Harry Potter © J.K. Rowling

Chapter 6

Quidditch

Mentari mulai tersenyum memancarkan sinarnya yang menghangatkan semua makhluk hidup yang ada di muka bumi. Sebuah pagi yang sangat cerah telah menyambut anak-anak yang sedang menimba ilmu di sekolah sihir Hogwarts.

Tapi kelihatannya keindahan pagi ini tidak berpengaruh pada salah satu murid Gryffindor tahun pertama, terlihat dari wajah anak ini yang lesu dan tidak bersemangat.

'Bagaimana mungkin aku memimpikan Malfoy?'

"Harry, kau baik-baik saja? Kita harus segera berangkat kalau tidak mau terlambat sarapan"

"Ah, maaf Ron. Aku sedang banyak pikiran"

Saat Harry dan Ron berjalan menuju pintu keluar, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Hermione.

"Selamat pagi" sapa Hermione

"Pagi" balas Harry dan Ron hampir bersamaan

"Oh iya, terima kasih untuk kemarin malam. Aku berutang budi pada kalian"

"Oh, tidak masalah Hermione. Bukankah kita teman?" jawab Harry sambil tersenyum menyebabkan Hermione tersipu

"Terima kasih, kau orang pertama yang menyebutku teman"

"Uhuk... Granger" ucap Ron

"Hermione"

"Ah, Hermione maaf soal kemarin"

"Tidak apa-apa, seharusnya akulah yang minta maaf karena sudah merepotkan kalian"

"He... He... He, biasa saja" ucap Ron sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal

Harry hanya tersenyum dengan reaksi yang diberikan Ron dan dia juga sangat senang karena mempunyai teman baru

"Masalah ini jangan sampai diketahui sekolah, kalau tidak kita bisa dikeluarkan" ucap Hermione dengan nada serius

"Aku setuju, mengingatnya saja sudah membuatku pusing dan anehnya entah mengapa aku merasa baru saja muntah padahal seingatku aku tidak muntah saat kejadian itu" ucap Ron dengan mimik bingung.

"Ah, aku juga merasakan hal yang aneh, entah mengapa aku merasa mual dan pusing" ucap Hermione

"Kalau kau Harry, apa kau juga merasakan hal yang aneh?" tanya Ron pada Harry

"Sama seperti Hermione aku juga merasa mual dan pusing"

"Ini sangat aneh, seingatku setelah Ron memukul kepala Troll itu, kita langsung keluar dari toilet karena mendengar suara Prof. McGonagall dan Prof. Snape" ucap Hermione

"Ya, aku juga megingatnya seperti itu tapi mengapa kita merasa mual dan pusing?" ucap Ron

'Ternyata mereka juga merasa ada yang aneh, apa mimpiku soal Malfoy juga nyata? Lebih baik kutanyakan saja'

"Guys, ada yang mau kutanyakan"

"Soal apa Harry ?" tanya Hermione

"Kemarin malam rasanya aku bermimpi dan hal itu sangat nyata, aku... " belum sempat Harry menyelesaikan pertanyaannya, mereka bertiga ditegur oleh Seamus.

"Hey, kenapa kalian masih berkumpul disini? Sebentar lagi waktu sarapan habis"

"Astaga, aku hampir lupa. Harry bisa kita lanjutkan nanti? Aku sudah sangat lapar" ucap Ron sambil memegangi perutnya

"Ok"

Akhirnya mereka bertiga plus Seamus, Dean dan Neville berjalan bersama kearah Great Hall, di jalan mereka tidak sengaja berpapasan dengan Malfoy cs.

"Wah... wah... Lihat ini kumpulan Gryffindor yang terdiri dari orang-orang payah" ucap Malfoy sombong.

"Shut up Malfoy"

"Ron, biarkan saja jangan ladeni dia" ucap Hermione yang mencoba menahan Ron.

"Wah... lihat ini Weasley dilindungi oleh anak perempuan, muggleborn lagi. Kelihatannya kau sudah kehilangan kebanggaanmu sebagai penyihir pureblood. Aku penasaran apa saja yang diajarkan oleh orang tuamu, hm?"

"Yang jelas itu bukan hal yang berguna, Draco darling" ucap seorang gadis yang Harry tahu bernama Pansy Parkinson.

"Kau benar. Tentu saja Weasley senior hanya mengajari hal-hal yang tidak berguna. Hmm... seperti, hal-hal mengenai muggle?"

Setelah Malfoy mengatakan hal itu, semua teman-temannya –minus Blaise (sudah berada di Great hall) tertawa terbahak-bahak. Ron sudah tidak dapat membendung kemarahannya bahkan wajahnya kini hampir sama dengan warna rambutnya, Ron melayangkan pukulan pada Malfoy tapi berhasil ditahan oleh Harry yang tiba-tiba berpindah kehadapan Ron.

"Harry, menyingkirlah. Apa kau mencoba melindungi orang menyebalkan ini?"

"Aku tidak melindunginya Ron. Jangan ladeni dia, kau hanya membuang-buang tenaga saja. Apa kau mau terkena detensi karena memukul murid lain?"

"Yang dikatakan Harry benar Ron, lebih baik kita pergi dari sini" ucap Hermione sedangkan Seamus, Dean dan Neville mengganggukkan kepalanya tanda mereka setuju.

"Lebih baik kau dengarkan perkataan teman-temanmu yang payah ini" ucap Malfoy sambil menyeringai

"Dengar Malfoy, aku tidak tahu apa masalahmu tapi satu hal yang harus kau ingat jangan pernah hina teman-temanku" Harry semakin kesal mendengar ucapan Malfoy yang sejak tadi menghina Ron

"Atau apa?" ucap Malfoy dengan mimik yang seakan-akan mengatakan aku tidak takut dengan ancamanmu.

"Atau aku sendiri yang akan mendiamkan mulut pedasmu itu"

"Dengan cara apa? menciumku?"

Entah mengapa saat Malfoy mengatakan hal itu, wajahnya menjadi sedikit panas, teringat kembali mengenai mimpinya yang kemarin malam.

"Hey, ada apa ini? Kelihatannya seru sekali sampai-sampai kalian berempat tidak datang ke Great hall" ucap seorang anak laki-laki dengan kulit hitam manis yang ternyata adalah Blaise Zabini.

"Ah, Blaise. Bukan apa-apa hanya saja ada kumpulan Gryffindor payah yang merusak mata" ucap pansy

Blaise hanya mengganggukkan kepalanya. Dia melihat Harry dan Draco saling bertatapan dengan kebencian yang sangat terlihat di mata kedua anak laki-laki itu.

'Wah, Draco benar-benar hebat memainkan perannya bahkan aku bisa merasakan kebencian yang sangat dari matanya' batin Blaise 'Eh, tunggu dulu apakah Potter baru saja tersipu? Wah ini semakin menarik saja'

"Bukan, tapi dengan memukul wajahmu" ucap Harry berusaha mengontrol detak jantungnya

"Oh ya? apa yang bisa dilakukan tangan kecil yang sedikit nutrisi ini? Aku bertaruh pukulanmu itu seperti digigit semut"

"Oh ya? Aku bisa membuktikannya sekarang"

"Emm... Harry bukankah kau barusan bilang jangan ladeni dia?" Ron merasa perselisihan ini semakin buruk

"Aku tidak bisa tenang sekarang kalau tidak menutup mulutnya yang menyebalkan itu" ucap Harry dengan nada yang penuh kemarahan.

Melihat hal ini Malfoy hanya menyeringai kearah Harry seakan-akan ingin menantangnya menyebabkan Harry semakin marah.

Harry berjalan kearah Draco hendak memukulnya bahkan dia sudah mengangkat tangannya tapi naas Harry sama sekali tidak melihat kaki yang terjulur dihadapannya sehingga menyebabkan Harry kehilangan keseimbangan dan dia pikir akan berakhir di lantai batu yang dingin tapi ternyata dugaannya salah, dia malah jatuh diatas batu yang hangat

'Hangat?'

Ternyata dia jatuh dipelukan Malfoy dan untung saja reflek dan posisi yang bagus menyebabkan Malfoy dapat mengatur berat badan Harry sehingga tidak menyebabkan dia jatuh dengan Harry.

Semua orang yang melihat kejadian itu, dari awal sampai akhir sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Sedangkan Harry sendiri tidak berani menggangkat kepalanya dan Malfoy hanya memperlihatan wajah dingin tidak terbaca sambil melihat kearah Harry yang berada dalam pelukannya.

'Aduh... Aku malu sekali. Coba disini ada lubang, tanpa pikir dua kali aku akan langsung lompat kedalamnya' dalam hati Harry menyesali perbuatannya yang bodoh.

'Bagaimana ini aku tidak bisa lagi memperlihatkan wajahku pada yang lain... Eh tunggu dulu, sepertinya aku pernah mencium aroma ini. Ah... Iya aroma sama yang kucium saat aku bermimpi tentang Malfoy'

"Hey, Potter sampai kapan kau mau memelukku seperti ini?"

"Ah, mmaaf... tterima kasih"

"Apa kau ini penggemar Prof. Quirell?"

Harry hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tidak berani melihat kearah mata silver itu.

"Ayo pergi, waktu sarapan sebentar lagi habis" ucap Malfoy pada teman-temannya

Saat Malfoy dan teman-temannya hendak pergi, tiba-tiba Harry menahan tangan Malfoy.

"Apa yang kau inginkan Potty?" Harry tidak mengindahkan panggilan Draco padanya

"Itu... apa kau melihat Troll kemarin malam?"

"Apa?"

"Maksudku, apakah kau kemarin malam tidak kembali ke asrama dan malah mencari Troll?"

"Hah? Apa kau pikir aku mau membuang nyawaku hanya karena aku penasaran? Jangan bodoh" ucap Malfoy meninggalkan para murid Gryffindor

Saat Draco dan teman-temannya agak menjauh, Pansy tidak dapat menahan rasa penasarannya

"Jadi apakah ada yang mau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa si Potter itu tahu kalau Draco kemarin malam pergi mencari Troll?"

"Karena kami bertemu dengan mereka, maksudku Granger, Weasley dan potter Pansy darling"

"Lalu?"

Akhrnya Blaise menceritakan seluruh kejadian malam kemarin –minus soal Draco memijat leher Harry- Blaise tahu kalau Draco tidak mau bagian itu diketahui orang lain walaupun sahabatnya sendiri, jadi Blaise cari aman saja.

"Kalau Draco sudah membacakan mantra Obliviate, kenapa Potter masih mengingat hal itu?"

"Parfum" ucap Draco

"Maksudnya?"

"Ingatannya sudah dihapus tapi indra miliknya masih mengingat aroma dari parfum milikku"

"Jadi, bagaimana sekarang?"

"Untuk sekarang tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, aku yakin Potter hanya mengganggap itu hanya mimpi dan satu lagi, Blaise jangan pernah kau lakukan hal itu lagi" ucap Draco

"Ah, maaf. Rencananya aku mau meghentikan pertikaian kalian dengan cara membuat malu Potter jatuh ke lantai. Eh, yang terjadi malah diluar perhitunganku" ucap Blaise santai

'Kau bilang salah perhitungan? Bilang saja kalau kau sengaja ha... ha... ha... semakin lama aku makin menyukai anak ini' Sky tidak dapat menahan dirinya untuk tidak berkomentar

Sedangkan Pansy hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua sahabat kecilnya itu. Tidak lama kemudian mereka sampai di Great Hall.

"Ok, Harry apa itu tadi?" tanya Ron.

Saat ini Harry, Ron, Hermione, Dean, Seamus dan Neville sedang berjalan menuju Great Hall. Setelah kejadian yang cukup mengejutkan tadi kelihatannya mereka butuh sesuatu untuk menyegarkan diri, contohnya mengisi perut sebelum memulai hari dengan banyak pelajaran.

"Kau, dengar dia Ron. Malfoy tidak melakukan hal yang kutanyakan jadi, bisakah kita berhenti membicarakan hal ini?" ucap Harry dengan kepala menunduk.

"Tapi, Harry... " belum sempat Ron meyelesaikan pertanyaannya, tangannya ditarik oleh Hermione

"Ron sudahlah, jangan bahas itu lagi. Kelihatannya Harry belum melupakan hal tadi" bisik Hermione takut bila Harry mendengarnya.

"Ya, lebih baik kita jangan bahas itu lagi, aku takut nanti Harry kepikiran" ucap Dean

"Guys, kalian jadi ke Great Hall kan?" tanya Harry merasa teman-temannnya tidak mengikutinya.

"tentu saja, Harry" jawab kelima anak Gryffindor itu serempak.

Tidak lama kemudian mereka berenam sampai di Great Hall. Harry sama sekali tidak berani melihat ke arah meja asrama Slytherin. Saat seluruh murid Hogwarts menyantap sarapan paginya dengan tenang, tiba-tiba banyak sekali burung hantu yang datang.

"Apa itu?" tanya Harry

"Itu kiriman dari para orang tua" ucap Ron

Salah satu burung hantu yan kelihatannya agak tua berusaha mendarat dihadapan Ron tapi entah mengapa burung itu malah terpeleset sehingga menabrak tempat yang berisi emping jagung.

"Hah... maaf Guys burung hantuku ini memang sudah agak tua" ucap Ron sambil berusaha mengambil barang yang dibawa oleh burung hantu itu. Ibu Ron mengirim sekotak coklat dan koran. Harry merasa tertarik ingin membaca koran tersebut jadi dia meminjam koran itu dari Ron.

Dalam koran tersebut ada sebuah berita mengenai pencurian di Bank Gringotts tepatnya di Vault no. 713 tapi pencurian itu bisa dikatakan gagal karena tidak ada barang yang hilang dari sana karena barang dari dalam vault itu sudah diambil.

'Bukankah vault no. 713 itu vault yang kukunjungi bersam Hagrid ?'

"Ada apa Harry?" tanya Hermione

"Tidak ada apa-apa. Hey Neville, itu bola apa?" tanya Harry berusaha mengalihkan pembicaraan

"Ah, ini bola pengingat. Kudengar kalau bolanya berwarna merah berarti orang yang pegang itu melupakan sesuatu" ucap Hermione

"Tapi aku tidak merasa melupakan sesuatu" ucap Neville

"Tenang saja Neville, kau nanti pasti mengingatnya" ucap Dean.

"Ok, apakah kalian sudah selesai sarapan? Sebentar lagi jam pertama dimulai" ucap Seamus

Seluruh murid tahun pertama Gryffindor dan Slytherin keluar menuju lapangan. Hari ini Gryffindor akan belajar bersama dengan Slytherin, pelajaran pertama mereka hari ini adalah belajar terbang.

-o0o-

"Wah Draco kau baik sekali, karenamu Potter bisa masuk ke tim Quidditch asramanya sebagai seeker termuda" Blaise mengkritik Draco dengan cara yang sangat halus.

Mereka sedang berada di Great Hall, menyantap sarapan untuk mengisi energi. Hari ini adalah hari sabtu, bagi anak-anak tahun ketiga keatas ini adalah hari berbelanja ke Hogsmead. Hogsmead adalah desa yang berada di dekat Hogwarts dan disana menjual berbagai keperluan sekolah dan makanan, hanya anak-anak tahun ketiga keatas yang diperbolehkan pergi kesana tentunya dengan ijin orang tua.

"Shut up" ucap Draco tidak melihat kearah Blaise, dia masih terpaku dengan makanannya

"Jadi, apa yang akan kalian lakukan hari ini?" tanya Pansy berusaha mengalihkan pembicaraan

"Kalau aku akan menghabiskannya dengan membaca di Perpustakaan" ucap Blaise setelah berhenti tertawa

Pansy memutar bola matanya, dia lupa kalau Blaise adalah kutu buku tapi herannya tidak terlihat seperti itu, sama seperti Draco tapi Draco lebih maniak dari pada Blaise. Kalau ada buku yang menarik perhatiannya, Draco akan membacanya terus dan melupakan keadaan sekitar walaupun buku itu ditulis dalam huruf rune kuno sekalipun, contohnya buku yang dia baca saat pertama kali dia masuk ke Hogwarts.

"Kalau kau Draco?" tanya Pansy berharap Draco tidak mempunyai jawaban seperti Blaise.

"Aku mau jalan-jalan... " sebelum dia menyelesaikan perkataannya, Pansy memotong

"Wah, ide bagus. Aku juga ikut ya" balas Pansy dengan nada ceria

"Bersama Sky ke Hutan terlarang"

Setelah Draco mengatakan hal itu Pansy tidak memperlihatkan ekspresi apapun sedangkan Blaise hampir tidak bisa menahan tawa, menyebabkan mereka bertiga menjadi pusat perhatian anak-anak Slytherin.

"Baiklah, aku duluan" ucap Draco sambil beranjak dari kursinya, "Oh iya Pans, kau jadi ikut?"

"Ah tidak, aku tidak mau menjadi orang ketiga. Nanti mengganggu kencanmu lagi" ucap Pansy sambil tersenyum

"Baiklah kalau begitu" setelah mengatakan hal itu Draco berjalan keluar Great Hall

"Kalau begitu kau mau ikut aku ke Perpustakaan?"

"Tidak terima kasih, bisa-bisa aku malah ketiduran"

"Ok, aku duluan" Blaise melangkah pergi meningalkan Pansy

.

.

"Harry, bagaimana latihan pagi ini?" tanya Ron

Harry, Ron dan Hermione sedang berjalan menuju Great Hall untuk sarapan pagi. Harry sudah selesai latihan pagi atau lebih tepatnya perkenalan Quidditch oleh kapten Quidditch Gryffindor yang bernama Oliver Wood.

"Hebat, aku tidak tahu kalau di dunia sihir ada olah raga yang menyenangkan seperti itu"

"Tentu saja, bukan hanya di dunia muggle saja yang ada" ucap Ron dengan penuh rasa bangga

"Ya, kau benar" ucap Hermione

"Wah, kira-kira hari ini menu sarapannya apa ya?" ucap Ron bersemangat

"Menurutku apapun menunya kau akan tetap menikmatinya, iyakan Ron?" ucap Harry

"He...He...He, kau tahu saja"

"Baiklah, hentikan bercandanya. Ayo sarapan" ucap Hermione

Akhirnya mereka bertiga mulai menikmati sarapan dengan tenang

"Hei, Harry bagaimana latihanmu?" tanya Seamus

"Hebat" ucap Harry dengan mulut yang masih ada makanannya

"Harry telan dulu makananmu sebelum bicara"

"Maaf, Mione"

"He...He...He, Hermione kau sudah seperti ibu-ibu" ucap Seamus

"Seamus kalau kau tidak ingin sendok ini melayang ke wajahmu, diam dan makanlah" ucap Hermione sambil mengangkat sendok yang dipegangnya

"Ok"

Tidak lama kemudian mereka semua selesai sarapan, sekarang mereka sedang menikmati hidangan pencuci mulut.

"Hei, kalian lihat itu" ucap Dean

"Lihat apa?" tanya Ron

"Itu di meja asrama Slytherin"

"Memangnya kenapa? Aku tidak melihat hal yang aneh" ucap Hermione santai

"Kau anak perempuan, jadi tidak mengerti. Lihat baik-baik di meja asrama ular itu ternyata ada dua mawar yang sedang mekar dengan cantiknya"

"Hah?"

"Ya ampun Ron, apa kau tidak mengerti? Itu lihat si Parkinson dan Greengrass"

"Ah, aku mengerti"

"Bukankah mereka terlihat sangat manis?"

"Benar, tidak kusangka si Parkinson yang cerewet itu bisa terlihat manis Greengrass juga"

"Benar juga, saat santai begini mereka berdua terlihat sangat manis"

"Benar... sejak mereka mengobrol, mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian" ucap Dean bersemangat.

"Kalau kau menyukai mereka kenapa tidak mencoba mengobrol dengan mereka?" ucap Hermione

"Dan merelakan nyawaku? Tidak terima kasih, aku masih mau hidup lebih lama" ucap Dean sambil menggelengkan kepalanya

"Kenapa? Mereka tidak mungkin membunuhmu iyakan? Bisa-bisa mereka dikeluarkan dari sekolah"

"Masalahnya bukan mereka Hermione tapi keluarga mereka" ucap Neville

"Benar, keluarga mereka itu sangat berpengaruh di dunia sihir, tidak kalah dari keluarga Malfoy" ucap Seamus

"Kalau kita mencoba berbicara dengan mereka pada saat mereka sedang good mood seperti itu, bisa-bisa mood mereka rusak dan bukan hanya kita saja yang kena imbasnya tapi juga keluarga kita" ucap Dean dengan wajah penuh horror

"Lalu bagaimana dengan Harry? Dia sering bertengkar dengan Malfoy"

"Itu berbeda Hermione, biar kujelaskan. Pertama Harry adalah The Boy Who Lived, kedua pasti banyak yang membelanya, ketiga Malfoy hanya menganggap itu main-main seperti sebuah hiburan, itu menurutku. Jadi, kupikir dia tidak mungkin mengganggap semua itu serius" ucap Seamus

"Setuju... setuju" ucap Dean

"Bagaimana dengan Ron?" ucap Harry yang sejak tadi diam saja mendengarkan obrolan teman-temannya

"Menurutku, Malfoy hanya mengganggapnya main-main. Kalian tahulah orang-orang kaya seperti Malfoy suka sekali bosan, mereka selalu mencari hiburan"

"Hiburan? Dengan cara menghina dan mengejek kami?" ucap Ron

"Begitulah"

'Hiburan? Seharusnya aku sudah menduganya, keterlaluan' ucap Harry dalam Hati

Karena terlalu sibuk dengan pikirannya Harry tidak sadar kalau Ron sejak tadi memanggilnya.

"Harry?"

"Ah, maaf Ron"

"Apa yang sedang kau pikirkan Harry?" tanya Hermione

"Tidak ada, oh iya apa ada yang ingin kau tanyakan Ron?" tanya Harry mencoba mengalihkan pembicaraan

"Oya, pertandingan pertamamu hari senin inikan?"

"Ya, kau benar"

"Wah, semangat ya... aku akan mendukungmu" ucap Ron

"Bukan hanya Ron tapi semua anggota asrama Griffindor" ucap Seamus

"Terima kasih teman-teman" ucap Harry sambil tersenyum

-o0o-

Dengan langkah pasti Draco berjalan kearah hutan terlarang walaupun dia tahu hutan itu tidak boleh dimasuki oleh para murid. Draco menggunakan sweater biru dengan kerah menutupi leher, celana jins abu-abu dan sepatu hitam terlihat sangat tampan dan berkarisma tidak seperti anak umur 11 tahun.

"Hmm... kupikir disini bisa" Draco sampai di tengah hutan tersebut.

'Ya... menurutku juga begitu'

Draco melepaskan medalion dari lehernya dan meletakkannya di tanah

"DraRelesh" ucap draco sambil menganggkat tangannya kearah medalion tersebut

Tidak lama setelah Draco mengucapkan mantra, tiba-tiba dari arah medalion itu muncul cahaya keemasan yang sangat menyilaukan

"RRROOOAAARRR"

Suara yang sangat berat dan mengerikan tiba-tiba muncul dari arah cahaya tersebut tapi Draco terlihat tidak ketakutan, dia tetap berdiri disitu dan terlihat sebuah senyuman tipis di wajahnya.

"Selamat datang Sky" ucap Draco ketika dia membuka matanya dan berjalan kearah suara itu

Saat cahaya keemassan itu menghilang, berdiri seekor naga yang sangat besar dan indah, kulitnya yang berwarna hitam bersinar bagai berlian saat terkena sinar matahari

"Sigh..."

"Kenapa kau menghela nafas?"

"Kemana perginya Draco yang imut? yang selalu..."

"Hentikan itu"

"Sigh... waktu cepat berlalu. Dulu saat pertama kali bertemu, kalau diukur-ukur tinggi badanmu seukuran ujung kuku milikku tapi sekarang seukuran jari manisku ckckck"

"..."

Entah apa yang dipikirkan oleh Sky sampai dia bernostalgia begini, mungkin ini efek dia dilepaskan dari medalion. Kalau diingat-ingit, ini adalah kali kedua Sky keluar sedangkan pertama kali dia keluar saat hari ulang tahun Draco yang kesebelas.

Tiba-tiba Sky bertanya apa Draco ingin melihat sosoknya atau tidak, bisa dianggap ini adalah kado ulang tahun yang tentu saja Draco menjawab iya dan setelah mengikuti petunjuk dari Sky, betapa terkejutnya Draco saat melihat sosok asli Sky yang ternyata seekor naga hitam.

Pantas saja Sky bilang talentanya bisa terbang, Draco berpikir kalau Sky adalah sejenis burung sihir seperti phoenix. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya kalau Sky adalah naga.

Sebelum Draco berangkat ke Hogwarts, dia dan Sky menghabiskan waktu terbang mengelilingi manor dan hutan sekitarnya, orang tuanya hanya tahu kalau Draco terbang menggunakan sapu untuk bermain menangkap snitch jadi mereka tidak pernah curiga pada Draco yang sering keluar rumah. Saking seringnya hal ini menjadi kebiasaan dan kebiasaan ini dibawa ke Hogwarts, keduanya sudah berjanji setiap hari libur mereka akan terbang bersama.

"Acara jalan-jalannya jadi atau tidak?"

"Dasar, naiklah" ucap Sky sambil merendahkan tubuhnya

Draco berhasil naik ke atas tubuh Sky dengan mudah

"Kau benar-benar tidak ada rasa humor sama sekali"

"Hentikan itu atau ini batal"

"Dasar tukang mengancam" Draco hanya tersenyum dengan yang dikatakan oleh Sky

-o0o-

Di sebuah Hutan berdiri Manor yang sangat besar dan mewah, Manor tersebut dilindungi oleh sihir pelindung yang sangat kuat karena manor ini dijadikan sebagai tempat pertemuan yang sangat penting. Di sebuah ruangan berkumpul banyak penyihir yang duduk melingkari meja berbentuk oval.

"Bagaimana keadaan Princeps duos?" tanya Sang Amore

"Dia baik-baik saja, bahkan sekarang kemampuannya makin berkembang sejak dia masuk Hogwarts" ucap seorang pria paruh baya

"Bagus kalau begitu, tetap awasi dia!"

"Baik" ucap semua orang yang hadir dalam pertemuan tersebut

"Mereka tahu kalau anak yang terlahir sebagai Princeps duos mempunyai sifat seorang pemimpin sejati dan aku sudah melihat semua hal itu ada dalam dirinya sejak dia masih berumur 1 tahun"

Banyak yang mengangganguk setuju dengan perkataan sang Amore.

"Dua tahun lagi, kekuatan yang tertidur dalam dirinya akan bangkit"

Tiba-tiba saja suasana dalam ruangan itu menjadi dingin dan terasa berat, atmosphere mencekam bahkan untuk bernafas terasa sangat sulit. Dua tahun lagi sebelum semuanya dimulai, sebelum peperangan besar terjadi lagi di dunia sihir yang menyebabkan bangsa mereka harus memilih kembali.

-o0o-

"HARRY SEMANGAT... KALAHKAN MEREKA SEMUA"

"Ron, bisakah kau kecilkan suaramu?" ucap Hermione marah

Ron dan Hermione sedang menyaksikan pertandingan pertama Harry sebagai seeker asrama Gryffindor. Harry menyaksikan para penonton dan jalannya pertandingan, tiba-tiba dihadapannya melintas benda kecil bersayap yang terbang dengan kecepatan tinggi

'Itu dia'

Harry segera mengejar snitch tersebut tapi pada saat dia hampir menangkapnya tiba-tiba sapu Harry bergerak dengan liar dan tidak mau mendengar perintah dari Harry untuk menghentikan gerakannya.

"Kelihatannya ada yang aneh dengan sapu Potter" ucap Blaise

Blaise, Draco dan Pansy juga datang menonton pertandingan Quidditch pertama mereka sejak sampai di Hogwarts tapi sebenarnya yang mau datang hanya Blaise dan Pansy, Draco lebih memilih berada di kamar tapi Blaise dan Pansy menyeret Draco keluar dari kamarnya.

Jadi disinilah Draco, menemani kedua sahabatnya menyaksikan pertandingan Quidditch tapi setelah melihat aksi Potter, pertandingan Quidditch yang awalnya membosankan berubah menjadi hal yang menarik, sayang untuk dilewatkan.

"Sapunya telah dimantrai" ucap Draco

"Apa?" ucap Pansy

"Maksudmu ada yang menyabotase sapunya?" ucap Blaise

"Ya"

"Tapi siapa?" ucap Pansy

"KEBAKARAN... KEBAKARAN... "

Terdengar kegaduhan dari arah podium tempat para profesor, terlihat Prof. Snape, berusaha memadamkan api pada jubah miliknya.

"Eh, apakah jubah Prof. snape baru saja terbakar?" tanya Pansy

"Ya, kelihatannya seperti itu" ucap Blaise

"Siapapun yang melakukannya dia orang yang sangat berani" ucap Pansy sambil tersenyum

"Ha... ha... ha..., kau benar" Blaise tidak bisa bayangkan ada orang yang berani melakukan hal itu pada Prof. Snape sedangkan Draco hanya diam saja

Tiba-tiba ada suara yang sangat riuh, banyak murid bertepuk tangan dan bersorak-sorak khususnya dari arah asrama Gryffindor

"YYYEEEE... LUAR BIASA... HARRY... HARRY... HARRRY... "

"Kelihatannya si Potter berhasil menangkap Snitch" ucap Blaise

"Bagaimana ya, kalau Draco melawannya?"tanya Pansy

"Hmm, itu pasti akan sangat menarik" balas Blaise

'Bertanding dengan Potter menangkap Snitch? Hmm, kelihatannya itu bukan ide buruk' Draco terus memperhatikan Harry yang tertawa riang,

'Manis, Eh? apa yang baru saja kupikirkan?'

'Manis?'

'Pasti karena cuaca panas ini, aku berbicara aneh'

"Hei, pertandingannya sudah selesai. Ayo kembali ke asrama, disini panas sekali" Draco melangkah pergi, meninggalkan kedua sahabatnya yang kebingungan

"Panas? Sebentar lagikan musim dingin" ucap Pansy yang heran dengan perkataan Draco

-o0o-

"KENAPA KAU BISA GAGAL MEMBUNUH ANAK ITU? DUA KALI AKU MEMBERIMU KESEMPATAN"

"Maafkan aku, master. Lain kali aku akan membunuhnya"

"KUPEGANG JANJIMU"

"Baik..."

"BAGAIMANA DENGAN BATU ITU?"

"Aku sudah menemukan tempat penyimpanan batu itu, tuan tenang saja aku akan segera mendapatkannya"

"AKU TIDAK SABAR AKAN HAL ITU, TIDAK LAMA LAGI BATU ITU AKAN MENJADI MILIKKU"

TBC