Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 8
Mirror of Erised
Hari mulai beranjak sore, matahari telah berubah warna menjadi orange walaupun masih samar karena tertutup awan. Pemandangan itu bagaikan sebuah lukisan yang keindahannya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, sungguh karya tuhan yang luar biasa. Namun, keindahan itu tidak dapat mempengaruhi suasana hati Harry.
Harry berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya, wajahnya terlihat sangat kesal bahkan Ron yang sejak tadi mengikutinya tidak berani menggubrisnya. Akhirnya, mereka sampai di asrama Gryffindor.
"Harry, kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja Ron"
"Ok…" Ron tidak berani menanyakan pertanyaan lain
'Lebih baik aku cari aman, bisa-bisa aku yang menjadi sasaran luapan kemarahannya' batin Ron
Sejak keributan yang terjadi di Great Hall pagi ini, Ron merasa dia harus berpikir dua kali kalau ingin mengerjai Harry apalagi membuat dia kesal.
Masih tajam diingatan Ron mengenai kejadian pagi ini, dimana Great Hall yang sebelumnya indah karena dihiasi oleh berbagai hiasan natal kini berubah menjadi medan perang yang keadaannya tidak ubahnya seperti tempat yang baru dihujani oleh bom.
Berbagai mantra yang pada umumnya tidaklah berbahaya menjadi faktor utama dalam hancurnya Great Hall saat sahabatnya Harry dan Malfoy si mulut pedas itu menggunakannya.
Setiap mengingat kejadian itu, Ron selalu merasa berutang pada Malfoy karena dia telah membuatnya terhindar dari detensi yang lebih berat. Sebenarnya, Ron merasa sangat malu tapi disamping itu dia juga sangat bersyukur.
Flashback:
BRRRAAAKKK…
Tiba-tiba Draco berdiri, memukul meja dihadapannya dan hal itu berhasil mencuri perhatian seluruh murid di Great Hall.
"Dengar Potter, aku bisa mengalahkan kalian berdua bahkan dengan mata tertutup sekali pun" ucap Draco geram.
"Yang dikatakan oleh Harry itu benar, kau hanya bisa berlindung dibelakang punggung teman-temanmu" balas Ron
"Oh, kelihatannya aku perlu memperlihatkan padamu kalau aku bisa mengurus kalian berdua tanpa bantuan teman-temanku"
Draco mengambil tongkat yang berada dibelakang celananya dan meluncurkan satu mantra dan memulai perkelahian itu.
"Rictusempra" Draco mengarahkan tongkatnya pada Harry dan Ron.
"AWAS….!" Mereka berdua berhasil menghindari mantra tersebut. Namun, mantra itu mengenai anak laki-laki dari asrama Huffelpuff tapi untungnya dia tidak terluka, hanya terlempar kebelakang.
"Hm, nasib kalian akan sama dengan anak itu jika berani macam-macam denganku" Draco menyeringai kearah Harry dan Ron
"Malfoy, cepat minta maaf padanya" ucap Harry marah
"Kenapa aku harus minta maaf? Seharusnya kalian berdua yang minta maaf padanya karena kalian menghindar dari mantraku, jadinya anak itu yang kena"
Ucapan Draco membuat Harry sangat marah, Harry mengenggam kuat tongkat yang sejak tadi dipegangnya. Tanpa membalas perkataan Draco, Harry langsung mengarahkan tongkatnya pada anak laki-laki berambut pirang platina tersebut.
"Flipendo" teriak Harry, lalu pada tongkatnya muncul cahaya seperti petir berwarna putih. Namun, mantra itu malah mengenai pohon natal yang berada dibelakang Draco karena saat Harry melontarkan mantra tersebut, Draco segera berlari kekanan dan langsung mengarahkan tongkatnya kearah Ron.
"Depulso" berbeda dengan yang sebelumya, Ron terkena telak serangan dari Draco dan menyebabkan dia terdorong kebelakang dan membentur dinding dengan keras.
Great Hall menjadi sangat ricuh, anak-anak perempuan berteriak tidak jelas sedangkan anak laki-laki saling berteriak mendukung perkelahian ketiga anak itu tanpa niat sedikitpun untuk menghentikannya. Namun, keributan itu tidak bertahan lama saat Draco melempar mantra kearah mereka.
"Oh, mantraku meleset lagi. Hey Potter, jangan menghindar terus kau mau anak-anak berisik dibelakangmu itu yang kena?" ucap Draco santai sambil menyeringai menang.
Mendengar hal itu, semua murid berlari keluar dan akhirnya hanya tersisa mereka bertiga, otak dari semua kekacauan yang terjadi.
"Malfoy, kau akan menyesali yang kau lakukan" ucap Ron berusaha berdiri
"Ron, kau tidak apa-apa ?" Harry khawatir pada Ron dan berlari menghampirinya
'Twitch'
"Avis" Sekawanan burung tiba-tiba menyerubungi Harry dan berusaha mematuknya
"HARRY…!" Ron berjalan terseok-seok kearah sahabatnya, masih dapat dia rasakan sakit pada kakinya.
"Kalau ada musuh didepanmu, kau tidak boleh lengah Potter. Suatu hari kau akan berterima kasih padaku karena memberitahu hal ini" ucap Draco
Setelah mengucapkan mantra, akhirnya kawanan burung kecil itu mengilang dan berubah menjadi bulu –bulu hitam
"Sayang sekali tapi aku tidak butuh nasehat darimu Malfoy. Ventus" Serangan Harry begitu tiba-tiba sehingga Draco terpental dan menghantam lantai dengan keras, Draco dapat merasakan nyeri pada punggungnya.
"Wow… Harry kau berhasil" ucap Ron girang
"Potter... jangan pikir karena kau baru menjatuhkanku sekali, kau merasa sebagai pemenang. Permainan ini belum usai" Draco berusaha bangkit dari posisi berbaringnya
"Cukup aku tidak mau melanjutkan hal ini" ucap Harry
"Kenapa? Apa kau takut Potty ?" ucap Draco mengejek
"Aku sama sekali tidak takut padamu Malfoy, aku hanya tidak mau kita terlibat dalam masalah besar dan terkena detensi" ucap Harry
"Heh, tidak mau terlibat dalam masalah besar dan terkena detensi? Lihat sekelilingmu Potty, kita sudah terlibat masalah yang sangat besar bahkan detensi pun tidak akan menjadi hukuman yang tepat" ucap Draco sambil menyeringai
"Ini semua gara-gara kau pirang sialan" teriak Ron marah
"Diam kau Weasel, ini gara-gara kau membuatku marah" ucap Draco pada Ron sambil berteriak
"Namaku bukan Weasel tapi Weasley, pirang bodoh"
"Apa kau bilang? Kau pikir siapa yang nilainya jauh lebih tinggi diantara kita. Hah?"
Mendengar ucapan Draco, Ron tidak dapat membalas karena bagaimana pun nilai Draco jauh diatasnya apalagi dia sangat ahli dalam ramuan, mata pelajaran yang membuatnya merasa sangat bodoh.
"Heh, Weasel dan mulut besarnya. Percuma saja berdebat denganmu karena kau itu sama sekali tidak punya otak sama seperti keluargamu"
Mendegar keluarganya dihina seperti itu, Ron langsung mengarahkan tongkatnya kearah Draco
"Incendio" teriaknya kearah Draco
Dengan gesit Draco menghindar dari mantra tersebut namun, mantra itu malah mengenai pohon natal dan membakarnya, lalu api mulai menjalar ke pohon natal disampingnya. Tidak hanya itu, api mulai membakar hiasan-hiasan pada pohon natal.
"Weasel apa yang kau lakukan? Apa kau mau membakar Great Hall ?" teriak Draco
Draco segera mengarahkan tongkatnya pada pohon natal yang terbakar itu, "Aqua Eructo" lalu dari tongkatnya keluarlah air yang langsung memadamkan si jago merah.
Harry dan Ron yang menyaksikan kejadian itu terdiam mematung, mereka tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Kebakaran yang terjadi memang tidak parah tapi cukup menyebabkan shock. Ron lah yang pertama kali sadar, dia merasa sangat bersalah akan kejadian itu. Walaupun Ron benci mengakuinya tapi dia berhutang besar pada Malfoy. Entah apa yang akan dikatakan oleh orang tuanya bila dia menjadi pelaku yang membakar Hogwarts.
"A… Ak… Ak… Aku…" Ron ingin mengucapkan terima kasih pada Malfoy dan minta maaf akan kecerobohannya.
"Apa kau gila Weasel? Kau hampir membakar Hogwarts. Lihat, ruangan ini penuh dengan kayu dan hiasan kertas" ucap Draco marah menatap kearah Ron
"Heh, sekali Weasel tetap saja Weasel. Keluarga penyihir miskin dan bodoh" ucap Draco santai sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
Mendengar perkataan Malfoy, Ron ingin sekali menghajarnya tapi dia sadar kalau dia berutang padanya. Ron mengenggam erat tongkatnya dengan kepala tertunduk dan tubuh bergetar seperti menahan tangis. Harry yang melihat reaksi sahabatnya, tidak dapat menahan amarah, dia lalu berlari menghampiri Draco dan mencengkram sweater putih yang dikenakannya.
"Apa kau tidak lihat kalau Ron sangat menyesal?" teriak Harry marah didepan wajah Draco
"Harr… Harry" Ron terkejut saat mendengar suara Harry membentak Malfoy sambil mencengkram sweater milik remaja berambut pirang platina itu
"Apa itu ucapan terima kasihmu Potty?" ucap Draco sinis, menatap balik Harry
"Aku sempat berpikir kalau kau ini tidak seperti dugaanku tapi mendengar perkataanmu itu, aku langsung menyadari kalau dugaanku itu benar. Kau hanya seorang anak manja yang memanfaatkan nama dan harta keluargamu. Entah apa yang diajarkan oleh orang tuamu sehingga kau tumbuh seperti ini"
"Apa kau baru saja menghina orang tuaku Potter?" ucap Draco marah, balas mencengkram kaos Harry. Ron yang melihat kejadian itu langsung merasakan firasat buruk.
"Er… Harry, aku pikir…" belum sempat Ron melanjutkan perkataannya, Harry langsung memotong, dia hendak membalas perkataan Draco.
"Aku tidak bermaksud seperti itu tapi setiap sifat anak selalu berasal dari ajaran orang tuanya"
"KAU…!" Draco mencengkram kemeja Harry lebih kuat. Dari sinar matanya memperlihatkan betapa marahnya dia. Beberapa saat ada kesunyian diantara mereka tapi tiba-tiba Draco mengendurkan cengkramannya lalu menyeringai kearah Harry.
"Heh… tahu apa kau tentang keluarga? Bahkan orang tua pun kau tidak punya" ucap Darco santai
Ron yang mendengar perkataan itu tidak dapat berbicara apa-apa, dia sangat terkejut sekaligus sangat marah. Ron bersumpah melihat kesedihan mendalam dari pancaran mata Harry walaupun hanya sesaat dan tergantikan dengan tatapan kemarahan.
"Benar, aku memang tidak memiliki orang tua tapi aku hidup dengan orang yang merupakan orang tua dari seorang anak gendut, manja dan sifatnya sangat jelek, semuanya itu dia dapat dari perlakuan orang tuanya" ucap Harry marah
"KAU…!" Draco mengencangkan kembali cengkramannya pada pakaian Harry
"Er… bisakah kalian berdua berhenti? Sebentar lagi profesor akan datang dan kita…" belum sempat Ron meyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ada mantra mengenai tubuhnya. Ron terpental kebelakang dengan punggungnya membentur dinding dan dia mendarat diatas pohon natal yang telah tumbang.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Harry pada Draco lalu dia berlari menghampiri Ron yang pingsan dengan luka gores di tangan dan wajahnya.
"Dia itu terlalu cerewet dan bodoh, profesor datang atau tidak kita akan tetap terkena detensi oh atau mungkin dikeluarkan? Entahlah aku tidak peduli" ucap Draco santai sambil menyilangkan kedua tangannya.
Kemarahan Harry tidak dapat dibendung lagi, dia lalu berdiri dan berlari menghampiri Draco. Draco yang belum siap menerima serangan mendadak seperti itu langsung terjatuh ke lantai, dapat dia rasakan nyeri dipipinya dan saat itu lah Draco sadar kalau Harry baru saja memukulnya dengan tangan kosong, tangan kecil dan kurus itu mampu membuat pipinya menjadi sangan sakit.
"JANGAN PERNAH BERANI MELUKAI SAHABATKU LAGI!" teriak Harry marah dengan mata berkaca-kaca.
'DEG...'
Draco meraba dadanya yang tiba-tiba saja sakit, ada perasaan tidak nyaman meliputi hatinya.
'Apa ini? Kenapa hatiku terasa sakit? Bukankah Potter memukul wajahku tapi kenapa hati ini yang sakit? Apa dia menggunakan suatu mantra yang tidak aku sadari?' batin Draco
Draco tidak dapat berbicara apa-apa karena masih terkejut ditambah perasaan tidak enak yang dia rasakan. Menyadari tampangnya seperti orang bodoh yang kebingungan, Draco langsung menghilangan tampang terkejutnya, ekspresinya kembali dingin dan ada sinar kemarahan yang terpancar dikedua matanya.
"KAU…! berani sekali memukul wajahku" Draco meraih tongkatnya yang tergeletak disampingnya
"Tidak ada satu pun orang yang… "
"Kalau begitu aku adalah orang pertama yang memukul wajah sombongmu itu" ucap Harry seakan-akan mengerti dengan apa yang akan Draco katakan.
"Kau tidak akan pernah kumaafkan"
"Aku juga tidak akan memaafkanmu dan aku tidak butuh maaf darimu"
Setealah sesi saling berteriak itu, Harry atau pun Draco tidak ada yang mau mengalah. Mereka saling melemparkan mantra yang mereka tahu kearah satu sama lain. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali mereka terlempar dan terjatuh sehingga pada tubuh mereka banyak sekali luka yang tercipta.
Great Hall sudah tidak terlihat lagi wajahnya, jejak-jejak hiasan natal yang indah seakan-akan tidak pernah ada, meja-meja panjang setiap asrama kini seperti bongkahan kayu yang tidak dapat ditebak bentuknya.
"KALIAN BERDUA BERHENTI!" teriak Prof. McGonagall
Walaupun Prof. McGonagall sudah berteriak menyuruh mereka berhenti, tapi Draco dan Harry sama sekali tidak mendengarkan, mereka tetap saling menyerang satu sama lain.
"Kalau begini tidak ada cara lain lagi" ucap prof. McGonagall sambil mengeluarkan tongkatnya dari balik jubah
"Tunggu Minerva" ucap seorang pria berambut hitam dengan ekspresi dingin, prof Snape
"Apa maksudmu Severus? Mereka harus dihentikan"
"Tenang saja, sebentar lagi mereka akan selesai" tepat setelah prof Snape selesai berbicara, Draco dan Harry saling melemparkan mantra.
"Petrificus Totalus" teriak Harry
"Levicorpus" teriak Draco
Harry dan Darco melemparkan mantra secara bersamaan sehingga efek yang mereka terima pun bersamaan. Harry yang menerima mantra dari Draco, tiba-tiba saja tubuhnya terangkat keatas dan tergantung terbalik dengan salah satu pergelangan kaki menempel pada atap. Sedangkan Draco, tubuhnya tiba-tiba saja kaku dan tidak dapat digerakkan.
Prof. McGonagall menggelengkan kepalanya melihat Draco dan Harry yang sering membuat keributan, lalu kedua orang itu segera menghampiri ketiga remaja yang kondisinya tidak dapat dikatakan baik.
"Astaga, aku tidak percaya mereka bertiga mampu membuat Great Hall seperti ini" ucap seorang pria dengan tubuh pendek yang baru saja datang.
"Sebenarnya Filius, kerusakan ini lebih banyak disebabkan oleh Mr. Potter dan Mr. Malfoy" ucap prof. McGonagall
"Oh my god, kenapa Great Hall seperti ini?" ucap profesor wanita yang baru datang
"Sigh… Filius, Aurora tolong kalian bereskan kekacauan ini, aku dan Severus akan membawa mereka bertiga ke klinik" ucap prof. McGonagall
"Baik Minerva"
Prof. McGonagall dan prof. Snape segera menghampiri ketiga remaja itu, Draco yang tidak dapat bergerak hanya melihat was-was kearah kedua profesor itu sedangkan Harry bergerak-gerak tidak nyaman.
"Berhentilah bergerak Mr. Potter, Liberacorpus" ucap prof. McGonagall
Harry yang telah lepas dari pengaruh mantra berkat prof. McGonagall segera terjatuh. Harry berpikir dia pasti akan merasakan sakit yang luar biasa dan mati.
"AAA…" teriak Harry sambil menutup mata
"Kau bisa berhenti berteriak sekarang Mr. Potter" ucap prof. Snape
Harry membuka matanya, dia berada di lantai dan sama sekali tidak merasakan sakit lalu dia berusaha bangkit untuk berdiri tapi merasakan nyeri dikedua kakinya.
"Kalau kakimu sakit, tidak usah dipaksakan" ucap prof. McGonagall
Prof Snape menghampiri Draco dan melepas mantra yang membelenggunya, seketika itu tubuh Draco langsung tumbang, sekujur tubuhnya terasa sangat nyeri.
"Kelihatannya kondisi kalian bertiga tidak ada bedanya" ucap prof. Snape dingin
"Baiklah, ayo kita bawa mereka menemui Poppy" ucap prof. McGonagall
"Wingardium Leviosa" ucap prof. Snape
Prof. Snape dengan diikututi prof. McGonagall segera keluar dari Great Hall dengan membawa tubuh ketiga remaja itu menuju klinik.
"Astaga, aku tetap tidak percaya mereka bertiga mampu melakukan hal ini" ucap wanita yang sebelumnya dipanggil Aurora.
"Aku diberitahu oleh Minerva, kekacauan ini kebanyakan dilakukan oleh Mr. Potter dan Mr. Malfoy" ucap pria yang sebelumnya dipanggil Filius.
"Entah detensi apa yang akan mereka bertiga terima. Reparo" ucap wanita yang bernama Aurora itu
"Yang jelas bukan detensi yang ringan. Scourgify" ucap pria yang bernama Filius itu.
Setelah kedua orang itu selesai, Great Hall kembali seperti semula seakan-akan tidak pernah terjadi kekacauan sebelumnya.
Flashback end
Bagi Ron, itu adalah kejadian yang tidak akan pernah terlupakan mungkin juga bagi Harry dan Malfoy lalu Ron melihat Harry keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi.
"Harry, kau mau kemana?"
"Aku tidak kemana-mana, hanya mempersiapkan diri untuk malam ini" ucap Harry sambil menaiki ranjangnya
"Malam ini? Astaga, kau tetap mau pergi walaupun kau baru saja mengalami hal…" belum sempat Ron menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, Harry langsung memotong.
"Ron, tolong jangan ingatkan aku tentang hal itu" ucap Harry dengan sinar matanya yang memancarkan kemarahan
"Maaf"
"Aku mau istirahat dulu, tolong bangunkan aku saat malam tiba"
"Baiklah" Setelah itu, Harry langsung memejamkan mata dan mengarungi dunia mimpi. Satu hal yang diinginkan Harry adalah melupakan kejadian pagi tadi dan bersiap untuk detensi besok yang akan dia jalani dengan orang yang menyebabkan ini semua.
-o0o-
BRRRAAAKKK…
Draco membanting pintu kamarnya dengan sangat keras dan berjalan kearah kasur, merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
"Potter sialan" umpat Draco
'Wah, kejadian pagi ini masih membuatku tidak mempercayainya'
"…"
'aku tidak percaya kau terpancing karena hal sepele'
"Kau bilang sepele? Mereka menghina sahabat dan keluargaku"
'Menurutku, kedengarannya tidak seperti itu'
Draco merenungkan perkataan Sky, kalau dipikir-pikir memang dia lah yang bersalah dalam hal ini. Sedangkan, Potter dan Weasley hanya terpancing karena perkataannya.
Draco teringat kembali kejadian saat dia menghina orang tua Potter, dia bersumpah melihat kesediahan yang sangat mendalam dan Draco merasa sangat menyesal akan hal itu.
'Kelihatannya kau menyadari kesalahanmu'
Tentu saja Draco menyadarinya tapi ego yang mengalir deras dalam darahnya tidak mengijinkan dia untuk mengakuinya. Draco memang memiliki sifat dewasa yang jarang dimiliki remaja seumurannya tapi, dia tetaplah seorang anak 11 tahun yang selalu merasa dirinya benar, apalagi menyangkut keluarga dan sahabatnya, dia selalu tidak dapat menahan emosinya itu. Masih segar diingatannya saat dia berumur enam tahun, dia hampir menyebabkan salah satu anak dari teman kerja ayahnya terluka parah dan harus dirawat di St. Mungo hanya karena anak itu merebut mainan Pansy dan membuatnya menangis.
"Ah, diamlah Sky aku mau istirahat. Besok aku harus mulai menjalani sisa liburanku dengan detensi bersama si Potty itu" ucap Draco kesal
'Ok… ok…'
Draco tahu rasanya tidak benar bila dia harus tidur lagi apalagi ini masih siang tapi dia sangat membutuhkan istirahat ini, rasanya kepalanya hampir mau pecah ditambah rasa bersalah yang tidak mau hilang membuatnya semakin pusing.
Bayangan Potter yang hampir menangis selalu teringat dimemorinya seperti kaset rusak yang tidak mau berhenti dan selalu menampilkan gambaran yang sama.
"Aku harus melupakan hal ini" itu adalah ucapan Draco yang terakhir sebelum dia terlelap dan melayang ke dunia mimpi.
-o0o-
TENG… TENG… TENG…
Jam besar yang terdapat di menara Hogwarst telah berdentang menandakan tengah malam. Udara berhembus dengan salju yang berjatuhan menambah sederetan daftar alasan untuk tidak melangkah keluar dari teritorial tempat tidur. Namun, hal ini tidak dapat membatalkan niat Harry untuk keluar dari kamarnya, demi menjalankan suatu misi rahasia.
"Ron, bangun" Harry membangunkan Ron yang tempat tidurnya tepat disebelah miliknya
"Hmm…, sebentar… lagi mom- ͝ _ ͝ zzzz…"
"Ron, bangun" Harry mengguncangkan tubuh Ron lebih keras
"Ok… ok, aku bangun… " Ron terbangun masih dengan mata setengah tertutup "Hooaaahhhmm…"
"Ron, aku akan pergi menjalankan rencana kita"
Mata Ron terbelalak lebar setelah mendengar perkataan Harry, ada rasa kagum sekaligus khawatir yang Ron rasakan. Seorang murid tahun pertama akan mencoba memasuki Restricted Section, entah detensi apa yang akan didapat Harry apalagi dia baru saja mendapat detensi yang sangat berat, kalau sampai ketahuan… Ron tidak dapat membayangkannya.
"Ok, hati-hati ya dan berjanjilah jangan sampai kau ketahuan"
"Tenang saja, aku pergi" Harry berjalan menuju pintu keluar dari ruang asramanya
Harry segera menggunakan jubah sambil menenteng lentera sebagai penerangan dan berjalan menuruni tangga menuju Perpustakaan. Lorong yang sepi dan gelap, Harry menjadi was-was setiap ada suara sekecil apa pun. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Harry sampai di Perpustakaan.
-o0o-
Harry memasuki sebuah ruangan kosong untuk kabur dari Prof. snape dan Filch, jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Harry tidak bisa bayangkan bila dia sampai tertangkap oleh Filch bahkan yang lebih parah bila sampai tertangkap oleh Prof. snape. Bukan detensi yang dia dapatkan tapi langsung dikeluarkan dari sekolah, membayangkannya saja membuat Harry merinding
'Tapi… kenapa Prof. Snape bertengkar dengan Prof. Quirell? Hm entahlah, itu urusan mereka'
"Ini ruangan apa?"
Ruangan yang dimasuki oleh Harry lumayan besar tapi tidak ada apapun dalam ruangan itu kecuali sebuah cermin yang sangat besar ditengah ruangan.
Tidak lama setelahnya Harry keluar dari ruangan tersebut, cermin misterius itu memperlihatkan ayah dan ibunya berdiri disamping Harry. Perasaan bahagia tidak dapat dibendungnya bahkan ibunya menyentuh pundaknya walaupun Harry tidak dapat menyentuh balik mereka tapi Harry sangat senang.
Harry berlari menuju asrama dan ingin memperlihatkan cermin itu pada Ron agar dia bisa melihat orang tua Harry juga. Namun, yang anehnya dia dan Ron melihat hal berbeda karena Ron melihat dirinya menjadi head boy dan kapten Quidditch sedangkan Harry melihat orang tuanya.
Ron berpikir mungkin cermin ini memperlihatkan masa depan tapi disanggah oleh Harry karena orang tuanya sudah meninggal. Merasa ada yang tidak beres, Ron langsung mengajak Harry keluar dari ruangan itu dengan dalih takut nanti ketahuan oleh Filch dan dengan berat hati Harry meninggalkan ruangan tersebut.
-o0o-
Cit… cit… cit…
suara kicauan burung menghiasi pagi itu walaupun daratan masih tertutup oleh salju namun, mentari telah tersenyum dengan sinarnya yang menghangatkan. Draco duduk sambil menikmati tehnya di ruangan utama asrama Slytherin
"Hmm…, teh dengan tambahan kayu manis memang yang terbaik"
'kelihatannya kau sangat menikmati istirahatmu'
"Aku sangat menikmatinya. Tidur adalah obat yang paling sempurna"
Keduanya menikmati suasana sunyi yang menenangkan, jarang sekali asrama sepi seperti ini. Draco melihat kearah perapian, api membakar kayu merubahnya menjadi abu.
"Kenangan"
'Apa?'
"kenangan itu seperti kayu yang terbakar"
'Kenapa?'
"Kayu sebelum terbakar, teksturnya keras dan tidak berubah sama seperti kenangan yang baru saja terjadi. Tapi, kalau kayu itu sudah terbakar, tekstur dan bentuknya mulai berubah dan menjadi abu sama seperti kenangan yang mulai dilupakan dan akhirnya benar-benar hilang dari ingatan"
'Menurutmu seperti itu?'
"Itu hanya pemikiran yang terlintas saja"
'Draco, menurutku kenangan itu tidak akan terlupakan seperti kayu yang berubah menjadi abu. Sebuah kenangan akan selalu ada diingatan tergantung bagaimana kita, apakah masih ingin terus mengingatnya atau tidak. Selain itu, kalau kau memiliki benda tentang kenangan itu, kau pasti akan selalu megingatnya'
"Hm, kau benar. Kau selalu ada disisiku sehingga aku tidak pernah lupa bagaimana kita bertemu" ucap Draco sambil tersenyum tipis
'Draco, ada apa? Apa kau sakit? Kenapa kau jadi melankolis dan bernostalgia begini? Usiamu terlalu muda untuk itu'
"…"
'Hey, kau tidak ke Great Hall?'
"Bagus sekali Sky, kau berhasil merusak moodku. Entah mengapa aku merasa kau semakin mirip Blaise"
'Ha… ha… ha…'
"Menggangguku adalah hal yang menyenangkan. Iya kan?"
'Ting-tong'
"Ck, menyebalkan"
'Hey Draco, kau harus sarapan. Siang ini kau harus menjalani detensimu'
"A… Sky kenapa kau harus mengingatkanku akan hal itu?" ucap Draco frustrasi sambil mengacak-acak rambut kebanggaannya
'Tapi kau harus bangun'
"Hah… menyebalkan. Sebenarnya aku tidak masalah dengan detensinya tapi kenapa dengan si Potty itu?"
'Eh? Kupikir kau menyukainya'
"SKY…!"
'Hehehe, ayo kita ke Great Hall' Draco hanya diam saja mendengar perkataan Sky lalu dia mulai bersiap-siap dan keluar dari asrama
'Eh, tunggu dulu ini bukan jalan menuju Great Hall'
Draco hanya tersenyum tipis tanpa berniat sedikit pun membalas perkataannya. Kakinya terus melangkah menuju tempat yang Sky yakin bukan lah Great Hall
'Kau mau kemana?'
Draco hanya tersenyum tidak menjawab.
"Baiklah, kita sampai"
'Ini kan dapur'
"Benar"
Draco lalu membuka pintu perlahan dan terlihatlah peri rumah yang sedang bekerja menyiapkan sarapan. Salah satu dari mereka mendekati Draco dan bertanya apa yang dibutuhkan oleh Draco.
"Tolong. Siapkan sarapan untukku"
"Baik tuan muda, Lulu akan segera menyiapkannya. Apakah tuan makan disini?" tanya peri rumah bernama Lulu tersebut sambil tersipu malu
"Tidak, masukkan saja makanannya dalam keranjang"
"Baik, tuan muda"
Draco duduk disalah satu kursi sambil memperhatikan pekerjaan para peri rumah. Ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Draco karena mereka terus memperhatikannya sambil tersenyum bahkan ada yang tersipu, Draco merasa agak aneh akan hal itu.
"Tuan muda silakan, sarapan anda" ucap Lulu sambil menyerahkan keranjang yang berisi sarapan untuk Draco
"Hm, terima kasih"
Draco segera keluar dan berjalan menuju taman yang terletak dibelakang Hogwarts, tanpa disadari oleh Draco, para peri rumah terus memperhatikannya sampai tubuhnya berbelok dan tidak terlihat lagi.
-o0o-
Great hall telah kembali seperti semula, bangku, meja dan semua hiasan natal telah diperbaiki bahkan jejak kerusakan akibat kekacauan kemarin sama sekali tidak terlihat, seakan-akan tidak pernah teradi kerusakan sama sekali.
Harry dan Ron berjalan menuju Great Hall sambil berbincang lalu saat mereka membuka pintu Great Hall, mereka berdua langsung dikerumuni oleh semua murid Hogwarts.
"Harry, bagaimana pertarungan kemarin?"
"A…"
"Harry, detensi apa yang kau dapatkan?"
"It…"
"Harry, ceritakan pada kami"
"So…"
"Sial, andai saja aku menontonnya"
"Tungg…"
"Hah… andai saja aku tidak keluar, aku akan menyaksikan pertarungan seru itu"
Pertanyaan bertubi-tubi yang ditujukan pada Harry membuatnya kalang kabut dan akhirnya dia berte…
"TUNGGU DULU…! hah… hah… hah… "
"Harry, bernapas. Tarik… keluarkan…" ucap Ron dan Harry mengikuti intruksinya, akhirnya pernapasannya kembali normal
"Guys, bisakah kalian tidak menanyakan mengenai hal itu?" ucap Harry sambil memegangi kepalanya yang pusing dan berjalan menuju meja Gryffindor untuk menikmati sarapan tenangnya.
'Seharusnya aku tahu hal ini' batin Harry
"Guys, sebaiknya kalian jangan mengganggu Harry dulu, dia mengalami hari yang berat" ucap Ron sambil berbisik
"Ok, tapi sebagai gantinya…"
"Kau yang cerita"
"Ok, Fred George" ucap Ron pada dua orang remaja yang dia kenali sebagai kakaknya yang kembar
"Tidak usah dengar kan mereka Harry"
"Hah…" Harry merasa sama sekali tidak berniat sarapan, entah mengapa nafsu makannya langsung hilang.
"Ron, ada apa…"
"Dengan Harry?"
"Tidak ada apa-apa, dia hanya mengalami hari yang buruk" ucap Ron sambil menyendok sup ke mangkoknya lalu Ron melihat kearah meja Slytherin
'Kosong, mungkin si sombong itu tidak mau ke Great Hall' batin Ron melanjutkan sarapannya
Di lain tempat:
"Hatchi…"
'Kau baik-baik saja?'
"Ya, kelihatannya ada yang membicarakanku"
'Memangnya kau orang terkenal?'
"Kalau kau masih ingat Sky, aku adalah pewaris satu-satunya dari kelurga Malfoy"
'Benar dan satu-satunya keturunan Malfoy yang membuat kekacauan di tahun pertamanya'
"Shut up…"
Kembali ke Great Hall:
Ron menghampiri Harry yang masih duduk tanpa menyentuh sarapannya,
"Ingin main catur?"
"Tidak"
"Ingin menjenguk Hagrid?"
"Tidak"
"Harry, aku tahu apa yang kau pikirkan tapi jangan lakukan itu. Ada yang tidak beres dengan cermin itu" Harry tidak membalas perkataan Ron, dia hanya mengganggukkan kepalanya.
Ron tidak berkata apa-apa lagi dan melanjutkan sarapannya sedangkan Harry terus teringat mengenai cermin itu, ada rasa bahagia sekaligus kosong yang dia rasakan
Tiba-tiba, pintu Great Hall terbuka dan masuklah seorang profesor yang ditakuti oleh hampir seluruh siswa Hogwarts, Prof. Snape dengan jubahnya yang berkibar bagaikan kalelawar. Suasana Great Hall yang tadinya ramai dengan celoteh para murid menjadi sangat sunyi.
Prof. Snape melangkah menuju meja Gryffindor, Harry dapat melihat rasa takut dan cemas yang dirasakan oleh Ron. Setelah itu, Prof. Snape berhenti didepan Ron dan menatap Ron yang sudah pucat pasi.
"Apakah kau sudah menyelesaikan sarapanmu. Mr. Weasley?" Ron hanya bisa menggangguk tanpa mengeluarkan kata-kata
"Bagus, setelah ini pergilah keruanganku" Sekali lagi Ron menggangguk
"Dan Mr. Potter, detensimu akan dimulai besok karena Hagrid harus ke Hogsmead. Sungguh beruntung" ucap Prof. Snape dengan sinis lalu dia pergi meninggalkan Great Hall. Setelah Prof. Snape menghilang dibelokan, Great Hall kembali ricuh, banyak yang mulai berbisik-bisik.
"Jadi, Ron kau…"
"Terkena detensi bersama Snape?"
"Hah… "Ron sama sekali tidak memiliki tenaga untuk berbicara jadi dia hanya mengganggukkan kepalanya saja.
Harry merasa prihatin pada Ron tapi dia juga merasa senang karena dia tidak akan bertemu dengan si sombong sok tahu itu, walau pun hanya sehari.
"Memangnya berapa lama…"
"kau terkena detensi?"
"Satu bulan" jawab Ron lemas
"Hpppffh... ha… ha… ha… sa… sa… satu bulan bersama snape?" ucap Fred dan George bersamaan
"Ya, tertawa lah sesuka kalian. Kalau kalian mau tahu aku juga terkena detensi membantu Prof. Sprout" ucap Ron kesal dan perkataan Ron itu sama sekali tidak membantu, sebaliknya Fred dan George malah tertawa lebih keras sedangkan Percy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, bingung sekaligus pusing akan tingkah adik-adiknya.
"Lalu Harry kau mendapat…"
"Detensi, seperti apa?"
"Hm…" Harry belum menjawabnya, dia hanya tersenyum. Bukannya dia tidak ingin menceritakan hal itu hanya saja, dia sama sekali tidak ingin membicarakannya.
"Baiklah, kalian berdua cukup. Kalian membuat Harry tidak nyaman" ucap Percy
"Hah… kau sama sekali…"
"Tidak seru, Percy"
"Sudah-sudah, kalian berdua lanjutkan sarapan. Ron, cepat selesaikan sarapanmu lalu temui Prof. Snape dan Harry ayo sarapan, kupastikan mereka tidak akan mengganggumu lagi"
Fred dan George kembali sarapan, Ron segera menyelesaikan sarapan dan pergi ke ruangan Prof. Snape, siap untuk hari neraka yang pertama. Sedangkan Harry ada sedikit rasa lega yang dia rasakan dan kelihatannya dia sudah bisa sarapan dengan tenang.
-o0o-
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, matahari yang bersinar cerah kini telah menghilang di peraduan dan digantikan oleh bulan purnama yang bersinar terang. Disebuah kamar asrama yang keadaannya sepi, Harry sedang mengobrak-abrik lemarinya mencari sesuatu.
"Dimana jubah itu?" lalu tangannya menyentuh sebuah jubah dengan warna hitam dan tipis
"Ini dia"
"AAA…., jangan dekati aku, aku tidak mau menggosok kuali lagi…" teriak Ron dan kelihatnnya dia sedang mengalami mimpi buruk
"Hah… hari pertama saja sudah seperti ini. Walaupun detensiku lebih lama tapi aku bersyukur tidak terkena detensi membantu Prof. Snape, tetap semangat Ron" ucap Harry sambil menatap kasihan pada Ron, sekali lagi Harry memeriksa persiapannya.
"Baiklah, persiapan sudah selesai. Ron aku pergi sebentar dan aku berjanji tidak akan menimbulkan masalah" ucap Harry pada Ron yang masih tertidur lelap.
Harry segera keluar dari kamar lalu menggunakan jubahnya dan memegang lentera dengan erat. Beberapa saat setelah berjalan, Harry sampai di depan sebuah pintu yang tidak terlalu besar lalu tanpa membuang waktu Harry segera masuk kedalam, dia melepas jubahnya dan meletakkan lenteranya dengan hati-hati.
"Hah… walaupun ini aneh tapi aku tidak bisa menahannya" ucap Harry sambil berjalan menuju bagian tengah ruangan itu, dia berdiri didepan sebuah cermin yang tingginya melebihi dirinya. Harry duduk didepan cermin itu sambil memeluk lututnya. Tiba-tiba, ada suara langkah kaki…
"Hey, Potter" Harry langsung membalikkan tubuhnya dan menyesal telah melakukannya karena sekarang dia sedang melihat seseorang yang sangat tidak ingin ditemuinya
"Malfoy…" ucap Harry sambil bangkit dari posisi duduknya
"Dengar Potter aku tidak mau mencari masalah denganmu"
"Aku juga tidak ingin mencari masalah denganmu" ucap Harry masih berdiri, mewaspadai setiap gerakan Draco sedangkan Draco dengan santainya duduk di bingkai jendela sambil menatap bulan yang bersinar.
"Kau, kenapa ada disini? Apakah kau mengikutiku?" tanya Harry penuh kewaspadaan
"Ayo lah Potter kurang kerjaan sekali aku mengikutimu" jawab Draco santai
"Lalu kenapa kau disini?"
"Tidak bisakah aku mendapat hiburan sedikit sebelum aku menjalani hari neraka besok bersamamu?"
"Terserah tapi jangan berisik" ucap Harry
"Kau pikir aku anak kecil?" Harry tidak memperdulikan ucapan Draco lalu dia kembali duduk keposisi awal sebelum Draco datang dan mengganggunya.
"Kalau aku jadi kau Potter, aku tidak akan melakukan hal itu" ucap Draco sambil melihat Harry yang terus saja menatap cermin
"Aku bilang jangan berisik" ucap Harry menekankan perkataannya pada dua kata terakhir
"Bermin itu, dapat membuatmu gila seperti orang-orang sebelumnya" ucap Draco tidak memperdulikan ucapan Harry
"Berisik, tidak bisakah kau diam?" ucap Harry marah, dia kembali teringat kejadian di Great Hall lalu dia bangkit dari posisi duduknya karena Draco berjalan menuju dirinya. Tangan Harry telah siap mengeluarkan tongkat.
"Apa kau ingin mendapat detensi yang lebih berat?"
"Menurutmu detensi apa lagi yang lebih berat?"
"Hm, dikeluarkan? Dengar Potter aku tidak mau mencari masalah denganmu. Hey, bukankah aku sudah mengatakan itu?"
"Ya, kau sudah mengatakan itu" jawab Harry bosan. Sedangkan, Draco hanya menaikkan pundaknya tanda dia tidak peduli
"Yang terpenting Potter, jangan melihat kearah cermin itu lagi. Bukan kah aku sangat baik memberikanmu saran bagus ini?"
"Terima kasih atas saran bagusmu Malfoy tapi aku tidak membutuhkannya. Jadi, pergi lah" lalu Harry membalikkan tubuhnya dan menatap cermin itu kembali
"Apa kau tahu nama cermin ini?" ucap Draco, sekali lagi dia tidak memperdulikan ucapan Harry bahkan sekarang Draco berdiri disampingnya. Harry hanya diam saja dan Draco melanjutkan perkataannya,
"Mirror of Erised, itu lah nama dari cermin ini. Kupikir aku tidak perlu memberitahukan apa fungsi cermin ini melihat kau terus menatapnya seperti itu, kau pasti tahu" ucap Draco sambil melihat kearah Harry yang postur tubuhnya jauh lebih pendek dan kecil darinya.
"Cermin ini memperlihatkan apapun yang kita inginkan"
"Ya dan tidak, cermin ini memperlihatkan pada kita tak lebih dan tak kurang keinginan terdalam dan terkuat dari hati kita. Jadi berhenti lah menatapnya" ucap Draco sambil menarik Harry keluar dari ruangan tersebut. Namun, Harry melepas tangan Draco dengan paksa dan berlari menuju cermin itu lagi.
"Apa kau gila Potter? Astaga pikiranmu mulai kacau"
Namun, Harry tidak membalas perkataan Draco bahkan menatapnya pun tidak
"Hah…, dengar Potter cermin itu tidak memberi pengetahuan atau kebenaran, banyak orang menjadi gila karena menatap cermin itu. Tidak benar hidup dalam mimpi Potter dan melupakan hidup yang seharusnya kau jalani, kehidupan yang akan membantumu melihat kedepan"
"Kau mudah mengatakan hal itu karena kau memiliki segalanya" ucap Harry sambil menunduk dan berjalan menuju Draco dengan kepala menunduk lalu Harry melanjutkan,
"Apa kau tahu apa yang kulihat dalam cermin itu? Sehingga aku terus kembali kemari untuk melihatnya?"
Draco tidak berpindah dari posisinya, dia tetap berdiri di dekat pintu sedangkan Harry makin mendekat kearahnya
"Aku… Aku… Aku melihat mereka berdua, dua orang yang sangat ingin kutemui, orang tuaku. Kau yang masih memilikinya… TIDAK AKAN MENGERTI PERASAANKU...!" teriak Harry
Harry berlari kearah pintu keluar yang berada beberapa meter dibelakang Draco. Tiba-tiba, Harry berhenti karena ada yang menahannya
"Lepaskan aku" ucap Harry sambil berusaha melepas tangan Draco yang memegang lengannya
"Maafkan aku" ucap Draco pelan dengan kepala menunduk, walaupun begitu Harry masih dapat mendengarnya
'Apa aku salah dengar? Malfoy minta maaf? Telingaku pasti bermasalah' batin Harry, masih tidak percaya apa yang didengarnya
"Aku tahu kau pasti mengira kalau telingamu bermasalah. Tapi, aku…"
"Cukup. Tolong berhentilah mempermainkanku Malfoy, sekarang kau minta maaf tapi besok? Kau pasti akan menghinaku lagi"
Genggaman tangan dilengan Harry mulai mengendur, Harry menarik langsung tangannya dan berjalan menuju pintu namun sebelum Harry membuka pintunya, tiba-tiba lengannya ditarik kembali dan Draco berbisik ditelinga Harry.
"Maaf, aku mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan" ucap Draco pelan, lebih mirip berbisik tapi Harry dapat mendengarnya jelas, tubuhnya merinding setiap kali Draco berbicara dan bernafas ditelinganya.
"Hm, sebaiknya kau kembali ke asrama" Belum sempat Harry memproses apa yang baru saja terjadi, Draco langsung melepaskan tangannya dan melangkah pergi meninggalkan Harry yang masih terdiam terpaku karena heran dengan apa yang baru saja terjadi.
TBC
Author Notes:
Beberapa mantra dan fungsinya yang digunakan pada Chapter ini:
Incendio: Menghasilkan semburan api
Levicorpus: Korban tergantung terbalik dengan satu pergelangan kaki
Liberacorpus: untuk mengatasi mantra "Levicorpus"
Petrificus Totalus: Digunakan untuk membekukan tubuh untuk sementara, mantra ini tidak membatasi bernapas atau melihat dan korban biasanya akan jatuh ke tanah
Rictusempra: Subjek merasakan dirinya terdorong
Avis: memunculkan sekawanan burung kecil
Aqua Eructo: mangeluarkan air khusus untuk memadamkan api
Depulso: membuat angin untuk mendorong sesuatu
Flipendo: membuat cahaya seperti petir bewarna putih untuk mendorong target
Reparo: membetulkan atau memperbaiki sesuatu yang rusak
Scourgif : membersihkan sesuatu
Ventus: mengeluarkan cahaya berbentuk spiral untuk mendorong target
Tolong jangan bosan-bosan membaca cerita dari saya
DITUNGGU REVIEWNYA, YA… ^_^
