Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 3
Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry
Suatu pagi yang cerah di sebuah tempat di London yang bernama Privet Drive tepatnya rumah yang bernomor 4.
Seorang anak laki-laki bertubuh gempal bolak-balik berlari ditangga, membangunkan seorang anak laki-laki lain yang kamarnya tepat dibawah tangga tersebut.
"BANGUN KAU PEMALAS" teriak anak gempal itu
Well, setidaknya anak laki-laki ini tidak perlu jam weker karena sudah ada jam weker berjalan yang tidak lain sepupunya sendiri.
"HARRY BANGUN…" teriak seorang wanita sambil mengedor-ngedor pintu ruangan kecil itu.
"Iya, aku sudah bangun bibi Petunia" ucap anak laki-laki kurus itu yang ternyata bernama Harry
Dia seorang anak laki-laki yang mempunyai sebuah luka berbentuk petir di jidatnya, mata hijau bagai emerald mirip seperti milik ibunya dan mempunyai rambut yang sangat berantakan walaupun ia sudah menyisirnya tapi tetap saja rambutnya itu tidak mau rapi, kelihatannya itu memang sudah turunan dari ayahnya.
Dia tahu mengenai ciri-ciri orang tuanya walaupun sebelumnya dia tidak pernah bertemu dengan mereka, dia tahu karena memiliki sebuah kalung yang didalamnya ada foto orang tuannya sedang berdansa tapi dia heran mengapa gambar tersebut bisa bergerak.
Pernah sekali dia menanyakan hal itu pada bibinya tapi bibinya malah berteriak histeris dan mengatakan dia aneh, sejak itu Harry tidak pernah bertanya mengenai hal itu lagi dan disamping foto orang tuannya ada sebuah batu rubi berwarna hijau sama seperti matanya, Harry menganggap batu itu bisa menyerap segala kesedihannya jadi jika Harry merasa rindu dengan orang tuanya, dia akan menggenggam batu itu dan Wuss... kesedihannya terasa menghilang.
ketika Harry membuka pintu kamar kecilnya, tiba-tiba anak gempal atau sepupunya itu berlari dan menutup kembali pintu itu sehingga kepala Harry terjedot.
Sambil mengusap kepalanya, Harry melangkah menuju dapur.
"Cepat buatkan sarapan jangan sampai putraku yang manis dan sedang berulang tahun ini kelaparan" perintah bibi Petunia. Kakak dari ibunya Harry, Lili.
Dia adalah wanita yang memiliki tubuh tinggi dan kurus, berambut pendek dengan leher yang jenjang.
"Baik, bibi Petunia" jawab Harry
Dengan cekatan Harry mulai membuat sarapan pagi. Tentu saja dia sudah sangat terampil mengingat dia sudah melakukan hal ini bertahun-tahun. Bukan hanya memasak dia juga terampil melakukan semua pekerjaan rumah lainnya, dia sudah seperti seorang pembantu di rumah keluarganya itu.
Hari ini sepupunya yang bernama Dudley Dursley berulang tahun, seperti biasa paman dan bibinya selalu memanjakannya, pantas saja dia tumbuh menjadi seorang anak yang manja dan juga gendut.
Keluarga Dursley sudah mengasuhnya sejak dia kecil sampai 9 tahun lebih dan sebentar lagi menjadi 10 tahun karena tidak akan lama lagi Harry akan berulang tahun yang ke-11.
"Boy, siapkan kopi untukku" perintah pamannya yang bernama Vernon, dia memiliki tubuh yang sangat gendut sampai lehernya pun tidak kelihatan sangat berbanding terbalik dengan istrinya.
Dengan cepat Harry menyiapkan kopi pamannya dan meletakkannya di hadapan Vernon.
"Dudley, tolong ambil surat didepan" perintah vernon pada putranya –sangat berbeda jauh saat dia memberi perintah pada Harry, tidak ada kata tolong- dengan wajah kesal Dudley menghadap ayahnya dan berkata,
"Kenapa harus aku? Suruh saja Harry, hari ini aku kan berulang tahun seharusnya aku itu di manjakan bukannya di suru-suru"
Setelah mendengar parkataan putranya itu Petunia membenarkan perkataan Dudley lalu menyuruh Harry untuk mengambil suratnya.
Dengan wajah kesal Harry melangkah ke pintu depan dan saat dia membuka pintu Harry melihat seekor burung hantu
'aneh' pikir Harry
Harry segera menutup pintu dan mulai melihat surat-surat itu ditujukan untuk siapa saja. Sambil menyerahkan surat ke arah pamannya, Harry menemukan sebuah surat yang ternyata bukan untuk Vernon atau Petunia tapi untuknya.
Ketika Harry hampir saja membuka segel surat itu, tiba-tiba Dudley mengambil surat itu lalu berlari kearah orang tuanya
"Dad lihat si aneh mau membaca surat yang bukan untuknya" teriak Dudley
Merasa tidak terima Harry berteriak "Hay, itu surat untukku"
"Hah, surat untukmu? Mimpi, memangnya siapa yang mengirimkannya padamu? Kau sama sekali tidak kenal siapa-siapa" ucap pamannya yang tidak percaya pada perkataan Harry tapi pada saat ia melihat gambar dari segel tersebut Vernon dan Petunia saling berpandangan.
"Tidak ada surat untukmu" hardik Vernon dengan melempar surat itu kedalam perapian sambil tersenyum, kalau boleh jujur adalah senyuman paling jelek menurut Harry.
Setelah kejadian itu keluarga Dursley dan Harry akan pergi ke kebun binatang sabagai hadiah tambahan untuk ulang tahun Dudley. Saat Harry mau naik ke mobil tiba-tiba kerah bajunya ditarik dengan kasar oleh pamannya.
"Ingat boy! Jangan pernah membuat masalah kalau tidak, aku akan pastikan kau akan mendapat hukuman yang berat kau mengerti?" Mata Vernon memicing tajam pada Harry yang membalas dengan anggukan kepalanya.
"Bagus, sekarang cepat masuk mobil" perintah Vernon
Dikebun binatang, Harry berkeliling seorang diri tanpa pengawasan paman ataupun bibinya, menurutnya itu lebih baik.
Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seekor ular besar yang sedang melilitkan tubuhnya di sebuah batang pohon kering, ular itu sama sekali tidak bergerak tapi matanya tetap memandang dengan tajam.
"kelihatannya kita berdua sama, terkurung disebuah tempat yang tidak kita inginkan tapi setidaknya kau lebih beruntung karena kau tidak terkurung bersama orang-orang menyebalkan dan tukang perintah" Harry merasa perkataannya dimengerti oleh ular itu karena dia menoleh pada Harry.
Tiba-tiba Harry terjatuh karena tubuhnya didorong kesamping dan tentu saja pelakunya adalah sepupunya sendiri, Dudley.
"Hey, ular bodoh kenapa kau tidak bergerak? Ayo bergerak" teriak Dudley sambil memukul-mukul kaca yang menutup kandang ular itu.
Harry yang merasa sangat kesal pada Dudley memandangnya dengan tatapan tajam
'Oh andai saja sebuah tatapan bisa membunuh' pikir Harry
Tiba-tiba saja kaca yang menutupi kandang itu menghilang sehingga Dudley terjatuh kedalamnya. Melihat hal itu Harry sangat terkejut ditambah lagi ular yang berada dalam kandang itu mulai bergerak dan melangkah keluar, Dudley yang melihat hal itu sangat ketakutan dan tidak dapat bergerak.
Saat ular itu berada di luar kandangnya, ular itu menatap Harry dan berkata,
"Terima kasih" Harry yang masih shock akan kejadian itu hanya bisa berkata "Any time".
Hanya dengan hitungan detik kebun binatang itu menjadi ricuh karena lepasnya seekor ular boa sedangkan Dudley pada saat dia ingin keluar ternyata kaca pembatas itu muncul kembali sehingga Dudley terperangkap didalamnya dan pada saat Petunia melihat kearah putranya, dia berteriak histeris.
Sesampainya di rumah Privet Drive no. 4, Harry diseret dengan kasar oleh Vernon yang wajahnya memerah karena menahan murka.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan membuat masalah?"
"Tapi aku sama sekali tidak tahu apa-apa" ucap Harry mencoba membela diri
"DIAM… kau anak aneh masuk ke kamarmu, sebagai hukuman kau tidak akan mendapatkan makan malam" Teriak Vernon sambil menyeret Harry keruangan kecil dibawah tangga yang sangat jauh dari kata kamar.
Tiba-tiba Petunia menepuk pundak suaminya sambil memandang kearah bawah. Disana ada lima buah surat yang sama dengan pagi tadi, surat untuk Harry yang sama sekali belum dia baca.
Hari demi hari berlalu surat-surat itu terus datang dengan jumlah yang semakin banyak sehingga Vernon menutup lubang surat di pintu rumahnya dan Harry masih tidak bisa membaca surat-surat itu karena setiap surat itu datang, pamannua akan langsung merobek atau membakarnya.
Disuatu pagi hari yang cerah yaitu hari minggu keluarga Dursley sedang bersantai diruang tengah sambil menikmati teh hangat dan seperti biasa Harry sebagai pelayannya.
"Hah, aku suka sekali hari minggu. Apa kau tahu kenapa, Boy?" tanya Vernon dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Karena tidak ada surat di hari minggu?"
"Yap kau benar, tidak ada surat di hari minggu. Aku sangat merindukan hari-hari yang tenang seperti ini" ucap Vernon sambil menggigit biskuit ditangannya.
Harry melihat kearah luar rumah, disana banyak sekali burung hantu bertengker dimana-mana. Saat itulah kejadian yang aneh terjadi, ada sebuah surat melayang kearah Vernon saat dia melihat surat itu ternyata itu adalah surat yang sama dengan sebelumnya.
Tiba-tiba ada suara bergemuruh seperti gempa lalu dari dalam perapian di ruangan itu keluar banyak sekali surat. Harry yang melihat hal itu segera berusaha mendapatkan salah satu surat tersebut.
Ketika dia mendapatkannya, Harry segera berlari ke arah kamarnya namun ditahan oleh Vernon yang berusaha merebut surat ditangan Harry.
Tiba-tiba saja lubang surat yang ada pada pintu rumah itu terbuka lalu surat-surat yang sama masuk dengan jumlah yang tidak sedikit. Dengan panik Vernon berteriak,
"CUKUP, kita akan pindah"
Akhirnya keluarga Dursley dan Harry pindah disebuah tempat terpencil dan jauh dari kehidupan. Malam itu adalah malam sebelum Hallowen dengan kata lain tepat tengah malam nanti saat pergantian hari terjadi Harry akan berusia 11 tahun.
Tinggal beberapa menit lagi usianya akan bertambah, Harry menoleh kearah jam tangan digital Dudley yang tidur disampingnya, jam itu berbunyi menandakan hari baru telah datang setelah itu Harry meniup gambar kue tar di lantai rumah itu yang masih berupa tanah.
"Happy birthday Harry"
BBBRRRAAAKKK…
Tiba-tiba saja pintu rumah itu terjatuh, Harry sangat terkejut bahkan Dudley terbangun dari tidurnya. Disana berdiri seorang pria bertubuh besar seperti raksasa, berjenggot lebat dengan rambut panjang dan keriting. Dudley berteriak dengan histeris menyebabkan ayah dan ibunya terbangun sedangkan Harry bersembunyi disamping perapian.
Vernon dan Petunia Segara turun ke lantai satu sambil membawa senapan dan saat mereka melihat pria raksasa itu, Petunia hampir berteriak ketika Vernon memberanikan dirinya untuk bertanya pada sosok raksasa itu.
"Siapa kau? Ada keperluan apa kau disini?"
"Oh maaf bila aku mengganggumu malam-malam begini tuan -sambil memperbaiki pintu rumah yang jebol- perkenalkan aku Rubeus Hagrid seorang housekeeper sekolah Hogwarts, aku datang kemari untuk menjemput Harry Potter. Oh, apakah kau Harry? W/ah, kau jauh berbeda dari terakhir kali kulihat" Hagrid menatap kearah Dudley yang masih shock.
"Aku bukan Harry Potter tapi dialah Harry Potter" Dudley dengan gemetar menunjuk Harry yang langsung keluar dari tempat persembunyianya.
"Aku Harry Potter"
"Wah, kau banyak berubah Harry. Oh iya selamat ulang tahun yang ke-11. Aduh mana ya hadiahnya, oh ini dia mudah-mudahan tidak hancur" Harry menerima hadiah dari Hagrid dan membuka kotak hadiah tersebut.
Di dalamnya ada sebuah kue tar bertuliskan Happy birthday Harry Potter yang ke-11.
"Terima kasih"
"Ah. Itu bukan masalah besar. Oya kau sudah menerima surat itukan?" Tanya Hagrid dengan senyuman lebar
Mengerti dengan maksud Hagrid, Harry hanya menjawab belum karena memang dia sama sekali belum membaca surat itu.
"Oh… sebentar kalau tidak salah aku membawa suratnya, ah… ini dia" Hagrid menyerahkan surat itu pada Harry.
Harry lalu membaca surat tersebut tapi setelah itu banyak pertanyaan melayang-layang dibenaknya.
"Penyihir?"
"Iya benar, Harry kau adalah seorang penyihir bahkan kedua orang tuamu juga adalah penyihir. Kau diterima di sekolah penyihir Hogwarts, sekolah penyihir terbaik di Inggris dan mempunyai kepala sekolah yang merupakan penyihir terkuat, Albus Dumbledore. Ayo, kita tidak boleh membuang waktu, banyak yang harus dilakukan untuk persiapanmu masuk sekolah"
"Tidak dia tidak boleh pergi apalagi sampai sekolah di sekolah bodoh itu" teriak Vernon berusaha menghalangi.
"Iya, itu benar" ucap Petunia berusaha membela suaminya.
"Sekolah bodoh? Apakah kalian tahu soal ini?" Tanya Harry yang bingung dengan ucapan paman dan bibinya
"Tentu saja kami tahu soal ini, adikku Lili anak kesayangan mendapat surat yang sama dan kau tahu orang tuaku merasa sangat bangga padanya padahal dia hanyalah orang aneh dan dia bertambah aneh setelah menikah dengan Potter idiot itu dan hasilnya mereka meninggal mengenaskan dan meninggalkanmu yang sama anehnya dengan mereka"
"Tapi bibi kau bilang orang tuaku meninggal karena kecelakaan mobil"
"Kecelakaan mobil? bisa-bisanya kalian menyembunyikan hal sepenting itu dari Harry"
"Itu sama sekali tidak penting, intiya dia akan tetap disini dan tidak akan kemana-mana apalagi ke sekolah dengan kepala sekolah yang sama gila dan anehnya" Teriak Vernon
"Apa kau bilang? berani-beraninya kau yang seorang muggle berbicara seperti, jangan pernah kau berani menghina Hogwarts dan Albus Dumbledore dihadapanku" ucap Hagrid sambil mengarahkan tongkatnya kearah Vernon tapi dia melihat Dudley yang sedang memakan kue tar hadiah Harry lalu Hagrid mengarahkan tongkat itu kearah Dudley, tiba-tiba ekor babi tumbuh di pantatnya, Vernon dan Petunia yang melihat hal itu panik bukan main sedangkan Harry hanya tertawa.
"Ayo Harry kita harus membeli keperluan sekolahmu" Hagrid berjalan keluar meninggalkan rumah itu
Harry melihat sebentar kearah para Dursley lalu mengikuti Hagrid keluar
"Hagrid, apa maksudnya dengan muggle?" tanya Harry saat berada diluar
"Oh, itu sebutan bagi orang-orang yang tidak memiliki kemampuan sihir. Ayo naik kita harus sampai di London secepatnya"
Harry menganggukkan kepalanya lalu dia segera naik disepeda motor Hagrid yang terlihat seperti sepeda motor biasa tapi ternyata sepeda motor itu bisa terbang.
-o0o-
Sesampainya di London, Hagrid menyuruh Harry melihat barang apa saja untuk keperluan sekolah. Daftarnya ada dilembar kedua surat penerimaan murid. Harry melihat lembar kedua surat tersebut yang bertuliskan,
Seragam
Murid tahun pertama akan memerlukan:
3 set jubah biasa (hitam)
1 topi runcing biasa (hitam)
Sepasang sarung tangan pelindung (kulit naga atau sejenisnya)
1 jubah musim dingin (hitam/perak)
1 syal musim dingin polos
1 dasi polos
Harap dicatat bahwa pakaian semua murid harus membawa tag nama
Buku Materi
Semua siswa harus memiliki salinan dari setiap buku berikut:
Buku mantra standar (kelas 1) oleh Miranda Goshawk
Sejarah sihir oleh Bathilda Bagshot
Teori sihir oleh Adalbert waffling
Panduan transfigurasi untuk pemula oleh Emeric Beralih
Seribu Jamur dan klasifikasinya oleh Phyllida Spore
Daftar ramuan sihir oleh Arsenius Jigger
Binatang fantastik dan dimana untuk menemukannya oleh Newt Scamander
Panduan untuk pertahanan diri dari sihir hitam oleh Quentin Trimble
Peralatan lain
1 tongkat
1 kuali
1 bola kristal
1 teleskop
1 set timbangan kuningan
Siswa juga dapat membawa burung hantu, kucing atau kodok (Hewan terserah)
Diingatkan pada orang tua murid agar murid tahun pertama tidak diperbolehkan membawa sapunya sendiri
Lalu Harry menoleh pada Hagrid, "Memangnya kita bisa menemukan benda-benda ini di London?"
"Ha…Ha…Ha tidak Harry, kita tidak mungkin bisa menemukan benda-benda seperti ini di London tapi aku tahu tempat yang cocok untukmu agar bisa membeli semua keperluan sekolah, ayo ikuti aku"
Tanpa banyak bertanya Harry lalu mengikuti Hagrid. Masuk kedalam suatu tempat yang terlihat seperti tempat makan sekaligus penginapan yang bernama leaky cauldron.
"Ah, selamat pagi Profesor, Harry orang ini adalah salah satu guru di Hogwarts Quirinus Quirell dan Profesor, ini adalah Harry Potter"
"Ah, ppaappaaggiiggii Hhaahhaaggrriidd sseesseennaannaang bbeebbeerrtteetteemmuummuu ddeeddeennggaannmmuu. Ah jjaajjaaddiiddii iinni Hhaahhaarry Ppooppootteerr? Tthhtthhee Bbooy Whowho Lliilliiffee sseesseennaannaanngg ddeeddeennggaannmu nnnak" ucap Profesor yang bernama Quirinus Quirell sambil mengulurkan tangannya dihadapan Harry.
Orang-orang yang ada didekat mereka menoleh kearah Harry, tapi Harry tidak mempedulikannya.
"Senang berkenalan dengan anda juga Professor" kata Harry sambil menjabat tangannya. Professor Hogwarts ini adalah seorang pria kurus dengan sorban melilit dikepalanya, dia juga menggunakan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuh kecilnya dan cara bicaranya pun tidak lancar (gagap) tapi entah kenapa saat Harry menjabat tangannya rasanya ada orang lain yang menatapnya dengan tatapan yang siap membunuh.
'mungkin hanya perasaanku saja' pikir Harry mencoba untuk tidak mempedulikannya.
"Maaf, Prof aku dan Harry harus pergi untuk membeli keperluan sekolahnya"
"Ohh, ssiissii…llaallaa…hhhkaaannn. Sseessee…nnannaanngg Bbeebbee…"
"Senang juga dapat mengenal anda profesor" ucap Harry memotong perkataannya
.
Setelah mengucapkan salam, Hagrid dan Harry melangkah kebagian belakang tempat itu.
"Hagrid apa maksud Profesor tadi menyebutku sebagai The Boy Who Life?"
"Ah… Harry, aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Ini rasanya terlalu sulit khususnya dirimu"
"Apakah ini ada hubungannya dengan kematian orang tuaku?" Hagrid terlihat kaget dan gelisah.
"Sudah kuduga, Hagrid kumohon ceritakan padaku bagaimanapun aku harus tahu penyebab sebenarnya kematian orang tuaku"
"Well, kau benar. Cepat atau lambat kau akan mengetahui hal ini"
Lalu Hagrid mengajak Harry duduk dan mulai menceritakan semuanya dari kelahirannya sampai kejadian yang menyebabkan luka dikeningnya.
"Siapa nama orang itu Hagrid?"
"Uhm Harry, dia adalah seseorang yang namanya tidak boleh disebut"
"Ayolah Hagrid beritahukan padaku, aku harus tahu"
"Umh, baiklah namanya adalah Voldemort"
"Apa? Voldemort?"
"Shh… kecilkan suaramu Harry, dia adalah pria yang membawa kengerian dan penderitaan. Sebaiknya kita segera berangkat untuk membeli perlengkapan sekolahmu"
Walaupun banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Harry tapi dia menurut saja lalu diapun mengikuti Hagrid. Saat sampai yang terlihat hanyalah jalan buntu sebuah tembok bata yang tidak dilapisi semen.
"Perhatikan ini Harry" Hagrid mengetokkan tongkatnya ke titik-titik berbeda di tembok lalu bata yang ada pada tembok itu mulai bergeser dan terlihatlah sebuah tempat yang seperti sebuah pasar dengan berbagai toko yang berjejer di setiap sisi jalan.
"Harry selamat datang di Diagon Alley, tempat kau bisa membeli seluruh keperluan sekolahmu"
'Wow... dunia sihir aku datang' batin Harry
Dia tidak sabar lagi menjalani kehidupan barunya. Entah apa pengalaman yang akan dia dapat di dunia barunya ini, yang penting dia tidak sabar lagi.
TBC
