadis berambut merah itu makin nyaman dan semakin senang. Senang karena sudah sangat lama dirinya tidak berjumpa dengan seorang yang begitu ia sayangi. Ia sangat-sangat peduli dengan pria ini. Sudah dari kecil selalu bersama, hingga akhirnya kakaknya pergi dari rumah, dan dinyatakan sebagai buronan. Adik mana yang tidak hancur mendengar hal itu.
Sekarang ini ia tidak mau memikirkan hal lain. Dirinya ingin kakaknya. Dirinya ingin kakaknya kembali pulang dan hidup bahagia bersama dirinya. Isakan gadis berambut merah itu makin keras terdengar. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan kakaknya disini, disaat ini, didalam rumah ini, yang juga adalah rumah kakaknya.
Awalnya ia tidak terlalu peduli dengan suara berisik yang berasal dari kamar orang tuanya. Karena ia pikir ibunya ada di dalam kamar. Dan seketika dirinya ingat dan sadar, ibunya sedang bersama Lucy pergi menemui Kakaknya.
Dirinya yang sudah berhasil membuat adik kecilnya tertidur, segera memberikan selimut kepada tubuh kecil adiknya dan mematikan lampu kamar milik adiknya. Lalu indra pendengaran miliknya mendengar suara dari lantai dua makin berisik, dan itu adalah suara kayu yang hancur.
Gadis berambut merah itu segera bergerak menuju lantai dua dan membuka pintu kamar orang tuanya. Dan dirinya terkejut bukan main melihat orang yang sangat ia temui sekarang berada di dalam kamar ini.
"Kau masih menganggap diriku kakak, Kushira?"
Suara itu membuat gadis yang dipanggil Kushira menggerakkan kepalanya. Membiarkan Naruto yang bersandar di puncak kepalanya juga bergerak.
"Selamanya a..aku akan menganggap mu kakakku! Karena a...aku adalah adikmu, Naruto-nii." Suara Kushira sambil menangis.
"Aku sangat m..merindukanmu kak!" Lagi Kushira mengucapkan itu, berharap Naruto merasakan apa yang dirinya rasakan.
Kembali ia mendekatkan wajahnya ke dada bidang kakaknya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada kakaknya lagi. Membuat Hoodie hitam Naruto makin basah akibat air mata dan lendir yang keluar dari hidungnya.
Naruto sendiri tersenyum mendengar itu, kepalanya lagi-lagi dengan sendirinya bergerak bersandar di puncak kepala merah adiknya. Dirinya juga mulai menggerakkan kedua tangannya, perlahan bergerak mengalungkan tangannya di badan adiknya. Sama seperti yang adiknya lakukan padanya. Naruto memeluk adiknya.
Merasakan kalau dirinya juga dipeluk oleh kakaknya, membuat Kushira makin deras mengeluarkan air matanya. Matanya yang mulai sembab terus menangis.
Jari-jari tangan kanan Kushira mencengkeram erat bagian punggung Hoodie kakaknya, dirinya sangat erat sekarang memeluk kakaknya. Tidak peduli kakaknya merasa tidak nyaman karena eratnya pelukan yang ia berikan.
"Begitu ya Kushira." Ucap Naruto singkat dengan posisi yang sangat nyaman baginya, yaitu menempelkan pipinya pada rambut Kushira yang mengingatkan dirinya dengan aroma shampoo gadis merah ini. "Terima kasih." Ucapnya pelan.
Kushira mendengar ucapan Naruto barusan membuat hatinya senang. Naruto mengucapkan terima kasih kepada dirinya. Yang berarti kakaknya menghargai dirinya yang selama ini terus menanti keberadaan dan kepulangan kakaknya itu.
"Kak, tinggallah disini. Kita bersama-sama lagi, Kaa-chan dan Tou-chan sangat merindukanmu." Ucapnya lirih, mengatakan kebenaran. Karena tidak pernah seharipun ibunya tidak merenungi kebodohan nya di masa lalu.
Sementara Naruto mendengar kata Tou-chan dan Kaa-chan membuka kembali matanya perlahan. Ia seketika ingat dengan masa lalu yang sangat-sangat buruk.
Naruto menggerakkan kepala nya, menggerakkan juga kedua tangannya, melepaskan pelukan pada adik merahnya itu. Lepasnya pelukan Naruto membuat Kushira menengadah menatap wajah tampan kakaknya.
Kushira makin erat mencengkeram Hoodie kakaknya. "Tinggallah disini kak, untuk ku. Aku sangat-sangat bahagia melihatmu kak." Mata biru Kushira penuh dengan air mata yang masih mengalir.
Naruto menatap adiknya menangis seperti itu dihadapannya. Menggerakkan tangan kirinya, menyeka air mata yang mengalir di mata yang sama persis dengan dirinya. Melihat banyak sekali rambut merah yang berada di wajah adiknya yang sekarang ini sudah sangat cantik. Membenahi helaian rambut yang menghalangi wajah adik kecilnya. Membuat Naruto tersenyum melihat Kushira yang semakin besar.
Akhirnya mata Kushira terbuka kembali setelah di seka oleh jari-jari kakaknya. Mata biru shapire itu saling bertatapan. Kushira yang tingginya lebih rendah dibandingkan kakaknya itu terus memperhatikan wajah kakaknya. Sangat-sangat rindu wajah itu.
Lalu ia merasakan tangan Naruto menyentuh pipinya, membuat dirinya merasakan akan sentuhan lembut di pipi kirinya. Menikmati sentuhan tangan kakaknya, hingga mata birunya menatap bibir merah kakaknya. Bibir merah itu terlihat sangat basah. Dan ia menatap bibir itu terbuka, sepertinya Naruto akan berbicara.
"Aku harus pergi, Kushira." Ucap Naruto membuat air mata adiknya makin deras keluar.
"Tidak, aku ingin bersamamu kak!!" Jerit Kushira memberi tahu kalau dirinya ingin bersama kakaknya.
Naruto merasakan dadanya lagi-lagi menjadi tempat adiknya menangis membasahi Hoodie nya. "Ini semua harus berakhir Kushira." Ujar Naruto.
Berakhir? Apa yang harus berakhir. "Tidak kak! Tou-chan dan Kaa-chan sangat-sangat menantikan kehadiran dirimu, mereka sangat menyayangi Naruto-nii" Lagi, Kushira menatap wajah Naruto dengan sangat dekat.
"Terima kasih, Kushira."
Kushira menatap wajah kakaknya lalu ia memperhatikan mata biru Naruto perlahan berubah menjadi merah, dan itu adalah Sharingan.
Kushira sesaat kemudian tidak sadar dan kepalanya sangat pusing, penglihatan nya kabur. Dirinya yang masih mencengkeram Hoodie Naruto perlahan melepaskan cengkraman dan pelukannya. Dan dirinya sudah sangat pusing sesaat setelah melihat mata yang berubah menjadi Sharingan itu.
Dirinya berusaha melawan rasa pusing ini, namun dirinya tidak bisa. Semakin dilawan, semakin berat kepalanya. Hingga Kushira bergerak mundur perlahan. Perlahan kakinya pun lemas, membuat tidak bisa berdiri dengan normal, kedua kaki Kushira sangat lemas.
Dan akhirnya kesadaran Kushira sudah hampir hilang, dirinya sudah tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Kushira dengan mata yang sembab perlahan terjatuh ke depan. Lututnya sudah menyentuh lantai sangking lemasnya dirinya. Mulut Kushira terbuka, dirinya sama sekali tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Hingga akhirnya badan Kushira perlahan jatuh kedepan.
Naruto dengan sigap memegang bagian bawah payudara Kushira, menahan berat dari adiknya. Membuat badan adiknya tidak menyentuh lantai ruangan. Tangan kanan Naruto bergerak mengangkat tubuh adiknya, dibantu dengan tangan kirinya yang memegang paha adiknya. Mengangkat tubuh adiknya yang kini sudah bertambah bobot berat badannya. Dan Naruto berdiri, menggendong adiknya.
Memutar badannya, Naruto bergerak menuju kasur yang sangat terlihat sangat nyaman itu. Perlahan Naruto menurunkan tubuh adiknya keatas kasur tersebut. Menurunkan tubuh adiknya dengan keadaan telungkup.
Menempatkan kepala merah Kushira di bagian bawah kasur, dan kaki jenjang adiknya berada diatas bantal. Naruto menarik kedua tangannya, dan dengan perlahan membalikkan badan adiknya dari posisi telungkup ke posisi tidur. Naruto tersenyum melihat wajah adiknya.
Adiknya sudah tumbuh menjadi gadis yang ia yakin banyak yang tertarik dengan penampilan nya yang sekarang. Adiknya sekarang ia akui sudah sangat cantik, dengan badan yang proporsional. Terlihat dari baju putih yang Kushira kenakan terdapat dua bongkah payudara yang pas, tidak terlalu besar dan tidak juga kecil. Kaki putih mulus. Terbalut rok selutut yang sedikit tersingkap ke atas.
Dan ada satu yang menjadi daya tariknya, terdapat di tangan kiri Kushira. Ada sebuah ikat rambut yang dulu ia beli untuk Naomi, sekarang berada ditangan adiknya. Ikat rambut itu yang terbuat dari kain yang dapat melar itu seperti nya sudah sangat kendur. Warnanya biru dengan motif sakura yang mulai memudar menandakan bahwa ikat rambut itu sudah lama usianya.
Lalu Naruto menutup matanya dan menghela nafas nya. "Selamat tinggal Kushira." Naruto kemudian menghilang secara cepat meninggalkan kilatan merah.
-
-
"Tidak usah repot-repot Mizukage-sama, aku kesini hanya untuk bertanya." Ujar pria berambut kuning yang duduk di sofa hitam.
Mata biru Minato menatap punggung wanita yang berbalutkan jubah mandi itu. Wanita itu terlihat berjalan menjauhinya menuju area dapur untuk membuatkan sebuah minuman untuk dirinya.
Wanita itu hanya tersenyum kecil mendengar sebuah penolakan terhadap dirinya yang ingin membuatkan sebuah minuman. Tapi dirinya tidak menanggapi ucapan pria yang duduk di belakangnya itu. Wanita cantik berambut merah itu berjalan semakin mendekat ke arah dapur kamar hotelnya.
Sementara Minato merasa tidak perlu ada layanan makanan ataupun minuman untuk dirinya, karena dirinya hanya ingin bertanya beberapa hal yang sangat ia ketahui. Ada banyak hal yang menjadi pertanyaannya tentang Mizukage yang terlihat sedang membuka pintu lemari itu.
Mei terlihat berjongkok untuk melihat ada apa saja di dalam lemari ini, mata hijaunya meneliti botol-botol. Ada jus jeruk, sebotol bubuk kopi, ada teh hijau, dua botol madu, dan ada sake disana. Nampaknya dirinya ingin meminum lagi beberapa teguk sake untuk malam ini.
Tubuh Mei berdiri, lalu menatap Minato yang sekarang ini juga menatap dirinya. "Kau ingin minum apa Minato-san? Jus jeruk? Teh? Kopi? Atau sedikit sake?" Tanya Mei dengan senyuman.
Minato mendengar berbagai tawaran minuman untuk nya, sedikit tertarik untuk meminum beberapa teguk sake yang ditawarkan Mei. Tapi ia rasa ini bukan waktu yang pas untuk itu. Ia rasa jus jeruk cukup untuk dirinya. Atau segelas kopi, mengingat dirinya belum tidur semalaman tadi.
Sepertinya ia ingin yang menyegarkan tenggorokan nya saja. "Jus jeruk saja Mizukage-sama." Ucap Minato dengan cengirannya.
"Baiklah." Lalu Mei berjongkok kembali mengambil sebuah botol berisi jus jeruk, lalu meletakkannya di atas meja dapur. Lalu Mei bergerak mengambil nampan dan dua buah gelas serta botol berisi jus jeruk dan dengan senyuman Mei mengambil juga botol bertuliskan sake tersebut.
Meletakkan botol dan gelas itu di atas nampan kayu dan mengangkatnya perlahan dengan kedua tangannya. Berjalan perlahan menuju tempat Minato duduk.
Sementara Minato yang melihat Mei sedang berjalan dengan memegang nampan bergerak ke arahnya, memperhatikan apa saja yang ada terdapat di atas nampan itu, dan sepertinya dirinya tadi hanya bilang kalau ingin jus jeruk saja. Tapi kenapa wanita itu membawakan sebotol sake juga? Apa-apaan wanita itu, meski dirinya ingin meminum sake, tapi kenapa wanita itu membawa sake.
Mei yang memperhatikan mata biru Minato yang arahnya ada pada nampan yang ia bawa tahu, kalau Minato heran kenapa dirinya membawa sebotol sake. Ya tentu saja sake ini untuknya, dan kalau dia mau silahkan saja di minum, dirinya juga bisa mengontrol kapan harus stop agar tidak mabuk terlalu parah. Lagi ini hanya sebotol, tidak akan membuat dirinya mabuk. Mei lalu meletakkan nampan yang ia pegang di atas meja kaca di hadapan Minato.
"Terima kasih banyak, Mizukage-sama." Suara terima kasih terdengar di telinga Mei.
Mei hanya tersenyum lalu bergerak menuju kasur, lalu mendudukkan bokong tebalnya diatas kasur miliknya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, hanya dibatasi oleh sebuah meja yang terdapat minuman dan Minato yang duduk di sebrang meja.
"Tak apakan aku duduk disini Minato-san?" Tanya Mei kepada Minato.
Minato diam, dirinya memperhatikan wajah yang ia akui cantik milik Mei, wanita itu sedari tadi hanya mengenakan jubah mandi, dan terlihat juga kalau rambut wanita itu masih sedikit basah. Yang artinya artinya ini baru selesai mandi.
Dirinya harus mengakui kalau wanita ini mempunyai daya tarik yang sangat kuat, pria manapun pasti akan melakukan apapun untuk wanita di hadapan dirinya sekarang ini. Dengan tubuh yang sangat ideal.
"Tentu Mizukage-sama, anda yang mempunyai ruangan ini." Balas Minato dengan nada sopan, dan berusaha membuang pikiran anehnya.
Mei sangat suka dengan siapapun dengan orang yang memanggilnya dengan sopan, apalagi memanggilnya dengan gelarannya sebagai pemimpin desa Kiri.
"Kalau begitu silahkan diminum, Minato-san." Mei mempersembahkan Minato untuk meminum jus yang ia bawa, dan tidak keberatan apabila Minato malah meminum sake itu.
Mei memperhatikan Minato yang tidak menggerakan tangannya, Minato diam dengan mata yang terus memperhatikan dirinya. Ada apa dengan pria itu, apa yang pria itu bicarakan sebenarnya.
"Jadi.." Mei Terumi menggerakkan kedua tangannya, jari masing-masing tangannya ia satukan dan ia letakan di atas paha yang terbalut jubah mandinya. "Apa yang ingin kau tanyakan, Minato-san?" Tanya Mei kepada mantan hokage dihadapannya sekarang ini.
Dengan mata yang sedari tadi masih menatap Mei, Minato akhirnya memejamkan matanya. Dengan perlahan menghembuskan nafas pelan dari sela-sela bibirnya. Membuat dirinya lebih tenang.
Lalu mata biru itu terlihat kembali, kali ini menatap jus jeruk yang masih berada di dalam botol itu. Botol itu terlihat masih tersegel, masih terjaga. Warna kuning dari jus itu sangat mengingatkan dirinya akan anaknya yang sudah sangat berbeda sekarang ini.
Anaknya yang seharusnya tidak ia dan istrinya lakukan seperti dulu, sekarang sudah sangat melewati batas. Ia ingin memperbaiki kesalahannya, ia ingin menebus sikapnya yang tidak memperdulikan anaknya dahulu. Ia ingin menghabiskan waktunya yang sudah mulai menua ini untuk anak-anaknya. Ingin bahagia bersama keluarganya. Tidak ingin lagi berbuat hal bodoh seperti yang Naruto alami. Ia sangat menyesal.
Tapi ia tahu juga Naruto pasti mempunyai rasa sakit hati kepada dirinya dan juga Kushina. Ia bodoh telah mengabaikan Naruto, padahal Naruto sudah berkembang tapi dirinya tidak menganggap Naruto itu ada. Dirinya hanya memperhatikan Kushira.
Tanpa pelatihan dari dirinya, Naruto sudah jauh berkembang dibanding dari kebanyakan Shinobi. Dan membuat anaknya menjadi buronan. Kepala dari anaknya sangat berharga. Dan wanita di hadapan dirinya sekarang ini salah satu orang yang berusaha untuk membunuh anaknya.
Mata biru Minato bergerak menatap wajah Mei. "Kenapa kau mencoba untuk membunuh Naruto?" Tanya Minato membuat raut wajah Mei terlihat berbeda, ada raut terkejut disana.
Mei mendengar pertanyaan itu seketika menahan nafasnya. Dirinya terkejut Minato ternyata tahu kalau dirinya ingin membunuh anaknya itu.
Mei berusaha bersikap normal dan tenang kembali. "Dia seorang kriminal Minato-san, tentu kau tahu kalau anakmu adalah kriminal bukan?" Ujar Mei tersenyum berusaha membuat dirinya lebih tenang lagi.
Minato tak bereaksi mendengar jawaban dari Mei. Hanya dia menatap Mizukage dihadapannya yang mengatakan kalau anaknya adalah seorang kriminal.
"Ya aku tahu soal itu." Lalu Minato membuka suaranya.
Mei menggerakkan tangan kanannya memegang dagunya sendiri dengan jari jempol dan telunjuknya. "Karena dia adalah seorang kriminal, wajar jika aku ingin membunuhnya." Mei tersenyum dan menutup kedua matanya. "No heart feelings." Dengan santai Mei melanjutkan kata-katanya.
Apa Minato barusan tidak salah dengar? Dia mendengar kalau seorang kepala negara ingin turun tangan langsung membunuh seorang kriminal? Ada apa dengannya, sehingga Mei sendiri yang turun tangan langsung untuk membunuh anaknya. Apakah seorang Mizukage seperti Mei mempunyai masalah pribadi dengan Naruto atau ada apa diantara mereka.
"Padahal beberapa hari yang lalu aku hanya memuji betapa hebatnya Naruto dihadapan anakmu." Suara Mei memecahkan isi pikiran Minato. "Tapi aku tidak menyangka kalau anakmu bisa memprediksi kalau aku akan membunuh Naruto." Lanjut Mei mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu bertemu dengan anak dari Minato.
Minato mendengar dengan baik apa yang tadi diucapkan oleh Mei, dan ia tidak salah dengar kalau Mei mengucapkan pujian atas kekuatan yang dimiliki Naruto kepada anaknya? Naruto adalah anaknya. Apa ia tidak salah dengar atau wanita berambut merah itu salah dalam berbicara.
"Maaf, nampaknya kau belum tahu kalau Naruto itu adalah anakku, Mizukage-sama." Minato membuat sebuah klarifikasi atas hal yang mungkin tidak diketahui oleh Mizukage.
Mei tersenyum simpul mendengar ucapan Minato. "Tentu aku tahu, Minato-san." Senyuman Mei membuat giginya terlihat dan nyaris tertawa. "Dengan warna rambut yang sama, dan warna mata biru yang sama itu, tentu aku tahu kalau Naruto adalah putra mu." Ucap Mei sambil tersenyum.
Minato melihat mata hijau mei, dan ia bisa simpulkan kalau wanita ini berkata jujur, jangan-jangan wanita ini bertemu dengan—
"Yang ku maksudkan adalah kembaran dari Naruto.," Ternyata benar dugaan Minato. "..Kushira." Lanjut Mei.
Otak cerdas Minato kembali berkerja. Beberapa hari yang lalu seorang pemimpin negara turun langsung mencari dan memuji Naruto, anaknya. Dan juga bertemu dengan Kushira, yang juga adalah anaknya. Jadi beberapa hari yang lalu, apakah itu berarti sama dengan dirinya yang berangkat menuju Ryumyaku. Hari yang sama dengan dirinya yang bertemu dengan Naruto.
Berarti hari dimana Kushira menjalani misi pertamanya setelah pulang dari latihan bersama dengan gurunya, Jiraiya. Wanita ini bertemu dengan Kushira dan memuji betapa hebatnya Naruto. Itu adalah misi menyelamatkan Kazekage yang tertangkap oleh Akatsuki.
Tapi untuk apa seorang Mizukage pergi sejauh itu, mengingat jarak dari Kirigakure berada jauh dari tempat Akatsuki melakukan penyegelan terhadap monster ekor satu itu. Dirinya tidak diberitahu oleh Kushira ataupun Kakashi tentang masalah mereka yang bertemu dengan Mizukage.
Dan dihari itu juga ia mendapatkan luka yang parah dibagian dadanya. Dan juga mendapatkan satu hal yang masih sangat sulit ia percaya, kakaknya masih hidup. Bahkan muncul dengan mata Sharingan. Sulit sekali bagi dirinya mempercayai hal bahwa kakaknya masih hidup.
Dan apakah Mei berhasil untuk berhadapan dengan Naruto. Mengingat pada hari itu, dirinyalah yang bertemu dengan Naruto di Ryumyaku. Minato rasa sulit untuk Mei bertemu dengan Naruto dan membunuhnya.
"Sepertinya kau berpikir terlalu jauh, Minato-san." Suara Mei lagi-lagi membuyarkan pikiran Minato. "..lebih baik diminum dulu jusnya." Mei lalu menggerakan tangan dan tubuhnya untuk membuka segel pada tutup botol jus itu. Lalu membuka tutup botol, dan menuangkan perlahan cairan manis dari jeruk itu kedalam gelas kaca.
"Silahkan diminum." Mei lalu menawarkan Minato untuk meminum jus itu.
Mungkin Mei benar, dirinya berpikir terlalu jauh. "Terima kasih Mizukage-sama." Lalu tangan Minato bergerak perlahan memegang gelas berisi jus jeruk. Dan menggerakan gelas kaca itu ke arah bibirnya, berusaha meminum jus itu.
Rasa minuman yang dihidangkan untuknya benar-benar nikmat, rasa jeruknya benar-benar terasa di lidahnya. Rasa manis dari jeruk itu benar-benar nikmat.
Dan seketika Minato teringat akan sesuatu hal. Sesuatu yang seharusnya menjadi pertanyaan kepada wanita yang menjabat sebagai Mizukage ini.
Dengan cepat, dalam satu tegukan Minato menghabiskan jus jeruk itu dan meletakan kembali gelas pada posisi nya diatas meja.
Lalu Minato menatap Mei yang juga menatapnya. "Dan sepertinya kau gagal membunuh anakku, Mizukage-sama." Tanya Minato.
"Seperti yang kau tahu Minato-san" Mei melebarkan tangannya. "...besok diadakan pertemuan lima Kage akibat perbuatan Naruto." Balas Mei dengan posisi yang masih melebarkan tangannya.
Melihat Mei yang berposisi seperti itu menandakan kalau wanita itu tampaknya meledeknya, sepertinya begitu yang ada dipikiran Minato.
"Dan juga, aku bisa simpulka—
"Kau tahu sesuatu tentang Fairy Tail, Mizukage-sama?" Minato memotong pembicaraan Mei.
Deg. Mei meneguk ludahnya sendiri, kenapa bisa Minato tahu tentang Fairy Tail, kelompok bodoh itu gagal menyelesaikan tugas yang Mei berikan. Jangankan untuk menyelesaikan misi, dirinya sejak menyewa jasa mereka tidak pernah mendengar kabar bahwa mereka bertarung dengan Naruto.
Mei sudah membayar mahal mereka, Mei juga sudah memberikan banyak fasilitas kepada mereka. Tetapi mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaan mereka.
Entah apa yang ada dipikiran Mei, hingga bisa menyewa mereka. Bahkan tidak ada satupun diantara mereka yang memiliki chakra. Tarif mereka tinggi, dan untungnya Mei menawarkan untuk membayar jasa mereka 50 persen terlebih dahulu sebelum menyelesaikan tugas dari Mei. Dan setelah selesai tugasnya, yaitu membunuh Naruto, Mei akan membayar sisanya.
"Kenapa kau terlihat terkejut, Mei." Kali ini Mei dipanggil dengan namanya, tidak lagi dengan panggilan hormat dan gelarnya sebagai pemimpin desa Kirigakure.
Minato tahu, kalau wanita itu tahu banyak tentang siapa itu Fairy Tail. Apalagi setelah mereka yang dikalahkan dengan mudah oleh Naruto.
"Sekarang, jelaskan kepadaku." Minato menggerakkan tangannya, meletakkan kedua tangannya diatas pahanya. Mencondongkan tubuhnya menatap Mei. "... Kenapa kau berusaha untuk membunuh anakku, kenapa kau ingin Naruto mati?" Tanya Minato dengan nada tinggi kepada Mei.
--
--
"Lucy-chan kamu hebat dalam hal memasak!" Suara wanita berambut merah bermata violet yang membulat sempurna itu.
"Masakan mu sangat enak!" Lagi wanita berambut merah itu mengucapkannya dengan nada yang tinggi.
Sementara Lucy, wajahnya memerah mendengar komentar tentang masakannya yang enak. Dirinya hanya tersenyum kikuk, senang dan aneh. Aneh karena dirinya hobi memasak dan sangat jarang untuk menghidangkan hasil masakannya untuk orang lain. Dirinya memasak hanya untuk dirinya saja, dan memang benar seperti yang Kushina katakan, masakannya enak.
Kushina menggigit lagi daging ayam hasil masakan Lucy, daging ini sangat enak. Tidak menghiraukan Lucy yang mengatakan kalau daging ayam ini adalah masakan kemarin malam yang hanya dihangatkan. Selama masih layak untuk dimakan, Kushina akan memakan makanan apapun, terlebih lagi sekarang ini. Dirinya sangat lapar.
Dan itu adalah potongan daging terakhir yang telah masuk kedalam kerongkongan Kushina. Sekarang daging ayam dan juga nasi itu telah habis ia makan.
Lucy tersenyum melihat ibu dari Naruto memakan makanannya dengan lahap, ia sebenarnya tidak lapar, dan ia juga tidak tahu harus menyajikan apa untuk ibu dari Naruto itu. Karena dirinya juga belum masak kembali dan belum berbelanja.
Dan kushina menemukan ayam goreng madu buatannya di kulkas yang seharusnya ia hidangkan untuk anak laki-laki dari wanita yang berumur 40 tahun itu.
Kushina meski sudah 40 tahun tetapi tetap ada aura mempesona pada dirinya. Meski raut wajahnya terlihat mulai garis-garis yang menandakan usianya yang sudah tidak muda lagi. Tetapi ia harus aku kalau Kushina sekilas terlihat masih muda.
Dan lagi wajah bulatnya sangat-sangat mirip dengan Naruto. Ketika Kushina sedang tersenyum dan tertawa itu sangat mirip dengan Naruto. Yang membedakan Naruto dan Kushina hanyalah warna rambut dan mata ungu Kushina.
Mata coklat caramel milik Lucy menatap Kushina yang terlihat kepedasan karena masakannya. Memperhatikan Kushina yang meminum air putih itu dengan terburu-buru, dan mengeluarkan keringat di pelipis nya. Apakah Naruto jika makan dengan lahap akan seperti ini. Dirinya tertawa tertahan memikirkan hal itu.
Sementara Kushina yang bernafas dengan cepat itu melirik Lucy yang tengah tersenyum lebar memprihatinkan dirinya.
Sadar dirinya diperhatikan oleh Kushina membuat Lucy tersenyum kikuk. Dirinya salah tingkah, entah dengan tatapan Kushina saja yang membuat dirinya seperti ini. Lucy segera tersenyum kembali, dan segera berdiri.
"A.. aku akan mempersiapkan baju-baju ku Kaa-chan." Ucap Lucy lalu bergerak berdiri dan melangkah menuju lemari pakaian miliknya.
Melihat Lucy yang bergerak menjauhi dirinya membuat Kushina juga ikut bergerak, tapi Kushina memegang gelas kosong dan bergerak menuju dapur. Dirinya merasakan pedas pada daging ayam itu sangat terasa di mulutnya.
Melalui ujung matanya, Lucy melihat Kushina berjalan, sepertinya Kushina merasakan pedas pada mulutnya.
"Kaa-chan mau minum apa?" Lucy menawarkan Kushina minuman. "Aku ada kopi, dan sepertinya juga masih ada susu di kulkas." Lalu Lucy bergerak ke arah Kushina yang sekarang ini berada dapur.
Kushina sejak kecil sama sekali tidak menyukai kopi, atau apapun yang rasanya pahit. "Baik, aku akan minum susu saja, Lucy-chan." Lalu Kushina memutar badannya dan bergerak menuju kulkas.
Lucy mempercepat langkahnya dan mendahului Kushina, lalu membuka pintu kulkas dan melihat ada box berukuran 1 liter berisi susu putih. Tangan mulus Lucy bergerak mengambil box itu dan menutup pintu kulkas. Setelah memegang box berisi susu itu segera ia melihat Kushina yang mengarahkan gelas kosong itu kepadanya.
Lucy yang paham segera membuka segel box itu dan menuangkan perlahan susu itu kedalam gelas yang berada di genggaman Kushina.
Hal itu membuat Kushina senang, karena setidaknya masih ada yang menghiburnya setelah dirinya hancur karena mengetahui Naruto telah pergi dari hadapannya. Lucy adalah gadis yang baik dia sangat setuju dengan pilihan Naruto yang menjadikan Lucy sebagai kekasihnya.
Dan lagi, paras dan bentuk tubuh Lucy sangat bagus. Kushina mengingat kalau di masa sebelum dirinya menikah dengan Minato, berharap bisa memiliki tubuh sebagus Lucy. Tapi ia juga bersyukur dan merawat bentuk tubuhnya membuat Minato makin menyukai dirinya.
Setelah gelas itu sudah terisi kembali dengan susu, segera Kushina meminum susu itu.
Lucy yang melihat Kushina yang minum dengan posisi berdiri berusaha memberitahu. "Mmm… Kaa-chan," Suara Lucy terdengar terbata-bata melihat kalau Kushina telah menghabiskan susu itu dengan cepat. Sepertinya rasa pedas masih ada di mulutnya. "Apa masih pedas, Kaa-chan?" Tanya Lucy.
Kushina tersenyum dan menggeleng. "Tidak Lucy-chan." Jawab Kushina.
Mendengar jawaban dari Kushina, Lucy membalas tersenyum dan menggerakkan badannya meletakan box susu didalam kulkas kembali, lalu menutup rapat pintu kulkas miliknya.
"Aku ingin mempersiapkan lagi pakaian ku, Kaa-chan." Lalu pergi sambil tersenyum perlahan meninggalkan Kushina.
Kushina tidak membalas ucapan Lucy. Ia teringat akan sesuatu hal yang putranya benci. Putranya tidak suka minum susu. Naruto tidak suka minum susu karena trauma meminum susu basi. Dulu sebelum Naruto pergi.
Naruto sangat suka dengan susu, bahkan dirinya mempersiapkan banyak stok susu di kulkas. Karena dirinya tahu Kushira menyukai susu. Tapi dulu dirinya hanya tahu hanya Kushira yang menyukai susu, dan ternyata Naruto juga menyukai susu.
Mengingat Naruto yang mengalami sakit perut dan dirawat oleh adiknya Kushira, dan tidak memperdulikan anaknya yang sakit membuat dirinya sangat-sangat menyesal. Seharusnya dirinya bisa mengobati dan merawat Naruto, hingga akhirnya Naruto tidak lagi menyukai susu dalam kemasan karena trauma.
Jika dirinya peduli akan Naruto waktu itu, tentu saja Naruto pasti akan tetap menyukai susu hingga sekarang ini.
Mata violet Kushina menatap sisa-sisa susu yang berada di bagian bawah gelas. Tatapannya terlihat sangat sedih.
Pikiran Kushina lagi-lagi terisi akan kenangan buruknya dimasa lalu. Membuat Naruto sekarang menjadi salah satu ancaman bagi dunia. Membuat anaknya laki-lakinya menjadi seperti sekarang ini.
Dia sangat ingin memeluk lagi tubuh anaknya. Dirinya sangat-sangat ingin memasakkan makanan untuk anaknya. Ingin menghabiskan waktu untuk anaknya.
Kushina sangat ingat dimalam terakhir Naruto sebelum pergi dari rumah, ia menyesali semuanya. Ia bersumpah sejak saat itu ia akan menjadi ibu yang menyayangi Naruto. Seharusnya ia tidak melepaskan pelukannya. Seharusnya ia tidur malam itu dengan anaknya, dan dengan begitu dirinya bisa memberi tahu seberapa menyesalnya Kushina.
Dirinya tanpa sadar sudah meneteskan air matanya. Dirinya benar-benar gagal menjadi seorang ibu bagi Naruto. Ia pantas dibenci oleh Naruto. Ia pantas dibunuh oleh Naruto. Tapi sekali saja, ia berharap Naruto memaafkan dirinya, dan juga Minato. Ia sangat mencintai anaknya, terlebih Naruto.
Anaknya selalu berusaha untuk terlihat dimata dirinya dan Minato, dengan cara yang sangat menakjubkan. Dan salah satunya dapat menguasai Rasengan. Itu jutsu yang sangat sulit dan berbahaya bagi lawan. Tapi Naruto tanpa bantuan dari Minato dapat menguasai Rasengan.
Dan dengan bodohnya Kushina dan Minato hanya menganggap itu hal yang biasa.
Ia selalu merasakan sakit di dadanya mengingat hal itu. Sakit di dadanya dengan cepat membuat kepalanya sakit.
Sementara Lucy yang sudah selesai memasukkan pakaiannya kedalam koper pink miliknya, mendengar ada suara isak tangis. Dan suara itu asalnya dari arah dapur, dan tentu Lucy tahu siapa yang menangis. Dan langsung bergerak cepat menuju arah dapur.
Melihat Kushina pada posisi yang sama sebelum Lucy meninggalkan Kushina untuk memasukan pakaiannya ke dalam kopernya.
"Kaa-chan.." Suara Lucy begitu melihat Kushina yang menangis hebat terlihat dari tubuh Kushina yang bergetar.
Kushina mendengar suara dari arah belakang, tidak menghiraukan panggilan Lucy. Dirinya terlalu sedih kali ini.
Lucy semakin dekat dengan Kushina. Segera ia berjalan dan menghadap wanita paruh baya itu. Melihat Kushina menangis, Lucy menggerakkan tangannya memeluk tubuh Kushina.
Kushina yang masih memegang gelas kosong itu merasakan tubuhnya dipeluk. Membuat Kushina semakin hanyut dalam kesedihan.
Lucy memeluk tubuh Kushina, merasakan tangan Kushina yang sepertinya masih memegang gelas terasa di bagian perutnya. Tidak terlalu memperdulikan hal itu Lucy meletakkan dagunya di pundak Kushina, berusaha memberi kehangatan dengan memeluk ibu dari Naruto itu.
"Kaa-chan baik-baik saja?" Bisik Lucy kepada Kushina.
Kushina yang juga meletakkan dagunya di pundak Lucy mendengar pertanyaan gadis pirang itu. Dirinya saat ini tidak baik-baik saja. Dirinya sangat-sangat sedih.
Lucy benar-benar merasakan tubuh Kushina yang bergetar, wanita ini sangatlah sedih. Ia perlahan juga dapat merasakan apa yang membuat Kushina sedih, Naruto.
Tidak mungkin hal lain yang membuat seorang ibu dapat menangis hebat seperti ini. Meski dirinya merasakan hanya 10 tahun kasih sayang seorang ibu, dirinya tetaplah seorang wanita. Ia tahu, tidak mudah untuk wanita menahan tangisannya. Apalagi menangis untuk orang yang benar-benar ia cinta.
"Na..Naruto...tidak s..suka susuu" Suara Kushina terdengar. Ibu dari Naruto itu mengatakan kalau Naruto tidak suka susu. Lucy semakin mengeratkan pelukannya pada Kushina, ia benar-benar larut kali ini dalam kesedihan.
Dan seketika mata Lucy mengeluarkan air mata.
Sebenarnya ada sebuah pertanyaan besar yang berada di benak Lucy. Kenapa Naruto bisa menjadi jahat bagi dunia shinobi? Dan kenapa orang tua Naruto terlihat sangat-sangat sensitif dengan nama anaknya itu. Jika dirinya yang menyebutkan nama anaknya, maka mereka akan bertanya apakah mereka tahu keberadaan dari Naruto.
Dan juga sangat terlihat sedih jika tahu akan diadakan pertemuan para petinggi dari ke 5 negara besar. Ya itu wajar karena orang tua mana yang tidak sedih jika mengetahui anaknya menjadi seorang penjahat.
Apa yang menyebabkan Naruto menjadi jahat. Atau apa yang menyebabkan orang tua Naruto—terutama Kushina, sangat-sangat sedih dengan kepergian Naruto.
Apa yang terjadi dengan Naruto.
Apa ada masalah di masa lalu Naruto dengan orang tuanya.
Dirinya harus tahu apa penyebabnya. Tidak mungkin tanpa ada sebab Naruto seketika berubah menjadi jahat. Karena baginya Naruto adalah pria yang sangat baik.
Berada dekat dengan Naruto membuat dirinya menjadi nyaman. Dengan melihat senyum lebar dari pria itu saja membuat Lucy tenang. Karena Lucy sudah menganggap Naruto adalah mataharinya.
"Kaa-chan.." Lucy mengeluarkan suara, ingin bertanya, meski ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk bertanya kepada Kushina masalah Naruto.
Kushina yang masih menangis, mendengar suara Lucy. Berusaha meredakan tangisannya. Meski demikian, air mata tetap mengalir.
"A..apa yang menyebabkan Naruto menjadi seperti ini?" Lucy bertanya kepada Kushina.
Kushina sudah mendengar pertanyaan Lucy. Dan dirinya sudah tahu, hanya menunggu waktu Lucy akan bertanya tentang hal ini.
Kushina sangat takut jika ia berbicara kenyataan bahwa dirinya dan Minato tidak menyayangi Naruto di masa kecilnya, Lucy akan menjauhi dirinya, sama seperti Naruto.
Karena Kushina sendiri mengaku kalau dirinya adalah ibu terbodoh di muka bumi ini.
Hanya karena masa lalu dirinya yang seharusnya mati karena sudah terpisah dari Kyubi dan tertusuk kuku dari Kyubi itu sendiri, membuat dirinya lebih—tidak bukan lebih, sangat memprioritaskan Kushira dibandingkan dengan kembarannya Naruto.
"Lucy…" Suara Kushina terdengar pelan di telinga Lucy.
Lucy semakin penasaran dengan masa lalu Naruto. "Bisa Kaa-chan ceritakan—"
Dan seketika Lucy merasakan tubuhnya seperti terbawa dengan sangat cepat. Ia merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan dengan jutsu teleportasi yang Naruto dan Minato lakukan kepadanya.
Dengan cepat Lucy melihat kalau dirinya sudah berpindah ruangan. Ruangan yang Lucy lihat kali ini, bukanlah miliknya.
Kushina yang masih berada dipeluk Lucy melihat Minato dan wanita yang ia ketahui adalah Mizukage ke lima.
"Minato!" Dengan mata yang sembab, Kushina memberikan death glare miliknya.
Minato segera berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh istrinya. Ia sadar betul istrinya sedang menangis.
"Maafkan aku." Ucap Minato lalu menggerakan tangannya selebar mungkin dan juga memeluk tubuh Lucy. Sekilas mengecup puncak kepala merah Kushina.
Sementara itu Mei Terumi sang Mizukage ke lima sama sekali tidak nyaman dengan posisinya sekarang ini, melihat sebuah keluarga yang tengah berpelukan.
Minato benar-benar memanggil anggota Fairy Tail. Tapi ia melihat ada anggota Fairy Tail diantara dua wanita itu. Ia tahu betul wanita berambut merah itu adalah Kushina. Dan ia belum melihat gadis berambut pirang itu.
Gadis itu memakai rompi yang dimiliki oleh Konoha, dan memakai rok hitam di atas lutut, dan dipadukan dengan sepatu boots dibawah lutut. Rambut pirang gadis itu dibiarkan tergerai panjang. Siapa gadis itu, susah untuk mengetahui siapa dia tanpa melihat wajahnya. Rambut kuning pucat, terlihat mirip dengan Minato, dan ia tahu itu bukan Kushira.
Mei berdiri dari duduknya, dan masih merasakan hal yang tidak nyaman dengan pemandangan di hadapannya ini. Sebuah keluarga yang sedang berpelukan dan sang istri yang terlihat menangis.
Mei tadi ditanya tentang Fairy Tail, dan ia berbohong kepada Minato. Dia bicara tidak kenal dan tidak tahu apa itu Fairy Tail.
Seketika Minato menggerakan tangan kirinya dan ternyata menggunakan salah satu jutsu andalannya. Dan ternyata yang ia datangkan adalah Istrinya dan seorang gadis pirang.
Mei menyadari dirinya baru saja dilihat oleh istri dari Yondaime itu. Mata yang terlihat sembab itu sedang memperhatikan dirinya. Dan Mei juga perlahan mereka bertiga melepas pelukan mereka.
Minato dengan tangan kirinya yang masih merangkul pundak istri tercintanya. Dan melihat juga Kushina yang terlihat sedang memegang gelas. Ibu dari Naruto itu juga memakai rompi anti peluru milik Konoha dan celana panjang berwarna navy.
Dan mata hijau Mei akhirnya menatap wajah gadis berambut pirang pucat itu. Itu adalah salah satu anggota Fairy Tail. Tidak disangka Minato bisa kenal dengan gadis itu.
Kalau tidak salah ingat, nama dari gadis pirang itu Lucy. Gadis yang cantik ia akui, dan punya badan yang bagus. Tapi gadis itu juga tidak memiliki aliran chakra di tubuhnya. Apa kekuatan dari gadis bernama Lucy itu.
Sementara Lucy tidak menyangka, kalau Minato akan menggunakan jutsu teleportasi kepada dirinya dan Kushina dan muncul di hadapan seseorang yang menggunakan jasa dari teman-temannya.
Lucy terkejut jujur, karena dirinya dan teman-temannya sudah dibayar mahal oleh Mizukage untuk menghabisi anak dari pasangan di samping kanannya sekarang ini.
Dan sekarang Lucy berada di hadapan Mizukage seorang diri.
"Kau tentu kenal dengan gadis ini bukan, Mizukage-sama?" Kali ini Minato memanggil Mei dengan gelarnya.
Sementara Kushina yang masih sedikit terisak mendengar ucapan suaminya. Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Minato. Tetapi Kushina diam tidak mengeluarkan kata-kata.
Lucy mulai heran kepada Minato, kenapa pria itu bertanya hal seperti itu kepada Mizukage? Tentu saja Mizukage tahu siapa dirinya.
Deg. Seketika detak jantung Lucy mulai cepat. Ia sadar apa yang terjadi sekarang ini.
Tapi Minato sudah tahu apa tugas dari dirinya dan teman-temannya. Dan Lucy bisa melihat begitu tahu teman-temannya dan tentunya dirinya ingin membunuh Naruto, ada raut tidak percaya di wajahnya. Dan ia sudah tahu kalau Minato mengetahui kalau dirinya, Natsu, Gray, Erza tidak memiliki chakra. Sepertinya Minato menganggap remeh kekuatan teman-temannya.
Tapi sejak serius berhubungan dengan Naruto, Lucy akan menghalangi semua teman-temannya untuk menyelesaikan misi mereka. Meski awalnya Lucy tertipu oleh Naruto.
"Huft.." Terdengar suara dari mulut Mei. "Baiklah, aku mengaku." Suara Mei membuat pernyataan kalau dirinya mengaku.
Sementara Kushina masih tidak paham apa yang terjadi sebenarnya. Kushina hanya diam melihat wanita yang hanya memakai jubah mandi di hadapannya sekarang ini. Mata violet Kushina bergerak ke arah meja yang terdapat botol sake disana. Apa suaminya baru minum dengan Mizukage disini. Dirinya benar-benar bingung tidak mengerti.
Dan lagi kenapa seorang Minato menemui seorang Mizukage. Ada urusan apa sebenarnya suaminya ini.
"Minato, ada apa sebenarnya?" Tanya Kushina kepada suaminya.
Minato yang masih merangkul istrinya tersenyum dengan khasnya. "Wanita ini berusaha untuk membunuh Naruto." Ucap Minato kepada Kushina. Jujur dia sangat takut apabila istrinya ini marah kepadanya, mungkin ia akan membiarkan istrinya meluapkan rasa marah setelah mengetahui kebenarannya.
Mei, Kushina, dan tentunya Lucy terkejut mendengar perkataan Minato. Dan terutama Kushina, ia langsung berjalan maju mendekati Mizukage.
Mizukage sendiri melihat Kushina berjalan ke arahnya hanya diam dan memperhatikan apa yang akan dilakukan wanita itu kepadanya. Dan dengan cepat kedua tangan Kushina mencengkram kerah jubah mandi milik Mizukage itu.
Lucy dan Minato mendekati Kushina yang bertindak seperti akan membuat kekacauan dengan Mizukage.
"Kaa-chan / Kushina" Suara Lucy dan Minato berbarengan yang kini sudah berada di sebelah kiri dan kanan Kushina.
"Apa bener itu jalang?!" Kushina memanggil seorang wanita yang menjabat sebagai pemimpin negara dengan sebutan yang sangat rendah.
Mei sendiri juga bergerak. Wanita itu mencengkeram pergelangan tangan Kushina. Kedua wanita berambut merah saling tatap dengan tatapan membunuh.
Kushina yang sangat tidak terima ketika menyadari kalau wanita itu ingin membunuh anaknya, Naruto. Kushina dengan wajah yang sembab menatap tajam wanita yang berada sangat dekat wajahnya dengannya sekarang ini. Tidak peduli kalau wanita dihadapannya sekarang ini punya jabatan yang tinggi.
Minato mengeraskan rahangnya, dirinya tidak mengira respon Kushina akan seperti ini. Kushina sepertinya ingin menghajar Mizukage yang tengah mencengkeram pergelangan tangan istrinya itu.
"Kushina tenangkan dirimu" Minato berusaha membuat istrinya agar lebih tenang, dirinya juga meski menginginkan Kushina membantu dirinya, tapi respon Kushina jauh dari perkiraan Minato.
"Naruto ingin dibunuh, dan kau memintaku untuk tenang?" Meski membalas ucapan suaminya, Kushina sama sekali tidak memalingkan wajahnya dari Mei, Kushina masih menatap tajam Mei.
Kata-kata dari Kushina dengan cepat menusuk hati Minato. Kushina benar, dirinya seharusnya tidak mengucapkan kata itu. Dirinya harus bersikap lebih tenang lagi, dirinya harus lebih menggunakan akalnya. Jangan sampai terjadi pertarungan disini.
Terlebih lagi, yang Kushina cengkram itu adalah Mizukage. Tidak mungkin ia terpilih menjadi pemimpin Kirigakure tanpa ada kekuatan yang besar. Dan yang terburuk ia takut terjadi adanya perang antara Konoha dan Kirigakure. Minato akan diam dan Kushina saja yang bertanya.
Sementara Lucy merasa sangat tidak enak berada di posisi sekarang. Karena Kushina bertanya kepada Mizukage sangat-sangat tidak sopan, ia tahu pasti berat bagi Kushina menerima kenyataan, tapi dirinya juga tidak bisa membenarkan seorang Mizukage dipanggil dengan sebutan jalang.
Lucy juga diam memperhatikan apa yang 2 wanita berambut merah itu katakan selanjutnya. Lucy hanya memegang pundak Kushina, bersiap apabila Kushina akan menggerakan tangannya lagi untuk memukul Mizukage.
Mei juga membalas tatapan mata Kushina, melihat mata violet yang terlihat sekali bekas tangisan di sana menatap wajah nya tajam. Mei menggunakan tenaga ditangannya menggerakan kedua tangannya agar cengkraman tangan Kushina menjauh dari jubah mandinya.
"Jalang katamu?" Mei kini buka suara, tidak terima dengan panggilan wanita berambut merah bermata violet bernama Kushina. "Kalau begitu aku akan memanggilmu, ibu bodoh!" Mei sedikit terpancing emosi oleh Kushina, akhirnya balik memaki Kushina, tapi kali ini yang Mei sebut adalah realita, Kushina adalah ibu yang bodoh.
Kushina seketika terkejut dengan kata-kata Mei, dirinya disebut Ibu bodoh. Kata-kata itu membuat cengkraman tangannya perlahan terlepas. Tidak ada lagi tatapan tajam kepada Mei.
Minato merasakan hal yang sama dengan Kushina, seketika ada yang menyakitkan masuk ke dalam telinganya. Meski dirinya bukan seorang Ibu, tapi dirinya adalah orang tua dari Naruto. Memanggil Kushina dengan Ibu bodoh sama saja memanggil dirinya dengan Ayah bodoh. Ia sangat paham maksud ucapan dari Mei.
Mata biru Minato melihat tangan sang istri yang telah melepas cengkraman pada Mei. Ia tahu Kushina juga mendengar kenyataan yang menyakitkan.
Lucy tidak mengerti dengan kata-kata Mei. Kenapa Mei balik memaki Kushina? Dan lagi ibu bodoh? Ada apa dengan ibu bodoh? Menurutnya Kushina adalah orang yang pintar.
Mata caramel Lucy memperhatikan Kushina yang bergerak melepas cengkraman pada Mei, dan juga menatap Minato yang sepertinya ikut terkena efek panggilan dari kata Ibu Bodoh. Ada apa sebenarnya.
Dan perlahan Mei juga menatap dirinya. Wanita itu juga sudah melepas pegangan tangannya pada Kushina. Wanita yang mata nya hanya terlihat di sebelah kiri sementara mata kanannya tertutup oleh rambut merahnya itu akhirnya tidak lagi memasang wajah sangarnya.
Jujur ia takut terjadi perkelahian antara Kushina dan Mei. Ia sudah bisa memprediksi sekuat apa Mei dari cerita Shinobi. Sementara Kushina dirinya tidak pernah mendengar kekuatan yang dimilikinya, Lucy hanya tahu Kushina adalah mantan Jinchuriki dan ibu dari Naruto dan Kushira.
Lucy yang diperhatikan oleh Mei membuang wajahnya, kini menatap Kushina yang terdiam, begitu juga dengan sang suami. Kenapa dengan Kushina dan Minato, kenapa duanya terdiam? Apa karena efek dari kata Ibu bodoh itu benar-benar terasa bagi mereka.
Namun Lucy ingat sesuatu. Lucy sangat ingin tahu kebenaran tentang Naruto. Apa yang menyebabkan Naruto menjadi seperti sekarang ini. Dan sepertinya, kata Ibu bodoh itu menjadi jawaban bagi Lucy. Ia bisa menduga kata ibu bodoh adalah penyebab Naruto berubah menjadi seorang kriminal.
Dengan kata lain, Kushina adalah penyebab Naruto berubah seperti sekarang. Itu adalah dugaannya, tapi dilihat dari ekspresi Minato dan Kushina sepertinya itu adalah kenyataan.
Tapi kebodohan apa yang terjadi sehingga Naruto menjauh masuk ke dunia kriminal seperti sekarang. Ia sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan masa lalu Naruto. Apakah dugaannya benar atau salah, itu belum terjawab. Tetapi Lucy tahu dari ekspresi sedih Kushina dan Minato, ada kemungkinan mereka lah penyebab Naruto berubah. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lalu Lucy menatap wajah Mei. "Kenapa kau menyebut Kaa-chan dengan kata itu, Mizukage-sama?" Tanya Lucy kepada Mei.
Kushina mendengar pertanyaan dari Lucy. Ia juga ingat, Lucy tadi bertanya kepada dirinya tentang masa lalu Naruto. Dan sekarang gadis itu akan tahu jawabannya. Kushina memilih diam.
Mata hijau Mei bergerak melihat Kushina dan Minato hanya diam, kemudian bergeser menjauhi Kushina dan berdiri menghadap Lucy.
Lucy sama sekali tidak mirip dengan Minato maupun Kushina, mungkin hanya warna rambutnya saja yang sama, selain itu tidak ada kemiripan sama sekali dengan keduanya. Tapi kenapa yang menjadi salah satu anggota dari Fairy Tail itu memanggil dirinya dengan panggilan Kaa-chan?
"Setahuku, Konoha no Kiiroi Senko hanya memiliki dua anak kembar." Ucap Mei kepada Lucy menjelaskan hal yang ia ketahui bahwa anak dari Minato dan Kushina hanya Naruto dan Kushira.
"Kami sudah memiliki anak ketiga." Suara Minato membuat Mei mengetahui jawaban dari perkataan dirinya yang mengatakan anak mereka hanya ada 2 dan ternyata dirinya tidak mengetahui kalau Lucy adalah anak ketiga mereka.
"Anak ketiga ku bernama Naruko." Kali ini Kushina melanjutkan kebingungan Mei, lalu Lucy?
"Lucy adalah kekasih Naruto." Lanjut Kushina membuat Mei sangat terkejut. Apa-apaan ini. Jadi selama ini Lucy berpacaran dengan buronannya sendiri. Benar-benar tidak diduga oleh Mei. Sementara Lucy ditengah kebingungannya, merasakan wajahnya terbakar hebat.
Mei yang melihat sekilas Minato dan Kushina yang tak lagi diliputi kesedihan menatap dirinya. Mei sendiri memalingkan wajahnya, menatap Lucy yang memerah.
Sepertinya dengan mendengar ucapan Kushina tadi, membuat Lucy secara tidak langsung mengakui benar dirinya adalah kekasih Naruto.
"Jadi kau selama ini berpacaran dengan buronan mu sendiri, Lucy?" Tanya Mei kepada Lucy.
Lucy sendiri bingung, kenapa dirinya yang malah ditanya. Dirinya ingin tahu kebenaran tentang Naruto. Dirinya ingin tahu masa lalu Naruto. Kenapa Mei malah bertanya tentang hubungan cintanya dengan Naruto.
Dan Kushina ingat sekarang, sebelum bertemu dengan Lucy, dirinya dan Minato bertemu dengan Kushira di gedung rumah sakit. Kushira menjelaskan semuanya, dan ada 2 hal yang membuat Kushina senang sekaligus sedih.
Senang karena mengetahui Naruto memiliki pacar. Dan sedih karena kelompok pembunuh bayaran bernama Fairy Tail mengincar nyawa anaknya.
Dan sekarang Kushina tahu, ternyata Fairy Tail disewa oleh Mizukage, Mei Terumi. Sekarang Kushina paham apa yang dibicarakan oleh suaminya.
Sekarang Kushina juga sama seperti Minato, dirinya bertanya-tanya, kenapa seorang Mizukage sampai menyewa jasa pembunuh bayaran. Meski dirinya sadar kalau Mizukage bukan orang sembarangan, pasti wanita itu sangat kuat. Kushina berpikir, Mizukage ini lebih sayang terhadap karirnya sebagai pemimpin desa Kirigakure. Buktinya dia lebih memilih untuk menggunakan jasa pembunuh bayaran daripada memerintahkan bawahannya.
Tapi kenapa sampai harus Mizukage seorang yang bergerak sejauh itu untuk menghabisi nyawa anaknya. Apakah Mizukage ada sesuatu masalah dengan Naruto.
"Naruto bukan buronan ku." Lucy membalas jawaban dari Mei.
Lucy mengucapkan itu karena sudah berusaha untuk tidak lagi menganggap Naruto adalah buronannya. Sudah meyakinkan Natsu, Gray tetapi mereka tetap pada pendiriannya. Dirinya sangat tidak ingin terjadi pertarungan lagi di antara Naruto dan sahabatnya. Dirinya sangat tidak ingin itu terjadi. Dirinya sudah memutuskan akan membuat Naruto menjadi lebih baik lagi, dan hidup bahagia di sisa hidupnya.
Kushina dan juga Minato mendengar jawaban Lucy ada rasa senang di hati keduanya. Mengetahui Lucy tidak menjadikan Naruto sebagai buronannya. Mengabaikan tugas yang wajib Lucy laksanakan dari Mizukage. Menunjukkan rasa cinta yang terdapat pada gadis itu untuk anaknya.
Dalam pikiran keduanya, selama ini ada yang memberikan kehangatan untuk anaknya. Mereka tahu belum bisa memberikan rasa sayang dan cinta untuk Naruto. Tapi dengan adanya Lucy, membuat Kushina dan Minato makin semangat untuk mengembalikan anaknya ke pelukan mereka berdua.
Namun Mei merasa ada rasa kecewa, jadi selama ini Naruto benar-benar menjadikannya sebagai mainan saja. Rasa kecewa yang susah payah ia kubur itu teringat kembali. Entah, tapi ia berusaha tidak terlalu peduli lagi dengan Naruto. Terlebih lagi, Naruto sudah memiliki pasangan yang menurut Mei sangat cantik.
Naruto memiliki selera yang bagus. Wajah Lucy sangat cantik, bentuk hidung ideal, mata coklat besar, bibir dengan warna peach sempurna, rambut kuning pucat, badan putih mulus, dan payudara yang terlihat menyembul dari rompi itu terlihat sangat jelas kalau gadis ini sangatlah menjadi dambaan dari semua pria.
Tapi ia tahu dibalik itu semua, Naruto memiliki perasaan yang sangat hancur kepada Minato dan Kushina. Bahkan Naruto sekarang ini sudah sampai pada tahap kriminal paling dicari oleh seluruh Shinobi. Itu semua karena Minato dan Kushina. Naruto menjadi kuat dan kejam seperti dibicarakan oleh banyak orang berkat masa lalunya yang buruk.
Naruto yang malang seharusnya kini ia menjadi andalan Konoha, melanjutkan kehebatan dari ayahnya yang terkenal itu. Tapi kenyataannya justru sebaliknya.
Mata Mei masih menatap Lucy. "Apa kau tahu Lucy, sudah sekuat apa Naruto?" Mei bertanya kepada Lucy.
Lucy mendengar pertanyaan dari Mei tentu tahu sekuat apa Naruto. Dari beberapa buku bingo, surat kabar, dan beberapa majalah yang ia baca, Lucy bisa menyimpulkan bahwa Naruto adalah Shinobi dengan kemampuan yang sangat tinggi. Dan lagi bukti seberapa kuat Naruto adalah sekarang ini, para Kage berkumpul untuk membahas pacar kuningnya itu.
"Ya." Jawab Lucy singkat kepada Mei.
Kushina dan Minato hanya menyimak percakapan Mei dan Lucy. Ia ingin tahu apa inti dari pembicaraan mereka.
Dan Mei sudah menduga Lucy sudah tahu sekuat apa Naruto. "Apakah kau tahu apa yang membuat Naruto menjadi kuat seperti sekarang…" Mei memutar bola matanya menatap sekilas Minato dan Kushina yang kini menatap dirinya. "... Dan jahat seperti sekarang. Apa kau tahu, Lucy?" Lalu Mei menatap Lucy yang terlihat sedang berpikir.
Kushina tahu sekarang arah pembicaraan Mei. Wanita itu akan memberi tahu apa yang terjadi pada anaknya di masa lalu. Kushina merasakan tangannya digenggam, dan Kushina tahu yang menggenggam tangannya adalah Minato. Menatap wajah suami yang seperti mengatakan sebuah kata 'Semua akan baik-baik saja'.
Kushina tidak tahu apakah semua akan baik-baik saja setelah Mei mengatakan jawabannya. Ia takut jika Lucy ikut membenci dirinya. Dan yang ia takutkan adalah Lucy jadi membenci Naruto.
Mei sendiri yang melihat Lucy hanya diam, dan Mei tentu tahu jawaban Lucy. Ia ternyata tidak tahu tentang masa lalu Naruto. "Naruto mengalami masa lalu yang sangat buruk." Mei mengucapkan kata yang ia tahu kalau Naruto memang benar mengalami masa lalu yang buruk.
Lucy sedikit membuka mulutnya, dirinya terkejut mendengar ucapan Mei. Jadi masa lalu Naruto sangat buruk. Dirinya meski baru mengetahui sedikit tentang masa lalu Naruto, tapi apa maksud dari masa lalu yang buruk. Apa yang buruk dari masa lalu Naruto. Apakah ada hubungannya dengan Kushina dan Minato. Apakah mereka yang membuat masa lalu Naruto menjadi buruk? Lalu bagaimana dengan Kushira? Dia terlihat sangat normal dengan kedua orang tuanya, mereka terlihat baik-baik saja. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga mereka?
"Dia benar Lucy. Kami lah yang membuat Naruto seperti sekarang."
Suara Minato membuat Lucy, Mei, bahkan Kushina menatap dirinya.
Sebuah pengakuan dari Minato membuat Kushina semakin mengeratkan genggaman tangan pada suaminya. Ia tidak berani menatap Lucy setelah Minato memberi penjelasan.
Mei sendiri akhirnya tidak perlu menjelaskan dengan detail apa yang terjadi dengan Naruto di masa lalu. Karena sepertinya Minato akan menjelaskan semuanya.
Menatap Minato yang terlihat sedih itu, Lucy menyimpulkan hal yang dikatakan Minato adalah kenyataan. Lalu juga melihat Kushina yang memalingkan wajahnya menatap wajah suaminya. Membuat Lucy sekarang tahu masa lalu Naruto sedikit demi sedikit.
Dan sekarang ia tahu Minato dan Kushina yang membuat Naruto berubah. Tapi hal apa yang mereka lakukan, sampai Naruto melakukan hal yang sangat berbahaya. Apa yang mereka lakukan kepada Naruto hingga Naruto menjadi jahat?
Apakah kesedihan yang Kushina luapkan setiap mengingat Naruto menjadi jawaban dari masa lalu Naruto. Sampai menangis hebat memikirkan Naruto, ya pasti ada sesuatu kesalahan yang mereka lakukan kepada Naruto. Hingga Naruto berubah seperti sekarang.
Pasti ada penyesalan dari keduanya. Dapat dilihat dari raut wajah Minato yang sedih itu, ada penyesalan.
"Apa yang kalian lakukan kepada Naruto?" Lucy bertanya kepada Minato dan tentu Kushina sebagai ibu dari Naruto.
Minato melihat wajah Lucy, gadis itu sepertinya belum mengetahui apa yang terjadi dengan anaknya.
Menghela nafasnya, Minato akan mengungkapkan semua yang kesalahannya kepada Naruto. Ia akan memberi tahu semuanya.
"Baik aku akan mengatakannya." Lanjut Minato berusaha menjelaskan penyesalannya di masa lalu.
-
Kini di sebuah bar yang sepi, terlihat beberapa orang yang ada di dalam bar ini. Ada beberapa pria yang sepertinya adalah Shinobi dari Iwa, dan pria biasa yang tengah menenggak minuman keras kedalam mulutnya.
Bar itu terlihat tidak begitu besar, hanya seluas 10 meter dan hanya ada 7 meja bulat dan meja yang berhadapan dengan beberapa bartender. Lampu bar itu juga seperti pada umumnya, tidak terlalu terang hanya ada beberapa lampu yang menjadi pencahayaan dari ruangan bar ini.
Dan terlihat ada beberapa orang yang baru masuk ke dalam bar ini. Terlihat ada 6 orang yang berjalan menuju meja panjang. Ke 6 orang itu lalu duduk pada bangku bulat dan langsung dilayani oleh seorang bartender laki-laki.
"Ada yang bisa saya bantu?" Pelayan itu berbicara kepada mereka, dan sekarang pelayan itu sedang berada di depan seorang gadis yang memakai baju zirah yang terlihat sangat kokoh itu. Gadis itu berambut merah dan bermata coklat.
Mata coklat itu menatap bartender, ingin memesan sesuatu. "Ya, apa ada cheesecake?" Tanyanya kepada bartender.
Bartender itu menganggukan kepalanya. "Ada, lalu minumannya?" Bartender itu menawarkan kepada wanita itu ingin minum apa.
"Aku ingin teh dingin." Suara itu bukan dari gadis yang memesan sebuah cheesecake.
"Haaahhhhhhhhh aku sangat lelah!" Itu suara dari seorang pria berambut pink yang berada di samping kiri gadis berambut merah itu.
"Bodoh! Kau pikir hanya kau yang lelah?!" Lalu seorang berambut hitam panjang dengan wajah dipenuhi dengan semacam tindikan membalas keluhan pria di sampingnya itu.
"Aku pesan segelas coklat hangat saja." Lalu kali ini pria di samping kiri pria berambut pink itu buka suara. Pria yang memesan coklat hangat itu memiliki rambut hitam dan memakai sebuah kaos berwarna hitam tanpa lengan, dan celana panjang hitam.
"Aku juga! Aku juga memesan coklat hangat!!" Kalo ini gadis berambut biru memesan minuman yang sama dengan pria yang berada disampaikan itu. "Ahhh Grayyy-samaaaa sangat kerennnn!!" Suaranya sambil terus memeluk lengan pria itu.
Sementara seorang yang berada di paling kanan teman-temannya itu hanya diam, tidak mengeluarkan suara seperti yang lain. Pria berambut pirang yang terlihat di sisir kebelakang itu, dan memiliki luka di bagian mata kanannya.
Mereka semua sudah menjalani perjalan yang sangat jauh. Mereka bergerak dari Konoha menuju Iwa sekarang ini. Dan mereka sudah berada dekat dengan Iwa, hanya beberapa jam lagi, mereka akan segera sampai di tujuan mereka.
Mereka semua tengah beristirahat, setelah perjalanan yang sangat melelahkan. Mungkin dengan minum dan makan akan bisa mengisi kembali tenaga mereka.
Dan mereka terlihat seperti bukan orang yang sembarangan. Meski begitu, mereka tetap butuh istirahat setelah berjalan sejauh ini.
Dan mereka memilih sebuah bar kecil yang masih di negara tanah. Dan mereka hanya perlu berjalan beberapa jam lagi hingga sampai ke pusat kota.
Mereka berjumlah 6 orang terdiri dari 2 wanita dan 4 orang pria. 2 wanita itu adalah Erza Scarlet, dan Juvia Lockser. Sementara 4 orang pria itu adalah Natsu Dragnell, Gray Fullbuster, Gajeel Redfox, dan Laxus Dreyar.
Mereka berenam adalah suatu kelompok bernama Fairy Tail. Kelompok yang bekerja untuk mendapatkan uang dengan cara membunuh target mereka, dengan menjadi pembunuh bayaran. Mereka sudah baik menjadi pembunuh bayaran selama ini. Dengan catatan mereka tidak harus membunuh target buruan mereka. Mereka hanya akan menghabisi target mereka, dan membawa targetnya dengan keadaan hidup-hidup kepada orang yang menyewa jasa dari Fairy Tail.
Karena bayaran yang menggiurkan, mereka terus bekerja selama ini menjadi Bounty Hunters. Dan kini mereka termasuk dalam papan atas dalam hal mencari dan menghabisi targetnya.
Meski dalam keterangannya, mereka sama sekali tidak memiliki aliran chakra. Tapi tidak menjadi hambatan bagi mereka. Karena mereka bekerja bukan menggunakan chakra.
"Aku penasaran, dimana Lucy sekarang ini." Kali ini pria berambut pink buka suara, pria itu mempunyai nama Natsu.
Lalu gadis disampingnya melirik Natsu. "Ya aku juga, mengingat dia sudah menipu kita soal Naruto." Gadis bernama Erza itu membalas ucapan Natsu.
"Menurutku, Lucy tidak menipu kita. Dia hanya tidak tahu identitas asli Naruto." Kali ini pria di samping Natsu juga buka suara, pria berambut hitam itu bernama Gray.
Erza menatap Gray. "Ayolah, Lucy berada satu kamar dengan Naruto, bagaimana mungkin Lucy tidak tahu identitas nya?" Erza berusaha memberi penjelasan yang menurut nya tidak masuk akal, bagaimana bisa Lucy tidak tahu identitas yang menjadi buruannya.
"Atau mungkin dia ingin menghabisi Naruto dengan diam-diam?" Dan pria yang wajahnya ada banyak semacam tindikan itu buka suara, pria itu bernama Gajeel.
"Huh? Maksudmu?" Natsu bertanya kepada Gajeel.
"Mungkin Lucy hanya menyamar menjadi pacar dari Naruto," Mata merahnya menatap Natsu. "dengan begitu ia bisa menghabisi kepala kuning Naruto." Lanjut Gajeel menjelaskan apa yang terlintas di benaknya.
Erza berpikir sejenak, Lucy sudah hampir 2 Minggu tidak bertemu dengan dirinya. Apakah selama itu ia berpergian seorang diri hanya untuk mencari Naruto? Dan untuk apa menunggu waktu lagi untuk menghabisi Naruto? Lucy sudah punya banyak waktu bersama dengan Naruto, dan itu adalah kesempatan untuk menghabisi nyawanya.
Kenapa Lucy tidak melakukannya itu? Atau mungkin Lucy benar-benar memiliki hubungan dengan Naruto. Erza memejamkan matanya, membayangkan kejadian dirinya yang di genjutsu oleh Naruto. Sebelum dirinya di genjutsu, Lucy terlihat sekali membela Naruto, berusaha meyakinkan dirinya kalau hanya salah orang.
Erza tentu tidak akan gampang percaya begitu saja. Terlebih lagi, wujud pria itu sangat mirip dengan target nya.
Dan ternyata benar firasatnya. Dia adalah Namikaze Naruto. Dan Lucy ternyata tidak tahu kalau ternyata pria yang bersamanya adalah targetnya.
Setelah dirinya di genjutsu oleh Naruto, ternyata Natsu dan Gray dikalahkan oleh Naruto. Dirinya sama sekali tidak bisa menganggap enteng Naruto.
Erza sama sekali tidak peduli dengan hubungan Lucy dan Naruto. Baginya target tetaplah target. Apalagi orang yang sudah membayar mahal adalah Mizukage, dan dirinya secara pribadi tidak ingin mengecewakan Mizukage, meski sudah lama tugas yang diberikan belum berhasil mereka selesaikan.
Dan Erza yakin kalau Naruto akan datang ke Iwa, karena di Iwa nanti akan diadakan rapat spesial untuk Naruto. Dan disanalah, Erza akan menghabisi nyawa Naruto.
Berbeda dari kebanyakan tugas yang ia selesaikan, tugas kali ini dengan tegas Mizukage untuk menghabisi nyawa Naruto. Dan itu adalah tugas dari dirinya dan teman-temannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Suara dari bartender itu membuyarkan pikiran Erza. Erza melihat bartender itu sedang berbicara dengan seorang yang duduk di sebelah rekannya, Laxus.
Pria yang mengenakan Hoodie hitam dengan tudung Hoodie yang ia letakan di kepalanya itu terlihat menatap wajah bartender. "Ya, kau bisa mengusir seluruh pelanggan disini." Suara pria yang memakai Hoodie hitam itu sangat jelas. Suara pria itu menarik semua anggota Fairy Tail, dan yang paling terlihat tertarik dengan pria berhoodie hitam itu adalah Erza.
Sementara bartender itu tidak mengerti dan bergidik ketakutan setelah melihat mata merah dari pria di hadapannya itu. Mata itu ia tidak salah lihat, itu adalah Sharingan.
'Brakkkkk'
Dengan sangat cepat, pria dengan rambut pirang dengan nama Laxus itu terkena pukulan dari pria berhoodie itu. Laxus terkena pukulan dari pria yang sekarang berdiri itu, Laxus berada di tumpukan meja yang hancur karena kerasnya pukulan pria berhoodie itu memukulnya.
Sementara orang-orang yang melihat kejadian barusan ada yang berlari menuju pintu keluar dan ada beberapa Shinobi Iwa yang melihat dari dekat ada apa sebenarnya kejadian ini.
Dan Gajeel yang melihat rekan setimnya itu terkena pukulan dan terkapar di bawah, dengan cepat berusaha menendang dada dari pria ber Hoodie itu.
Namun dengan cepat juga pria yang wajahnya belum terlihat itu menangkap betis dari Gajeel, dan memutar badan Gajeel , melempar tubuh berotot Gajeel ke arah 2 orang Shinobi Iwa.
'Brukk'
Tubuh Gajeel yang terlempar dengan cepat menabrak tubuh 2 Shinobi Iwa yang tidak sempat menghindar. Gajeel merasakan tubuhnya sakit setelah mendarat.
Sementara Juvia yang berada di belakang gray, memperhatikan wajah pria yang menjatuhkan 2 orang rekannya. Wajahnya tidak terlalu jelas karena tertutup sebagian oleh tudung Hoodie itu. Tapi Juvia dengan jelas dapat melihat 2 buah pasang Sharingan yang menyala itu.
Dan dengan sinar yang keluar di area telapak tangan Erza, dengan cepat muncul sebuah pedang yang langsung di genggam oleh Erza.
Erza segera mengayunkan pedangnya, mengarahkan ujung tajam dari pedang itu ke pria yang sudah menjatuhkan rekan-rekannya.
"Hiyaaa" Erza bersuara sambil mengayunkan pedangnya. Ujung pedang itu di terarah ke dada pria yang belum dikenali itu.
'Trankkk'
Kali ini suara itu terdengar, suara dari beradunya 2 buah besi. Satu besi berupa pedang, dan satu buah kunai dengan mata 3. Erza tahu kunai itu milik siapa, kunai itu milik Yondaime Hokage, Namikaze Minato.
Wajah dari pria itu masih belum terlihat, namun mata Sharingan itu dapat melihat Erza yang tengah menahan pergerakan kunai yang ia pegang sekarang.
Dan juga mata Sharingan itu melihat ada 2 orang yang bergerak berusaha menyerangnya. 2 orang itu seorang wanita berambut biru dan seorang yang pernah bertemu dengannya.
Gray dan Juvia berusaha kini untuk menendang kepala pria yang menahan serangan pedang dari Erza. Juvia melompat dengan bantuan meja dan Gray yang berlari di sisi kanan Erza. Keduanya mengarahkan telapak kakinya agar bisa mengenai dan menendang kepala pria itu.
Dan pria yang melihat 2 orang itu semakin dekat tendangannya untuk mengenai kepalanya segera menarik kunainya, dan dengan cepat bergerak mundur dengan melompat.
Dan berhasil, pria itu melompat menghindari tendangan Gray dan Juvia, dan mata Sharingan itu kini melihat orang yang juga pernah bertemu dengan dirinya. Pria berambut pink itu berusaha memukulnya.
Natsu yang kini berada di udara berkat melompat mengikuti gerakan pria itu, dan mengarahkan tangannya untuk memukul pria itu. Jarak mereka sudah sangat dekat, dan wajah pria itu melintasi sebuah lampu yang berada di langit-langit bar. Wajah pria itu terlihat oleh Natsu. Membuat pria pink itu makin kesal.
Pria ber Sharingan yang hampir terkena pukulan oleh Natsu segera menggerakkan kakinya, menggunakan dengkul kanan dan dengan cepat berhasil mengenai dagu Natsu.
Natsu melihat pria itu bergerak dengan sangat cepat dan berhasil menendang dagu nya dengan dengkul pria ber Sharingan itu. Dan rasa sakit dari tendangan pria yang sudah Natsu ketahui siapa itu mulai terasa di dagu dan lehernya. Natsu terjatuh setelah tertendang oleh pria itu.
Erza mengeraskan rahangnya, ia sangat kesal sekarang ini, siapa sebenarnya pria itu. Dengan Sharingan dan dengan gerakan yang sangat cepat ia dapat melumpuhkan Laxus, Gajeel dan Natsu.
Sementara pria itu mendarat dengan santai setelah berhasil menjatuhkan Natsu. Dan kali ini pria itu dengan jelas, terlihat wajahnya, karena tudung dari Hoodie nya sudah bergerak.
"Naruto." Erza makin kesal melihat orang yang sudah menyerang teman-temannya adalah seorang yang menjadi targetnya.
"Kita bertemu lagi, Erza Scarlet." Naruto diam dan mengarahkan kunai itu kepada Erza. Naruto dengan tangan kirinya segera melempar kunai itu ke arah Erza,
'Trankk'
Erza berhasil membelokkan arah kunai hasil lemparan Naruto. Dengan jarak tidak terlalu jauh, Erza segera berlari dengan pedang yang masih dipegangnya.
"Kau akan kubunuh Naruto!" Erza berteriak dengan keras.
Sambil mengayunkan pedangnya, Erza semakin mendekat Naruto agar bisa menebas tubuh dari pria itu.
Sementara Naruto melihat Erza yang semakin dekat, tidak bergerak. Kedua tangan masih berada di samping pahanya. "Jadi dia peri ya?" Naruto bergumam mencernanya arti dari Fairy Tail. Mengingat dan melihat wanita itu bisa memunculkan sebuah pedang tanpa adanya fuin atau gulungan. Dan juga wanita itu tidak memiliki aliran chakra.
"Benar-benar menarik" Lagi, Naruto bergumam. Lalu kedua bola mata merah milik Naruto berubah secara perlahan, dan bola mata itu menjadi warna ungu dengan riak yang menyebar di seluruh kedua bola mata itu.
Lalu Naruto mengarahkan telapak tangan kanannya ke hadapan Erza yang makin dekat.
"Shinra Tensei" Naruto mengucapkan nama jutsu yang merupakan salah satu teknik dari Rinnegan-nya.
Erza merasakan sebuah dorongan yang sangat besar dari arah Naruto. Dan dorongan itu seperti angin yang sangat keras langsung menyambar dirinya. Dan Erza merasakan dorongan itu membuat dirinya bergerak mundur, terhempas kebelakang.
'Wrusshhhhhh…'
'Brakkkkkckkk..'
Seketika dorongan yang kuat itu menghancurkan sisi depan bar, membawa kehancuran tepat berada di hadapan Naruto. Tubuh dari Natsu, Erza, Gray, Juvia, Gajeel, dan juga Laxus ikut terbawa akibat jutsu yang Naruto keluarkan. Jutsu tingkat tinggi itu sangat hebat.
Dan bangunan yang hancur itu sudah terlihat tidak bergerak lagi, dan kepulan asap sudah mulai terlihat. Menandakan dahsyatnya dorongan yang terjadi. Kehancuran dari bar itu sangat parah, hanya area di belakang tubuh Naruto yang masih utuh, dan sebaliknya area di hadapan Naruto hancur berantakan.
Naruto melihat runtuhan yang terjadi dan tidak melihat kalau orang yang tadi ingin memukulnya sudah tertimbun dan terpental tak bergerak. Menandakan sudah selesai. Sepertinya ia harus menghadapi orang yang selevel dengannya. Ia tidak mengira kalau Fairy Tail selemah ini. Dan sepertinya para Kage bisa menjadi tandingan yang setara dengannya.
Tubuh Naruto bergerak, memutarkan badannya. Namun, Naruto mendengar ada suara puing reruntuhan yang bergerak. Naruto tersenyum, sepertinya ia akan menghabisi Fairy Tail karena mereka masih bisa bergerak.
Menoleh menatap arah suara dibelakangnya. Naruto melihat kalau suara itu dibuat oleh pria berambut pink. Pria itu memiliki nama Natsu, sepertinya pria pink itu cukup tangguh menahan tendangannya. Terakhir kali Naruto menendang Natsu, pria pink itu langsung tak sadarkan diri.
Natsu sudah berdiri, terlihat ada beberapa bagian bajunya yang robek akibat jutsu Naruto. Terlihat pria pink itu menatap Naruto sangat tajam, tatapan membunuh pria itu juga terlihat jelas. Naruto juga senang dengan tatapan yang Natsu berikan untuknya. Sepertinya Natsu akan memberikan perlawanan balik untuk dirinya, tapi apa yang bisa pria itu lakukan untuk melawannya? Hanya dengan pukulan dan tendangan? Itu sama saja hal konyol.
Atau mungkin, Natsu juga memiliki sebuah jurus seperti Erza, yang bisa memunculkan sebuah pedang atau hal lain? Dari namanya sepertinya mereka ini ada hubungannya dengan peri, seperti namanya, Fairy Tail.
Dan Naruto juga mendengar ada suara puing bangunan lagi yang bergerak. Dan perlahan, puing itu mulai terangkat dan itu adalah pria yang Naruto pukul pertama kali. Naruto belum mengetahui nama dari pria yang terlihat kekar itu.
Dan sama juga seperti Natsu, pria pirang itu kini menatap Naruto dengan tatapan membunuh.
Lalu perlahan Naruto melihat Erza yang kini berusaha untuk berdiri. Dan juga sepertinya pasangan wanita berambut biru dan pria itu saling membantu untuk berdiri. Dan yang terakhir adalah pria yang di wajahnya terdapat semacam tindikan itu berdiri dan langsung bergerak berdiri di samping teman-temannya.
"Aku akan membuatmu menyesal Naruto." Natsu mengucapkan ancaman yang akan dilakukannya.
Akhirnya Naruto membuka tudung Hoodie di kepalanya, membuat rambut yang sudah melewati bahunya itu tergerai. Membuat kedua Rinnegan dan wajahnya dapat terlihat dengan jelas kali ini. Memperhatikan tato yang ada di lengan kanan pria itu, dan tato itu sama dengan yang ada pada Lucy.
Naruto juga melihat tato yang sama ada pada lengan kiri wanita berambut merah itu. Dan juga pria yang wajahnya ada tindikan itu juga sama, memiliki tato yang sama seperti itu, di lengan kiri.
Tapi Naruto belum melihat tato yang sama dari wanita berambut biru dan pria yang bersamanya itu, dan juga pria berambut pirang itu. Nampaknya mereka semua memang benar-benar ada dalam satu kelompok, bisa dilihat dari tato yang sama.
Naruto tersenyum mendengar ucapan Natsu. "Silahkan, kau tentu sangat ingin membawa diriku kepada Mizukage kalian bukan?" Naruto lalu memasang pose tangannya yang dilipat di depan dadanya.
Sementara Erza yang sudah melihat mata dari Naruto, tahu betul mata apa itu. Mata yang konon menjadi milik dari legenda dari dunia ini. Mata yang sangat kuat pastinya. Ia tahu karena ia membaca banyak buku mengenai hal mitos dari dunia ini. Erza akan memberikan informasi tentang hal ini, karena musuhnya kali ini, benar-benar bukan orang sembarangan.
"Kau dengar Natsu, pria itu sangat berbahaya. Kita tidak boleh salah dalam menyerangnya. Karena jika salah sedikit saja. Kita pasti mati." Erza membuat peringatan tentang seberapa berbahayanya pria ini.
"Kau benar." Kali ini Laxus buka suara.
"Kita akan menghabisinya!" Natsu dengan semangat memukul telapak kirinya.
Lalu Gray, Gajeel dan juga Juvia yang mendengar itu menjadi semangat.
Sementara Naruto melihat pria pink yang melakukan gerakan memukul kepalan tangannya itu melihat percikan api terlihat disana. Sebenarnya kekuatan apa yang terdapat pada pria pink itu. Apa kekuatan tersembunyi miliknya?
Mata Rinnegan Naruto melihat ada cahaya yang menyinari tubuh wanita bernama Erza itu. Cahaya itu cukup terang, dan kejadian selanjutnya adalah berubahnya pakaian yang awalnya adalah baju zirah besi kini berubah.
Erza kini memakai celana panjang merah dengan motif api dengan warna kuning dan hitam. Bagian dada Erza hanya dibalutkan dengan perban dan memegang sebilah pedang.
Naruto sekarang tahu apa kekuatan Erza, dia bisa mengubah dan memanggil peralatannya untuk bertarung. Menarik sekali, tanpa chakra kini seseorang sudah bisa menggunakan Fuinjutsu. Dan Rinnegan Naruto, melihat Erza yang berlari ke arahnya, diikuti dengan teman-temannya.
Naruto juga bersiap untuk bertarung dengan mereka semua. Ini kalah jumlah, dan Naruto beum tahu apa kekuatan mereka sebenarnya.
"Yaaaaaa!" Teriak Erza dengan semangat.
Naruto sudah berposisi dengan memegang kunai dengan mata tiga, bersiap untuk menunjukan keahliannya dalam hal beradu teknik jarak dekat dengan Erza dan teman-temannya.
'Trankkk'
Lagi kunai Naruto beradu dengan pedang yang Erza arahkan kepadanya.
Lalu Rinnegan Naruto melihat Natsu dan pria yang wajahnya ada tindikan itu menyerangnya di arah kiri dan kanannya.
Pria berambut hitam itu baru saja merubah tangan kanannya menjadi sebuah pedang, dan juga Natsu mengeluarkan api di tangannya. 'Sebenarnya mereka ini memiliki kekuatan apa?' Tanya Naruto pada dirinya sendiri.
Naruto melompat mundur menghindari serangan keduanya. Dan melihat Erza yang lagi-lagi menyerangnya dengan pedangnya. Erza sangat mahir dalam pertarungan jarak dekat.
Serangan Erza yang selalu Naruto hindari, hingga sekarang berada diatas, di sisa atap bar yang masih utuh. Membuat Naruto melihat dengan jelas, kalau Natsu bisa mengeluarkan api, dan pria berambut hitam panjang itu sepertinya bisa mengubah tangannya menjadi pedang, sementara 3 orang, Gray, wanita berambut biru, dan pria pirang itu belum diketahui kemampuannya.
'Trank'
'Trankkk'
'Trannkkk'
Lagi dan lagi, Naruto bisa menangkis semua serangan pedang dari Erza. Naruto harus akui, walau Erza adalah seorang wanita, tenaga yang wanita itu keluarkan sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Erza sangat bertenaga, dan terlihat sekali aura membunuh ada pada wanita berambut merah itu.
"Apa kau hanya bisa menghindar, Namikaze Naruto?" Dari jarak dekat Erza berteriak kepada Naruto, karena dari tadi Naruto selalu menepis dan menghindari serangannya.
Naruto mendengarkan dengan sangat baik apa yang Erza katakan. Dirinya untuk saat ini ingin tahu kemampuan mereka.
"Nampaknya kau memiliki kemampuan yang sangat baik Erza!" Balas Naruto mengakui kemampuan dari Erza.
Dan dengan cepat dua orang lain, yaitu Natsu dan Gajeel ikut bertarung dengan jarak dekat dengan Erza. Gajeel mengeluarkan pedang pada tangan kanannya, sementara Natsu mengeluarkan api pada tangannya.
Naruto dengan Rinnegan nya, melihat dengan cepat kalau serangan yang Natsu dan Gajeel lakukan sama sekali tidak menggunakan chakra. Naruto terus bergerak mundur, menghindari pukulan api dari Natsu dan tebasan dari Gajeel.
Naruto melompat ke bawah, lalu berlari menuju pepohonan, dan diikuti oleh lawannya. Kepala Naruto bergerak dengan sangat cepat begitu Erza dengan cepatnya berusaha menebas lehernya ketika melompat. Dan melihat Natsu yang kini sudah mengeluarkan api pada kedua tangannya.
Naruto dalam posisi terdesak, dia sekarang ini masih dalam posisi bertahan. Naruto melompat, dari dahan pohon ke dahan lain. Di ikuti oleh Erza yang masih berada beberapa langkah dibelakangnya.
Namun kali ini ia kaget begitu melihat di samping kiri dan kanannya sudah bertambah, kini pria bernama Gray dan Wanita berambut biru bernama Juvia kini bergabung untuk menyerangnya.
Dan yang menjadi perhatian Naruto adalah, setiap dahan pohon yang di injak oleh kaki Gray menjadi beku, sementara wanita bernama Juvia itu tidak, begitu juga dengan Erza, Natsu, dan Gajeel.
'Sepertinya pria bernama Gray itu memiliki kemampuan Es.' Ucap Naruto di dalam hati.
Naruto mempercepat lompatannya dari dahan pohon ke dahan pohon yang lain. Berusaha mencari tahu apa saja kekuatan dari masing-masing para Peri itu.
'Dimana pria pirang itu?' Gumam Naruto merasakan pria itu tidak mengikutinya.
Lalu Naruto melompat dari dahan, dan melihat wanita berambut biru yang mempunyai nama Juvia itu kini sudah berada sangat dekat disampingnya. Naruto membalik posisi kunainya, dan dengan sedikit melompat menebas leher wanita berambut biru di sampingnya itu.
Dan Naruto sangat terkejut, dirinya sudah sangat yakin kalau wanita berambut biru itu tidak memiliki aliran chakra, dan juga ia mengenai tepat pada bagian leher wanita itu. Tapi kenapa wanita itu seperti mencair pada bagian lehernya. Apakah wanita itu mempunyai kekuatan air?
Dengan posisi yang sedikit membalikkan badan, Naruto melempar kunai yang ia pegang kearah Juvia tepat pada bagian kepalanya. Dan lagi-lagi Naruto terkejut, kalau kunai yang seharusnya membuat darah mengalir di kepala birunya itu, malah menembus seperti menembus air.
Jadi sepertinya mereka ini benar-benar memiliki kekuatan yang spesial. Tidak salah Mizukage menyewa Peri seperti mereka.
Naruto mempercepat lompatannya, dan kini secara mengejutkan Natsu dapat menyamai langkahnya, kini Naruto dan Natsu dalam jarak yang sama.
Naruto mengeluarkan besi hitam di telapak kirinya, dan dengan gerakan cepat berusaha menusuk Natsu. Tapi Natsu memukul besi hitam pada tangan Naruto dengan pukulan yang dilapisi oleh api yang Naruto akui itu sangat panas.
Di sisi kiri ada Natsu dan Juvia, di sisi kanan ada Gray dan Gajeel, sementara di belakang ada Erza yang berjarak tidak jauh dari Naruto. Mereka sangat cepat mengikuti lompatan demi lompatan seperti yang Naruto lakukan.
"Ice Make : Ice Sword." Naruto melirik ke sisi kanannya, dan ternyata Gray sudah membuat sebuah pedang dengan es.
Natsu dengan kepalan api dan Gray dengan pedang es nya. Mereka benar-benar di luar perkiraan Naruto.
Erza dengan teknik seperti Fuinjutsu, Gajeel yang bisa mengubah tangannya menjadi pedang, dan wanita air. Mereka benar Peri, sama seperti namanya Fairy Tail.
"Mati kau, brengsek!"
Namun dengan sangat cepat Naruto di tendang oleh Laxus yang secara mengejutkan muncul dihadapannya. Tubuh Laxus kini dilapisi oleh aliran petir berwarna kekuningan.
Tubuh Naruto terpental, menabrak dahan pohon dan akhirnya berhenti usai menabrak pohon besar. Punggung Naruto merasakan sakit berkat pendaratan yang tidak direncanakan. Terlebih lagi, bagian perutnya mengalami sakit, akibat tendangan yang berhasil mengenai dirinya.
Sepertinya pria kekar berambut pirang itu memiliki kecepatan dan kekuatan petir, dapat dilihat dari kilatan yang berada di sekitar tubuh pria itu.
Naruto kini sudah berdiri, dan melihat kalau dirinya berada di tengah dari Fairy Tail.
Naruto berada di tengah lingkaran. Erza, Natsu, Juvia, Laxus, Gray, dan Gajeel membuat lingkaran yang menjadikan Naruto pusatnya.
Memperhatikan satu per satu wajah dari enam orang itu, Naruto tersenyum. "6 lawan 1, sepertinya tidak adil." Naruto berucap kepada Fairy Tail.
Erza yang sepertinya menjadi tatapan terakhir Naruto sebelum pria itu tidak lagi melihat wajah yang lain.
"Kau akan mati, Naruto." Ujar Erza sambil mengacungkan pedangnya ke arah Naruto.
Lalu Naruto yang merasakan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar akibat tendangan di perutnya itu, menggerakkan tangannya dan mengelap darah itu dengan jempolnya.
"Kuchiyose no Jutsu!" Lalu Naruto segera berjongkok dan meletakan telapak tangannya ke tanah.
'Poof
'Poof
'Poof
'Poof
'Poof
'Poof
'Poof
'Poof
'Poof
'Poof
'Poof
Dan jutsu pemanggilan itu berhasil, sekarang kondisinya berbalik. Fairy Tail kini yang kalah jumlah.
"Sudah kubilang, 6 lawan 1 itu tidak adil." Naruto masih berposisi di tengah-tengah dari Fairy Tail. "11 lawan satu, sepertinya adil untuk kalian." Lalu dengan cepat Naruto menghilang dan langsung muncul di hadapan Laxus.
Naruto kini dengan sangat cepat sudah memegang sebuah tombak yang ia curi dari Iwa. Dengan sekali tebasan, Laxus tidak bisa menghindar serangan pria bermata Rinnegan itu.
'Jrashhhh'
Tangan kanan Laxus terputus oleh tebasan tombak Naruto.
Erza, Natsu, Gray, Gajeel, dan Juvia tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang, tidak ada 1 detik, tapi Naruto sudah berhasil membuat tangan kanan pria yang terkenal dengan kecepatannya terpisah dari badannya.
"Arghhhhh!!!" Jerit Laxus saat merasakan rasa sakit yang mulai menyebar keseluruh badannya akibat kehilangan tangan kanannya.
Lalu Naruto melompat ke dahan pohon yang lebih tinggi. "Sepertinya kalian yang akan mati, Fairy Tail." Lalu Naruto melipat kedua tangannya didepan dada dan memasang wajah meremehkan.
Natsu sangat-sangat kesal saat ini, melihat teman-teman nya, terutama Laxus yang terlihat sangat kesakitan akibat kehilangan tangannya. Lalu Natsu memperhatikan wujud yang kini sudah jelas terlihat.
Mereka semua memiliki mata yang sama, Rinnegan. Dan mereka semua memakai pakaian yang sama, Kostum Akatsuki. Dan juga, mereka mempunyai warna rambut yang sama, kuning.
Siapa mereka? Apakah mereka Akatsuki juga? Tapi Naruto baru saja memanggil mereka. Atau mereka hanya bunshin Naruto?
TO BE CONTINUE
.
.
.
.
.
.
.
Hai:) maaf banget ya setelah 2 tahun ini, saya baru bisa update sekarang, maaf banget T_T
Saya awalnya emang udah ilang mood bangeeeeeeeeetttttt buat lanjutin ini cerita, tapi entah kenapa stelah saya baca ripiew dan baca ulang cerita, ada semangat lagi buat ngetik. Ditambah juga, kita semua kan lagi #dirumahaja jadi yah, saya kembali.
Mohon beri saya semangatnya ya, biar bisa update next chapter secepatnya.
TERIMA KASIH BANYAK BUAT KALIAN YANG SUDAH BERSEDIA BACA FIC INI, KARENA SAYA SANGAT TAU KALO FIC INI SANGAT KACAUUUUUU, TERUTAMA DI AWAL CHAPTER.
Terima kasih buat yang masih setia nungguin ini cerita gaje3
Kritik, saran, flame saya terima XD
