Harry Potter © J.K. Rowling

Chapter 19

Duelling Club Part 1

Tidak terasa 2 hari telah berlalu dan selama itu pula Harry, Hermione & Ron belum juga menemukan petunjuk tentang mahluk sihir seperti ular yang dapat membuat tubuh mahluk hidup menjadi kaku seperti patung.

Harry bahkan mencoba mencarinya di bagian terlarang perpustakaan, tetapi entah kenapa Filch selalu saja memeriksa perpustakaan sampai lebih dari satu kali dan itu menyebabkan Harry tidak sempat memeriksa buku tentang mahluk sihir.

Bisa saja Harry membawa buku tersebut, tapi masalahnya ketika buku itu disentuh akan mengeluarkan suara auman. Beberapa kali hal itu hampir membuat Harry tertangkap. Sehingga dengan berat hati Harry mendengarkan saran Hermione untuk tidak pergi kesana lagi.

Hari senin tiba dengan cuaca cerah seperti biasanya tapi ada yang berbeda pada hari itu. Semua murid keempat asrama, dari tahun pertama sampai tahun ketujuh dibatalkan pelajaran pertamannya, sehingga setelah sarapan tidak ada yang meninggalkan Great Hall.

Keempat meja panjang tiap asrama dihilangkan, dan hanya menyisakan arena berbentuk lingkaran ditengah ruangan. Sudah beredar gosip bahwa Profesor Lockhart memberikan usul pada kepala sekolah untuk membuat klub duel, agar para murid dapat belajar mempertahankan dirinya dari serangan yang tidak diinginkan.

Tidak disangka bahwa gosip itu benar, dengan kepala sekolah mengkonfirmasi berita tersebut lewat pengumuman saat sarapan. Dapat terlihat wajah antusias setiap murid yang ada disana, suasana ricuh pun tidak bisa dihindari.

Tiba-tiba pintu Great hall terbuka dan profesor yang paling ditakuti dan dibenci seluruh Hogwarts masuk dengan wajah arogan, serta jubah hitamnya yang berkibar seperti sayap kalelawar, tidak heran bila profesor ini mendapat julukan old bat.

Sorot dingin dari mata hitam itu, memandang semua murid disana dengan pandangan seakan-akan merendahkan serta menyelahkan mereka karena membuang waktunya yang berharga, berhasil membuat ruangan yang awalnya ricuh menjadi hening. Bahkan, para Slytherin tidak ada yang berani menatap mata ketua asrama mereka.

Tidak hanya para Slytherin, bahkan ketiga asrama lainnya pun sudah tahu kalau setiap hari senin tiba Profesor Snape akan lebih kejam dibandingkan biasanya. Oleh karena itu, Harry dan teman-temannya sangat kecewa saat ada pelajaran ramuan dihari senin.

"Oh… Severus senang sekali kau bisa bergabung bersama kami" suara dengan nada ceria Profesor Lockhart terdengar dan dibalas dengan wajah kecut Profesor Snape.

Dengan langkah elegan, Profesor Lockhart naik keatas arena dengan senyuman lebarnya.

"Semuanya berkumpul, ayo kumpul" teriakan Profesor Lockhart membuat para murid yang awalnya seperti patung, kembali ricuh dengan berdesakan berebut posisi terdepan.

"Apa semuanya bisa melihatku? Harap tenang" teriakan Profesor Lockhart berhasil membuat para murid kembali hening dan mulai mendengarkan ucapan profesor terkenal itu.

"Bagus. Karena kejadian belakangan ini, Profesor Dumbledore mengijinkanku membuat klub duel ini, untuk melatih kalian agar bisa mempertahankan diri saat dibutuhkan. Seperti yang sering kali aku alami, untuk jelasnya silakan baca buku saya" Profesor Lockhart lalu melepas jubahnya dan melemparkannya kearah para murid perempuan yang tentu saja membuat heboh, karena berebut jubah itu.

"Perkenalkan asistenku, Profesor Snape" Profesor Snape menaiki arena dengan wajah masam dan tatapan dingin, sangat terlihat kalau dia tidak ingin berada disini.

"Dia setuju untuk memberikan sedikit demonstrasi. Kalian tidak usah Khawatir, guru ramuan kalian akan baik-baik saja" ucap Profesor Lockhart dengan nada penuh percaya diri.

"…" Draco menaikkan sebelah alisnya saat mendengar ucapan si Lockhart yang terlampau percaya diri. Seakan-akan Severus akan kalah dari orang bodoh sepertinya.

Draco sebenarnya tidak yakin klub duel ini akan berguna, apalagi menghadapi monster itu. Tapi ide ini mungkin bagus untuk mengalihkan perhatian para murid & melupakan sejenak teror yang mengintai.

Profesor Lockhart dan Profesor Snape saling berhadapan dan melakukan ancang-ancang memulai duel, kemudian keduanya berjalan menjauh saling membelakangi. Tiba saatnya duel, keduanya mengambil posisi bersiap untuk menyerang dengan tongkat teracung kearah lawan.

"Satu… dua… tiga!" Profesor Lockhart mulai berhitung.

"Expelliarmus!" siapa yang menyangka, Profesor Snape dengan sigap melancarkan mantra setelah hitungan ketiga dan telak mengenai tubuh Profesor Lockhart.

"OWWWHHH…" teriakan Profesor Lockhart menggema memenuhi ruangan tersebut.

BRUK…

Suara keras tubuh Profesor Lockhart yang menghantam arena, otomatis membuat para murid laki-laki cekikikan bahkan Harry dan Ron tersenyum lebar melihat hal itu. Sedangkan para murid perempuan menampilkan wajah khawatir dan ada beberapa yang memekik kaget melihat Profesor Lockhart yang terlempar jauh.

"Menurut kalian dia baik-baik saja?" Hermione bertanya dengan nada khawatir.

"Siapa yang peduli" balas Ron dengan senyuman lebarnya.

"Demo yang bagus, Profesor Snape. Tapi apa yang mau kamu lakukan tadi sangat jelas. Kalau aku mau menghentikannya…" Profesor Lockhart berjalan kearah Profesor Snape dengan senyuman lebarnya.

"Mungkin lebih baik mengajar para murid, cara bertahan dulu profesor" Profesor Snape dengan wajah dinginnya memotong ucapan itu, seakan-akan dia tidak mau mendengar ucapan omong kosong itu lebih lama.

"Usul yang sangat bagus, Profesor Snape" Profesor Lockhart lalu melihat sekeliling murid disana, lalu menunjuk Harry & Ron untuk naik kearena.

"Tongkatnya Weasley sedang rusak, bisa-bisa nanti Potter harus masuk kembali ke Hospital wing" suara dingin Profesor Snape mengintrupsi ucapan Profesor Lockhart.

"Kalau boleh aku ingin mengusulkan siswa dari asramaku, Malfoy mungkin?" tanpa mendengar balasan dari Profesor Lockhart, Profesor Snape langsung memanggil Draco untuk naik keatas Ring.

"Semoga beruntung, Potter" Profesor Lockhart menepuk pundak Harry dan berdiri diujung arena.

"Terima kasih, profesor" balas Harry dengan tatapan lurus menatap Draco yang berjalan kearahnya dengan seringaiannya yang khas. Keduanya berdiri saling berhadapan, dengan jarak 5 langkah memisahkan kemudian Profesor Lockhart memberikan aba-aba kepada keduanya.

"Scared Potter?"

"You wish!"

Murid-murid dari kedua asrama, Gryffindor & Slytherin saling berteriak memberikan semangat pada Draco & Harry. Ketika keduanya mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang, suasana berubah menjadi hening dan setiap orang fokus dengan duel yang akan dimulai.

'Ini akan seru!' pikir semua murid yang hadir, kapan lagi mereka dapat menyaksikan duel antar rival yang terkenal seantero Hogwarts.

"Pada hitungan ketiga, ucapkan mantra 'hanya' untuk menjatuhkan senjata lawan" ucap Profesor Lockhart menekankan kata hanya.

"Tunggu! Sebaiknya memasang perisai disekitar arena, untuk berjaga-jaga kalau ada kecelakaan" ucap Profesor Snape masih dengan wajah arogannya.

"Sekali lagi, usul yang sangat bagus Profesor Snape. Mungkin kau bisa melakukannya, karena kalau aku yang memasangnya… aku khawatir kita tidak akan bisa keluar dari sini, karena perisainya akan sangat kuat dan sulit terlepas" Profesor Lockhart tersenyum lebar sambil melihat kearah para murid. Para murid perempuan tersipu malu dengan pipi merah sedangkan murid laki-laki sebaliknya, wajah mereka seperti ingin muntah.

Draco dapat melihat jelas, kalau Severus mencoba menahan diri untuk tidak menghajar Lockhart. Sepertinya kesabaran Severus sudah diambang batas, karena mendengar omong kosong pria itu sejak tadi. Draco hanya berharap Severus tetap bersabar sampai acara klub ini selesai, karena dia tidak mau kelas ramuan diajar oleh profesor lain bila Severus diskors.

Profesor Snape tidak mengatakan apapun untuk membalas ucapan Profesor Lockhart, dan tanpa aba-aba langsung memasang pelindung disekitar arena.

Tabir berwarna biru terang dan tembus pandang mengelilingi arena tersebut, dan saat Ron menyentuhnya tabir itu terasa dingin dan keras.

"Wow… ini sangat keren" Ron menempelkan kedua tangannya pada perisai itu.

"Hm, saat tahun kelima kita akan mempelajari ini dikelas D.A.D.A. ini salah satu mantra pelindung yang sulit" ucap Hermione yang juga cukup terkesan.

"Aku benci mengatakannya, tapi harus aku akui kalau Snape itu hebat" ucap Seamus dan mendapat anggukan semua murid yang mendengar ucapannya itu.

"Satu… dua…" Profesor Lockhart mulai berhitung

"Everte Statum!" belum sampai hitungan ketiga, Draco langsung melancarkan mantra menyerang Harry hingga tubuhnya terlempar serta menabrak perisai dengan keras. Tawa murid-murid Slytherin memenuhi ruangan, Ron dan Hermione melihat kearah Harry dengan perasaan khawatir.

'Sekali Slytherin, tetap Slytherin' batin Harry, dia langsung bangkit dan mengacungkan tongkatnya kearah Draco yang masih menyeringai menatapnya. Entah kenapa selain perasaan kesal, Harry juga merasa sedikit sedih & kecewa.

"Rictusempra!" Harry membalas Draco dan karena Harry menyerangnya secara tiba-tiba, Draco belum menyiapkan diri sehingga gagal menangkis mantra itu dan berhasil mengenai telak tubuhnya.

Kali ini tawa murid Gryffindor yang memenuhi ruangan dan teriakan ejekan untuk Harry dari asrama Slytherin.

Draco yang jatuh tepat didepan Severus, bajunya langsung ditarik oleh ayah baptisnya itu agar dia cepat berdiri dan kembali melanjutkan duel.

"Aku bilang hanya untuk menjatuhkan senjata, bukan menjatuhkan lawan" tegur Profesor Lockhart yang sepertinya tidak dipedulikan oleh Draco maupun Harry.

"Flipendo!" cahaya putih seperti petir keluar dari tongkat Draco dan berhasil menjatuhkan Harry.

"Ukh…" Harry mulai merasakan sakit pada bagian punggung dan kepalanya yang sejak tadi membentur sesuatu.

Great hall menjadi sangat ricuh dengan teriakan, tidak hanya dari asrama Gryffindor dan Slytherin tapi juga dari dua asrama lainnya. Ada yang bersorak menyemangati Harry dan Draco, ada pula yang berteriak mengejek salah satu dari mereka.

"Stupefy!" teriak Harry, dia ingin menyelesaikan duel ini dengan cepat karena kalau Draco pingsan, duel ini akan otomatis berhenti.

"Protego!" sayangnya kali ini, Draco menjadi lebih siap dibandingkan sebelumnya. Dengan sigap, Draco membuat pelindung sehingga mantra itu terpental tidak mengenai dirinya.

"Glisseo!" Draco tidak membiarkan Harry untuk membalasnya, karena setelah menangkal serangan itu, Draco langsung melemparkan mantra tapi bukan kearah Harry, melainkan kearah lantai yang dipijaknya.

"Akh…" Seketika itu, bagian arena yang dipijak oleh Harry berubah miring seperti perosotan, sehingga dia dan Profesor Lockhart langsung terjatuh kebawah arena.

Great hall sekali lagi dipenuhi dengan suara tawa dan teriakan. Para murid perempuan termasuk asrama Slytherin, memandang sinis kearah Draco sang pelaku utama yang menyebabkan idola mereka terjatuh.

Draco menaikkan alisnya saat melihat tatapan membunuh Pansy dan Blaise yang sibuk tertawa.

"Finite Incantatem" suara dingin Profesor Snape berhasil membuat suasana Great hall menjadi tenang. Arena kembali seperti semula, Harry dan Profesor Lockhart kembali masuk ke arena.

"Malfoy, tadi itu gerakan yang sangat bagus. Tapi mungkin kau bisa, tidak melibatkan kami para profesor dalam duelmu" Profesor Lockhart dengan senyuman penuh keterpaksaan, mencoba menasehati Draco.

"Maaf profesor" balas Draco dengan santai.

Profesor Lockhart sudah merasakannya sejak kelas D.A.D.A terakhir, kalau pewaris keluarga Malfoy ini bukanlah murid biasa. Dia tidak tahu apa yang membuatnya berbeda, tapi dia mempunyai firasat buruk setiap kali berhadapan dengan Malfoy junior ini. Oleh karena itu, saat Profesor Snape mengajukan Malfoy, firasatnya sudah tidak enak dan Profesor Lockhart sangat mempercayai firasatnya itu.

"Ok, duel ini sebaiknya dihen…" ucapan Profesor Lockhart terhenti saat melihat tatapan Harry yang sepertinya mengerti dengan apa yang akan dia katakan. Dari sorot matanya Profesor Lockhart dapat melihat kalau Harry masih ingin membalas Malfoy Junior.

"… dilanjutkan kembali. Baiklah kalian silakan ambil posisi" lanjut Profesor Lockhart yang menyerah dengan tatapan menusuk Harry yang seakan-akan mengatakan 'lanjutkan lanjutkan lanjutkan…'

Harry dan Draco kembali bersiap dengan tongkat teracung dan Profesor Lockhart kembali berhitung sebagai aba-aba.

Tepat pada hitungan ketiga, Harry melemparkan mantra Ventus yang menciptakan angin berbentuk spiral, dan sekali lagi Draco berhasil selamat dengan memperkuat mantra perisainya menggunakan mantra Fianto Duri.

Tanpa membuang waktu, Draco langsung merapalkan mantra Fumos dan menyebabkan seluruh arena terselimuti kabut. Para murid yang berada diluar arena tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi, bahkan Harry pun tidak dapat melihat Malfoy, hanya kabut putih yang dilihatnya.

"Ventus Duo!" dengan panik, Harry merapalkan versi mantra Ventus yang dua kali lebih kuat dibandingkan sebelumnya, untuk menghilangkan kabut tebal yang menghalangi pandangannya.

"Expelliarmus!" seakan dapat membaca pikiran Harry, secara bersamaan Draco merapalkan mantra dan berhasil mengenai tongkat Harry hingga terlepas dari genggamannya. Tornado berukuran kecil yang hampir tercipta hilang tidak berbekas, saat tongkat Harry hilang dari tangannya dan kabut itu kembali memenuhi arena.

Terima kasih pada latihan duel yang diberikan Sky, membuat Draco dapat bertarung dalam keadaan gelap dengan hanya mengandalkan indera pendengarannya.

'Kau curang' ucap Sky membuyarkan konsentrasi Draco.

'Tidak ada kata curang dalam perang dan cinta. Sekarang aku sedang perang' balas Draco dengan menyeringai.

'Oh… kau yakin bukan yang satunya?'

'…' Draco tentu saja mengerti dengan godaan Sky, tapi dia memilih untuk tidak mempedulikannya. Alhasil, Sky terus memanggil namanya berusaha untuk mendapatkan perhatian yang tentu saja tidak berhasil.

Harry dengan panik meraba-raba lantai untuk menemukan tongkatnya, firasatnya sangat buruk saat ini. Ketika Malfoy memunculkan kabut itu, dia berpikir kalau gerakan itu sangat bodoh untuk ukuran Malfoy karena tidak hanya Harry yang kesulitan untuk menyerang, tapi Malfoy juga.

Sayangnya, jalan pikiran itu salah besar. Terbukti Malfoy tetap bisa menyerang Harry dengan telak tanpa tahu posisinya dimana. Harry sendiri sangat terkejut saat cahaya biru muda itu muncul tiba-tiba dan menyerangnya.

Masih sibuk dengan urusan mencari tongkatnya, Harry tidak menyadari bayangan hitam menghampirinya dari belakang.

"Kau mencari apa Potter?" suara lirih Malfoy terdengar tepat disamping telinga Harry, dan otomatis membuatnya menoleh kebelakang tapi tidak ada siapa-siapa disana.

Harry mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling dan mencoba mencari sosok Malfoy. Nihil, bahkan bayangannya pun tidak dapat Harry lihat dan hanya kabut putih yang seakan menyekapnya.

"Tongkatmu?" sekali lagi suara Malfoy terdengar sangat jelas tepat dibelakang Harry, dan sekali lagi dia tidak menemukan siapa-siapa disana.

Sekali lagi Harry mencoba mencari tongkatnya, walaupun dia tahu kesempatannya cukup kecil untuk dapat menemukan tongkat itu, bahkan mungkin saja Malfoy sudah mengambilnya.

"Potter Potter, ckckck… the boy who lived merangkak didepanku, sungguh pemandangan yang luar biasa" Harry mencoba untuk tidak mempedulikan suara Malfoy, dan tetap fokus mencari tongkatnya.

"Potter…"

"Pottah!"

"Gryffindork!"

"Hei… Scarhead!"

"Mata empat!"

Harry tetap tidak mempedulikan Malfoy, bahkan dia mencoba menahan emosinya yang mulai naik karena ejekan si pirang itu, tapi selain itu Harry juga merasakan déjà vu.

'Seperti saat di Hospital wing' pikir Harry dan tanpa sadar senyuman tersungging di bibirnya.

"Potter~~~" kali ini suara lirih Malfoy terdengar sangat jelas ditelinga Harry, seakan-akan si pirang itu berbicara tepat disampingnya. Tapi kali ini Harry tidak buru-buru menoleh, dia tetap tidak mempedulikan Malfoy.

Ketika Harry merasakan hembusan napas mengenai tengkuknya, Harry dengan sigap mencengkram kerah baju si Slytherin dan melemparnya kedepan, lalu tanpa membuang kesempatan Harry langsung menimpa Draco dengan tubuhnya sendiri agar si pirang susah untuk bergerak.

Harry lalu meraih tongkat Draco dan melemparkannya, menjauhi sang pemilik. Yeah, kalau Harry tidak bisa menemukan mangsanya, biarkan mangsa itu yang mendekatinya. Jangan salahkan Harry yang dapat berpikiran licik, karena bagaimana pun dia adalah mantan calon murid Slytherin.

"Wow, Potter… kau benar-benar licik. Kau sengaja memancingku" ucap Draco dengan seringainya. Kedua tangannya digenggam oleh Harry yang saat itu duduk pinggangnya. Berusaha keras menahan gerakan Draco agar tidak lepas.

"Kau lebih licik Malfoy" balas Harry tidak terima dengan ucapan Draco.

"Aku seorang Slytherin, wajar bila aku berbuat licik" Draco dengan seringainya, menatap mata Harry tanpa berkedip. Silver bertemu hijau.

'Dibandingkan abu, matanya lebih ke silver' tanpa Harry sadari, Draco berhasil memancingnya untuk kehilangan fokus, sehingga Draco dengan mudah membalikkan posisi tubuh mereka.

"Akh…" kali ini Draco berada tepat diatasnya, dengan posisinya berada diantara kaki si kacamata, tapi yang anehnya kedua tangan Draco masih ada dalam genggaman Harry.

Tentu saja, dengan posisinya itu Draco mudah melepaskan kedua tangannya dari cengkraman si monster kecil bermata emerald dan balas mengenggam kedua tangan mungil itu.

Mata hijau itu terbuka lebar menatap si pelaku yang berada diatas tubuhnya, "Malfoy minggir!" perintah Harry berusaha menyingkirkan Draco, tapi sayangnya si pirang itu tidak mau menyingkir.

"Shh… Potter, kau orang yang mengajarkanku gerakan ini. Kenapa saat kau sendiri yang mengalaminya, kau malah keberatan?" tanya Draco dengan nada jahil dan seringainya.

"… Malfoy… kuperingatkan sekali lagi, lepaskan aku" Harry berusaha mengancam Draco, tapi sayangnya tidak terlalu efektif karena wajahnya yang tersipu.

"Hm… akan aku lepaskan, tapi dengan satu syarat" wajah Draco tersenyum lebar dengan mata berbinar.

"Apa?" Harry resmi membenci senyuman itu.

"Kau tidak takut aku memberikan syarat yang sulit Potter?" tanya Draco, heran dengan reaksi Harry yang tidak diduganya.

"Aku tinggal memilih untuk tidak melakukannya" jawab Harry dengan wajah arogan, mengingatkan Draco dengan anak kucing yang berusaha sangar tapi sayangnya tidak berhasil.

"Ok, syaratnya cukup mudah. Biarkan aku memukul pipimu sekali" ucap Draco dengan penuh percaya diri.

"Hanya itu?" tanya Harry tidak yakin.

"Yap!"

"Kau akan langsung melepaskanku?" sekali lagi Harry bertanya dengan ragu.

"Yeah!"

"Sungguh?" mata Harry memicing, menatapnya curiga.

"Aku bersumpah atas nama Malfoy" ucap Draco dengan sedikit kesal, apa dia sangat sulit untuk dipercaya sampai-sampai ditanya berulang kali seperti ini?

"Ok! Hanya sekali kan?" tanya Harry terakhir kali untuk memastikan.

"Hanya sekali. Kau siap?" dengan sabar Draco menjawabnya.

"Yeah, aku siap" ucap Harry dengan matanya yang tertutup. Walaupun dia sering bertengkar dengan Malfoy, tapi tetap saja dipukul di pipi akan tetap terasa sakit, apalagi kalau menerima pukulan itu secara suka rela.

Draco melepaskan tangan Harry, lalu mengepalkan tangannya kemudian menonjok pipi si anak emas.

Tap

.

.

.

"Sudah" ucapnya, dia tidak bisa menahan senyumnya saat melihat mata hijau itu terbuka lebar, sambil memegangi pipinya yang baru saja 'dipukul'.

"Balasan untuk satu tahun yang lalu Potter" ucap Draco sambil tersenyum. Kemudian dia berdiri, melepaskan Harry dari tahanannya.

DEG…

TBC

Author Note:

Hohoho…

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

BTW, Kalian ingat ndak sih pas adegan Harry ma Draco dipanggil buat naik ke arena duel (di Film HP ke-2)?

Harry dengan sopannya naik lewat tangga, tapi Draco dengan pede langsung manjat naik ke arena…

Wkwkwk, bad boy banget Draco.

Padahal yang diajari tata krama sejak kecil tuh Draco

Mungkin pingin keliatan keren kali ya…

Hahaha…

Tolong saran & kritiknya yaw…

Terima kasih