Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 2
Kelahiran Sang Penyelamat dan Sang Penguasa 2 Takdir
Suatu malam dihari hallowen, didalam sebuah Hutan yang disebut hutan kegelapan atau hutan tanpa ujung. Berdiri sebuah Manor megah yang tersembunyi dari dunia luar.
Disebuah tempat dalam manor itu, berkumpul suatu kaum yang memiliki 2 takdir atau nasib melakukan sebuah ritual untuk kelahiran kembali seorang penguasa yang akan menentukan nasib kaum tersebut.
Seorang wanita dengan mata sekelam malam, rambut semerah darah dan kulit sepucat mayat berdiri di depan para kaum tersebut.
"Disini kita berkumpul, menyambut kelahiran kembali sang penguasa 2 takdir yang akan membawa dan membimbing kita pada takdir sesungguhnya, tempat kita seharusnya berada. Disini sebelum kita melakukan ritual untuk menyambut penguasa yang baru, aku ingin kalian semua bersumpah akan setia pada sang penguasa dan mengikuti apapun takdir yang dia pilih dan kuharap kalian tanamkan dalam hati masing-masing untuk mempercayai bahwa apapun takdir yang dipilih oleh sang penguasa adalah yang terbaik. Apakah kalian bersedia? Bila ada yang keberatan dalam hal itu, katakan sekarang atau tidak sama sekali"
Salah seorang dari kaum tersebut, seorang pria dengan mata biru bagaikan emerald, berambut coklat, dengan kulit sawo matang berkata,
"Aku terlahir bersama kaum ini maka aku pun akan akan mati bersama kaum ini"
Banyak suara yang menyetujui pendapat tersebut lalu salah seorang wanita dari kaum tersebut berkata,
"Benar, memang kita terlahir dengan 2 takdir tapi kami percaya apapun takdir yang ditentukan oleh sang penguasa adalah pilihan yang terbaik, bagi kami hal ini adalah sebuah kebanggaan menjadi salah satu dari kaum yang memiliki kekuatan dari 2 takdir"
Sekali lagi banyak suara yang menyetujui hal tersebut. Memang kaum mereka terkenal sebagai kaum yang paling kuat karena memiliki 2 kekuatan dari 2 dunia tapi bila takdir mereka telah ditentukan mereka harus berusaha untuk tidak menggunakan kekuatan dari salah satu dunia tersebut kecuali bila hal tersebut terpaksa tapi bila takdir mereka belum ditentukan mereka bebas menggunakannya. Namun, selalu ada konsekuensi dari kekuatan sihir yang besar.
Untungnya semua anggota kaum tersebut memihak pihak grey atau netral karena mereka tidak ingin terjerumus dalam sebuah masalah sebelum sang penguasa muncul. Mereka tidak pernah ikut campur dalam masalah faksi sihir cahaya atau kegelapan kecuali bila masalah tersebut menyangkut nyawa banyak orang.
Memang kehidupan mereka tidak terlihat dalam bahaya tapi sebenarnya nyawa mereka setiap saat selalu terancam.
Setelah mendengar pendapat dari semua anggota. Wanita bermata gelap itu menganggukkan kepalanya pertanda dia mengerti akan keinginan hati dari para anggota lalu diapun maju dan berdiri di depan sebuah altar.
"Baiklah kalau memang itu keinginan kalian"
Mata hitamnya tertuju kearah bulan purnama yang bersinar dengan warna yang berbeda dari biasanya, malam itu bulan bersinar dengan warna semerah darah. Sungguh suatu hal yang sangat cocok untuk malam hallowen.
Wanita itu kemudian berkata,
"Waktunya hampir tiba, ayo kita mulai ritualnya"
Wanita itu lalu mengangkat tangannya sedangkan anggota lainnya mulai menggelilingi wanita itu sambil saling bergandengan tangan berusaha untuk berkonsentrasi menggapai inti sihir yang mereka miliki lalu mengalirkan kekuatan itu kearah sang wanita.
"Wahai sang penguasa Zeus yang perkasa tunjukkanlah tanda kelahiran kembali sang penguasa 2 takdir, jawablah doa yang kami lantunkan"
Altar dihadapan wanita itu mulai bersinar dan terbelah menjadi dua setelah itu terlihat sebuah portal berwarna hitam kelam dan tidak lama kemudian dari dalam portal tersebut keluar seorang wanita berparas cantik dengan mata dan rambut segelap malam dan kulit seputih salju.
Dia melihat kearah sang wanita yang mengucapkan sumpah tadi, lalu berkata,
"Wahai sang Amore, doa kalian telah didengar oleh sang penguasa Dewa Zeus yang agung, aku telah diutus untuk memberitahukan apa saja tanda dari sang penguasa 2 takdir. Dia akan lahir dari darah murni kaum ini, memiliki mata dengan warna yang tidak menunjukkan 2 takdir itu dan dia pun memiliki sebuah tanda yang akan muncul ketika usianya 13 tahun dan pada usia ini dia akan mendapatkan kemampuannya secara utuh dan sampai saat itu tiba, aku ingin kalian semua membimbing dan menjaganya"
Wanita yang di sebut sebagai sang Amore mengganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Baik saya mengerti Dewi nuntius deus dea. Tapi, ada satu hal yang mengganjal dalam diri saya yaitu bila tanda yang menunjukkan sang penguasa muncul pada usia 13 tahun lalu bagaimana kami bisa membimbing dan menjaganya di usia sebelum itu?"
Bila harus jujur sang Amore kurang mengerti karena pada masa ini saja tanda seorang penguasa berbeda dari penguasa sebelumnya, karena pada umumnya sang penguasa telah memiliki kekuatan secara utuh dan tanda sejak ia dilahirkan.
Dewi nuntius deus dea tersenyum dengan ramah lalu berkata,
"Sudah kuduga kau akan bertanya mengenai hal itu. Tanda sang penguasa pada masa ini memang berbeda karena pada masa ini telah diramalkan kehidupan dunia sihir dan muggle akan dipenuhi oleh sebuah kegelapan yang kekuatannya semakin hari semakin besar, dunia kegelapan memiliki seorang ketua yang sangat kuat"
lalu sang Amore berkata dengan pelan "Voldemort!"
"Ya, itu benar"
"Tapi Dewi suatu saat mungkin kami akan menjadi salah satu dari pihak kegelapan atau pihak cahaya lalu kenapa kami harus menyembunyikan sang penguasa?"
"Aku mengerti maksudmu sang Amore tapi seperti yang kukatakan kita tidak bisa membiarkan sang penguasa terancam, bila pihak kegelapan mengetahui hal ini mungkin mereka akan memaksa sang penguasa untuk mengikuti pihak mereka, bukanah kau tahu apa akibatnya bila sang penguasa memilih takdir yang bukan datang dari hatinya. Dewa Zeus telah memutuskan hal tersebut, dia tidak ingin kejadian beribu tahun yang lalu terulang kembali. Kalian mengerti?"
"Ya, kami mengerti" ucap sang Amore
"Lalu mengenai pertanyaanmu yang sebelumnya untuk mengenali sang penguasa, aku akan memberikanmu sebuh medalion, medalion ini hanya dapat di pakai oleh sang penguasa dan bila ada orang lain yang mencoba menggunakannya dia akan mati dan medalion ini akan bersinar setiap saat sang penguasa mengeluarkan kekuatannya juga berfungsi sebagai penahan kekuatan bila sang penguasa mengeluarkan kekuatannya secara berlebihan yang dapat menyebabkan dia kehilangan nyawanya"
Sang Amore menerima medalion itu dari Dewi, sebuah medalion berbentuk lingkaran dengan gambar naga di tengahnya.
"Sang penguasa akan dijaga oleh hewan yang merupakan gambaran jiwanya, dia akan menjaga sang penguasa"
"Dewi bukankah itu adalah tugas kami?"
"Ya itu benar. Namun, seperti yang kukatakan sang penguasa pada masa ini berbeda dengan penguasa pada masa yang lalu. Penguasa pada masa lalu, dia akan tinggal dibawah pengawasan kalian tapi sang penguasa pada masa ini berbeda dia akan tetap tinggal bersama orang tuanya dan saat kalian tidak bisa mengawasi dan menjaganya dari dekat maka naga tersebut yang akan melakukannya. Satu lagi medalion itu akan langsung terpasang pada leher sang penguasa ketika berada didekatnya dengan begitu kalian tahu siapa sang penguasa masa ini"
"Ya, kami mengerti" sekali lagi sang Amore mewalkili kaumnya berbicara.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa kembali saat sang penguasa mendapat kekuatannya secara utuh. 13 tahun lagi"
Lalu Dewi berjalan kearah portal dan tidak lama kemudian portal itu tertutup.
"Seperti yang telah kalian dengar dari Dewi Nuntius deus dea, sang penguasa pada masa ini berbeda dengan penguasa sebelumnya dan disini kesetiaan kita akan diuji. Apakah kalian sanggup?"
"Ya, kami sanggup" Ucap seluruh kaum tersebut
"Baiklah, tidak akan lama lagi kita akan mengetahui siapa sang penguasa selanjutnya dengan medalion ini. Benda ini akan menunjukkan di mana sang penguasa berada dan sebagai tanda bahwa ia adalah sang penguasa 2 takdir. Princeps duos"
DDDUUUAAARRR…
Tiba-tiba pintu ruangan ritual itu meledak, dipintu yang bentuknya suda tidak jelas berdiri seseorang dari pihak kegelapan yang merupakan ketua dari pihak tersebut dan terkenal sebagai penyihir paling kejam di dunia sihir, Voldemort.
"Hm, aku mendengar hal itu. Bila aku memiliki medalion itu maka aku akan menjadi penguasa 2 dunia kekuatan sihir"
Sang Amore menyembunyikan medalion tersebut,
'Jangan sampai dia melihat medalion ini' ucapnya dalam hati.
Sang Amore lalu berkata,
"Oh, senang sekali kau dapat berkumpul dengan kami di acara ini Voldemort walaupun cara kau datang sama sekali tidak dapat diterima bahkan kau sama sekali tidak diundang. Apakah kau tidak punya malu?"
Voldemort memandang sang Amore dengan tatapan siap membunuh,
"HEI… jangan kau mengalihkan pembicaraan serahkan medalion itu padaku maka tidak akan ada pertumpahan darah di ruangan ini" ucanya sambil menyeringai
Salah satu dari kaum tersebut berkata,
"HEI… Voldemort lancang sekali tubuh kotormu itu menginjakkan kaki di ruangan suci ini. Apa kau bilang tadi? Kau ingin menjadi penguasa 2 dunia? Hah, jangan pernah mengatakan suatu hal yang hanya ada dalam mimpimu"
"Oh, sayang sekali tapi kau harus ingat aku adalah penyihir paling kuat dan penguasa yang kalian impikan itu pasti akan tunduk dihadapanku dengan kata lain aku adalah penguasa dari sang penguasa" ucap Voldemort dengan bangga.
"Berani sakali kau berkata seperti itu, penguasa dari sang penguasa adalah Dewa Zeus yang agung. Kau tidak ada apa-apanya dan juga bila takdir kami berada di pihak kegelapan itu karena kami tunduk pada sang penguasa bukan pada penyihir lancang dan gila sepertimu" ucap sang Amore dengan marah.
"BERANI-BERANINYA KAU BERKATA SEPERTI ITU MANUSIA RENDAHAN, AVADA KEDAVRA" ucap salah satu Death Eater yang bernama Bellatrix Lestrange nee Black.
Ketika mantra itu mengarah ke sang Amore, dengan sigap ia menciptakan pelindung dengan mantra non-verbal,
"Apa kau bilang? Manusia rendahan? Kaum kami adalah kaum penyihir paling tua dan paling murni dan kau hanyalah seorang penghianat dari keluargamu, sayang sekali keluarga Black yang merupakan salah satu dari bagian kaum ini dan juga keluarga terhormat di negeri sihir harus kehilangan mukanya hanya karenamu"
"KAU TIDAK BERHAK PERPENDAPAT TENTANG HIDUPKU" balas Bellatrix dengan geram
"Oh my lord izinkanlah aku menghabisi tikus keparat ini"
"Silakan, tapi ingat! siksa dia sampai dia dengan sendirinya menginginkan kematian dan ambil kenang-kenangan untukku, aku ada urusan lainnya yang lebih penting, kuserahkan semua padamu" Voldemord melangkah pergi meninggalkan para minionnya.
"Terima kasih my lord. Tenang saja semuanya akan beres" ucap Bellatrix sambil menyeringai
"SERANG…" teriak Bellatrix menggema
Sang Amore yang sudah menduga akan terjadi seperti ini segera mengaktifkan medalion tersebut agar langsung pindah ke sang penguasa, ketika medalion itu sudah aktif sang Amore membacakan mantra lalu medalion itu menghilang.
Menyadari terjadinya pertempuran yang sia-sia, sang Amore segera membaca mantra non verbal untuk ber-Apparate lalu dengan kecepatan cahaya seluruh kaum yang sedang bertarung tersebut menghilang.
Sebelum pergi Sang Amore mengatakan pada Bellatrix,
"Katakan pada tuanmu itu, kami tidak akan pernah tunduk padanya apalagi pada half blood seperti dia"
"SIAL… CRUCIO" teriak Bellatrix sambil melempar mantra kutukan kearah sang Amore yang telah menghilang.
-o0o-
Disuatu tempat malam yang sama, tepatnya di Godric's Hollow. Berdiri sebuah rumah sederhana tapi nyaman dan tentram bila dilihat dari luar tapi sesungguhnya penghuni dari rumah itu sedang merasa cemas karena mereka tahu tidak akan lama lagi akan ada bahaya yang sangat besar mendekat.
Seorang wanita berambut merah yang sedang menggendong bayinya yang baru berumur 1 tahun bertanya pada suaminya
"James apa kau yakin kita sudah aman? Aku merasa akan ada kejadian buruk malam ini"
"Aku juga sangat cemas Lili, tapi tenang saja aku percaya pada Peter. Dia akan menjaga rahasia keberadaan kita" ucap James pada istrinya sambil mengusap kepalanya dan tersenyum pada anak pertamanya.
"lebih baik kau sekarang istirahat kau pasti lelah, lihat angel kita sudah tertidur dari tadi. Aku akan berjaga diluar" ucap James sambil meninggalkan ruangan kamar anaknya
"My little angel, jangan takut ya ibu akan selalu menjagamu. Oya ibu ada hadiah untukmu, lihat kalung ini akan mengingatkanmu pada kami dimanapun kau berada dan juga akan menjagamu, kalung ini diwariskan secara turun-temurun di keluarga ayahmu" ucap Lili sambil tersenyum dan memakaikan kalung itu pada putranya.
Setelah memakaikan kalung itu Lili mencium pipi putranya,
"My angel, Harry Potter"
DDDUUUAAARRR…
Tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar suara meledak dan pada saat itu pula Lili tahu James telah meninggalkannya dan Lili pun akan segera menyusulnya tapi dia akan tetap melindungi putranya. Dengan panik dia menaruh Harry kecil di tempat tidur yang menangis dengan keras.
"Jangan menangis Harry, ibu akan pastikan kau akan baik-baik saja" lalu Lili membacakan mantra non-verbal pada Harry dan setelah ia selesai membacanya pintu kamar itu terbuka dengan suara seperti ledakan.
DDDUUUAAARRR…
"Aku mohon jangan putraku"
"Avada Kadavra" Seketika itu Lili Potter menghembuskan nafas terakhirnya
Di pintu itu berdiri seorang pria angkuh dan kejam, Voldemort tersenyum bangga akan hasil perbuatanya, Harry kecil masih menangis lalu Voldemort mendekati tempat Harry berada
"Oh, kau pasti sangat ketakutan. Tenang saja mahkluk lemah, aku akan menghilangkan rasa ketakutanmu itu dengan cara yang sangat cepat bahkan kau tidak akan merasakan apa-apa lagi dalam hidupmu karena hidupmu akan berakhir sampai disini AVADA KEDAVRA"
Voldemort melancarkan kutukan tidak termaafkan kearah Harry kecil lalu secepat kilat mantra itu malah berbalik kearahnya dan Voldemort pun musnah.
Pihak kementrian baru tiba di lokasi dan pada saat itu mereka menemukan tubuh James dan Lili Potter sudah tidak bernyawa, malam itu semuanya sedih akan kepergian 2 orang yang sangat luar biasa itu tiba-tiba terdengar suara bayi dan saat itu secercah harapan telah tumbuh kembali di dunia sihir.
TBC
Author Note:
Sang Amore = sang penghubung
Dewi Nuntius deus dea = dewi pengantar pesan dewa
Princeps duos = Sang penguasa 2 dunia
Gimana cerita chapter satu ini?
Tolong saran & kritiknya yaw…
Terima kasih
