Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 17
Stupid Argument
Harry merasa jantungnya terhenti untuk sesaat, ketika mendengar ucapan dari Draco. Beberapa kali Harry mengerjapkan matanya dan mencoba mencerna pertanyaan yang barusan didengarnya.
Dengan hati-hati Harry membalas ucapan Malfoy,
"Dibandingkan aku, kau lebih parah Malfoy"
Walaupun suara Harry sangat lirih tapi Draco masih dapat mendengarnya, salahkan ruangan Hospital Wing yang sepi.
"Tapi aku tidak sampai kehilangan tulangku Potter" Harry menyadari ada nada jahil terbesit dari ucapan murid Slytherin itu
Dengan kesal Harry mendengus dan menjawab Draco,
"Tulangku sudah tumbuh kok, lagi pula bagaimana kau tahu?" karena Harry menyadari sejak kedatangannya ke Hospital Wing, ranjang Draco ditutupi dengan tirai jadi tidak mungkin dia melihat keadaan Harry
"Bagaimana aku tidak tahu Potter, saat segerombolan fans mengikutimu kemari dan berisik soal tulangmu yang hilang" jujur saja saat mendengar tentang itu, rasanya Draco ingin sekali tertawa dengan keras tapi ditahan olehnya karena seorang Malfoy tidak pernah melakukan hal yang sangat tidak berwibawa seperti itu
Draco harus memberikan 4 jempol pada si Lockhart itu untuk kebodohannya yang tidak dapat diukur, ah bukan tapi kecerdasannya yang bahkan Draco tidak tahu ada atau tidak.
Hahaha…
"Mereka bukan fansku" balas Harry tidak terima dengan cap yang diberikan Draco pada teman-teman Gryffindornya
"Ya… ya…, tapi kau harus mengakui kalau si Lockhart itu cukup hebat" kali ini Draco tidak dapat menahan senyuman lebarnya
"Ukh… diam kau Malfoy" Harry betul-betul kesal saat ini
"Kau harus menikmatinya Potter, kapan lagi kau akan merasakan pengalaman seperti itu. Berterima kasih lah pada si Lockhart yang sudah memberikan kenangan yang menyenangkan ini"
"Ukh… aku tidak butuh pengalaman apalagi kenangan seperti ini" rasanya Harry menjadi sangat lelah
"Sepertinya masalah sudah menjadi sahabat karibmu Potter, ah mungkin yang benar itu kesialan sudah menjadi bayangan yang selalu mengikutimu kemana-mana"
"Hah… dan kesialan itu yang membuat kita terjebak di Hospital Wing" Harus Harry akui kalau yang dikatakan Draco itu benar, ini bukan lagi masalah tapi kesialan
"Aku tidak keberatan, karena aku bisa bersantai" ucap Draco sambil menyeringai
"…. dan saat kembali, kau akan ketinggalan banyak pelajaran dan nilaimu akan turun" bukan karena dia peduli pada Malfoy, hingga menasehatinya seperti ini. Oh tidak Harry hanya menceritakan pengalaman pribadinya saja, hanya itu.
"… apa kau baru saja menasehatiku Potter? Aku tidak tahu kalau kau sangat peduli padaku" Draco tidak pernah bosan menggoda Harry
"A… apa maksudmu Malfoy? Ak… aku hanya…" entah kenapa pertanyaan Malfoy malah membuatnya gugup
"Ha, mungkin kau lupa Potter kalau aku menduduki peringkat pertama tahun lalu, dan tahun inipun akan menjadi milikku" Draco dengan percaya diri mendeklarasikan peringkat pertama tahun ini akan menjadi miliknya lagi
"…" Harry tidak tahu harus menjawab apa karena yang Malfoy katakan itu memang benar, Harry pikir Hermione adalah murid tercerdas diangkatannya tapi betapa kagetnya Harry saat nama Malfoy diumumkan sebagai murid peringkat pertama (juara umum) diangkatannya. Bahkan murid Ravenclaw tidak dapat mendekati nilai Malfoy, jangankan mereka bahkan nilai Hermione yang menempati posisi kedua tertinggal 20 poin.
"Ah, tapi kalau nilaiku sampai turun itu semua salahmu Potter" ucap Draco tiba-tiba membuyarkan lamunan Harry
"Hei, bagaimana itu…" salahku, Harry tidak dapat menyelesaikan kalimatnya saat dia menyadari kalau penyebab utama Malfoy terjebak di Hospital Wing saat ini adalah dirinya. Hah… dan juga kejadian saat di kelas D. A. D. A, karena Malfoy melindunginya saat itu.
Draco menyadari Harry tiba-tiba saja terdiam, mungkin bocah berkacamata itu merasa bersalah padanya. Jadi dengan santai Draco mengatakan,
"Ah… tapi apa yang bisa kau lakukan Potter? Nilaimu saja tidak bisa diselamatkan kalau tidak ada si Granger itu"
"Maksudmu aku tidak bisa bertanggung jawab? Tapi… bagaimana kau tahu kalau Hermione membantuku?" perasaan yang dirasakan Harry saat ini bercampur antara kesal dan penasaran
"Ayolah Potter, bahkan Crabbe dan Goyle tahu kalau diantara kalian bertiga hanya Granger yang punya otak, dan Weasley… ha, nilainya bahkan jauh lebih buruk dari milikmu" Draco dengan cengiran lebarnya tidak mendengar balasan, sepertinya dia berhasil membuat Harry terdiam seribu bahasa
"…" jujur saja perasaan Harry saat ini diantara kesal ingin mencabik-cabik rambut halus Draco dan sedih dengan nilainya yang akan turun lagi seperti tahun lalu sehingga sekali lagi terpaksa harus belajar dengan gaya Spartan bersama Hermione. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk merinding dan Harry bisa membayangkan matanya akan bertambah minus bila harus membaca buku dengan tulisan kecil dan keriting dalam jumlah yang banyak lagi.
"Potter" Harry memutuskan tidak ingin meladeni Draco lagi, dia menyesal menanggapi bocah pirang itu tadi
"Hei Potter!" Harry tetap tidak menjawab dan menarik selimutnya, bersiap untuk tidur
"Potter…" Ah… ingin sekali Harry cepat-cepat keduania mimpi, kira-kira apa yang menantinya disana ya?
"Woi, Potter!" Hm… mungkin itu adalah nyanyian malaikat, ah bukan iblis yang akan mengantarkannya ke dunia mimpi, apa ini artinya malam ini Harry akan bermimpi buruk?
"Kalau kau tidak menjawab, aku akan kesana dan membuat rambutmu yang seperti sarang burung itu menjadi seperti semak belukar" mata Harry langsung terbuka mendengar ucapan Draco, rasa kantuk yang menghampirinya tadi hilang seketika karena dia tahu kalau ancaman Draco itu selalu dilakukannya.
"Ukh… biarkan aku tidur Malfoy…" Harry mengusap-usap wajahnya frustasi karena sejak tadi Malfoy selalu mengganggunya
"Oh tidak Potter, kau harus bertanggung jawab karena gara-gara kau aku tidak bisa tidur"
"Kau menggangguku dari tadi hanya karena kau tidak bisa tidur?" Harry tahu kalau Malfoy selalu mengatakan hal yang tidak masuk akal, tapi ini sudah keterlaluan
"Hei, jangan salahkan aku. Bukan aku yang menyelinap ke ranjangmu dan mengelus-elus rambutmu sehingga membuatmu bangun. Iyakan?" walaupun Harry tidak melihat wajah Malfoy saat ini, tapi dia berani bertaruh kalau bocah Slytherin itu sedang tertawa atau mengeluarkan seringaian khasnya.
"Ukh… bisakah kita tidak membahas itu lagi?" kali ini Harry betul-betul menyesal melakukan hal itu pada Malfoy. Andaikan waktu bisa diputar, Harry tidak akan pernah menghampiri atau menyentuh rambut Malfoy.
"Oh, jadi kau mau lari dari tanggung jawab Potter? Setelah menyentuhku seperti itu?"
"Apa kita akan mengulang kembali perdebatan itu Malfoy?" dengan nada memohon, Harry berharap Malfoy berhenti membahas hal itu
"Hm, kalau begitu jangan tidur Potter" perintah Draco dengan nada sombongnya yang khas
"Hah… sampai kapan?" Harry menghela nafasnya, entah mengapa menghadapi Malfoy terasa lebih melelahkan
"Sampai aku bosan, ah lebih bagus lagi sampai aku tertidur" balas Draco dengan santai
Harry merasa keningnya berkedut menahan amarah ketika mendengar ucapan Malfoy yang memerintah seenaknya. Ini harus dihentikan!
Roda gir mulai berputar diotak Harry, mencari cara agar Malfoy mau melepaskannya dari belenggu ini.
Tapi… hasilnya nihil. Harry tidak dapat memikirkan satu idepun, sempat terbesit di benaknya untuk memukul kepala Malfoy atau memantrainya supaya pingsan tapi ide itu Harry buang jauh-jauh karena tidak mungkin dia melakukannya, terlebih lagi pada orang yang sudah beberapa kali menyelamatkan dirinya walaupun Malfoy menyebalkan.
Mengingat kembali jasa Malfoy padannya, membuat Harry teringat kalau dia sampai saat ini belum pernah mengucapkan terima kasih pada si mata perak itu, bahkan untuk kejadian di kelas Lockhart.
Keluarga Dursley tidak pernah mengajarkan tata krama seperti itu pada Harry, tapi dia tidak bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tidak mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah membantunya.
"Hei… Malfoy?" panggil Harry
"Apa?" balas Draco dengan nada malas
"Hm… itu… ak- aku…" entah mengapa tiba-tiba saja Harry merasa sangat gugup
"Bicara yang jelas Potter, apa si Lockhart juga menghilangkan lidahmu?" Draco mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar ucapan Harry yang terbata-bata
"…" ingin sekali Harry menghampiri ranjang Draco dan menjitaknya
"dan sekarang kau tidak bicara sama sekali, apa kali ini suaramu yang hilang? Selanjutnya apa? Rambutmu?Hahaha…" Draco tidak bisa menahan tawa karena leluconnya sendiri
"…" walaupun suara tawa Draco tidak terlalu keras, tapi Harry masih bisa mendengarnya dengan jelas dan itu membuatnya bertambah kesal. Hilang sudah keinginan Harry berterima kasih pada Malfoy, egonya jauh lebih besar dibandingkan sopan santun.
"Ukh… diam kau Malfoy" bentak Harry yang semakin kesal mendengar suara tawa Draco yang sejak tadi tidak berhenti.
"Oh… lidah dan suaramu sudah kembali Potter? Hahaha…" Bukannya berhenti, Draco malah semakin menertawakan Harry. Sedangkan anak laki-laki berkacamata yang sejak tadi menjadi korban, tidak mengerti apa yang lucu dari hal itu.
"Kalau kau tidak diam, aku tidak akan menemanimu Malfoy" mau tidak mau Harry mengancam Malfoy, tapi hal ini sejujurnya membuat Harry malu karena menurutnya sangat kekanakan.
"Apa kau baru saja mengancamku Potter?" Draco tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Iya Malfoy, aku mengancammu" Harry menjawab pertanyaan Draco dengan nada suara yang menurutnya cukup percaya diri.
"… Pfft… Hahaha… ya ampun… hahaha… hentikan Potter, kau membuatku… hahaha…" sekali lagi Harry tidak dapat menghentikan tawa Draco yang pecah semakin keras dibandingkan sebelumnya.
"Terserah kau Malfoy, aku tidak peduli" dengan kesal Harry menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Masih dapat terdengar suara tawa Draco yang belum berhenti juga.
"Uhuk… pfft… hm, kau marah Potter?" Draco mencoba menahan tawanya dan memanggil Harry, tapi sayangnya tidak ada jawaban
"Wah wah wah, aku tidak tahu kalau the boy who lived sangat suka cemberut" Draco tidak dapat menahan bibirnya untuk tidak menggoda Harry lagi, karena jujur saja ancaman tadi benar-benar mengelitik perutnya.
Tapi sayangnya, Harry tidak menjawab ucapan Draco.
"Hm… apa kau benar-benar sedang cemberut Potter? Ayolah… kau ini tidak seru"
Masih tidak ada tanggapan dari ranjang diseberangnya, hal ini membuat Draco lama-lama jadi kesal karena seakan-akan dia berbicara sendiri seperti orang gila.
Dengan kesal Draco turun dari ranjangnya, menghampiri Harry. Tentu saja dengan langkah pelan agar bocah rambut sarang burung itu tidak menyadari apa yang akan menyerangnya.
Tidak mendengar suara si pirang menyebalkan itu lagi membuat Harry berpikir, mungkin akhirnya Draco memutuskan untuk tidur setelah Harry tidak menjawab ucapannya. Dengan sekuat tenaga Harry menahan amarah - memanya dia anak 5 tahun yang cemberut karena hal sepele?- untuk tidak memaki balik Malfoy akhirnya terbayarkan.
'Coba aku melakukannya sejak tadi' Harry merasa ada kebanggaan akan hal ini, rasanya seperti rasa manis kemenangan
Dengan wajah yang dihiasi senyuman lebar, Harry bersiap untuk tidur tapi tiba-tiba selimutnya menghilang karena ditarik paksa. Saat Harry melihat siapa pelakunya, ingin sekali dia membentaknya, tapi Harry menahan bibirnya karena masih merasa berutang budi pada manusia menyebalkan yang sedang berdiri dihadapannya ini dengan seringaian lebar dan tatapan jahil yang tidak bisa disembunyikan.
"Malfoy…" panggil Harry dengan nada rendah dan tatapan tajam, tapi sayangnya Draco sama sekali tidak takut dengan nada mengancam itu
"Hm, siapa yang menyuruhmu tidur Potter?"
Mendengar nada memerintah itu, membuat Harry betul-betul kesal. Terserah apa si pirang ini penyelamatnya atau tidak, yang jelas dia sudah sangat-sangat kesal dengan tingkah Draco yang terus saja mengganggunya, apa sesulit itu untuk membiarkannya tidur?
Harry bangun dari posisinya dan menatap Draco dengan tatapan penuh kekesalan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Melihat hal itu, Draco menyadari kalau saat ini Harry betul-betul kesal, tapi entah mengapa hal itu malah membuat dia semakin bersemangat.
Dengan santai Draco balik menatap Harry dengan tatapan jahil dan seringaiannya yang semakin lebar,
"Kau, tidak boleh tidur sebelum aku Potter" sambil melipat tangannya di dada, Draco memberikan ultimatum itu pada Harry
Jujur saja, Harry ingin sekali menghajar si wajah runcing ini tapi dia terus menahan diri. Walaupun egonya tinggi, tapi dia bukanlah orang yang membalas kebaikan dengan keburukan.
Tidak mungkin dia memukul orang yang terus dan terus saja menyelamatkannya, walaupun dia sangat-sangat kesal.
Menurut Harry, kesal pada si ubanan ini masih diperbolehkan selama dia tidak menghajarnya.
'Sabar… sabar Harry, anggap saja ini salah satu caramu membalas budi'
Lagipula… walaupun Harry tidak ingin mengakuinya, tapi dia sendirilah yang mengirimkan dirinya berada pada situasi seperti ini. Yap, dia harus menganggung kesalahannya sendiri dan untuk kesekian kalinya Harry meratapi kesalahannya dimasa lalu.
"Hah…" Sudah tidak terhitung berapa kali Harry menghela nafas sejak berada di Hospital Wing bersama si ubanan ini.
"Jadi aku harus apa?" tanya Harry, memandang malas si pembuat onar
"Mudah, kau hanya perlu mengobrol denganku seperti tadi" Draco dengan santainya duduk diranjang Harry
"Itu bukan mengobrol, itu kau yang menindasku!" Harry tidak setuju dengan ucapan Draco yang menurutnya itu bukan obrolan tapi penindasan!
"Hah… Potter… Potter…, ckck apa kau tahu apa definisi mengobrol?" Draco memberikan tatapan kasihan pada anak Gryffindor dihadapannya.
"… Ka- kau pikir aku bodoh? Tentu saja aku tahu, mengobrol itu pembicaraan antara dua orang" dengan bangga Harry melipat tangannya didada dan matanya menyiratkan rasa penuh percaya diri.
"…" Draco menatap Harry dengan wajah tanpa ekspresi
Mendapat reaksi dingin dari Draco, membuat Harry menyadari ada yang salah. Harry mencoba mengingat-ingat lagi pembicaraan mereka sebelumnya.
Harry, "…"
Keduanya terdiam, menatap satu sama lain…
"Ha!" seringaian khas Malfoy langsung menghiasi wajahnya dengan senyuman meremehkan. Sedangkan Harry, wajahnya memerah menahan malu.
"Tapi itu berbe…" belum sempat Harry membalas Draco, tiba-tiba terdengar langkah kaki mengarah ke Hospital Wing.
Dengan sigap Draco langsung mengambil selimut Harry dan naik ke ranjangnya lalu mendorong Harry ke posisi berbaring,
"Ah, apa yang kau lakukan Malfoy?" Draco tidak menjawab pertanyaan Harry, dan langsung berbaring di samping Harry sambil menutup tubuh mereka dengan selimut sampai kepala.
"Kalau kau tidak ingin dihukum madam Pomfrey, maka diamlah" ucap Draco menutup mulut Harry dengan tangannya dan Harry hanya bisa mengangguk.
Hal ini mengingatkan Harry pada kejadian tahun lalu saat Voldemort mengejar mereka di hutan terlarang dan Malfoy juga mendekap mulut dan tubuhnya juga seperti ini.
Bedanya saat itu Harry tidak bisa berpikir karena keningnya yang terasa sakit, tapi sekarang pikirannya jernih dan merasa ada yang salah disini!
'Apa hubungan kami sedekat itu?' tiba-tiba Harry teringat kembali tingkah Malfoy yang terus mengganggu dan sikap egoisnya.
'Ah, bukan-bukan. Ini pasti karena Malfoy terpaksa karena situasi'
Tidak lama kemudian, mereka mendengar pintu Hospital Wing terbuka dan beberapa derap langkah berbeda memasuki Hospital Wing.
"Baringkan disini" suara Madam Pomfrey terdengar panik
"Apa yang terjadi?" suara Madam Pomfrey kembali terdengar
"Ada penyerangan lagi" kali ini suara Profesor Dumbledore yang terdengar
'Penyerangan?' Draco dan Harry saling pandang, dari sorot mata itu terlihat kalau mereka memikirkan hal yang sama
"Tubuhnya juga kaku dan membeku Poppy, seperti Mrs. Noris" ternyata Profesor McGonagall juga ada disana, dari suaranya terdengar khawatir
'Mrs. Noris? Tunggu… apa jangan-jangan hal itu terjadi lagi?' pikiran Harry kalang kabut, kali ini yang menjadi korban adalah seorang murid.
Setelahnya mereka mendengar suara seprei yang bergesek, mungkin murid yang menjadi korban itu sudah dibaringkan di kasur.
"Lihat, sepertinya dia sempat mengambil gambar penyerangnya" suara Profesor McGonagall kembali terdengar
'Gambar penyerangnya? Apa murid itu membawa kamera? Tunggu, jangan bilang…' Harry merasakan firasat buruk tentang ini, hanya satu murid yang dia tahu sering membawa kamera dan dia berharap kalau prediksinya salah.
Buuummm…
Tiba-tiba ada suara ledakan kecil dan tercium bau asap, mungkin kamera yang dibawa anak itu meledak. Profesor McGonagall kembali berbicara dan dari nada suaranya terdengar sangat khawatir,
"Apa artinya ini Albus?"
"Artinya… para siswa dalam bahaya" suara Profesor Dumbledore, terdengar lirih
'Apa ini artinya akan ada korban lain?' Harry mencoba lebih menajamkan pendengarannya
"Apa yang akan kita katakan pada para staf?" suara Profesor McGonagall kembali terdengar
"Yang sebenarnya. Katakan bahwa Hogwarts, tidak lagi aman dan seperti yang kita takutkan Minerva, the chamber of secrets telah dibuka lagi" tersirat nada sedih dari suara Profesor Dumbledore.
'APA?!' dapat terlihat kedua mata yang saling menatap itu, terbelalak karena terkejut mendengar ucapan Profesor Dumbledore
"Baiklah Albus, aku akan menghubungi semua staf sekarang juga untuk mengadakan rapat darurat. Poppy, kami serahkan padamu"
"Baiklah Minerva, aku juga akan pergi ke rumah kaca untuk mengambil beberapa Mandrake"
Kemudian terdengar suara langkah kaki meninggalkan Hospital Wing dan diakhiri dengan suara pintu yang tertutup.
Draco langsung menurunkan selimut yang menutupi mereka dan berkata,
"Sepertinya para profesor tidak menyadari kita"
Ucapan Draco menyadarkan Harry dari lamunannya, lalu dia melihat Draco turun dari ranjangnya dan berjalan kearah murid yang menjadi korban. Harry sebenarnya sedkit khawatir, bila prediksinya menjadi kenyataan tapi… bila diam saja, dia tidak akan tahu siapa murid tersebut. Jadi Harry juga turun dari ranjangnya dan berjalan mengikuti Draco menghampiri murid malang tersebut.
TBC
Author Note:
Mereka nih ndak bosan-bosan brantem ya -_-
Gimana cerita chapter satu ini?
Tolong saran & kritiknya yaw…
Terima kasih
