Harry Potter ©J.K Rowling
Chapter 13
D. A. D. A CLASS
Malam semakin larut, semua murid Hogwarts masih menikmati makan malam setelah upacara sorting hat dilakukan di Great Hall sambil menanyakan kabar satu sama lain setelah liburan panjang.
"Draco honey bagaimana liburanmu?" tanya Pansy
Draco tidak terlalu mendengarkan ucapan Pansy padanya, dia sibuk dengan sup ayam yang hanya diaduk-aduknya tanpa ada tanda dia akan memakannya.
"Dia mulai lagi" ucap Pansy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah salah satu sahabatnya tersebut.
"Hm? Kemana Potter dan Weasley?" ucap Blaise tiba-tiba saat dia mendengar kericuhan di meja asrama Gryffindor
Saat itu juga tanpa sadar Draco langsung mengangkat kepalanya dan melihat kearah meja asrama Gryffindor. Nampak disana beberapa murid terlihat menanyakan sesuatu pada Granger, mungkin mereka menanyakan dimana Potter dan Weasley yang anehnya saudara Weasley yang lain sudah duduk manis sejak tadi di meja asrama.
Bahkan mereka pun terlihat kebingungan saat mereka menyadari kalau Potter & Weasley tidak ada saat turun dari kereta padahal tadi mereka berangkat bersama ke stasiun.
Melihat sikap Draco yang berubah, Blaise dan Pansy saling memandang seakan-akan mereka berbicara melalui telepati.
"Sepertinya Potter & Weasley menghilang, aku melihat saudara Weasley yang lain panik saat turun dari kereta dan ternyata Potter & Weasley tidak ada" ucap Pansy
"Kira-kira kemana mereka?" tanya Blaise
Entah Draco sadar atau tidak, saat Blaise & Pansy mengucapkan kalimat tersebut keduanya menatap kearah Draco untuk melihat reaksinya.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Blaise pada Draco
"Mungkin mereka memang tidak kembali ke Hogwarts tahun ini?" ucap Draco sambil melihat kearah meja Gryffindor
Walaupun dari kalimat itu sebenarnya tidak ada yang aneh karena kemungkinan itu selalu ada tapi dari nada Draco saat mengucapkannya, itu bukanlah sebuah pertanyaan tapi lebih kearah pernyataan.
"Apa maksudmu Draco?" ucap Pansy pelan
Jawaban yang Draco berikan hanya sebuah senyuman tipis kearah kedua sahabatnya. Draco meraih gelas yang berisi jus labu dan berkata,
"Kalau mereka memang tidak kembali ke Hogwarts tahun ini bukankah bagus? Aku bisa lebih tenang bila mereka tidak ada khususnya Potter si kepala pitak itu" sambil menyeringai Draco meminum jus labunya.
Tiba-tiba Draco melihat sebuah mobil terbang melintasi Great Hall dari arah jendela,
"Pppfffuuuhhh... uhuk... uhuk...uhuk..." karena kaget, tanpa sadar Draco tersedak jus labu yang sedang diminumnya.
"Ya ampun... Draco, apa yang kau lakukan?" teriak Pansy
"Memangnya kau melihat apa, sampai tersedak seperti itu?" ucap Blaise sambil membalikkan tubuhnya, penasaran dengan apa yang Draco lihat.
(Draco duduk berhadapan dengan Pansy dan Blaise jadi mereka berdua tidak melihat mobil terbang lewat karena membelakangi jendela).
"Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya kaget tadi ada lalat sangat besar terbang diatas kepala kalian" ucap Draco sambil mengeluarkan tongkatnya dan merapalkan mantra untuk membersihkan kekacauan yang dibuatnya.
Murid Slytherin yang sadar bahwa tontonan 'pewaris Malfoy mempermalukan diri sendiri dengan tersedak' selesai, melanjutkan kegiatan sebelumnya yang sempat terhenti.
'Hahaha... Aku berani bertaruh yang mengendarai mobil itu pasti bocah Potter & Weasley'ucap Sky sambil tertawa keras menggelegar mengisi kepala Draco
'Kau pasti menang Sky, karena aku juga berpikiran yang sama'
'Hahaha... ini adalah hasil dari idemu yang hebat dan bocah Potter itu tetap menemukan cara untuk tetap kembali'
'Shut up...' Draco merasa wajahnya memanas karena malu
'Caranya kali ini benar-benar harus diacungi jempol, hahaha...'
'Potterrr... kenapa dia sangat keras kepala?!'
Pansy dan Blaise hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah sahabatnya yang selalu keluar jalur dari karakternya bila berhubungan dengan anak laki-laki berambut hitam dan bermata hijau emerald, Harry Potter.
-o0o-
Harry dan Ron merasa sebagian jiwanya telah terbang entah kemana, dengan gontai mereka berjalan kearah dapur untuk makan malam.
Tidak ada niat sedikitpun untuk ke Great Hall karena khawatir mereka akan menjadi pusat perhatian, apalagi mereka belum mengganti pakaian santai menjadi seragam.
Setengah jam... setengah jam mereka harus mendengarkan ceramah + omelan dari Profesor Snape dengan setiap akhir kalimat selalu diancam dikeluarkan dari sekolah tapi untungnya Profesor Dumbledore dan Profesor Mcgonagall datang menyelamatkan hari.
Harry dan Ron tidak jadi dikeluarkan dari sekolah tapi sebagai gantinya pihak sekolah akan memberikan detensi dan mengirimkan surat pemberitahuan kepada wali mereka mengenai hal ini.
Harry tidak merasa keberatan mengenai detensi dan surat pemberitahuan karena dia yakin Dursley tidak akan peduli mengenai hal ini tapi berbeda dengan Ron, wajahnya langsung pucat pasi saat dia mendengar pihak sekolah akan mengirimkan surat ke orang tuanya.
Sampai di dapur, mereka menemui peri rumah untuk meminta disiapkan makanan untuk 2 orang lalu duduk terdiam menikmati makan siang + malam. Harry dan Ron merasa hidup kembali setelah makan, semua adrenalin dan dalam keadaan perut kosong benar-benar menguras energi mereka.
Selesai memakan makanan berat, tidak lengkap rasanya bila tidak didampingi dengan treacle tart sebagai pencuci mulut.
"Ibu pasti akan membunuhku"
Nada bicara Ron terdengar sedih dan ketakutan walaupun begitu tangannya tidak berhenti menyendok treacle tart. Melihat hal itu Harry diantara kasihan dan lucu dengan sikap temannya.
"Lebih menyebalkan lagi, tongkatku patah" ucap Ron dengan muka masam sambil melihat keadaan tongkatnya yang hampir patah.
"Kau beruntung bukan lehermu yang patah" ucap Harry mencoba menghibur temannya
Ron, " ... "
-o0o-
Keesokan harinya ketika Hermione melihat Harry & Ron di Great Hall sedang sarapan, tanpa jeda langsung melemparkan berbagai pertanyaan kenapa mereka tidak hadir di Great Hall kemarin sehingga mau tidak mau Harry dan Ron menceritakan kejadian yang mereka alami pada Hermione.
"Hm, kau benar Harry. Dari ceritamu sepertinya ada yang tidak ingin kau disini tapi kenapa?" ucap Hermione setelah mendengar cerita Harry & Ron.
"Aku juga tidak tahu Mione tapi aku berharap tahun ini berjalan dengan normal" ucap Harry sambil memakan sarapannya.
"Kau benar Harry, kejadian tahun lalu sudah cukup merepotkan"
"Hah..., dibandingkan tahun lalu aku lebih takut dengan reaksi ibuku nanti" ucap Ron tiba-tiba dengan wajah memelas
Harry dan Hermione memandang iba pada Ron, sambil menepuk pundaknya memberikan semangat padanya.
"Kau tenang saja Ron, mungkin kalau kau menjelaskan kenapa kau melakukan hal itu mungkin ibumu tidak akan terlalu marah" ucap Hermione menghibur
"Kau benar Hermione, mungkin aku akan menulis surat pada orang tuaku saat makan siang nanti" ucap Ron semangat.
"Itu baru semangat" ucap Harry sambil tersenyum
"Oh iya, Profesor Mcgonagall menyuruhku memberikan jadwal pelajaran ini pada kalian" Hermione menyodorkan jadwal pelajaran sekolah pada Harry dan Ron.
"Ukh... hari pertama pelajaran pertama... kenapa harus bersama Slytherin" wajah Ron terlihat kecut saat melihat jadwal pelajaran miliknya.
Hari Senin:
Jam:
9:30-10:30 = D. A. D. A with Hufflepuff
10:45-11:45 = Potions with Hufflepuff
12:00-13:00 = Lunch
13:15-14:15 = Histoy of Magic with Ravenclaw
14:30-15:30 = -
12:00 - 1:00 = Astronomy
Hari Selasa:
Jam:
9:30-10:30 = Herbology with Slytherin
10:45-11:45 = Transfiguration with Ravenclaw
12:00-13:00 = Lunch
13:15-14:15 = Charms with Ravenclaw
14:30-15:30 = D. A. D. A with Slytherin
12:00 - 1:00 = -
Hari Rabu:
Jam:
9:30-10:30 = Potions with Slytherin
10:45-11:45 = Herbology with Hufflepuff
12:00-13:00 = Lunch
13:15-14:15 = D. A. D. A with Ravenclaw
14:30-15:30 = Charms
12:00 - 1:00 = -
Hari Kamis:
Jam:
9:30-10:30 = Transfiguration with Ravenclaw
10:45-11:45 = Charms with Hufflepuff
12:00-13:00 = Lunch
13:15-14:15 = History of Magic with Slytherin
14:30-15:30 = Potions with Slytherin
12:00 - 1:00 = -
Hari Jum'at:
Jam:
9:30-10:30 = D. A. D. A with Slytherin
10:45-11:45 = Herbology with Ravenclaw
12:00-13:00 = Lunch
13:15-14:15 = History of Magic with Hufflepuff
14:30-15:30 = Transfiguration
12:00 - 1:00 = Astronomy with Slytherin
"Tahun ini kita banyak kelas bersama asrama yang lain" ucap Hermione
Tiba-tiba Fred dan George menghampiri mereka bertiga sambil tertawa dan berkata,
"Hahaha..., kau dalam masalah besar Ronnie ̴ ̴ ̴ " ucap Fred sambil tertawa bersama saudara kembarnya
"Apa maksud kalian?" tanya Ron bingung melihat kedua kakak kembarnya tertawa, Ron tahu dia dalam masalah tapi tidak mungkin kakak-kakaknya tahu secepat itu.
"Kami sudah tahu Ronnie..."
"Kemarin malam kami dan Percy..."
"Menghubungi ibu karena..."
"Kalian berdua..."
"Menghilang..." ucap Fred dan George bersamaan sambil menunjuk Harry dan Ron
"dan kami baru mendapat balasan pagi ini, ckckck untung kalian tidak dikeluarkan dari sekolah, apalagi hal ini masuk menjadi berita utama di daily prophet" ucap Percy tiba-tiba
Fred dan George memandang sinis pada percy, seakan-akan Percy menghancurkan kesenangan mereka. Sedangkan Percy, tidak peduli pada tatapan kedua adiknya dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Ibu tidak akan melepaskanmu begitu saja..." Ucap George
"Tapi kami..."
"Bangga padamu..."
"Hahaha..." Setelah mengatakan hal itu Fred dan George meninggalkan mereka sambil tertawa keras.
"Mati aku..." ucap Ron kembali frustasi
"Hah..." Hermione dan Harry hanya bisa menghela nafas melihat Ron kembali terpuruk
"Baiklah, kita pikirkan ini nanti. Ayo kita segera ke Greenhouse three, aku tidak mau terlambat dihari pertama" ucap Hermione mengalihkan pembicaraan.
Pelajaran pertama dihari pertama sekolah berjalan dengan lancar tanpa ada masalah bahkan Slytherin tidak membuat masalah tadi. Harry merasa tahun ini mungkin akan berjalan lancar, apalagi tadi dia melihat kejadian cukup langka.
'Apa dia suka anak kecil? Dia terlihat gemas dengan bayi Mandrake, hehehe itu sebelum jarinya digigit' batin Harry sambil tersenyum dan berjalan kearah kelas Transfiguration.
-o0o-
Kejadian saat makan siang tadi benar-benar membuat Ron syok tapi sebenarnya tidak hanya Ron tapi seisi Great Hall syok mendengarnya, Mrs. Weasley benar-benar marah dari Howler yang dikirimkannya.
Awal ketika burung hantu mengirimkan howler itu ke Great Hall, murid-murid yang sedang makan siang menertawakannya tapi ketika howler itu dibuka, Great Hall menjadi sunyi bahkan para Slytherin tidak banyak bicara dan suasana canggung sangat terasa setelah howler itu hancur.
Bahkan saat pelajaran charms, tidak ada yang berbuat keributan semuanya tenang mendengarkan penjelasan Profesor Flitwick.
Melihat momen langka ini, Profesor Flitwick merasa terharu dan bergurau,
"Kalau howler bisa membuat suasana kelas menjadi tenang, mungkin bagus juga mendapat howler setiap hari. Hahaha..."
Suasana kelas yang awalnya tenang tapi terasa canggung berubah menjadi suram dan mencekam.
"Ayo siapa yang mau mendapat howler berikutnya? Hahaha..." ucap Profesor Flitwick dengan senyuman lebar
Wajah murid Gryffindor dan Ravenclaw terlihat masam dengan senyuman kecut memandangi professor charms mereka yang masih asyik tertawa.
Kelas charms hari itu berlangsung dengan wajah sumringah Profesor Flitwick dan wajah masam murid-muridnya.
Tepat jam 14:15, kelas charms selesai dan masih ada waktu 15 menit sebelum D. A. D. A bersama Slytherin dimulai.
Harry, Ron dan Hermione segera membereskan barang-barang dan bergegas menuju kelas D. A. D. A yang berdasarkan informasi dari Hermione mereka akan diajari oleh professor yang baru yaitu Profesor Gilderoy Lockhart.
Para gadis terlihat sangat bersemangat bahkan Hermione tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya dengan mengulang kalimat yang sama berulang kali,
"Bisakah kalian percaya hal ini? Kita akan diajari oleh Gilderoy Lockhart. Aku merasa ini sebuah mimpi indah menjadi nyata"
Dan bila ada gadis lain yang mendengar hal ini, mereka akan menganggukkan kepala dengan wajah seperti bermimpi sambil tersenyum dengan pandangan memandang jauh, entah apa yang mereka bayangkan.
Para anak laki-laki hanya bisa melongo melihat tingkah teman-teman perempuan mereka. Tidak hanya murid Gryffindor tapi Slytherin juga menampakkan ekspresi yang sama, memandang aneh pada murid perempuan.
Sampai di ruangan kelas D. A. D. A, para perempuan menyerang kursi terdepan bahkan para Slytherin terlihat antusias.
"Apa kau sangat menyukai si Lockhart itu? Tumben sekali kau begini Pans" ucap Blaise kesal karena didorong paksa oleh Pansy yang ingin duduk dibangku depan.
"Profesor Lockhart, Blaise" ucap Pansy sambil melotot
Draco hanya memandang kedua sahabatnya dengan tatapan lucu tanpa berkomentar apapun. Sebenarnya Draco bingung apa yang membuat para perempuan (termasuk ibunya) mengagumi Profesor Lockhart, Draco akui kalau dia adalah penulis novel yang handal tapi sikapnya...
Tidak seperti seorang penyihir yang kuat dan juga aura sihir yang dimilikinya terasa lemah. Jangankan dibandingkan dengan Profesor Dumbledore bahkan Draco merasa dia lebih kuat dari pada si idola para kaum wanita itu.
Tapi... mengingat semua novelnya berdasarkan pengalaman pribadi, Draco jadi tidak yakin mengenai hal ini. Apa mungkin dia salah?
'Mungkin dia menyembunyikan kekuatannya?' ucap Sky
'Mungkin kau benar Sky, entahlah mungkin aku memang salah' batin Draco
Draco dan Blaise memilih duduk dibelakang sedangkan Pansy dan Daphne duduk dikursi paling depan.
"Kenalkan guru baru kalian yang mengajar D. A. D. A, aku. Gilderoy Lockhart" ucap Profesor Lockhart memperkenalkan dirinya.
Sejak pertama kali bertemu, Harry memang merasa Profesor Lockhart mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan Ron yang sejak awal memang tidak terlalu suka pada Profesor Lockhart sangat memperlihatkannya secara jelas melalui wajahnya.
"Angkatan Merlin kelas 3, anggota kehormatan liga pertahanan ilmu hitam dan pemenang lima kali kejuaraan senyuman mempesona versi witch weekly tapi aku tidak suka bicara soal itu, aku tidak mengalahkan Bandon Banshee dengan tersenyum padanya" Profesor Lockhart tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi rapi dan putih miliknya.
Rata-rata murid laki-laki terdiam seribu bahasa mendengar perkenalan panjang lebar Profesor Lockhart sedangkan murid perempuan sikapnya sangat berbeda, ada pancaran kekaguman di mata mereka.
"Ok, tugasku adalah menyiapkan kalian menghadapi mahluk paling jahat di dunia sihir" mendengar hal itu semua murid mulai merasa tegang bahkan murid perempuan yang awalnya terlihat seperti bermimpi juga mulai fokus.
"Kalian mungkin akan sangat takut berada di ruangan ini kalau tidak ada aku. Jangan berteriak, itu akan membuat mereka marah" ucap Profesor Lockhart dramatis lalu membuka kain penutup sarang yang berada didepan kelas.
"Cornish pixies?" ucap Seamus meremehkan
Saat melihat mahluk apa yang ada didalam sarang itu, rata-rata murid Gryffindor dan Slytherin tertawa.
"Cornish pixies yang baru ditangkap" ucap Profesor Lockhart dengan tegas
Mendengar perkataan Profesor Lockhart, jelas saja membuat semua murid laki-laki tertawa sedangkan murid perempuan menatap mereka sinis karena tertawa.
"Aku tahu kalau si Lockhart itu agak idiot, tapi tidak kusangka separah ini" ucap Blaise sambil tertawa
Sebenarnya Draco merasa perkataan Blaise sedikit tidak sopan tapi kalau boleh jujur dia juga setuju dengan hal itu bahkan severus mengatakan secara blak-blakkan kepada Draco kalau Profesor Lockhart adalah orang paling idiot yang pernah dia temui.
Draco teringat saat Profesor Dumbledore memperkenalkan Gilderoy Lockhart sebagai Profesor baru D. A. D. A, wajah severus menjadi sangat menyeramkan dengan aura kelam mengitarinya. Draco tahu setiap tahun dihari pertama sekolah, mood severus sangat buruk dan tahun ini mood-nya 2x lipat lebih buruk dari sebelumnya.
Sedikit saja mengacau di kelas potions, langsung mendapatkan detensi bahkan murid-murid Slytherin tidak diberi ampun, padahal ini masih hari pertama sekolah. Draco hanya bisa tersenyum canggung setiap mengingat kejadian saat kelas potions tadi.
"kalian semua bisa tertawa saat ini tapi pixies bisa menjadi perusak kecil yang jahat. Ayo lihat bagaimana kalian menghadapinya" ucap Profesor Lockhart dengan senyuman licik, berhasil membuyarkan lamunan Draco
Setelah mengatakan hal itu Profesor Lockhart membuka pintu sarang sehingga sekumpulan pixies terbang kearah mereka, mungkin lebih tepatnya sekumpulan mahluk jail dan bikin pusing kepala itu mulai menyerang mereka.
Suasana kelas berubah menjadi kacau balau, murid-murid berlarian keluar kelas.
"Ayo coba kumpulkan mereka. Mereka hanya pixies" teriak Profesor Lockhart mencoba mengalahkan suara teriakan panik para murid.
"Lepaskan" teriak Hermione saat salah satu pixies menarik-narik rambutnya
"Stop, jangan bergerak!" Harry segera mengambil buku dan memukul pixies tersebut
Suasana kelas makin tidak terkendali, pixies-pixies tersebut semakin liar bahkan pixies-pixies jahil itu mengaitkan jubah Neville pada lampu langit-langit dan membuatnya bergelantungan.
"Ukh... pixies-pixies ini membuatku gila" teriak Blaise yang mencoba melepaskan jubahnya dari pixies yang menariknya sejak tadi.
"Akh... berhenti menarik rokku" jerit Pansy penuh histeris
'Hahaha... kau harus akui Draco, ini kelas paling menyenangkan'
"Sangat menyenangkan" ucap Draco sinis sambil mencoba untuk meyingkirkan beberapa pixies yang menarik-narik rambutnya seolah-olah mereka ingin mencabutnya.
Duak...
Blaise berhasil menyingkirkan pixies yang menempel padanya.
"Pansy, jangan bergerak. Iya tahan seperti itu" dan sekali lagi Blaise berhasil menyingkirkan pixies yang menempel pada pansy dengan sepatunya.
"Draco, tahan jangan bergerak"
"Oh, tidak Blaise kau tidak akan mengayunkan sepatumu diatas kepalaku"
"Tenang Draco ini akan cepat berlalu, kau bahkan tidak akan menyadarinya"
"Hentikan... hen..." belum sempat Draco menyelesaikan kalimatnya, Blaise telah mengayunkan sepatunya ke arah Draco, karena panik Draco langsung jongkok untuk menghindari pukulan Blaise.
Duak...
Sekali pukul Blaise berhasil menyingkirkan 3 pixies yang mengganggu rambut Draco.
"Wush... wush... musuh telah dilumpuhkan" ucap Blaise dengan penuh percaya diri sambil menggerak-gerakkan sepatunya seperti pedang.
"Berhenti bergaya, ayo lari dari sini" ucap Pansy menyenggol sahabatnya
Saat Draco akan keluar bersama Blaise dan Pansy, dia melihat kearah Profesor Lockhart yang panik melihat situasi kelas.
'Walaupun ini lucu tapi ini harus dihentikan'
'Kau benar Sky. Ah, sepertinya Profesor Lockhart akan menghentikan kekacauan ini' Draco melihat Profesor Lockhart mengeluarkan tongkatnya.
Melihat kelas yang kacau, Profesor Lockhart akhirnya turun tangan dan berusaha meredam kekacauan. Dia menyingsingkan lengan bajunya dan mengacungkan tongkat dan berteriak,
"Peskipiksi Pesternomi!"
dan yang terjadi...
Sama sekali tidak ada perubahan alias tidak berpengaruh pada semua pixies itu bahkan salah satu pixies mengambil tongkatnya dan melemparkannya pada pixies yang lain.
'Hahaha...'
Draco, " ... "
Blaise dan Pansy sudah berlari keluar kelas menyusul anak-anak yang lain, Draco pun akan berlari keluar ketika dia melihat pixies yang membawa tongkat Profesor Lockhart memantrai kerangka naga yang digantung di langit-langit kelas dan memutuskan rantai penahannya.
"Shit" sebelum kerangka tersebut jatuh dan menimpa murid-murid lain yang kebetulan adalah Harry cs, Draco segera berlari kearah mereka bertiga dan berteriak,
"Protego"
Harry, Ron dan Hermione kaget saat tiba-tiba Malfoy berlari kearah mereka dan mengacungkan tongkatnya. Mereka semua berpikir kalau Malfoy coba memanfaatkan situasi ini untuk menyerang mereka.
Sebelum mereka bisa bereaksi, Malfoy sudah berada disamping mereka dengan tongkat teracung keatas mencoba menahan berat dari kerangka naga yang jatuh.
Saat itulah mereka sadar bahwa sebenarnya Malfoy melindungi mereka. Harry, Ron dan Hermione terlalu syok sampai tidak dapat berkata apa-apa. Pertama karena mereka hampir saja terluka dan kedua karena Malfoy menolong mereka.
Dengan situasi yang baru saja terjadi, Profesor Lockhart terlihat semakin panik dan berlari kearah ruangannya sambil berteriak menyuruh mereka berempat untuk memasukkkan semua pixies kembali kedalam sarang.
"Profesor Lockhart tung... " teriak Draco namun belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan hitam besar bergerak dibelakang mereka.
Kerangka naga itu... HIDUP...
Harry, " ... "
Ron, " ... "
Hermione, " ... "
Draco, " ... "
Profesor Lockhart, " ... "
Kerangka naga, "RRROOOAAARRR"
Para Pixies, "Yyyiiihhhaaa... "
.
.
.
Harry, Ron, Hermione & Draco, "AAA... "
Profesor Lockhart, "KYAAAA... "
Hal yang Draco takutkan terjadi, walalupun dia tidak tahu mantra apa yang mengenai kerangka naga itu sebelum para pixies memutus rantai penyangganya yang jelas pasti akan terjadi sesuatu, tapi...
Draco tidak pernah berpikir kalau kerangka itu akan hidup!
Sihir yang dimiliki oleh mahluk sihir memang sangat berbeda dengan manusia, mereka tidak perlu tongkat dan mantra bahkan beberapa sihir-sihir yang dihasilkan tidak dapat dilakukan oleh manusia.
"PROFESOR LOCKHART" teriak Draco tapi yang dilihatnya adalah Profesor Lockhart telah terbujur lesu di lantai alias pingsan disaat-saat genting.
Harry, " ... "
Ron, " ... "
Hermione, " ... "
Draco, " ... "
Sky, 'Hahaha... '
"Disini terlalu berbahaya, kita harus keluar dari ruangan ini" ucap Hermione tiba-tiba setelah dia menguasai dirinya.
Melihat keempat murid berusaha kabur, kerangka naga itu mengejar mereka
"Walalupun ini menyeramkan tapi itu hanya kerangka naga, dia tidak bisa menyakiti ki... " belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba semburan api menyerang mereka
"WUUUSSSHH"
Dari mulut kerangka naga itu keluar semburan api yang mirip dengan semburan api pada naga yang masih hidup.
"Kau dan mulut besarmu Weasley" ucap Draco sinis. Ron terdiam seribu bahasa.
"Ini tidak ada bedanya dengan naga asli" ucap Harry
"Sebelum kita keluar dari ruangan ini, mungkin kita akan mati terpanggang" ucap Ron ketakutan
Harry & Hermione, "RON... "
dan benar saja, para pixies menghalangi pintu kelas. Sontak Harry & Hermione menatap sinis Ron dan Ron hanya dapat tersenyum canggung.
"GRANGER" teriak Draco tiba-tiba
Teriakan Draco membuat Golden trio kembali waspada dan mulai mengeluarkan tongkatnya.
"Aku akan menghancurkan kerangka itu dan kau lindungi kami. Apa kau bisa?" dengan pandangan masih fokus ke kerangka naga, Draco mulai menyusun rencana agar dapat kabur dari tempat ini.
"Iya, aku bisa" mendengar jawaban mantap Hermione, Draco melihat kearah Harry & Ron
"Potter, Weasley singkirkan pixies-pixies itu"
Tanpa berkata apapun, Harry segera berlari kearah pintu ruangan kelas yang dipenuhi oleh pixies yang terlihat seperti menertawakan kemalangan mereka. Ron yang melihat sahabatnya segera menyusul, walaupun dia sedikit tidak ikhlas karena harus mendengarkan si Malfoy tapi Malfoy mungkin punya cara agar mereka dapat keluar dari sini.
Melihat persiapan yang dibutuhkan untuk rencananya telah siap, Draco segera berlari kearah naga tersebut.
"Apa yang dia lakukan? Dia mau bunuh diri?" teriak Ron dengan frustasi saat dia menoleh kearah kerangka naga
"RON... FOKUS" teriak Harry membuat Ron tersadar dan mulai membantunya menyingkirkan para pixies yang mulai bereaksi dengan semua serangan yang dilakukan oleh Harry dan Ron.
"Saat ini, kita hanya bisa mempercayai Malfoy" ucap Hermione
Menyadari bahwa salah satu murid berlari kearahnya, kerangka naga mulai bereaksi dan berlari mendekati Draco, melihat hal itu Draco tersenyum sinis dan ketika jarak semakin dekat, Draco mengacungkan tongkatnya dan berteriak,
"BOMBARDA MAXIMA"
Kerangka naga itu hancur berkeping-keping dan semua serpihannya menyebar keseluruh penjuru kelas.
"GRANGER SEKARANG" teriak Draco sambil berlari kearah mereka
"PROTEGO"
Hermione berhasil melindungi Draco, Harry, Ron dan dirinya dari serpihan kerangka naga yang bertebaran. Tidak lama setelah kabut hasil ledakan menghilang, mereka melihat kerangka naga tersebut telah hancur berkeping-keping.
"Woah, kita berhasil" ucap Ron senang sambil mengacungkan kepalan tangannya keatas
"Jangan senang dulu Weasley"
Mendengar peringatan Draco, Harry cs kembali waspada dan benar saja para pixies yang awalnya menunjukkan ekspresi jahil kini berekspresi sangar dan menatap tajam kearah mereka.
Tanpa dikomando para pixies terbang melesat kearah kerangka naga yang sudah menjadi serpihan dengan potongan tulang berserakan, seketika itu serpihan-serpihan yang awalnya bertebaran diseluruh penjuru kelas mulai bergerak kearah para pixies, seakan-akan serpihan tulang itu ada lah benda logam yang tertarik pada magnet sebagai pusatnya.
Para pixies terbang mengelilingi serpihan-serpihan kerangka naga yang mulai berkumpul dan semakin lama angin yang dihasilkan makin besar.
Tiba-tiba angin besar itu berhenti bertiup dan Draco melihat para pixies sudah tidak mengerubungi kerangka naga itu lagi tapi saat itulah terdengar suara auman yang sangat keras,
"RRROOOAAARRR" kerangka naga itu hidup kembali
Bel peringatan berbunyi keras di kepala Draco, Harry, Ron dan Hermione
"LARI..." teriak Ron
Sontak mereka berempat lari menuju pintu keluar, syukurlah pintunya sudah tidak dihalangi lagi oleh para pixies. Namun saat mereka hampir keluar dari pintu, kerangka naga sekali lagi menyemburkan api yang lebih besar dari sebelumnya.
"WUUUSSSHH"
"PROTEGO" dengan cekatan Harry langsung membuat prisai untuk melindungi mereka berempat.
"Perisai ini tidak akan bertahan lama" ujar Hermione melihat semburan api yang besar.
Peluh mulai muncul dikening Harry dan tangannya pun mulai gemetaran.
Setiap api itu dihempaskannya, semburan api yang lain akan datang sehingga Harry harus berkali-kali mengulang mantra pelindungnya dan hal ini sangat menguras energinya.
"POTTER" panggil Draco tiba-tiba sambil menepuk pundak Harry
"Dalam hitungan ketiga, cabut mantra pelindungnya" Harry menatap Draco seperti dia menatap orang gila. Kalau dia menghilangkan perisai ini, mereka berempat bisa mati terpanggang.
"Apa kau percaya padaku?" mendengar ucapan Draco, Harry mulai ragu dan melihat kearah dua sahabatnya, Draco sepertinya mengerti dengan keraguan Harry. Draco menoleh kearah Hermione dan Ron lalu berkata,
"Kalian berdua cepat keluar dari sini"
"Kami tidak mungkin meninggalkan kalian" ucap Hermione
"Iya itu benar" balas Ron
"Dengar, kalian hanya menjadi beban disini" ucap Draco dengan nada sinis
Mendengar perkataan kasar Malfoy, Ron dan Hermione sedikit kesal tapi dia benar. Hal ini akan menguras sihir Harry karena dia harus membuat perisai yang besar untuk melindungi mereka dan juga mereka bisa mencari bantuan dengan menghubungi salah satu profesor. Harmione dan Ron saling pandang dan terlihat telah mengambil kesepakatan.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Hermione pada Draco
"Aku akan memastikan Potter tidak mati karena kehabisan energi..." ucap Draco sambil menoleh kearah Harry dengan seringaiannya yang khas.
"Hei..." Harry keberatan dengan perkataan Draco tapi hal itu membuatnya tenang.
"Hermione, Ron... kami mengandalkan kalian" ucap Harry menoleh kearah kedua sahabatnya dengan wajah tersenyum.
Hermione dan Ron menatap punggung Draco dan Harry yang sigap melindungi mereka.
"Percayakan pada kami" ucap Hermione berlari keluar
"Kau harus bertahan mate..." ucap Ron menyusul Hermione
"Sekali lagi aku bertanya padamu Potter. Apa kau percaya padaku?" Draco mendapatkan jawabannya saat dia melihat anggukan kepala Harry.
"SATU... " Draco menggenggam erat tongkatnya dan mengacungkannya kearah para pixies dan kerangka naga.
"DUA... "
"AVIS"
Sekumpulan kawanan burung terbang kearah kerangka naga yang membuat pandangannya terganggu, untuk sesaat semburan api tersebut berhenti,
"SEKARANG" mendengar aba-aba Draco, Harry segera menghilangkan perisainya dan saat itulah kerangka naga mulai menyemburkan apinya lagi ketika tidak ada burung yang mengganggunya.
"WUUUSSSHH"
"AQUA ERUCTO"
Semburan api dan serangan jet air muncul bersamaan dan bertabrakan, keduanya saling beradu kekuatan.
"POTTER PERGI DARI SINI" teriak Draco
"AKU TIDAK MAU" balas Harry
"PERGI DARI SINI, AKU TIDAK KUAT LAGI" semburan api yang besar membuat Draco kesulitan, dia mencoba meningkatkan kekuatan jet airnya dengan menambahkan kekuatan sihir namun tetap saja semburan api itu lebih kuat.
"MALFOY..."
"Aku akan baik-baik saja, bukankah kau percaya padaku?" ucap Draco sambil tersenyum. Harry ingin sekali menyangkal perkataan Malfoy namun bila dia tetap keras kepala berada disini, dia hanya akan menjadi beban bagi Malfoy.
"Jaga janjimu, Draco..." Draco sempat tertegun dengan panggilan Harry padanya tapi hal itu terdengar... normal, seperti itu panggilan Harry sejak dulu padanya.
Setelah memastikan bahwa Harry sudah keluar dengan selamat, Draco melompat kesamping menghindari semburan api. Bila dia tetap memaksakan untuk bertarung dengan menggunakan jet airnya dapat dipastikan bahwa dia akan kalah.
Semburan api mengenai dinding bagian atas pintu dan menghancurkannya sehingga tembok yang hancur menutup pintu keluar.
"Kali ini aku benar-benar terjebak"
'Kau butuh bantuan?' Draco tersenyum mendengar perkataan Sky
"Butuh waktu untuk para profesor datang dan menyelamatkanku jadi ayo kita selesaikan ini Sky"
'Aku sudah menunggu ini sejak tadi'
Draco melepaskan medalion dari lehernya lalu meletakkannya dilantai, mengacungkan tangan tepat diatas medalion dan merapalkan mantra,
"DraRelesh" muncul cahaya keemasan memenuhi ruangan dan cahaya tersebut sangat silau bahkan para pixies memejamkan matanya.
"RRROOOAAARRRR..."
"Ayo kita tunjukkan bagaimana caranya bertarung" ucap Draco dengan senyuman liciknya, menatap tajam para pixies dan kerangka naga seolah sebelah kaki mereka telah masuk lubang kubur.
Sebenarnya bisa saja Draco menyelesaikan semua kekacauan ini sebelum berkembang menjadi parah tapi Draco harus menahan kekuatan dan pengetahuannya mengenai sihir karena saat ini dia hanya anak berumur 12 tahun dengan pengetahuan sebatas mantra standar.
Pengetahuan Draco sebenarnya lebih dari itu, dia lebih unggul dibandingkan teman-teman angkatannya bahkan pengetahuan yang dimilikinya melebihi murid tahun ketujuh. Sejak kecil Draco telah di didik dengan berbagai subjek pelajaran dan dia dapat menguasainya dengan mudah.
Saat umur 3 tahun, Draco telah belajar membaca dan mempelajari mantra standar, umur 4 tahun dia mulai menggunakan tongkat khusus anak-anak untuk mempraktekan semua mantra yang telah dipelajarinya dan mempelajari cara meramu potions sederhana, umur 5 tahun dia mulai belajar duel.
Umur 6 tahun, Draco sudah mempelajari semua subjek yang setara dengan tahun pertama, kedua dan ketiga Hogwarts, umur 7 tahun dia mempelajari materi tahun keempat dan kelima, umur 8 tahun dia mempelajari materi tahun keenam dan ketujuh.
Umur 9 dan 10 tahun dia mempelahari mengenai mantra dan potions lebih kompleks dan latihan duel yang lebih keras dan intens tapi tentu saja disela-sela pelajaran sihirnya, Draco juga mempelajari mengenai politik, ekonomi dan paling penting tradisi keluarga serta kewajibannya sebagai pewaris keluarga Malfoy.
Dari umur 3 tahun, yang Draco ingat adalah belajar dan belajar tapi itu tidak berarti bahwa dia tidak suka sebaliknya dia sangat menyukainya. Membaca adalah hobinya yang paling utama dan bagi Draco mempelajari sesuatu yang baru adalah petualangan dan pengalaman yang luar biasa.
Dengan semua pelajaran ini awalnya orang tua Draco sedikit khawatir, putra mereka akan stress dan merasa terbebani tapi Draco membuktikan bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Terima kasih pada jadwal yang dibuat oleh ibunya, Narcissa. Pembagian waktu untuk belajar dan istirahat terbagi rata.
Sebenarnya ada hal yang disembunyikan oleh Draco pada orang tuanya yaitu setiap hari sejak umurnya 5 tahun, dia belajar duel dengan Sky.
Sky mengajarinya tidak hanya cara berduel tapi juga ilmu bela diri dan mantra-mantra yang berguna digunakan saat duel. Selain itu, Sky juga mengajari mantra yang bahkan tidak pernah Draco dengar atau baca di perpustakaan Malfoy padahal perpustakaan keluarganya tidak kalah dengan perpustakaan Hogwarts.
Mantra yang digunakan oleh Voldemort pada tahun pertamanya adalah salah satu mantra kutukan yang diajarkan oleh Sky. Semua mantra kutukan yang diajarkan Sky hanya sebatas teori, sekedar menambahkan informasi dan persiapan untuk Draco kalau suatu saat dia melihat mantra ini digunakan dan Draco baru melihat bagaimana reaksi salah satu mantra kutukan itu saat Voldemort menggunakannya.
Kali ini Draco hanya bersama Sky dan... Profesor Lockhart yang masih pingsan jadi dia bisa menggila dan tidak perlu menahan kekuatannya.
Sky dan Draco berlari kearah kerangka naga, melihat hal itu para pixies sontak menjadi tameng bagi kerangka naga.
"Confringo" bola api keluar dari tongkat Draco kearah para pixies,
DDDOOOAAARRR...
Bola api itu meledak dan menghancurkan pertahanan para pixies, Sky langusng menyerang kearah kerangka naga.
Ukuran badan sama tapi bobot jauh berbeda dan itulah keuntungan Sky sehingga dia bisa menahan kerangka naga dengan mudah. Ketika itu lah Draco melihat kelemahan kerangka naga tersebut, mengapa kerangka itu bisa menyatu kembali.
Tepat dibagian dada kerangka naga tersebut ada semacam bola cahaya dan didalmnya ada 1 pixies yang memegang tongkat sihir, kemungkinan besar adalah tongkat Profesor Lockhart. Menyadari hal itu, Draco mengacungkan tongkatnya kearah pixies tersebut namun pixies yang lain menghalangi.
"Sepertinya mereka tidak akan membiarkanmu Draco"
"Tenang, aku bisa mengatasinya. Tahan sedikit lagi Sky"
"Ok"
Draco kembali mengacungkan tongkatnya kearah para pixies yang mengganggu,
"Aqua Eructo" kekuatan jet air yang Draco gunakan jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya karena dia hanya ingin menyingkirkan para pixies.
Saat para pixies mencoba menghindari serangan, saat itulah Draco melihat celah kecil dan dia dapat melihat pixies yang memegang tongkat tersebut.
Dengan cekatan, Draco mengangkat tangannya dan berkata,
"Accio tongkat sihir Profesor Lockhart"
Wandless Magic telah dipelajari oleh Draco sejak dia berumur 5 tahun dibawah ajaran Sky.
Dengan mulus tongkat itu mendarat ditangannya. Seringai licik dan tatapan tajam muncul diwajah Draco, ada kepuasan dalam dirinya mengalahkan mahluk sihir yang sejak tadi membuatnya sakit kepala.
"Hancurkan Sky"
"Aku sudah menunggu sejak tadi" Sky menghancurkan kerangka naga itu hanya dengan kekuatan fisiknya dan seketika kerangka naga yang sejak tadi meronta, berhenti tidak bergerak lagi.
Para pixies yang melihat hal tersebut mulai merasakan keringat dingin pada kening mereka. Ekspresi yang awalnya terlihat marah itu mulai tersenyum canggung dan sedikit raut ketakutan disana.
"Tenang aku tidak akan menyakiti kalian" walaupun Draco mengatakan kalimat penuh pengampunan itu tapi ekspresi wajahnya 180 derajat berbeda. Senyuman lebar menghiasi bibir namun senyuman indah itu tidak terlihat dimatanya.
Tatapan mata Draco seperti melihat mahluk yang akan mati, dingin dan tidak berperasaan. Para pixies seketika itu merasa panik, seolah-olah mereka berdiri di depan gerbang kematian.
Perasaan panik menghiasi ruangan, para pixies terbang keseluruh kelas mencari pintu keluar.
"Well, pekerjaanku disini selesai. Kau bisa mengurus mahluk-mahluk kecil ini"
"Terima kasih Sky"
Draco melihat para pixies yang berterbangan dan hal ini membuatnya lebih sakit kepala,
"Immobulus"
Para pixies tiba-tiba berhenti, gerakan mereka membeku hanya mata yang bergerak. Draco segera mengumpulkan para pixies dan memasukkannya kedalam sarang.
Sampai saat ini belum ada tanda-tanda kedatangan para profesor.
Draco berjalan perlahan kearah Profesor Lockhart yang masih pingsan dan berkata,
"Saya tahu anda tidak pingsan profesor" Draco menatap dingin kearah profesor yang terbaring dihadapannya
"Tongkat anda ada pada saya" Profesor Lockhart tetap tidak bergeming
"Hm, sepertinya Profesor Lockhart benar-benar pingsan" kerutan pada dahi Profesor Lockhart menghilang
"Mungkin aku harus menyadarkannya, Bat Bogey Hex mungkin cocok"
Kedua kelopak mata Profesor Lockhart tiba-tiba bergerak dan menampakkan matanya yang berwarna kecoklatan.
"Dimana aku?" ucap Profesor Lockhart seperti orang bingung
"Apa saja yang anda lihat?" tanya Draco dengan tatapan tajam kearah Profesor Lockhart
"Mr. Malfoy? Kenapa kau disini?" tanya balik Profesor Lockhart
Saat ini Draco benar-benar tidak mood untuk berbicara berputar-putar. Draco mengacungkan tongkatnya kearah leher Profesor Lockhart,
"Apa saja yang anda lihat?" tanya kembali Draco
"A... Ak... Aku tidak melihat apa-apa"
"Profesor sepertinya kau tidak menyadari keadaanmu sekarang" senyuman sinis menghiasi bibir Draco
Profesor Lockhart menatap tongkat miliknya yang masih dipegang oleh Draco.
"Ak... aku han han hanya me me melihat nag naga hi hitam mun muncul d d dan... "
"Lupakan hal itu" ucap Draco dingin sambil menekan tongkatnya lebih keras
"I ii iya a ak aku jan janji tid tidak a a akan mem mem beritahukan pa pada si siapapun"
"Tidak profesor, maksudku hilangkan dari memorimu"
"Tu tu tung... " belum sempat Profesor Lockhart menyelesaikan kalimatnya, Draco sudah menyentuh kening Profesor Lockhart dan merapalkan mantra,
"Obliviate"
Profesor Lockhart langsung pingsan setelah Draco memilah memori yang ingin dihapusnya.
BBBOOOMMM...
Potongan tembok yang menghalangi pintu keluar hancur berkeping-keping lalu Profesor McGonagall, Profesor Snape serta beberapa murid Gryffindor dan Slytherin masuk ke ruangan D. A. D. A yang sudah tidak berbentuk.
"DRACO..." teriak Pansy yang berlari kearahnya, disusul oleh Blaise
"Kau baik-baik saja mate?" tanya Blaise
"Tidak pernah lebih baik dari ini" ucap Draco sambil menyeringai dan dibalas oleh kedua sahabatnya.
"Mr. Malfoy, apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi disini?" ucap Profesor McGonagall setelah memeriksa keadaan Profesor Lockhart yang pingsan dan melihat isi kelas yang telah hancur.
"Bukankah Granger telah menjelaskannya profesor?" tanya balik Draco dengan wajah santainya yang khas
Mendengar hal itu Profesor McGonagall ingin membalas perkataan Draco namun ditahan oleh Profesor Snape,
"Kita harus membawanya dulu ke Hospital Wings Minerva. Hal yang lain bisa dilakukan nanti"
"Hah..., kau benar Severus"
"Wow... ini mengingatkanku akan insiden natal tahun lalu" ucap Profesor Flitwick yang baru sampai.
"Hehehe, kau benar Filius" ucap Profesor Sprout
"Filius, Pomona tolong bantu aku membereskan kelas ini. Severus, tolong kau bawa Mr. Malfoy dan Gilderoy ke Hospital Wings"
Profesor Snape menggiring Draco dan Profesor Lockhart kearah Hospital Wings diikuti oleh Pansy dan Blaise.
Sayup-sayup Draco mendengar Profesor McGonagall menyuruh semua murid Gryffindor dan Slytherin yang mengikuti kelas D. A. D. A untuk kembali ke asramanya masing-masing.
Selain itu, Draco juga mendengar suara Potter yang berdebat dengan Granger. Dari perdebatan itu yang Draco tangkap ialah Potter ingin mengikutinya ke Hospital Wings tapi karena perintah Profesor McGonagall, Granger melarangnya dan menyeret Potter kembali keasrama.
Draco harus berterima kasih pada Granger karena menyeret Potter menjauhi dirinya. Jujur saja saat ini Draco sedang tidak mood untuk menjelaskan semua kejadian ini.
Entah mengapa Draco akan merasa canggung bila bertemu dengan Harry, Hermione dan Ron lagi.
Draco pernah membaca di buku biography kakeknya dan disana ada kalimat yang tiba-tiba Draco ingat dan sangat cocok dengan situasi kali ini, hal itulah yang membuatnya merasa canggung.
; Salah satu cara menemukan kawan sejati yaitu bertarung bersama karena kau perlu mempercayai orang itu untuk melindungimu dari belakang ;
Begitulah bunyi kalimatnya.
Draco tidak tahu harus bersikap bagaimana mengenai hal ini. Namun, berdasarkan pendapat Severus, pansy dan Blaise, dia hanya perlu bersikap biasa saja. Anggap hal itu tidak pernah terjadi dan bila mereka tetap memaksa menanyakan hal itu katakan saja kalau kau terpaksa karena kau juga ingin selamat.
'Bila bocah Potter bertanya kenapa kau mau melindunginya?' Tanya Sky menggoda Draco
'No, Comment' balas Draco dengan nada dingin
"Baiklah Mr. Malfoy, semuanya baik-baik saja tidak ada luka fisik, hanya energi sihir yang terkuras. Jadi kusarankan kau istirahat selama 2 hari" ucap Madam Pomfrey setelah memeriksa keadaan Draco
"Terima kasih Poppy" ucap Profesor Snape
"Apa aku bisa istirahat di asrama saja madam?" tanya Draco
"Aku menyarankan kau istirahat disini Mr. Malfoy. Bila di asrama, kau pasti tidak bisa istirahat total karena terganggu murid yang lain"
"Tenang saja Poppy, asrama Slytherin tidak sama dengan asrama lainnya" ucap Profesor Snape dingin
Madam Pomfrey, " ... "
Melihat situasi yang tegang, Blaise mencoba menengahi dan berkata,
"Madam bila Draco istirahat di asrama, kami yang akan menjaganya dan mengawasinya, kalau perlu 24 jam" ucap Blaise sambil mengeluarkan senyuman mautnya yang malah terlihat imut diwajahnya yang masih anak-anak
"Dan... juga anda pasti punya pasien lain yang harus diurus. Profesor Lockhart bahkan belum sadar" ucap Pansy
Madam Pomfrey melihat kearah Profesor Lockhart yang masih pingsan dan menggelengkan kepalanya.
"Hah... baiklah aku mengerti tapi ingat Mr. Malfoy kau tidak boleh menggunakan sihir berlebihan selama masa penyembuhan"
"Aku akan menulis surat izin pada semua profesor yang kelasnya diikuti oleh Mr. Malfoy selama 2 hari kedepan" ucap Profesor Snape
"Hm, sebaiknya memang begitu" ucap Madam Pomfrey setuju dengan usul Profesor Snape
"Jadi, aku sudah bisa pergi?" tanya Draco
"Iya Mr. Malfoy, kau sudah boleh kembali ke asrama"
Draco, Pansy, Blaise dan Profesor Snape berjalan keluar dari Hospital Wings menuju asrama Slytherin
"Sev, apakah trio Gryffindork itu sudah diperiksa?" tanya Draco tiba-tiba dengan nada santai
"Aku menjalankan diagnosa pada mereka saat melaporkan hal itu padaku dan Minerva. Mereka baik-baik saja, hanya kelelahan"
"Hm..."
Draco tahu dia tidak perlu berpura-pura dihadapan Severus karena Severus adalah ayah baptisnya tapi bagi Draco Severus lebih dari itu, dia adalah...
Seorang guru sejak Draco mulai belajar membaca, seorang sahabat sejak Draco mengenal apa itu teman dan orang tua sejak Draco mengenal Severus...
Draco menyayangi Severus dan Draco tahu dibalik wajah dingin itu Severus juga menyayangi Draco dan sudah dianggap sebagai anak bungsunya.
TBC
Author note:
Bagaimana cerita kali ini?
Tolong saran dan kritiknya ya
Terima kasih
^_^
