Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 5
New Day, New School
Mentari tersenyum di ufuk timur memancarkan cahayanya yang dapat menghangatkan setiap makhluk hidup di muka bumi, bunga-bunga mulai bermekaran membuat setiap orang yang memandangnya menjadi damai, embun-embun yang berada didedaunan berkilauan bagaikan permata ketika ditimpa cahaya mentari.
Sungguh suasana pagi hari yang sangat damai dan cerah begitulah yang dirasakan oleh setiap orang yang menyadari keindahan ciptaan tuhan tersebut.
Begitulah pula yang dirasakan oleh Harry karena hari ini adalah hari penting yang sudah dia tunggu, hari ini kehidupan barunya akan dimulai dan dia sudah tidak sabar akan hal itu.
"Boy, cepatlah kau tidak mau ketinggalan kereta aneh itukan?" teriak Vernon
Mendengar teriakan pamannya, Harry langsung menghampiri Vernon dengan membawa segala keperluan sekolahnya.
"Dengar boy, jangan membuat masalah di sekolah aneh itu. Aku tidak mau dipanggil ketempat itu hanya untuk mengurus kekacauan yang kau buat"
"Baik paman"
"Sekarang cepat masuk ke mobil" Harry segera mengangkut semua barangnya masuk kedalam mobil dan segera pergi ke Stasiun King's Cross, London.
Hari ini adalah tanggal 1 September, hari ini adalah hari pertama Harry masuk ke sekolah barunya yaitu sekolah sihir Hogwarts.
Untuk menyambut hari ini, Harry bangun lebih cepat untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah agar dia tidak terlambat dan ketinggalan kereta. Harry sangat bersyukur karena pamannya mau mengantar sampai ke Stasiun, tentunya dengan alasan keluarga Dursley hanya ingin memperlihatkan pada para tetangga bahwa mereka adalah orang-orang baik dan itu berhasil, banyak orang yang menganggap bahwa keluarga Dursley adalah orang baik karena mau mengadopsi Harry dan merawatnya hingga sekarang.
Harry hanya memutar kedua matanya dan sedikit mengumpat,
'Bagaimana mungkin mereka berkata seperti itu padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?' batin Harry setip kali dia mengingat hal itu.
Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Harry tidak sadar bahwa dia sudah sampai di Stasiun.
"Boy, berhentilah melamun dan cepatlah turun"
Selanjutnya, Harry segera mencari platform yang disebutkan oleh Hagrid
"Platform 9 ¾ ? memangnya ada Platform dengan nomor seperti itu?" tanya Harry lebih pada dirinya sendiri.
Tidak juga menemukan Platform dengan nomor tersebut, Harry lalu bertanya pada salah satu penjaga di Stasiun dan seperti dugaannya penjaga itu menertawakannya karena di Stasiun manapun tidak mungkin ada Platform dengan nomor seperti itu.
Harry sangat kebingungan saat itu, kalau dia tidak menemukan Platform tersebut dia tidak akan bisa pergi ke Hogwarts.
Pada saat itulah Harry melihat sekumpulan orang dengan rambut merah dan terlihat mereka juga membawa barang yang mirip seperti milik Harry. Ada koper yang besar dan kandang burung. Jadi, tanpa pikir panjang Harry mengikuti orang-orang tersebut.
Saat Harry berada didekat rombongan tersebut saat itulah dia melihat salah satu dari rombongan itu, seorang anak laki-laki yang kelihatannya lebih tua darinya berlari menembus dinding dan Harry tahu kalau mereka adalah penyihir. Jadi, Harry memberanikan dirinya untuk bertanya pada seorang wanita yang kelihatannya adalah ibu dari semua anak-anak berambut merah itu.
"Permisi, maaf boleh saya bertanya sesuatu?"
"Oh, tentu saja my dear. Apa yang mau kau tanyakan?"
"Maaf, bagaimana caranya untuk melewati Platform ini?"
"Oh, itu sangat mudah, kau tinggal melihat kedepan dan berlari kearah tembok itu dan setelahnya kau akan menemukan kereta yang akan membawamu ke Hogwarts" dengan sabar wanita itu menjelaskannya pada Harry.
"Baiklah, saya mengerti. Terima kasih" Lalu Harry berlari ke arah tembok dari Platform itu dan saat dia membuka matanya dia sudah berada ditempat yang berbeda dan saat itulah dia melihat kereta berwarna merah dengan campuran hitam bertuliskan Hogwarts Ekspres.
'Akhirnya'
Tanpa membuang waktu, Harry segera naik ke kereta dan mencari compartment kosong. Tidak lama berselang kereta mulai jalan saat itulah pintu dari compartment yang ditempati Harry terbuka dan disana berdiri seorang anak laki-laki dengan rambut merah mengingatkannya pada rombongan orang yang menolongnya tadi.
'Anak ini mirip dengan rombongan orang tadi' pikir Harry 'Eh tunggu dulu anak ini memang salah satu dari orang-orang tadi'
"Maaf, bolehkah aku duduk disini? compartment yang lain sudah penuh" tanya anak laki-laki berambut merah itu.
"Oh, tentu saja"
Saat anak laki-laki berambut merah itu duduk, Harry berusaha mengajak anak itu untuk mengobrol.
"Hey, terima kasih atas pertolonganmu tadi maksudku ibumu"
"Sama-sama, mom memang suka sekali menjelaskan hal seperti itu. Oh iya perkenalkan namaku Ronald Weasley, tapi kau bisa memanggilku Ron" ucap anak laki-laki berambut merah bernama Ronald Weasley atau singkatnya Ron sambil mengangkat tangannya.
"Namaku Harry Potter, kau bisa memanggilku Harry" ucap Harry sambil menjabat tangan Ron.
"Wow kau Harry Potter? The Boy Who Lived? anak yang mengalahkan Kau-Tahu-Siapa"
Harry hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Apakah kau memiliki itu?" tanya Ron seperti berbisik
"Itu?"
"Luka berbentuk petir"
Harry tidak menjawab apa-apa tapi dia mengangkat poninya dan terlihatlah luka berbentuk petir.
"Wow, aku tidak mempercayai hal ini. Aku duduk bersama seorang pahlawan sesungguhnya. Satu compartment"
Harry hanya tersenyum dengan yang dikatakan oleh Ron, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena dia baru pertama kali disanjung seperti ini.
Tiba-tiba, ada seorang anak perempuan dengan rambut coklat bergelombang masuk ke compartment mereka.
"Maaf, apakah kalian melihat seekor katak? katak itu milik seorang anak yang bernama Neville Longbottom" ucap gadis itu
Harry dan Ron hanya saling berpandangan lalu menggelengkan kepala mereka saat melihat kearah gadis itu.
"Baiklah, jadi kalian tidak tahu. Oya perkenalkan namaku Hermione Granger tapi kalian bisa memanggilku Hermione"
"Aku Harry Potter, kau bisa memanggilku Harry"
"Baiklah Harry dan kau... ?" tanya Hermione pada Ron
Ron sedang mengunyah makanan dengan mulut penuh. Merasa Ron tidak bisa memperkenalkan dirinya Harry lalu memberitahu pada gadis itu.
"Kalau dia namanya Ronald Weasley. Kau bisa memanggilnya Ron"
"Baiklah Ron dan Harry, salam kenal. Oya sebaiknya kalian menggunakan jubah kalian sebentar lagi kita akan sampai" Hermione lalu meninggalkan mereka.
Setelah Hermione pergi Harry dan Ron segera bersiap-siap.
-o0o-
"Wow, aku sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai di Hogwarts" ucap seorang anak perempuan yang sepertinya ditahun pertama
"Kalian dengar itu? Sungguh kekanakan, hal seperti ini saja heboh. Lihat saja nanti apakah mereka masih bisa mengatakan hal itu setelah diberikan tugas yang menumpuk" ucap Pansy yang duduk disebelah compartment anak perempuan itu.
"Tentunya mereka akan menyesal telah mengatakan hal itu Pansy darling" ucap Blaise
"Mr. Zabini dan Ms. Parkinson, sebenarnaya hal itu wajar saja mengingat ini pengalaman mereka yang pertama berada di sekolah sihir"
"Tapi Draco darling, menurutku hal seperti itu sangat berlebihan tapi mungkin hal itu tidak berlaku bagi penyihir muggleborn, mereka pasti sangat antusias terhadap hal ini karena mereka tidak pernah mengenal mengenai dunia sihir. Lagi pula yang seharusnya lebih berhak masuk ke Hogwarts adalah kita penyihir pureblood"
"Well, walaupun aku kurang suka dengan kalimatnya, aku cukup setuju dengan Pansy" ucap Blaise
"Setiap anak yang memiliki kemampuan sihir berhak berada di Hogwarts baik itu muggleborn atau halfblood. Kalian tidak mungkin membiarkan anak-anak dengan kemampuan sihir berkeliaran bebas di dunia muggle dan membuat kekacauan bukan? Ayahku bilang, bila hal seperti itu sampai terjadi akan timbul masalah serius. Lebih baik mencegah daripada mengobati" ucap Draco sambil menyunggingkan senyuman tipis.
"Oke, aku menyerah. Aku tidak akan menang bila berdebat denganmu Draco" Pansy mengangkat kedua tangannya tanda dia tidak mau berdebat lebih lama dengan Draco.
Draco tidak pernah bosan bila berdebat dengan kedua sahabatnya tapi mungkin dia akan berpikir ulang bila harus berdebat dengan Blaise, karena Blaise mempunyai banyak sekali akal dalam kepalanya untuk membalas perkataan Draco.
"Blaise darling, maukah kau menjelaskannya pada Draco?"
"Maaf Pansy darling, tapi aku hanya tertarik berdebat dengan Draco mengenai hal yang menurutku menarik sedangkan hal ini menurutku cukup membosankan"
"Apa membosankan? Bisa-bisanya kau berkata seperti itu, padahal tadi kau setuju denganku"
"Itu sebelum Draco memberikan alasan yang sangat bagus"
"Tapi…"
Perdebatan antara Blaise dan Pansy pun dimulai, tidak ada yang mau mengalah. Draco tidak pernah bosan menyaksikan kedua sahabatnya berdebat karena menurut Draco, saat Blaise dan Pansy berdebat mereka kelihatan seperti pasangan yang sudah lama menikah, sering bertengkar tapi tetap dekat dan hal itu sangat lucu.
Draco meraih tasnya dan mengeluarkan buku besar dengan sampul berwarna hitam yang judulnya ditulis dengan huruf rune kuno, buku ini adalah oleh-oleh ayahnya dari Mesir.
Tidak lama kemudian, perdebatan antara Blaise dan Pansy berakhir dengan Pansy yang keluar sebagai pemenang karena Blaise menyerah, dia tidak tahan mendengar segala alasan tidak masuk akal yang dikeluarkan oleh pansy.
"Draco apa yang kau baca?" tanya Blaise yang kelihatannya cukup tertarik dengan apa yang dibaca oleh Draco.
"Ah, ini buku yang dibawa oleh ayahku ketika pulang dari Mesir"
"Pantas saja aku tidak pernah melihat huruf rune seperti itu, kau bisa membacanya?"
"Umh… aku baru bisa membacanya dua minggu setelah aku mendapatkan buku ini"
"Oh… lalu apa judulnya?"
"Sebenarnya judulnya cukup aneh karena itulah aku membacanya karena penasaran. Judulnya Pilihan takdi: Dark atau Light"
"Judul macam apa itu? Aneh sekali, apa kita disuruh untuk memilih antara dark atau light?" ucap pansy.
"Aku juga kurang tahu akan hal itu, aku bahkan belum membaca setengahnya tapi satu-satunya jalan untuk mengungkap hal itu aku harus tetap membacanya" ucap Draco
"Oh iya Draco, bagaimana rencanamu tahun ini? Apakah kau akan mengikuti perintah yang diberikan orang tuamu?" tanya Pansy mengubah topik pembicaraan sebelumnya karena bosan.
Mendengar pertanyaan Pansy, Draco menghentikan kegiatannya dan menjawab pertanyaan Pansy
"Kelihatannya begitu Pansy, aku tidak mungkin menolak perintah lebih tepatnya permintaan orang tuaku karena bagaimanapun ini juga untuk kebaikanku sendiri"
"Wow, aku tidak sabar untuk melihatnya" ucap Blaise dengan senyuman tersungging di bibirnya.
"Entahlah, aku merasa aneh setiap kali memikirkan hal itu" ucap Pansy dengan mimik khawatir yang sangat terlihat diwajahnya. Pansy memang cerewet dan kelihatan sangat menyebalkan tapi kalau menyangkut sahabatnya, dia bisa berubah menjadi sosok ibu kedua bagi Blaise dan Draco.
"Terima kasih Pans, tapi tenang saja semua akan baik-baik saja. Oh iya belajarlah untuk membiasakan diri guys"
Tidak lama kemudian, kecepatan Hogwarts Ekspres mulai menurun pertanda bahwa kereta hampir sampai di tempat tujuan.
"Kelihatannya kita hampir sampai, cepat ganti jubah kalian" ucap Pansy pada Blaise dan Draco.
Tanpa diberi tahu dua kali Blaise dan Draco segera mengganti jubah mereka, sedangkan Pansy pergi ke toilet perempuan untuk mengganti jubahnya.
Hogwarts Ekspres akhirnya berhenti di Stasiun Hogsmead. Mereka sampai pada malam Hari dan anak-anak dari tahun pertama sampai tahun ketujuh segera turun.
"Anak-anak tahun pertama, sebelah sini" teriak Hagrid
"Wow, Harry lihat itu setengah raksasa. Aku memang pernah mendengar soal mereka tapi aku tidak pernah melihatnya secara langsung" ucap Ron takjub
"Hay, Hagrid" ucap Harry
"Oh, hello Harry. Senang kau bisa bergabung disini, baiklah sekarang ikuti aku"
"Harry kau kenal dengannya?" tanya Ron
"Iya, Hagrid yang mengantarkan surat dari Hogwarts untukku, dia juga membantuku berbelanja di Diagon Alley"
"Wow, cool"
Setelah sedikit berjalan, akhirnya rombongan anak-anak itu sampai didepan sebuah Danau.
"Baiklah anak-anak, sekarang kita akan menggunakan perahu untuk menyebrangi danau. Satu perahu empat orang"
Setelah pengumuman singkat itu, anak-anak mulai menaiki perahu. Harry dan Ron satu perahu dengan Hermione dan anak laki-laki yang lumayan gempal yang mereka tahu bernama Neville longbottom. Sedangkan Draco bersama Blaise dan Pansy, walaupun masih tersisa satu tempat tapi banyak anak yang tidak mau menempatinya.
"Ah, ini menyenangkan sekali melihat ekspresi anak-anak itu" ucap Pansy
"Pansy darling, menurutku wajar saja bila mereka berwajah seperti itu karena mereka melihat tiga pewaris keluarga terkemuka didunia sihir duduk bersama" ucap Blaise
"Guys, kenapa masih ada satu tempat yang kosong? bukankah satu perahu empat orang?" tanya Draco baru kembali kedunia nyata setelah lama bergelut dengan buku miliknya.
"Kalian tidak mengusir anak-anak itukan?"
"Ah… tega sekali kau menuduh kami seperti itu Draco Malfoy, kami tidak mungkin melakukan hal seperti itu, kurang kerjaan. Iyakan Blaise? Lagi pula anak-anak itu saja yang takut duduk bersama kita" ucap Pansy dengan mimik sedih yang dibuat-buat
"Aku setuju dengan Pansy. Draco cobalah sadar siapa kita ber-tiga sebenarnya" ucap Blaise.
"Ah, sial aku lupa akan hal itu"
Blaise dan Pansy hanya tersenyum dengan yang dikatakan Draco. Kadang-kadang Draco bisa menjadi sosok yang sangat lugu.
Tidak lama kemudian semua perahu sampai ditepi danau depan Hogwarts. Semua anak-anak tahun pertama sangat takjub dengan bangunan sekolah Hogwarts yang seperti kastil luar biasa besar.
"Baiklah, anak-anak lewat sini" teriak Hagrid menuntun anak-anak tahun pertama kedepan pintu yang sangat besar. Didepan pintu itu sudah menunggu seorang Profesor wanita yang kelihatannya sangat tegas.
"Baiklah anak-anak tahun pertama silakan ikuti saya"
Mereka melewati koridor yang penuh dengan lukisan yang bisa bergerak.
'Oh, jadi ini alasan kenapa foto orang tuaku bisa bergerak? Ternyata sihir' ucap Harry dalam hati.
Saat Harry dan Ron menaiki tangga mereka dihadang oleh tiga orang anak laki-laki, satu orang berbadan besar dan satu orang lagi berbadan kecil tapi tentunya lebih besar dari Harry.
'Malfoy? Untuk apa dia menghadangku? Pastinya dia bukan datang untuk minta maaf' ucap Harry dalam hati.
"Oh, jadi ini si Harry Potter. The Boy Who Lived?" ucap Malfoy dengan aksen sombongnya, berbicara seakan-akan dia tidak pernah mengenal Harry sebelumnya.
'Dia berbicara seakan-akan tidak mengenalku, menyebalkan. Kalau itu yang kau inginkan baiklah, akan kuladeni'
"Tidak kusangka seorang Harry Potter berjalan bersama seorang Weasley"
"Apa kau ada masalah dengan itu Malfoy?" ucap Ron marah
"Tidak ada yang menyuruhmu berbicara Weasel. Dibandingkan mengurusi masalah orang lain lebih baik kau urusi urusan keluargamu yang payah dan jumlahnya kelebihan itu. Oh iya apa jubah itu bekas kakakmu? Karena kelihatannya sangat tua" ucap Malfoy mengejek Ron
Wajah Ron merah mendengar perkataan itu hampir sama dengan warna rambutnya. Harry tahu kalau Ron marah tapi memangnya siapa yang tidak marah dikatai seperti itu.
"Oh iya perkenalkan namaku adalah Draco Malfoy, kau mendapatkan kehormatan Potter karena jarang sekali ada orang yang kutegur duluan apalagi untuk memperkenalkan diri seperti ini dan kau juga mendapatkan kesempatan untuk dapat berteman denganku" ucap Malfoy mengulurkan tangannya.
"Terima kasih sudah memberikan kehormatan ini untukku –Malfoy terlihat tersenyum- tapi sayangnya aku bisa memilih sendiri teman yang aku butuhkan dan tentunya itu bukan dirimu" setelah mengatakan hal itu Harry dan Ron pergi meninggalkan Malfoy yang masih shock.
"Wow, Harry kau baru saja menolak Malfoy" Harry hanya tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Ron.
"Malfoy kau baik-baik saja?" tanya salah satu dari teman Draco yang berbadan besar
"Aku tidak apa-apa. Crabbe, Goyle kalian ke Great Hall lebih dulu aku akan menyusul" Draco melangkah pergi tanpa melihat kedua temannya
"Kami akan menunggumu" teriak salah satu anak gempal itu
Draco berjalan kearah koridor yang sepi, dia tidak takut bila ditangkap karena semua guru dan murid sekarang berada di Great Hall.
'Dia menolakku'
'Aku tahu'
'Dia menolak seorang Malfoy'
'Aku tahu'
'Baru kali ini aku ditolak'
'Aku tahu'
'Dia ternyata Harry Potter, anak yang kuhina di toko Madam Malkin'
'Aku tahu'
Untuk beberapa saat, Draco seperti berdiam diri memikirkan suatu hal.
'Kelihatannya tahun ini akan sangat menarik. Tidak percuma aku menuruti perintah gila orang tuaku'
'Apa maksudmu, Draco?'
'Kau akan lihat nanti Sky, tahun ini akan menjadi tahun yang menyenangkan'
'Baiklah apapun idemu itu lebih baik disingkirkan dulu karena sekarang kau harus segera pergi ke Great Hall'
'Kau benar, apakah anak-anak lainnya sudah sampai?'
'Ya, mereka sudah sampai semua. Sekarang tinggal menunggu perintah untuk segera masuk ke great hall'
Lalu Draco segera menuju Great Hall, bergabung bersama Blaise dan Pansy.
"Ya ampun Draco kau kemana saja? Kau hampir membuat masalah dihari pertamamu. Apa yang akan dikatakan oleh ayahmu nanti?" ucap Pansy berusaha menyembunyikan nada khawatirnya.
"Apa kau pergi menenangkan diri, setelah si Potter itu menolakmu?" ucap Blaise dengan penuh rasa humor.
"Blaise… Draco tidak usah dengarkan ucapannya yang gila itu"
"Tapi, pada kenyataannya memang seperti itu Pans"
"Oh, Draco"
"Tapi karena hal itu aku punya ide bagus"
"Apa maksudmu Draco?" Saat Pansy masih bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh Draco. Pintu Great Hall terbuka dan anak-anak tahun pertama pun segera masuk.
"Selamat datang murid-murid tahun pertama. Aku Albus Dumbledore kepala sekolah Hogwarts. Senang sekali kalian semua bisa bergabung disini. Baiklah, tidak perlu lama-lama kita langsung saja melakukan seleksi asrama, aku yakin kalian pun tidak sabar akan hal itu"
Dengan sambutan singkat tersebut, seleksi asrama pun dimulai. Seleksi asrama di Hogwarts akan ditentukan oleh sebuah topi sihir atau topi seleksi yang bisa berbicara di dalam pikiran orang yang memakainya. Dia akan mengungkap bakat dan sifat dari orang tersebut.
Saat topi seleksi berada didepan, terlihat wajah dari murid-murid tahun pertama yang deg-degan dan was-was.
"Baiklah saya akan memanggil nama-nama kalian dan siapa pun yang saya panggil harap segera maju kedepan" ucap Prof wanita yang memandu murid tahun pertama masuk tadi.
"Finnigan, Seamus"
"Gryffindor"
"Abbott, Hannah"
"Hufflepuff"
"Patil, Padma"
"Ravenclaw"
"Parkinson, Pansy"
"Slytherin"
"Harry, apa kau tahu kalau semua murid-murid di Slytherin itu akan berubah menjadi penyihir jahat?" ucap Ron
Harry hanya menggeleng
"Kau-tahu-siapa, dia berasal dari Slytherin"
"Weasley, Ron"
"Gryffindor"
'Ron, dia masuk Gryffindor begitu pun Hermione dan Neville' Batin Harry
"Potter, Harry"
Saat nama Harry dipanggil seluruh Great Hall terdiam
'Kenapa jadi sunyi seperti ini?'
'Oh, seorang Potter sudah lama sekali sekali aku tidak melihat seorang Potter. Umh… nak, kau memiliki syarat untuk masuk kesemua asrama. Kau memiliki keberanian seorang Gryffindor, kesetiaan seorang Hufflepuff, kebijaksanaan seorang Ravenclaw, dan ambisi seorang Slytherin. Tapi kau lebih berpotensi diantara dua asrama yaitu Gryffindor dan Slytherin. Tapi kalau boleh aku menyarankan kau akan berhasil bila di asrama Slytherin'
'Jangan di Slytherin'
'Jangan di Slytherin? Kenapa?'
'Aku lebih suka di Gryffindor, disana ada teman-temanku'
'Baiklah, kalau itu yang kau inginkan Mr. Potter tapi aku tetap meyarankanmu di asrama Slytherin'
'Terima kasih'
"Gryffindor"
Saat topi seleksi meneriakkan nama Gryffindor, Great Hall menjadi sangat riuh khususnya di asrama Gryffindor.
"Hal seperti itu sih mudah sekali ditebak, walaupun si Potter itu tidak menggunakan topi seleksi sekalipun" ucap Blaise dari arah meja asrama Slytherin
"Kau benar Blaise darling" ucap Pansy disebelahnya. "Oh iya, kenapa nama Draco lama sekali dipanggil?"
"Bersabarlah, setelah ini juga pasti dipanggil. Soalnya tinggal dia yang terakhir"
Blaise, Pansy, Crabbe dan Goyle masuk asrama Slytherin, tinggal Draco yang belum diseleksi.
"Malfoy, Draco"
Sekali lagi Great Hall menjadi sunyi, terlihat Draco dengan ekspresi dingin berjalan dengan tenang kearah topi seleksi, tidak mempedulikan kesunyian yang sedang terjadi.
'Wah… seorang Malfoy dan bukan sekedar Malfoy tapi seorang pewaris dan penentu takdir'
'Apa maksudmu?'
'Saat waktunya tiba kau akan mengetahui segalanya. Takdirmu dan semua orang. Wah… karena hal ini aku jadi tidak tahu harus memasukkanmu kemana. Kau memiliki semua kriteria untuk masuk kesemua asrama tapi kau lebih cocok berada diantara dua asrama Gryffindor dan Slytherin'
'Menurutmu asrama mana yang lebih cocok dan akan membantuku untuk menentukan takdirku?'
"Slytherin"
Kesunyian itupun menghilang, digantikan dengan suara tepuk tangan meriah dari arah asrama Slytherin.
"Wah, ini menarik sekali Slytherin dan Gryffindor mempunyai masing-masing orang yang luar biasa. Bila Gryffindor mempunyai The Boy Who Lived maka Slytherin mempunyai seorang pewaris dari keluarga bangsawan paling terkemuka di dunia sihir" ucap Pansy
"Ya, kelihatannya masing-masing asrama memiliki pangeran" balas Blaise
Draco hanya diam saja mendengar komentar dari kedua sahabatnya.
"Baiklah anak-anak, dengan berakhirnya seleksi sekarang waktunya kalian menyantap makan malam. Semoga kalian menyukainya" ucap Prof. Dumbledore dan secara tiba-tiba diatas meja muncul berbagai makanan yang dapat menggugah selera.
Tidak lama kemudian acara makan malam selesai dan masing-masing kepala asrama menyuruh para prefek untuk mengantar para murid kembali ke asrama.
Keesokan harinya pelajaran pertama telah dimulai, Harry dan Ron terlambat di kelas pertama mereka yaitu transfigurasi oleh Prof. Minerva McGonagall menyebabkan mereka kehilangan lima point.
Setelah transfigurasi pelajaran selanjutnya yaitu ramuan oleh Prof. Severus Snape yang kelihatannya sangat tidak menyukai Harry karena memberikan bertubi-tubi pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Harry ditambah tatapannya yang sangat tajam.
Pelajaran ketiga yaitu mantra oleh Prof. Filius Flitwick, mereka mempelajari mantra untuk membuat benda melayang yang berakhir dengan wajah Harry setengah gosong karena Seamus Finnigan meledakkan bulu yang seharusnya diterbangkannya dan juga kejadian Ron yang menjelek-jelekkan Hermione karena mengajarinya sehingga Ron terlihat bodoh dan kejadian itu berakhir dengan Hermione mendengarnya dan kelihatannya dia menangis.
Sekarang mereka sedang makan malam, "Hey, dimana Hermione?" tanya salah satu anak perempuan di Gryffindor yang diketahui bernama Parvati Patil
"Kenapa kau tidak bertanya pada Ron dan mulut tajamnya itu?" ucap anak perempuan lainnya
Harry melihat kearah Ron, terlihat Ron sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya
"Hey, kudengar Hermione menangis di toilet di dekat ruang bawah tanah" ucap Dean Thomas, Ron tambah menyesal
"Hey, kalian sudah dengar kalau si Weasley itu membuat Granger menangis?" ucap Blaise
"Weasley dan mulut besarnya"
'Tidak kusangka Slytherin pun suka bergosip' ucap Sky
Draco hanya tersenyum mendengar komentar sahabat baiknya itu. Tiba-tiba Draco mendengar suara menangis.
"Guys kalian dengar itu?"
"Dengar apa Draco?" tanya Pansy
"Suara menangis"
"Mungkin itu suara hantu" ucap Blaise
"Bukan, ini mahkluk hidup dan kelihatannya dia tersesat"
"Draco sudahlah"
"Aku harus memeriksanya"
"Draco tunggu… setidaknya selesaikan makan malammu" ucap Pansy
Pansy hendak mengejar Draco tapi tiba-tiba pintu Great Hall terbuka, Prof. Quirell dengan tergesa-gesa sambil berteriak "TROLL DI RUANG BAWAH TANAH" untuk beberapa saat Great Hall menjadi sunyi
"kupikir kalian mau mengetahuinya" setelah mengatakan hal itu Prof. Quirell pingsan ditempat dan menyebabkan Great Hall menjadi panik seketika, semua murid berteriak panik.
"TENANG..." teriak Prof. Dumbledore dan Great Hall pun kembali tenang
"Prefek antarkan para murid kembali ke asrama" ucap Prof. Dumbledore
"Kau dengar itu Draco? Sekarang ayo kita kembali ke asrama" ucap Pansy
"Kalian semua cepat ikuti aku" kata prefek pria dari asrama Slytherin.
"Tunggu dimana Troll itu berada?" tanya Draco pada Prefek tersebut
"Kau tidak dengar tadi Malfoy, Troll berada di dekat ruang bawah tanah"
"Lalu dimana asrama kita?"
"Kau ini pelupa ya? Tentu saja di ruang bawah tan... " untuk beberapa saat Prefek pria tersebut terdiam. Sedangkan Draco menyilangkan kedua tangannya di dada dan tidak lupa wajah dingin yang tetap memancarkan ketampanan
"Kau benar-benar ahli membuat seseorang terlihat bodoh" bisik Blaise
"Ayo"
"Tunggu Draco kau mau kemana?" ucap Pansy
"kearah ruang bawah tanah, kelihatannya suara itu berasal dari sana" ucap Draco
"Apa kau gila, kau tidak dengar tadi? Troll itu berada di ruang bawah tanah" ucap Pansy
"Kau tenang saja Pans, aku bersama Blaise"
"Yap itu benar, lagi pula aku juga mau melihat bagaimana Troll itu"
"Kalau begitu aku juga ikut"
"Tidak Pansy, kau tetap disini dan pastikan mereka tidak menyadari kalau aku dan Blaise menghilang"
"Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah kalian berdua"
Setelah itu Draco dan Blaise segera memisahkan diri dari rombongan dan segera menuju ke ruang bawah tanah
"Kelihatannya suara yang kudengar itu adalah Troll yang tersesat" ucap Draco
"Suaranya berasal dari sini"
"Apa yang dilakukan Troll di toilet wanita?" ucap Blaise
Saat mereka masuk ke toilet, terlihat Troll yang sudah pingsan dan tidak lupa trio Gryffindor berdiri didepan Troll itu
"Shit, Potter apa yang kau lakukan?" ucap Draco marah sambil menghampiri Troll yang pingsan
"Malfoy hati-hati, Troll itu masih setengah sadar" ucap Harry
"Dibandingkan menghawatirkanku lebih baik kalian khawatir pada diri kalian sendiri, kalian tahu kalian bertiga bisa dikeluarkan dari Hogwarts"
"Sudahlah Draco kelihatannya Potter dan Weasley datang menyelamatkan Granger" ucap Blaise yang melihat raut penyesalan dari trio Gryffindor tersebut.
"Kelihatannya Troll itu berada disini" suara Prof. McGonagall menyadarkan mereka
"Sial itu Prof. McGonagall" ucap Ron panik
"Bagaimana ini, kita bisa dikeluarkan" ucap Hermione hampir menangis
"Terpaksa aku harus melakukan ini, semuanya berkumpul. Sekarang kita berlima harus saling berpegangan tangan" ucap Draco
"Hah, untuk apa?" tanya Ron dengan wajah bingung
"Kalian mau keluar dari sinikan?" tanya Blaise
Trio Gryffindor menganggukkan kepalanya lalu mereka saling berpegangan tangan membentuk posisi lingkaran (Posisinya Blaise-Draco-Harry-Hermione-Ron)
"Baiklah, kalian siap?" Ke-empat murid tahun pertama itu mengganggukkan kepalanya
WUUUZZZZ… dan ruangan itu pun kembali sepi yang ada hanyalah Troll setengah sadar
"Astaga, kenapa Troll ini bisa pingsan disini?" ucap Prof. McGonagall saat sampai ditoilet tersebut
"Kelihatannya Troll ini pingsan karena terkena pukulan benda ini" ucap Prof. Snape sambil menunjuk bongkahan kayu yang sering dibawa oleh Troll itu sendiri
"Ya, kau benar Severus tapi kenapa tidak ada bekas pukulan? Maksudku luka"
"Siapa pun yang melakukan hal ini, kelihatannya dia menyembuhkannya"
"Apa ada orang yang setelah memukul lalu mengobatinya lagi?" tanya Prof. Flitwick
"Tentunya itu adalah hal yang tidak mungkin kelihatannya orang yang membuat Troll pingsan dengan orang yang mengobatinya adalah orang yang berbeda" ucap Prof. Snape
Kemudian ketiga guru itu segera membawa Troll kembali ke Hutan terlarang
BRUUUKKKK….
"Kelihatannya kalian tidak biasa berapparate. Well kalau Granger dan Potter wajar saja tapi Weasley?" ucap Blaise penuh humor
"Kalau aku ber- apparate, aku bersama orang tuaku"
"Lalu apa bedanya dengan kami?"
"Tentu saja beda karena… Huekkk"
"Oh my, Ha… Ha… Ha"
"Blaise hentikan, nanti ada yang mendengar"
"Mmaaf, hah… aku sudah tenang sekarang"
"Kau, bantu Granger dan Weasley"
"Oke" Blaise menghampiri Hermione dan Ron.
"Potter kau baik-baik saja?" ucap Draco sambil menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan posisi Harry yang terduduk di tanah. Dibandingkan yang lain hanya tangan Draco dan Harry saja yang masih saling berpegangan
"Kelihatannya kau tidak kuat menahan goncangan"
Mungkin karena rasa mual dan pusingnya membuat Harry mendekatkan tubuhnya pada Draco dan menyandarkan kepalanya pada dada Draco
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Draco lembut
"Rasanya pusing dan mual" setelah Harry mengatakan hal itu, Draco menyentuh bagian belakang leher Harry dan memijatnya pelan
"Ah… Nyaman sekali" Harry mendekatkan tubuhnya lebih dekat dan menutup matanya sedangkan Draco mengeratkan pegangan tangannya pada Harry
'Ah, nyaman sekali. Hangat dan… menenangkan'
"Malfoy, parfum apa yang kau gunakan?" tanya Harry
"Maksudmu?"
"Aromanya sangat menenangkan, aku menyukainya"
"Oh"
Keduanya terdiam, tidak ada yang berbicara satu sama lain tapi entah mengapa kesunyian itu sangat nyaman dan menyenangkan. Terlihat Draco dan Harry menikmati keberadaan satu sama lain.
"Uhuukk… bukannya aku mau mengganggu kebersamaan kalian tapi kita harus segera kembali ke asrama sebelum yang lainnya menyedari ketidakhadiran kita" ucap Blaise
Walaupun Blaise tidak memperlihatkan ekspresi apapun tapi Draco tahu kalau Blaise sekarang sedang tertawa dalam hatinya.
"Kau benar, kita harus segera kembali. Potter bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Sudah lebih baik"
"Bagus kalau begitu, Blaise bagaimana Weasley dan Granger?"
"Mereka sudah lebih baik"
"Baiklah. Ayo Potter, kita harus kembali ke asrama"
Setelah mengatakan hal itu Draco membawa Harry bergabung bersama Ron dan Hermione
"Baiklah, sekarang buka mata kalian lebar-lebar. Obliviate"
Setelah Draco mengucapkan mantra penghilang memori, trio Gryffindor itu jatuh pingsan
"Draco, kenapa kau membuat mereka lupa?" tanya Blaise, bingung dengan apa yang dilakukan oleh Draco
"Kalau mereka tetap mengingat hal ini, aku tidak bisa melaksanakan perintah orang tuaku. Selain itu aku tidak mau bersikap canggung terhadap mereka"
"Kau yakin? Bukannya hanya Potter?"
"Shut up. Sekarang kita harus mengembalikan mereka ke asrama"
"Ok… Ok… Ok…" Blaise hanya bisa menyerah lalu Draco mengeluarkan sebuah cincin.
"Apakah itu portkey"
"Umh"
"Bukankah dalam Hogwarts tidak bisa menggunakan portkey?"
"Memang, tapi ini portkey khusus. Kita bisa berpindah tempat dimana pun kita mau"
Draco dan Blaise membawa Harry, Ron dan Hermione kembali ke asrama Gryffindor dan untung saja semua anggota asrama sudah tidur.
"Wow, portkey ini keren sekali bahkan kita tidak perlu melewati pintu penjaga" ucap Blaise
"Baiklah, cukup kekagumanmu. Sekarang letakkan mereka bertiga di tempat tidur"
"Apa aku harus masuk Dorm khusus wanita?" tanya Blaise
"Ya dan ingat jangan melakukan hal lain. Letakkan tubuh Granger lalu segera keluar"
"Draco aku terluka, kau berbicara seakan-akan aku ini pria hidung belang" ucap Blaise dengan wajah sedih penuh kepura-puraan
"Blaise kita tidak punya waktu. Berhentilah main-main"
"Ok… Ok… Ok, maaf"
Blaise segera ke Dorm wanita setelah meletakkan tubuh Ron. Sedangkan Draco masih berada di disana, Draco hanya menatap Harry yang sedang tertidur pulas.
"Draco, aku sudah selesai? Ayo pergi dari sini" ucap Blaise dari balik pintu Dorm.
"Good night, emerald kitty" ucap Draco sambil mengelus kepala Harry setelah itu dia segera meninggalkan Dorm.
TBC
