Harry Potter © J.K. Rowling
Chapter 18
Slytherin's Heir
Sejak mendengar pembicaraan antara Profesor Dumbledore dan Profesor McGonagall, Harry sudah punya firasat mengenai identitas korban tapi melihatnya secara langsung tetap membuat Harry cukup terkejut.
Tubuh Colin Creevey terbujur kaku dengan kulit sepucat seprei putih yang terpasang di ranjang, kalau saja detak jantungnya tidak berdetak atau udara yang keluar dari hidungnya tidak ada maka Colin tidak berbeda dengan mayat yang mati kedinginan terkubur dalam salju.
Harry merasakan kedua tangannya dingin saat melihat kondisi Colin, dia menyadari seperti ini lah kondisi manusia bila diserang oleh peliharaan Salazar. Tapi Harry bersyukur saat ini belum ada korban yang sampai meninggal karena ulah monster itu, mengingat bagaimana rumor kalau monster itu akan membunuh semua muggleborn yang ada di Hogwarts.
Draco menyadari wajah pucat Harry dan tubuhnya yang sedikit bergetar, mungkin ini adalah hal yang cukup mengejutkan baginya melihat anggota asramanya mengalami hal seperti ini.
Dengan perlahan Draco menepuk pundak Harry dan menyuruhnya untuk tidur sebelum madam Pomfrey kembali, dan Harry yang cukup terkejut akan hal itu hanya menatap Draco dengan heran tapi saat dia ingin membalas ucapan si pirang, Draco langsung membalikkan tubuhnya dan kembali ke ranjangnya.
Tanpa mengucapkan kalimat lainnya, Draco langsung menutup tirai yang mengelilingi kasurnya dan sukses memisahkan dirinya dari Harry. Sedangkan, bocah berkacamata yang masih terkejut dengan perilaku si pirang hanya terdiam melongo sampai tirai putih itu menghalangi pandangannya.
Entah mengapa Harry sama sekali tidak mengerti dengan sikap Malfoy yang menurutya selalu saja berubah. Malfoy yang sejak tadi meneror dan mengancamnya agar jangan tidur, sekarang malah pergi begitu saja dan menyuruhnya untuk tidur?!
Yeah, sampai kapanpun Harry tidak akan pernah mengerti jalan pikiran si pangeran Slytherin. Tidak ingin bertambah pusing, Harry beranjak pergi menuju kasurnya dan untuk terakhir kali menoleh pada Colin.
'Aku akan berusaha agar tidak ada korban lainnya'
Itulah pikiran terakhir Harry sebelum dia terbang masuk ke dunia mimpi. Samar-samar dapat Harry dengar suara madam Pomfrey dan Profesor Sprout yang sibuk merawat Colin.
-o0o-
Hari itu perpustakaan terlihat sepi dihari sabtu karena banyak murid dari tahun ketiga keatas pergi ke Hogsmead untuk menikmati hari libur. Harry, Ron dan Hermione duduk di meja samping jendela paling ujung perpustakaan dekat dengan Restricted Section.
Ketiganya menatap surat yang baru saja diantarkan pagi ini saat sarapan. Menyadari nama pengirim surat, Ron dan Hermione langsung berlari ke Hospital wing dengan surat itu.
Harry merasa keberuntungannya pada hari ini sangat lah bagus karena sebelum Ron dan Hermione datang, madam Pomfrey memeriksa keadaannya dan Malfoy lalu sebuah keajaiban terjadi…
Madam Pomfrey mengijinkan mereka untuk istirahat saja di asrama.
Tentu saja Harry sangat senang akan hal ini, karena tidak perlu terperangkap dengan Malfoy lagi. Tapi dia juga tahu kalau madam Pomfrey tidak mengijinkan mereka lebih lama di Hospital wing karena keadaan yang dialami Colin. Mungkin madam Pomfrey tidak ingin membuat mereka takut atau khawatir, tapi yang manapun itu tetap saja Harry senang.
Dengan beberapa ejekan dan adu mulut, akhirnya Harry bisa berpisah dengan Malfoy. Dalam perjalananya menuju asrama Gryffindor, Harry berpapasan dengan Hermione dan Ron yang terlihat kelelahan berlari tapi juga terlihat sangat bersemangat.
Dengan cepat mereka menceritakan mengenai surat yang datang dan sepertinya ayah Ron mendapatkan informasi yang dibutuhkan karena amplop itu terlihat cukup tebal.
Mendengar hal itu Harry ikut bersemangat dan mengatakan kalau dia juga punya informasi penting, tapi sebelum itu ketiga murid tahun kedua asrama Gryffindor memutuskan sarapan terlebih dahulu. Ron dan Hermione terlalu bersemangat sampai-sampai tidak sadar masih menggenggam roti lapis sarapan mereka.
Ketiganya kembali ke Great hall yang sudah terlihat sepi karena para senior sudah pergi menuju Hogsmead. Dengan cepat ketiganya menyelesaikan sarapan dan berjalan menuju Perpustakaan.
Disinilah mereka, memilih kursi paling ujung perpustakaan yang jarang didatangi. Harry lalu memulai pembicaraan dengan menceritakan semua kejadian yang terjadi di Hospital wing kemarin malam (minus perdebatannya dengan Malfoy bodoh!), dari Profesor Dumbledore dan McGonagall membawa tubuh Colin sampai pembicaraan mereka tentang the chamber of secret telah berbuka lagi.
Hal ini berarti siapapun yang membuka kali ini mungkin mempunyai hubungan dengan orang yang membuka the chamber of secret sebelumnya, tapi masalahnya mereka tidak tahu kapan kejadian itu terjadi.
"Baiklah, siapa yang akan membacanya?" ucap Ron membuyarkan lamunan kedua temannya yang masih memikirkan informasi dari Harry.
"Hm… bagaimana kalau Hermione saja yang membacanya?" ucap Harry yang mendapat anggukan dari Ron.
Setelah menarik napas yang dalam, Hermione meraih surat itu dan mulai membacanya dengan suara lantang yang jelas agar dapat didengar oleh Ron dan Harry, tapi tidak cukup keras hingga dapat didengar oleh orang lain di perpustakaan.
Dear my son Ronald Weasley,
Sungguh ini sebuah kejutan yang luar biasa kau tahu? Ayah cukup terkejut saat menerima suratmu, sampai-sampai ayah menyemburkan kopi saat membaca nama pengirim suratnya karena kau tidak pernah mengirim surat lebih dulu kalau ayah tidak mengirimnya.
Ayah pikir tahun ini kau tidak akan mengirim surat karena takut, apalagi setelah ibumu mengirim howler tapi apapun alasannya, ayah percaya kau melakukannya untuk tujuan yang baik dan ayah tetap ingin mendengar pembelaanmu son. Saat kau pulang nanti atau setidaknya mengirim surat seperti ini, ayah harap kau mau menjelaskan alasanmu mengapa kau sampai mencuri mobil ayah dan nekat terbang sampai ke Hogwarts.
Ok, kita tinggalkan masalah itu nanti.
Mengenai hal yang kau tanyakan… kenapa kau tidak jujur saja kalau Hermione yang menanyakan hal ini? Hahaha… sejak kapan kau tertarik dengan sejarah? Apa lagi tentang keluarga pureblood, karena kau hanya tertarik pada Quidditch dan makanan. Ayah sangat mengenal semua anak-anak ayah.
Hermione terdiam sesaat membaca surat tersebut dan menatap kearah Ron, begitupun dengan Harry. Sedangkan Ron yang mendapat tatapan kedua temannya hanya bisa menyembunyikan wajah dibalik kedua telapak tangannya. Wajahnya merah padam seperti terbakar, bahkan lebih merah dibandingkan dengan warna rambutnya.
Harry dan Hermione tidak dapat melihat raut wajah Ron, tapi kedua telinganya yang merah cukup menjadi bukti kalau temannya itu sedang mengalami krisis rasa malu yang sangat, karena surat ayahnya dan mereka berdua hanya bisa tersenyum dengan reaksi yang Ron berikan.
Terbesit rasa iri di hati Harry saat mendengar isi surat dari ayah Ron yang terlihat sangat menyayangi anaknya. Mungkin, kalau ayahnya masih hidup Harry juga akan merasakan hal yang sama. Disayang dan diperhatikan oleh orang tua, pasti rasanya sangat luar biasa.
Lamunan Harry buyar saat mendengar suara Hermione melanjutkan membaca isi surat itu.
Karena kau hanya peduli kedua hal ini, makanya nilaimu sangat rendah tahun lalu. Jangan lupa ucapkan terima kasih pada Hermione dan Harry yang sudah membantumu belajar.
Hah… bahkan pelajaran di sekolah saja kau bisa lupa son, jadi ayah mengerti kalau kau juga pasti lupa tentang pelajaran mengenai keluarga pureblood yang sudah kalian pelajari sejak kecil.
Apa kau lupa kalau ayah pernah menjelaskan tentang The Sacred Twenty-Eight? Baiklah, anggap saja ini mengulang pelajaran dan informasi baru untuk Hermione dan Harry.
The Sacred Twenty-Eight adalah 28 keluarga pureblood di Inggris dan salah satunya adalah keluarga Gaunt dan bukan rahasia lagi kalau mereka adalah keturunan terakhir dari Salazar Slytherin, tapi sayangnya semua keluarga Gaunt sudah tidak ada.
Berdasarkan data terakhir, keluarga Gaunt terdiri dari 3 orang yaitu Marvolo Gaunt dan kedua anaknya Morfin dan Merope Gaunt. Marvolo meninggal dunia tahun 1920 dan putranya, Morfin meninggal tahun 1943 tanpa keturunan. Sedangkan Merope, menghilang sejak ayah dan saudaranya masuk Azkaban.
Tapi hal yang menarik terjadi saat buku yang mencatat semua nama anak dengan kemampuan sihir sejak lahir di Inggris pada tahun 1926, tertera nama bayi Tom Marvolo Riddle dengan nama ibu, Merope Riddle nee Gaunt.
Sayangnya itu adalah informasi terakhir yang dimiliki oleh kementrian mengenai keluarga Gaunt. Mungkin Tom Marvolo Riddle adalah keturunan terakhir dari Salazar Slytherin, karena sampai sekarang tidak ada lagi bayi yang lahir dengan nama keluarga Riddle.
Atau bisa jadi dia sudah pindah keluar negeri bersama keluarganya, karena buku kelahiran hanya mencatat nama anak yang lahir di Inggris.
Tapi apapun itu aku harap Merope Gaunt dapat hidup bahagia, gadis yang malang. Ayah berharap dia dapat hidup bahagia dengan suami dan anaknya, entah berapa banyak mimpi buruk yang dialaminya selama tinggal dengan ayah dan saudaranya yang gila.
Maaf ayah tidak dapat memberikan informasi lebih banyak, karena hanya ini yang ayah tahu. Bila ada hal yang ingin kau tanyakan lagi son, jangan sungkan menghubungi ayah, karena ayah senang dapat membantu.
Love, Dad
Dengan hati-hati Hermione meletakkan surat itu di meja dan menatap kedua temannya.
"Apa kalian memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Hermione
"Yeah, aku tidak menyangka aku bisa lupa hal sepenting ini" jawab Ron, yang menyesal tidak mendengarkan ajaran ayah dan ibunya tentang keluarga pureblood, karena menurutnya itu tidak penting.
"Yeah, bagaimana bisa kau lupa hal ini? kalau kau ingat kita tidak perlu mengirim surat pada ayahmu" balas Harry
"Kau benar Harry, maafkan aku teman-teman" wajah Ron memelas, merasa bersalah
"Tidak apa Ron, kalau aku diposisimu akupun akan lupa" ucap Harry sambil menepuk pundak Ron dan menyengir lebar yang juga dibalas dengan cengiran dari Ron.
Hermione menatap kedua temannya dengan wajah tanpa ekspresi,
"Bisakah kalian berhenti bercanda?" tegur Hermione yang berhasil membuat Harry dan Ron kembali fokus.
"Sepertinya kalian tidak memikirkan hal yang sama denganku" Hermione menghela napas melihat tingkah kedua temannya.
"Tentu saja Hermione, otak kita itu berbeda jauh dengamu. Kalau pemikiran kita sama, aku dan Ron pasti sudah jadi murid teladan dengan nilai tinggi" ucap Harry dengan nada bercanda, mendapat balasan cekikikan dari Ron dan pukulan di lengan dari Hermione.
"Aduh, hehehe" Harry hanya tertawa mendapat pukulan sayang yang tidak pelan itu.
"Jadi Mione, apa pemikiranmu tentang hal ini?" sambil mengelus-elus lengannya, Harry masih dengan senyuman menghiasi bibir mulai membahas alasan mereka berkumpul disini.
"Menurutku yang membuka the chamber of secret sebelumnya adalah Tom Marvolo Riddle karena mungkin saja dia pernah sekolah di Hogwarts, dan kalau kita hitung-hitung dari tahun kelahiran sampai tahun ini, umur Tom Marvolo Riddle sekitar 66 tahun. Dia pasti sudah punya cucu diumur setua itu" ucap Hermione dengan nada serius.
"dan yang membuka the chamber of secret sekarang adalah keturunannya" ucap Ron dengan mata terbuka lebar.
"Hm, menurutku begitu" balas Hermione
"Tapi… seingatku tidak ada murid dengan nama keluarga Riddle, dan juga tidak ada lagi bayi yang lahir dengan nama keluarga itu" ucap Harry, merasa hal ini semakin membingungkan.
"Hm, mungkin seperti yang ayah Ron bilang kalau keluarga Riddle pindah keluar negeri, dan mungkin mereka pindah setelah Riddle junior lulus" balas Hermione.
"Akh…, hal ini benar-benar membingungkan" ucap Ron, mengacak-acak rambutnya.
"Iya kau benar Hermione, tapi itu belum menjelaskan tentang tidak ada murid yang bernama Riddle di sekolah ini" ucap Harry mengingatkan teman-temannya mengenai identitas keturunan Slytherin yang saat ini kembali membuka the chamber of secret.
"Entahlah Harry, mungkin setelah pindah keluar negeri Riddle junior mengubah namanya" ucap Hermione
"Atau mungkin Mrs. MeropeRiddle menikah lagi, karena itu nama anak hingga cucunya juga berubah" ucap Ron, mencoba memberikan kemungkinan lainnya.
"Yeah, kau benar Ron. Itu cukup masuk akal" ucap Harry yang mendapat anggukan dari Hermione
"Dan kalau mereka menikah diluar negeri, kementrian tidak akan mempunyai datanya" ucap Hermione, Harry dan Ron setuju dengan ucapannya.
"Jadi… apa rencana selanjutnya?" Ron merasa hal ini akan sangat membingungkan.
"Setidaknya kita tahu kalau Malfoy bukanlah keturunan Slytherin" ucap Harry
"Yeah" balas Ron dan Hermione bersamaan
"Kita harus buat rencana selanjutnya. Kendala kita saat ini yaitu kita tidak tahu nama, asrama dan kelasnya, mungkin dia murid tahun pertama, angkatan kita atau bahkan senior" ucap Hermione dengan kalimat yang terdengar seperti jalan buntu.
Ketiga murid Gryffindor itu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing yang memikirkan rencana selanjutnya, karena merasa mereka harus bergerak cepat. Sudah jatuh korban pertama, dan mereka yakin Colin bukanlah yang terakhir.
"Mengenai monster peliharaan Slytherin…" ucapan Harry berhasil menarik perhatian Hermione dan Ron, "… menurut kalian itu apa?"
"Entahlah Harry, tidak ada yang tahu. Aku mencoba bertanya pada para profesor tapi mereka juga tidak tahu, yang mereka tahu hanya the chamber of secret adalah rumah monster" balas Hermione yang mendapat anggukan dari Ron.
"Hm…" hanya itu balasan yang diberikan oleh Harry, dan Hermione sebagai seseorang paling jeli dan peka diantara ketiganya menyadari kalau Harry ingin mengatakan sesuatu tapi tidak berani mengungkapkannya.
"Harry, kalau kau punya pendapat katakan saja" ucap Hermione
"Tidak apa Mione, itu hanya pikiran bodoh. Tidak mungkin" balas Harry dengan wajah tidak yakin.
"Harry… kita berkumpul disini untuk berdiskusi, jadi sebodoh apapun pendapat itu katakan saja" balas Hermione dengan nada menasehati
"Yeah, itu benar Harry" sambung Ron dengan menganggukan kepalanya
"Umh… ok, menurutku monster yang ada di the chamber of secret itu adalah ular, kalian tahukan lambang asrama Slytherin adalah ular" ucap Harry dan mendapat balasan wajah tanpa ekspresi dari kedua temannya.
"Ya, aku tahu itu pemikiran yang bodoh. Tidak mungkin segampang itu, karena pasti para profesor juga akan menyadarinya" wajah Harry memerah setelah mengatakan hal itu.
"Tidak Harry, kau mungkin benar. Dengar kemungkinan itu selalu ada karena yang aku tahu setiap pendiri Hogwarts yang memilih lambang setiap asrama mereka. Akh… kenapa aku tidak menyadarinya" ucap Hermione bersemangat.
BRAK…
Hermione dan Harry dikejutkan dengan Ron yang tiba-tiba saja memukul meja. Untunglah madam Pince masih berada di Great hall dan di perpustakaan hanya ada mereka.
"Ron! Kau ini kenapa? Tiba-tiba memukul meja seperti itu" tegur Hermione dengan nada tegas, jantungnya terasa mau keluar karena terkejut.
"Ah, maaf teman-teman. Aku terlalu bersemangat" ucap Ron dengan cengiran lebarnya
"Memangnya ada apa Ron?" tanya Harry
"Kau benar Harry, monster itu adalah seekor ular" balas Ron dengan semangat
"Kenapa kau yakin sekali?" tanya Hermione
"Itu karena Salazar Slytherin mempunyai kemampuan Parselmouth dan semua keturunannya juga" ucap Ron dengan senyuman lebar dan mata Hermione terbuka lebar seakan-akan menyadari sesuatu, sedangkan Harry hanya menatap bingung kedua temannya.
"TENTU SAJA! Ya ampun Ron, kau jenius" ucap Hermione yang juga tidak kalah semangat.
"Hm… guys… little help here?" tanya Harry masih dengan wajah bingungnya
"Harry, semua keturunan Salazar Slytherin adalah seorang Parselmouth. Itu artinya monster itu adalah monster ular. Ok, rencana selanjutnya kita harus mencari tahu monster jenis ular apa itu, dan mungkin kita bisa menemukan cara untuk melawannya" jawab Hermione dengan semangat.
"Umh… aku masih tidak mengerti, lalu apa itu parselmouth?" ucap Harry yang berhasil membuat Hermione dan Ron terdiam.
"Ah, maaf Harry aku terlalu bersemangat. Parselmouth adalah kemampuan untuk berbicara parseltongue atau bahasa ular. Jadi Salazar Slytherin dan semua keturunannya bisa berbicara dengan ular" ucap Hermione
"Yeah dan kemampuan itu tidak bisa dipelajari, hanya bisa diturunkan artinya semua keturunan Salazar Slytherin lahir dengan kemampuan itu" sambung Ron
"Ah… aku mengerti sekarang. Monster yang ada di the chamber of secret itu sejenis ular, karena mereka bisa berkomunikasi dengan monster itu dan memerintahkannya untuk menyerang para muggleborn" ucap Harry, menyimpulkan informasi baru yang mereka dapatkan dan Hermione serta Ron menganggukkan kepala mendengarnya.
"Ok, seperti yang aku bilang tadi kita harus mulai mencari mahluk sihir berjenis ular dan mempunyai kemampuan menyerang orang sampai terkujur kaku" ucap Hermione
Selama 2 hari, ketiga murid Gryffindor itu banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Selain mengerjakan tugas sekolah (atas paksaan Hermione), mereka juga banyak menghabiskan waktu untuk mencari mahluk sihir yang menteror Hogwarts.
TBC
Author Note:
Ok, golden trio kita sudah berhasil memecahkan misteri yang seharusnya dipecahkan jauh…. Sekali di cerita aslinya…
Wkwkwk…
Gimana cerita chapter satu ini?
Tolong saran & kritiknya yaw…
Terima kasih
