Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 9
Detention
'Dimana ini?'
Draco berdiri ditengah ruangan yang tidak dia kenali, ruangan itu sangat lah luas dengan warna hitam dan putih mendominasi. Dia berlari mencari jalan keluar namun hal yang dia temukan tetaplah sama.
Sunyi, tidak ada satu pun orang yang dia temui tiba-tiba dari arah belakang dia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan mendekatinya. Draco ingin sekali membalikkan tubuhnya. Tapi, entah mengapa dia tidak dapat menguasainya.
'Draco' sosok itu memanggil namanya dengan lembut dan dia tahu bahwa sosok itu bukanlah musuh. Draco ingin sekali melihatnya tapi tubuhnya sama sekali tidak dapat digerakkan.
Jantungnya, berdetak lebih cepat saat sosok yang tidak dia kenali itu memeluknya dari arah belakang.
'Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat?'
'Draco' ucap sosok itu lagi, Draco tidak dapat mengendalikan degupan jantungnya yang semakin kencang. Sosok itu memiliki tubuh kira-kira setinggi leher Draco karena kepala dari sosok itu menempel tepat dilehernya dan tubuhnya tidak terlalu besar karena Draco melihat ukuran kedua lengan yang melingkar di pinggangnya.
Draco ingin sekali melihat sosok itu karena baru pertama kali dalam hidupnya, ada seseorang yang membuatnya sangat penasaran dan jantungnya terus berdegup kencang.
'Draco aku akan selalu ada di sisimu. Apa kau pun akan selalu berada di sisiku?'
Tanpa pikir panjang Draco langsung mengiyakan perkataan sosok yang secara terang-terangan merebut hatinya itu, Draco terus mencoba untuk menggerakkan tubuhnya.
'Aku sangat bahagia' akhirnya Draco berhasil menggerakkan tubuhnya dan saat dia berbalik sosok itu telah menghilang.
Suara itu... sentuhan itu... terasa sangat familiar bagi Draco. Tapi, siapa? Tiba-tiba, udara berubah menjadi sangat dingin. Draco langsung merapatkan jubah yang dia kenakan.
'Ada apa ini? kenapa ada badai salju di dalam ruangan?' Draco mencoba berjalan di tumpukan salju tebal yang tiba-tiba saja memenuhi ruangan luas itu. Saat itu lah dia melihat sosok terbaring di atas salju, tanpa pikir panjang Draco langsung menghampirinya.
Draco membalik tubuh kurus dan pucat itu, dia tidak dapat melihat wajahnya karena tertutupi oleh syal hitam yang melingkar manis dilehernya. Namun, Draco masih dapat melihat kilauan emerald hijau dikedua matanya dan kilauan itu makin bersinar cerah saat sosok itu mengenali Draco.
'Kau datang? Aku bahagia sekali, kau ada di sini menemaniku sampai akhir' ucap sosok itu lemah. Draco tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun, dia terlalu syok dengan kejadian ini.
'Jangan menangis, maaf ya aku tidak dapat menemanimu sampai akhir' Draco tahu sosok itu sedang tersenyum dan hal itu membuat hatinya sangat miris dan membuatnya tidak dapat lagi membendung air matanya.
'Tidak, kau sendiri yang mengatakan akan selalu ada disisiku' akhirnya Draco dapat menemukan suaranya. Aneh, dia sama sekali tidak mengenali sosok ini tapi hatinya telah memilihnya dan Draco sama sekali tidak ingin kehilangan sosok yang sedang dipeluknya itu.
Sosok itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata,
'Terima kasih, kau membuatku bahagia sampai akhir. Kuharap kau pun akan selalu bahagia walau aku tidak ada disampingmu'
'Ap... apa, maksudmu?'
'Tetaplah bahagia untukku juga' ucap sosok itu sambil tersenyum dan udara dingin pun berhembus, seakan-akan membawa pergi jiwa sosok itu dan Draco menyadari sosok itu telah menghilang dari pelukannya.
'Tidak... tidak boleh... TIDAK...'
"TIDAK..."
Draco terbangun dari tidurnya, peluh membasahi sekujur tubuh dengan nafas terengah-engah dia mencoba menghilangkan bayangan mimpi buruk yang masih terpatri kuat diingatannya.
"Mimpi apa itu?"
'Draco ada apa?'
"Tidak ada apa-apa, aku hanya mimpi buruk"
'... kembalilah tidur karena nanti akan menjadi hari yang sibuk'
Mata Draco langsung terbuka lebar mendengar perkataan Sky, dia langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan mengacak rambut pirangnya yang sudah berantakan.
"Detensi, kenapa aku bisa lupa dengan hal itu?"
.
.
"HARRY..."
"Aku belum tuli Ron, kau tidak perlu berteriak seperti itu"
"Tapi Harry, saat aku terbangun kau tidak ada ditempat tidurmu. Kau kemana saja sampai jam 4 pagi begini?"
"Maaf membuatmu khawatir, aku ketiduran di..." belum sempat Harry menyelesaikan kalimatnya, Ron langsung memotong
"Tunggu, jangan bilang kau tertidur di ruangan cermin itu"
Harry hanya tersenyum menanggapi perkataan sahabatnya
"Harry, bukankah aku sudah bilang jangan melihat cermin itu lagi, kau..."
"Tenang saja Ron, aku tidak akan pergi kesana lagi. Mungkin ini adalah yang terakhir" Harry langsung berbaring diranjangnya dan melanjutkan tidurnya, dia membutuhkan banyak tenaga untuk detensi nanti.
Sebenarnya masih banyak yang ingin Ron tanyakan tapi kelihatannya saat ini Harry membutuhkan istirahat lalu Ron pun ikut berbaring di tempat tidurnya, melanjutkan mimpi yang sempat terputus.
-o0o-
Tepat jam 10 siang, Harry dan Draco sedang berdiri didepan sebuah pondok dekat hutan terlarang. Kedua anak laki-laki itu berdiri saling membelakangi, tidak ada yang berbicara. Suasana canggung sangat terasa.
'...'
'Kenapa suasananya seperti ini?' batin Harry
Saat mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba pintu pondok terbuka lebar lalu Hagrid menghampiri mereka berdua,
"Hello boys, apa kalian siap?" Tanya Hagrid berjalan mendahui mereka, Draco dan Harrypun mengikutinya dari belakang.
"Hagrid, detensi seperti apa yang akan kau berikan pada kami?"
"Oh, maaf kan aku Harry tapi aku tidak bisa memberitahukannya padamu tapi kau tenang saja, detensinya akan menyenangkan" ucap Hagrid sambil tersenyum. Harry terdiam terpaku, entah mengapa dia merasakan firasat buruk akan hal ini.
"Apa kau takut Potter?"
"Dalam mimpimu Malfoy"
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya ketiga orang itu sampai di sebuah tempat yang Harry tahu bernama danau hitam.
"Kalian pasti tidak sabar ingin mengetahui detensinya. Detensi kalian adalah mencari Horned slugs, menyenangkan bukan?" ucap Hagrid sambil tersenyum. Entah Hagrid sadar atau tidak tapi kedua anak laki-laki itu terdiam karena penyebab yang berbeda.
"Apa kau gila? Kenapa kami yang harus mencari hewan itu?" Tanya Draco dengan wajah sinis
'Hahaha..., apa kau baru saja disuruh mencari Horned slugs? Sangat tidak Malfoyish'
'Shut up'
"Kau setuju atau tidak Mr. Malfoy, tapi itu adalah detensi kalian"
"Tapi di musim dingin seperti ini, hal itu sama saja cari mati" balas Draco dengan argumennya
"Mr. Malfoy, kau bisa menggunakan mantra penghangat"
Draco ingin membalas perkataan Hagrid, namun terhenti karena pertanyaan polos yang datang dari bibir Harry
"Hagrid, Horned slugs itu apa?"
Draco dan Hagrid hanya terdiam melihat kearah Harry, membuat Harry menjadi malu.
"Apa salah kalau aku tidak tahu hal itu?" Harry agak tersinggung dengan reaksi yang diberikan oleh Draco dan Hagrid
"Ehem, tidak Harry sama sekali tidak. Well, Horned slugs disebut juga siput bertanduk, bahan ini digunakan untuk membuat ramuan penyembuh bisul"
"Oh, jadi kami hanya tinggal mencarinya?"
"Benar"
Harry melirik kearah Draco dan mengatakan,
"Padahal kita hanya mencari siput saja tapi sikapmu seperti dunia mau kiamat Malfoy"
"Hey Potter, apa kau tahu dimana harus mencarinya?"
"Hagrid membawa kita kemari, jadi sudah pasti kita harus mencarinya disini" jawab Harry enteng sambil berjalan menjauh dari Draco dan mulai mencari
"Kelihatannya kau tidak keberatan sama sekali dengan detensi ini"
"Ayolah Malfoy, ini bukanlah detensi yang berat"
'Bila dibandingkan dengan detensi yang didapat Ron' batin Harry, setiap mengingat Ron mengigau selalu membuat Harry merinding
"Kalau begitu, buka bajumu"
"Untuk apa aku membuka bajuku?" mendengar perkataan Draco membuat Harry terkejut dan wajahnya memerah
"Apa kau tahu? Untuk mendapat Horned slugs dimusim seperti ini, kita harus menyelam disana" ucap Draco sambil menunjuk danau hitam
"Kau bercandakan?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda Potter?"
Harry melihat kearah Hagrid meminta penjelasan dan saat melihat ekspresinya, Harry sudah tahu jawabannya.
"Maaf Harry, di musim seperti ini Horned slugs hanya ditemukan di bebatuan dalam danau hitam tapi kalau musim panas kau akan menemukannya di tepi danau" ucap Hagrid sambil tersenyum. Harry tidak tahu harus berkata apa, hal ini terlalu membuatnya syok dan dia sedikit merasa bersalah dan malu pada Draco.
"Baiklah, kelihatannya kalian bisa bekerja sama jadi aku akan meninggalkan kalian berdua dan akan kembali saat makan malam"
"Tunggu, saat makan malam? Apa kau mau membunuh kami?"
"Tenang saja Mr. Malfoy, makan siang kalian akan diantar oleh peri rumah"
"Tunggu, bukan itu masalahnya. Hey Potter, bicaralah"
"Baiklah, aku pergi dulu. sampai jumpa jam tujuh nanti" ucap Hagrid sambil melambaikan tangannya dan berjalan menjauh
"Sial" Draco memijat kepalanya yang tiba-tiba saja pusing lalu melihat kearah Harry yang masih dalam posisi diam terpaku, membuatnya bertambah pusing.
"Sigh... mau bagaimana lagi" Draco mulai melepas jubahnya. Harry yang melihat hal itu langsung tersadar dari keterpakuannya
"Mal... Malfoy, apa yang kau lakukan?"
"Apa yang kulakukan? Itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah kudengar Potter"
Draco melihat kearah Harry yang menundukkan kepalanya dengan wajah memerah.
"..."
Setelah melepas jubah dan jaketnya, Draco yang hanya menggunakan kemeja putih segera merapalkan mantra penghangat. Merasa agak kepanasan, Draco membuka dua kancing atas sehingga memperlihatkan kulit pucatnya. Draco melihat kearah Harry yang sedang merapalkan mantra penghangat
"Kenapa kau hanya melepas jubahmu? Akan sulit menyelam dengan jaket" tanya Draco, membuat Harry terkejut dan langsung menatap kearahnya. Hal pertama yang Draco lihat adalah wajah Harry yang memerah
"Terserah aku" ucap Harry sambil memalingkan wajahnya
"Kenapa kau memalingkan wajahmu Potter?"
"Tidak. AH..." betapa kaget Harry saat Draco berdiri dihadapannya. Jarak mereka hanya 30 cm dari posisi berdiri Harry
"Kenapa reaksimu seperti itu Potter?" ucap Draco sambil berjalan maju
"Kar... karena kau tiba-tiba saja berdiri dihadapanku" ucap Harry sambil berjalan mundur
"Bukan itu maksudku Potter" Draco maju satu langkah
"La... lalu yang mana?" Harry mundur satu langkah
"Kenapa kau memalingkan wajahmu?" Draco maju satu langkah
"It... itu terserah aku" Harry mundur satu langkah
"Apa karena kau tidak ingin melihat wajahku?" Draco maju satu langkah
"Mu... mungkin" Harry mundur satu langkah
"Kenapa?" Draco maju dua langkah
"Ap... apa maksudmu?" Harry mundur tiga langkah
"Kenapa kau tidak ingin melihat wajahku?" Draco mengambil langkah lebar sehingga wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Harry
"Kar... karena, AH..." tanpa Harry sadari, dia terpeleset dan jatuh ke danau sehingga sekujur tubuhnya basah kuyup.
"Potter, kau tidak perlu menceburkan diri ke danau hanya karena kau pusing melihat ketampananku"
"KAU PIKIR INI SALAH SIAPA? Ha... hachiimmm..."
"Potter kau tidak perlu malu seperti itu"
"TIDAK, karena perbuatanmu aku jadi basah kuyup" ucap Harry, mencoba berdiri
"Terima saja Potter, nantinya juga kita basah" ucap Draco
Setelah mengatakan hal itu, Draco langsung menceburkan dirinya kedalam danau. Harry yang melihat hal itu merasa terkejut sekaligus kagum.
'Kenapa aku terpaku melihatnya? Seperti orang bodoh saja' batin Harry sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Harry langsung menyusul Draco yang telah menyelam entah kemana.
-o0o-
Sudah dua jam berlalu sejak Draco dan Harry memulai pencarian mereka akan Horned slugs. Draco terlihat santai dalam menjalankan detensinya bahkan dia telah mengumpulan Horned slugs lebih dari 100. Sedangkan Harry, dia terlihat sangat kelelahan bahkan Horned slugs yang dikumpulkan belum mencapai 50.
"Kau benar Potter, ini bukanlah detensi yang berat" ucap Draco sambil menyeringai
"Hah... hah... hah..., kau..." Harry tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Nafasnya yang memburu, membuat dia sulit untuk berbicara
"Kau baik-baik saja, Potter?" ucap Draco dengan nada bercanda
"It... itu bukan urusanmu" Harry berjalan menuju salah satu pohon dan menyandarkan tubuh kurusnya, wajahnya menjadi sangat pucat dan dia menggigil. Draco melihat kearah Harry dan satu hal yang dia tahu adalah Harry tidak dalam keadaan baik.
Draco berlari kearah Harry dan mengguncang tubuhnya.
"Hey, Potter BANGUN!"
"Ah... ah, Malfoy... bisakah kau saja yang menyelesaikan detensinya?" ucap Harry pelan dengan mata setengah terbuka
"Apa kau bilang? Kita akan selesaikan detensi ini bersama"
"Kau benar-benar jahat" ucap Harry sambil tersenyum, kali ini matanya benar-benar tertutup
"Hey, POTTER BANGUN!"
Draco benar-benar panik dan saat dia menyentuh wajah Harry, tiba-tiba bayangan sebuah kota yang terbakar dan diliputi oleh kegelapan terlihat oleh Draco dan hal itu terlihat sangat nyata. Kengerian, penderitaan dan ketakutan semuanya menjadi satu.
Draco segera menarik tangannya, dia masih sangat syok akan bayangan mengerikan itu, tubuhnya bergetar.
'Apa yang baru saja kulihat?' batin Draco sambil melihat tangannya yang masih bergetar
"Uh... di... dingin..." suara Harry menyadarkan Draco dari keterkejutannya. Dia sadar saat ini ada hal yang jauh lebih penting dari hal itu, Draco segera mendekati Harry dan hal pertama yang dia pikirkan adalah membuat Harry tetap sadar.
"Hey Potter, kapan terakhir kali kau menggunakan mantra penghangat?"
Harry menggelengkan kepalanya "Aku baru menggunakannya sekali"
"Jadi, kau tidak memperbahrui mantranya?"
Sekali lagi Harry menggeleng.
"Potter... mantra penghangat hanya bertahan satu jam saja"
"Hehehe..., pantas saja sejak tadi aku merasa kedinginan" ucap Harry sambil tersenyum lemas
"Kau... hah..., percuma saja bicara denganmu" ucap Draco sambil mencari tongkatnya
"Hehehe..."
"Berhenti tertawa bodoh seperti itu"
Draco segera merapalkan mantra penghangat pada Harry dan juga pada dirinya,
"Sebentar lagi, peri rumah akan datang mengantarkan makan siang. Sampai mereka datang, lebih baik kau istirahatkan kepala kosongmu itu, aku akan menyelesaikan sisanya"
"Terima kasih, sebagai gantinya, aku akan mengerjakan tugasmu didetensi yang lain"
Draco hanya memalingkan wajahnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lalu dia berjalan menuju danau, bersiap untuk menyelam kembali.
Setelah beberapa saat, Draco berhenti mencari, 'Hm, kupikir ini sudah cukup. Aku bisa melanjutkannya nanti' batin Draco saat melihat kantongnya yang berisi Horned slugs hampir penuh. Dia segera mengikat kantong tersebut dan berenang menuju permukaan.
Hal pertama yang Draco lihat adalah peri rumah yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
'Kenapa rasanya ini seperti piknik?' batin Draco saat melihat tatanan yang dilakukan oleh peri rumah tersebut.
"Malfoy, selamat datang" ucap Harry sambil tersenyum
"Kelihatannya kau jauh lebih baik, setidaknya wajah hantu itu sudah hilang"
Sebenarnya Harry ingin sekali membalas perkataan Draco tapi dia merasa tidak sopan bila bertengkar dengan seseorang yang sudah membantunya. Jadi, dia memilih diam.
Draco duduk disamping Harry dan mulai menikmati sup hangatnya sedangkan Harry masih betah dengan coklat panas di tangannya.
"Apa masih ada yang tuan muda butuhkan?" Tanya peri rumah pada Draco dan Harry
"Tidak, kau boleh pergi" ucap Draco dingin
Setelah peri rumah meninggalkan Draco dan Harry, mereka berdua kembali menikmati makan siang yang hangat,
"Hm..., nyaman sekali" ucap Harry sambil menatap sekitarnya yang mulai dipenuhi oleh salju
Draco melihat kearah Harry, dia masih penasaran dengan bayangan yang dia lihat tadi
'Sebenarnya, itu apa?' batin Draco
"Foy... Malfoy. Hello" ucap Harry sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Draco
"Apa?" tanya Draco dingin, berusaha menyembunyikan rasa malunya karena melamun dihadapan Harry
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Harry tertarik
"Tidak ada"
"Ta..." sebelum Harry melanjutkan perkataannya, Draco langsung memotong
"Kau ini suka sekali mencampuri urusan orang lain" Draco menatap Harry tajam
"Kalau begitu boleh aku bertanya satu hal?" balas Harry santai, tidak mengindahkan tatapan tajam Draco
"Tidak"
"Satu hal saja, kenapa kau sangat pelit?"
"Lebih baik kita mulai mencari lagi" ucap Draco sambil bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju danau hitam. Harry menatap punggung Draco yang semakin menjauh, banyak pertanyaan di kepalanya yang ingin dia tanyakan, tapi kelihatannya Draco sedang tidak mood untuk meladeni pertanyaannya.
Entah kenapa, sejak kejadian kemarin malam Harry menyadari kalau Draco mempunyai sisi yang berbeda. Mungkin Draco tidak seburuk yang dia kira selama ini, buktinya dia melarang Harry bermain dengan cermin itu lagi dan dia meminta maaf pada Harry walaupun dia langsung pergi tanpa mendengar balasan darinya.
"HEY POTTER, CEPAT!" panggil Draco dari arah danau hitam
"IYA, dasar tukang suruh-suruh" Harry bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju danau hitam menyusul Draco yang sudah menyelam lebih dulu.
-o0o-
Langit yang hanya menampilkan warna abu-abu itu, kini telah berwarna hitam pekat dengan dihiasi terang bulan dan gemerlap cahaya bintang.
Ron menoleh pada Harry yang sedang berbaring, anak laki-laki itu terlihat sangat lelah.
"Harry, kau baik-baik saja?"
"Hmm..." hanya itu jawaban yang diberikan Harry
"Apa detensinya sangat berat?"
"Manurutmu menyelam di danau hitam demi seekor siput pada musim dingin seperti ini, berat?"
"APA?" Teriak Ron dan bangkit dari posisi berbaringnya, dia menatap Harry dengan perasaan syok, kagum, khawatir, kasihan dll yang penting dia tidak tahu harus merasa seperti apa, semuanya melebur menjadi satu.
"Ron, aku tahu kau kaget tapi tidak perlu berteriak" ucap Harry sambil mengusap-usap kupingnya yang berdengung
"Ta... tapi Harry, apa kau serius dengan ucapanmu itu? Kau tidak bercandakan?"
"Apa kondisiku yang seperti ini, masih membuatmu tidak percaya?"
"Hmm, aku tidak bisa bayangkan bagaimana pengalaman yang menyenangkan itu"
"Pengalaman menyenangkan? Itu benar-benar perumpamaan yang bagus Ron" ucap Harry, memutar matanya malas
"Hehehe..., tapi sungguh Harry aku tidak bisa bayangkan bagaimana menderitanya dirimu, detensi bersama Malfoy menurutku sudah cukup buruk"
"Sebenarnya, tidak terlalu buruk kok" ucap Harry lirih
"Hah, apa? Apa yang barusan kau katakan? Aku tidak mendengarmu"
"Tidak ada. Ayo tidur" ucap Harry sambil menarik selimutnya dan tidur dengan posisi membelakangi Ron. Ron hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli lalu dia menarik selimutnya.
"Selamat malam, Harry"
"Selamat malam, Ron"
-o0o-
Matahari terbit di ufuk timur, menyebarkan cahaya terang nan hangatnya ke seluruh dunia. Awan putih menghiasi langit biru. Sebuah lukisan pagi yang cerah telah tercipta. Seluruh mahluk hidup mulai menjalankan aktivitasnya dengan semangat.
"AKU TIDAK PERCAYA INI!"
Tapi kelihatannya, ada seseorang yang suasana hatinya tidak seperti pagi yang cerah ini.
"Maaf" ucap Harry dan Ron pada Hermione
"Hah..., kenapa kalian mencari masalah dan sampai mendapat detensi seperti itu?"
"..." Harry dan Ron hanya terdiam, tidak mampu menjawab ucapan Hermione
"Hah..." gadis itu menghela nafasnya untuk kesekian kali lalu duduk dihadapan Harry dan Ron
Tidak ada yang berbicara, hanya suara para siswa yang memasuki asrama dan suara koper yang diseret.
"Baiklah, apa ada yang ingin menceritakan kronologinya? Harry? Ron?" tanya Hermione sambil menatap mereka.
"Bagini, awalnya aku dan Harry..." Ron mulai menceritakan kejadian yang sejak tadi diributkan "Jadi, begitulah ceritanya" beberapa saat kemudian, Ron selesai bercerita. Tidak ada tanggapan yang keluar dari bibir Hermione.
"Hermione?" panggil Harry
"Kalian..."
Kedua anak laki-laki itu sudah siap mendapat teriakan dari gadis tersebut.
"Bagus. Itu adalah tindakan yang tepat. Kalau aku jadi kalian aku akan melakukan hal yang sama" ucap Hermione santai
"Hm, Hermione? Apa kau sakit?" tanya Ron yang heran dengan perubahan sikap Hermione
"Apa aku terlihat tidak sehat?"
"Tidak, tapi..."
"Menurutku, Malfoy sudah keterlaluan. Jadi, kupikir dia pantas mendapatkannya" Kedua anak laki-laki itu saling menatap lalu menatap gadis itu kembali.
"Iya, itu benar. Walaupun Harry harus detensi bersamanya selama dua bulan"
"APA?!" teriak Hermione mendengar ucapan Ron.
Harry dan Ron hanya menutup kedua kupingnya sambil menundukkan kepala.
"Bagaimana bisa? Seharusnya..."
"Thanks Ron" ucap Harry sambil berbisik
"Maaf. Aku tidak tahu kalau dia akan bereaksi seperti ini"
"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Jangan ceritakan tentang aku detensi bersama Malfoy"
"Maaf"
Dan pagi hari yang cerah itu dihabiskan dengan acara siraman rohani yang diberikan oleh Hermione khusus untuk Harry dan Ron.
-o0o-
"Hahaha..., aku tidak tahu kalau kau sangat menyukai Potter"
"Diam Zabini"
"Draco, tumben sekali kau mudah terpancing seperti itu" Pansy hanya dapat mengeleng-gelengkan kepalanya karena heran dengan sikap sahabatnya yang biasanya sangat terkendali ini
"Dengar Pansy, Blaise..."
"Apa?" tanya Pansy penasaran dengan jawaban Draco
'Kalau aku mengatakan alasan sebenarnya, mereka berdua pasti akan menggodaku' batin Draco
"Itu..., si Potter dan..."
"Apa? Kau mau mengatakan kalau kau sengaja bertengkar dengan mereka agar kau bisa detensi bersama Potter?" ucap Blaise sambil tersenyum
"Singkirkan senyum licik itu Zabini"
Pansy hanya dapat menghela nafas melihat kelakuan kedua sahabat karibnya itu
"Jadi? Apa yang membuatmu sampai bertengkar dengan mereka?" tanya Pansy kembali
"Aku hanya kesal karena mereka berdua sangat ribut dan membicarakan hal yang tidak berguna"
"Hanya itu?" tanya Pansy curiga
"Ya, hanya itu. kalian mau ke Great Hall?" Draco mencoba mengalihkan pembicaraan dan langsung bangkit dari posisi duduknya
"Tunggu dulu Draco, aku belum selesai" ucap Pansy mengejar Draco yang sudah berjalan keluar asrama Slytherin
"Ckckck" Blaise hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya dan menyusul mereka ke Great Hall
-o0o-
Hari-hari biasa di Hogwarts telah kembali, para murid mulai sibuk menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Tidak terkecuali tiga murid Gryffindor yang kini duduk di Great Hall, membaca buku sambil menikmati makan siang yang lezat.
"Lihat dirimu Ron, menyedihkan. Seminggu lagi kita akan ujian semester satu" ucap Hermione pada Ron yang sedang asyik bermain catur
"Aku sudah siap Hermione. Tanyakan saja pertanyaan apapun" balas Ron
"Baiklah. Apa tiga bahan yang paling penting untuk membuat ramuan Forgetfulness?" tanya Hermione
"Aku tidak ingat" ucap Ron pelan sambil menundukkan kepalanya
"Apa yang akan kau lakukan bila ini muncul diujian?" ucap Hermione
"Menyontekmu?"
"Tidak akan, lagi pula Prof. McGonagall bilang, kita akan mendapat pena khusus yang sudah dimantrai dengan mantra anti curang"
"Rasanya para guru tidak mempercayai kita, iyakan Harry?" ucap Ron jengkel, Harry hanya tersenyum mendengarnya.
Hermione dan Harry kembali belajar untuk persiapan ujian, kecuali Ron yang sibuk dengan kartu yang didapat dari coklat kodoknya. Harry memperhatikan Ron yang sedang sibuk memisahkan kartu-kartu sihirnya, lalu dia menangkap sesuatu yang menarik dibelakang kartu itu, sebuah tulisan.
"Akhirnya kutemukan" ucap Harry pada Ron dan Hermione. Ron mengambil kartu yang disodorkan oleh Harry dan membacanya
"Dumbledore terkenal karena keberhasilannya menaklukkan penyihir hitam Grindenwald pada tahun 1945 juga dengan penemuannya tentang 12 kegunaan darah naga dan rekannya Nicholas Flamel" Ron terlihat sangat senang dengan apa yang dibacanya dan Hermione terlihat seperti menyadari sesuatu.
"Kusadari nama itu kedengaran familiar. Aku membacanya hari itu diatas kereta. Ikuti aku" ucap Hermione bersemangat, dia segera membereskan perlengkapannya begitu pun Harry dan Ron, mereka bertiga segera berlari keluar dari Great Hall menuju perpustakaan.
Tidak lama kemudian mereka bertiga akhirnya sampai di perpustakaan. Tanpa membuang waktu, Hermione segera menuju rak buku yang berada di pojok kanan dekat jendela. Sedangkan, Ron dan Harry telah duduk manis menunggu Harmione. Tidak lama, Hermione muncul dengan buku tebal bersampul coklat tua di tangannya.
"Aku menyuruh kalian mencari di bagian yang salah. Bagaimana mungkin aku sebodoh itu?" ucap Hermione sambil meletakkan buku tebal itu di atas meja. "Aku membaca ini dulu, sebagai bacaan ringan" lanjutnya
Ron menatap horor pada buku yang dibawa Hermione
"Ini bacaan ringan?" ucap Ron, Hermione hanya melihatnya dengan tatapan tidak suka tanpa memberi komentar apapun. Hermione segera membuka buku itu dan mencari halaman yang tepat.
"Tentu saja, ini dia. Biar kubacakan" ucap Hermione semangat "Nicholas Flamel adalah satu-satunya pencipta batu Philosopher"
"Apa itu?" tanya Ron
"Batu Philosopher adalah suatu substansi legendaris dengan keampuhan yang mencegangkan, batu ini dapat mengubah logam biasa menjadi emas murni dan menghasilkan ramuan Elixir of life yang akan memberikan immortal pada orang yang meminumnya"
"Immortal?" tanya Ron bingung
"Artinya kau tidak akan mati" jawab Hermione singkat
"Aku tahu artinya apa!" ucap Ron kesal
Harry hanya menghela nafas melihat sikap temannya yang satu ini. Harry lalu menyuruh Hermione melanjutkan bacaannya.
"Sekarang hanya ada batu semacam itu yang dimiliki oleh Nicholas Flamel seorang alkemis kenamaan yang tahun lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-665. Itulah yang dijaga Fluffy di lantai tiga. Itulah yang berada di bawah pintu itu. Batu philosopher" ucap Hermione bersemangat
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Harry
"Pertama kita harus menemui Hagrid"
"Kenapa ?" tanya Harry dan Ron kompak
"Karena dia yang tahu tentang Fluffy. Malam ini kita harus menemui Hagrid bagaimana pun caranya"
Harry dan Ron hanya dapat mengganggukkan kepalanya.
"Baiklah, ayo kita kembali ke asrama" ucap Hermione
Akhirnya mereka meninggalkan perpustakaan dengan langkah ringan tanpa satu pun dari mereka menyadari sepasang mata silver mengamati sejak kedatangan mereka ke perpustakaan.
TBC
Author Notes :
# Kali ini saya ingin menyampaikan beberapa hal, yaitu:
Bagaimana ceritanya? Apa ada kurang atau kelebihan? Apa cerita pada chapter ini terlalu lebay? Atau gimana?
Tolong jangan bosan-bosan membaca cerita dari saya
DITUNGGU REVIEWNYA, YA... ^_^
