Fanfiksi ini diadaptasi dari cerita pendek berjudul "Muharram" karya Aditya Idris. Beliau memenangkan Juara 1 Kategori Cerpen yang diadakan oleh Tulis me pada tahun 2018. Cerita aslinya bisa diakses melalui buku "Di Suatu Kafe yang Belum Pernah Kita Kunjungi" yang diterbitkan oleh CV Jejak.
.
.
.
Byun Baekhyun
Dulu, ia pernah mencintai seorang lelaki di desanya dan sempat mengatakan cinta. Sehingga dirinya sempat merasa sempurna sebagai perempuan. Perlahan-lahan, keinginan itu digantikan oleh puji-pujian berbahasa Bugis. Sebuah keinginan yang bisa mendekatkannya pada Dewata. Kini, ia memang benar-benar seorang pendeta Bugis Kuno. Dirinya telah bertekad untuk terus berada di atas perahu yang dipilihnya. Karena, ialah sang bissu muda.
.
.
.
Byun Baekhyun. Sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Namun sepertinya, nasib tak memihak kepadaku. Maut merenggut hidup kedua orang tuaku saat aku masih tertidur di dalam ayunan buatan ibuku. Yoon Myung Ju, kini menjadi orang tua dan tumpuan hidupku. Aku diasuh, dirawat, dan dibesarkan olehnya. Yoon Myung Ju seorang bangsawan yang terpandang. Sebagai seorang wakil ketua bissu yang menyertai ketua bissu Rala. Mereka adalah bissu titisan sang penentu takdir yang disegani oleh segelintir orang di Tanah Bugis.
Aku kini menjelma menjadi lelaki cantik. Sebagai calabai, hidupku penuh serpihan luka. Cacian dan makian sudah terbiasa aku terima. Telah kebal telingaku mendengar ocehan orang-orang sekitar. Hujatan menghujani setiap aku melangkahkan kaki di bawah langit yang teduh.
Aku memang menawan. Tanpa mantra pemikat, pijar cahaya bidadari telah memendar dari wajahku. Membuat lelaki terbakar berahi dan para perempuan dihanguskan dengki.
"Nak, jadilah bissu."
Kalimat singkat yang baru saja keluar dari mulut ketua bissu membuatku ternganga.
"Percayalah, nak. Niscaya kau akan dilindungi nenek moyang. Dikasihi Dewata. Dan yang terpenting, dihormati orang-orang."
Aku sadar. Mungkin inilah jalanku. Semuanya dimulai saat malam itu aku pernah bermimpi. Roh leluhur mendatangiku dengan pakaian serba cahaya. Berkilauan membuat mata silau. Berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Meludahi mulutku sebelum pergi ditelan kelam. Ketika aku membuka mata, ketua bissu Rala telah berada di sampingku dengan senyum yang penuh dengan kebahagiaan. Seakan telah tahu tentang mimpi yang baru saja kualami. Namun, ketua bissu Rala tak mengeluarkan sepatah kata pun.
.
.
.
Proses irebba telah siap kujalankan. Para tetua telah memandikanku. Kini tubuh telanjangku hanya dibungkus kain kafan. Tak berbeda dengan sosok mayat yang telah siap diusung ke rumah terakhirnya. Aku kini bersemayam di loteng bagian depan rumah tempat tinggal bissu dan tempat penyimpangan pusaka kerajaan. Alunan seruling membelah dendang musik suci nan sakral terus dimainkan sebagai pelengkap prosesi perwujudanku.
Aku meresapi kenangan, memasuki lorong waktu. Atap rumah yang terbuka membuat penglihatanku tembus ke langit penuh bintang gemintang. Aku mati suri. Di bawah kerlap-kerlip bintang malam aku teringat seseorang. Dia yang telah membawa cahaya terang melebihi purnama, menerangi hidupku yang selalu diselimuti gerhana kegelapan. Aku yang tak lagi butuh cahaya bintang, bulan, bahkan matahari. Bagiku, orang itu adalah Nur Ilahi yang sanggup menerangi semesta dirinya. Namun, nasib baik tak berpihak kepadaku. Aku tak habis pikir, setelah menyerahkan selembar hatiku, dia menguap hilang dalam kabut kawin lari. Di bawah temaram cahaya yang menyepuh malam, aku memainkan memoriku.
"Ah ... di mana dia?"
.
.
.
Pemuda itu bernama Park Chanyeol. Bagiku, dirinya hanya indah untuk dipandangi, namun tak mungkin untuk diraih. Aku tersadar bahwa diriku tak lebih dari seorang calabai. Aku meyakini, dia hanya dapat dikalahkan oleh malaikat. Aku yang senantiasa dihujani cacian di mana pun berada. Sedangkan dia dikepung pujian setinggi langit. Tak sedikit wanita berusaha memikat hatinya. Di antara banyak gadis itu, Ji Hyeran yang paling tergila-gila. Seisi kampung telah tahu, gadis cantik keturunan bangsawan itu telah berulang kali pergi ke dukun meminta mantra jimat pekasih untuk menjerat Chanyeol.
Namun, terkadang kehidupan sulit untuk diketahui maunya. Tak ada satu jiwa pun yang mampu meramalkan putaran roda takdir. Saat itu, malam merayap gulita. Nyanyian binatang kelam berirama dengan gemericik air sungai yang dimainkan ikan di sekelilingnya. Sungai yang dikerumuni bakau dan berlumpur serta terkesan angker. Sangat jelas terdengar di telinga letupan mata air yang bergelembung serta katak yang memimpin keriuhan malam itu. Sesekali lolongan anjing menimpali, meraung-raung di kejauhan. Barangkali ada babi hutan mengamuk di tengah rimba mengorek-ngorek mencari makan.
Aku dilanda kesepian. Berdiam diri di pinggir sungai menjadi pilihan untuk mengusir rasa sendiri ini. Di dalam gubuk usang di bawah pohon Mangrove tua. Mencoba mengkhayalkan kehidupan yang telah kualami. Tiba-tiba, bunyi kecipak air mengusik telinga. Dadaku berdebar saat seseorang memanggil namaku.
"Baekhyun. Aku datang "
Meremang bulu romaku. Bukan karena takut. Bukan karena leluhur mendatangiku. Namun, karena aku hafal suara yang memanggilku.
"Buat apa kau ke sini?"
Rambut panjangku luruh menjuntai sampai ke bahu. Menghiasi paras cantikku. Kecantikan melingkupi. Matanya menjilati kepolosanku.
"Untuk membuktikan cintaku padamu!"
Aku tersentak. Kalimat yang baru saja dilontarkan Chanyeol membuat hatiku diretakkan kebahagiaan. Lelaki kekar itu mendekatiku, ingin menyentuh wajahku. Aku mencoba menepis dengan gerakan lemah tak bertenaga. Ia berhasil merenggut rambutku, membuat mataku mendongak.
"Pergilah Chanyeol. Banyak yang menantikanmu."
"Kau salah. Tak ada yang mampu menarik hatiku."
Aku tak menolak ketika dia mengikuti dorongan nalurinya menyelusuri tubuhku yang meremang. Aku hanyut terbawa arus perasaan yang lena. Kami berpandangan dalam diam waktu itu. Kemudian saling menyentuh tanpa kata-kata. Bayang-bayang siksaan mencambuk hatiku. Cemas tak berujung. Chanyeol menatapku lekat.
"Oh, Dewata. Aku takut mendapatkan karma. Semoga para malaikat menutup mata saat ini." Aku berbisik sambil tersenyum bahagia.
"Aku akan merantau. Ikutlah denganku. Besok malam, tunggu aku di rumahmu."
.
.
.
"Kawin lari!" "Kawin lari!"
"Chanyeol membawa lari Hyeran!"
Teriakan-teriakan geram memecah kampung. Dalam keremangan malam, terlihat ayah Hyeran menghunus badik. Berlari menuju gerbang kampung. Hatiku seketika pecah bersama cermin yang kuremas. Sambil membalut luka di telapak tanganku, aku berusaha untuk menutupi rasa sakit yang jauh lebih sakit.
Aku menangis. Sejak sore aku menantikan kehadirannya. Menunggu dia menepati janjinya untuk membawaku pergi dari kehidupan di kampung ini. Sejak sore aku tak pernah berhenti tersenyum memandangi wajah seorang perempuan berkerudung putih dan teramat jelita di bayangan cermin yang kupegang. Sungguh, tak pernah sekalipun aku meminta wajah cantik dan jiwa perempuan ini kepada Tuhan. Keduanya membuatku menjadi manusia yang tidak utuh. Hanya Chanyeol yang mampu membuat diriku sempurna.
Namun, semuanya buyar seketika. Tepat tengah malam, Chanyeol meninggalkanku dengan goresan luka. Aku sangat mencintainya. Namun, kehidupan dunia tak mengizinkan. Aku berharap, kelak di negeri kayangan, nenek moyang merestui hubungan kami. Dan mulai saat ini aku berjanji akan membiarkan hatiku kosong ditumbuhi ilalang sunyi. Bagiku, menjadi bissu adalah jalan terbaik untuk menghapus harga diri dan kehormatan.
.
.
.
Kini, wuju—salah satu dalam prosesi irebba—telah nyaris purna. Serupa rembulan yang perlahan-lahan menyabit purnama. Apakah ini mimpi? Aku seakan melihat sosok seorang berjalan dalam gelap mengikuti lentara yang ada di hatinya. Melangkah hati-hati seperti berharap tak ada telinga yang terusik atau mata yang terjaga. Dia mendatangiku yang sedang diterpa kemuliaan cahaya bulan, untuk memenuhi hajat. Lalu aku mengendus bau jarak empat ayunan kaki sampai aku tersadar kafanku koyak. Nafsu binal menggerayangi tubuhku. Ia menggeledah hingga aku berahi.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin membalas dendam dengan merelakan mahkotaku kau renggut. Akan kutanam benihmu di rahimku."
"Kau gila!"
Ia tertawa geli. Senyum sinis berkembang di wajah cantiknya.
"Baekhyun. Kau tak sebanci yang kukira."
Ia melesat pergi ibarat angin lalu mengabarkan berita. Menciptakan prahara. Guncangan yang sangat hebat. Kuambil satu keputusan. Angkat kaki dari kehidupan ini.
.
.
.
Telah habis kususuri hutan. Tibalah aku di padang ilalang yang bergoyang disapu angin seperti tarekat. Di ujung sana Sungai Segeri mengalir deras. Aku berjalan tergopoh menerobosi ilalang laksana musafir yang kehausan. Langit tetap biru berawan. Matahari mendaki puncak. Bukit-bukit membatu. Tuhan, inikah takdirku? Tak ada gema suara Tuhan membalas. Kutanggalkan pakaian lalu berendam. Riak air sungai menyergap kulitku.
"Celaka! Calabai!"
"Bunuh saja!"
"Jangan. Kita nikmati dulu."
Entah dari mana datangnya. Tiga orang pemuda menghampiriku. Bau tuak menguar dari mulut mereka. Aromanya masam dan tajam. Aku memanggil Tuhan. Memanggil ketua bissu Rala. Yoon Myung Ju. Bissu-bissu lainnya. Namun, tak satu pun yang datang. Mulutku komat-kamit mendaraskan doa-doa penolak bala yang telah diajarkan. Aku menjerit.
"Tak ada yang menolongmu."
Aku tersentak. Tubuhku kejang. Tangisku terhenti seketika. Sebelum para bajingan menyadarinya, sesosok tubuh melayang-layang serupa elang. Ia meradang dan menerjang mereka. Dalam sekejap, para berandalan yang berusaha menggagahiku tersungkur dan terluka. Mereka berlari. Menyisakan seorang putra bangsawan yang telah lama menjadi purnama dalam hidupku.
"Terima kasih, Chanyeol."
Dia memelukku. Seakan-akan membalaskan rindunya yang telah dia pendam. Aku membalas. Berkali-kali aku menghujat Tuhan atas takdirku. Namun, berkali-kali pula aku bersyukur. Kami tertawa berbahagia. Lupa waktu. Lupa tempat. Kami tak sadar. Bahaya mengintai. Ternyata bukan hanya kami berdua di danau itu. Aku dengan jelas melihat sosok itu. Namun, kami terlambat menyadarinya. Makhluk bersisik itu mendekat.
"Buaya!"
Kami tak dapat lagi menghindar. Aku terjepit dilema. Tetap bersamanya atau berlari melanjutkan hidup. Tak ada pilihan. Mulut hewan itu telah menganga. Gigi taringnya menerka dan mencabik-cabik menjadi remah-remah daging. Air keruh telah berubah warna merah. Tuhan, masih bisa kulihat nama-Mu menjulang ke langit. Setitik cahaya di kalbuku bermukim di bukit itu.
.
.
.
Hampir tiga minggu kemudian ...
Ditemukan sesosok mayat mengambang di tengah lautan. Mengembung. Membusuk dan tinggal separuh. Semua warga tahu siapa dia. Mereka tahu tentang perbuatan kotor apa yang telah dilakukan jasad itu semasa hidupnya.
Sementara itu, di sebuah rumah panggung, seorang perempuan duduk di muka jendela menggeraikan rambutnya. Termangu. Mata nanar memandang di luar sana. Tak lama berselang, senyum penuh luka tersungging di bibirnya. Ia mengusap-usap perutnya yang telah berisi janin.
"Sabar, nak."
Tepat di sampingnya, sosok bissu itu ikut tersenyum. Memandangi sang gadis yang terus menyanyikan janin di perutnya. Mencium perut perempuan itu. Dia tersenyum kembali.
"Ji Hyeran. Jagalah anak kita "
.
.
.
.
.
.
Pada kebudayaan Bugis di Sulawesi, bissu dianggap sebagai golongan yang bukan dari golongan lelaki maupun perempuan. Bissu adalah keberadaan tanpa jenis kelamin dan tidak terikat pada fisik semata, melainkan pada jiwa keseimbangan jiwa lelaki dan perempuan. Oleh karena itu, bissu merupakan kombinasi dua gender.
Bagi seorang calabai, menjadi bissu dianggap memiliki kedudukan lebih terhormat. Hal tersebut dikarenakan bissu dianggap sebagai figur spiritual vital bagi masyarakat Bugis. Bissu adalah sosok yang menghubungkan manusia dengan dewa sehingga bissu memiliki sebuah tempat yang istimewa di masyarakat suku Bugis kuno.
Jadi, cerita ini bukan sekadar fantasi atau alternative universe (AU). Ini nyata tertuang dalam sejarah. Saya sih berharap semoga fanfiksi ini bisa menambah ilmu untuk para pembaca, akan lebih bagus lagi kalau kalian mau cari tahu lebih lanjut tentang perbissuan ini. Terima kasih telah membaca dan selamat datang kembali (cosplay jadi kasir minimarket, hehe).
.
.
.
Daftar Istilah
Bissu = Pendeta agama Bugis kuno pra-Islam. Kebanyakan waria atau putri bangsawan
Puang Lolo = Wakil ketua bissu
Puang Matoa = Ketua bissu
Datu Patoto = Sang Penentu Takdir
Calabai = Asal kata Sala Baine (bukan perempuan/waria); Lelaki yang memiliki sifat perempuan yang sangat kental
Batara Guru = Nenek moyang orang Bugis
Irebba = Prosesi yang dijalani calabai untuk menjadi bissu
Bola arajang = Rumah tempat tinggal bissu dan tempat penyimpangan pusaka kerajaan
Silariang = Kawin lari
Siri' = Harga diri dan kehormatan
