DISCLAIMER :

Ensemble Stars!! (c) Happy Elements K.K.

Story (c) LiéScarletta

*

WARNING!!! :

Typo(s), Shounen Ai / Boys Love content, friendzone, OOC

*

*

*

DON'T LIKE DON'T READ

*

*

*

*

*

Tokyo, Jepang, pukul 7 pagi.

Seorang pemuda sudah sibuk berada di luar ranjang nyamannya. Dia datang ke sebuah hotel dengan jinjingan di satu tangan, berisi masing-masing sepasang pakaian untuk laki-laki dan perempuan. Dengan surai pirang yang terikat dan masker menutupi wajahnya, dia berjalan masuk kemudian naik ke lantai paling atas menggunakan lift, mencari nomor sebuah kamar VIP yang harus ia datangi. Bukan pertama kalinya ia melakukan hal seperti ini, ada seorang orang tua merepotkan yang kadang menghubunginya bahkan sebelum matahari terbit hanya untuk membawakan pakaian ke hotel ini dan hotel itu.

Setelah menemukan kamarnya, pemuda itu, Hakaze Kaoru, menekan bel yang ada di dekat pintu kamar lalu menunggu di depan pintunya. Kaoru menunggu beberapa saat sampai akhirnya terdengar suara dari dalam dan pintu pun terbuka, saat itu juga manik coklat keabuannya menyambut pemandangan seorang pemuda lain bersurai hitam berantakan dengan bagian tubuh atas yang tanpa busana.

Mereka diam beberapa saat tanpa bertegur sapa sedikitpun, dan saat Kaoru sedikit menggeser iris matanya tanpa menoleh, retinanya menangkap siluet punggung seorang gadis bersurai coklat panjang yang berbaring di atas ranjang, punggung yang tak tertutupi oleh apapun kecuali helaian rambut yang berantakan, sepertinya selimutnya sudah sibuk dengan hanya menutupi bagian pinggang hingga kaki sang gadis.

"Kaoru-kun?"

"Ganti pakaianmu segera, aku akan tunggu di luar. Jadwal pekerjaan kita sangat banyak hari ini haaa~" Kaoru berucap dengan nada yang santai diiringi helaan nafas yang jelas, seperti sebagaimana ia biasa bicara. Dia kemudian sedikit memiringkan badannya dengan satu tangan berada di pinggang, menatap kembali pemuda yang ia kenal betul tersebut lalu memberikan jinjingan yang ia bawa.

"Ini, sudah sana cepatlah shoo shoo!" ujarnya lagi, bernada mengusir yang main-main

Namun tak ada balasan apapun setelahnya, pemuda dengan surai hitam di sana hanya menerima jinjingannya kemudian kembali masuk. Kaoru lalu dapat mendengar pintu yang kembali ditutup saat dirinya membalikan tubuh untuk bersandar di samping pintu tersebut sembari menghela nafas sebentar. Sekiranya 15 menit kemudian terdengar suara pintu yang dibuka dan ditutup lagi, Kaoru menoleh lalu yang ia lihat kemudian adalah sosok pemuda tadi dalam balutan penampilan yang sudah lebih rapih. Setelah melihat beberapa detik, Kaoru, tanpa bicara, membalikkan badannya lagi dan mulai berjalan terlebih dulu menyusuri koridor di luar kamar tersebut. Terdengar langkah kaki menyusul di belakangnya, dan sebuah suara ikut terdengar kemudian,

"Kaoru-kun, kau tahu, aku hanya mencintaimu" ucapan itu terdengar serius, bukan sebuah suara main-main yang digunakan untuk membuat lawan bicaranya kesal tapi Kaoru mengernyit sesaat, dan dia rasanya ingin menendang orang yang mengikutinya itu.

"Jangan bicara seperti itu di saat kau baru saja melakukan hal tidak senonoh dengan seorang gadis semalaman. Itu menjijikan, Rei-kun"

"Dia hanya seperti adikku"

"Adik-kakak macam apa yang sering bersetubuh?"

"Kaoru-kun, itu—"

Mereka sudah sampai di depan lift, dan kalimat itu terpotong karena Kaoru menekan tombolnya kemudian menunggu lift untuk naik ke lantai mereka berada.Toh pemuda dengan nama lengkap Sakuma Rei itu tak tahu bagaimana harus melanjutkan kalimatnya.

"Kaoru-kun..."

Kaoru tak membalas panggilan atas namanya itu dan saat hening mulai menyela diantara mereka, bunyi khas dari lift terdengar dan pintu lift di hadapan mereka terbuka, menampakkan ruang sempit yang kosong. Tanpa menunggu lagi, Kaoru segera menginjakkan kakinya masuk ke dalam diikuti Rei dan pintunya pun tertutup kemudian lift itu mulai bergerak turun.

"Kaoru-kun..." suara panggilan yang lama-kelamaan menyebalkan itu terdengar, dan sebelum ada panggilan dengan nada menyedihkan yang dibuat-buat terdengar lagi, Kaoru menyela,

"Kau melakukannya karena keluargamu, aku paham. Dia adalah pilihan keluargamu, aku sudah tahu, kau sudah pernah mengatakannya. Jadi berhenti memasang wajah dan suara yang menyedihkan. Bahkan meskipun kau merasa bersalah kau jugalah yang terus membuatku berada di posisi seperti ini, itu makin membuatku muak asal kau tahu saja"

"Aku tak punya pilihan, hanya padamu aku bisa bergantung. Aku mencintaimu, Kaoru-kun" Rei tersenyum menatapnya, namun saat Kaoru melihatnya ia makin ingin menendang orang itu.

"Jika kau punya waktu untuk membual hal seperti ini sebaiknya simpan energimu karena pekerjaan kita benar-benar banyak hari ini" balas Kaoru dengan ketus.

Tak ada pembicaraan lagi setelahnya, hanya suara lift dan pintunya yang terbuka yang menyela sepi diantara mereka. Keduanya pun seolah tak sedang membicarakan apa-apa setelah melangkah keluar lift, mereka hanya menyusuri lobby seolah mereka tak baru saja membicarakan hal-hal yang ambigu nan tabu.

Sebuah taksi sudah menunggu di depan pintu keluar lobby hotel, keduanya pun menghampiri taksi tersebut dan masuk ke dalamnya. Segera taksi itu melaju ke jalanan dengan kecepatan yang tak melanggar aturan. Rei dan Kaoru, keduanya bahkan tak saling bicara lagi setelahnya, salah satunya terlihat memejamkan mata mencoba untuk tertidur sedangkan yang lainnya hanya sibuk bermain dengan ponselnya.

Sakuma Rei dan Hakaze Kaoru adalah kombinasi yang sempurna, two main attraction of Undead, mereka saling membantu dan mengurus satu sama lainnya, seperti hubungan pertemanan yang diinginkan semua orang. Bahkan meskipun banyak yang memuji paduan keduanya, bahkan meski banyak orang yang iri terhadap hubungan mereka yang sangat baik sekarang, bahkan meskipun mereka bisa saling mengisi dan melengkapi, sejujurnya keduanya tak puas.

Rei mencintai Kaoru, Kaoru tahu. Kaoru mencintai Rei, Rei tahu. Waktu dan terlalu banyak hal yang telah mereka bagi terhadap satu sama lain adalah alasan yang membuat perasaan tabu nan menggelitik itu muncul di hati keduanya. Namun hanya sampai situ, hanya bisa sampai di titik itu, mereka hanya bisa saling tahu tanpa boleh ada perubahan di antara mereka sedikitpun, karena sesuatu yang lebih dari titik itu adalah sebuah kemustahilan untuk mereka.

"This is the the kind of world where good people die while suffering for no good reason. Are we already become that good people, Rei-kun~?" Kaoru berucap hampir seperti mendesis, pandangannya tak larut dari ponsel di genggamannya.

Rei, yang hampir tertidur, bergumam lebih dulu sebelum menanggapi. "Hn? Maybe khu khu khu" kemudian keduanya sama-sama tersenyum getir.

*FIN*