Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 10
Philosopher Stone
Malam telah tiba, bulan dan bintang menggantikan matahari tuk menerangi angkasa raya. Menjadi waktu yang tepat untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah beraktifitas sepanjang hari. Tapi, tidak bagi tiga orang remaja yang berlari menuju gubuk kecil di dekat hutan terlarang, rumah Hagrid.
"Hah… hah… kalau kita sampai tertangkap entah detensi apa yang akan kita dapatkan" ucap Hermione dengan nafas tidak beraturan
"Kalau kami berdua sudah merasakan detensi yang paling berat. Jadi, kalau diberikan detensi lagi bagi kami itu detensi yang ringan" dengan bangga Ron memamerkan detensi nerakanya
Hermione hanya memutar matanya saat mendengar hal itu. Sedangkan, Harry hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya.
Tidak lama kemudian, mereka bertiga sampai ditempat tujuan dan dengan tergesa-gesa mereka mengedor pintu malang tersebut.
"Hagrid" panggil Harry
"Oh, hello. Maaf aku tidak bermaksud kasar tapi saat ini aku tidak bisa menerima tamu" ucap Hagrid itu dengan ancang-ancang ingin menutup kembali pintu rumahnya
"Kami tahu tentang batu Philosopher" ucap Hermione, mendengar hal itu Hagrid langsung membuka pintu dan membiarkan mereka untuk masuk
"Kami menduga Prof. Snape mencoba mencurinya" ucap Harry
"Snape? Astaga kalian masih mencurigainya?" ucap Hagrid
"Hagrid, kami tahu dia inginkan batu itu tapi kami tidak tahu mengapa" balas Hermione
"Snape adalah salah satu guru Hogwarts yang bertugas menjaga batu itu. Dia tidak mungkin ingin mencurinya" ucap Hagrid
"Apa?" sontak saja hal ini mengagetkan mereka
"Sudahlah, aku sedikit sibuk hari ini" ucap Hagrid sambil berjalan menuju perapian
"Tunggu dulu, Prof. Snape adalah salah satu guru yang menjaga batu itu. Tentu saja! Ada hal lain yang menjaga batu itu kan? Seperti mantra sihir?"
"Itu benar Hermione, tapi menurutku itu buang-buang waktu saja. Tidak ada seorang pun yang dapat melewati Fluffy. Tidak ada seorang pun tahu kelemahannya selain aku dan Dumbledore, Hehehe" ucap Hagrid sambil tertawa
Tiba-tiba dari arah perapian ada bunyi aneh, kuali yang berada pada perapian bergerak-gerak dan Hagrid segera menghampiri kuali aneh itu. ketiga remaja itu sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Hagrid, jadi mereka mendekati Hagrid dan betapa terkejutnya mereka saat Hagrid mengangkat sebuah telur yang sangat besar berwana emas.
"Hagrid, apa itu?" tanya Ron
"Hehehe, ini adalah telur naga" Hagrid tersenyum sangat lebar dan mendekap telur tersebut
"Apa? Tapi, bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Hermione
"Hm, aku mendapatkannya dari orang asing yang kutemui di Pub"
Tiba-tiba telur emas yang berada didekapan Hagrid mulai bergerak lagi dan sepertinya telur itu siap menetas. Keempat orang itu menatap benda yang dihadapan mereka dengan was-was, semakin keras guncangan pada telur, keempat orang itu akan mundur satu langkah kebelakang.
Tiba-tiba seluruh cangkang terkelupas bagaikan bom lalu tampaklah seekor naga kecil yang sama sekali tidak memperlihatkan bahwa hewan yang dihadapan mereka adalah salah satu hewan yang paling buas di dunia sihir.
"Wah, lihat dia. Manis sekali" ucap Hermione sambil berusaha menyentuh naga kecil itu tapi tangannya ditahan oleh Ron
"Jangan Hermione, itu bukan naga biasa. Naga itu adalah naga Norwegian Ridgeback. Saudaraku Charlie bekerja sebagai pengurus naga di Romania. Naga ini termasuk yang berbahaya karena…"
Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba naga kecil itu menyemburkan api yang cukup besar dan berhasil membakar setengah jenggot Hagrid.
"Yap. Walaupun masih bayi, naga ini bisa membakar satu rumah bahkan hutan" ucap Ron, menyelesaikan kalimatnya
"Hehehe, tenang saja. Dengan sedikit latihan, Norbert akan dapat mengendalikan kekuatannya" ucap Hagrid sambil memadamkan api di jenggotnya
"Norbert?" tanya Harry
"Hm, dia perlu nama bukan? Agar kita mudah memanggilnya" ucap Hagrid
Ketiga remaja itu hanya tersenyum dengan yang dikatakan oleh Hagrid
"Siapa itu?" ucap Hagrid sambil melihat kearah jendela
Ketiga remaja itu menolehkan kepalanya kearah yang ditunjukkan oleh Hagrid, mereka melihat seorang anak laki-laki berambut pirang platina berdiri di jendela dan segera kabur saat dia menyadari bahwa keempat orang yang dia amati sebelumnya menyadari keberadaannya.
"Malfoy" ucap ketiga remaja itu, serempak
"Oh, dear" ucap Hagrid pelan, ada firasat buruk atau lebih tepatnya sesuatu yang menyebalkan.
-o0o-
Draco dan Harry berjalan menyusuri hutan sambil membawa lentera dan Fang, anjing milik Hagrid. Draco tidak henti-hentinya mengomel, sedankan Harry hanya diam dan mendengar omelan itu dengan mimik bosan diwajahnya yang imut.
Terima kasih pada mulut besar Malfoy yang mengadu pada Prof. McGonagall sehingga sekarang, Harry dan teman-temannya + Malfoy terkena detensi, malam itu juga untuk mencari unicorn yang terluka didalam hutan terlarang dan Hagrid harus melepas naga kesayangannya untuk dikirim ke Romania.
"Tunggu saja sampai ayahku mendengar hal ini. Ini kan pekerjaan pelayan" ucap Draco
"Kupikir kau hanya takut Mafoy"
"Hah, takut? Tidak ada kata takut dalam kamus Malfoy, Potter" ucap Draco pada Harry dengan sinis
'Hm, Siapa ya yang pernah mengompol dicelana hanya karena lebah?'
"Shut up"
"Apa?"
'Shit' batin Draco
Srak… srak… srak…
Tiba-tiba, ada suara diantara semak-semak dan itu menarik perhatian keduanya. Suara itu terasa sangat dekat dan jelas.
"Kau dengar itu?" ucap Draco dengan nada suara agak ketakutan
"Mungkin hanya angin"
"Dengar Potter, sekalipun hanya suara angin. Jangan pernah menganggapnya remeh apalagi di hutan terlarang" Draco mulai berjalan kembali dan diikuti oleh Harry dan Fang
Draco dan Harry semakin memasuki hutan terlarang, keadaan yang gelap gulita dengan pencahayaan yang minim menambah suasana ketegangan di sekitar kedua anak laki-laki itu. Udara dingin berhembus perlahan, berhasil menembus mantel yang mereka kenakan
"Kenapa disini dingin sekali?" Harry mengeratkan mantel yang dia kenakan
"Potter, apa otakmu itu sudah membeku?" ucap Draco sambil menyeringai kearah Harry
"Apa maksudmu?"
"Maksudku Potter, jelas saja disini dingin. Pertama, ini malam hari kedua ini didalam hutan dan ketiga yang paling penting… ini. di. dalam. Hutan. Terlarang" Harry hanya menatap Draco tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Hentikan tampang bodohmu Potter" Draco tertawa dan meninggalkan Harry yang masih mematung
"Malfoy… AKU BENCI PADAMU… DASAR MAYAT HIDUP" teriak Harry kearah Draco, mendengar hal itu Draco berhenti dan membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati Harry
"Apa kau bilang? Aku mayat hidup?"
"Ya… kau itu mayat hidup. Lihat saja kulitmu yang pucat pasi"
"Lebih baik kulitku dibanding kulitmu yang berwarna kecoklatan seperti lumpur itu"
"Seperti lumpur? Hei, bahkan anak umur dua tahun pun tahu kalau kulitku tidak secoklat itu. DASAR DAGU RUNCING"
"MATA EMPAT"
"KAKEK-KAKEK"
"MATA LUMUT"
"OMPONG"
"OMPONG? DASAR RAMBUT IJUK"
"MULUT EMBER"
"KEPALA PITAK"
Keduanya tidak ada yang mau mengalah, ejekan-ejekan terus mengalir lancar keluar dari mulut mereka bagaikan sungai kecil yang mengalir lembut tanpa ada penghalang. Keduanya terlalu tenggelam dalam pertengkaran kecil itu tanpa sadar kalau mereka tidak sendiri.
Tiba-tiba Fang menggonggong dengan keras dan membuat Draco serta Harry mengalihkan perhatiannya kearah anjing besar itu.
"Fang, ada apa?" Tanya Harry, menghampiri Fang yang masih menggonggong setelah memberikan satu tatapan mematikan kearah Draco
Dihadapan mereka seseorang dengan jubah hitam yang menutupi seluruh bagian tubuhnya sedang meminum darah unicorn yang telah mati. Draco maupun Harry tidak ada yang berkutik, mereka terlalu shock dengan kejadian yang terjadi dihadapan mereka.
Tiba-tiba Harry merasakan sakit yang sangat perih, tepat pada lukanya. Sosok misterius itu merasakan keberadaan mereka dan berbalik melihat kearah Draco dan Harry. Darah unicorn segar masih menetes dikedua sudut bibirnya yang sekarang tersenyum mengerikan. Sosok itu bangkit dan berusaha menghampiri kedua anak laki-laki itu.
'LARI, jauhi mahluk itu'
Tanpa berpikir panjang, Draco segera menarik tangan Harry dan membawanya jauh dari sosok mengerikan itu. Mereka terus berlari, tidak tahu apakah arah yang mereka tuju benar atau tidak karena saat ini hanya satu yang ada dalam pikiran mereka yaitu menjauh dari sosok misterius itu.
"Malfoy… hah… hah… hah… bisakah kita berhenti sebentar?" ucap Harry terengah-engah
"Tid... " belum sampai menyelesaikan kalimatnya, Draco merasakan aura yang sangat jahat, mendekati mereka.
"AH…" Harry meringis kesakitan sambil memegang keningnya, rasanya perih bagaikan tertusuk paku.
"Ayo, kita tidak ada waktu untuk berhenti. Mahluk itu mulai mendekat" ucap Draco sambil menarik kembali tangan Harry.
Harry hanya mengikuti kemana Draco membawanya. Keningnya semakin sakit, Harry merasa tidak kuat lagi berlari dengan sakit yang dia rasakan, rasanya kepalanya mau meledak.
"AH!" Harry tersandung akar pohon, lututnya terluka. Draco segera menghampiri Harry
"Potter?"
"Aku tidak kuat lagi. Kau pergi lah duluan" ucap Harry pelan
"Apa? Dengar Potter aku memang seorang Slytherin tapi, aku bukan seorang pengecut sampai harus meninggalkanmu disini"
Harry yang mendengar hal itu, hanya terdiam, dia tidak tahu harus membalas apa. Tiba-tiba sakit yang dia rasakan semakin parah. Sambil memegang keningnya yang rasanya seperti terbakar, Harry mencoba bangkit.
"Mahluk itu mendekat" ucap Draco lirih, Harry menatapnya dengan bingung
'Draco mahluk itu mendekat. PERGI'
"Ayo cepat" Draco menarik paksa Harry yang belum sepenuhnya kembali kedunia nyata
"AH…" Teriak Harry
'Bagus sekali, kepalaku rasanya hampir mau meledak dan sekarang kakiku terluka' batin Harry sambil meringis kesakitan
"Kalau begini, kita harus sembunyi. Ayo"
Harry tidak merasakan kedua kakinya menapak di tanah ketika tiba-tiba saja Draco mengendongnya ala bridel style, Harry dapat merasakan pipinya memanas dan jantungnya yang berdegup kencang. Harry pun dapat mencium parfum yang dikenakan oleh Draco, parfum yang aromanya terasa familiar.
'Ada apa denganku? Apa karena dia bersikap baik padaku? Benar, pasti itu. Tidak ada seorang pun yang pernah bersikap baik padaku seperti ini. Bukannya aku mengatakan kalau Ron dan Hermione tidak baik, hanya saja... ini berbeda' Harry terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga lupa kalau nyawa mereka sekarang sedang terancam.
"Kita bisa sembunyi disini" suara Draco berhasil menyadarkan Harry
Saat ini kedua remaja itu sedang berada di gua kecil yang terbentuk dari akar pohon yang sangat besar. Draco menurunkan Harry dengan hati-hati lalu duduk dibelakang Harry sehingga saat Harry bersandar, punggungnya akan bersentuhan dengan dada Draco.
"Shh… dia mendekat" ucap Draco sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Harry. Harry yang merasakan hal itu hanya terkejut
'Sejak kapan tangan Malfoy di pinggangku?'
Sosok itu semakin mendekat kearah mereka, Draco atau pun Harry tidak dapat menyangkal detak jantung mereka berdegup dengan kencang, keringat dingin mengalir di pelipis. Sosok misterius itu melihat kearah kanan dan kirinya mencoba tuk melacak keberadaan Draco dan Harry.
Tiba-tiba rasa sakit yang sangat menyakitkan menyerang kepala Harry. 'Ah, kenapa ini? Rasanya bekas lukaku seperti terbakar' batin Harry sambil memegang keningnya
"AAAHHH…." Ringisan Harry membuat sosok itu menyadari keberadaan mereka dan sosok berjubah hitam itu mulai berjalan kearah mereka dengan seringai yang menyeramkan.
"Potter, aku bersumpah kalau kau mati lebih dulu dan bukan karena mahluk itu. Aku akan mengutukmu dan mengganggumu terus walau kau sudah berubah menjadi hantu" ucap Draco sambil terus melihat kearah sosok misterius yang mulai mendekat
'Hehehe, memangnya bisa? Ah, kepalaku pusing' Hal terakhir yang Harry ingat adalah Malfoy yang terus memanggil namanya dan setelah itu semuanya menjadi gelap.
-o0o-
Disebuah ruangan yang didominasi dengan warna putih, terbaring seorang anak laki-laki berambut hitam berantakan. Dalam ruangan itu dia hanya sendiri, berbaring di tempat tidur ukuran single, tidak ada orang lain bersamanya. Kelopak mata yang sebelumnya tertutup mulai bergerak dan secara perlahan terbuka, memperlihatkan emerald hijau yang sangat indah.
"Ugh…, dimana ini?"
Tercium aroma ramuan yang cukup kuat, bila ruangan itu tidak terang dan berwarna putih, dia pasti berpikir bahwa ruangan itu adalah kelas ramuan. Tiba-tiba pintu yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya terbuka dan disana berdirilah dua orang yang sangat dia kenali.
"Oh, Harry kau sudah sadar syukurlah" ucap Hermione sambil berjalan menuju dirinya lalu diikuti oleh Ron
"Bagaimana keadaanmu Harry? Lebih baik?" tanya mereka serempak
"Hermione, Ron. Aku merasa jauh lebih baik" ucap Harry sambil tersenyum
"Sigh... syukurlah. Kalau kau belum sadar juga hari ini, akan kupastikan Malfoy itu akan mendapat pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan" ucap Ron sambil meninju tangannya keatas
"Ron sudah berapa kali harus kujelaskan, Harry pingsan bukan karena Malfoy"
"Tapi dia ada di tempat kejadian"
"Ya ampun Ron, kau juga dengar kan apa yang Firenze katakan"
"Iya…, tapi bisa saja Malfoy mengerjai Harry lalu membuatnya pingsan"
Hermione memukul keningnya pelan, dia merasa percuma saja berdebat dengan Ron yang keras kepala.
"Ron yang dikatakan Hermione itu benar, Malfoy tidak membuatku pingsan" ucap Harry
"Kau dengarkan Ron?" ucap Hermione bersemangat seakan dia baru saja memenangkan sebuah lomba
"Aku tetap merasa Malfoy menyembunyikan sesuatu"
'Keras kepala' batin Harry dan Hermione
"Oh, bisa saja Malfoy telah merencanakan semua ini dengan tujuan untuk membunuh Harry"
"Oh, please. Itu adalah teori paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar" ucap Hermione bosan
"Hey, itu bisa saja mengingat bagaimana keluarga Malfoy"
"Memangnya kenapa dengan keluarga Malfoy?" tanya Harry dan Hermione bersamaan
"Keluarga Malfoy adalah keluarga pureblood paling tua dan memiliki sejarah paling gelap dibanding keluarga pureblood lainnya"
"Sigh…, hanya kerena keluarganya seperti itu bukan berarti Malfoy juga seperti itu" ucap Harry dan mendapat persetujuan dari Hermione
"Aduh, apa kalian tidak mengerti? Malfoy itu adalah keturunan Morgana Le Fay, penyihir hitam paling kuat sepanjang sejarah dunia sihir"
"Maksudmu Morgana Le Fay musuh bebuyutan Merlin? tapi, kupikir itu hanya dongeng" ucap Hermione
"Di dunia muggle, kisah king Arthur dan Merlin memang hanya dianggap sebagai dongeng tapi di dunia sihir kisah itu nyata. Ayahku pernah cerita katanya duu penyihir dan muggle hidup berdampingan tapi ada kelompok penyihir yang mengganggap kalau penyihir lebih baik dari pada muggle karena itu terjadi perang" ucap Ron
"Wow, aku tidak pernah tahu itu" ucap Harry
"lalu apa hubungan cerita ini dengan Morgana Le Fay ? jangan bilang dia diingat sebagai orang yang berjasa dalam memicu peperangan" ucap Harry, ketiganya tertawa
"Iya kau benar Harry, Morgana Le Fey adalah ketua dari kelompok tersebut. Oh, jangan lupa kan Parkinson dan Zabini. Mereka berdua juga keturunan dari tangan kanan Morgana Le Fay"
"Pantas saja mereka sangat dekat" ucap Hermione
"Setiap generasi Malfoy, Parkinson dan Zabini selalu menjadi aliansi"
"Tapi, kupikir semua keluarga pureblood adalah aliansi" ucap Hermione
"Hanya keluarga tertentu. Keluargaku contohnya, kami pureblood tapi tidak beraliansi dengan mereka itu karena keluargaku bukan keturunan orang-orang yang berpengaruh seperti Malfoy dan keluarga pureblood lainnya"
"Maksudmu kebanyakan keluarga pureblood hanya beraliansi… "
Harry tidak mendengar sisa percakapan antara Hermione dan Ron, Harry terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada perasaan tidak nyaman yang Harry rasakan, entah kenapa setelah mendengar cerita dari Ron dia merasa familiar dan… sedih? tapi Harry tidak tahu kenapa dan dia merasa kasihan pada Malfoy.
Harry benar-benar tidak nyaman akan hal ini dan dia sama sekali tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab yang membuatnya pusing.
"… rry? Harry? Hallo. Harry, back to earth" teriak Hermione
"Ah… ya?"
"Harry, ada apa? Kau baik-baik saja?" tanya Hermione khawatir
"Ah, iya. Aku baik-baik saja. Ada apa?"
"Kau terlihat tidak baik-baik saja" ucap Ron
"Hehehe, kepalaku hanya sedikit pusing" ucap Harry sambil tersenyum
"Apa perlu aku panggilkan madam Pomfrey?"
"Tidak Perlu. Oh iya, siapa Firenze?" ucap Harry mencoba mengalihkan pembicaraan
"Oh, Firenze adalah orang yang menyelamatkanmu" ucap Hermione
"Bukan itu saja, Firenze adalah sentaurus. Bisakah kau percaya itu? sentaurus hidup dalam hutan terlarang" ucap Ron bersemangat
"Wow…, aku tidak pernah melihat sentaurus sebelumnya. Kupukir sentaurus hanya ada dalam dongeng" ucap Harry
"Harry percayalah dongeng di dunia muggle adalah kenyataan di dunia sihir" ucap Hermione lalu ketiga murid tahun pertama itu tertawa lepas seakan-akan tidak ada masalah dihadapan mereka.
"Bisakah kalian ceritakan apa yang terjadi? Terakhir kali yang kuingat Malfoy berteriak memanggil namaku" ucap Harry menghentikan tawanya
"Saat itu kami mendengar kau berteriak kesakitan karena itulah Ron berpikir kalau Malfoy mencelakaimu lalu saat kami berlari kerahmu, tiba-tiba Firenze muncul dan menunjukkan jalan dan saat kami sampai kau sudah pingsan dengan sosok misterius berdiri dihadapanmu atau lebih tepatnya melayang dengan jubah hitam yang menutupi sekujur tubuhnya lalu saat dia mencoba mendekatimu dan Malfoy, Firenze segera berlari dan mengusirnya. Malfoy saat itu sibuk menguncangkan tubuhmu dia bahkan menamparmu…"
Secara refleks, Harry langsung memegang kedua pipinya
"Tenang saja, dia hanya memukulnya pelan. Seperti ini" ucap Hermione sambil mendemonstrasikan cara Malfoy memukul Harry
"Lalu?"
"Setelah itu, Hagrid memeriksa keadaanmu. Sedangkan aku dan Ron berbicara dengan Firenze, ya setidaknya itu membantu agar Ron tidak menghajar Malfoy karena sebuah kesalahpahaman dan teori konyolnya" ucap Hermione sambil melihat kearah Ron, Harry hanya tersenyum.
"Hey, teoriku beralasan" ucap Ron membela diri
"Bila Malfoy tidak segera menarik tanganku dan berlari untuk menjauhi mahluk itu, aku akan percaya dengan teorimu Ron" ucap Harry
"Hehehe, 2-0" ucap Hermione tersenyum bangga
Ron membuang muka, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang warnanya hampir serupa dengan rambutnya sendiri. Hermione dan Harry hanya tersenyum dengan reaksi yang diberikan oleh Ron.
"Ah, aku sampai lupa" Harry dan Ron melihat kearah Hermione
"Guys, kupikir kita harus memberitahukan Prof. Dumbledore secepatnya karena batu Philosopher dalam bahaya"
"Apa maksudmu Hermione?" tanya Harry dan Ron bersamaan
"Begini, pagi tadi aku ditugaskan oleh Prof. McGonagall untuk menyampaikan surat dari Charlie untuk Hagrid, kalian tahu kan masalah Norbert"
Harry dan Ron hanya mengganggukkan kepala, merasa iba dengan yang dialami oleh Hagrid. Harry masih ingat wajah sedih Hagrid kemarin malam. Walaupun Norbert dikirim ke Romania untuk berkumpul bersama kawanannya tapi Hagrid tetap saja sedih, padahal Hagrid baru saja bertemu. Tidak bisakah mengambilnya beberapa hari lagi? Ini semua karena mulut ember Malfoy.
"Nah, aku langsung memberikan surat itu pada Hagrid. Setelah membacanya, dia menangis karena dia tahu Norbert baik-baik saja. Pada saat itulah, aku menyadari satu hal"
Harry dan Ron tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran mereka akan hal yang dikatakan oleh Hermione
"Apa?"
"Apa kalian tidak merasa aneh? Saat Hagrid sangat menginginkan seekor naga, tiba-tiba ada orang asing yang memberikannya begitu saja, menurut kalian apa ada orang yang membawa telur naga kemana pun?"
"Benar juga, hal itu memang aneh. Hermione apa kau menanyakan hal ini pada Hagrid?" tanya Harry
"Hm, aku menanyakan siapa yang memberikannya. Menurutku, bukan kejutan lagi saat Hagrid mengatakan dia tidak melihat wajah orang itu karena orang itu menggunakan jubah dan tudung kepala yang menutupi seluruh tubuhnya. Tapi, aku yakin kalau orang itu adalah Prof. Snape"
Harry dan Ron menyetujui perkataan Hermione dengan mengganggukkan kepala dengan gerakan sama dan seirama.
"Setelah itu, aku bertanya apakah dia mengobrol dengan orang itu, Hagrid bilang iya. Orang asing itu bertanya hewan apa saja yang dia pelihara lalu Hagrid menceritakan tentang Fluffy lalu…"
"Ok, ini perasaanku saja atau cerita ini semakin menuju ke suatu hal yang berbau berita buruk" ucap Ron memotong perkataan Hermione
"Well, selamat Mr. Weasley anda baru saja memenangkan hadiah sebuah lakban hitam untuk memastikan anda tidak memotong perkataan orang lain" ucap Hermione sambil tersenyum
'Seram' batin Harry dan Ron
"Maaf. Silakan dilanjutkan" ucap Ron dengan senyum canggung
"Seperti yang dikatakan Ron, hal ini berbau berita buruk. Hagrid tidak saja menceritakan mengenai sejarahnya bersama Fluffy tapi dia juga menceritakan mengenai kelemahan Fluffy dan sekarang Prof. Snape akan mudah mendapatkan batu itu"
"APA?!" teriak Harry dan Ron
"Bisakah kalian tenang sedikit? Sekarang yang perlu kita lakukan adalah melaporkan hal ini pada Prof. Dumbledore agar beliau dapat memindahkan batu itu sebelum Prof. Snape mendapatkannya"
Ketiganya segera bersiap untuk menuju ruangan kepala sekolah. Tiba-tiba, pintu Hospital wing terbuka, madam Pomfrey muncul dan menghampiri tempat tidur Harry
"Ah, Mr. Potter kau sudah sadar rupanya. Apakah kau merasa jauh lebih baik?"
"Ya, aku merasa jauh lebih baik. Terima kasih madam" ucap Harry sopan
Madam Pomfrey hanya tersenyum pada Harry yang menurutnya akan menjadi salah satu calon pelanggan tetap Hospital wing
"Baiklah, aku akan memeriksamu. Bila keadaanmu sudah membaik aku akan melepaskanmu tapi kalau belum kau harus menginap disini sehari lagi"
"Maaf madam, tapi bisakah pemeriksaan dilakukan besok? Ada urusan penting yang harus saya urus" ucap Harry, melihat kearah Hermione dan Ron meminta bantuan
"Oh, urusan apa yang begitu penting sampai kau tidak peduli akan kesehatanmu sendiri? Mr. Potter kesehatan itu sangat penting karena itu berhubungan dengan nyawamu"
'Bagaimana aku masih memikirkan nyawaku sendiri? Saat nyawa banyak orang dipertaruhkan ?' batin Harry
"Hm, madam bagaimana kalau anda segera memeriksa Harry agar anda yakin kalau dia cukup sehat untuk melakukan 'urusannya' itu" ucap Hermione, menekankan kata urusan dalam kalimatnya
"Hm, ide bagus. Baiklah Mr. Potter berbaringlah dan buatlah dirimu senyaman mungkin"
Madam Pomfrey mengambil tongkatnya dan segera memeriksa tubuh Harry. Dari kepala sampai kaki, Harry merasakan sensasi aneh setiap tongkat yang ujungnya bercahaya milik madam Pomfrey melewati salah satu bagian tubuhnya. Rasanya seperti ada udara dingin, panas bahkan kesemuatan.
"Hm, kelihatannya kau sudah jauh lebih baik Mr. Potter. Baiklah, aku akan mengijinkanmu keluar hari ini"
Harry, Ron dan Hermione segera berlari menuju ruangan kepala sekolah tapi karena tidak tahu password untuk masuk, ketiga murid tahun pertama asrama Gryffindor ini mengubah tujuannya yaitu menemui Prof. McGonagall.
-o0o-
"Bagaimana ini? Prof, Dumbledore tidak ada dan Prof. McGonagall tidak mempercayai kita" ucap Ron Frustasi
Saat ini trio Gryffindor sedang berada di dekat danau hitam 'menikmati' pemandangan sore hari yang indah.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan? Kita tidak mungkin diam saja saat kita tahu dengan pasti bahwa batu itu dalam bahaya" ucap Hermione
"Kita pergi ke tempat penyimpanan, mencegah Prof. Snape mengambil batu itu. Malam ini" ucap Harry sambil melihat kearah kedua sahabatnya.
"Benar, kita pergi dan mencegah manusia kalelawar itu mendapatkan apa yang dia mau" ucap Ron bersemangat
"Itu baru semangat" ucap Hermione
Ketiganya mulai membuat rencana untuk malam ini, dari keluar asrama tengah malam lalu menggunakan jubah penghilang menuju lantai tiga dan berusaha agar Fluffy tidak menyadari keberadaan mereka, melewati berbagai jebakan lalu setelah itu mencari Prof. Snape dan merebut batu darinya (kalau Prof. Snape sudah mendapat batu itu) dan menyerahkannya pada Prof. Dumbledore. Rencana brilliant telah tercipta, tinggal merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
-o0o-
Harry berlari menghampiri Ron yang pingsan disusul Hermione "Hermione, bawa Ron keluar dari sini lalu laporkan hal ini pada Prof. Dumbledore. Aku harus menyelesaikan semua ini"
"Kau akan baik-baik saja, Harry. Kau seorang penyihir hebat" ucap Hermione pada Harry
"Tidak sehebat dirimu"
"Aku? Buku-buku dan kepintaran. Ada hal-hal yang lebih penting yaitu persahabatan dan keberanian. Harry berhati-hatilah"
Harry mengganggukkan kepalanya lalu Hermione memapah Ron menuju pintu keluar. Setelah mereka menghilang ditikungan, Harry membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan kearah lorong yang berada tepat dihadapannya.
Entah Harry harus terkejut atau tidak, tapi yang saat ini berada dihadapannya bukanlah seseorang yang dia duga selama ini.
Prof. Quirell berdiri membelakangi Harry, dihadapannya Mirror of Erised berdiri kokoh.
Tiba-tiba Harry merasa lukannya seperti terbakar, tapi tidak sesakit seperti saat di hutan terlarang.
"Kau, Prof. Quirell? Tidak, tidak mungkin. Prof. Snape dia lah…" ucap Harry terkejut
"Wajar saja kau mencurigai dia. Menurutmu kau akan mencurigai si gagap yang malang Prof. Quirell?"
"Tapi saat pertandingan Quidditch Prof. Snape mencoba membunuhku" Harry berjalan mendekati Prof. Quirell
"Tidak bocah, aku lah yang berusaha membunuhmu!" Harry sangat terkejut dengan yang dikatakan oleh prof. Quirell
"Percayalah, bila saja jubah Snape tidak terbakar sehingga aku kehilangan konsentrasi. Aku pasti berhasil saat itu. Walaupun Snape mencoba merapalkan mantra pematahnya" lanjut Prof. Quirell dengan nada marah
"Prof. Snape mencoba menyelamatkanku?"
"Sudah kuduga kau akan membahayakanku, terutama sejak malam halloween itu" Harry tidak dapat menyembunyikan kegugupannya
'Apa yang dia maksud adalah kejadian di toilet itu? Tapi, tidak mungkin. Kami langsung kabur saat itu' batin Harry
"Hm, walaupun kau dan teman-temanmu saat itu sudah kabur tapi aku tahu itu adalah perbuatanmu. Kalau saja si sok ikut campur itu tidak datang dan membantumu, kau pasti sudah dikeluarkan"
"Siapa?"
"Aku tidak tahu tapi dia dan temannya jauh lebih pintar menyembunyikan aura mereka dibandingkan kau dan teman-temanmu" Harry mengingat kembali mengenai aroma parfum Malfoy yang terasa sangat familiar.
'Mungkinkah? Tapi…' Harry merasakan gejolak di hatinya
"Tunggu, kalau begitu kau lah yang membiarkan troll itu masuk"
"Bagus sekali Potter, kau benar. Snape sayangnya tidak bisa dibodohi. Selagi orang-orang berlarian menuju bawah tanah, dia pergi ke lantai 3 mendahului aku. Tentu saja, dia tidak pernah mempercayai aku lagi" Kembali Harry merasakan lukanya seperti terbakar
"Dia jarang membiarkan aku seorang diri tapi dia tidak mengerti, aku tidak pernah sendiri. Tidak pernah" Prof. Quirell melihat kembali kearah Mirror of Erised
"Di cermin ini, aku melihat diriku memegang batu philosopher tapi, bagaimana caranya meraih batu itu?" ucap Prof. Quirell marah
Tiba-tiba ada suara orang berbicara tapi bukan suara Prof. Quirell. Suaranya serak dan terdengar sangat mengerikan.
"Pakai anak itu" Harry melihat ke seluruh ruangan tapi tidak menemukan siapa pun hanya dia dan Prof. Quirell saja yang ada dalam ruangan itu
'Suara siapa itu? Akhhh… perih' Harry memegang kembali lukanya yang terasa lebih sakit dibanding sebelumnya
"KEMARI, POTTER! SEKARANG!" teriak Prof. Quirell lalu Harry berjalan mendekatinya
Harry bingung mengapa dia mendekati seseorang yang berusaha untuk membunuhnya?
'Aku yakin suatu saat nanti, rasa penasaran ini akan membunuhku' batin Harry, rasa penasaran yang besar telah mengalahkan ketakutannya akan kematian
Harry berdiri disamping Prof. Quirell lalu melihat kearah Mirror of Erised dan betapa terkejutnya dia saat melihat pantulan bayangannya mengeluarkan sebuah batu dari dalam kantung celananya. Dengan hati-hati, Harry meraba kantung celananya dan dia pun yakin kalau batu itu ada padanya.
"Katakan padaku, apa yang kau lihat?" tanya Prof. Quirell
"Aku melihat aku bersalaman dengan Prof. Dumbledore, memenangkan House cup"
"Dia berdusta" suara itu kembali terdengar
"Katakan yang sebenarnya! Apa yang kau lihat?" bentak prof. Quirell
"Biarkan aku berbicara dengannya"
"Master, kau belum cukup kuat" suara prof. Quirell terdengar ketakutan dan gugup, berbeda sekali saat dia berbicara dengan Harry.
"Aku cukup kuat untuk ini" Harry merasakan firasat buruk
Secara perlahan Harry berjalan mundur menuju pintu keluar, matanya tidak lepas dari Prof. Quirell. Sedangkan, Prof. Quirell sibuk berbicara dengan suara yang entah datang dari mana. Saat akan sampai di tangga yang akan membawanya menuju pintu keluar, Prof. Quirell tiba-tiba melihat kearah Harry sambil membuka sorbannya.
Betapa terkejutnya Harry saat tiba-tiba muncul sebuah wajah dibelakang kepala Prof. Quirell
"Harry Potter, kita bertemu lagi" ucap wajah itu sambil menyeringai dan saat itulah Harry tahu siapa itu
"Voldemort" ucap Harry tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Ya, kau lihat aku sudah jadi apa? Kau lihat apa yang harus kulakukan untuk bertahan hidup? Hidup dari mahluk lain, menjadi parasit rendahan. Darah unicorn mempertahankan hidupku tapi tidak memberiku tubuh. Tapi, ada sesuatu yang dapat memberi hal itu. Sesuatu yang saat ini ada di kantungmu"
Harry tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya saat mendengar perkataan Voldemort, dengan sigap Harry segera membalikkan tubuhnya dan berlari menuju tangga.
"HENTIKAN DIA!"
Prof. Quirell menjentikkan jarinya dan ruangan itu pun dikelilingi oleh api sehingga Harry tidak bisa keluar.
"Jangan berbuat bodoh, serahkan saja batu itu" ucap Prof. Quirell
"Serahkan batu itu Potter dan kau akan tetap hidup"
"TIDAK AKAN!"
"Kau memiliki keberanian seperti orang tuamu. Katakan padaku Potter, Apa kau ingin bertemu kedua orang tuamu lagi?" Harry melihat kearah Mirror of Erised, disana dia melihat orang tuanya tersenyum
"Kita dapat menghidupkan mereka kembali" ucap Voldemort sambil menyeringai, Harry mengambil batu philosopher dari kantungnya
"Ya…, itu dia. Serahkan batu itu padaku lalu kita hidupkan kembali orang tuamu. Bersama kita dapat melakukan hal-hal yang luar biasa"
"KAU PEMBOHONG!" teriak Harry
"BUNUH DIA!"
Prof. Quirell melayang kearah Harry lalu mencekiknya sedangkan batu philosopher jatuh bergelinding kebawah tangga.
Dengan susah payah Harry mencoba meraih tongkatnya dan saat dia berhasil mendapatkannya, dengan sigap dia merapalkan mantra
"E… ver… te S… ta… tum" dengan susah payah Harry mengucapkan mantra lalu tubuh Prof. Quirell terpental keatas dan menabrak dinding.
"Hah... hah... hah… uhuk… uhuk…" Harry merasakan leher dan dadanya terasa sangat sakit, nafasnya terengah-engah mencoba menghirup banyak oksigen
"Tidak kusangka disaat seperti itu pikiranmu masih jernih, orang biasa pasti sudah ketakutan dan pikirannya kacau. Bila saja kau mau bergabung denganku, aku akan menjadikanmu tangan kananku"
Setelah nafasnya kembali teratur, Harry berdiri dengan tongkat yang tergenggam erat lalu dia berlari kerah Prof. Quirell dan merapalkan mantra,
"Ventus" terima kasih pada pengalamannya saat bertarung dengan Malfoy, Harry jadi mengetahui berbagai mantra baru. Sekali lagi Prof Quirell terdorong kebelakang saat mencoba bangkit
"Fli…"
"Expelliarmus" belum sempat Harry menyelesaikan mantranya, Prof. Quirell langsung melucuti tongkat Harry
"Hahaha, sekarang kita lihat apa yang akan dilakukan oleh seorang Harry Potter?"
"Quirell, pinjamkan aku tubuhmu"
"Ah, dengan senang hati My Lord" awalnya Harry melihat keraguan di mata Prof. Quirell tapi setelah itu berubah menjadi perasaan pasrah dan ketakutan.
Harry tidak tahu lagi perasaan apa yang dia rasakan saat ini, entah terkejut, ketakutan, khawatir atau gugup semuanya telah tercampur aduk menjadi satu. Dihadapannya, terlihat wajah Prof. Quirell berubah menjadi wajah Voldemort dan tubuh prof. Quirell yang sebelumnya pendek dan kurus kini berubah, tubuhnya menjadi lebih tinggi.
"Kali ini aku pasti akan membunuhmu Potter" saat itulah Harry tahu kalau sosok yang berada dihadapannya bukan lagi Prof. Quirell
'Tongkatku ada di dekatnya. Bagaimana aku bisa mengambilnya?'
"Potter serahkan batu itu padaku"
"Untuk apa? Bukankah kau sudah memiliki tubuh?"
"Hahaha, benar tapi tubuh ini hanya sementara dan aku menginginkan tubuh yang abadi. Jadi, serahkan batu itu sekarang juga"
"DALAM MIMPIMU!" teriak Harry
"Jadi kau mau menghalangiku? Kau bahkan tidak memiliki tongkat" Voldemort berjalan mendekatI Harry dengan wajah menyeringai penuh kemenangan
"11 tahun yang lalu, aku mungkin tidak berhasil membunuhmu tapi kali ini akan kupastikan bahwa aku adalah orang terakhir yang mendengar teriakan kesakitan darimu"
Harry melihat kearah Mirror of Erised dan melihat bayangan orang tuanya, 'Ayah, Ibu. Lindungi aku'
Tiba-tiba saja, Harry merasa sekujur tubuhnya seperti terbakar, panas dan perih.
"AAAKKKHHH… ! PANASSSS… !"
"Hahaha, kalau aku tidak dapat membunuhmu dengan mantra tak termaafkan, mungkin dengan cara ini bisa"
Harry tidak hanya merasa sakit disekujur tubuhnya tapi juga Harry mendapati dirinya melayang bagaikan hantu yang berkeliaran di Hogwarts
"Serahkan batu itu sekarang juga atau aku akan menjatuhkan tubuhmu"
"KENAPA TIDAK KAU BUNUH SAJA AKU SEKARANG?"
"Oh, itu tidak akan seru. Mengingat apa yang sudah kau lakukan padaku. Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, Hahaha…"
"KAU IBLIS"
"Hahaha…, terserah kau mau menyebutku apa Potter. Lebih baik kau simpan tenagamu dan nikmatilah rasa sakit itu tapi membosankan juga bila harus membunuhmu tanpa perlawanan sedikit pun"
"AAAKKKHHH… !"
"Hahaha… permainan belum selesai Potter, masih ada mantra kutukan lain yang akan kugunakan padamu. Kutukan ini adalah salah satu kutukan kuno yang terlupakan. Sekali seseorang terkena kutukan ini, tubuhnya akan terasa seperti terbakar dan… ini bagian yang aku suka, kutukan ini dapat membuatku menghisap sihirmu dan kau akan mati. Tapi, harga yang harus dibayar sangatlah mahal tapi itu sebanding bila dapat menyingkirkan dirimu dan merebut batu itu sebagai bonusnya"
"KANZASCO… IVANOSCA" setelah Voldemort mengucapkan mantra, berbagai lambang aneh mengitari tubuh Harry.
«҉¤ ø βερικαγσιριριτυμαδακυδαγακαγκυβερικαγτυβυφκυø ¤ ҉»
"AAAAKKKKKKHHHHHHHH… !"
Simbol-simbol itu terus mengitari tubuh Harry dan tubuhnya terasa seperti terbelah, rasa sakit yang dirasakanpun lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya. Simbol-simbol aneh yang sebelumnya mengitari tubuhnya dengan gerakan pelan kini bergerak dengan liar dan saat itulah ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhnya, sebuah cahaya berwarna putih bergerak keluar dari mulutnya.
"Ya…, itu dia. Come to papa" ucap Voldemort dengan seringainya yang mengerikan
Harry merasakan tubuhnya kejang-kejang dan cahaya putih itu semakin lama semakin besar dan Harry merasakan tubuhnya semakin melemah. Dengan susah payah Harry meraih kalung pemberian orang tuanya
'Ayah, Ibu. Tunggu aku' batin Harry pasrah menggenggam erat kalung kesayangannya
Tanpa Harry sadari kalung itu mulai bercahaya mengeluarkan cahaya berwarna hijau dan semakin lama cahaya itu makin terang
"Apa itu?" cahaya hijau itu menyelubungi seluruh tubuh Harry dan tiba-tiba terjadi ledakan besar
DDDUUUAAARRR… !
Voldemort berlindung dibelakang salah satu tiang yang berada dalam ruangan itu. Setelah cahaya hijau itu menghilang, Voldemort pun keluar dari tempat berlindungnya. Setengah dari ruangan itu hancur bahkan Mirror of Erised pun kini tidak berbentuk lagi.
"Apa dia sengaja meledakkan dirinya sendiri? Bodoh, yang penting sekarang dia sudah mati. Ah, dimana batu itu? Jangan sampai batu itu juga hancur bersamanya" saat Voldemort berjalan kearah barat, tempat Harry sebelumnya.
Voldemort tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, disana terbaring Harry dengan nafas terengah-engah, tubuhnya utuh. Seakan-akan ledakan besar itu sama sekali tidak terjadi, padahal ledakan itu berasal dari Harry
"Sihir macam apa ini?"
"Hah… hah… hah… uhuk... uhuk…" Harry mencoba bangkit, sekujur tubuhnya terasa sangat sakit dan dia merasa sangat lelah
'Apa yang terjadi?' batin Harry, dia menatap Voldemort yang berdiri tidak jauh di depannya. Terlihat Voldemort sangat marah, matanya menatap tajam Harry dan dia mengepal tangannya kuat hingga jari-jarinya berwarna putih pucat.
"MATI KAU…" Vodemort melayang kearah Harry dan mencekiknya kuat bahkan tubuh Harry terangkat keatas
"Akh… " Harry merasa tubuhnya sangat lemah, mengangkat tangannya pun dia tidak mampu
'Mungkin kali ini aku akan benar-benar menyusul kedua orang tuaku'
"Aguamenti" tiba-tiba seseorang merapalkan mantra itu dan jet air yang sangat besar menembus tembok api lalu menghantam Voldemort. Voldemort terpental jauh dan menjatuhkan tubuh Harry.
Saat Harry hampir kehilangan kesadarannya, tiba-tiba tubuhnya terjatuh dan dia tidak lagi merasakan cekikan dari Voldemort. Saat Harry membuka matanya, dia melihat tubuh Voldemort telah terpental jauh darinya dan tidak hanya itu, dia melihat sosok yang menggunakan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya. Harry tidak dapat melihat wajah dari sosok misterius itu karena dia menggunakan tudung dan topeng
"Hah… hah… hah…, siapa kamu?"
"Yang jelas aku bukan malaikat mautmu" ucap sosok misterius itu
"KURANG AJAR, BERANI-BERANINYA KAU" teriak Voldemort
"Apa kau masih masih kuat?"
"Hah… hah… hah…, iya masih" ucap Harry sambil berusaha bangkit
"Bersiap lah"
Voldemort meraih tongkat Prof. Quirell dan segera mengucapkan mantra,
"Avada Kedavra" Sosok misterius itu langsung melompat kearah Harry dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng.
Harry kaget ketika sosok misterius itu tiba-tiba ada dihadapanya, baru kali ini ada yang siap melindungi Harry dengan taruhan nyawanya sendiri dan juga dia tidak mengerti dengan perasaannya, sosok yang berada dihadapannya yang baru saja dia temui ini, entah kenapa sangat familiar.
Mantra mematikan itu makin dekat dan saat akan menghantam keduanya, tiba-tiba cahaya hijau muncul dan menciptakan sebuah perisai yang menyelubungi keduanya sehingga mantra itu terpental dan menghantam tiang hingga hancur.
"APA?!"
"Kita masih hidup?" tanya Harry bingung
"Kerja bagus, sampai disini biar aku yang membereskannya" lalu sosok misterius itu berdiri, tongkatnya tergenggam erat dan siap melancarkan serangan.
Kali ini kemarahan Voldemort tidak dapat ditahan lagi, cukup Potter yang membuatnya kerepotan sekarang bertambah satu lagi orang yang ikut campur dan membuatnya harus menguras tenaga.
"Hey pak tua, lebih baik kau menyerah saja. Cepat atau lambat kau akan tetap mati karena tubuhmu itu tidak akan bertahan lama" ucap sosok itu dengan penuh percaya diri
"KAU… BERANI-BERANINYA KAU MENGHINAKU. AKU ADALAH DARK LORD"
"Jangan membuatku tertawa, kau tidak pantas untuk itu. kegelapan yang sejati bukanlah seperti yang kau kira. Apa kau pikir hanya karena kau mengetahui semua sihir hitam dan membuat kekacauan dimana-mana, kau bisa memanggil dirimu Dark Lord? Pikiranmu benar-benar sempit"
"KURANG AJAR… ! EXPULSO"
"Protego" dengan mudahnya sosok itu menangkal serangan Voldemort lalu pertarungan mantra pun tidak terelakkan. Keduanya tidak ada yang mau mengalah, ruangan itu semakin hancur oleh pertarungan keduanya.
"Hah… hah… hah…, apa kau mulai lelah pak tua?"
"Katakan itu pada dirimu sendiri" Voldemort lalu memutar-mutar tongkatnya
"Kaminsill… kazicasca… nahmeraso… jalaincarammssss…."
"I… itu?"
"Kau cukup pintar bila mengetahui mantra ini" ucap Voldemort sambil menyeringai
"Ini sama saja bunuh diri, kau akan menghancurkan tubuh itu"
"Seperti yang kau bilang, tubuh ini tidak akan bertahan lama"
"Tapi kau akan membunuh pemilik aslinya"
"Aku tahu"
"Kau tahu? Tapi kau tetap ingin melakukannya?"
"Aku tidak peduli berapa nyawa yang harus dikorbankan yang penting tujuanku tercapai"
"Kau adalah mahluk paling rendah yang pernah aku temui"
"HA… HA… HA…" Voldemort terus memutar tongkatnya. Tiba-tiba di langit-langit ruangan itu muncul awan hitam yang berputar mengikuti gerakan tongkat Voldemort
"Kali ini akan kupastikan kalian berdua mati ditanganku"
"Hey, Potter. Bisakah kau membuat perisai itu sekali lagi?"
"Aku tidak tahu, perisai itu tiba-tiba saja muncul"
"Apa yang kau pikirkan sebelum perisai itu muncul?"
"Aku berpikir, aku tidak ingin kau terbunuh karena melindungiku" Sosok itu mengalihkan pandangannya dari Voldemort dan melihat kearah Harry. Tidak ada kebohongan dalam tatapan mata hijau indah itu, hanya kejujuran dan kepolosan seorang anak 11 tahun.
"Kalau begitu, bisakah kau memikirkannya sekali lagi?" ucap sosok itu sambil tersenyum
"Akanku coba" sekali lagi jantung Harry berdetak dengan cepat
Awan hitam yang diciptakan oleh Voldemort semakin besar dan muncul petir serta kilat. Suasana saat ini benar-benar seperti badai besar yang akan datang, kelam dan menegangkan.
"Aku akan menghitung sampai tiga dan kau segera ciptakan perisai itu lalu kita serang pak tua itu. Mengerti?" Harry mengganggukkan kepalanya.
"1…"
"2…" sosok itu menggenggam erat tongkatnya begitu pun dengan Harry dia menggenggam erat kalungnya
"Kalian…, PERGILAH KE NERAKA" Voldemort mengarahkan tongkatnya kearah Harry dan sosok misterius itu dan awan hitam itu mengarah ke mereka
"3… SEKARANG" sosok itu berlari kearah awan dengan Harry mengikutinya dari belakang. Saat mereka berdua hampir terkena awan mengerikan itu, perisai berwarna hijau terang kembali muncul tapi kali ini perisainya jauh lebih besar dan tebal.
Dapat Harry lihat awan hitam itu mengeluarkan petir dan kilat yang terus saja menyambar perisai mereka tapi tidak berhasil menembusnya dan awan itu masih menyelimuti keduanya sehingga Harry tidak tahu apa yang terjadi.
"Jangan panik" ucap sosok itu
Entah mengapa Harry sangat mempercayai sosok misterius ini, padahal dia tidak tahu apakah sosok itu kawan atau lawan, bisa saja sosok itu juga menginginkan batu philosopher.
"HAHAHA… percuma saja kalian melawan, sekuat apapun pelindung yang kalian ciprakan awan itu akan melelehkan tubuh kalian sampai ketulang hingga tidak ada lagi yang tersisa"
"Pak tua itu tidak tahu kalau kita masih hidup. Ayo kita berikan kejutan padanya" Sosok itu kembali berlari dan Harry mengikutinya.
"HAHAHA…" Voldemort terus tertawa sehingga dia tidak sadar bila Harry dan sosok itu telah keluar dari kepulan awan dan berlari kearahnya. Sosok misterius itu tanpa membuang waktu segera mengarahkan tongkatnya pada Voldemort,
"AVADA KEDAVRA" Tubuh Voldemort terpental kebelakang tapi dia tidak mati, dengan gontai Voldemort berdiri.
"Ayo, kita pergi dari sini. Dia akan musnah dengan sendirinya"
Harry pun mengikuti sosok itu berlari menuju pintu keluar tapi tanpa keduanya sadari Voldemort terbang kearah mereka dan Harry merasakan lukanya kembali perih, saat itulah Harry melihat ke belakang dan Voldemort mau menyerang sosok itu. Harry pun segera berlari kearah Voldemort dan dia memegang kedua tangannya. Hal aneh pun terjadi, tangan itu terbakar dan berubah menjadi debu.
"AAAKKKKHHH…! SIHIR APA INI?!" Harry melihat kearah Voldemort yang masih histeris
"Sentuh dia lagi" Harry pun berlari kearah Voldemort dan menempelkan kedua tangannya pada wajah monster itu dan saat itu lah tubuh Voldemort terbakar, api hijau menyelimuti tubuhnya dan mengubah tubuh itu menjadi abu, bahkan tulang dan pakaian tidak ada yang tersisa hanya ada abu hitam.
"Hah… hah… hah…, apa itu?"
"Efek dari penggunaan mantra terkutuk. Dia dua kali menggunakan mantra kuno yang tidak boleh digunakan. Dampak mantra itu sama-sama merugikan kedua belah pihak dan kau Potter, kau memiliki kemampuan untuk mempercepatnya. Ayo kita keluar dari sini"
Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin Harry tanyakan tapi rasa lelah dan sakit yang telah menguasai tubuhnya membuatnya mengurungkan niat itu. Sekali lagi keduanya tidak menyadari kalau Voldemort berubah menjadi gumpalan asap hitam. Kali ini sosok misterius itu yang menyadarinya, dia menoleh kearah belakang dan siap untuk menyerang tapi terlambat, Voldemort terbang kearah Harry dan menembus tubuhnya.
"AAAKKKKKHHHHH….!"
"POTTER!" sosok itu berteriak dan berlari kearah Harry
Harry merasakan sakit yang luar biasa, hal terakhir yang dia ingat adalah sosok itu terus memanggil namanya dan tangannya yang terus mengguncang tubuhnya dan saat Harry hampir kehilangan kesadaran, samar-samar dia melihat rambut pirang platina.
'Déjà vu'
Setelah itu semuanya menjadi gelap.
-o0o-
Harry mengerjap-ngerjapkan matanya lalu meraih kacamata yang berada di atas meja disamping tempat tidurnya,
'Hospital wing. Sigh…, kelihatannya aku akan jadi langganan tempat ini'
Harry bangkit dari tempat tidur dan betapa terkejutnya dia saat melihat berbagai makanan ringan disekitar tempat tidurnya dengan kartu yang bertuliskan 'Semoga Lekas Sembuh'
Harry sangat senang akan hal itu dan tiba-tiba, pintu Hospital wing terbuka dan kepala sekolah Hogwarts, Prof. Dumbledore masuk dan menghampiri Harry
"Selamat sore, Harry" ucapnya ramah, Harry hanya tersenyum sebagai balasan, Prof. Dumbledore melihat berbagai makanan ringan yang berada di tempat tidur Harry
"Hadiah dari fans?" tanya Prof. Dumbledore
"Fans?"
"Apa yang terjadi di ruangan itu antara kau dan Prof. Quirell adalah suatu rahasia umum artinya wajar saja jika semua di sekolah ini tahu"
Harry hanya tersenyum mendengar perkataan Prof. Dumbledore lalu Harry teringat akan sosok misterius itu,
"Profesor bagaimana keadaan orang itu?"
"Siapa? Prof. Quirell? Kupikir kau yang lebih tahu Harry"
"Bukan dia tapi orang yang menggunakan jubah hitam dan topeng, dia membantuku"
"Harry, siapa pun yang kau maksud itu kami tidak melihatnya mungkin dia langsung pergi saat dia mendengar kami datang tapi siapa pun dia, kita tahu satu hal bahwa dia bukanlah musuh"
"Iya, anda benar profesor" ucap Harry sambil tersenyum
"Ah, nampaknya temanmu Ronald telah membantumu membuka coklat kodok"
"Ron ada disini? Dia baik-baik saja? Bagaimana dengan Hermione?" pertanyaan beruntun yang dilontarkan oleh Harry membuat Prof. Dumbledore tersenyum
"Baik, mereka berdua baik-baik saja" ucap Prof. Dumbledore tenang, sekali lagi Harry tersenyum mendengar jawaban dari Prof. Dumbledore
"Ah, lalu bagaimana dengan batu itu?"
"Batu itu sudah dihancurkan. Kawanku Nicholas dan aku telah merundingkannya dan kami setuju untuk kebaikan semua orang"
"Tapi kalau begitu, Mr. Flamel akan meninggal bukan?"
"Dia punya cukup ramuan Elixir, cukup waktu untuk membereskan semua urusannya"
"Lalu bagaimana batu itu ada padaku, profesor?"
"Hanya seseorang yang ingin temukan batu itu tapi tidak menggunakannya yang bisa memperolehnya. Itu adalah salah satu ideku yang cukup brilliant" ucap Prof. Dumbledore sambil tersenyum
"Apakah itu berarti dengan hilangnya batu itu, Voldemort tidak akan kembali?"
"Aku khawatir akan ada cara lain yang bisa dilakukannya untuk kembali. Harry aku tahu kalau kau mengalami hal yang mengerikan, kehancuran tubuh Prof. Quirell pun karena Voldemort menggunakan mantra kutukan yang sangat berbahaya tapi, apa kau tahu mengapa kau dapat mempercepat efek kutukan itu?" Harry menggelengkan kepalanya karena memang dia tidak tahu kenapa dia dapat melakukan hal itu.
"Orang tuamu menciptakan sebuah mantra pelindung dan kasih yang mereka berikan membuat mantra itu menjadi lebih kuat. Salah bila kau berpikir kalau orang tuamu tidak ada bersamamu karena pada kenyataanya orang tuamu selalu ada didekatmu, ada dalam hatimu"
Harry tersenyum mendengar perkataan Prof. Dumbledore, hatinya terasa hangat, ringan dan bahagia diwaktu bersamaan
"Terima kasih, profesor"
"Beristirahatlah. Ah, Poppy bilang besok kau sudah bisa keluar Harry, sampai jumpa"
"Sampai jumpa profesor"
Prof. Dumbledore pun keluar dari Hospital wing dan Harry kembali berbaring, dia meraih kalung kesayangannya dan membuka kalung itu, disana foto kedua orang tuanya tersenyum bahagia.
"Ayah, Ibu. Terima kasih" Harry mencium foto itu dan menutupnya kembali
Saat Harry ingin melanjutkan tidurnya, tiba-iba datang burung hantu dan langsung mendarat di tempat tidurnya.
"Hm? Siapa yang mengirimkan surat?" Harry lalu meraih burung itu dan mengambil surat yang terikat dikakinya.
"Ini burung hantu yang bagus"
Setelah mendapatkan suratnya, Harry segera membuka segel surat itu dan langsung membacanya…
"MALFOY BODOH…" teriak Harry sambil meremas-remas surat yang baru dibacanya itu
"Aku tidak tahu masalahmu dengannya Harry tapi itu pasti hal yang menyebalkan" ucap Hermione, Ron mengikutinya dari belakang
"Hermione, Ron"
"Hello Harry, merasa lebih baik?" tanya Ron
Harry menggangukkan kepalanya, "Untung saja kalian datang, kalau tidak aku pasti sudah pergi ke asrama Slytherin dan mencekik si rambut ubanan itu"
"Wah, kalau begitu kita tadi seharusnya tidak datang Hermione" ucap Ron sambil melihat kearah Hermione yang membalasnya dengan tatapan tajam
"Sigh…, apa kalian mau mendapat detensi lagi?" ucap Hermione
"Tapi dia menyebalkan" ucap Harry dan Ron serempak
"Walaupun dia menyebalkan tapi kalian tidak boleh mencari masalah duluan. Biarkan saja dia, tidak perlu kita pedulikan. Memangnya apa yang membuatmu tiba-tiba kesal pada Malfoy?" tanya Hermione pada Harry
Lalu Harry menyerahkan surat yang baru saja dibacanya yang bentuknya sudah tidak karuan. Secara perlahan Hermione membacanya. Tidak selang berapa lama, Hermione langsung mengeluarkan tongkatnya.
"Ayo kita bungkap mulut kasarnya itu untuk selamanya" ucap Hermione sambil menyeringai
'Seram' batin Harry dan Ron
"Ah, tidak usah Hermione. Aku tidak terlalu peduli kok" ucap Harry sambil tertawa yang dipaksakan
"Kau yakin? Setidaknya kita harus menegurnya"
'Aku yakin Hermione akan benar-benar membunuh Malfoy' batin Harry
"Memangnya apa yang ditulis Malfoy?" tanya Ron, dia pun meraih surat yang dipegang Hermione dan mulai membacanya.
"Untuk Potter si kulit lumpur. Apa? Beraninya dia mengataimu seperti itu" lalu dia melanjutkan membaca surat yang menurutnya akan sangat menyebalkan
"Jangan pikir karena kau membasmi seorang Death Eater, kau bisa bermalas-malasan. Aku tahu kau akan keluar dari hospital wing besok. Jadi, jangan pernah kabur dari tanggung jawab dan membuatku mengerjakan seluruh detensi. Ingat! terakhir kali detensi, aku lah yang paling bekerja keras. Detensi minggu depan adalah bekerja di Perpustakaan, bagian yang paling besar dan banyak, kau lah yang membersihkannya sebagai ganti minggu lalu. Awas saja kalau detensi minggu depan menghabiskan waktu berjam-jam seperti waktu yang lalu, aku akan pastikan kau tidak akan bisa melihat dengan kacamata konyolmu. Camkan itu di kepala pitakmu. Dari Draco Malfoy, Prince of Slytherin"
Ron tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi surat yang menurutnya super duper menyebalkan
"Wow… aku ingin sekali menampar mulut pedasnya ini" Ron meremas-remas surat itu penuh kebencian
"Sudah… sudah… kita hanya buang-buang tenaga saja kalau marah-marah pada surat ini" ucap Harry
"Sigh… kalau begitu kami kembali dulu ke asrama. Istirahatlah, sampai jumpa Harry"
"Sampai jumpa Harry"
Hermione dan Ron berjalan menuju pintu keluar setelah memeluknya. Setelah Ron menutup pintu Hospital wing, Harry menemukan dirinya sekarang sendiri di ruangan putih dan besar itu. Harry membaringkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya dibelakang kepala.
"Siapa sosok misterius itu? Kenapa rasanya aku pernah bertemu dengannya? Dia punya rambut pirang platina yang mirip dengan rambut Malfoy" Harry lalu melihat kerah surat yang membuat dirinya sangat kesal
"Tidak mungkin sosok itu Malfoy tapi…, rambut seperti itu jarang orang memilikinya. Tapi tidak mungkin, untuk apa juga dia menolongku? dan bagaimana dia tahu tempat itu? Benar sosok itu pasti bukan Malfoy tapi, Malfoy sebenarnya baik kok. Buktinya saat detensi di danau hitam dan dihutan terlarang lalu dia juga minta maaf padaku"
Tiba-tiba Harry merasa wajahnya memanas dan jantungnya berdegup dengan kencang
"AKH… ! Apa yang kupikirkan? Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini setiap mengingat si kakek itu? Akh, dia itu hanya anak manja, sombong dan bermulut kasar. Sigh…, dibandingkan memikirkan hal itu lebih baik aku tidur"
Harry lalu melepaskan kacamatanya dan dia pun terbang kealam mimpi. Tanpa Harry sadari sejak Hermione dan Ron tadi keluar, ada seseorang yang melihatnya dari celah pintu Hospital wing dan wajahnya memerah karena mendengar semua keluh kesah yang baru saja Harry katakan.
TBC
Author Note:
Bagaimana cerita chapter ini? Seru ndak?
Nah, untuk chapter ini saya tunggu reviewnya.
TERIMA KASIH ^_^
