Harry Potter © J.K. Rowling

Chapter 4

Diagon Alley

Harry melihat banyak sekali toko unik di Diagon Alley dan hanya satu kata yang bisa dia katakan 'Wow', rasanya sudah tidak sabar untuk mengunjungi semua toko itu tapi sebelum pergi berbelanja Hagrid mengajak Harry ke Gringotts untuk mengambil uang. Gringotts adalah nama bank tempat para penyihir menyimpan uangnya.

Keluar dari Gringotts Harry masih sangat takjub dengan kepingan emas seperti gunung yang diwariskan oleh orang tuanya, dia tidak pernah melihat emas sebanyak itu rasanya seperti mimpi. Apakah ini artinya dia bisa membeli apa saja yang dia mau? Dengan begitu dia tidak akan merasa iri lagi pada Dudley, batin Harry sambil tersenyum.

Harry dan Hagrid segera menuju toko-toko yang ada di Diagon Alley.

"Baiklah Harry aku ada sedikit keperluan mungkin aku tidak bisa menemanimu berbelanja. Tidak apa-apakan?"

"Tidak apa-apa Hagrid, aku bisa berbelanja sendiri lagi pula aku juga ingin bekeliling"

"Baiklah kalau begitu. Kita akan berkumpul disini tiga jam lagi. Ok?"

"Ok"

"Baiklah kalau begitu, oh iya Harry lebih baik kau cari jubah sekolahmu lebih dulu di toko Madam Malkin"

"Baiklah Hagrid, sampai jumpa tiga jam lagi"

"Baiklah Harry, hati-hati ya"

Setelah berpisah dengan Hagrid, Harry langsung menuju toko yang ditunjuk oleh Hagrid sebagai toko Madam Malkin. Saat Harry sampai di toko jubah itu, dia merasa toko itu seperti toko pakaian di dunia muggle hanya saja pakaiannya memang sangat berbeda.

Dia melihat berbagai macam jubah dengan berbagai ukuran tapi di toko ini juga ada pakaian yang mirip dengan pakaian di dunia muggle tapi tidak terlalu banyak.

"Selamat datang, Mr…"

"Harry Potter" Harry memperkenalkan dirinya pada seorang wanita setengah baya yang menyambutnya saat masuk ke toko.

"Ah, Mr Potter. The boy who lived, perkenalkan saya Madam Malkin, ada yang bisa saya bantu?"

"Saya mencari jubah untuk sekolah"

"Ah, benar juga tahun ini kau mulai masuk Hogwarts. Baiklah ikuti saya" Harry mengikuti Madam Malkin kesudut ruangan.

"Tolong tunggu sebentar disini"

"Baik"

Sambil menunggu madam Malkin, Harry melihat-lihat pakaian yang berjejer rapi didekatnya saat itulah dia melihat seorang anak laki-laki berambut pirang tapi terlihat seperti berwarna pirang pucat, kulitnya putih mendekati pucat seperti tidak pernah terkena sinar matahari dan kelihatannya anak itu seumuran dengannya karena anak itu juga sedang mencari jubah untuk sekolah atau lebih tepatnya sedang mencobanya.

Ini pertama kalinya Harry bertemu murid Hogwarts yang seumuran dengannya. Walaupun sedikit malu, Harri memberanikan diri untuk menyapa anak itu.

"Hai" sapa Harry mencoba terdengar akrab dan tidak gugup.

Anak laki-laki itupun berbalik dan dua kata muncul di benaknya 'Tampan dan Grey'

"Ya? Ada yang bisa kubantu?"

Menyadari anak itu merespon, Harry tersadar dari lamunannya.

"Ah, iya… maaf apakah kau juga akan masuk Hogwarts tahun ini?"

"Ya" Jawaban yang paling singkat yang pernah Harry dengar dalam hidupnya, anak ini sama sekali tidak memiliki ekspresi apapun bahkan sekarang anak itu sedang berkaca melihat penampilannya -yang menurut Harry sudah sempurna- tanpa mempedulikan Harry yang ada disampingnya.

"Perkenalkan namaku Harry" ucap Harry sambil mengulurkan tangannya

Harry memang sengaja tidak mengatakan nama belakangnya karena dia kurang menyukai embel-embel yang dikatakan orang-orang mengenai dirinya. The Boy Who Lived.

"Malfoy" kata anak itu tapi dia tidak menjabat tangan Harry

Merasa tidak ada gunanya mengangkat tangannya terus, Harry lalu menurunkannya.

"Malfoy? Just Malfoy?"

"Harry? Just Harry? Kau hanya memperkenalkan namamu setengah"

"Ah, benar juga. Cukup adil" Harry tersenyum mendengar hal itu

"Kau… apakah dari dunia muggle?" tanya Malfoy

"Ah, kau tahu? tapi memangnya tadi aku mengatakannya?"

"Tidak, kau tidak mengatakannya. Aku menyadarinya sendiri"

"Bagaimana caranya? Apakah dengan sihir?"

"Setiap orang di dunia sihir tahu mengenai keluarga Malfoy tapi kau terlihat biasa saja bahkan terlihat sama sekali belum pernah mendengarnya"

"Ah, maaf kalau begitu"

"Untuk apa kau minta maaf? Bukan kesalahanmu kalau kau terlahir dari muggle"

"Hmm, terima kasih" sebenarnya Harry ingin memberitahu Malfoy kalau dia tidak sepenuhnya seorang muggle tapi dia ingin mencari seorang teman yang tidak memandang status sosial. Harry menyukai Malfoy, pikirannya dewasa dan terlihat tidak membeda-bedakan padahal usianya 11 tahun sama seperti Harry.

"Tapi, ingat jangan pernah bicara lagi padaku, mengerti? Dimanapun kita bertemu, anggaplah kita tidak pernah saling mengenal"

"Eh… Kenapa?"

"Muggleborn sepertimu tidak pantas berteman dengan penyihir pureblood sepertiku. Level kita berbeda jauh. Mengerti?" lalu Malfoy pergi dari hadapan Harry.

Harry yang shock akan perkataan Malfoy, sama sekali tidak menyadari kalau malfoy sudah pergi.

" kemarilah ayo kita ukur dulu badanmu"

Panggilan dari Madam Malkin menyadarkan Harry dari keterkejutannya. Harry merasa sangat bodoh dalam menilai seseorang, bisa-bisanya dia berpkir seperti itu mengenai Malfoy.

'Dia lebih menyebalkan dibandingkan Dudley' Lalu Harry menghampiri madam Malkin.

Seorang anak laki-laki berambut pirang berjalan menyusuri Diagon Alley sambil memegangi dadanya yang sejak tadi terus berdegup kencang.

'Ada apa ini? Kenapa jantungku berdegup seperti ini?'

'Mungkin kau terpesona pada senyuman anak itu'

'Apa maksudmu anak itu? siapa?'

'Anak berkacamata tadi, Harry'

'Hah? Maksudmu muggleborn itu? Jangan bercanda, mana mungkin pewaris Malfoy sepertiku tertarik padanya'

'Well, cinta tidak memandang status social. Lagi pula kalau kau memang tidak menyukainya, kau tidak perlu marahkan?'

'Aku memang tidak menyukainya'

'Lalu kenapa jantungmu berdegup dengan cepat? Saat anak itu tersenyum?'

'Jantungku berdegup seperti ini bukan karena anak itu tapi karena dia tidak tahu keluarga Malfoy'

'Apa hubungannya jantungmu berdegup kencang dengan dia tidak tahu keluarga Malfoy?'

'Tentu saja ada karena aku merasa dia pasti orang yang tidak waras karena dia tidak tahu mengenai keluargaku, mungkin aku sedikit takut'

'Apa? Seorang Draco Malfoy takut pada anak yang bahkan belum tentu gila?'

'Diam kau. Ah iya, jantungku berdegup seperti ini pasti karena tadi itu pertama kalinya aku menghina orang?'

'Ya… ya... tapi Draco jantungmu berdegup sebelum kau mengatakan hal itu'

'Ah, cukup… kalau aku bilang itu alasannya maka itulah alasannya. Aku lelah berdebat denganmu'

'Baiklah, santai saja Ok?'

'Aku tidak mau mendengar hal ini lagi, kau mengerti? Aku tidak mau bertengkar denganmu'

'Hehehe… tapi Draco ada satu hal yang membuatku penasaran pada anak yang bernama Harry itu'

'Apa itu? Tumben kau penasaran pada seseorang'

'Entah mengapa energi sihir anak itu terasa sangat familiar'

'Apakah kau pernah bertemu anak itu di dunia muggle?'

'Tentu saja tidak pernah, mungkin yang kurasakan adalah sihir orang tuanya yang menurun padanya, terasa begitu familiar'

'Menurutku kau salah Sky, anak itu muggleborn. Ingat?'

'Benar juga'

"Draco kau sedang apa? Kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu?"

"Apa maksudmu Blaise?"

"Maksudku, kenapa kau tersenyum sendiri sambil memegang medalion itu?"

"Apa?"

"Sudahlah Blaise, kau tidak tahu saja kalau Draco itu sedang berkencan dengan kekasih bayangannya yang tinggal didalam medalion itu" ucap Pansy yang tiba-tiba saja datang.

"Ah benar juga, aku lupa akan hal itu mungkin karena aku tidak pernah melihatmu selama dua bulan ini" ucap Blaise memukul jidatnya seperti baru mengingat sesuatu yang sangat penting.

"Draco kau ini sejak dulu kalau sedang sendirian selalu melamun sambil memegang medalion itu, kau juga sering tersenyum dan tertawa sendiri sampai-sampai dulu bibi Cissy hampir membawamu ke St. Mungo"

"Wah, parah sekali" Blaise tersenyum geli pada Draco

"Diam kalian" Draco menatap sinis pada kedua sahabatnya dan berlalu meninggalkan mereka

"Draco tunggu kau mau kemana?" teriak Pansy

"CARI TONGKAT dan jangan ikuti aku"

"Aku tidak pernah melihat Draco seperti itu, Hahaha…" Blaise tertawa melihat tingkah sahabatnya itu

"Ya, kau benar. Draco paling tidak suka bila diganggu apalagi saat dia sedang melakukan hal tadi. Jadinya, dia tidak bisa mengontrol emosinya untung saja tempat ini tidak terlalu ramai kalau tidak hancur sudah image keluarga Malfoy"

"Kau benar. Pans, kau mau ke toko buku?"

"Well, boleh juga. Ayo"

Akhirnya, Blaise dan Pansy pergi ke toko buku sedangkan Draco pergi ke toko untuk membeli tongkat.

Blaise dan Pansy adalah sahabat terdekat Draco, mereka bertiga sudah berteman sejak kecil dan Draco sangat mempercayai mereka. Menurutnya, kesetiaan kedua sahabatnya itu tidak perlu dipertanyakan. Blaise dan pansy tidak pernah memandangnya sebagai tuan muda dari keluarga Malfoy, mereka memandang Draco seperti teman pada umumnya, mereka bukanlah penjilat atau berpura-pura berteman dengannya hanya untuk mendapat dukungan dari keluarga Malfoy, mereka tulus berteman dengannya dan mereka berdua sangat mengenal bagaimana Draco yang sebenarnya dan tahun ini mereka akan masuk sekolah Hogwarts bersama.

Blaise adalah sahabat Draco yang pertama, dia mempunyai kulit sawo matang, rambutnya agak ikal dan pendek dan dia mempunyai tinggi yang hampir sama seperti Draco. Dia berasal dari keluarga Zabini, salah satu keluarga pureblood yang terkenal selain Malfoy di Inggris tapi pengaruh keluarga Zabini lebih terasa di Italia, dari sanalah keluarga Zabini berasal tapi tetap saja pengaruh keluarga Zabini di Inggris tidak boleh diremehkan, sekali bermasalah dengan keluarga ini maka sama saja sudah berada di neraka dunia.

Pansy, sahabat perempuan Draco. Dia mempunyai kulit yang putih –tapi tidak seputih Draco- rambutnya lurus dan pendek dan tingginya sebahu Draco. Dia berasal dari keluarga Parkinson keluarga pureblood lainnya. Pengaruhnya hampir sama seperti Malfoy dan Zabini. Keluarga Parkinson juga dikenal sebagai keluarga yang menganut ilmu hitam seperti Malfoy karena leluhur dari keluarga Parkinson adalah orang yang mengabdi pada Morgana Le Fay. Craig Sparks. Karena itulah, keluarga Malfoy dan Parkinson telah besekutu sejak dulu.

'Apa-apaan gadis itu menyebutku kekasihmu, memangnya aku perempuan?'

'Ayolah Sky, jangan marah seperti itu. Kau tahukan kalau Pansy hanya bercanda'

'Baiklah bercanda tapi dia terus mengatakan hal itu sejak dulu. Dulu aku masih menerimanya karena saat itu dia masih gadis kecil tapi sekarang aku tidak bisa menerimanya'

'Ayolah Sky, kebiasaan lama sulit dilupakan'

'Kebiasaan yang menyebalkan'

Draco hanya tersenyum dengan yang dikatakan oleh Sky, tentunya senyuman yang hampir tidak terlihat bagamanapun dia harus menjaga image keluarganya.

Rasanya baru kemarin dia bertemu dengan Sky, tanpa disadari waktu cepat sekali berlalu. Masih segar diingatan Draco mengenai Sky.

Saat itu dia masih berumur tiga tahun saat ia pertama kali bertemu dengan Sky yang menurut orang tua dan teman-temannya adalah teman khayalan atau kekasih bayangan menurut Pansy. Tapi, Sky bukanlah khayalan atau bayangan.

Sky bukanlah manusia tapi dia adalah seekor naga. Seekor naga berwarna hitam tapi terlihat berkilauan saat tubuhnya terpantul sinar matahari.

Flashback

Suatu malam yang dihiasi bulan purnama, disebuah manor yang sangat mewah dan terkenal sebagai tempat tinggal salah satu pureblood paling terkenal dan tertua di dunia sihir.

Keluarga Malfoy terkenal sebagai salah satu keluarga paling tua di dunia sihir dan salah satu keluarga yang terkenal akan sejarah gelapnya, keluarga ini dikenal sebagai keluarga yang menganut sihir hitam hal itu dikarenakan leluhur dari keluarga Malfoy adalah Morgana Le Fay.

Morgana Le Fay adalah penyihir hitam paling kuat pada masanya dan merupakan musuh bebuyutan Merlin. Sampai sekarang pun keluarga Malfoy tetap dicap seperti itu walaupun keluarga Malfoy banyak berpatisipasi dalam memajukan dunia sihir. Bahkan Lucius Malfoy -kepala keluarga Malfoy saat ini- bekerja di kementrian sihir sebagai kepala hubungan internasional, tetap saja cap itu tidak hilang.

Keluarga Malfoy mempunyai ciri khas tersendiri yaitu mereka terkenal akan rambut pirang yang hampir mendekati putih, bukan hanya rambut tapi kulit yang mereka miliki pun putih seperti salju dan bola mata mereka miliki berwarna grey seperti silver.

Keluarga malfoy saat ini yang tinggal di Inggris hanyalah Lucius Malfoy, istrinya Narcissa Malfoy nee Black dan anak laki-laki satu-satunya Draco Malfoy yang berumur 3 tahun.

Malam itu keluarga Malfoy sedang berkumpul dengan sahabat dan keluarga dekat, hari itu adalah hari natal. Para wanita sedang menyiapkan makanan di dapur walaupun mereka memiliki peri rumah tapi mereka ingin menyiapkan makanan spesial buatan sendiri untuk orang-orang tersayang. Sedangkan, para pria sedang berbincang-bincang di ruang tengah dan anak-anak bermain di taman.

Draco berjalan ke Taman bunga ditemani oleh salah satu peri rumah bernama Dobby, Draco tidak tahan dengan suara melengking Pansy. Jadi, dia memutuskan bermain sendiri walaupun sudah malam tapi dia tidak takut karena sudah terbiasa, lagi pula ada Dobby yang menemaninya.

Draco kecil duduk dipinggir Danau sambil memegang medalion -pemberian ayahnya saat dia lahir- dan menatap bulan purnama, tempat ini adalah tempat favoritnya. Walaupun Draco masih berumur 3 tahun tapi entah mengapa pikirannya sudah seperti orang dewasa dan hal ini membuat khawatir Narcissa tapi membanggakan menurut Lucius.

"Tuan muda, disini dingin nanti tuan bisa sakit" Dobby khawatir melihat tuan mudanya keluar tanpa menggunakan jaket

"Aku tidak apa-apa"

"Ah… maafkan Dobby, Dobby memberika saran yang bodoh" Dobby memukul-mukul kepalanya

"Hentikan Dobby, saranmu sama sekali tidak bodoh kau hanya khawatir padaku"

Wajah Dobby memerah karena perkataan dan senyuman Draco. Draco memang berumur 3 tahun tapi charisma sudah terlihat pada dirinya.

"Sebagai gantinya bisakah kau membuat tempat ini lebih hangat?"

"Ah tentu saja Dobby bisa tuan muda" dengan perasaan senang Dobby menjentikkan jarinya dan tempat itu pun menjadi hangat.

Salah satu hal yang Draco kagumi dari para peri rumah, mereka tidak perlu membaca mantra untuk menciptakan keajaiban sihir, mereka hanya tinggal menjentikkan jarinya dan WUSH… keajaiban pun terjadi.

"Kau hebat Dobby, kau bisa melakukan sihir tanpa mengucapkan mantra"

'Kau juga bisa melakukannya saat waktunya tiba'

"kau siapa?"

'Aku adalah penjagamu'

"Penjaga? Kau dimana? Aku tidak bisa melihatmu"

'kalau kau menghendaki aku muncul dihadapanmu aku akan muncul'

"Iya, aku ingin kau muncul dihadapanku"

"Tuan muda bicara dengan siapa?" tanya Dobby

"Tadi ada suara Dobby, kau tidak mendengarnya?" Dobby melihat sekeliling tapi ia tidak melihat siapa-siapa.

"Tuan muda disini tidak aman lebih baik kita segera masuk nanti tuan besar dan nyonya khawatir" bujuk Dobby pada Draco

"Tunggu dulu Dobby, aku penasaran siapa itu. Siapapun kau cepat tunjukkan wajudmu"

'Saat waktunya tiba kau akan mengetahui segalanya'

"Baiklah aku mengerti, aku tidak akan memaksamu memberitahuku lagi pula aku juga akan tahu nantinya, iyakan?"

'Ya, ingatlah Draco aku selalu berada didekatmu setiap saat'

"Tapi aku tidak pernah melihatmu"

'Karena wujudku memang tidak terlihat tapi kita masih bisa berbicara seperti ini'

"Bagaimana caranya?"

'Kita berbicara melalui pikiran, apa kau tidak menyadarinya?'

"Lalu bagaimana bila ada orang yang menggunakan legillimens?"

'Walaupun orang itu menggunakan legillimens, dia tetap tidak akan bisa mendengar kita kecuali kau menginginkannya'

"Wah… ini hebat aku bisa berbicara denganmu tanpa takut ada orang lain yang bisa mendengar"

'Benar'

"Jadi, aku bisa berbicara denganmu kapanpun yang aku mau?"

'Ya, selama kau memiliki medalion itu'

"Maksudmu medalion pemberian ayahku?"

'Benar'

"Wow…"

'Sejak kau memiliki medalion itu, kau adalah tuanku'

"Aku tidak suka kau menyebutku tuan, bisakah kita menjadi teman?"

'Kalau kau memang menginginkannya tidak masalah'

"Ok, mulai sekarang kita teman, Ah… bukan hanya aku tapi Dobby juga. Iyakan Dobby?"

"Ah, iya tuan muda" jawab Dobby dengan wajah penuh kebingungan, mungkin tuan muda berbicara dengan teman khayalannya pikir Dobby sambil mendengarkan obrolan sepihak Draco.

Draco memang tidak suka bila mengganggap dirinya adalah tuan muda menurutnya itu seperti membeda-badakan status karena itulah dia lebih suka menggangap semua orang adalah teman walaupun itu adalah seorang peri rumah sekalipun.

Kadang hal ini membuat ayahnya kurang suka tapi ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa ditambah istrinya, Narcissa mendukung hal itu dan juga sejuta alasan yang bisa dibuat oleh Draco untuk mendukung sikapnya itu.

Satu hal yang Draco ingat yaitu ajaran ayahnya mengenai pemilihan sekutu didunia luar,

'Kau harus memilih sekutu yang dapat menguntungkanmu diluar sana, kau tidak bisa berteman dengan semua orang kau harus memilihnya'

Itulah yang Lucius katakan pada Draco, tidak sulit mengatakan hal itu pada Draco karena dia cepat mengerti.

'Ha… ha... ha… kelihatannya kau tidak sepenuhnya seorang Malfoy'

"Well, aku campuran Malfoy dan Black"

'Tentu'

"Oya aku harus memanggilmu apa?" Tanya Draco

'Aku ingin kau yang memberikan nama padaku Draco'

"Baiklah, kalau begitu. Umh…apa ya?Dobby menurutmu apa?"

"Dobby juga tidak tahu tuan muda"

"Hm… apa kau punya talenta?"

'Hm… aku bisa… terbang?'

"Oh aku tahu, mulai sekarang namamu adalah Sky"

'Ha… ha… ha… hanya karena aku bisa terbang? Sky… boleh juga'

Flashback End

Sejak malam itu, Sky selalu bersamanya walaupun dia tidak pernah memperlihatkan wujudnya. Draco tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun bahkan pada orang tua dan teman dekatnya dan hal itu menyebabkan orang tua dan teman dekat Draco mengganggap ia mempunyai teman khayalan.

Draco tersenyum dengan semua ingatan itu apa lagi pada saat ibunya khawatir berlebihan mengenai hal ini dan dia sangat berterima kasih pada ayahnya yang membelanya dengan mengatakan Draco juga membutuhkan teman seperti itu pada saat dia tidak bisa menemukan teman dengan tipe yang dia inginkan.

"Draco" panggil seorang wanita dari arah belakangnya

"Ibu"

"Kau ternyata ada disini, ayo kita kembali ke manor ayahmu sudah pulang dari mesir katanya dia membelikanmu oleh-oleh" kata Narcissa sambil tersenyum

"Iya"

"Kau sudah membeli semua kelengkapan sekolahmu?"

"Sudah ibu"

"Baiklah ayo, oh iya kau sedang apa disini?"

"Tadi aku berbicara dengan sky"

"Oh... baiklah ayo kita ber-Apparate saja dari sini"

Draco tahu hal apa yang akan membuat ibunya berhenti bertanya. Bila Draco sudah berbicara mengenai Sky, ibunya tidak akan bertanya apapun lagi walaupun ibunya kurang menyukai hal itu tapi dia mencoba untuk mengerti selama teman khayalan Draco tidak melukai dan mempengaruhinya untuk melakukan hal yang berbahaya

-o0o-.

"Baiklah, jubah, buku, perlengkapan untuk membuat ramuan sudah dan yang terakhir tinggal tongkat" Harry kembali memeriksa daftar barang yang harus dia bawa ke sekolah barunya nanti.

Harry bertanya pada salah satu orang yang ada didekatnya, dia bertanya dimana dia bisa membeli tongkat sihir. Setelah mendapat petunjuk, Harry segera pergi ke toko Mr. Ollivander untuk membeli tongkat.

Harry menemukan tongkat yang cocok untuknya yaitu tongkat Holly terbuat dari bulu phoenix, sebelas inci dan fleksibel. Mr. Ollivander memberitahu Harry bahwa tongkatnya mempunyai inti sama dengan tongkat yang membunuh orang tuanya, tongkat Voldemort.

Harry tidak tahu apa yang dia rasakan saat mendengar hal ini, ada perasaan menjanggal seperti… entahlah. Harry tidak mau ambil pusing akan hal ini, memangnya kenapa kalau tongkatnya sama dengan penjahat itu, yang salah adalah orangnya bukan tongkat sihirnya.

Setelah mendapatkan semua perlengkapan sekolahnya Harry segera kembali ketempat dimana dia dan hagrid berjanji untuk bertemu. Tidak lama menunggu akhirnya Hagrid datang sambil menenteng sangkar burung.

"Harry, Happy birthday" ucap Hagrid dengan senyum lebar, mengangkat sangkar burung tersebut.

"Wah, Hagrid terima kasih"

Burung yang diberikan oleh Hagrid adalah burung hantu dengan bulu seputih salju sangat indah.

"Dengan burung ini kau bisa mengantar pesan kemanapun. Jaga dia baik-baik"

"Baik" ucap Harry dengan bersemangat, ini pertama kalinya dia menerima kado dihari ulang tahunnya, mungkin kado kedua setelah kue ulang tahun waktu itu.

"Hagrid siapa nama burung ini?"

"Well, mulai sekarang burung itu adalah milikmu jadi kau yang berhak memberikannya nama"

"Umh… baiklah karena burung ini adalah pemberian darimu. Aku akan memanggilnya Hedwig. Bagaimana?"

"Tidak buruk. Baiklah Harry sampai jumpa tanggal 1 september"

"Ok tapi bagaimana caranya aku pergi ke Hogwarts? Apakah kau akan menjemputku?"

"Maafkan aku Harry, menjelang tahun ajaran baru aku akan sangat sibuk. Nanti kau tinggal pergi ke stasiun King's Cross lalu carilah Platform 9 ¾, disana kau akan menemukan kereta api Hogwarts Ekspres dan saat kau sampai aku akan menjemputmu bersama siswa tahun pertama lainnya"

"Tidak apa-apa Hagrid, kau tidak perlu minta maaf"

"Baiklah aku akan mengantarmu kembali ke rumah bibimu"

"Aku tidak sabar menunggu tanggal 1 september nanti"

"Percayalah Harry, pengalamanmu nanti akan sangat luar biasa"

"Iya, aku tidak sabar menantinya"

Entah petualangan dan pengalaman seperti apa yang akan Harry dapat nanti di sekolah barunya.

Apakah dia akan sehebat orang tuanya?

Apakah dia akan bertemu penyihir hebat lainnya?

Apakah dia akan bertemu dengan orang-orang menyebalkan seperti Malfoy?

Harry belum tahu soal itu yang dia tahu, dia sudah tidak sabar menjalani kehidupan barunya.

TBC

Author Note:

Tolong review ya ^_^ supaya saya tahu apalagi yang harus dikoreksi.