Harry Potter ©J.K Rowling
Chapter 12
Trouble Before School
Di provinsi Wiltshire, Inggris terdapat sebuah hutan paling luas di daerah tersebut yang dilindungi oleh Negara karena hutan ini menjadi pemasok utama oksigen di provinsi itu.
Para warga yang tinggal disekitar hutan menganggap hutan tersebut adalah hutan suci karena setiap ada orang yang tersesat, mereka akan selalu dapat kembali kerumah, semua orang itu mengatakan bahwa seekor merak putih membimbing mereka keluar dari hutan dan setiap ada orang yang berbuat hal buruk, mereka akan selalu memimpikan merak putih membawa nasib buruk yang akan terjadi dikehidupan nyata.
Para warga menganggap hutan ini dihuni oleh peri pelindung yang jelmaannya seekor merak putih karena itu lah hutan ini sangat dilindungi tidak hanya oleh Negara tapi juga oleh para warga sehingga hutan ini sangat asri dan aman sejak dahulu, tapi sebenarnya bukan peri pelindung berwujud merak putih yang melindungi hutan tapi sebuah keluarga yang telah tinggal dihutan itu selama beratus-ratus tahun dan telah melindunginya dengan menggunakan sihir pelindung & kutukan bagi siapa saja yang merusak hutan.
Keluarga ini tinggal di sebuah manor megah yang terletak ditengah hutan, bila dilihat oleh para muggle hanyalah sebuah danau yang sangat luas. Manor ini dilindungi oleh sihir yang sangat tua dari para muggle dan penyihir yang datang tidak diundang dengan niat buruk, hanya kepala keluarga dan penghuni manor ini yang dapat mengizinkan siapapun yang boleh masuk, bila mereka tidak diizinkan untuk masuk mereka hanya dapat berdiri didepan gerbang manor.
Disalah satu ruangan yang terdapat pada manor tersebut duduk dua orang dewasa yang tampaknya sedang mendiskusikan sesuatu yang serius karena wajah mereka menyiratkan raut kekhawatiran.
"Lucius, apakah yang dikatakan oleh Philip benar?"
"Aku tidak tahu Cissi tapi firasatku mengatakan bahwa itu benar"
"Ya tuhan, apa sebaiknya Draco tidak kembali ke sekolah tahun ini?"
"Aku juga sempat berpikir seperti itu tapi bila hal ini dilakukan, aku khawatir para death eater akan curiga dan ini akan membahayakan nyawa Philip"
"Kalau begitu bagaimana kalau kita memberitahu rencana ini pada yang lain? Setidaknya mereka dapat mempersiapkan diri"
"Aku sudah mengirimkan surat dan meminta pendapat mereka, sekarang kita hanya tinggal menunggu balasan"
"Ya tuhan, kenapa Hogwarts tidak pernah tenang? Aku ingin Draco menjalani kehidupan sekolah yang normal"
"Aku juga berharap demikian Cissi, sejak tahun lalu Hogwarts menjadi berbahaya karena ada penyusup yang tidak diundang dan tahun ini pun begitu"
"Lucius, walaupun kita tidak tahu apa rencana yang sebenarnya tapi dari kata The Chamber of Secrets saja, aku yakin itu bukan hal yang bagus"
"Kau benar Cissi, walaupun Philip adalah salah satu anggota inner circle tapi sejak Voldemort membunuh istrinya, para anggota yang lain tidak dapat mempercayainya lagi bahkan akupun tidak tahu hal ini"
"Lucius, aku rasa kau dan Philip harus lebih waspada, aku khawatir terjadi sesuatu"
"Akanku ingat hal itu, terima kasih"
Suami istri tersebut melanjutkan diskusi dan tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu dan melangkah pergi ketika suami istri tersebut membicarakan hal yang lain.
"Dobby, apa kamu bisa membantuku?"
"Tentu saja tuan muda, Dobby siap membantu"
"Dekatkan kupingmu"
Anak laki-laki bermata perak yang telah menginjak umur 12 tahun, mulai membisikkan rencananya. Semakin peri yang bernama Dobby ini mendengarkan rencana tuan mudanya yang cerdas, makin berbinar pula matanya bahkan bibirnya tersirat senyuman kebangaan.
"Bagaimana? Kau bisa melakukannya?" Tanya Draco
"Tentu saja tuan muda, itu mudah"
"Shhh…, ingat ini hanya rahasia diantara kita berdua" sambil menautkan jari telunjuk pada bibirnya.
"Shhh…, baik tuan muda" dan Dobby mengikuti gerakan tersebut.
-o0o-
5 hari sebelum sekolah dimulai…
Setelah kejadian buruk yang disebabkan oleh Dobby, Vernon menjadi sangat marah dan hal pertama yang dikatakannya adalah…
"Kamu tidak akan pernah kembali ke sekolah itu lagi. Kamu tidak akan bertemu teman-temanmu yang aneh itu lagi. TIDAK AKAN!" Vernon berdengus menatap tajam Harry
Lalu untuk membuktikan perkataannya, Vernon membuat teralis jendela dan mengunci pintu kamar Harry. Mengubah ruangan sempit itu menjadi penjara sesungguhnya.
Malam pun tiba, Harry berusaha keras untuk tertidur namun bayangan mengenai dirinya yang tahun ini tidak akan kembali ke Hogwarts menghantui dirinya.
Bagi Harry, Hogwarts adalah rumah sebenarnya yang selama ini dia impikan dan dia ingin segera bertemu dengan teman-temannya, apalagi setelah mengetahui ternyata mereka mengirimkan surat padanya, kalau saja Dobby tidak menahan semua surat itu, Harry pasti tidak akan berpikir bahwa dia akan sendirian lagi.
Harry masih sibuk dengan pikirannya dan tidak menyadari bahwa ada cahaya yang terbang kearah jendela kamar, seperti bintang jatuh yang sengaja mengarah kepadanya.
Harry mulai menyadari sesuatu yang janggal ketika dia mendengar suara yang aneh, seperti suara mobil yang semakin mendekat kearahnya, dengan sigap Harry menggunakan kacamatanya dan melihat kearah jendela.
Betapa terkejutnya Harry ketika melihat mobil terbang terdiam tepat didepan jendela kamarnya. Kaca mobil diturunkan dan Harry sangat senang ketika melihat Ron berada dalam mobil tersebut, Harry sempat takut bila ternyata yang didalam mobil tersebut adalah death eater sedangkan Harry tidak dapat menggunakan sihirnya di dunia muggle.
"Hay, Harry"
"Ron, Fred, George. Sedang apa kalian disini?"
"Menyelamatkan kamu dong, Ayo cepat ambil kopermu"
Harry segera membereskan barang-barangnya dan dia melihat Ron mengaitkan kait ke teralis jendela kamar dan menariknya dengan menggunakan mobil terbang yang dikendarai oleh Fred.
Akibat tarikan yang cukup keras itu, tidak hanya teralis jendela yang lepas tapi juga kaca jendela kamar ikut hancur. Harry sempat tertegun dan teriakan Vernon serta Petunia menyadarkannya sehingga Harry segera menaruh koper serta Hedwig dalam bagasi mobil.
"Ayo cepat Harry" teriak Ron, Fred dan George
"PETUNIA, DIA KABUR!" Teriak marah Vernon sambil berlari menghampiri Harry
Harry segera naik ke mobil, namun kakinya tertangkap oleh Vernon
"Lepaskan!" teriak Harry
"TIDAK! Kau dan burung itu tidak akan pergi kemana-mana"
"Fred, cepat jalan" teriak Ron
Melihat situasi ini dan mendengar teriakan Ron, Fred segera menginjak pedal gas sehingga pegangan Vernon terlepas dari Harry dan dia terjatuh dari lantai dua, Petunia dan Dudley berteriak histeris. Untungnya Vernon jatuh ditumpukan daun kering sehingga dia selamat tanpa luka. Harry cs segera meninggalkan Privet Drive No. 4.
Tidak ada satupun dari mereka menyadari ada penyihir lain memperhatikan kejadian yang baru saja terjadi. Mata peraknya mengikuti mobil terbang tersebut hingga tidak terlihat lagi lalu melihat kearah muggle gempal yang berjalan terseok kearah pintu rumah yang telah dibuka oleh istrinya dengan wajah penuh amarah, mulutnya tidak berhenti mengucapkan sesuatu yang sepertinya penuh dengan umpatan ditujukan untuk keponakannya yang baru saja kabur dengan cara yang tidak biasa.
"Jadi Dobby, saat aku mengatakan lakukan apapun untuk menghentikan Potter, Aku tidak pernah memikirkan cara yang satu ini"
"Tuan muda, maafkan Dobby tuan" peri rumah tersebut mengusapkan air matanya yang berlinang
"Tidak apa Dobby, ini juga salahku yang tidak memberikan rencana yang tepat"
"Uhuuhuhuuu… Dobby memang bodoh tuan" Dobby memukul-mukul kepalanya dengan air mata yang terus berlinang.
"Dobby stop, apa yang kukatakan tentang menyakiti diri sendiri?" dan Dobby menghentikan tindakan tersebut
"Maaf tuan muda, Dobby janji tidak akan melakukannya lagi tuan"
"Dobby ingat, keluarga yang kau layani bukanlah Black. Kau sudah bebas dari keluarga itu sejak orang tuamu mengikuti ibuku saat menikah dan keluar dari rumah itu"
"Maaf tuan muda"
"Lagi pula aktingmu tadi sangat bagus, aku memperhatikan semuanya. Potter benar-benar panik saat mencoba menghentikanmu menyakiti diri sendiri"
"Hehehe… terima kasih tuan muda" ucap Dobby tersipu malu
"Hm, untung saja kita cepat mengirim pesan pada Weasley. Kalau sampai ada yang tahu bila Potter tidak kembali ke Hogwarts karena ulah peri rumah atau berhubungan dengan sihir, kita akan dalam masalah"
'Atau mungkin karena kau khawatir padanya?'
'Shut up'
"Dengar Dobby, kau harus menghalangi Potter untuk naik Hogwarts Express"
"Tapi bagaimana cara Dobby melakukannya tuan muda?"
"Tutup portalnya"
"Oh… Dobby mengerti, tuan muda memang paling cerdas"
"Baiklah, ayo kita kembali. Aku khawatir ibu akan mencariku"
"Baik, tuan muda"
Akhirnya penyihir serta peri rumah itu bergandengan tangan sambil memegang jam saku dan menghilang dikegelapan malam.
-o0o-
Bagi Harry hari ini adalah salah satu hari paling menyenangkan dalam hidupnya karena hari ini pertama kali baginya merasakan menjadi bagian dalam sebuah keluarga, keluarga Dursley selama ini tidak pernah menganggapnya sebagai keluarga jadi Harry tidak tahu bagaimana rasanya menjadi salah satu bagian dalam keluarga.
Harry terbaring di sebuah single bed sambil melihat langit-langit kamar, disampingnya ada single bed lain dan terdengar suara dengkuran, suara tersebut berasal dari Ron. Saat ini mereka berdua tidur dikamar Fred & George.
Yups, saat ini Harry sedang berada dirumah keluarga Weasley yang terletak di pinggiran kota Ottery St Catchpole Devon, Inggris. Ketika mereka berempat meninggalkan Surrey, mereka menuju Burrow (sebutan bagi rumah keluarga Weasley) dan Harry disambut hangat oleh Mr & Mrs Weasley walaupun adik perempuan Ron, Ginny sepertinya canggung pada Harry yang membuatnya juga sedikit salah tingkah tapi selain itu Harry sangat senang saat berada di Burrow.
Besok adalah Hari yang Harry tunggu-tunggu karena besok dia dan yang lain akan kembali ke Hogwarts. Seluruh kelengkapan tahun kedua sudah siap dan tertata rapi dalam kopernya. Berbicara tentang kelengkapan sekolah, Harry jadi teringat mengenai kejadian siang tadi saat berbelanja di Diagon Alley.
Flashback:
Tahun ini Ginny akan mulai sekolah di Hogwarts dan sudah menerima surat undangan saat sarapan, begitupun dengan anak-anak yang lain juga menerima surat mengenai keperluannya ditahun ajaran baru.
Untuk keperluan Harry dan Ron, mereka hanya perlu membeli buku mantra standar kelas 2, beberapa kertas dan alat tulis setelah sarapan mereka segera bersiap-siap. Harry tidak menyangka kalau dia akan kembali ke Hogwarts padahal dia sudah hampir menyerah, untung saja Ron, Fred dan George menolongnya.
"Ron, bagaimana kalian tahu kalau aku terkurung dikamar?" Tanya Harry karena seingatnya dia tidak dapat memberi kabar tentangnya apalagi Harry yakin semua suratnya ditahan oleh Dobby
"Ah, mengenai hal itu kami mendapat surat dari seseorang. Katanya dia melihat pamanmu memasang teralis dijendela kamar dan berkata kalau kau tidak akan kembali ke sekolah. Mungkin dia salah satu squib yang disuruh untuk mengawasimu"
"Benarkan? Aku tidak tahu kalau ada yang mengawasiku tapi aku tidak pernah bertemu dengannya dan juga bagaimana cara dia mengirimkan surat kedunia sihir kalau misalnya dia squib?"
"Sudahlah Harry, hal itu tidak penting. Paling penting itu kau bebas dan bisa kembali ke Hogwarts dan juga kau seharusnya berterima kasih padanya bukannya mencurigainya begitu"
"Iya kau benar Ron"
"Baiklah anak-anak ayo semua berkumpul" ucap Mrs. Weasley dan selanjutnya mereka berkumpul didepan perapian dengan menggunakan jubah lengkap lalu Mrs. Weasley mengambil sebuah tempat yang berisikan abu disamping perapian.
"Nah, Harry. Kamu duluan, nak" ucap Mrs. Weasley
"Tapi Harry belum pernah bepergian pakai serbuk Floo, mom" ucap Ron
"Serbuk Floo?" Tanya Harry
"Oh, kalau begitu kamu duluan Ron, jadi Harry bisa lihat caranya"
Ron mulai berjalan kearah perapian dan mengambil segenggam serbuk Floo lalu berteriak,
"Diagon Alley"
Tiba-tiba tubuh Ron diselimuti api hijau dan seakan-akan terbakar habis, Ron menghilang ketika api hijau itu mati, Harry cukup terkejut melihat hal itu.
"Lihat? Mudah kok, nak. Ayo jangan takut Harry" ucap Mrs. Weasley
Harry mulai berjalan kearah perapian dan mengambil serbuk Floo,
"Sekarang jangan lupa sebutkan dengan sangat jelas nama tempat yang dituju" ucap Mrs. Weasley dengan nada memperingatkan
"Diagonally (miring)" teriak Harry dan tubuh Harry diselimuti oleh api hijau dan menghilang
"Dia bilang apa tadi?" merasa ada yang salah dengan ucapan Harry, Mrs. Weasley bertanya kembali ke keluarganya.
"Diagonally (miring)" ucap Mr. Weasley
"Aku juga dengarnya begitu"
"Baiklah, sebaiknya kita segera menyusul mereka. Kita dapat mencari Harry setelah sampai disana" ucap Mr. Weasley
"Ya, kau benar Arthur. Ayo anak-anak berbaris"
Dilain tempat, Harry sampai dengan selamat walaupun tempat yang dituju sedikit bergeser dari seharusnya. Sedikit kotor diwajah dan bajunya tidak masalah.
'Dimana Ron? Apa aku salah tempat?' batin Harry
Harry memperhatikan keadaan sekelilingnya, ruangan itu terlihat seperti sebuah tempat koleksi barang-barang antik yang penuh dengan debu dan menyeramkan. Banyak tengkorak manusia dan hewan, ada juga tengkorak yang terlihat seperti campuran hewan dan manusia, wajah manusia tapi memiliki taring dan tanduk.
'Tempat apa ini?' tubuh Harry sedikit merinding memperhatikan semua benda ini.
"Ada yang bisa kubantu tuan?" tiba-tiba ada suara yang terdengar sangat serak dibelakang Harry
Harry melihat kearah pria bungkuk paruh baya yang sepertinya adalah penjaga tempat ini.
"Silakan dilihat-lihat tuan, kami menyediakan semua bahan yang bagus untuk praktek sihir apapun" ucap pria tersebut dengan senyuman lebar yang terlihat menyeramkan.
Ketika Harry mendengar hal itu, dia sedikit tertegun. Dalam pikirannya kalimat praktek sihir apapun terdengar ganjil dan saat itu Harry menyadari sepertinya tempat ini adalah sebuah toko yang menjual bahan praktek sihir bahkan bahan untuk sihir hitam.
"Tidak, terima kasih tuan. Saya hanya tersesat" ucap Harry gugup sambil berjalan mundur kearah pintu.
"Oh… tidak tuan, tidak pernah ada kalimat tersesat ketika memasuki Knockturn Alley"
'Oh tidak, aku benar-benar salah masuk tempat' batin Harry panik
Pria tersebut berjalan semakin mendekati Harry dan Harry pun berjalan mundur menjauhinya, tiba-tiba punggungnya menabrak sesuatu.
"Apakah ada masalah tuan-tuan?"
Seorang pria paruh baya tinggi berwajah cukup tampan, berambut pirang perak dan berkulit pucat muncul lalu menatap tajam kearah Harry dan pria penjaga toko.
"Oh, tuan M selamat datang. Tidak ada tuan, tidak ada masalah. Saya hanya melayani tamu" ucap pria penjaga toko sambil tersenyum, pria berambut perak tersebut memicingkan matanya dengan wajah dingin dan berkata,
"Jangan berkeliaran sembarangan tanpa pengawasanku" ucap pria tersebut sambil melihat kearah Harry dengan tatapan yang sangat berbeda saat dia melihat pria penjaga toko.
"Tuan M, anda mengenal anak ini?" tanya penjaga toko
"Dia putraku"
"Eh? Tapi tuan bukankah putra tuan itu…"
"Dia putraku"
"Tapi tuan…"
"Dia putraku" ucap pria itu dengan tatapan melotot pada penjaga toko
"Oh, iya dia putra anda. Maaf saya lupa, mungkin karena saya sudah lama tidak melihatnya. Hehehe"
"Ayo" ucap pria tinggi itu sambil menuntun Harry keluar dari toko
"Selamat jalan tuan M, hati-hati. Saya akan menunggu kunjungan anda selanjutnya" ucap pria penjaga toko dengan senyuman menyeramkan.
Jalanan depan toko dipenuhi oleh penyihir pria dan wanita menggunakan jubah hitam dengan tatapan kosong tapi saat melihat Harry berjalan melewati mereka, tatapan kosong tersebut menjadi tajam dan mereka menyeringai memperlihatkan deretan gigi hitam tak terawat, Harry bergidik ngeri saat melihat hal itu dan dia segera berjalan dengan cepat mengikuti pria tinggi yang telah berjalan didepannya.
Ketika melihat kepanikan dimata Harry, pria tersebut melingkarkan tangannya ke bahu Harry. Harry sempat terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu tapi Harry menyadari semua orang yang melihat hal itu segera menghindar dan mengalihkan pandangan mereka, seakan-akan takut dengan pria tinggi tersebut.
Harry tidak mengenal pria ini tapi satu hal yang Harry tahu dia dapat mempercayai pria ini. Tangan yang melingkar di bahunya terasa hangat dan nyaman, Harry berpikir apakah ini rasanya sentuhan seorang ayah ketika melindungi anaknya? Harry merasa aman saat bersama pria ini.
Tidak lama mereka keluar dari Knockturn Alley, pria tersebut menarik tangannya meninggalkan bahu Harry, ada sedikit perasaan sedih yang dirasakan oleh Harry ketika kehangatan itu hilang.
Pria tersebut melihat jubah Harry dan berkata,
"Apakah kau siswa Hogwarts?"
"Iya benar tuan"
"Apa yang dilakukan oleh seorang siswa di Knockturn Alley? Tempat ini bukanlah tempat aman dan cocok untuk siswa sepertimu"
"Saya salah menyebut Diagon Alley saat menggunakan Floo" ucap Harry tersipu malu saat mengatakan kecerobohannya.
"Apakah ini pertama kali kau menggunakan Floo?"
"Benar tuan" jawab Harry pelan sambil menundukkan kepalanya
Menyadari sikap Harry, pria tersebut tersenyum kecil dan berkata,
"Kau tidak perlu malu, hal itu wajar saat kau pertama kali menggunakannya bahkan saat pertama kali aku menggunakan Floo, aku tersesat dirumah tetanggaku" ucap pria itu lembut, Harry tersenyum mendengar hal itu.
"Terima kasih tuan sudah membantuku"
"Hm, kau sebaiknya segera ke Flourish & Blotts, para Weasley mencarimu sejak tadi. Ikuti saja jalan ini kau akan sampai disana"
"Terima kasih tuan" Harry melangkah pergi meninggalkan pria baik itu lalu Harry tersadar bagaimana pria tersebut tahu kalau dia datang bersama keluarga Weasley? Tapi ketika Harry menoleh, pria tersebut telah menghilang.
'Mungkin pria itu ada urusan lain makanya dia buru-buru' batin Harry
Harry mulai mencari letak toko Flourish & Blotts, tiba-tiba dia melihat Hermione berlari kearahnya
"Harry, kamu kemana saja? Semuanya khawatir padamu" ucap Hermione
"Maaf Mione, aku sedikit tersesat tadi"
"Apa yang terjadi dengan kacamatamu? Oculus Reparo"
"Salah satu mantra yang wajib kupelajari. Terima kasih Mione" ucap Harry sambil memperhatikan kacamatanya yang seperti baru.
"Sama-sama Harry. Ayo semuanya sedang menunggu" ucap Hermione sambil menarik tangan Harry kearah Flourish & Blotts.
Didalam Flourish & Blotts sangat ramai, orang-orang mengantri sambil memegang buku seperti acara book signing (penandatanganan buku) oleh seorang author. Harry dan Hermione segera menghampiri keluarga Weasley.
-o0o-
Setelah berfoto dengan Mr. Gilderoy Lockhart, Harry, Ron, Hermione, Ginny, Fred, George dan Percy segera keluar dari lingkaran para fans yang berbaris untuk minta tanda tangan dan segera mencari buku yang diperlukan.
Tiba-tiba Draco Malfoy muncul dan mengatakan Harry memamerkan statusnya sebagai seorang anak terkenal yang bahkan tidak bisa masuk ke toko buku tanpa masuk halaman utama Koran.
Harry sempat terkejut melihat Malfoy muncul tiba-tiba. Harry memperhatikan Malfoy, tubuhnya sudah semakin tinggi dalam waktu 2 bulan dia tidak melihatnya, tidak hanya itu rambut pirangnya juga makin panjang dan garis wajahnya terlihat lebih tajam, Malfoy dipandangan Harry terlihat dewasa untuk ukuran anak berumur 12 tahun.
Jujur saja Harry tidak ambil pusing dengan apa yang Malfoy katakan karena dia pernah mendengar ejekan yang lebih parah dan Harry merasa Malfoy tidaklah seburuk itu ada sisi manis dan juga baik dalam diri malfoy.
'Mungkin dia hanya malu memperlihatkannya' batin Harry masih sibuk mengamati Malfoy. Ingatan kejadian saat tahun pertama ketika Malfoy minta maaf dan menolongnya tidak mungkin bisa Harry lupakan.
Lamunan Harry tiba-tiba buyar ketika dia mendengar Ginny berdebat dengan Malfoy. Malfoy menanggapinya santai tapi dari nadanya terdengar sinis ketika Malfoy sendiri menyebut bahwa Ginny adalah pacarnya Harry, mungkin ini hanya perasaan Harry saja.
Semakin lama perdebatan makin tidak karuan bahkan Ron mulai ikut-ikutan. Ketika Harry mencoba untuk melerai mereka, tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang sangat cantik dan anggun menghampiri,
"Draco, apa kau sudah selesai?" ucap wanita berambut pirang yang terlihat lebih gelap dibandingkan rambut Malfoy
"Ah, iya aku sudah selesai ibu"
"Kalau begitu ayo cepat, ayahmu sudah menunggu"
"Sampai jumpa di sekolah Scar face" ucap Malfoy sambil menyeringai menatap Harry dan teman-temannya lalu meninggalkan mereka mengikuti wanita yang sudah berjalan lebih dulu.
"Ukh… Malfoy itu sangat menyebalkan. Memikirkan apa yang akan dia lakukan saat di sekolah nanti membuatku kesal" ucap Ron geram
"Sudahlah, tidak usah pedulikan dia. Ayo, kita masih harus membeli keperluan lain" ucap Hermione
Selanjutnya Harry dan teman-temannya melanjutkan belanja untuk keperluan sekolah.
Flashback end
Keesokan harinya Harry dan keluarga Weasley buru-buru menuju stasiun King's Cross, London untuk naik Hogwarts Express. Sesampainya disana Fred, George dan Percy segera melewati peron disusul oleh Mr & Mrs weasley dan Ginny.
Tinggal Harry dan Ron yang belum melalui peron , namun ketika Harry & Ron berlari kearah peron, tiba-tiba bukannya menembus dinding itu tapi mereka berdua malah menabraknya sehingga Harry dan Ron jatuh terpental dengan semua barang berserakan.
Semua orang memandang mereka dengan tatapan aneh dan kasihan lalu seorang kondektur mendekati mereka,
"Apa yang kalian lakukan?"
"Maaf, Troli kami sepertinya rusak" ucap Harry sambil memegangi tanganya yang kesakitan
Kondektur itu hanya menggeleng-gelengkan kepala dan pergi meninggalkan Harry dan Ron yang kebingungan.
"Kenapa kita tidak bisa masuk?" tanya Harry
"Aku juga tidak tahu" ucap Ron sambil meraba-raba tembok tersebut lalu Harry menatap jam dinding stasiun yang menunjukkan pukul 11:10
"Kereta berangkat tepat jam 11:00, kita ketinggalan" ucap Harry panik
"Harry, kalau kita tidak bisa masuk berarti ayah dan ibu juga tidak bisa kembali" balas Ron dengan wajah khawatir
"Mungkin kita tunggu saja di mobil" usul Harry
"Mobil?"
Saat itu Harry melihat tatapan Ron yang kelihatannya memikirkan sesuatu dan entah kenapa Harry mengerti arti tatapan tersebut.
Saat itu keduanya berpikir bahwa ini adalah ide yang bagus, kembali ke Hogwarts dengan menggunakan mobil terbang milik Mr. Weasley.
-o0o-
Coret benar-benar harus dicoret, kembali menggunakan mobil terbang adalah salah satu hal tergila yang pernah Harry lakukan. Harry tidak menyangka bahwa hal ini akan menimbulkan dirinya dan Ron berdiri dihadapan Profesor Snape dan terancam akan dikeluarkan dari Hogwarts.
Entah mengapa tahun ini masalah silih berganti datang menghampiri Harry sebelum sekolah dimulai. Diawali dari Dobby yang tiba-tiba muncul dikamarnya, Paman Vernon yang memasang teralis jendela, tersesat di Knockturn Alley, tidak dapat melewati peron , Ketinggalan Hogwarts Express, Hampir terjatuh dari mobil terbang, diserang pohon Whomping Willow, dilempar keluar dari mobil dan sekarang terkena ceramah Profesor Snape yang jelas-jelas sedang bad mood dan terancam akan dikeluargan dari sekolah.
Ya ampun, sepertinya tidak ada murid lain yang memulai sekolah dengan banyak masalah seperti Harry. Entah kenapa Harry ada perasaan buruk tentang ini, mudah-mudahan dia dapat melewati tahun ini dengan aman.
Profesor Snape menatap tajam kearah Harry dan Ron.
'Itupun kalau aku tidak dipulangkan malam ini juga' batin Harry menangis dalam hati
TBC
Author Note:
Bagaimana cerita chapter kali ini?
Yeah… tahun kedua dimulai ^_^ dan petualangan baru sudah menanti Draco & Harry
