BLACK SONATA

.

.

.

.

.

Diamond no Ace milik Terajima Yuji

.

.

.

.

.

Fanfiksi oleh macaroon girl

.

.

Selamat Membaca!

.


JEMARInya yang panjang dengan kuku panjang bergerigi itu bergerak di udara dengan menggapai sesuatu. Dengan kakinya yang bengkok dan tinggal tulang saja bergerak selangkah demi selangkah, mulutnya terbuka—menganga—mengeluarkan aroma busuk dengan giginya yang kotor. Matanya mencuat ke luar berdarah-darah. Terdengar jeritan kecil ke luar dari mulutnya, disusul lengkingan dari tempat lain dan teriakan dari tempat lainnya lagi.

Ia melotot. Tubuhnya bergetar ketakutan. Perlahan kakinya mulai memacu ke sembarang arah—berlari mencari tempat aman. Ia menginjak semak belukar, ranting-ranting, serta sesuatu yang lembek yang tidak ingin ia lihat apa itu. Ketika melihat sebuah pohon beringin besar di depannya, ia memacu ke arah sana demi mencari perlindungan. Berlindung dari balik batang pohon yang besar. Menyenderkan punggungnya yang basah ke sana. Tunggu, sejak kapan sekujur tubuhnya basah?

Ia sadar. Ia mulai melihat tangannya yang berlumuran darah. Kedua kakinya beralaskan sepatu juga berlumuran darah. Lalu celana, lalu baju, lalu wajah, lalu rambut. Sekujur tubuhnya berlumuran darah! Tubuhnya kembali bergetar karena takut dan jijik yang luar biasa. Ia mencium bau amis dan bau tidak enak lainnya yang membuat ia mual. Tubuhnya perlahan-lahan mulai panas, gatal, kemudian ia merasa seperti terbakar—seperti kulitnya akan meleleh.

Sedetik kemudian. Makhluk yang sudah tinggal tulang tadi—dengan memakai baju lusuh putih kotor bercampur darah dan tanah—sisa kulit di wajah masih ada tetapi seperti hangus terbakar— salah satu matanya mencuat ke luar. Jemari panjang dengan kuku panjang itu mulai mendekatinya. Mencekiknya dengan keras. Berteriak memekakkan telinganya.

"TOLONG AKU!" teriakan bagaikan lolongan anjing kesakitan yang menyiksa memekakkan telinganya. Ia ikut berteriak karena takut dan kesakitan.

DEG!

Itu mimpi! Sawamura Eijun terbangun dengan tarikan di jantungnya yang tiba-tiba. Keringat menetes dari dahinya. Ia langsung melihat sekujur tubuhnya yang baik-baik saja—tidak ada darah bau berlumuran di tubuhnya. Menghela nafas panjang, Eijun memijat pelipisnya pelan—pusing karena bangun yang tiba-tiba ini. Ia duduk dan menyenderkan punggungnya ke tembok di sampingnya. Ia melihat beberapa temannya terkapar di atas lantai beralaskan karpet dan jaket yang dijadikan bantal.

Ada Miyuki Kazuya yang tertidur di ranjang di sebrangnya—tampak tidur dengan damai, bersama Kuramochi Yoichi dan Maezono Kenta yang tidur di samping Kazuya. Sementara Eijun tidur bersama Kominato Haruichi dan Furuya Satoru. Kebetulan Eijun mendapatkan bagian tidur di sisi kiri dekat tembok.

Ia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Sudah jam tiga pagi dan dia tidak bisa tidur lagi, sialan. Eijun memutuskan untuk bangun dan mengendap-endap pergi ke luar kamar mencari udara. Ia mengambil jaketnya yang di taruh di atas sofa di sudut ruangan kemudian membuka pintu dengan pelan tanpa membangunkan teman-temannya.

Eijun menutup pintunya kemudian melihat lorong remang yang sepi. Ia menelan ludah. Baru saja mimpi buruk menghantuinya dan sekarang ia nekat ke luar mencari udara di jam tiga pagi.

Penginapan mereka terletak di dekat hutan yang akan mereka jelajahi nantinya. Hal itu membuat penginapan ini sepi pengunjung meski kondisi fisiknya baik-baik saja dan nyaman ditinggali. Ketika Eijun berjalan, lantai kayunya berderit membuat ia tersentak kaget. Ia tidak tahu kalau lantainya berderit, padahal saat sore tadi ia tidak mendengarnya. Mungkin saja suara sekecil apapun itu ketika malam akan terdengar jelas.

Eijun berjalan ke luar penginapan. Ada dua gedung kayu yang terpisah. Salah satunya adalah gedung kayu yang kamarnya di pesan oleh mereka—kamar mereka sedikit lebih besar dan juga berada di ujung karena mereka tidak mungkin bisa menyewa kamar per-orang mengingat keuangan mereka terbatas. Lalu salah satu gedung kayu di sampingnya terlihat kosong. Beberapa kamar lampunya mati—atau bahkan tidak ada yang menempati kamar itu. Di ujung gedung itu terdapat ruangan terbuka yang disinari bulan. Eijun berkedip lambat, eh, itu adalah piano. Sebuah piano berwarna hitam mengilap di tengah gelapnya malam.

Sejak kapan ada piano di sana? Ia tidak menjelajah lebih lanjut ketika matahari masih menyinari bumi. Karena keburu malam dan pemilik penginapan tidak memperbolehkan ia keluar malam-malam. Tapi … tidak ada yang tahu ia di sini bukan? Jadi, ia bebas berkeliaran ke mana pun. Persetan jika ketahuan pemilik penginapan, bilang saja ia habis tidur sambil berjalan.

Ia mulai melangkah memasuki ruangan terbuka itu, tidak ada pintu, meski begitu mereka memiliki jendela yang ditutup oleh gorden kain berwarna putih tipis. Ketika angin masuk, gorden itu akan berkibar karena tidak memiliki kaca di dalamnya.

Jemari Eijun menyentuh tuts piano yang dingin, ia merasakan hawa yang berbeda dari sebelumnya. Terasa dingin dan hangat bersamaan. Ada banyak tawa yang tertinggal di sini, ada banyak perasaan hangat dan kenangan manis yang sulit dihilangkan. Ia mencium aroma manis—aroma bunga yang begitu menenangkan. Eijun memakai jaket denimnya kemudian duduk di kursi kayu dan mulai menyentuh sembarang tuts—membuat nada yang terpecah kemudian menyatu membentuk nada yang menenangkan hati.

Tidak peduli dengan suara yang dihasilkan piano ini, Eijun tetap menyentuh tuts-tutsnya. Ia tenggelam dalam nada dan kehangatan yang memeluknya. Ia membayangkan ada anak kecil berlarian mengelilingi piano lalu ada dua anak berumur sepuluh tahun yang sedang menari mengikuti alunan nada. Bau kue kering matang tercium, di susul tawa girang anak-anak. Dan kehangatan keluarga yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tanpa sadar air matanya menetes ke pipi. Ia begitu emosional merasakan kenangan yang tertinggal di sini. Eijun mengusap sudut matanya yang berair kemudian terkekeh pelan.

"Permainanmu sangat bagus,"

Eijun tersentak. Ia menoleh ke belakang, di sana Yoshikawa Haruno berdiri di ambang pintu besar. Eijun terkekeh. "Maaf kalau mengganggumu,"

Haruno memasang senyum kecil yang sedikit kaku. "Tidak apa. Karena suaranya begitu indah, itu tidak mengganggu sama sekali."

"Terima kasih," Eijun mengusap tengkuknya malu. "Kau tidak dingin? Tidak pakai jaket seperti itu…" Eijun memerhatikan baju Haruno yang sama seperti sore tadi. Memakai kemeja hitam berlengan sesikut dan celana jins biru dongker.

"Tidak. Aku baik-baik saja." Haruno menjawab dengan yakin. "Lanjutkan saja permainanmu. Aku akan mendengarnya."

Eijun berkedip kemudian terkekeh pelan. "Haruno-san tidak mengantuk?" tanya Eijun mencari topik lain. Ia sedikit heran kenapa Haruno tidak excited seperti biasanya.

Haruno menggeleng pelan. "Tidak." jawabnya singkat. "Ayo lanjutkan. Aku akan mendengarkannya."

Eijun merasa bahwa Haruno sedang memojoknya dan ingin ia kembali bermain piano. Daripada membuat wanita itu marah atau kesal, Eijun mengiyakan permintaan Haruno. "Baiklah, satu lagu sebelum tidur," ia kembali duduk tegak dan memainkan pianonya.

Lagu Moonlight Sonata 3rd Movement karya Beethoven.

Ia mengingat semua partitur di luar kepalanya, membayangkan partitur yang terlukis di atas kertas yang diletakkan di depan matanya, yang halamannya di balik oleh seseorang yang mengajarinya piano dengan sepenuh hati. Suara piano mengalun membaur dengan udara sekitar, membuat angin berhembus pelan menghantam hutan-hutan disekitarnya. Jari jemarinya menari-nari diatas tuts dengan hentakan pelan penuh emosi menghantam kepalanya.

Kenangan masa lalu yang menyedihkan. Terluka, ditinggalkan, kesakitan, penuh derita, kemudian memulai ulang kehidupan, hampir menyerah namun banyak tangan terlurur padanya untuk tetap membantunya hidup. Kemudian disingkirkan oleh orang-orang. Berdiri dengan kedua kakinya di atas salju dingin yang membuat tubuhnya membeku.

Semuanya akan baik-baik saja, kata seseorang yang mengajarkannya arti kehidupan. Kau tidak sendirian di sini, ada aku dan teman-temanmu. Ada kami yang memelukmu ketika kau ketakutan. Ada kami yang menyediakan selimut dan coklat hangat ketika kau kedinginan. Ada kami yang mengusap air matamu ketika kau sedih. Ada kami yang selalu bersamamu. Meski aku tidak disisimu, aku akan selalu ada di hatimu.

Lagu berdurasi selama tujuh menit itu berhenti ketika ia menekan tuts terakhir dan memberikan hentakan keras penuh emosi. Eijun mengambil nafas kemudian menghembuskannya. Ia menoleh ke belakang, Yoshikawa Haruno telah pergi tanpa ia ketahui.

Sarapan pagi di mulai dengan berisik. Seperti biasanya bahwa Eijun-lah yang paling berisik di antara mereka. Sementara Yuki Tetsuya, Takigawa Chris Yuu, Kanemaru Shinji, Kominato Haruichi dan Furuya Satoru adalah yang paling tenang di antara mereka. Sementara Miyuki Kazuya sibuk menggoda Eijun dengan gombalan menyebalkannya. Lalu Yoichi dan Kenta sibuk memperebutkan makanan.

Ruang makan yang ditempati mereka begitu ramai seperti pasar. Tidak lama kemudian dua orang perempuan masuk ke ruangan. Yoshikawa Haruno dan Fujiwara Takako dengan makanan di kedua tangan mereka.

Eijun menatap Haruno dengan keheranan sehingga wanita itu menatapnya balik dengan tatapan tidak kalah herannya. Kazuya berhenti mengunyah kemudian menyenggol pelan sikut Eijun. Eijun tersadar lalu tersenyum pada Haruno. "Ohayou, Haruno-san. Bagaimana semalam? Bisa tidur nyenyak?"

Haruno berkedip lambat kemudian memiringkan kepalanya. "Ohayou Sawamura-kun … etto … aku tidur nyenyak bersama Fujiwara-san kok…"

"Ah begitu ya … bagus kalau begitu. Aku khawatir kau tidak tidur nyenyak semalam."

"Tenang saja!" Haruno membalas dengan seruan semangatnya. Wajahnya berseri dan sedikit bersemu merah ke arah Eijun. "Aku tidak tidur terlalu larut sehingga hari ini aku dalam keadaan fit!"

Eijun tersenyum kaku. "Kau tidak masuk angin 'kan?" tanya Eijun lagi.

Haruno menggeleng sambil tersenyum lebar. "Selimutku cukup tebal dan hangat! Tenang saja, Sawamura-kun!"

Eijun mengangguk. "Bagus. Senang mendengarnya."

Setelah itu Haruno bergabung dengan Takako duduk di dekat Tetsuya dan Chris. Mereka mengobrol ringan dan Haruno terkekeh pelan meresponnya.

Sementara Eijun tersenyum kaku dan diam seperti patung. Tidak mengindahkan pertanyaan Kazuya yang bertanya apakah ia baik-baik saja atau tidak. Bahkan mengundang tatapan heran dari Yoichi.

Sial! Yang semalam bukan manusia! Eijun tersenyum menahan takut dan merinding yang menjalar di nadinya.

Tiga mobil berjejer masuk ke dalam hutan. Mobil yang paling depan adalah mobil yang dikendarai oleh Tetsuya bersama Jun, Chris, Takako dan Haruno di dalamnya. Sementara mobil ke dua dikendarai oleh Kazuya bersama Yoichi dan Kenta. Dan yang paling belakang adalah dikendarai oleh Shinji bersama Haruichi, Satoru dan Eijun di dalamnya.

Suasana masih sejuk bercampur dingin padahal sudah siang.

Eijun mengeratkan jaketnya dan beringsut menyenderkan punggung sambil menatap ke luar jendela mobil. Jujur saja ia tidak menyangka bahwa ia akan berbicara dengan 'yang bukan manusia' lagi. Ini sudah bertahun-tahun setelah kejadian di masa lalu. Ia juga masih ingat bagaimana ekspresi masam si pemilik penginapan mengatakan bahwa mereka harus berhati-hati masuk ke dalam hutan ini.

Tujuan mereka hanyalah satu; uji nyali di rumah di dalam hutan yang terkenal angker seperti kata orang-orang. Maksud dari uji nyali adalah mereka ingin memastikan secara langsung apakah rumah tersebut benar-benar angker atau hanya bualan belaka. Mereka melakukan hal ini bukan tanpa alasan. Mereka melakukan hal ini untuk memuaskan rasa penasaran mereka. Sebenarnya banyak anggota lainnya yang tidak ikut karena sibuk.

Ini juga demi konten mereka. Well, mereka adalah youtuber. Mereka semua. Karena sebagian dari mereka adalah orang professional di bidangnya, seperti mengedit, mengambil video, mengambil foto, akting dan lain-lainnya. Terutama Sawamura Eijun adalah yang paling berharga bagi mereka. Karena anak berisik dengan mulut bawel dan otak lemotnya adalah seseorang yang sangat sensitif dengan hal-hal ghaib. Karena hal itu, channel youtube mereka berkembang pesat dan di terima masyarakat dengan positif.

"Ada apa? Kau memikirkan sesuatu?" tanya Haruichi penasaran. Ia baru saja menghabiskan keripik kentangnya dengan Satoru dan Shinji. Sementara Eijun dari tadi ditawarkan makanan selalu menolak.

Eijun menoleh singkat. "Tidak. Tidak ada." jawabnya. Ia kembali menatap ke luar jendela. Setelah tahu kejadian tadi malam, ia jadi tidak enak makan ini-itu. Rasanya perutnya seperti diaduk-aduk.

Haruichi memberi tatapan khawatir. Sudah berkali-kali mereka melakukan ekspedisi dan uji nyali. Tidak pernah ia melihat Eijun segelisah ini. Padahal ia yang biasanya paling bersemangat. "Kau yakin?" tanyanya sekali lagi.

Eijun mengangguk. "Mhm," ia kemudian menutup matanya dan mendengarkan lagu yang di putar di radio. Lagu ini adalah lagu favoritnya yang berasal dari tahun 1990. Ia mendengarkan dengan seksama sehingga ia benar-benar menutup matanya.

Kamu berbisik padaku. "Hei, kalau aku sembunyi, cari aku ya?"

Aku memberikan tatapan tidak mengerti padamu. Dahiku berkerut. "Untuk apa?"

Kamu malah memukul lenganku. "Aku sembunyi, jadi kau harus mencariku. Karena ini permainan petak umpet."

Aku perlahan mengangguk meski masih tidak mengerti. Kami berada di hutan dan kami bermain petak umpet? Itu aneh, sangat aneh. Aku menggenggam tanganmu erat dan kami berjalan bersama untuk mencari jalan ke luar. Rupanya, kamu masih belum memulai permainannya. Sehingga ketika aku sadar, tanganmu sudah tidak ada di genggamanku lagi.

"Cari aku! Cepat!" kamu berteriak entah dari mana. Rasanya teriakan itu berasal dari berbagai arah.

Aku cemas. Jantungku berdebar kencang. Tubuhku bergetar karena takut yang merayap ke dinding kulitku. "Maria!" aku berteriak putus asa.

"Demikian tentang cuaca hari ini. Jangan lupa membawa payung dan jas hujan ke mana pun Anda pergi. Terima kasih."

Perlahan matanya terbuka. Tidurnya sedikit terganggu karena suara radio yang menyiarkan tentang cuaca hari ini. Ketika ia melihat sekitar, mobil ini sudah kosong dan ia sendirian di temani radio mobil yang menyala. Eijun mengambil nafas dan mengusak matanya yang berair. Ia kembali mengedarkan pandangannya, melihat ada seseorang bersandar di pintu sebelah kanan membuat ia lega. Ia mengambil botol airnya lalu pergi ke luar—menyapa seseorang yang seperti Kazuya di sana.

Ketika sampai di tempat di mana ia melihat seseorang bersandar. Ternyata kosong. Eijun mengerutkan dahi. Ia benar-benar yakin bahwa ia mendengar seseorang menyenderkan punggung di sini. Kembali ia memastikan, mengedarkan pandangannya. Ada dua mobil berjejer di samping kiri mobilnya. Suasana ini cukup sepi. Ia tidak tahu ini di mana, tapi ia yakin yang lain sedang beristirahat.

"Kau sudah bangun?"

Eijun berbalik. Satoru berjalan bersama Shinji di sampingnya. "Barusan." ia dengan natural melupakan seseorang tadi. Mungkin ia salah lihat. Eijun membuka air botol dan mengucurkan airnya untuk membasuh wajah. Ketika sudah benar-benar segar, Eijun mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa di kantung celananya. "Di mana yang lain?"

"Sedang istirahat, sebagian ada yang tidur di mobil." jawab Shinji mewakili. Ia masuk ke dalam mobil dan membiarkan pintu bagian supir terbuka. Ia mengambil kamera dan memeriksanya. Sementara Satoru berjalan mengambil cemilan di dalam mobil.

Eijun menatap mereka dengan serius.

"Ada apa sih?!" Shinji bertanya risih.

Eijun mendengkus dan memberikan botol minumnya kepada Shinji. "Aku mau cari udara dulu." entah kenapa ia merasa moodnya naik turun. Eijun melangkah menjauhi mobil dan berjalan menuju rumah yang dimaksud oleh Takako tentang ekspedisinya kali ini.

Ah, ini rumahnya ternyata, Eijun berdecak pelan melihat betapa besarnya rumah di depannya. Dua lantai, luas, tetapi rusak sana-sini karena sudah di tinggalkan. Bahkan atapnya juga ada yang sudah mengelupas ke bawah. Eijun tidak berani masuk. Ia memilih berada di depan rumah itu, bersandar di salah satu tiang yang tampaknya masih kuat. Ia mengambil kaleng rokok di dalam saku celananya kemudian menyalakan pematik. Eijun mengisap rokok itu dan mengeluarkan asap dari dalam mulutnya.

Eijun mulai menutup matanya dan berjongkok, ia menyenderkan kepalanya dan punggungnya ke tiang. Merasakan rasa pahit di lidahnya. Angin pelan berhembus menghantam wajahnya. Ketika ia membuka mata. Ada seorang anak kecil berdiri di depannya dengan wajah pucat dan tersenyum manis.

Eijun sejujurnya kaget, tapi ia bisa menetralkan ekspresinya. Ia balas tersenyum. "Hai," sapanya pada si anak.

Anak itu memakai gaun seusianya—tampak seperti berumur sepuluh tahun. Gaunnya yang panjang menjuntai ke bawah sehingga ia tidak bisa melihat kakinya—berwarna biru muda kotor karena tanah, sebagian robek, sebagian lagi terlihat lepek karena basah. Benar-benar terlihat seperti hantu. Sedangkan rambutnya berwarna hitam bergelombang tampak kusut sana-sini.

"Kau sendirian?" Eijun bertanya ketika anak itu tidak menjawab apapun.

Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya anak itu balik bertanya padanya. "Nii-chan sendirian?"

"Aku?" Eijun menunjuk dirinya dan si anak menjawab dengan anggukan. "Aku sendirian di sini. Tapi ada teman-temanku di sana sedang istirahat." ia menunjuk arah mobil yang tertutup semak tinggi tidak jauh dari tempatnya dengan lirikan mata. "Kamu sedang apa di sini?" tanya Eijun.

Anak itu menatap rumah di belakang Eijun. "Aku dulu tinggal di sini. Sekarang pun masih di sini."

Oh, dia anak pemilik rumah ini. Eijun mengangguk paham. "Kami akan sampai malam di sini," ia mulai berkata maksud dan tujuan mereka berada di sini. "Tidak apa 'kan?" tanyanya meminta izin.

Si anak yang ia tidak tahu namanya itu melunturkan ekspresinya. Wajahnya berubah menjadi tambah pucat. Kulitnya yang pucat dan kusam—kering dan menyeramkan. "Jangan terlalu lama." suaranya terdengar berbeda dari yang tadi.

Eijun menelan ludahnya. "Kenapa?" tanyanya penasaran.

Ia menggeleng pelan. "Tou-san akan marah."

Eijun mengerjap. Buruk. Ia merasakan hal buruk.

"Berhati-hatilah." kata si anak sebelum menghilang dari pandangannya, lenyap menyatu dengan udara.

Eijun berdiri. Tubuhnya bergetar gelisah. Lagi, ia kembali menjalin kontak berbicara dengan hantu ketika tubuhnya sadar di dunia nyata. Eijun mengedarkan pandangannya ketika angin berhembus membuat suara gema di dalam hutan. Ia mulai mengisap rokoknya lagi dan menghembuskannya. Asap menyatu dengan udara. Ketika ia berbalik mendengar suara langkah kaki, ia melihat Kazuya dan Yoichi sedang mengambil gambar rumah.

"Ini cukup dingin," Eijun mengawali pembicaraan dan minggir dari tempatnya.

"Tidurmu cukup nyenyak." Kazuya membalas dengan acuh tak acuh. Ia tetap mengambil gambar sedemikian rupa.

Eijun diam sejenak. Ia meraih rokoknya lalu mengisapnya lagi. Hari sudah semakin sore begitu melihat ke atas langit. Eijun mendengkus. "Bagaimana kalau kita pergi?" tanya Eijun pada mereka.

Yoichi terhenti begitu juga dengan Kazuya. Tapi yang mendekati Eijun adalah Kazuya dengan ekspresi jahilnya. "Wah, ada apa ini? Kau takut ya?" dia bertanya dengan senandungannya yang menyebalkan.

Eijun mengumpat di dalam hati. "Ini terasa buruk. Suara dan suasananya," ia menjawab jujur. "Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres." terlebih dari sosok anak kecil yang merupakan penunggu asli di sini. Ia yakin anak itu datang untuk memperingatkannya sesuatu tentang bahayanya rumah ini.

Kazuya semakin melebarkan cengirannya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada meski kamera masih di pegang olehnya. Kazuya memajukan wajahnya lebih dekat ke Eijun. "Kau takut, eh? Sawamura~ tenang saja, ada aku di sini. Kau tidak perlu takut~"

Eijun berdecih. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Ia kemudian memadamkan batangan rokoknya hingga benar-benar padam setelah itu ia menatap Kazuya. "Aku tidak main-main bodoh!" serunya.

Kazuya mencebik. "Aku juga tidak main-main."

Yoichi merotasi matanya lelah. Lantas ia mulai mendekati mereka dan memasang ekspresi serius ke Eijun. "Kau yakin?" tanyanya yang menganggap serius Eijun.

Eijun mengangguk. Persetan memang Miyuki Kazuya yang selalu menganggap ia main-main. Ia menelan ludahnya lebih dulu sebelum menjawab. "Sosok anak kecil mengatakan padaku untuk berhati-hati," ceritanya pada mereka. Saat itu juga Kazuya memasang ekspresi seriusnya dan Eijun merasa puas. "Aku tahu ini pertama kalinya aku melakukan kontak dengan sosok hantu ketika tubuhku sadar. Tapi aku yakin bahwa anak itu meperingatkan sesuatu tentang bahaya rumah ini." iris keemasannya memandang rumah itu dengan ngeri sekaligus takut. Bulu kuduknya mulai merinding.

Kazuya dan Yoichi memandang rumah itu juga. Ketika angin bergerak lagi, burung gagak berkeliaran di atas rumah dengan suara yang memekakkan lalu menghilang begitu saja entah ke mana.

"Rumah berhantu mana ada yang tidak menyeramkan," Kazuya berceletuk mencairkan suasana namun tidak ada dari Eijun atau Yoichi yang menanggapinya. Kazuya kembali berkata dengan cemas yang menjalar. "Kupikir sebaiknya kita katakan hal ini pada Chris atau Tetsu-san."

"Jangan!" Eijun mencegah mereka membuat mereka mengerutkan dahi padanya. "Aku tahu ini pertama kalinya setelah kejadian itu … aku tahu, tapi aku akan mengatakannya sendiri pada mereka setelah semuanya selesai."

"Kau yakin?" Yoichi bertanya dengan cemas. "Kau merasakan sesuatu yang aneh di tubuhmu? Maksudku seperti … panas atau mual?"

Eijun diam sejenak merasakan tubuhnya. "Tidak. Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." jawabnya seraya berdoa di dalam hati bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kazuya berdecih pelan. Ia menggosok tengkuknya. Sial, ia bahkan bukan orang yang sensitif seperti Eijun. "Kalau perlu sesuatu, katakan pada kami, Bakamura."

Mata Eijun melotot. "Aku tidak bodoh!" serunya. Ia menunjuk pada Kazuya dengan kesal. "Jangan panggil aku bodoh lagi, Miyuki Kazuya!" teriaknya senang hati.

Melihat perubahan itu, Kazuya terkekeh pelan. "Senang melihat sifatmu kembali, Sawamura." setelah itu ia mengibaskan tangannya dan pergi dari sana.

Eijun menatap punggung Kazuya yang menghilang dari balik semak dengan kerutan di dahinya. "Kenapa sih dia?" gumamnya tidak mengerti.

Yoichi merotasi matanya lagi. Ia tahu saat mereka sampai di sini Kazuya langsung mencari Eijun dan mendapati si anak bodoh ini sedang tertidur dengan pulas dan wajahnya mengerut seperti ketakutan. Saat di ruang makan tadi juga Eijun bertingkah aneh, menjadi pendiam dan selalu menatap sekitar seolah ia merasakan ada yang mengikutinya.

"Makanya jangan jadi bodoh, Bakamura!"

"Aku tidak bodoh!"

Shinji memegang lightning bersama Kenta. Yang memegang kamera ada dua orang yaitu Kazuya dan Yoichi. Sementara Tetsuya, Chris dan Takako sedang mengobrol di depan kamera tentang asal-usul rumah ini. Sedangkan Eijun dan Haruno berada di belakang kamera—memerhatikan mereka sambil melihat-lihat sekitar.

Haruichi memegang EMF meter di tangannya begitu juga dengan Satoru—mereka berkeliling ke seisi rumah bersama Jun yang memegang ghost box di tangannya.

"Menurutmu apakah penunggunya akan marah?" Eijun berbisik bertanya pada Haruno.

Haruno berpikir sesaat. Ia sudah bersama tim ini sejak tim ini berdiri dan juga sering melakukan ekspedisi bersama-sama. Seharusnya ia tidak gelisah, tapi entah kenapa baru di ruang tamunya saja ia sudah merinding. Haruno mencoba tersenyum baik-baik saja. "Entahlah, menurutmu bagaimana, Sawamura-kun?" Haruno bertanya balik.

Eijun diam sejenak. Kembali teringat ucapan anak kecil itu. Eijun kemudian mengendikkan bahunya. "Dengan berat hati aku menyatakan kalau ekspedisi kali ini akan menjadi yang terburuk," bisiknya pelan ke Haruno yang langsung menegang—menatapnya tidak percaya sekaligus cemas.

Haruno ingin bicara tapi ia tidak mau membuat keributan. Ia lebih baik diam daripada suaranya terdengar di rekaman.

Eijun meringis pelan, ia berjalan mundur agak jauh dari mereka lalu mengusap tengkuknya yang terasa berat. Panas mulai menjalar ke dinding kulitnya, nafasnya mulai berat dan dadanya mulai sakit—seperti di hantam oleh batu tumpul. Ia merasakan seluruh tubuhnya mulai berat beberapa saat kemudian, ringisannya semakin menjadi. Tidak sadar bahwa ia membuat yang lain langsung berlari ke arahnya dan menangkap tubuhnya sebelum benar-benar jatuh.

"Kau merasakan sesuatu, Sawamura?" Chris bertanya dengan tenang dan juga cemas hadir di ekspresinya.

Eijun mengangguk perlahan. Ia mencoba berdiri ketika Chris perlahan melepaskannya. "Yah, tubuhku berat…" suaranya terdengar serak dan sesak. Ia mencoba berpikir sejenak. Alam bawah sadarnya mulai menarik-nariknya. Ia merasakan matanya berat dan juga seluruh tubuhnya menjadi ringan. "Sepertinya ada sesuatu yang memaksa masuk…" ia bergumam menyatakan pada timnya.

Tetsuya dan Chris saling berpandangan, kemudian Tetsuya yang pertama kali bicara. "Apa menurutmu akan baik-baik saja?"

Eijun mencoba tetap sadar. "Kupikir… hahh, sial ini sakit sekali …" ia sedikit membungkuk menahan dadanya yang kesakitan. Bahkan hal itu membuat Tetsuya dan Chris memegangi bahu dan tangannya agar ia tidak jatuh.

Kamera menyorot padanya. Kazuya menatap Eijun dengan khawatir yang bergemuruh di dadanya. Sekilas ia mengingat tentang ucapan Eijun saat sore tadi. Kazuya menatap Yoichi, mereka saling bertatapan sebelum akhirnya di putus karena Eijun memutuskan untuk mencoba pergi ke alam bawah sadarnya.

Eijun diberkahi sebuah kelebihan. Ia bisa melihat kenangan yang tertinggal di tempat itu asal Eijun harus berada di sana langsung. Eijun mengangguk. Ia mulai berdiri dan mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Suasana hening dan tegang. Beberapa detik kemudian, Eijun jatuh dan ditangkap oleh Tetsuya dan Chris.

Ketika ia membuka mata, ia melihat sekitarnya cukup gelap. Ia jatuh tertidur di atas lantai yang dingin, dunianya seakan berputar ketika ia berusaha bangun dan duduk. Ia merasakan hawa dingin dan ia mulai mengeratkan jaketnya.

Eijun mengerjap dan mengedarkan pandangannya. Ia sudah terbiasa. Sama seperti kemarin, alam bawah sadarnya masih gelap. Eijun jadi iseng ingin membawa senter ketika ia jatuh tertidur. Eijun mencoba memanggil, suaranya bergema beberapa kali. Ia mencoba menunggu beberapa saat. Tidak lama kemudian munculah anak kecil tadi.

"Hai," Eijun menyapanya lagi dengan senyuman manis. "Kita ketemu lagi."

Anak kecil itu tidak berekspresi. "Kenapa nii-chan belum pergi juga?" dia bertanya dengan gusar. Nada suaranya terdengar berbeda dari yang terakhir kali Eijun dengar. Kali ini terdengar hampa dan dingin.

Eijun terdiam sejenak. "Tujuan kami belum tercapai, begitupun denganku."

Anak itu menatap Eijun dengan tajam dan kosong. "Jadi ada dua tujuan yang berbeda?"

"Saat ini anggaplah begitu."

"Namaku Hanabi," anak itu bahkan tidak merubah ekspresinya sama sekali. Kemudian mereka menoleh bersamaan ketika dunia gelap Eijun berubah menjadi seisi rumah yang berwarna.

Ah, Eijun ingat. Ini adalah rumah yang bobrok tadi. Kali ini rumahnya tampak baru dan bagus. Tidak ada atap yang mencuat ke bawah. Mereka semua tampak bagus dan mewah. Eijun melihat dua anak perempuan termasuk Hanabi dan satu anak laki-laki yang lebih tua dari mereka berlari menuruni tangga. Menyambut kepulangan Ayahnya dengan gembira.

Hanabi tidak mengatakan apapun. Ia masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata untuk Eijun. Yah, hantu memang seperti itu.

Kemudian istrinya—Ibu mereka datang menyambut dan memeluk suaminya dengan bahagia. Eijun tersenyum melihat itu. Ia tidak tahu seperti apa rasanya memiliki keluarga. Tapi melihat orang lain, pasti hangat dan bahagia.

Tidak lama kemudian scene berpindah cepat. Kali ini kedua orang dewasa itu sedang bertengkar di kamar mereka. Sang istri yang baru menemukan fakta tentang suaminya yang memiliki istri lain di luar sana bahkan sudah memiliki anak. Hal itu membuat Eijun kebingungan.

Scene kembali berpindah. Kali ini rumah tangga mereka benar-benar di ambang kehancuran. Sang istri bersumpah bahwa ia akan membunuh istri kedua suaminya di luar sana bersama anaknya. Sebelum hal itu terjadi, sang suami membunuh istrinya lebih dahulu. Kemudian anak-anaknya mengetahui hal itu dan hendak meminta pertolongan. Namun, orang dewasa jauh lebih cepat daripada anak-anak. Ayah mereka—membunuh mereka.

Jantung Eijun berdetak lebih cepat. Ia tidak mengerti. Ini tidak masuk akal. Kenapa kenangan di rumah ini begitu menyakitkan? Pantas saja ketika ia masuk—ia merasakan hawa dingin yang luar biasa—ia merasakan tekanan di dadanya yang membuat ia ingin menangis.

Pria itu berdiri dengan tangan berlumuran darah. Ia berhasil membunuh anak-anaknya dan istrinya. Ia berteriak seperti anjing melolong.

"Kau harus pergi!" Hanabi berteriak.

Namun kalah cepat dengan pria itu yang langsung menoleh ke arah Eijun. Eijun tersentak. Pria itu langsung berlari dan mencekik leher Eijun.

"Nii-chan! PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!" Hanabi kembali berteriak tetapi masih berdiri di tempatnya.

Eijun berteriak kesakitan. Pria itu berubah menjadi buruk rupa. Wajahnya hanya tersisa tengkorak—semua tubuhnya. Hanya saja baju dan celana masih menempel di sana. Tengkorak itu terlihat seram dan menyedihkan. Di tambah kekuatannya yang nampaknya lebih besar dari Eijun membuat ia merasa kehilangan nafasnya.

"TOU-SAN SUDAH MARAH! PERGI DARI SINI!"

Eijun terbangun dengan tiba-tiba. Matanya langsung melotot. Keringat menetes dari setiap bagian tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya. Semua tim sedang menatapnya khawatir. Setelah itu ia dibantu duduk oleh Chris dan Tetsuya. Oh ya, pria itu marah! Ini buruk! Mereka harus pergi! Sial sial sial.

"Kau baik-baik saja?" Tetsuya bertanya lebih dulu dan memberikan minum untuk Eijun.

Eijun mengambilnya namun dia berdiri dengan cepat. "Kita harus—" perkataannya terhenti ketika EMF meter milik Haruichi dan Satoru berbunyi. Begitu juga dengan ghost box yang dipegang Jun. Takako langsung melihat thermometer yang dibawa olehnya. Tiba-tiba saja hawa di sana menjadi lebih dingin dan membuat mereka menggigil. Seakan tahu apa yang akan terjadi, Eijun berteriak. "Pergi! Ayo kita pergi! Sial! Penghuninya marah!"

Mereka tercengang. Ketika pijakan mereka mulai bergetar dan semua benda yang ada di sana terlempar ke sana-sini, barulah mereka pergi dari sana menuju mobil. Suara teriakan terdengar menyakitkan disusul tangisan panjang yang tidak terputus. Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing tanpa ada yang tertinggal.

Eijun merasakan tubuhnya bergetar ketakutan. Ketakutan yang lebih dari biasanya. Haruichi dan Satoru berusaha menenangkannya. Sementara Shinji berusaha untuk fokus dengan jalanan gelap di depannya. Beruntung yang memimpin jalan adalah dua mobil jadi dia bisa mengikuti mereka.

Nafas Eijun terengah-engah. Dadanya masih berat dan sesak. Ia tidak mendengar suara apapun seolah pertanyaan cemas Haruichi teredam oleh sesuatu. Eijun melirik ke arah spion. Seseorang duduk di kursi paling belakang. Ia tetap memerhatikan spion itu sampai akhirnya memberanikan diri untuk menoleh.

Saat itu juga ia merasa nafasnya menghilang. Sebuah wajah mengerikan yang nyaris hancur—berlumuran darah dengan matanya yang melotot ke arahnya.

Eijun berteriak. Perutnya tiba-tiba bergejolak dan sesuatu ingin dimuntahkan. Melihat hal itu Haruichi langsung mencari kantung plastik dan menadahkannya di dekat mulut Eijun. Semua apa yang dimakan Eijun langsung dikeluarkan. Sialnya kantung plastik mereka begitu kecil untuk menadahkan semua bekas muntah Eijun.

"Berhenti dulu! Biarkan dia muntah di luar!" seru Haruichi.

"Ini hutan, Kominato!" Shinji balas berteriak dengan gusar dan khawatir.

"Aku tidak punya kantung lagi!"

Sementara Satoru bingung berbuat apa—ia hanya membantu Eijun memijitkan tengkuknya dan mengusap punggungnya.

Shinji berdecak pelan kemudian dengan terpaksa ia menghentikan mobilnya membuat Haruichi langsung membuka pintu mobil dan membiarkan Eijun memuntahkan isi perutnya lagi. Rupanya hal itu membuat kedua mobil di depannya ikut berhenti dan perwakilan dari mereka keluar untuk memastikan keadaan.

"Dia muntah," jawab Haruichi pada Chris dan Kazuya yang bertanya.

Chris langsung berbalik meminta air minum pada Takako dan Haruno. Sementara Kazuya mulai mengambil alih membantu Eijun mengeluarkan isi perutnya. Wajah Eijun memerah karena kesakitan. Tubuhnya tiba-tiba lemas tidak bertenaga sehingga Kazuya harus membopongnya duduk di dalam mobil.

Chris kemudian datang dengan dua botol air di tangannya bersama Takako yang tampaknya khawatir. "Ini, minumlah yang banyak."

"Aku punya minyak hangat, Sawamura. Ini, pakailah." Takako memberikannya pada Haruichi sebagai perwakilan.

Kazuya tampaknya sedang berbisik sesuatu yang diangguki Eijun. Ia berdiri. Tidak lama kemudian terasa rintikan hujan. Ia mendesah. "Ayo kita lanjutkan lagi! Hujan akan turun besar!" sebelum benar-benar pergi, Kazuya memastikan Eijun baik-baik saja. Eijun tampak sedang menutup mata sambil menyenderkan punggungnya.

"Aku akan baik-baik saja Miyuki." Eijun berujar seolah tahu arti tatapan Kazuya. Suaranya terdengar serak dan sakit. Ia mencoba tersenyum meski bibirnya pucat. "Ayo cepat pulang, aku mau tidur."

Kazuya mendengkus geli. Ia mengusap kepala Eijun dengan kasar sebelum menutup pintu mobil dan berjalan ke arah mobilnya.

Eijun merasa mobilnya perlahan maju dan ia mendengarkan musik yang di putar Shinji untuk mencairkan suasana. Haruichi memberinya minyak hangat yang langsung ia pakai di perut dan dadanya. Sedangkan Satoru mencarikan sesuatu yang bisa dimakan Eijun.

Ini yang terburuk. Eijun mendengkus di dalam hati. Dan ia tertidur dalam perjalanan lagi.

Tiga jam kemudian mereka berhasil pulang ke perkotaan Tokyo dengan selamat. Rumah yang paling dekat dengan jalur yang mereka lalui adalah rumah Eijun. Karena mobilnya sedang dipakai Shinji, jadi mereka lebih dulu mengantar Eijun pulang ke rumah. Shinji, Satoru dan Haruichi akan mengungsi ke dua mobil lain yang sebagian memutuskan untuk ke kantor dan sebagiannya lagi pulang ke rumah.

Eijun sudah bangun dari sepuluh menit yang lalu. Ia tetap diam sambil memakan roti yang di beli Satoru beberapa saat yang lalu ketika mereka melewati minimarket. Ini sudah tengah malam dan ia merindukan kasurnya. Hari ini juga adalah hari yang berat.

Sekilas ia mengingat, sebelum mereka pergi dari rumah itu, ia sempat melihat ke lantai dua dari jendela besar—seorang wanita yang seperti di mimpinya kemarin berdiri di sana—memandang mereka dengan tatapan kosong.

Ketika Eijun sadar, mereka sudah ada di kawasan tempat tinggal Eijun. Dua mobil berhenti. Eijun mengerang pelan lalu mengambil tas gendong dan botol minumnya.

"Kau baik-baik saja?" Haruichi bertanya cemas.

"Tentu saja." Eijun menjawab dengan cengiran kecil. Ia memerhatikan teman-temannya mulai mengambil barang bawaannya. "Jangan pikirkan aku Harucchi."

Haruichi tersenyum, mencoba untuk tidak khawatir.

Eijun keluar dari mobilnya dan menghirup udara sekitar. Bau jalanan bercampur bau hujan yang telah berhenti satu jam yang lalu. Sekelilingnya gelap—beberapa ruangan di beberapa rumah terlihat terang dan sebagiannya lagi gelap. Sementara lampu jalan tersebar di beberapa titik menerangi jalanan.

"Bagaimana keadaanmu?" Kazuya bertanya pada Eijun, mendekatinya dengan ekspresi sedikit khawatir.

"Baik-baik saja! Sehat seperti semula!" Eijun menjawab dengan semangat. Ia tersenyum lebar dengan kedua tangan berada di pinggangnya.

Yoichi yang datang langsung meringis betapa kencangnya suara Eijun. "Berisik, Bakamura! Ini sudah malam!" geramnya langsung memiting Eijun.

Eijun meringis. "Lepas! Kuramochi-senpai! Lepas!" Eijun berteriak lagi dan mulutnya langsung ditutup oleh Yoichi dengan sapu tangan.

"Berisik!"

Kazuya menghela nafas panjang. "Kalian juga sama berisiknya." katanya pada mereka.

Yoichi berdecih. Ia melepaskan Eijun yang langsung meraup oksigen dengan rakus. Yoichi kemudian melihat tiga orang itu keluar dari mobil dengan barang bawaan mereka. "Taruh saja langsung, Zono sedang merapikannya." kata Yoichi pada mereka.

"Di mana mobil Shisou?" tanya Eijun ketika tahu hanya Kazuya yang mengikuti mobilnya saja.

"Chris mengantar para cewek dulu, mereka akan langsung ke kantor," Kazuya menjawab sambil mengelus tengkuknya. Ia kemudian memandang rumah sederhana dua lantai milik Eijun yang terlihat gelap itu. "Kau tidak mau ditemani?" tanya Kazuya memastikan. "Maksudku kau habis pergi ke tempat mengerikan dan kau sendirian di rumahmu." koreksinya langsung ketika menyadari pertanyaannya begitu ambigu.

Eijun terdiam sejenak. Tidak apa. Ia sudah biasa. Dari dulu kecil hingga sekarang. Lantas ia memasang senyum. "Tidak. Aku ingin menguasai kasur sendirian hari ini. Aku cukup lelah untuk menerima tamu," jawabnya pada Kazuya.

Kazuya merotasi matanya tapi ia tidak memaksa Eijun. "Baiklah, pagi nanti ke kantor, jangan lupa. Kau masih ada cuti besok 'kan?"

Eijun mengangguk. Ia mengambil cuti tiga hari sementara perjalanan ini hanya membutuhkan dua hari saja. "Yah, aku ke kantor siang saja. Tidak apa-apa 'kan?"

Mengingat kelelahannya, Kazuya mengangguk memperbolehkan. "Nanti akan kusampaikan pada Chris dan yang lainnya." ia masih sedikit khawatir masalahnya Eijun tidak pernah sampai muntah seperti tadi. Ini adalah yang pertama kalinya. "Perutmu masih kosong? Kau butuh makanan lagi?"

Eijun menggeleng. "Tidak, perutku sudah kenyang dengan roti tadi." jawabnya jujur. Memang benar Satoru membelikannya roti isi yang lumayan besar untuk dirinya dan tiga kotak susu.

Kazuya menghela nafasnya pelan. Ia mengedarkan pandangannya lagi dan melihat bahwa Shinji berjalan ke arah Eijun memberikan kunci mobilnya yang ternyata sudah memarkirkan mobil Eijun di depan rumahnya dengan apik.

"Terima kasih, Kane." ia berterima kasih pada Shinji yang hanya di balas deheman saja. Eijun kemudian menatap Kazuya kembali. "Aku akan baik-baik saja. Akan ku telpon kalau aku ke kantor."

Kazuya memasang senyum kecil. Perbincangan mereka selesai saat itu juga. Kazuya kembali masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarainya membelah jalanan.

Setelah mobil Kazuya hilang di tikungan, Eijun berbalik dan berjalan membuka gerbang kecil dan masuk ke dalam rumahnya. Ia menyalakan semua lampu dapur dan ruang tengah sementara ruangan lainnya dibiarkan gelap. Setelah itu Eijun berjalan ke kamarnya dan menyalakan lampunya. Kamarnya begitu dingin karena sudah ditinggalkan dua hari. Ia langsung merebahkan diri ke atas kasurnya.

Beberapa saat Eijun terdiam. Ia kemudian berdiri dan bersiap mandi. Air hangat atau dingin dia tidak peduli, tubuhnya sudah kebal dengan air bersuhu apapun. Sebelum mandi ia menyalakan speaker bluetooth dan memutar playlist piano di Spotify yang sering ia dengarkan. Dengan begini ia tidak merasa sendiri. Dengan begini suara di sekitarnya bisa teredam oleh suara musik piano.

Nocturne in E Flat Major, Op. 9 – No. 2 karya Frederic Chopin.

Eijun mulai mengisi bak airnya hingga penuh kemudian ia menggosokkan sabun ke badan, sikat gigi, membasuh badan. Lalu masuk ke dalam bak mandi. Ia menguburkan diri ke dalam air sehingga hanya tersisa matanya saja. Ketika membuang nafas, gelembung air muncul. Eijun terdiam sejenak menikmati suara piano yang memenuhi indra pendengarannya.

Ia mulai menutup mata ketika playlist berputar.

Prelude in E Minor, Op. 28 – No. 4 karya Frederic Chopin.

Suara piano menggema di seluruh ruangan menyisakan keheningan yang damai. Tidak akan ada tetangga yang terganggu sebab sebelah kanan rumahnya hanya lahan kosong sedangkan tetangga di sebelah kiri rumahnya sudah beberapa bulan ini pergi ke luar negri.

Ingatan masa lalu yang manis kembali hadir menyapa dinding memorinya. Gemuruh di dadanya meningkat kala kenangan-kenangan itu berdansa dan berputar-putar di dalam kepalanya.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Inggris. Saat itulah ia bertemu seorang anak seumuran dengannya.

"Maria Blackstoon, namamu?"

"Sawamura Eijun."

"Oh, Jepang?"

"Ya."

Bibirnya melengkung membentuk senyum. Musim dingin yang hangat dan indah. Salju turun bertaburan dari atas langit membuat kota berkelap-kelip karena keindahan.

"Orang tuamu belum datang?"

"Ya. Mereka masih bekerja."

"Kalau begitu, ayo ke rumahku. Kami memiliki harpsichord."

"Apa itu?"

"Piano kuno." ia tersenyum lalu menarik tangannya menuju piano kuno di tengah ruangan. "Bisa memainkannya, Eijun?"

Eijun kecil menggeleng. "Aku belum pernah menyentuh piano sekali pun."

"Tenang. Ayo kita belajar bersama-sama."

Harpsichord itu berdiri gagah dan berkelas dengan warna keemasan dan ukiran-ukiran bergelombang disetiap sisi, kakinya yang ramping menopang menahan berat piano kuno itu. Terdapat tongkat berwarna emas yang menahan penutup yang berlukiskan ombak yang dilukis oleh pelukis ternama. Suaranya terdengar berbeda dari piano—suaranya unik dan Eijun menyukainya saat itu juga.

Ia masih ingat kala mereka berdua bermain harpsichord menunggu orang tuanya datang pulang. Setiap detik ketika mereka memainkan itu, seperti waktu yang membeku dan tidak pernah berputar. Seperti seolah-olah dunia baru Eijun hadir. Sejenak ia melupakan fakta bahwa ia merupakan anak bermasalah yang mempunyai teman khayalan.

"Cari aku?" permintaan yang mirip seperti pertanyaan itu membuat ia membuka matanya.

Tidak ada siapapun di sini. Hanya ada suara musik piano dari speakernya saja. Lantas Eijun bangkit dan memakai handuknya. Ia membuang air di dalam bak kemudian keluar dari kamar mandi menuju kamarnya untuk memakai baju serta tidur kembali.

Eijun meraih botol obat di dalam tasnya kemudian menelan dua pil dan meminum airnya. Setelah menunggu beberapa saat. Eijun mengecilkan suara speakernya dan membiarkan lagunya terus berputar hingga pagi tiba. Ia berbaring di atas kasur berukuran besar itu. Ia menatap ke langit-langit kamarnya yang remang. Ketika Eijun menoleh ke kanan, ia melihat Maria Blackstoon dalam ukuran dewasa sedang berbaring menatapnya.

"Kau terlihat tapi tidak bisa kutemukan."

Malam itu, La Campanella karya Franz Liszt menyertai dalam tidurnya.[]

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

review?

note : maaf jika ada typo yang mengganggu.