Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 7
Merry Christmas
Mentari bersinar. Namun, tak terlihat. Sinar hangatnya yang selalu memancar keseluruh penjuru telah tergantikan oleh salju. Banyak yang memilih untuk tetap berada dalam ruangan, menjaga tubuh agar tetap hangat namun ada pula yang berada diluar untuk bermain.
Hari ini adalah hari menjelang malam natal. Banyak murid Hogwarts pulang untuk menikmati natal bersama keluarga. Namun, tidak bagi Harry dan Ron yang sedang berada di Great Hall, mereka asyik bermain catur sihir. Hermione menghampiri mereka dengan koper besar ditanganya, memperhatikan permainan yang sedang dimainkan kedua anak itu. Bidak-bidak kecil dengan warna merah dan putih yang saling berteriak memberikan saran.
"Kuda ke E-5" ucap Harry, setelah megatakan hal itu bidak berwarna putih dengan bentuk manusia yang sedang menunggangi kuda bergerak sendiri kearah yang diperintahkan.
"Ratu ke E-5" balas Ron, bidak berwarna merah dengan bentuk ratu yang sedang duduk bergerak kearah bidak putih kuda dan menghancurkannya
"Sungguh barbar" Hermione yang menyaksikan kejadian tersebut mengkerutkan keningnya
"Tampaknya kau sudah berkemas Hermione" Ron melihat kearah koper yang dibawa Hermione
"Tampaknya kau belum Ron"
"Ada perubahan rencana. Kedua orang tuaku memutuskan untuk pergi ke Romania mengunjungi saudaraku Charlie, dia mempelajari naga disana"
"Bagus, kau dapat membantu Harry, dia akan mencari informasi di Perpustakaan tentang Nicholas Flamel"
"Tapi, kita sudah mencari ratusan kali!"
"Tapi bukan di Restricted Section. Merry Christmas" Hermione melangkah pergi meningalkan Great Hall
"Kupikir kita telah memberikan pengaruh yang buruk padanya" ucap Ron
-o0o-
"Kelihatannya aku harus mengawasi mereka"
"Siapa maksudmu Draco?"
"Kelihatannya, kau dan Blaise sudah selesai berkemas" ujar Draco mengalihkan pembicaraan
'Benar-benar pintar' Batin Blaise mendengar jawaban sahabatnya
Draco, Pansy dan Blaise duduk santai sambil menikmati cemilan sebelum berangkat ke stasiun tapi yang pulang hanya Pansy dan Blaise sedangkan Draco tetap tinggal di Hogwarts
"Draco apa kau yakin akan tetap tinggal? kalau kau mau, kau bisa ke rumahku atau Blaise" ucap Pansy
"No, thanks"
"Baiklah kalau begitu aku tidak akan memaksamu, tapi kenapa kau tidak pulang?"
"Ayah dan ibuku pergi ke luar negeri karena urusan kementrian. Dibandingkan tinggal di Manor lebih baik disini"
"Lalu apa bedanya kau berada disini dan di Manor? kau akan tetap merayakan natal sendirian"
"Kalau di Manor aku bosan semua tempatnya pernah aku datangi dan aku sudah membaca hampir semua buku, sedangkan disini aku bisa berkeliling dan menghabiskan waktu di perpustakaan"
"Hampir?" tanya Blaise
"Well, ada beberapa buku yang dilarang oleh orang tuaku untuk membacanya" ucap Draco
"Sejarah gelap keluarga Malfoy" ucap Pansy sambil meraih biskuit coklat dihadapannya, Draco hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Pansy
"Hey, sebaiknya kita segera berangkat kalau tidak mau ketinggalan kereta" ucap Blaise
"Kau benar" Pansy melihat kearah jam besar yang berada di Great Hall
Pansy dan Blaise segera bangit dari posisi duduk mereka, diikuti oleh Draco
"Jaga dirimu baik-baik dan ingat jangan buat masalah selama kami tidak ada. Mengerti?" ucap Pansy
"Siap, bos" ucap Draco
"Good" Pansy memeluk Draco sebagai ucapan perpisahan
"Ayolah Pans, kita hanya pergi selama dua minggu bukan selamanya" ucap Blaise, merasa sikap Pansy terlalu berlebihan
"Bukannya kau juga khawatir pada Draco? sejak tadi sebelum kita ke Great Hall kau terus berbicara tentang keputusan bodoh Draco untuk tetap tinggal disini" ucap pansy, merasa tersinggung dengan perkataan Blaise sedangkan Draco memandang Blaise dengan ekspresi humor yang tidak dapat disembunyikan
"Itu… sebelum aku tahu soal hal menarik yang akan menghibur Draco selama disini. Aku hanya tidak ingin dia bosan, bisa-bisa natal di Hogwarts bisa kacau" ucap Blaise sambil menoleh kearah lain, dia tidak mau melihat ekspresi Pansy atau Draco yang seakan-akan mengatakan 'Alasan, bilang saja kau khawatir'
"Ayo cepat Pans, kalau kau tidak mau ketinggalan kereta" ucap Blaise
"Apa kau akan pergi begitu saja sebelum kau mengucapkan sesuatu padaku?" ucap Draco menggoda Blaise
"Dengar, ada dua hal yang harus kau tahu Draco Malfoy. Pertama, bukankah aku sudah bilang aku hanya khawatir kalau kau bosan. Kedua, aku telah menemukan suatu hal yang akan membuat kau tidak akan bosan selama disini" ucap Blaise
"Apa maksudmu?" Draco tertarik dengan yang dikatakan oleh Blaise khususnya hal yang kedua lalu Blaise membisikkan sesuatu ketelinganya, sekilas wajah Draco tampak terkejut lalu kembali seperti semula
"Itu bukan urusanku" ucap Draco kearah Blaise
"Well, aku hanya memberi saran" ucap Blaise sambil menyeringai, tampak jelas diwajahnya rasa kemenangan yang luar biasa setelah berhasil membalas Draco karena menggodanya
"Sudah kubilang itu bu…" tiba-tiba perkataan Draco terpotong oleh Pansy yang kelihatannya sedang kesal
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Pansy kesal merasa tidak dipedulikan keberadaannya
"Maaf Pansy darling, tapi ini urusanku dengan Draco dan kau tidak boleh tahu" alasan Blaise sama sekali tidak menyelesaikan masalah, malah sebaliknya Pansy makin kesal terhadap kedua sahabatnya itu
"Oh, jadi kalian sudah mulai punya rahasia yang tidak ingin kalian bagi denganku?"
"Pansy, tidak usah dengarkan Blaise. Hal yang dia katakan itu bukanlah hal penting"
"Well, kalau kau bilang begitu berarti hal itu memang tidak penting" Pansy tersenyum, entah terbang kemana rasa kesal yang terpancar diwajahnya tadi
"Lebih baik kalian segera bergegas, 30 menit lagi kereta berangkat"
"Sampai jumpa dua minggu lagi Draco. Merry Christmas" ucap Pansy
"Sampai jumpa lagi dan jangan lupa mengenai hal tadi. Kalau terjadi sesuatu, aku orang pertama yang harus mendengarnya"
"Sudah kubilang itu bukan uru…"
"Baiklah, kami pergi dulu" ucap Blaise sambil menyeret kopernya dan Pansy keluar dari Great Hall
"…"
'Ya Draco kau harus menceritakannya kalau terjadi sesuatu' Sky selalu mengodanya kalau masalah seperti ini
'Tidak akan ada yang terjadi'
Draco kembali duduk menikmati cemilan sambil membaca buku yang diberikan oleh ayahnya. Draco belum selesai membaca buku tersebut karena banyaknya tugas yang diberikan tapi karena dua minggu kedepan sekolah diliburkan, Draco akhirnya dapat kembali membaca buku yang sangat menarik perhatiannya.
Menurutnya, semakin buku ini dibaca semakin dia penasaran dengan segala istilah, sejarah, creatur, tempat, sihir dan ramuan yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Awalnya, Draco berpikir kalau buku ini hanyalah buku dongeng belaka karena semua isi yang ada dalam buku tersebut belum pernah dia dengar.
Draco merasa dia harus tahu semua isi buku ini, logika dan hati tidak selamanya sejalan, Draco lebih mengikuti kata hatinya. 'Lagi pula tidak ada ruginya, hitung-hitung tambah ilmu' pikirnya saat itu. Akhirnya, Draco merasa ketagihan dan tidak bisa berhenti dan terkadang dia membaca berulang kali halaman yang sama bila dia tidak mengerti.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, Draco menghentikan kegiatan membacanya dan berencana kembali ke asramanya. Belum lima langkah dari meja, dia melihat Harry dan Ron masih bermain catur
"Tahan juga mereka"
Draco heran dengan Harry yang selalu kalah tapi dia tidak mau menyerah dan tetap bermain walaupun ujung-ujungnya kalah.
"Dasar keras kepala" Draco beranjak pergi menuju asramanya. Masih terngiang dipikirannya hal yang dikatakan oleh Blaise
'Kenapa aku jadi memikirkan hal itu?'
'Kenapa kau tidak mengikuti saran bocah itu?'
'Apa maksudmu? Malfoy tidak pernah melakukan hal semacam itu'
'Terserah kau saja, aku hanya memberi saran'
'Aku tidak membutuhkannya'
'Ok, tapi menurutku itu jauh lebih baik dibandingkan kau penasaran''
'Aku tidak penasaran'
'Jangan menyangkal, aku tahu kau itu seperti apa Draco'
'Cukup Sky aku tidak mau membicarakan hal ini lagi'
'Ok, tapi sebenarnya kau mau melakukannyakan? Ayo jujur saja'
'Sky…'
'Jadi benar? Ah mukamu merah'
'Aku lelah, aku mau istirahat'
'Ha… ha… ha…'
Setelah sampai di kamar, Draco mengganti pakaian santainya dengan piama, menyikat gigi, menyisir rambut dan akhirnya berbaring ditempat tidur, rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan.
"Sky?"
'Hmm?'
"Merry Christmas"
'Merry Christmas and have a nice dream. My little dragon'
-o0o-
"Harry, bangun! Ayo, Harry bangunlah!" teriak Ron dari ruang utama asrama Gryffindor, Harry segera bangkit dan meraih kacamata yang berada disamping tempat tidurnya.
Betapa terkejutnya Harry saat melihat tumpukan hadiah di bawah pohon natal,
"Merry Christmas Harry" ucap Ron saat melihat Harry
"Merry Christmas Ron" balas Harry, lalu Harry melihat pakaian yang dikenakan oleh Ron "apa yang kau kenakan ?" tanya Harry
"Oh, ini buatan ibu. Tampaknya kau juga dapat satu"
"Aku dapat hadiah?" Harry tak percaya karena selama hidupnya dia tidak pernah mendapat hadiah natal
"Tentu saja, dan kau tidak hanya mendapat satu hadiah"
Harry segera menghampiri pohon natal, Ron duduk sambil menikmati cemilan, memperhatikan Harry membuka hadianya.
"Ayahmu memberikan ini padaku sebelum dia meninggal. Sudah waktunya benda ini kembali padamu. Gunakan dengan baik" ucap Harry membaca surat yang berada dalam bingkisan yang berisis sebuah jubah.
"Jubah yang cukup tua. Harry coba pakai"
"Tubuhku menghilang" ucap Harry panik
"Aku tahu itu apa. Itu adalah jubah penghilang"
"Aku tidak kelihatan?" Harry berputa-putar ditempat memastikan apa yang dilihatnya adalah benar
"Benda ini sangat langka. Siapa yang memberikannya padamu?" ucap Ron sambil meraih surat yang di baca oleh Harry sebelumnya
"Tidak ada nama pengirim, surat ini hanya mengatakan 'gunakan dengan baik' hanya itu. Tunggu, kalau ini jubah penghilang dengan kata lain kita dapat pergi kemana pun tanpa ketahuan, termasuk… "
"Restricted Section" ucap Harry dan Ron bersamaan
"Wow, ini benar-banar ide paling gila yang pernah ada" ucap Ron
"Ayo ke Great Hall untuk sarapan" ucap Harry sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan
"Ide bagus sobat, aku juga sudah kelaparan sejak tadi" balas Ron
-o0o-
Draco mulai membuka hadiah yang diberikan untuknya dan karena hanya dia saja murid asrama Slytherin yang tidak pulang, otomatis semua hadiah yang ada saat ini adalah miliknya.
"Ini dari Pansy" hadiah pertamanya dari Pansy adalah syal berwarna hitam
"Hmm, Pansy tahu saja kalau aku suka warna hitam" Draco mengamati syal barunya itu.
Kemudian beralih kehadiah lainnya, sebuah kotak dengan warna emas menyala dan pita berwarna biru sebagai penghiasnya
"Bungkusan yang indah, benar-benar tidak cocok dengan sifat pengirimnya" ucap Draco sambil membuka kotak hadiah itu isinya sebuah buku kumpulan ramuan yang sangat tebal tapi saat dia mengeluarkan buku itu, Draco menemukan buku lainnya dengan judul 'Cara merebut hati si dia'
"Blaise…"
Setelah membuka semua hadianya, Draco melihat kotak hitam tanpa hiasan apapun tersembunyi dibalik tumpukan hadiah yang menggunung
"Ah, aku belum membuka yang ini" Draco memperhatikan kotak itu dengan seksama
"Kenapa tidak ada nama pengirimnya?" karena penasaran Draco segera membuka kotak hitam itu dan betapa terkejutnya Draco saat melihat isi dari kotak tersebut
"Apa ini?" sebuah benda berbentuk layang-layang yang berukuran kira-kira 15 cm
"Siapa yang mengirim permata ini padaku?" Draco memperhatikan permata yang di pegangnya dengan teliti
"Aku tidak pernah melihat permata dengan warna sebening ini. Apa salah kirim ya?" Draco membongkar kotak hitam sebelumnya, mencoba mencari informasi. Tiba-tiba, Draco menemukan sebuah amplop
Draco segera membuka amlop tersebut dan membacanya,
"Kepada Mr. Draco Malfoy, dengan ini kami menyatakan bahwa sudah saatnya anda menerima benda ini sebagai bukti absolute bahwa anda adalah pewaris selanjutnya" Draco merasa bingung apa maksud dari surat tersebut.
"Apa maksudnya dengan 'Pewaris selanjutnya'?"
-o0o-
"Aku cukup terkejut ternyata banyak juga yang tidak pulang" ucap Ron sambil menyendok semangkuk sup yang siap masuk kedalam mulutnya
"Hmm, kau benar. Kupikir Great Hall sepi" ucap Harry menimpali
Saat ini Ron dan Harry sedang berada di Great Hall, menikmati sarapan pagi mereka. Saat tiba mereka cukup terkejut dengan jumlah murid yang lumayan banyak sedang menikmati sarapan pagi dimeja asrama masing-masing.
Harry memperhatikan sekelilingnya, banyak pertanyaan dalam benaknya seperti, mengapa anak-anak ini tidak pulang? Apa mereka tidak mau berkumpul dengan keluarga? atau mereka mempunyai banyak tugas? Apa mereka tidak mau bersantai di rumah? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya mengenai hal yang sama.
'Mengapa, aku malah memikirkan hal yang tidak penting?' saat Harry masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba, pintu Great Hall terbuka dan Draco langsung menuju meja asramanya
Dengan rambut pirang platina yang biasanya disisir kebelakang sekarang dibiarkan jatuh menutupi wajahnya, pakaian formal yang biasa dia kenakan sekarang tergantikan oleh pakaian santai, celana hitam panjang dan di permanis oleh syal hitam yang melilit indah di lehernya. Penampilan Draco simple tapi berhasil merebut perhatian semua murid.
"Coba saja sifatnya sebagus penampilannya" ucap Ron membuyarkan lamunan Harry
Harry hanya menganggukkan kepalanya, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya saat itu, dia juga tidak suka mengakuinya tapi ia setuju dengan Ron. Draco Malfoy yang biasanya terlihat congkak dan selalu memamerkan kekayaaan miliknya, sekarang terlihat seperti anak laki-laki biasa yang suka membaca buku.
Lihat saja sekarang, sambil menunggu sarapannya datang Malfoy membaca buku tebal yang entah apa judulnya. Entah mengapa, Harry merasa inilah Malfoy yang sebenarnya.
'Eh, apa yang aku pikirkan? bisa-bisanya aku berpikir seperti itu. Sekali Malfoy tetap Malfoy. Aku tidak mau tertipu lagi seperti sebelumnya'
"Harry… Harry… Harry" panggil Ron berulang kali
"Ah, maaf Ron"
"Kau baik-baik saja? Sejak tadi aku memanggilmu"
"Ah, maaf aku sedikit lelah"
"Lelah? Apa kita kembali saja ke asrama?"
"Itu tidak perlu. Apa ada yang ingin kau katakan padaku?"
"Soal rencana kita, kapan akan kita lakukan?" ucap Ron sambil berbisik
"Um, rencananya aku akan pergi tengah malam nanti" balas Harry
"Lalu apa tugasku?"
"Kau tetap di asrama saja, biar aku yang melakukannya"
"Apa?" teriak Ron yang berhasil membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian
"Ron, kecilkan suaramu"
"Maaf, tapi Harry aku tidak mungkin tetap berada di asrama sedangkan kau menjalankan misi yang dapat membuatmu terkena detensi"
"Ron tenang dulu, aku menyuruhmu tetap di asrama agar rencana ini berjalan lancar, akan sangat sulit bila kita pergi berdua ditambah lagi Filch yang berkeliling setiap malam"
"Ok, aku mengerti. Aku akan menunggumu di asrama dan berjanjilah kau tidak akan tertangkap"
"Thanks"
Pembicaraan itu pun selesai. Harry dan Ron kembali menikmati sarapan mereka yang sempat tertunda.
"Wow, cup inyi lual liasa. Ayu ladi maw tamyah layi" ucap Ron masih dengan penuh mulut makanan
"Ron, aku tidak mengerti ucapanmu. Lebih baik kau telan dulu makananmu" Harry melihat kearah Ron yang sibuk mengunyah makanannya
"Aku bilang… sup ini luar biasa, aku jadi ingin tambah lagi. Apa kau mau mencicipinya?"
Harry melihat kearah sup yang dimaksud, sup itu memang terlihat menggiurkan tapi entah kenapa Harry sama sekali tidak berselera untuk memakannya walaupun dia ditawari sup yang masih hangat.
"No, thanks"
"Harry, kau ini menyia-nyiakan makanan enak. Aku saja sudah tambah beberapa kali, itu artinya sup ini memang enak"
"Apa kau bilang Weasley? bila kau tambah lagi berarti makanan itu enak? Apa aku tidak salah dengar? bukannya kau itu sama saja seperti peliharaanmu itu, seekor tikus yang akan memakan apa saja bahkan makanan basi dan hangus pun akan tetap kau makan"
"Diam kau Malfoy, tidak ada yang meminta pendapatmu" ucap Ron geram
Meja asrama Gryffindor memang bersebelahan dengan meja Slytherin dan tempat duduk yang ditempati oleh Harry dan Ron berada sejajar dengan posisi duduk Draco
"Ini negara bebas, aku berhak untuk mengatakan pendapat" Buku yang sebelumnya dia baca diletakkannya pelan diatas meja
"Kami tidak butuh pendapatmu, apalagi pendapat kasar seperti itu" ucap Harry, menatap Draco tajam
"Kasar atau pun tidak Potter, pendapat tetaplah pendapat dan yang kukatakan itu adalah fakta"
"Aku tidak pernah makan makanan basi atau hangus" ucap Ron dengan nada tinggi pada Draco
"Kau bisa bilang begitu sekarang tapi tidak ada yang tahu apa yang kau lakukan saat kami tidak ada" ucap Draco sambil menyilangkan kedua tangannya di dada
"Dengar Malfoy, kami berdua dan kau sendiri" ucap Harry
"Lalu?"
"Aku cukup terkejut, kau berani mengganggu kami saat teman-temanmu tidak ada disampingmu" ucap Harry
"Apa maksudmu Potter?"
"Sekarang kau sendiri Malfoy, teman-teman yang selalu ada disampingmu sekarang tidak ada. Jadi…." Belum sempat Harry menyelesaikan kalimatnya, Draco langsung memotongnya
"Maksudmu teman-temanku adalah pengawal dan aku selalu berlindung dibelakang mereka?"
"Kelihatannya aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu" ucap Harry
BRRRAAAKKK… Tiba-tiba Draco berdiri sambil memukul meja dihadapannya dan hal itu berhasil memancing perhatian semua orang.
"Dengar Potter, aku bisa mengalahkan kalian berdua bahkan dengan mata tertutup sekali pun" ucap Draco geram
'Kenapa Malfoy terlihat sangat marah? Biasanya dia hanya memperlihatkan seringai menyebalkannya, tapi kenapa ini berbeda ?' Harry merasa ada yang salah
DEG… deg… deg
'Kenapa aku merasa tidak ingin melihat Malfoy seperti itu? Ini harus dihentikan'
"Yang dikatakan oleh Harry itu benar, kau hanya bisa berlindung dibelakang punggung teman-temanmu" ucap Ron
'Astaga Ron, hentikan'
Harry melihat kearah Draco dan seketika itu Harry tidak bisa menelan ludahnya
'Astaga, aku punya firasat buruk'
"Oh, kelihatannya aku perlu memperlihatkan padamu kalau aku bisa mengurus kalian berdua tanpa bantuan teman-temanku"
Suasana yang seharusnya tenang telah berubah menjadi medan perang hanya dalam hitungan menit. Semua murid yang berada di Great Hall memilih keluar dibandingkan terkena mantra nyasar walaupun mereka harus melewatkan pertarungan seru antara pangeran Slytherin dan The Boy Who Lived.
-o0o-
Jam dinding telah berdentang 12 kali menandakan sekarang pukul 12 siang, tengah hari. Tiga jam telah berlalu sejak kerusuhan di Great Hall yang berhasil merusak natal yang tenang.
"Kupikir karena hari ini adalah hari natal, kalian tidak akan membuat keributan" teriak Prof. McGonagall pada ketiga murid laki-laki yang berada di sampingnya sedangkan disisi lain berdiri Prof. Snape dan dihadapan mereka kepala sekolah Hogwarts, Prof. Dumbledore
"Kalian sadar apa yang kalian lakukan? Kalian bukan saja menghancurkan Great Hall tapi juga merusak hari natal orang lain" teriak Prof. McGonagall lagi
"Minerva, kelihatannya ketiga murid kita ini sudah menyadari kesalahan yang mereka buat" ucap Prof. Snape
Prof. McGonagall melihat ketiga murid laki-laki itu, dia dapat melihat dengan jelas luka yang telah diobati pada tubuh mereka. Harry dan Ron terlihat ketakutan dan menundukkan kepala, sedangkan Draco terlihat santai dan melihat kearah lain seakan-akan tidak memperdulikan keberadaan kepala sekolah atau dua orang profesor yang berada didekatnya.
"Kesalahan yang telah dibuat oleh Mr. Malfoy, Mr. Potter dan Mr. Weasley memang sangatlah berat. Biasanya murid yang melakukan kesalahan seperti ini akan dikeluarkan dari Hogwarts" ucap Prof. Dumbledore yang berhasil mencuri perhatian ketiga murid itu.
Harry, Ron dan Draco melihat kearah kepala sekolah dengan tatapan tidak percaya. Harry dan Ron sangat ketakutan akan dikeluarkan tapi berbeda dengan Draco yang terlihat sangat senang akan hal itu.
"Tapi karena ini adalah hari natal aku akan memberi kalian keringanan" ucap Prof. Dumbledore yang membuat ekspresi ketiga murid tersebut berubah lagi, yang tentu saja kebalikan dari sebelumnya.
"Kalian bertiga akan diberikan detensi" ucap Prof. Snape
Wajah Harry dan Ron yang terlihat lebih cerah kini kembali memperlihatkan ekspresi kekhawatiran mereka sedangkan Draco yang sebelumnya muram kini tambah muram karena detensi pertamannya disebabkan oleh dua Gryffindor menyebalkan.
"Kesalahan yang kalian buat sangatlah besar. Kalian saling melempar mantra yang menyebabkan hampir setengah Great Hall hancur. Untung saja, tidak ada korban jiwa dan luka yang kalian alami tidaklah terlalu parah. Bersyukurlah kalian bertiga tidak dikeluarkan dari Hogwarts" ucap Prof. McGonagall
"Baiklah. Untuk hukuman yang pertama aku akan mengurangi poin asrama kalian, 100 poin setiap orang dan tidak ada protes" ucap Prof. Dumbledore saat melihat ketiga murid itu mau memprotes keputusannya.
"Hukuman yang kedua, Mr. Weasley akan membantu Prof. Snape dan Prof. Sprout selama sebulan" ucap Prof. Dumbledore
"APA?" teriak Ron
"Melihat reaksimu, kelihatannya kau ingin diperpanjang Mr. Weasley?" ucap Prof. Snape
"Ah, satu bulan cukup profesor. Terima kasih" ucap Ron cepat
"Senang kau bisa menerimanya dengan baik" ucap Prof. Dumbledore sambil tersenyum
'Ron yang malang. Eh tunggu, kalau hukuman Ron separah itu bagaimana denganku?' Harry mulai khawatir
"Bagi Mr. Malfoy dan Mr. Potter akan membantu Filch, Hagrid dan madam Pince selama dua bulan"
"APA?" teriak Draco dan Harry bersamaan.
"Wah, kalian kompak sekali. Detensinya pasti akan menyenangkan" ucap Prof. Dumbledore sambil tersenyum pada Draco dan Harry
"Sekarang kalian boleh kembali ke asrama, detensi kalian akan dimulai besok. Jadi, beristirahatlah" ucap Prof. McGonagall
Akhirnya ketiga murid tersebut kembali ke asrama, saat Harry dan Ron hampir berjalan menuju pintu keluar. Tiba-tiba, Draco membalikkan tubuhnya
"Profesor, saya ingin bertanya" ucap Draco pada Prof. Dumbledore
"Ya, silakan Mr. Malfoy"
"Mengapa hukuman Wealey lebih ringan?"
"Karena kerusakan Great Hall lebih banyak diakibatkan olehmu dan Mr. Potter" yang menjawab pertanyaan ini bukanlah Prof. Dumbledore, melainkan Prof. Snape
"Cih, menyebalkan" Draco melangkah keluar dengan wajah kesal, dia bahkan menyerempet pundak Harry dengan keras bila tidak ada Ron yang menahannya kemungkinan besar Harry akan jatuh ke lantai, mengingat ukuran tubuh Harry yang jauh lebih kecil dari Draco.
"HEY, apa-apaan dia itu pergi begitu saja tanpa meminta maaf" ucap Ron tidak terima akan perlakuan Draco pada Harry
"Ron, tidak apa-apa" ucap Harry, lalu dia membalikkan tubuhnya "Profesor kami permisi" Harry menyeret Ron keluar dari ruangan kepala sekolah.
TBC
Author Notes:
Bagaimana ceritanya, seru ndak?
Jangan lupa review, ya ^_^
Supaya saya bisa memperbaiki FF ini menjadi lebih baik
