Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 15
Hospital Wing
(What a surprise!)
Ketika Draco membuka kedua matanya, terlihat langit-langit tinggi berwarna putih dan dia menyadari kalau saat ini sedang berada di Hospital Wing. Draco mencoba bangkit dari posisi berbaring tapi dia tidak sanggup karena kepalanya sangat pusing dan punggungnya terasa nyeri.
Sayup-sayup Draco mendengar suara ayahnya, Severus dan madam Pomfrey dibalik tirai putih yang mengelilingi tempat tidurnya dan sepertinya mereka belum menyadari kalau Draco sudah sadar.
'Draco, kau baik-baik saja?' kalimat yang Sky lontarkan terlihat kalau dia khawatir pada Draco, tapi dari nada suaranya sangat terlihat kalau dia menganggap ini sebagai hiburan
'Selain kepalaku yang rasanya hampir pecah dan punggung nyeri, ya aku baik-baik saja' balas Draco dengan nada datar
'Hey, kau tidak perlu sarkastik begitu' ucap Sky dengan nada terluka
'Kalau kau mau tertawa, tertawa saja' Draco merasa kepalanya bertambah pusing karena meladeni Sky yang penuh drama
'PFFT… HAHAHA… kau harus lihat wajahmu saat pingsan Draco… Hahaha… bagaimana bisa kau sebodoh ini, HAHAHA…'
Suara tawa Sky mengelegar didalam kepala Draco yang membuatnya semakin pusing dan ditambah lagi, sindiran demi sindiran dilontarkan Sky dan membuat Draco sedikit jengkel.
'Aduh… kau benar-benar tidak pernah membuatku bosan… ckckck, padahal kau bisa saja mengatasi bludger itu dengan mudah tapi kau malah… Hahaha… apa kau sedang tebar pesona pada Potter?'
Karena tidak terima dengan sindiran Sky jadi Draco membalasnya dengan ketus,
'Kau pikir aku gila? Mana ada murid tahun kedua yang bisa wandless magic'
Draco tidak mau menjawab soal tuduhan Sky mengenai dirinya yang tebar pesona pada Potter, karena nanti urusannya akan panjang
'Ada kok' balas Sky santai
'Hah, Siapa?' Draco cukup terkejut dengan hal itu, dia tidak tahu kalau selain dirinya ada murid lain yang bisa wandless magic
'Kau, bukannya kau murid tahun kedua Draco?' balas Sky dengan nada jahil
Draco, '…'
'HAHAHA…'
Seharusnya Draco tidak menganggap serius perkataan Sky saat situasi seperti ini, dan untungnya dia tidak menyadari kalau Draco sengaja tidak menjawab pertanyaannya yang terakhir.
Tiba-tiba, tirai putih yang menutupi Draco dari keadaan sekitar terbuka dan disana berdiri sosok yang sangat mirip dengannya, surai pirang pucatnya tergerai panjang dengan garis wajahnya yang tegas, tanpa ekspresi tapi sorotan dari kedua bola mata peraknya itu menghianati isi hati sosok tersebut.
Ayahnya menyadari kalau Draco sudah sadar dan berjalan mendekati ranjangnya lalu dengan nada suara dingin, memangil Severus dari balik tirai putih itu.
Severus segera masuk dan menghampiri Draco, dia mengeluarkan tongkatnya dan sepertinya memeriksa keadaan Draco lalu tidak lama kemudian secarik kertas muncul diudara berisi tentang kondisi Draco saat ini.
Severus membaca kertas tersebut dan memberikannya pada Lucius, ayah Draco. Kemudian, Severus mengambil satu dari tiga botol ramuan di meja samping tempat tidurnya. Botol ramuan itu berwarna merah bening dengan cairannya terlihat seperti gel.
"Draco, berbaliklah" perintah Severus dengan nada yang sangat berbeda saat dia mengajar
Tanpa perintah dua kali, Draco berusaha bangkit dan membalikkan badannya tapi sekali lagi kepalanya sangat pusing. Tiba-tiba, Draco merasakan tangan dingin membantunya untuk membalikkan badannya.
Dengan bantuan ayahnya, saat ini Draco berbaring dengan posisi tengkurap lalu dia merasakan dingin dipunggungnya dan menyadari kalau Severus sudah melepaskan baju Quidditch-nya.
Severus membuka tutup botol ramuan tersebut dan menuangkannya pada punggung Draco yang terlihat sangat merah, sambil meratakan gel yang terasa dingin itu Severus menjelaskan fungsi dari ramuan tersebut
"Ramuan ini akan menyembuhkan rasa nyeri yang kau rasakan"
Benar saja, Draco merasa nyeri pada punggungnya mulai berkurang lalu Severus mengubah seragam Quidditch menjadi baju tidur dan memakaikannya pada Draco.
'Sihir memang sangatlah praktis' batin Draco
"Istirahatlah, besok kau akan merasa lebih baik" ucap Severus sambil menutup botol ramuan tersebut dan mengambil botol ramuan lainnya yang berwarna hitam lalu menyodorkannya pada Draco untuk diminum agar rasa pusing dikepalanya menghilang.
Lucius membantu putranya, mengubah posisinya menjadi duduk agar memudahkannya untuk minum ramuan yang diberikan oleh Severus. Dengan senang hati Draco meminum ramuan tersebut yang rasanya sehitam warna ramuan itu, rasanya seperti air danau hitam yang penuh dengan tinta gurita raksasa tapi ramuan itu secara ajaib menghilangkan rasa pusing dikepala Draco.
Severus meraih botol kosong itu dari tangan Draco dan meletakkannya di meja, kemudian duduk dikursi samping ranjang Draco sedangkan Lucius duduk di depan Draco di atas ranjangnya.
Keduanya menatap Draco tanpa ekspresi, sedangkan Draco tentu saja merasa sangat tidak nyaman akan hal itu tapi satu hal yang dia tahu, kedua pria yang sangat dihormatinya ini tidak marah akan tindakan Draco yang sangat tidak mencerminkan seorang Slytherin.
"Jadi… ada yang ingin kalian katakan?" tanya Draco berusaha memecah suasana cangung ini
"Hah… jujur saja Draco tindakanmu ini…" Lucius hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
"Berhentilah bermain-main Lucius" melihat reaksi Lucius, Severus hanya memutar bola matanya
Severus lalu menatap kearah Draco dan berkata "Draco, tindakanmu ini sangat berbahaya"
"Maaf Severus" ucap Draco sambil menundukkan kepalanya
"Menurutku masih lebih parah saat dia umur 8 tahun" ucap Lucius tiba-tiba, menghentikan ucapan nasehat Severus
"Ayah…" Draco hanya tersenyum mendengar perkataan ayahnya dan sesuai dugaannya ayahnya menganggap hal ini sangat lucu dan hanya masalah sepele
Draco tumbuh menjadi anak yang serba ingin tahu sehingga sering kali membuatnya terluka bila ingin mencoba hal-hal baru, Lucius dan Narcissa sudah biasa menghadapi Draco yang seperti ini.
Awalnya Narcissa hampir pingsan setiap kali Draco terluka tapi lama-lama mulai terbiasa sedangkan Lucius selalu membebaskan Draco melakukan apapun yang dia mau, tidak pernah memarahi atau melarangnya kecuali bila hal itu sudah keluar batas.
Seperti saat Draco umur 8 tahun saat liburan ke Amerika bersama keluarganya, dia dan sepupunya menyebabkan masalah yang hampir menghancurkan kantor kementrian sihir Amerika.
Alhasil Lucius memarahinya habis-habisan, dan itu pertama kali Draco melihat Lucius sangat marah yang membuatnya sangat ketakutan sehingga untuk pertama kalinya sejak umur 2 tahun, Draco menangis keras.
Melihat hal itu, Lucius bukannya kasihan malah makin memarahinya sedangkan Narcissa yang melihat putranya dengan wajah pucat dan masih menangis sesenggukan langsung memeluk putranya itu dan menyuruh Lucius berhenti. Tentu saja setelah mereka kembali ke Inggris, Lucius memarahinya lagi dan Draco hanya diam saja.
Sejak itu Draco tidak berani melakukan hal-hal yang berada diluar batas kesabaran ayahnya karena dihari itu dia mendapat pelajaran berharga.
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu Lucius, lihat Draco terluka" ucap Severus dengan nada sinis, membuyarkan lamunan Draco
"Tapi dia baik-baik saja bukan?" balas Lucius santai
"Kau ini…" Severus kadang tidak mengerti dengan jalan pikiran Lucius
Draco lebih tidak mengerti kenapa ayahnya bisa bersahabat dengan Severus sedangkan sifat mereka bertolak belakang. Severus lebih suka menanggapi berbagai hal dengan serius dan tegas sedangkan ayahnya kebalikannya, orang yang tidak tahu tidak akan menyangka Lucius Malfoy mempunyai sifat santai dan bebas.
Hal ini tercermin dari cara didik Lucius pada Draco, yang memberinya kebebasan selama dia tidak melakukan kejahatan atau sesuatu diluar batas. Mungkin ini karena Lucius sendiri tumbuh terkekang oleh ayahnya yang selalu menaruh ekspetasi tinggi dan hal ini sering membuat Lucius terbebani bahkan stress, karena itu Lucius tidak ingin Draco tumbuh dengan perasaan seperti itu.
Draco menyandarkan punggungnya yang sudah lebih baik dan mencari posisi nyaman sambil mendengarkan perdebatan ayahnya dan Severus. Jendela disamping ranjang Draco terbuka setengahnya sehingga angin sejuk memasuki ruangan.
Mungkin karena pengaruh ramuan yang diminumnya, Draco merasa mengantuk. Suara dari 2 orang yang sangat dia sayangi terdengar lembut ditelinganya dan angin sejuk yang terus membelai rambutnya secara perlahan, membuat Draco tidak dapat menahan kantuknya lagi dan akhirnya memejamkan matanya.
Severus menyadari kalau sejak tadi Draco sama sekali tidak bersuara, dan benar saja saat pria bersurai hitam itu menoleh pada Draco, dia menemukan Draco sudah tertidur lelap dengan posisi masih terduduk.
Lucius pun menyadari hal itu, lalu dengan hati-hati membaringkan putranya agar dapat tidur dengan lebih nyaman.
Severus dan Lucius lalu meninggalkan Draco yang sudah tertidur lelap, kemudian Severus menarik tirai putih menutupi ranjang Draco. Sebelum meninggalkan Hospital Wing, Severus menyuruh Lucius untuk menunggunya diluar karena dia harus menemui madam Pomfrey untuk menginfokan kondisi Draco.
Tidak lama kemudian, Severus dengan raut wajah dingin menghampiri Lucius yang sedang menunggunya di balik pintu lalu keduanya pergi menuju ruangan kepala sekolah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
-o0o-
Harry merasa sangat sial hari ini, pertama dia diserang oleh bludger liar lalu terkena ledakan dan harus kehilangan tulang tangannya, belum lagi dia harus meminum ramuan yang rasanya seperti bensin bercampur cabai bahkan dari aromanya saja sudah hampir membuatnya muntah.
Tapi dari semua itu yang lebih parah adalah Harry membuat orang lain terluka karenanya, jujur saja ucapan Profesor Snape siang tadi menyakitkan tapi ada benarnya, walaupun ini bukan salah Harry seperti yang Hermione katakan tapi tetap saja dia merasa bersalah.
Harry masih ingat kejadian siang tadi saat dia dibawa ke Hospital Wing, yang membuat Harry dan teman-temannya mengetahui informasi mengejutkan serta pendapatnya mengenai Profesor Snape sedikit berubah.
Flashback:
Dengan bantuan teman-temannya Harry akhirnya sampai di Hospital Wing dan Madam Pomfrey yang melihatnya, langsung menunjuk salah satu ranjang diujung ruangan dan menyuruh Harry untuk berbaring disana.
Saat itulah Harry melihat disalah satu ranjang yang dikelilingi tirai putih, madam Pomfrey dan Profesor Snape terlihat sangat sibuk keluar-masuk dari sana sambil membawa beberapa botol ramuan.
Seketika itu Harry merasa khawatir dengan keadaan Malfoy yang sepertinya cukup parah dan matanya terus melihat kearah sana walaupun dia tidak bisa melihat sosok Malfoy.
"Sepertinya keadaan Malfoy cukup parah" ucap Hermione sambil melihat kearah tirai putih itu
"Pendapatku tentang Malfoy sepertinya berubah hari ini" ucap Dean yang juga melihat ke arah Malfoy dan mendapat anggukan dari murid Gryffindor lainnya
"Oh, bukankah itu ayah Malfoy?" ucap Ron tiba-tiba
Harry melihat punggung seorang pria tinggi tegap serta bersurai pirang pucat seperti Malfoy dan entah mengapa, Harry merasa familiar dengan siluet pria itu.
"Aku dengar karena ini pertandingan pertama Malfoy, ayahnya datang untuk melihatnya" ucap Seamus si biang gosip
"Jadi anak orang kaya sangat berbeda ya, pertandingan pertama saja dibelikan Nimbus 2001 dan itu bukan hanya untuknya tapi untuk semua tim" ucap Ron, terbesit rasa cemburu dihatinya
"dan mereka berhasil menang karena itu" ucap Hermione ketus
"Menurutku juga karena kemampuan terbang Malfoy hebat" timpal Harry yang merasa tuduhan Hermione kurang tepat
"Benar, karena Harry berhasil menyaingi sapu terbang Malfoy dengan sapu terbangnya yang biasa" ucap Colin dengan wajah penuh kekaguman pada Harry
"Ok, tim. Hari ini kita mungkin kalah tapi dipertandingan selanjutnya kita akan memenangkannya. Aku akan membuat cara latihan terbaru untuk pertandingan selanjutnya" ucap Oliver bersemangat dan mendapat anggukan dari semua anggota tim
"Minggir… minggir…" ucap madam Pomfrey yang langsung menghampiri Harry
"Coba kita lihat tulangmu yang patah. Ini akan cepat selesai Mr. Potter" madam Pomfrey lalu mengangkat tangan Harry yang sudah tidak ada tulangnya
"Astaga… apa yang terjadi?" madam Pomfrey sangat terkejut saat melihat keadaan tangan Harry
"Profesor Lockhart mencoba menyembuhkan Harry tapi tulangnya malah… pfft…" balas Fred yang mencoba menahan tawanya melihat reaksi madam Pomfrey
"Astaga… seharusnya tadi dia langsung dibawa kemari. Tunggu sebentar" madam Pomfrey lalu meninggalkan mereka dan menuju lemari obat yang terletak tidak jauh dari pintu masuk Hospital Wing.
Tidak lama kemudian, madam Pomfrey kembali dengan membawa botol ramuan yang berbentuk kerangka manusia, bertuliskan 'Skele-Gro',
"Aku bisa cepat sembuhkan tulang patah tapi menumbuhkannya kembali…" madam Pomfrey menuangkan ramuan itu di gelas
"Akan sangat sakit dan memakan waktu lama. Kau akan merasa tidak nyaman malam ini, Mr. Potter. Menumbuhkan tulang tidak gampang" lalu memberikan gelas berisi ramuan itu pada Harry
Saat Harry mau meminumnya, aroma ramuan itu menguar dan hampir membuatnya muntah tapi Harry mencoba menahannya, mungkin saja rasanya tidak separah aromanya
"Pppfffrrrruuutttt…" ternyata rasanya jauh lebih parah dari aromanya
"Kau pikir ini apa? jus labu?" ucap madam Pomfrey sambil mengambil gelas dari tangan Harry dan menuangkan ramuan itu kembali
Dengan sangat terpaksa, Harry langsung meneguk ramuan itu dengan sekali tegukan, untung saja dia hanya perlu meminumnya sedikit. Tiba-tiba, Profesor Snape menghampiri ranjang Harry dan berbicara dengan madam Pomfrey,
"Aku sudah memberikannya 2 ramuan itu dan sekarang dia sudah tertidur"
"Oh, baiklah Severus. Aku akan menjaganya, kau pasti ada pekerjaan lain" balas madam Pomfrey
"Hm… aku harus keruangan kepala sekolah untuk menyelidiki kejadian ini" ucap Profesor Snape sambil menatap Harry tajam
Harry merasa keringat dingin mengalir di punggungnya, bukan hal baru Profesor Snape menatapnya dengan tatapan tidak suka tapi entah mengapa tatapannya kali ini terasa sangat menusuk.
"Bukankah begitu Mr. Potter? Hidupmu tidak pernah jauh dari masalah, tapi jangan menyeret orang lain dalam masalahmu Mr. Potter" ucap Profesor Snape, menatap Harry tajam
"Severus…" madam Pomfrey terkejut dengan ucapan Profesor Snape yang seakan-akan menyalahkan Harry akan kejadian ini
"Maaf profesor, tapi kejadian ini bukan salah Harry" balas Hermione tapi Profesor Snape malah menatap Hermione dengan tatapan tidak suka
"Kau menempatkan hidungmu ditempat yang tidak seharusnya Ms. Granger, apa semua muggleborn tidak sopan sepertimu?"
Mendengar ucapan Profesor Snape yang menyindirnya, Hermione hanya bisa menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Ini pertama kalinya seseorang mengatakan hal itu pada Hermione, terlebih seorang profesor.
"SEVERUS…" bentak madam pomfrey, sekali lagi terkejut karena Profesor Snape secara terang-terangan menyindir seorang murid. Seakan tidak menghiraukan madam Pomfrey, Profesor Snape langsung pergi meninggalkan mereka dan keluar dari Hospital Wing
"Hermione, kau tidak apa-apa?" tanya Harry
"Hm, aku tidak apa-apa Harry" ucap Hermione, mencoba untuk tersenyum dengan mata yang masih berkaca-kaca
"Sebenarnya apa masalah Snape, kenapa menyalahkan Harry dan menyindir Hermione seperti itu?" ucap Ron dengan wajah merah, terlihat dia sangat marah dengan Profesor Snape. Ucapan Ron mendapat persetujuan dari semua murid Gryffindor yang ada disitu,
"Aku mengerti kalau Professor Snape marah karena murid asramanya terluka, tapi ini… sedikit berlebihan" ucap Neville pelan yang mendapat persetujuan juga dari semua murid Gryffindor
"Aih…, ini bukan hanya masalah murid asramanya yang terluka Mr. Longbottom, tapi ini juga karena Mr. Malfoy adalah anak baptis dari Profesor Snape" ucap madam Pomfrey
"APA…?!" semua murid Gryffindor yang ada disitu, sangat terkejut dengan pernyataan madam Pomfrey
Mereka semua tidak menyangka kalau Malfoy adalah anak baptis Profesor Snape. Pantas saja Malfoy diperlakukan berbeda bahkan diantara murid-murid Slytherin, Malfoy paling dispesial kan oleh profesor ramuan itu.
"Oh… pantas saja Malfoy sangat dispesialkan" ucap Seamus, matanya berbinar-binar karena gosip besar ini
"Walaupun begitu seharusnya Profesor Snape tidak mencampuri urusan pekerjaan dengan keluarga" ucap Hermione dengan nada tidak suka
Sejujurnya, Hermione kadang merasa cemburu dengan Malfoy yang diperlakukan berbeda oleh Profesor Snape bahkan dia sempat berpikir, kalau dia masuk asrama Slytherin apakah dia juga akan diperhatikan oleh profesor ramuan itu?
Tapi setelah melihat Profesor Snape memperlakukan murid Slytherin lainnya tidak sebaik memperlakukan Malfoy, membuat Hermione berpikir mungkin bukan karena asrama Slytherin. Mungkin saja karena Malfoy yang pintar ramuan dan Hermione akui kalau Malfoy sangat cerdas dalam urusan ramuan, bahkan di mata pelajaran lain nilai Malfoy selalu lebih unggul darinya padahal Hermione tidak pernah melihat Malfoy belajar.
Tapi setelah mendengar pengakuan madam Pomfrey, ternyata dugaan Hermione selama ini salah. Bukan karena Malfoy cerdas dalam ramuan atau mata pelajaran lain, tapi karena Malfoy adalah putra baptisnya.
Hermione merasa ini tidak adil, sejak tahun pertama Hermione terus berusaha menunjukkan pada Profesor Snape kalau dia adalah murid teladan tapi profesor ramuan itu tidak pernah mempedulikannya sedangkan profesor lainnya selalu memuji Hermione sebagai murid teladan, cerdas dan rajin.
Madam Pomfrey hanya tersenyum mendengar ucapan Hermione lalu berkata,
"Terkadang sangat sulit melakukan hal itu Ms. Granger saat kau melihat putramu diantara murid-murid yang kau ajari. Secara tidak sadar, kau akan memperlakukannya lebih spesial dibanding murid yang lain. Kalian harus melihat bagaimana wajah Severus yang sangat khawatir saat Mr. Malfoy pingsan" ucap madam Pomfrey dengan senyuman sambil menatap satu-persatu murid Gryffindor yang ada disana
"Mr. Potter Ms. Granger, aku harap kalian dapat mengerti dan memaafkan sikap Severus tadi. Dia hanya khawatir dengan kondisi Mr. Malfoy"
Harry dan Hermione saling pandang setelah mendengar ucapan madam Pomfrey itu
"Ya madam, kami mengerti" ucap Hermione setelah mendapat anggukan dari Harry
"Wah, ini gosip yang sangat besar" ucap George tiba-tiba dengan cengiran lebar
"Benar sekali saudaraku" balas Fred dengan cengirannya juga
"Hah… kalian ini" Oliver yang mendengar ucapan kedua anak kembar itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia menoleh kearah Harry dan tersenyum,
"Baiklah Harry, aku harap kau lekas sembuh supaya kita bisa memulai latihan" ucap Oliver semangat dengan senyuman lebar menghiasi bibirnya
"Terima kasih kaptein" balas Harry sambil tersenyum juga
"Ok tim, ayo kita kembali ke asrama. Harry membutuhkan istirahat, kalau kita tetap disini dia tidak akan bisa melakukannya" ucap Oliver kembali
Akhirnya semua teman-teman Harry kembali ke asrama dan kini dia hanya berdua bersama madam Pomfrey yang sibuk membalut tangan Harry dengan perban.
"Hm… madam?" panggil Harry dengan pelan
"Ada apa Mr. Potter?" balas madam Pomfrey tanpa melihat kearah Harry, masih sibuk dengan pekerjaannya
"Hm… ba bagaimana keadaan Malfoy?" tanya Harry hati-hati
Tangan madam Pomfrey seketika itu berhenti bekerja tapi kemudian melanjutkannya, dengan tersenyum madam Pomfrey membalas pertanyaan Harry
"Mr. Malfoy baik-baik saja. Setelah dia sadar, Severus memberikan ramuan yang akan membantu lukanya dan sekarang dia sudah tidur. Ok selesai" madam Pomfrey lalu membereskan semua peralatannya
"Mr. Potter kau tidak perlu khawatir" ucap madam Pomfrey sambil tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Harry dengan membawa semua peralatannya.
Harry terdiam terpaku dengan ucapan madam Pomfrey, apa sangat terlihat kalau dia menghawatirkan Malfoy?
Flashback End
Malfoy… dia terluka karena melindunginya
Deg… deg… deg…
Berkali-kali Malfoy terus saja menolongnya tapi berkali-kali juga dia bertengkar dengan Malfoy dan hal ini selalu berhasil membuat Harry bingung dengan sifat Malfoy yang sebenarnya. Jadi, Malfoy itu sebenarnya seperti apa? terkadang Harry yakin Malfoy yang ditemuinya saat malam itu di ruangan Mirror of Erised, Malfoy yang melindunginya di kelas D.A.D.A dan juga hari ini adalah Malfoy yang sebenarnya.
Tapi… kenapa Malfoy suka sekali mengganggu Harry dan teman-temannya? Apa dia mau balas dendam karena Harry menolak tawaran pertemanannya saat tahun pertama? Tapi kalau benar, bukankah itu sangat kekanak-kanakan, lagi pula itu sudah satu tahun yang lalu.
'AKH… aku tidak tahu lagi' batin Harry, setiap memikirkan Malfoy selalu membuatnya bingung dan pusing seperti saat ini.
Hospital Wing terlihat sangat gelap saat ini, tapi Harry masih dapat melihat tirai putih yang menutupi ranjang Malfoy dengan bantuan cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Harry melihat tidak ada pergerakan disana, jadi dia menarik kesimpulan kalau Malfoy masih tertidur. Dengan perlahan Harry turun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri Malfoy.
Harry hanya ingin melihat sekilas keadaan Malfoy, untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Dengan hati-hati Harry membuka tirai putih itu dan menghampiri Malfoy.
Harry berdiri tepat disamping ranjang dan memperhatikan wajah Malfoy yang terlihat pucat tapi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Rambut Malfoy yang biasanya disisir rapi kebelakang, sekarang terurai menutupi matanya dan Harry menyadari mata Malfoy terus berkedut sehingga wajahnya terlihat tidak nyaman, sepertinya dia terganggu dengan rambutnya.
Jadi sebagai anak baik yang tahu balas budi, dengan hati-hati Harry mengulurkan tangannya untuk menyingkap rambut Malfoy.
'Halus…' kata itulah yang terbesit dipikiran Harry saat menyentuh rambut Malfoy
Mungkin karena Harry tidak pernah menyentuh rambut sehalus ini, ada keberanian yang tidak seharusnya muncul dibenaknya. Sekali lagi Harry memperhatikan wajah Malfoy yang sudah terlihat tenang, mungkin karena tidak ada rambutnya lagi yang mengganggu.
Dengan perlahan Harry menyentuh kepala Malfoy lalu satu kalimat muncul dibenaknya,
'Seperti menyentuh kucing…' tidak puas dengan itu, Harry mulai berani mengelus-elus rambut Malfoy
'Woah, Malfoy menggunakan sampo apa?'
Tenggelam dengan dunianya sendiri, Harry tidak menyadari ekspresi wajah Malfoy yang mulai berubah dengan mata perak yang sudah terbuka lebar.
TBC
Author Note:
Bagaimana ceritanya?
Sekali-kali pingin buat akhir yang menggantung, supaya pada penasaran…
Wuahahaha…
Tolong saran dan kritiknya ya
Terima Kasih ^_^
