.
Filsafat?
Oneshot
(08 November 2020)
.
Bagaimana perasaan kalian jika hidup ini… telah diatur layaknya sebuah catatan? Bahkan jauh sebelum orangtua, kakek, nenek, dan buyut-buyut kita lahir ke dunia ini.
Seperti sebuah plot.
Dimana cerita, kejadian, peristiwa, maupun tragedy yang telah menimpa kita selama ini sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa.
Dan Aku selalu bertanya-tanya—dalam hati, bagaimana bisa Tuhan membuat sebuah narasi sebaik, serumit, sekompleks ini? Bahkan seorang penulis professional sekalipun akan sangat kesulitan untuk membangun natasi sehebat itu.
Yah, kita kembalikan saja semuanya itu kepada-Nya.
Karena tadir, nasib, jodoh, maupun kematian itu semua berada ditangan-Nya.
Dan kita sebagai manusia hanya bisa berpasrah diri seraya mengakui dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat lalu meminta belas kasih dan pengampunan dari-Nya.
Tanpa semua itu, manusia tak akan bertahan di dunia ini walau hanya sesaat. Sebab, apabila manusia kehilangan akal sehat dan juga hati nuraninya.
Maka…
Manusia tak lebih dari sebuah sampah yang akan merancuni dunia ini dengan segala keburukan yang mereka miliki.
'—Manusia itu seperti jemaan antara malaikat dan iblis karena mereka diberi kebaikan berupa akal dan mereka pun diberi keburukan berupa kehendak atau nafsu.
Kedua unsur yang saling bertolakbelakang ini mampu membuat manusia menjadi lebih bijak. Namun di waktu yang bersamaan, kedua unsur ini pun dapat menyesatkan manusia ke dalam perangkap setan yang tak terhitung jumlahnya.
Oleh sebab itu, manusia harus memiliki keyakinan hati yang kuat untuk membenarkan apa yang seharusnya benar dan menyalahkan apa yang seharusnya salah.
Sisanya…
Tinggal bagaimana manusia bisa memahami dan menggenali siapa dirinya, siapa Tuhannya, apa tujuannya, kapan kematiannya, di mana dirinya akan berakhir, dan bagaimana caranya Ia bisa sampai ke sana—'
Aku membaca kutipan buku teologi filsafat yang telah kutandai dengan pensil.
Berulang-ulang kali aku membaca bagian dari isi buku tersebut dengan sangat teliti.
Namun…
Tak ada satupun yang dapat aku pahami maksud maupun makna yang terkandung di dalamnya.
Bagaikan menggeruk tanah yang tak tau apa isinya.
Kadang sesekali aku juga tertidur dalam keadaan setengah sadar. Saking bosannya duduk di atas kursi karena tidak bisa memahami apa yang tertulis di dalamnya.
'Menggenali siapa diriku sendiri, kah?'
Bosan berkutak dengan buku yang kubaca, penglihatanku kualihkan ke arah depan.
Di sebelah sana, ada seorang pemuda yang seumuran denganku sedang duduk manis di atas kursi yang terbuat dari campuran bahan logam. Kedua iris matanya yang dibingkai oleh kacamata berwarna hitam itu menari-nari ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah tanpa sedikit pun melepaskan pandangannya dari arah buku yang sedang dia baca.
"Sasuke"
"Hn?"
"Memangnya kau tak bosan berlama-lama di sini terus?"
"Aku sedang sibuk, Naruto. Lagipula Aku belum menyelesaikan tensisku tentang penciptaan alam semesta. Jika kau merasa bosan berada di sini, kau bisa pulang duluan."
Aku menarik napas agak dalam setelah mendengar jawaban yang dia berikan.
'Dasar kutu buku.' Ucapku dalam hati.
Oh benar, aku belum memperkenalkan diriku kepada kalian, kan?"
Namaku adalah Uzumaki Naruto, seorang mahasiswa biasa dan juga berstatus sebagai anggota pustakawan di sebuah universitas di kota Nagoya. Saat ini aku sedang duduk menemani sahabatku yang sedari tadi sedang mempersiapkan tesisnya yang akan dia presentasikan bulan depan.
Namanya adalah Uchiha Sasuke, seorang mahasiswa yang bisa dibilang jenius sejak lahir. Orangnya sangat tenang, jarang marah, baik kepada semua orang, dan tak suka keramaian.
Kami sama-sama satu angkatan saat masih belajar di sekolah dasar sejak 11 tahun yang lalu. Namun karena kejeniusan yang Ia miliki itu—jujur aku sangat iri kepadanya, Sasuke direkomendasikan oleh pihak sekolah lalu lulus dengan nilai terbaik diusianya yang baru 6 tahun.
Singkatnya, setelah Ia lulus dari sekolah dasar. Sasuke tetap melanjutkan studinya sebagai seorang pelajar hingga memperoleh gelar master setelahnya.
"Terserahlah, aku mau pulang dulu."
Setelah menggembalikan buku yang tadi aku pinjam ke tempat asalnya, Aku mulai bergegas untuk kembali ke apartemenku.
"Naruto, tunggu sebenar."
"Hn, apa Sasuke?"
"Jangan sampai terlambat apel pagi." Jawabnya tetap setia dengan tumpukan buku kesayangannya.
Aku menggerukan keningku tanda tidak mengerti.
Bodoh amatlah! Aku benar-benar pusing saat ini.
"Hn."
"Tunggu, Naruto!"
"Apa lagi, Sasuke?!"
"Kau lupa membawa HP mu."
"Oh iya, terima kasih." Jawabku kepadanya.
Setelah mengambil smartphone milikku yang hampir tertinggal tadi. Tanpa basa-basi, aku sedikit berlari ke pintu keluar tanpa berucap salam kepada sahabatku itu.
"Tunggu, Naruto!"
"APA LAGI, TEME?!" Teriakku tanpa sadar sehingga membuat banyak pasang mata melihat arah kami.
"Kau lupa menutup resleting celanamu."
Dan benar saja, penggait celana yang sedang aku pakai ternyata terbuka lebar.
Dengan tatapan murka bercampur malu, Aku tanpa pikir panjang langsung melembarkan sebelah sepatuku padanya.
Dan begitulah, salah satu kenangan tak terlupakanku sewaktu kuliah bersama sahabatku, si kutu buku.
.
~END~
