Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 11
Annoying detention? Yes or… no?
Matahari bersinar dengan riangnya dan langit biru terbentang luas tanpa ada awan, sungguh hari yang cocok untuk memulai aktivitas dengan penuh semangat.
"Sigh…" tapi tidak bagi Harry yang sejak tadi terus menghela nafas
"Ayo lah Harry, aku yakin hal ini pasti menyenangkan" ucap Hermione
"Apanya yang menyenangkan Hermione? Bila harus menghabiskan waktu bersama orang yang kita benci?" ucap Ron
Mendengar hal itu, wajah Harry semakin murung sedangkan Hermione menatap tajam kearah Ron yang hanya tersenyum kikuk.
"Harry, walaupun kau tidak menyukainya tapi kau harus melakukannya"
"Hm, kau benar Hermione tapi bukan itu masalahnya tapi Malfoy"
"Aku tahu, tapi cobalah bersabar. Sekarang lanjutkan sarapanmu" ucap Hermione
"Hm" setelah itu Harry melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda
Hari ini adalah seminggu setelah kejadian besar itu dan beritanya telah tersebar luas di sekolah bahkan seluruh dunia sihir, tapi yang mereka tahu Harry hanya melawan death eater. Saat berita ini tersebar, Harry selalu saja ditanya oleh setiap orang yang sengaja atau tidak sengaja bertemu dengannya. Melawan death eater saja sudah seperti ini apalagi kalau mereka tahu Harry melawan Voldemore, masalahnya pasti akan lebih runyam.
Hari ini Harry akan kembali memulai aktivitasnya sekaligus detensi menyebalkan yang akan dia jalani bersama Malfoy.
Setiap mengingat hal ini Harry selalu merasa harinya buruk apa lagi setiap berpapasan, Malfoy pasti tidak lupa mengejek Harry dengan berbagai kalimat yang telah dimodifikasi sedemikian rupa dan menghasilkan kemarahan dari Harry dan tentunya Ron sedangkan Hermione pasti sibuk melerai mereka dengan mengatakan kalau nanti meraka akan mendapat detensi dan pengurangan poin.
"Harry, kalau kau tidak ingin detensi ini berubah menjadi neraka. Cobalah untuk tidak mempedulikannya" ucap Hermione. Saat ini Harry, Ron dan Hermione sedang menuju kelas ramuan
"Hm, itu benar. Akar dari kemarahanmu itu kan karena mulut pedas kakek tua itu" ucap Ron menimpali
"Aku akan mencobanya"
"Kalian bertiga, kalau punya waktu berharga yang digunakan untuk mengobrol hal yang tidak berguna lebih baik gunakan waktu itu untuk mempercepat langkah kalian" ucap seorang pria yang berhasil mengagetkan ketiga remaja tersebut
"Maaf, profesor" ucap ketiganya serempak dan langsung mempercepat langkah mereka menuju kelas
Entah apa yang membuat Profesor Snape bad mood seperti ini yang jelas sikapnya jauh lebih mengerikan dibandingkan sebelumnya bahkan Nevile hampir pingsan saat Profesor Snape tiba-tiba saja membentaknya hanya karena dia salah memotong akar lili yang perbedaan panjangnya hanya sedikit.
Saat itulah semua murid Gryffindor dan Revenclaw tahun pertama mendapat pelajaran yang berharga yaitu jangan pernah membuat kesalahan apapun saat Profesor Snape sedang bad mood.
-o0o-
"Benar-benar, baru kali ini aku melihat Profesor Snape bersikap seperti itu" ucap Ron sambil menyendok supnya
"Menurutmu apa yang membuat profesor bersikap seperti itu?" ucap Hermione
"Aku tidak peduli soal itu, yang jelas aku tidak mau berurusan lagi dengan Profesor Snape yang sedang bad mood" ucap Ron
"Hm, aku tahu tapi aku penasaran apa yang membuat profesor bersikap seperti itu mengingat dia adalah orang yang tenang dan disiplin" ucap Hermione
"Teman-teman itu urusan pribadi profesor, kita tidak boleh mencampurinya" ucap Harry yang otomatis mendapat tatapan dari Hermione dan Ron
"Apa kau salah bicara?" ucap Harry salah tingkah
"Harry tadi kau bilang urusan pribadi?" tanya Hermione
"Hm, apa ada yang salah dengan hal itu?"
"Well, tidak ada masalah hanya saja…"
Belum sempat Hermione menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Ron menyela,
"Itu terdengar seperti… yang menyebabkan Profesor Snape bersikap seperti itu karena putus cinta"
"Apa? Putus cinta? tapi aku tidak bermaksud seperti itu"
"Iya Harry, kami mengerti" ucap Hermione
"Menurutku itu hal yang tidak mungkin" ucap Harry
Ron dan Hermione melihat kearahnya, bayangan-bayangan mengenai Profesor Snape yang terlibat urusan cinta berenang bebas di dunia khayalan mereka dan satu hal yang dapat disimpulkan oleh ketiga remaja itu yaitu neraka pasti sedang musim dingin.
Ketiganya merasa merindng bila membayangkan profesor kelas ramuan yang galak itu menangis semalaman karena urusan cinta.
"Hahaha…, rasanya itu benar" ucap Hermione sambil tertawa kikuk, jelas sekali kalau dia pun tidak nyaman dengan pikiran itu.
"Guys…, bisa kah kita berhenti berdiskusi tentang Snape?" ucap Ron
"Profesor Snape Ron!" bentak Hermione
"Yeah… yeah…yeah…, bisa kah kita makan sekarang?" ucap Ron dengan tatapan memohon
Harry hanya tersenyum melihat hal itu dan Hermione hanya dapat menghela nafas. Akhirnya, ketiga remaja itu kembali melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda.
-o0o-
Draco sedang sibuk mengelilingi kamarnya mencari sesuatu dan Blaise masuk ke kamar ingin mengajaknya makan siang bersama
"Draco, ayo ke Great Hall"
"Tunggu sebentar"
"Woah… kamarmu seperti kapal pecah" ucap Blaise menyaksikan keadaan lemari Draco yang sudah berantakan "Kau mencari apa?"
"Aku mencari buku" ucap Draco tanpa melihat kearah Blaise yang saat ini sedang berdiri didepan pintu
"Buku?"
"Ya, buku yang diberikan oleh ayahku"
"Maksudmu buku dengan judul aneh itu?"
"Ya"
"Yang tulisannya berupa rune kuno?"
"Ya"
"Yang warnanya coklat dan teb… "
"YA, YA, YA. BUKU ITU!" ucap Draco kesal
Blaise tidak dapat menyembunyikan tawanya melihat Draco yang sedang emosi.
'Jarang-jarang, melihat Draco emosi seperti ini. Pertunjukan yang menarik' batin Blaise
"Blaise berhenti melihatku dengan tatapan itu. Aku bukan tontonan"
"Hahaha…, ayo lah Draco kau ini sama sekali tidak punya rasa humor"
"Berisik. Kalau kau kemari hanya untuk membuatku kesal, lebih baik kau ke…"
"Jangan-jangan yang membuatmu emosi seperti ini bukan karena kau kehilangan buku itu tapi karena kau nervous akan menghabiskan waktu bersama Potter. Iyak…"
"KELUAR!"
Blaise segera kabur dari kamar sebelum mendapat kecupan sayang dari tongkat Draco. Tapi bukan Draco namanya bila membiarkan orang yang membuatnya kesal pergi begitu saja dan kelihatannya dewi fortuna saat ini tidak berada di pihak Blaise karena setelah lima langkah dari pintu kamar, Blaise mendapat kecupan sayang bukan dari tongkat Draco melainkan dari buku yang tidak diketahui berapa jumlah halamannya yang jelas buku itu tidak dapat dibawa dengan satu tangan.
Pansy yang melihat kejadian itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Boys…" ucap Pansy lalu dia kembali melanjutkan acara membacanya yang sempat tertunda.
"Auch… aduh…, bagaimana bisa Draco melempar buku setebal itu? Auch…, benjol nih" ucap Blaise sambil duduk di sebelah Pansy
"Kau jugakan yang salah. Padahal kau tahu benar sifat Draco seperti apa"
"Tapi jarang-jarang melihat Draco bersikap seperti itu"
Pansy hanya dapat menghela nafas mendengar jawaban dari sahabatnya.
-o0o-
Setelah makan siang Hermione mengajak Harry dan Ron ke Perpustakaan untuk meyelesaikan esai charm yang seharusnya baru dikumpulkan dua minggu lagi.
"Hermione, yang benar saja. Tidak bisa kah kita mengerjakannya besok?" ucap Ron dengan nada memohon
"Ronald weasley, kalau kita tidak menyelesaikannya hari ini nanti akan lebih banyak PR lagi. Dibandingkan menumpuk lebih baik kita selesaikan yang bisa kita selesaikan hari ini, mumpung ada kesempatan. Ingat time is money!" ucap Hermione sambil tersenyum yang dibalas dengan tatapan memelas Ron.
Harry setuju dengan pendapat Hermione, hanya saja tugas ini masih lama dikumpulkan dan kalau boleh jujur Harry lebih memilih berbaring di asramanya tapi, Harry tidak mau mengecewakan Hermione dan dengan berat hati ikut ke Perpustakaan.
Ketiganya asik mengobrol dan tidak menyadari bahwa Draco cs berjalan kearah mereka,
DUAK…
Hermione menabrak Blaise hingga dia terjatuh dan menyebabkan seluruh buku yang dibawanya berserakan.
Harry dan Ron segera menolong Hermione dan mengumpulkan buku-buku yang berserakan
"HEY, kau seharusnya minta maaf" teriak Ron pada Blaise sambil membantu Hermione bangkit
"Ron, sudah tidak apa-apa. Aku juga yang salah karena berjalan tanpa melihat kedepan"
"Yeah Weasel, sebaiknya kau dengarkan kekasih mugglemu itu" ucap Blaise sambil melipat kedua tangannya di dada dan melihat kearah ketiga Gryffindor itu dengan tatapan meremehkan
"Yeah itu benar, kalian lah yang salah. Makanya lihat kedepan kalau jalan. Jangan-jangan mata kalian bertiga itu mulai juling" ucap Pansy sambil menyeringai
"Tapi kalian juga yang salah, kalau kalian tahu kami tidak melihat kedepan seharusnya kalian minggir, lagi pula lorong ini kan masih luas" Harry mengepalkan kedua tangannya karena tidak terima dengan yang mereka katakan
"Well… well… well, lihat ini the boy who lived merasa kalau dia telah menguasai Hogwarts sehingga memerintah kita seenaknya" ucap Draco untuk pertama kalinya, seringai yang menurut Harry sangat menyebalkan menghiasi bibirya
"Oh, jadi kau merasa menguasai Hogwarts karena berhasil mengalahkan satu death eater? Heh, payah"
"Tentu saja pansy dear, dia merasa seperti itu" ucap Blaise menimpali
"Aku tidak merasa seperti itu" balas Harry jengkel
"Kalau kau tidak merasa seperti itu, lalu kenapa kau marah?" tanya Draco
"Tentu saja aku marah dituduh seperti itu"
"Biasanya seseorang marah saat tuduhan yang diberikan padanya itu benar. Jadi, dia takut bila tuduhan itu terbukti sehingga dia menutupinya dengan pura-pura marah" ucap Draco santai lalu dia berjalan mendekati Harry
"Kalau hal itu tidak benar seharusnya kau tetap bersikap tenang. Sikapmu itu hanya menambah curiga Potter. Ayo teman-teman, kita ada urusan yang jauh lebih penting dibandingkan mengurusi seseorang yang merasa seperti penguasa yang bahkan tidak bisa berenang dan suka merepotkan orang lain" ucap Draco
Blaise dan Pansy tertawa mendengar perkataan Draco dan setelah itu mereka langsung melangkah pergi menuju Great Hall, meninggalkan ketiga Gryffindor yang masih bisu di tempatnya.
-o0o-
Harry, Ron dan Hermione sepanjang perjalanan menuju perpustakaan sama sekali tidak berhenti menggerutu, terutama Ron yang suaranya selalu naik beberapa oktaf saat mengeluarkan kalimat tentang kejelekan Draco cs.
"Apa-apaan mereka itu?" Hermione masih sangat kesal dengan yang dikatakan oleh murid-murid Slytherin itu
"Benar, mentang-mentang pureblood" balas Ron
"Ron kau sendiri purebloodkan?" ucap Harry
"Tapi aku tidak menyebalkan seperti mereka"
"Benar dan juga apa maksudnya dengan Harry tidak bisa berenang dan suka merepotkan orang lain?" balas Hermione
"Benar, dia berbicara seakan-akan dia mengenal Harry"
"Sigh..., aku kurang setuju saat Malfoy mengatakan hal itu. Aku bisa berenang tapi tidak sejago dia dan itu bukan salahku kalau aku lupa dan tidak tahan cuaca dingin" ucap Harry
"Benar" ucap Hermione dan Ron bersamaan
Mereka terus saja menyuarakan pendapat mereka tentang Draco cs dan tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di depan Perpustakaan,
"Eh? Kita sudah sampai?" Tanya Harry bingung
"Tidak terasa" ucap Ron
"Ternyata mengeluarkan uneg-uneg itu enak juga ya. Aku jadi jauh lebih tenang" ucap Hermione sambil tersenyum
Harry dan Ron setuju dengan yang dikatakan oleh Hermione karena mereka pun merasakanya. Ketiganya segera masuk ke Perpustakaan. Keadaan Perpustakaan agak sepi dikarenakan banyak murid yang masih makan siang dan dengan semangat Hermione langsung masuk dan memilih setiap buku yang dibutuhkannya, Harry dan Ron saling berpandangan.
Harry yakin Hermione salah masuk asrama karena sikapnya lebih mengarah ke asrama Ravenclaw. Ya sudah lah, lagi pula tidak ada ruginya mempunyai teman seperti Hermione. Harry dan Ron segera mencari tempat duduk sedangkan Hermione telah menghilang dibalik rak-rak buku yang tingginya lima kali dari tinggi mereka. Setelah menemukan bangku yang tepat dan memposisikan dirinya senyaman mungkin, Harry dan Ron segera mengeluarkan tugas mereka.
BUAK…
Harry dan Ron merasakan getaran yang hebat pada meja mereka dan diikuti suara yang cukup keras. Dihadapan mereka berdiri Hermione dengan tumpukan buku yang menggunung.
"Woah, Hermione kau mau membaca itu semua?" tanya Ron sambil memandang tumpukan buku dihadapannya
"Yup, ini buku yang mau aku baca sejak kemarin tapi sebelum aku dapat meminjamnya, sudah ada yang meminjamnya duluan, bukankah aku sangat beruntung?" ucap Hermione tersenyum
Harry dan Ron tidak tahu harus menjawab apa. Jadi, mereka lebih memilih kembali ke aktivitas mereka sebelumnya lagi pula Hermione pun sudah tenggelam di dunianya sendiri.
"Mr. Potter" ucap seorang wanita paruh baya yang saat ini berdiri tepat disamping meja Harry
"Madam Pince" ucap Harry sambil berdiri dan menganggukkan kepalanya hormat, Ron dan Hermione pun mengikuti gerakan Harry dan Madam Pince tersenyum pada mereka.
Tentunya senyuman yang jarang dikeluarkan mengingat ekspresi yang selalu diperlihatkan oleh madam Pince selalu serius bahkan untuk memperingatkan murid yang ribut, dia tingal menatap tajam murid tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan secara ajaib murid yang dimaksud akan terdiam atau keluar dari Perpustakaan.
"Mr. Potter, tolong informasikan pada Mr. Malfoy bahwa detensi kalian akan dimulai setelah jam pelajaran terakhir dengan kata lain jam 4 sore nanti. Apa kau mengerti?"
"Ya, madam"
"Baiklah kalau begitu. Silakan lanjutkan belajarnya" setelah mengatakan hal itu madam Pince meninggalkan trio Gryffindor itu.
"Sigh… kenapa harus aku?" Harry membanting tubuhnya kesal di kursi
"Harry katakan saja padanya, inikan detensi kalian berdua. Kau tinggal sampaikan pesan itu dan langsung pergi atau kau bisa mengirimkannya surat. Bagaimana?" saran Hermione yang sebenarnya merasa lucu melihat tingkah Harry seperti ini
"Kelihatannya aku akan memilih yang pertama. Kalau aku mengirimkannya surat, bisa-bisa dia mengganggapku pengecut"
"Aku setuju" ucap Ron sambil mengangkat tangannya
"Baiklah, itu terserah kau saja tapi ingat kau harus langsung pergi setelah penyampaikan pesan, jangan ladeni dia"
"Iya Hermione aku mengerti" ucap Harry sambil tersenyum
Setelah itu mereka melanjutkan sesi belajar mereka yang sebenarnya hanya Hermione yang benar-benar belajar sedangkan Ron, belum lima menit dia sudah tertidur di atas buku yang sedang dibacanya dan Harry, pikirannya melayang entah kemana.
Harry melirik jam dinding perpustakaan, jam 12.45 siang. Setelah ini Harry masih ada Kelas Transfigurasi dan Charm dan setelah itu menjalani neraka dunia.
"Guys, aku duluan ke kelas ya" ucap Harry sambil bangkit dari tempat duduknya
"Tapi masih ada 15 menit lagi Harry" ucap Hermione sambil melirik jam dinding
"Iya, tapi aku mau memberitahu Malfoy soal detensi nanti dan menurutku itu butuh waktu yang lebih lama"
"Hehehe…, kau benar. Ingat Harry, langsung pergi"
"Iya Hermione, aku ingat. Baiklah sampai jumpa di kelas" Harry pun berjalan kearah pintu keluar
"Ah, aku sampai lupa. Hermione"
"Hm?"
"Jangan lupa bangunkan Ron, dia juga membutuhkan waktu yang lama untuk bangun"
"EH… ?!"
"Baiklah, aku pergi dulu" Melihat ekspresi Hermione barusan, terlihat sekali kalau dia tidak menyadari Ron tertidur sejak tadi. Harry masih mendengar suara Hermione saat dia keluar dari Perpustakaan.
"Dasar, pantas saja dari tadi aku tidak mendengar suaramu" ucap Hermione yang mencoba membangunkan Ron
Kelihatannya Hermione benar, selama dia tidak menghiraukan apa yang dikatakan mayat hidup itu, maka detensinya akan baik-baik saja dengan kata lain tentram, aman dan menyenangkan, oke mungkin yang terakhir itu tidak termasuk karena tidak ada detensi yang menyenangkan. Yap benar, semuanya pasti akan baik-baik saja dan Harry yakin akan hal itu.
-o0o-
Semuanya tidak ada yang baik (SEMUANYA TIDAK ADA YANG BAIK-BAIK SAJA…!) disinilah Harry berdiri berdua bersama sosok yang merupakan semua sumber penderitaannya selama di Hogwarts (kalau di luar Hogwarts tentu saja tempat pertama akan ditempati keluarga Dursley) menerima teriakan-teriakan amarah dari Profesor McGonagall.
"Berani-beraninya kalian membuat keributan di kelasku" dan seperti biasa Harry merasa seperti kucing yang tertangkap basah mencuri dan siap diadili, Harry merasa seluruh darahnya telah meninggalkan wajahnya dan dia tahu kalau wajahnya terlihat pucat sedangkan Draco terlihat santai dan tidak merasa bersalah sedikitpun, hal ini lah yang tambah membuat Profesor McGonagall emosi.
"Mr. Malfoy apa kau mendengarku?"
"Iya profesor saya mendengar anda. Tenang saja usia saya masih 11 tahun jadi pendengaran saya masih sangat baik. Tidak seperti orang-orang yang berusia 40 tahun keatas" ucap Draco santai, Prof McGonagall semakin emosi atas jawaban Draco karena Profesor McGonagall merasa dia disindir secara tidak langsung sedangkan Harry, hampir mau pingsan saat itu juga.
"Kalian…," Harry bahkan tidak berani menelan ludah. Ekspresi Profesor McGonagall kelihatannya akan menjadi mimpi buruknya malam ini dan Harry merasa ingin meninju wajah Malfoy dan menghapus ekspresi santai diwajahnya.
"Pergi ke Perpustakaan, madam Pince sudah menunggu kalian" ucap profesor wanita itu sambil memijat keningnya
"Tapi profesor…" Belum sempat Harry menyelesaikan kalimatnya, dia mendapat tatapan tajam dari Profesor McGonagall dan Harry kehilangan kata-kata
"… kelas Charm…" hanya dua kata itu saja yang berhasil dikeluarkannya tapi untungnya profesor mengerti akan hal itu
"Aku akan menginformasikan pada Profesor Flitwick. Sekarang kalian… KELUAR… !" teriak Profesor McGonagall sambil menunjuk pintu keluar, Harry tanpa pikir panjang langsung menarik tangan Malfoy sebelum dia mengatakan hal lain yang membuat Profesor McGonagall makin emosi. Harry menyeret Malfoy keluar dari kelas. Soal tas dan perlengkapan lainnya, Harry yakin Hermione dan Ron akan membereskannya.
-o0o-
"Hey, sampai kapan kau mau memegang tanganku?" Saat ini Harry dan Draco sedang berada di lorong menuju Perpustakaan. Mendengar perkataan Draco, Harry langsung membanting tangannya.
"Apa-apaan sikapmu itu? Padahal sejak tadi kau terlihat sangat menikmati memegang tanganku"
"Aku tidak menikmatinya, aku hanya… Hm… hanya lupa"
"Kenapa kau menjawabnya lama sekali?"
"Sudahlah. Ah, yang apa-apaan itu kau"
"Maksudmu?"
"Apa-apaan sikapmu itu?"
"Hey Potter, kau sudah kehabisan kalimat ya? Sampai menjiplak seperti itu, payah"
"Bukan itu masalahnya disini, bodoh"
"Kalau kau tidak menjelaskannya, aku tidak akan mengerti. Bodoh"
"Kau jangan pura-pura tidak mengerti, kau tahu maksudku apa"
"Hah?" Rasanya Harry hampir kehilangan kesabarannya. Ingin sekali dia mencabut bibir dan alis Malfoy yang sejak tadi selalu terangkat keatas seakan-akan meremehkan Harry setiap dia berbicara padanya.
"Sudahlah" ucap Harry tidak peduli
"Kau mau kabur begitu saja?" mendengar hal itu Harry yang berada beberapa meter di depan, menghentikan langkah kaki dan membalikkan tubuhnya.
"Aku tidak kabur" teriak Harry
"Lalu?"
"Aku hanya tidak ingin menghabiskan waktuku yang berharga hanya untuk berdebat denganmu" usai mengatakan hal itu Harry pergi begitu saja, dia tidak mau mendengar kalimat balasan dari Malfoy.
'Dibandingkan berdebat dengannya lebih baik aku segera ke Perpustakaan. Sigh…, detensi ini semakin cepat selesai semakin baik' Tidak lama kemudian Harry dan Draco akhirnya sampai di Perpustakaan.
Keadaan Perpustakaan saat ini sangatlah sepi hanya ada Madam Pince yang sedang duduk santai di meja kerjanya
"Selamat siang, Madam Pince" ucap Harry menghampiri Madam Pince yang sedang menghirup aroma secangkir teh di tangannya.
"Oh, selamat siang Mr. Potter dan Mr. Malfoy. Ada yang bisaku bantu?" ucap Madam Pince sambil meletakkan cangkir tehnya
"Ya, saya… ah, maksud saya kami, datang kemari untuk menerima detensi" ucap Harry dengan nada yang terlihat sekali kalau dia tidak menyukai kalimat yang baru saja dikatakan oleh dirinya sendiri.
"Detensi? Bukankah ini terlalu cepat? Kalian seharusnya datang kemari jam 4" ucap Madam Pince sambil memeriksa jam tanganya.
"Ada sedikit masalah di kelas Transfigurasi" ucap Harry dengan suara kecil sambil menundukkan kepalanya
"Pasti kalian membuat masalah?"
"Kalian?"
"Kalau ada masalah yang berhubungan dengan Mr. Potter pasti ada Mr. Malfoy dibelakangnya" ucap Madam Pince santai sambil menyilangkan kedua tangannya di dada
Harry dan Draco tidak tahu bagaimana membalas ucapan Madam Pince karena yang dikatakan oleh wanita paruh baya dihadapan mereka ini memang benar adanya.
'Hal itu memang benar tapi kalau kuingat lagi Malfoy bukan satu-satunya alasan aku sering terlibat masalah. Benar, masih ada Voldemort'
"Kelihatannya tidak ada pilihan lain. Tolong lewat sini Mr. Potter dan Mr. Malfoy" ucap Madam Pince sambil bangkit dari bangkunya dan mulai berjalan kearah belakang Perpustakaan.
Semakin lama mereka berjalan, semakin mereka mendekati ujung Perpustakaan dan Restricted Section.
'Jangan bilang kalau kami harus membereskan buku-buku di Restricted Section' batin Harry
Mereka berjalan semakin mendekati Restricted Section tapi tiba-tiba Madam Pince berbelok. Tanpa sadar Harry menghela nafas cukup keras sehingga Draco yang berjalan disampingnya mendengar hal itu.
"Hm, jangan bilang kalau kau mengira kita akan membereskan Restricted Section ?" tanya Draco sambil menyeringai
Harry yang mendengar ucapan Malfoy, sempat panik tapi dia segera mengendalikan dirinya. Hal terakhir yang dibutuhkan oleh Harry adalah wajah Malfoy makin naik beberapa level menyebalkan dari biasanya.
"Tidak"
"Kupikir kau jujur karena kau tidak mungkin lebih bodoh dari sekarangkan Potter? Lagi pula tidak mungkin kita disuruh membersihkan Restricted Section hanya karena detensi bodoh ini, apalagi kita hanya tahun pertama" rasanya Harry ingin sekali meninju wajahnya sendiri karena dia merasa sangat bodoh dan menyetujui semua kalimat Malfoy, kecuali bagian Malfoy mengatakan dirinya bodoh, karena asik dengan pikirannya sendiri tanpa sadar Harry menabrak punggung Madam Pince.
"Mr. Potter, menurutku sebaiknya dirimu tidak memikirkan hal yang tidak penting karena aku berharap kau bisa lebih konsentrasi dengan detensi ini. Mengerti?" ucap Madam Pince tegas
Harry merasa kedua pipinya memanas, dia sangat malu karena perbuatannya sendiri dan Harry dapat merasakan seringai Malfoy yang menyebalkan tanpa harus melihatnya secara langsung.
"Baiklah, disinilah detensi kalian berdua" ucap Madam Pince sambil menunjukkan rak-rak buku yang penuh dengan debu
"Anda tidak menyuruh kami untuk membersihkan debu di buku-buku ini kan?" tanya Draco
"Kenapa Malfoy? Apa jari-jari lentik itu tidak pernah bekerja?" Tanya Harry dengan nada meremehkan
"Pertama Potter jariku tidak lentik, sebaliknya jarimu yang terlihat seperti jari anak perempuan. Kedua, aku seorang Malfoy dan kami tidak mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan peri rumah"
"Apa? Jariku tid…"
"Pertama, Mr. Potter tidak baik mencerca murid lain seperti itu dan kedua, ya Mr. Malfoy. Detensi kalian adalah membersihkan buku-buku disini dan menyusunnya dengan rapi. Tanpa sihir" ucap Madam Pince cepat saat melihat Draco membuka mulutnya.
"Baiklah, kelihatannya tidak ada pertanyaan lagi. Gentleman, please your wands" Harry dan Draco memberikan tongkat mereka dan Madam Pince segera meletakkan kedua tongkat itu kedalam kantung pakaiannya lalu Madam Pince mengeluarkan tongkatnya sendiri dan dengan mantra acio, peralatan kebersihan sekarang ada dihadapan Harry dan Draco.
"Baiklah, setelah kalian selesai langsung laporkan padaku. Apa kalian mengerti?"
"Yes, Madam Pince" jawab Harry dan Draco kompak. Akhirnya Madam Pince pun pergi meninggalkan mereka dengan peralatan kebersihan yang setiap jenisnya memiliki kembaran. Setelah Madam Pince hilang dari jangkauan penglihatan mereka, Draco menolehkan kepalanya dan berkata pada Harry,
"Kau ingat perjanjian kita kan Potter?"
"Ya, aku ingat. Perjanjian menyebalkan seperti itu, bagaimana aku bisa lupa" jawab Harry ketus
"Baiklah, aku akan membersihkan rak yang disana. Kau membersihkan yang disini, kalau sudah selesai bersihkan bagianku juga"
"APA?! bagian sini saja besar sekali dan kau memintaku untuk mengerjakan tugasmu juga?" ucap Harry marah
"Dengar Potter, seperti yang kukatakan tadi aku adalah seorang Malfoy. Pekerjaan seperti ini tidak cocok untukku, jadi aku butuh lebih banyak waktu untuk melakukannya. Hm, kira-kira satu buku 30 menit?"
"Apa? Kau butuh 30 menit hanya untuk membersihkan satu buku? Kapan selesainya? Apa kau lupa sebelum kita berdua selesai, tidak ada yang boleh pergi lebih dulu. Belum lagi kau harus membersihkan raknya"
"Karena itu Potter, kau harus mengerjakan tugasku juga agar kita lebih cepat pergi dari sini"
"Tapi, kau tid…"
"Eits…, kalau kita berdebat terus kapan selesainya? Lebih baik kau mulai bekerja. Sana-sana" ucap Draco sambil mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir ayam pada Harry.
Harry benar-benar kesal pada Malfoy karena dia bersikap seenaknya tapi berdebat dengannya pun percuma, hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri dan hal itu hanya menambah daftar alasan Harry untuk menghajar Malfoy.
Harry segera mengambil peralatan kebersihan dan mengarah ke rak yang menjadi bagian tugasnya.
'Hm…, mungkin aku keluarkan dulu semua bukunya. Tapi, nanti dimana aku harus meletakkan bukunya? tempat ini tidak akan cukup' batin Harry sambil memperhatikan rak buku yang penuh dengan debu di hadapannya.
Sementara Harry sedang memikirkan cara paling baik untuk membersihkan rak buku miliknya, Draco malah asik melihat buku-buku di rak yang menjadi tugasnya.
'Hm…, aku tidak pernah kebagian ini setiap ke Perpustakaan. Tempat ini tertutup dan tersembunyi selain itu jarang dijamah oleh murid. Tempat yang bagus untuk menyendiri' Asik dengan pikirannya sendiri, Draco tidak sadar kalau ada sikat melayang kearahnya.
BUAK…
Sikat itu transit dengan selamat di dataran pirang dan berangkat lagi alias memantul hingga pemberhentian terakhirnya adalah lantai hitam yang dingin dan keras.
"Hey, kalau bekerja itu seriuslah sedikit. Jangan melamun saja" teriak si pelempar
"POTTER!" teriak si korban sambil mengusap-usap kepalanya
Akhirnya, terjadilah perang dunia ketiga antara tim hitam dan tim pirang. Dengan senjata yang cukup memadai yaitu berupa peralatan kebersihan dan buku-buku yang seharusnya dibersihkan, peperangan ini pun sampai menimbulkan korban yaitu rak-rak buku yang jatuh, sedangkan sang komandan dari kedua tim ini hanya mengalami luka ringan dan pemenang dari peperangan ini adalah… MADAM PINCE…
Saat rak-rak buku tempat detensi Harry dan Draco terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup besar dan menyebabkan cangkir teh Madam Pince terjatuh dari genggamannya. Tanpa bertele-tele, Madam Pince segera menghampiri Harry dan Draco.
Saat dia sampai di tempat yang menjadi sumber keributan, Madam pince hampir kehilangan kesadarannya dan dengan sekuat tenaga dia membuang jauh-jauh hal itu. Harry dan Draco masih asik saling melempar barang, rak yang jatuh disamping mereka dan kehadiran Madam Pince kelihatannya tidak cukup menghentikan perang yang terjadi.
"Kalian… berdua… HENTIKAN… !" dan Madam Pince pun kehilangan kesabarannya. Secara ajaib Harry dan Draco berhenti secara tiba-tiba. Keduanya tidak berani mengeluarkan satu kata pun saat melihat wajah masam Madam Pince.
Harry lebih memilih detensi bersama Hagrid dibandingkan detensi bersama Madam Pince, setidaknya Hagrid hanya tertawa bila Harry dan Draco membuat masalah selain itu kerusakan yang terjadi tidak separah ini, mengingat Malfoy sangat menjaga penampilannya dan pakaiannya agar tidak kotor sehingga keributan yang mereka buat hanya saling adu mulut tapi menurut Harry, dia hanya pamer dan suka cari perhatian karena pada saat detensi pertama mereka bersama Hagrid, Malfoy tidak terlalu peduli dengan penampilannya, pasti karena saat itu tidak ada murid lain yang melihat mereka jadi dia tidak perlu menjaga imagenya.
Tapi saat ini bukan detensi bersama Hagrid tapi bersama Madam Pince, penjaga Perpustakaan yang memiliki title 'jangan mencari keributan denganku khususnya Perpustakaanku atau kau akan menyesal' dan melihat kekacauan yang mereka timbulkan, Harry yakin dia tidak hanya menyesal tapi juga akan mengalami mimpi buruk nanti malam.
"Sekarang… kalian pergi ke Hospital wing lalu ke ruang kepala sekolah" ucap Madam Pince, Harry dapat merasakan udara disekitarnya menjadi lebih dingin dan menusuk kulitnya.
"Kalian tunggu apalagi? Cepat KELUAR… !" teriak Madam Pince sambil menunjuk pintu keluar-masuk Perpustakaan dan tanpa menunggu komando yang kedua kali, Harry dan Draco segera berlari kearah pintu keluar.
"Sebagai hukuman, aku akan menyita tongkat kalian selama satu minggu" teriak Madam Pince saat Harry dan Draco hampir mendekati pintu Perpustakaan.
"Sial, ini semua gara-gara kau Potter"
"Apa? Siapa suruh kau melamun saat detensi?"
"Kau sendiri juga belum mulai bekerja"
"Itu karena aku sedang memikirkan cara paling bagus untuk membersihkannya. Aku tidak sepertimu"
"Heh, bersih-bersih saja perlu dipikirkan"
"Kalau aku memikirkannya dulu memangnya kenapa? Setidaknya aku bukan tuan muda manja sepertimu yang hanya membuat kesal dan susah orang lain"
"HEY…, itu tidak ada hubungannya"
"Jelas saja ada hubungannya"
"Oh ya? Kalau begitu apa hubungannya?"
"Hubungannya itu… it…"
"Kau tidak tahu kan?" ucap Draco sambil menyilangkan kedua tangannya dan memandang Harry dengan tatapan mencomooh. Harry yang kesal melihat itu, segera memikirkan suatu ide untuk membalas perkataan Draco.
"Hubungannya itu karena kau tuan muda yang manja dan suka membuat kesal sekaligus menyebalkan, detensi kita tidak selesai-selesai"
"Apa? Sekarang kau menyalahkanku? Padahal kau juga belum mulai"
"Aku kan sudah bilang kalau aku sedang memikirkan cara yang paling bagus untuk membersihkannya"
"Ya… ya… ya, dan perdebatan ini di mulai dari awal lagi" ucap Draco sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju Hospital Wing, meninggalkan Harry yang masih berapi-api.
"HEY MALFOY, AKU BELUM SELESAI BICARA" teriak Harry sambil berlari menyusul Draco
Keduanya berjalan menuju Hospital Wing sambil berdebat hal-hal yang tidak penting, keduanya terlalu sibuk dengan dunia sendiri tanpa menyadari dua sosok misterius yang sejak tadi telah mengawasi mereka berdua.
-o0o-
Harry sedang berjalan di tengah lorong sepi, terlihat hari semakin gelap dan hal itu membuat pemuda itu mempercepat langkahnya. Semakin lama, perasaannya semakin tidak menentu. Keringat dingin mulai memenuhi keningnya.
'Sedikit lagi, aku akan sampai di asrama. Tinggal satu belokan lagi' batin Harry
Tap… Tap… Tap…
'Su… su… suara apa itu? Seperti suara langkah kaki. Mungkin murid lainnya. Ah…, aku terlambat' Harry mulai mempercepat langkah kakinya.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah kaki itu pun semakin cepat
'Apa dia mengikutiku?' Harry pun semakin mempercepat langkah kakinya
Tap. Tap. Tap.
'Apa maksudnya ini?' Akhirnya Harry pun berlari. Namun suara langkah misterius itu juga ikut berlari seakan-akan ingin menyusul pemuda malang itu.
'Sedikit lagi, setelah berbelok aku akan sampai ke asrama' batin Harry saat melihat tikungan di depannya.
GRABBB…
Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundak Harry, karena sangat kaget pemuda itu berteriak
"TIDAK…, LEPASKAN AKU"
"Hey"
"PERGI KAU HANTU KURANG AJAR"
"Hey"
"TIDAK… PERGI-PERGI. AKU JANJI AKAN RAJIN BELAJAR. JADI, KUMOHON PERGI TUAN HANTU"
"Pfft… Hahaha…"
'Eh? Memangnya hantu bisa tertawa?' Ketika Harry mulai tenang dan membuka matanya, betapa kagetnya dia saat melihat pemuda dihadapannya yang sedang tertawa.
"MALFOY… !"
"Hahaha…, apa itu tadi? Aku akan rajin belajar? Tuan hantu? Potter potter kau selalu bisa menghiburku"
"MALFOY… KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN… !"
"Hah? Aneh sekali kalau kau baru menyadari hal itu Potter" ucap Draco sambil menyeringai
"Huh…, semakin lama berada di dekatmu, bisa-bisa aku cepat tua" ucap Harry sambil membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Draco.
"Apa hubungannya?" ucap Draco sambil menyusul Harry, terlihat sekali kalau dia belum mau mengahiri pertengkaran kecil ini.
"Tentu saja ada. Kalau berada di dekatmu aku akan marah-marah terus dan itu bisa membuatku cepat tua" ucap Harry berapi-api
"Hah? Dari mana kau dengar teori itu Potter? Bagaimana mungkin seorang anak 11 tahun tiba-tiba berubah menjadi tua hanya karena marah-marah. Kau ini selalu mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal" ucap Draco sambil berjalan mendahului Harry
'Hal-hal seperti ini lah yang membuatku benci padanya. DASAR MALFOY JELEK… !' Keduanya pun tidak melanjutkan pertengkaran itu, sebaliknya malah saling mendiamkan satu sama lain. Keduanya berjalan tanpa ada satu pun dari keduanya berbicara, langkah demi langkah membawa mereka ke satu tujuan yang sama yaitu Great Hall.
'Aduh…, apa-apaan ini. Berjalan bersama Malfoy tanpa ada adu mulut. Rasanya ini sangat lah aneh' Harry yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya, tidak memperhatikan jalan sehingga dia tidak melihat saat Draco tiba-tiba berhenti sehingga tabrakan pun tidak dapat dihindari
"Hey, kenapa kau tiba-tiba berhenti?" Tanya Harry kesal
"Kau sendiri yang salah Potter karena melamun" Harry yang mendengar hal itu tidak dapat membalas perkataan Draco karena hal itu memang benar
"Hm, jadi aku benar? Padahal aku hanya asal menebak" ucap Draco sambil menyeringai. Harry yang menyadari kalau dirinya telah dikerjai, tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.
"MALFOY BODOH… !" teriak Harry
DUAKK…
"Auch…, Hey Potter kembali kemari. Beraninya kau menendang kakiku"
"Memangnya siapa yang mau" ucap Harry sambil berlari menjauh dari Draco
"Hey, kembali kemari Potter" ucap Draco yang dengan susah payah menyeret kakinya yang sakit
Kedua orang itu akhirnya sampai di Great Hall dengan adu mulut yang tidak henti-hentinya bahkan murid lainnya sudah tidak asing lagi dengan pemandangan itu dan menganggap pertengkaran keduanya sudah biasa.
Pertengkaran yang tidak ada ujungnya bahkan masalah kecil pun dipermasalahkan. Keduanya bagaikan semut dan gula, kupu-kupu dan bunga bahkan seperti lem dan perangko. Kalau ada Harry pasti ada Draco walaupun yang awalnya yang suka mencari masalah duluan adalah Draco. Tentu saja, seluruh penghuni Hogwarts tahu kalau hubungan dekat mereka itu mengarah kearah yang negatif alias menghasilkan yang tidak baik dan tidak patut dicontoh (sebutan para profesor Hogwarts bagi hubungan Draco dan Harry).
-o0o-
Bangun pagi, sarapan, kelas, makan siang, kelas, istirahat, kelas, kembali ke asrama, mandi, makan malam, kerjakan tugas dan tidur. Itu lah aktivitas keseharian para murid Hogwarts tapi tidak dengan Harry. Kesehariannya setelah kembali ke asrama, dia mandi dan pergi ke Great Hall untuk makan malam lalu bertemu dengan orang yang sangat tidak ingin dia temui, kakek tua menyebalkan yang berwajah anak laki-laki 11 tahun dengan seringaiannya yang menyebalkan dan merasakan neraka dunia yaitu detensi lalu kembali ke asrama untuk tidur. Soal tugas untungnya sudah dia kerjakan saat istirahat antar kelas (Rekomendasi dari Hermione).
Ron telah menyelesaikan detensinya, sehingga sekarang dia bisa santai. Baginya hal itu bagaikan surge bahkan cookies terenak di dunia pun tidak dapat menandingi nikmatnya kebebasan dari detensi bersama Profesor Snape bahkan saat Ron kembali ke asrama setelah menjalani detensi terakhirnya, hampir seluruh murid Gryffindor memberi ucapan selamat padanya dan memuji keberanian serta kesabarannya dalam menghadapi Profesor Snape.
Harry hanya bisa tersenyum dan ikut bahagia dengan nasib Ron karena dia tahu betapa Ron cukup tersiksa selama detensi bersama Profesor Snape bahkan dia sering sekali mimpi buruk sejak hari pertama detensi. Sekarang tinggal dirinya yang masih tersiksa dengan detensi bodoh ini.
Dibandingkan lelah secara fisik, Harry jauh lebih lelah secara batin karena setiap waktu harus menghadapi si menyebalkan Malfoy.
"Sigh…, tinggal beberapa hari lagi. Semangat Harry kau pasti bisa" itu lah kalimat yang sering Harry katakan dan itu sudah bagaikan sebuah mantra yang dapat menguatkannya menghadapi segala cobaan ini.
Detensi yang dijalani oleh Harry dan Draco memang tinggal beberapa hari lagi dan hanya beberapa yang dapat terselesaikan dengan baik, selebihnya tambah kacau dan hanya menambah pekerjaan orang-orang yang mengawasi dan memberikan mereka tugas detensi, panggil saja Hagrid, madam Pince dan Filch.
Draco dan Harry yang saat itu hampir menghancurkan Perpustakaan saat detensi pertama mereka bersama madam Pince, menyebabkan mereka dilarang masuk ke Perpustakaan selama seminggu sehingga bila ingin meminjam buku, Draco dan Harry meminta bantuan pada teman mereka dan hal itu adalah sebuah siksaan khususnya bagi Harry karena kalau meminta bantuan pada Ron, dia akan selalu meminjam buku yang salah sedangkan Hermione dia akan meminjam buku yang benar namun dalam jumlah melebihi dari yang Harry butuhkan. Sedangkan Draco, dia tinggal menulis judul dari buku yang ingin dipinjamnya dan woala, buku yang diinginkan pun sudah berada ditangan dalam waktu 10 menit.
Kalau dibandingkan, Draco jauh… jauh… jauh…, lebih santai dalam menghadapi detensi ini sedangkan Harry selalu… selalu… selalu…, terlihat seperti mayat hidup setelah detensi bahkan hampir seluruh penghuni Hogwarts menyadari setiap sarapan pagi, wajah Malfoy terlihat cerah dan bersemangat dalam menghadapi hari sedangkan Harry, wajahnya murung dan tidak bersemangat bahkan lingkaran hitam di bawah matanya semakin hari semakin terlihat jelas dan hal itu yang membuat mereka prihatin dengan keadaan Harry yang pasti dapat di tebak kalau batinnya selalu diuji oleh tingkah Malfoy yang menyebalkan hingga menyebabkan dia sering stress.
"Kau harus…"
"Semangat, Harry"
"Ya, kau adalah…"
"Pahlawan kami. Kami sangat…"
"Bangga, akan dirimu yang…"
"Dapat menghadapi tingkah menyebalkan…"
"Malfoy" Fred dan George, selalu mengulang kalimat itu setiap kali mereka melihat Harry yang selalu muncul dengan wajah lesu di pagi hari saat sarapan. Harry hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan si kembar.
Detensi bersama Hagrid, sebenarnya tidak terlalu buruk bila dibandingkan detensi bersama madam Pince namun Hagrid selalu memberikan detensi yang kurang masuk akal bahkan cukup berbahaya, mengingat Hagrid adalah tipe manusia (Coret) tipe setengah raksasa yang menganggap mahluk buas dan berbahaya adalah makluk manis, lucu dan jinak seperti kucing dan anjing.
Detensi terakhir bersama Hagrid benar-benar kacau karena menyebabkan mereka kembali masuk Hospital Wing karena terpeleset dan hampir jatuh ke jurang saat ingin mengambil bunga black bauhinia, salah satu bahan untuk membuat ramuan penambah darah.
Draco dan Harry menjalani detensi tersebut saat hujan lebat. Awalnya detensi itu akan diundur namun Hagrid akan pergi selama dua minggu untuk membeli bahan-bahan yang dipesan oleh Profesor Dumbledore untuk keperluan sekolah yang tidak ada di Diagon Alley. Jadi, karena tidak ingin menunggu lama dan makin memperpanjang detensi, Harry dengan sifat keras kepalanya memaksa Draco dan Hagrid untuk melakukan detensi tersebut. Akhirnya, keduanya berhasil mendapat bunganya dengan tebusan mereka terbaring di Hospital Wing selama tiga hari karena cedera lengan dan pergelangan kaki.
Tidak hanya itu, detensi bersama Filch tidak kalah parahnya. Awalnya detensi bersama Filch berjalan lancar, dengan Draco dan Harry yang harus setiap saat mendengar ocehan Filch tentang kekesalannya yang harus mengasuh bocah-bocah ingusan.
Detensi keduanya hanya lah menemani Filch berkeliling Hogwarts sambil mendengar curcol Filch yang tidak henti-hentinya. Namun, semua ketenangan itu berubah saat mereka bertiga, maksudnya berempat kalau Mrs. Noriss masuk hitungan. Memergoki beberapa murid berada di luar asrama mereka.
Draco dan Harry yang melihat hal ini tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mengejar murid-murid itu. Perasaan berkompetisi tergambar jelas di wajah keduanya, perasaan ingin menang dan menangkap sang pelanggar peraturan benar-benar memacu adrenalin keduanya. Namun, dibandingkan saling bekerja sama keduanya malah berebut untuk menangkap si pelanggar peraturan yang masih sibuk lari dari kejaran keempatnya sehingga adu mantra pun tidak dapat dihindari, yang memulai adalah Draco, dia melemparkan mantra pada Harry agar terjatuh namun sayangnya reflek Harry yang cepat menyelamatkannya dari hal tersebut.
Harry yang tidak terima dengan perlakuan Draco terhadapnya, membalas Draco dengan mantra yang menyebabkan salah satu kaki Draco tidak dapat diturunkan sehingga dia berlari (coret) loncat-loncat dengan satu kaki. Pertarungan itu pun tidak berhenti sampai disitu, semakin lama keduanya makin melupakan tujuan awal mereka.
Keduanya jadi lebih fokus berkelahi dan adu mulut bahkan beberapa kaca jendela dan patung di sepanjang koridor, rusak bahkan hancur. Ada yang setengah kerusakannya ada pula yang hancur total karena dibanjiri berbagai macam mantra.
Filch benar-benar kesal dengan keduanya karena mereka menyebabkan murid-murid yang melanggar peraturan tersebut lolos begitu saja sehingga dia tidak mendapat tontonan gratis saat murid-murid itu di detensi oleh para profesor.
Filch, madam Pince maupun Hagrid tidak mau lagi mendetensi keduanya karena apapun yang mereka lakukan hanya akan membuat kacau. Keduanya bagaikan air dan minyak yang tidak bisa menyatu.
Alasan Hagrid karena dia selalu meresa bersalah pada keduanya karena setiap menjalani detensi darinya, mereka selalu berakhir di Hospital Wing walaupun ini bukan sepenuhnya salah Hagrid namun manusia setengah raksasa tersebut tetap menolak.
Madam Pince, saat ditanyakan alasannya, Profesor McGonagall merasa sangat menyesal telah menanyakan hal itu karena madam Pince langsung menatap Profesor McGonagall dengan tatapan sinis dan tajam.
"KAU MASIH MENANYAKAN HAL ITU MINERVA? Setelah apa yang kedua iblis itu lakukan pada Perpustakaanku? Kau tahu seberapa lelah aku membereskan kekacauan itu? dan yang paling menyiksaku adalah saat Perpustakaan tutup karena dalam perbaikan, murid-murid yang selalu datang ke Perpustakaan untuk menimba ilmu malah terdampar entah kemana. SEHARUSNYA KAU MELIHATNYA MINERVA…, tatapan penuh pengharapan itu agar Perpustakaan cepat dibuka" ucap madam Pince berapi-api.
Profesor McGonagall hanya bisa tersenyum simpul, memang tidak ada yang boleh macam-macam dengan Perpustakaan selama madam Pince yang bertanggung jawab.
Akhirnya, Filch yang terakhir untuk dimintai alasannya. Filch menjawab bahwa dia tidak suka anak-anak dan kejadian Draco dan Harry hanya menambah daftar alasan Filch tidak menyukai anak-anak khususnya anak-anak yang selalu membuat keonaran.
Profesor McGonagall hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala sedangkan Profesor Dumbledore tidak dapat menyembunyikan rasa terhiburnya. Karena Hagrid, Filch dan madam Pince tidak ingin lagi mendetensi keduanya akhirnya diputuskan detensi mereka yaitu mengerjakan esai Transfigurasi mengenai tema apapun dengan panjang 60 cm.
Akhirnya, Draco dan Harry menyelesaikan detensi terakhir dari Profesor McGonagall dan itulah akhir dari petualangan keduanya dalam menghadapi berbagai detensi yang datang silih berganti. Bagi Harry, berakhirnya detensi ini sangatlah penting karena dengan begini dia tidak perlu lagi mengalami tekanan batin dan fisik karena harus menghadapi Malfoy.
"Sigh… akhirnya semua selesai. Dengan begini aku bisa tidur nyenyak" ucap Harry sambil menyelimuti tubuhnya dan bersiap tidur.
-o0o-
"Pangeran, kita harus segera pergi"
"Tidak, aku tidak bisa meninggalkan rakyatku sendiri"
"Keyl"
"Ans, kenapa kau masih disini?"
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan bertarung sendirian"
"Dengar, kau punya takdir yang harus kau penuhi"
"dan takdir itu adalah bersamamu, Keyl"
"Tidak Ans, takdirmu adalah merawat anak kita"
Dia terdiam.
"Kau sekarang mengertikan Ans?"
Dia menangis.
"A… aku… aku mengerti, Keyl"
Seekor naga datang
"Bawa Ans pergi jauh dari sini"
"Tapi Keyl, aku tidak ingin berpisah darimu"
"Ans…"
DOAR… !
"Pangeran, musuh telah menembus dinding pertahanan ketiga"
"Baiklah aku segera kesana"
"Keyl"
Dia tidak dapat menghentikan tangisannya.
"Jaga bayi kita Ans"
Naga itu terbang menembus portal.
"KEYL… "
"Tolong jaga ans, Vastrum"
.
.
.
"Hah… hah… hah…, mimpi apa itu?" Harry terbangun dari mimpi aneh yang dia alami
"Mimpi buruk Harry?" tanya Ron
"Tidak apa-apa Ron. Ya, hanya sedikit pusing dan mimpi aneh"
"Itu pasti karena kau begadang mengerjakan esai ramuan. Tugas dari profesor galak itu memang selalu membuatku mimpi buruk" ucap Ron
Harry hanya tersenyum mendengar hal itu. Mungkin, mimpi itu muncul karena dia memang kurang istirahat. Namun, rasanya mimpi itu tidak lah asing bagi Harry. Rasaya ada sesuatu yang sangat penting yang dia lupakan.
"Harry…, kau jangan malamun saja. Ayo siap-siap"
"Ah, iya Ron"
"Tidak terasa seminggu lagi kita akan pulang lalu menghabiskan waktu libur di rumah selama 3 bulan dan saat datang lagi ke Hogwarts kita sudah menjadi murid tahun kedua" ucap Ron bersemangat
"Iya kau benar" ucap Harry sambil tersenyum
'Murid tahun kedua ya? Mudah-mudahan tahun depan aku bisa menjalani kehidupan yang normal'
-o0o-
"BOYS…, APA KALIAN MASIH TIDUR? CEPAT BANGUN!" teriak Pansy dari luar kamar
"Well, jam alarmku sudah berbunyi"
'^_^'
"Ya, Pansy aku sudah bangun"
"OK, KALAU BEGITU AKU TUNGGU. CEPAT…"
"Ok"
Dan Darco pun mulai siap-siap dan setelah selesai dia siap menghadapi hari begitu pun dengan Harry. Petualangan baru telah menanti keduanya dalam menjalani hari yang cerah ini.
TBC
Author Notes:
Bagaimana ceritanya seru ndak? Apa cerita pada chapter ini terlalu lebay ? atau gimana?
Tolong saran dan kritiknya ^_^
MAKASIH SEMUANYA….. ^_^
