BLACK SONATA

.

.

.

.

.

Diamond no Ace milik Terajima Yuji

.

.

.

.

.

Fanfiksi oleh macaroon girl

.

.

Selamat Membaca!

.


PAGI itu hujan deras membasahi kota Tokyo. Jalan besar tidak padat seperti biasanya karena kebanyakan orang-orang akan menghabiskan waktu di dalam rumah dengan penghangat dan coklat panas. Sementara sisanya akan tetap pergi keluar untuk bekerja.

Miyuki Kazuya terdiam dari duduknya. Memikirkan sesuatu yang membuatnya cemas. Sementara itu kopi di depannya sudah mengepul bersama dengan batangan rokok yang bersandar di dalam asbak. Kazuya duduk di kursi anyam yang terdapat di balkon kamarnya, memandangi hujan di luar sana tanpa kedinginan sama sekali.

Ia menggenggam ponselnya. Tidak ada satu chat pun yang masuk. Oh, mungkin saja dia sedang tidur. Kazuya sendiri adalah pribadi yang cukup aneh. Mau tidur jam berapa pun ia akan bangun jam tujuh pagi.

Suara hujan bagaikan musik di pagi hari, Kazuya menyukainya—selalu menyukainya. Terdapat warna-warna yang jarang ia lihat ketika hujan. Kadang kelabu, biru, merah dan warna-warna lainnya yang membuat dirinya terpukau

Sama seperti Eijun yang menyukai musik klasik. Kazuya menyukai suara hujan—gemercik indah dan alami. Kadang Kazuya melihat senyuman tulus Eijun yang berbeda dari biasanya ketika ia memainkan piano di kantor mereka. Seolah saat memainkan alat musik itu, Eijun membangun dunianya sendiri, Eijun membangun zonanya sendiri. Seolah-olah dengan bermain piano Eijun bisa mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang ghaib.

Kazuya berdiri, ia menaruh ponsel di atas meja anyam kemudian berdiri di dekat pembatas. Kakinya sedikit basah karena cipratan air hujan di atas lantai. Ia menunduk melihat jalanan di depat apartemennya. Mobil dan motor berlalu lalang, pejalan kaki dengan payungnya, anak kecil dengan jas hujannya. Mendadak ia kepikiran dengan Ayahnya yang tinggal sendirian di Nagoya. Sedang apa pria itu sekarang?

Kazuya menghela nafasnya. Ia kembali duduk dan menyesap kopi hitamnya. Setelah itu ia mengisap rokoknya. Benar-benar sarapan yang nikmat.

Ia kemudian berdiri, menyisir poninya ke belakang dengan cemas. Batangan rokok masih terselip di bibirnya. Ia memeriksa ponselnya. Tetap tidak ada pesan masuk dari Eijun. Ketika ponselnya bergetar karena pesan masuk—ia langsung melotot—kemudian berdecak pelan—itu adalah pesan dari Yoichi.

Kuramochi Yoichi : Saat Toujo mengedit videonya, dia menemukan penampakan. Aku yakin kau tidak akan percaya.

Dahinya mengerut. Sangat langka mereka menemukan penampakan yang tidak disengaja. Kazuya merasa bahwa hal ini akan menjadi menarik. Penonton mereka pasti akan suka dan semakin penasaran.

Miyuki Kazuya : Bagus. Aku tidak sabar untuk melihat.

Kuramochi Yoichi : Bagaimana dengan Sawamura? Sudah dapat kabar? Aku mengirimnya pesan tapi belum di balas ataupun di baca.

Kecemasan Kazuya bertambah. Jika dengan Yoichi saja tidak di balas apalagi dirinya. Kazuya kemudian mengetikkan sesuatu untuk membalas Yoichi.

Miyuki Kazuya : Sepertinya aku akan ke rumahnya sekarang.

Kuramochi Yoichi : Aku ikut. Jemput aku.

"Ryo-san mendesakku membawa Sawamura ke kantor. Dia ingin meminta penjelasan rinci tentang malam itu. Yah, kau tahu bukan tiba-tiba ada poltergeist di sana dan Sawamura juga langsung menyuruh kabur." jelas Yoichi ketika Kazuya bertanya.

Kazuya mengangguk. Ia menyalakan radio yang sedang memutar musik. Hujan sudah reda beberapa saat lalu menyisakan jalanan yang basah. Sementara langit mulai bersinar meski awan masih kelabu. Suasana menjadi hangat dan sedikit dingin. Sekitar sepuluh menit lagi mereka akan sampai ke kawasan rumah Eijun. "Bagaimana tadi malam? Kau berhasil tidur nyenyak?" tanya Kazuya basa-basi.

Yoichi mengendikkan bahunya kemudian membuka jendela di sampingnya untuk merokok. "Lumayan." meski begitu terdapat kantung mata tipis di bawah matanya. Tapi sepertinya bukan karena tidak bisa tidur—melainkan ia suka bermain game sampai larut setiap harinya.

Kazuya bukanlah seseorang yang sensitif seperti Eijun. Entah dia harus bersyukur atau malah kesal karena tidak bisa merasakan apa yang Eijun rasakan. Tapi sepertinya ia harus bersyukur karena dari cerita yang dia dengar—seseorang yang memiliki kemampuan melihat atau berkontak dengan hantu membuat mental mereka rusak.

Pertokoan di kanan kiri sudah mulai buka lebar-lebar mengetahui bahwa hujan tidak akan datang lagi dalam waktu dekat. Kini banyak orang-orang yang berlalu lalang mengerjakan aktivitasnya.

Semakin lama dadanya semakin berdebar tidak karuan. Tidak biasanya Eijun tidak ada kabar seperti ini. Biasanya sesibuk apapun ia, selelah apapun ia, selalu memberi kabar. Entah itu singkat atau panjang. Setidaknya Eijun belum pernah membuat mereka khawatir sebelumnya. Kazuya bisa melihat gurat khawatir di wajah Yoichi—wajar, Yoichi sudah menganggap Eijun sebagai adik karena Eijun tinggal sendirian tanpa orang tua atau pun sanak saudara.

Ia mencoba mengirim pesan ketika mereka berhenti karena lampu merah. Tapi tetap saja Eijun belum membalasnya membuat ia berdecak sebal. Kazuya mulai melajukan mobilnya dan memasuki kawasan perumahan yang ditempati Eijun.

Yoichi mematikan rokoknya lalu menutup kaca mobil. Ia kembali memeriksa ponselnya. Pesan masuk dari Ryosuke yang juga menanyakan kabar Eijun. Ditelan khawatir, Yoichi langsung menelpon Eijun—beruntung ponselnya tidak dimatikan sama sekali. Dering pertama tidak diangkat, dering kedua, dering ketiga. Dan teleponnya sama sekali tidak diangkat.

"Menelpon Sawamura?" tanya Kazuya.

Yoichi hanya mengangguk. Jalanan di depan macet karena pohon tumbang dan terpaksa mereka harus memilih jalan memutar. Hal itu membuat keduanya berdecak sebal. Yoichi kembali menelpon Eijun. Berdoa di dalam hati semoga anak itu baru bangun tidur atau hal-hal yang membuat dirinya lega.

Dering pertama, tidak diangkat.

Dering kedua, tidak—krrk!

Tunggu! Diangkat! Yoichi menatap Kazuya dengan tidak percaya kemudian langsung memencet tombol load speaker karena Kazuya juga kelihatan penasaran.

"Halo? Sawamura?" Yoichi mencoba memanggil dengan hati-hati.

Di sebrang sana tidak ada jawaban sama sekali sampai beberapa saat kemudian terdengar suara hembusan nafas di dekat ponsel, cukup panjang dan menakutkan.

Yoichi berusaha berpikir positif. "Sawamura? Kau tertidur?" tanya Yoichi menganggap suara nafas tadi adalah suara nafas orang tidur.

Kazuya berusaha membagi fokusnya. Antara jalanan di depannya dan ponsel Yoichi. Ia langsung mengambil belokan menuju rumah Eijun. Sialan. Kenapa perumahan ini begitu luas sekali?! Kazuya berdecak di dalam hati. Perumahan yang Eijun tinggali bukanlah yang elit. Perumahan biasa yang luas. Bahkan menuju rumah Eijun saja bisa menggunakan berbagai jalanan.

"Hhhhhhhhhh," suara hembusan terdengar kembali, kali ini terdengar keras dan jelas. Yoichi menahan takutnya sambil memegang ponsel di tangan kanannya. Kemudian setelah hembusan itu di susul suara cegukan sebanyak tujuh kali.

"Kau mabuk?" Yoichi masih berpikir postif. Ia menelan ludahnya sedikit takut.

Kazuya masih tetap diam dan membiarkan Yoichi.

"Aaaaargh—gubrak!"

"Sa—"

Tuut!

Suara teriakan tadi adalah milik Eijun. Mereka meyakini hal itu sehingga Kazuya langsung memacu mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah Eijun. Kali ini kecemasannya bertambah besar dan menyelimuti rongga dadanya. Ketika sampai di depan rumah Eijun, Kazuya langsung berhenti dan mereka berdua terburu-buru keluar mobil.

"Sawamura!" Kazuya berteriak bersamaan dengan Yoichi. Mereka menyerbu masuk pintu yang tidak dikunci itu. Keduanya berpencar mencari ke segala ruangan untuk mencari Eijun. Namun mereka tidak menemukan Eijun sama sekali.

Kazuya berhenti di ruang tengah yang menghubungkan segala ruangan. Yoichi masih penasaran, ia kembali mengecek ke seluruh ruangan dan lemari. Kazuya berpikir, ia berusaha tidak tenggelam dengan kecemasan keamarahan. Ketika pikirannya jernih, ia tahu ada sebuah tempat yang belum mereka masuki. Basement.

"Basement! Disini ada basement!" teriaknya pada Yoichi. Mereka berlari menuju dapur dan terdapat pintu kecil yang bersembunyi di balik tembok. Keduanya langsung turun ke bawah melihat pintu tersebut terbuka lebar. Ketika turun, mereka melihat lampu yang berkedip-kedip.

Kecemasan semakin membesar kala melihat siapa yang menggantungkan leher dengan seutas tali yang menempel dari langit-langit atap. Serta sebuah kursi yang sudah jatuh.

Kazuya melotot. Ia melihat Eijun berusaha lepas dari tali itu. "Mochi! Pisau!" teriaknya tiba-tiba.

Yoichi sama kagetnya. Meski begitu ia langsung menuruti Kazuya untuk mengambil pisau di dapur. Sementara Kazuya menaikan kedua kaki Eijun agar Eijun bisa sedikit tenang karena tidak menggantung lagi. Beberapa detik kemudian Yoichi datang dengan pisau dan langsung berdiri di atas kursi memotong tali yang menjerat leher Eijun.

Yoichi melempar pisau itu dan membantu Kazuya menurunkan Eijun yang nampaknya sudah pingsan.

"Sial! Sawamura … bangun! Bangun!" Kazuya menggoyangkan tubuh Eijun.

"Jangan bercanda!" Yoichi menggertakan giginya. Ia ikut menggoyangkan tubuh Eijun yang sudah lemas itu.

Kazuya mulai mencoba melepaskan tali yang melingkar di leher Eijun pelan-pelan sehingga Eijun tidak kesakitan lagi. Mereka terdiam kala Eijun kembali bernafas putus-putus kemudian setelah itu ia tampak jauh lebih parah membuat Yoichi langsung memutuskan untuk membawa Eijun ke rumah sakit.

"Mereka … tidak nyata?" aku memiringkan kepalaku sedikit tidak mengerti.

Ibuku berjongkok kemudian mengusap kepalaku. "Mereka hanya imajinasimu saja."

"Tapi mereka ada bersamaku!" aku berseru dengan kedua alis menyatu. Menunjuk sudut ruangan dengan telunjukku. Dua temanku sedang berdiri di sana. "Di sana mereka! Namanya Nobu dan Wakana!" mereka berdua tersenyum ke arahku. Kemudian aku menatap Ibuku lagi.

Kini giliran Ayahku yang mendekatiku. "Mereka tidak nyata, Eijun."

"Tapi…" aku tetap tidak mengerti. Apa itu nyata? Apa itu imajinasi? Kembali aku menatap ke arah teman-temanku. Mereka sudah menghilang.

Eijun membuka matanya perlahan. Seberkas sinar masuk ke mata membuat ia mengernyit. Ada bau obat-obatan di sekitarnya. Visinya memburam selama beberapa detik sebelum akhirnya seseorang mendatanginya dan menanyakan keadannya. Itu Kazuya dengan ekspresi cemasnya.

"Ada apa denganku?" ia tidak menjawab Kazuya melainkan bertanya balik.

"Dokter mengatakan kau butuh banyak istirahat dan membebaskan pikiranmu dari hal-hal negatif," jawab Kazuya cepat. Ia menarik kursi dan duduk di sana. "Kau sudah tidur selama tiga jam setelah selesai ditangani dokter." jelasnya lagi.

Eijun mendesah mendengar jawaban Kazuya. Ia menutup kedua matanya dengan sebelah tangannya. Kepalanya seperti berputar-putar dengan jantungnya yang berdebar-debar.

"Hei," Kazuya memanggilnya dengan lembut membuat Eijun menatapnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.

Eijun memerhatikan tangannya yang tidak diinfus sama sekali. Itu artinya dia baik-baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi? Eijun mencoba mengingat-ingat. Ia bangun pagi-pagi sekali karena alarm sialan yang masih aktif di ponselnya. Kemudian setelah itu ia memutuskan untuk mandi dan berpakaian sambil menunggu batrai ponselnya penuh. Ia membuat sereal dan susu sebagai sarapan karena ia sedang malas memasak—dalam artian dia tidak bisa memasak—dan ketika ia kembali ke kamar ia mulai mendengar suara-suara aneh.

Ia melihat pria yang dipanggil 'Tou-san' oleh Hanabi muncul di sudut ruangan dan mencekiknya. Tepat setelah itu Yoichi menelpon—ketika ia berhasil meraih ponselnya—cekikannya bertambah keras kemudian ia dilempar tiba-tiba ke arah dinding dan menjadi tidak sadarkan diri. Alam bawah sadar menyambutnya—ia duduk dikelilingi kegelapan yang membisik dirinya untuk bunuh diri.

Eijun berkedip cepat pada Kazuya. "Buruk," ia menggeleng pelan berusaha duduk ketika kepalanya kembali pusing. "Kita telah membuat kesalahan, Miyuki!" serunya pada Kazuya.

Kazuya beruntung karena ruangan ini hanya ada Eijun saja sedangkan Yoichi sedang membeli minuman keluar. Kazuya mendekati Eijun dan membantu Eijun duduk. "Apa maksudmu kesalahan?"

Eijun menjadi tidak sabar. Ia menggenggam lengan Kazuya dengan erat karena cemas dan ketakutan. "Kita telah membuat penghuninya marah! Benar-benar marah!" seru Eijun lagi.

"Marah?!" Yoichi yang baru saja datang langsung berlari ke arah Eijun dengan tidak percaya. Ia hampir saja menjatuhkan tiga botol minum yang ia bawa. Matanya melotot pada Eijun yang kini berusaha turun dari ranjang. "Apa maksudmu marah?!"

Eijun mengulum bibirnya takut. Ia mengambil nafas lalu menelan ludahnya. "Pria itu menghantuiku," ketika mengatakan itu, mereka langsung terdiam bagaikan dikutuk menjadi batu, seolah mereka telah kehilangan nafasnya. "Aku takut pria itu juga menghantui kalian!" seru Eijun dengan suara nyaringnya membuat keduanya kembali sadar.

Ryosuke mengangguk mendengar penjelasan Eijun tentang apa yang dialaminya semalam. Ryosuke juga menyesali ia tidak bisa hadir karena pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal. Tapi setidaknya ia puas karena mereka menemukan penampakan—meski menyayangkan juga karena Eijun terkena imbasnya.

"Apa dia ada di sini sekarang?" tanya Chris menaruh kedua tangannya di atas meja—tampak tertarik dengan penjelasan Eijun. Ia sedikit kaget melihat bekas tali di lehernya, beruntung hal itu sudah dijelaskan dengan lengkap oleh Kazuya dan Yoichi.

Eijun mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia menggeleng menatap Chris. "Tidak ada, dia tidak di sini." jawabnya sedikit lega.

Setelah itu Yoichi masuk ke dalam ruangan. "Natsukawa sedang dalam perjalanan kemari." ia bergabung dengan Kazuya yang berdiri menyender tembok. Di ruangan ini hanya ada Ryosuke, Tetsuya, Chris, Eijun, Kazuya dan dirinya.

Tetsuya mengangguk mengerti. Natsukawa Yui adalah seseorang yang juga sensitif seperti Eijun, kekuatannya dan pemahamannya jauh lebih unggul di atas Eijun. Karena Yui dibesarkan oleh kedua orang tua yang bisa melihat hal-hal ghaib. Karena hal itu pula kemampuan mereka menurun pada anaknya.

"Kurasa hanya Natsukawa saja yang bisa mengerti situasimu," ucap Ryosuke dengan tenang. Ia terpaku pada bekas tali di leher Eijun. "Apa lehermu masih sakit?" tanyanya.

Eijun menatap lehernya sendiri meski tidak bisa melihatnya dengan jelas. Ia menggeleng kecil. "Sudah tidak. Ini baik-baik saja." mendengar dari cerita Kazuya dan Yoichi barusan, ia merasa jika mereka terlambat satu menit, mungkin ia sudah berada di alam yang berbeda. Ia kemudian tersenyum kecil. "Kalau Miyuki dan Kuramochi-senpai tidak datang, mungkin aku sudah mati." ia mengepalkan kedua tangannya di atas paha, membayangkan ia pergi menyusul kedua orang tuanya—beruntung jika ia bertemu kedua orang tuanya di sana, jika ia langsung bertemu sesuatu yang mengerikan bagaimana?

Kazuya yang melihat itu beranjak mendekati dan mencengkram bahu kiri Eijun dengan pelan. "Tenang saja. Kita semua rekan bukan? Jadi wajar, aku atau Mochi, atau siapapun mengkhawatirkanmu dan membantumu," ia tidak terlalu mempermasalahkan Eijun yang tidak menggunakan embel-embel hormat di belakang namanya.

Chris mengangguk. Ia duduk bertiga dengan Ryosuke dan Tetsuya di sampingnya. Sementara di sebrangnya terdapat Eijun. "Jangan khawatirkan itu, Sawamura."

Tetsuya memasang senyum kecil. "Kau sudah makan? Kalau belum, kau bisa meminta Miyuki memasakkan sesuatu untukmu."

Niat Eijun menolak tetapi karena perutnya langsung bergerumuh membuat seisi ruangan tertawa, bahkan Yoichi terdengar puas dengan tawa hyenanya. Pipinya memerah karena malu. Ia menunduk lalu mengangguk. "Sambil menunggu Natsukawa-san,"

Tawa Kazuya masih tersisa dan hal itu sangat menyebalkan bagi Eijun. "Baik, baik. Aku akan memasakkan nasi goreng favoritmu," setelah itu ia keluar dari ruangan menuju dapur.

Sementara Yoichi duduk di kursi kosong di sebelah Eijun. Ekspresinya masih cemas padahal tadi dia tertawa lebar. "Kau yakin baik-baik saja? Maksudku … ini tidak biasanya dan … hal seperti ini sama seperti sebelum penglihatanmu dibatasi kan?"

Eijun mengerti apa maksud Yoichi. Ia memasang senyum kecilnya. "Semuanya akan baik-baik saja!" serunya memberikan semangat. Kalimat itu terdengar familiar dan selalu ia katakan setiap ada masalah. Kalimat yang begitu sederhana tetapi sangat berarti bagi Eijun demi menghilangkan kegelisahan yang merambat di dalam hatinya.

"Kau selalu berkata seperti itu ketika ada masalah sekecil apapun," kata Yoichi menekan semua kalimatnya. Iris hijau tua bercampur hitam itu menatap Eijun dengan serius. "Coba katakan dengan terbuka bahwa kau gelisah, bahwa kau sedang mengkhawatirkan sesuatu. Kalimat 'semuanya akan baik-baik saja' terkadang malah semakin membebankan pikiranmu."

Eijun terdiam sejenak. Ruangan itu menjadi dingin. Ia mengusap tengkuk dengan tangan kirinya. Yoichi ada benarnya. Setiap ia mengatakan kalimat itu, pikirannya semakin campur aduk.

"Sudahlah," Chris menengahi seperti biasanya, ia tersenyum pada Eijun. "Betul apa kata Yoichi, maksudku bukan berarti aku memojokkanmu Sawamura—Yoichi hanya ingin kamu lebih terbuka dengan perasaanmu pada kami."

"Ketika Kuramochi mengatakan sesuatu dia akan berputar-putar," komentar Ryosuke pedas.

Yoichi mengumpat di dalam hati karena komentar sarkas Ryosuke. Ia memasang senyum masam pada Ryosuke yang dibalas seringai kejam. Akhirnya Yoichi menatap Eijun lagi dan mengangguk tipis. "Ya, itu maksudku. Aku tidak bermaksud untuk menambah beban pikiranmu. Terkadang membagi perasaan dengan orang lain bisa membuat kecemasanmu berkurang."

Eijun mengerti. Ia mengangguk kemudian tersenyum. Kalau dipikir kembali, ada benarnya, ia terlalu tertutup dan tidak pernah mau membuat mereka kerepotan. Senyuman lebarnya membuat Yoichi mendengkus geli. "Maafkan aku karena bersikap egois," ia sedikit menunduk hormat dan sopan. "Aku benar-benar tidak ingin membuat kalian kerepotan—tapi kalau kalian memberiku saran seperti itu—" ia mengangkat kepalanya dengan senyum lebar tidak luput dari wajahnya. "Sawamura Eijun ini akan terbuka pada siapapun!"

Yoichi tertawa puas. Ia merangkul Eijun dan mengacak-acak surai brunettenya. "Begitu, begitu! Ini baru Sawamoron!"

"Heei!"

"Sudahlah, Kuramochi. Aku takut otak Sawamura bergeser."

"Onii-san!"

"Tidak apa-apa. Aku akan menang shogi darinya."

"Tetsu-san!"

Chris terkekeh pelan. "Jangan kasar-kasar, Kuramochi."

"Shisooouu!"

Lima menit kemudian Kazuya datang dengan sepiring nasi goreng dan air putih di gelas. Ryosuke sudah pergi menemui Hideaki bersama Yoichi untuk melihat editan video mereka. Sedangkan Tetsuya dan Chris kembali melakukan pekerjaannya di sini.

Eijun melihat segunung nasi goreng favoritnya yang disajikan di depannya dengan imajiner air liur yang menetes. Dengan secepat kilat ia langsung melahap makanan buatan Kazuya yang setara dengan makanan hotel bintang lima. Ia melihat Kazuya yang berpangku tangan di meja sebrangnya—sedikit tersenyum padanya. Beberapa detik kemudian Kazuya dialihkan dengan notifikasi di ponselnya.

Eijun mengenali Kazuya ketika ia bergabung dengan tim. Kebetulan Yoichi yang merupakan kakak kelas Eijun di bangku perkuliahan mengenal Kazuya. Kazuya juga merupakan fotografer professional dan selalu berpergian ke setiap belahan dunia untuk memotret keindahan alam. Dan ia tidak lupa bahwa Kazuya lulusan terbaik di kampusnya.

Awal ia bertemu dengan Kazuya sebenarnya tidak cukup baik—bahkan bisa dibilang buruk karena Kazuya begitu menyebalkan. Tapi semakin kesini ia semakin terbiasa dengan sikap dan sifat Kazuya yang mirip dengan iblis.

Ketika suapan terakhir, pintu terbuka dan masuklah Natsukawa Yui bersama Chris dan Tetsuya serta Yoichi. Eijun menelan ludahnya, ia minum air yang disediakan Kazuya sebelumnya dan mengatakan terima kasih pada Kazuya. Dan Kazuya langsung menyingkirkan alat makan itu secepat kilat ke dapur dan kembali lagi ke ruangan itu.

Yui menatap Eijun selama beberapa detik sebelum duduk di kursi sebelahnya.

Eijun mengusap bibirnya dengan ujung lengan jaket yang ia kenakan. Ia gugup dan gelisah melihat ekspresi Yui yang mengatakan 'aku-merasakan-aura-buruk'.

Yui memasang senyum ke arah Eijun supaya tidak memperkeruh suasana. "Kudengar ini terjadi ketika kalian mengunjungi rumah itu bukan?" tanyanya yang langsung diangguki semua yang ada di sana. Ia merasa teralihkan ketika Ryosuke masuk ke dalam ruangan, tetapi ia kembali menatap Eijun lagi. "Bisa perlihatkan telapak tanganmu?"

Eijun memperlihatkan kedua telapak tangannya pada Yui. Wanita itu langsung mengelus telapak tangannya dengan jempol—membentuk garis abstrak di sana seolah-olah sedang membaca sesuatu. Eijun menelan ludahnya. Merasa takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini.

Yui mengadah lalu memucat. Hal itu membuat semua orang di sana semakin khawatir dan kebingungan. "Aku tidak yakin … tapi aku benar-benar merasakannya," ia memulai dengan suara pelan. Ia menatap wajah semua orang di sana. "Kemampuan Sawamura-kun kini terbuka lebar. Ia membukanya sendiri tanpa sadar dan hal itu membuat semua makhluk mendekat padanya."

Chris memucat. "Tapi bagaimana bisa terbuka? Bukankah kemampuannya sudah dibatasi?"

Yui terdiam sejenak seolah sedang mengumpulkan keberaniannya. Ia berdiri dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Penglihatannya terhadap kenangan yang tertinggal merupakan bumerang bagi dirinya sendiri. Memang, kemampuannya sudah dibatasi. Tapi bukan berarti hal itu permanen. Dan sekarang penglihatannya kini terbuka lebar sehingga membuat makhluk apapun tertarik dengannya. Sawamura—dalam dunia yang tidak bisa kita lihat—mengeluarkan aura yang dapat membuat makhluk lain mendekatinya—semacam magnet."

Eijun terdiam. Kini kemampuannya—penglihatannya terhadap kenangan yang tertinggal—sudah terbuka lebar—lebih lebar dari sebelumnya. Ia tahu bahwa karena kemampuannya yang terlalu besar bahkan bisa mencelakakan dirinya sendiri membuat orang tuanya memutuskan untuk membatasi penglihatannya, sehingga hal itu tidak menarik perhatian makhluk-makhluk mengerikan di sekitarnya.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Ryosuke bertanya dengan tenang. Tampaknya hanya dia saja yang bisa mengambil situasi ini dengan kepala dingin sementara yang lainnya sudah memucat. "Apakah jika dibiarkan saja bisa membuat Sawamura tersiksa?"

Eijun menoleh cepat. Kalimat 'tersiksa' membuat ia ingin protes—tapi ia mengatupkan mulutnya ketika Yui menjawabnya dengan tenang.

"Ya," jawabnya membuat semua orang yang mendengarnya mulai cemas. "Mentalnya akan rapuh dan semakin melemah. Sawamura-kun mungkin tidak bisa membedakan yang namanya kenyataan dan ilusi. Maksudku ia tidak bisa membedakan mana manusia yang asli atau jelmaan. Karena dari yang selama ini kulihat, banyak jelmaan yang mirip dengan manusia. Saking miripnya aku bahkan tidak bisa membedakan." jelasnya.

Eijun terdiam. Ekspresinya memucat mendengar hal itu. Ia sudah mengalaminya sendiri. Melihat dan berbicara dengan sosok yang mirip Haruno adalah sumber ketakutannya.

Yui menyadari ekspresi Eijun. Ia menjadi curiga dan matanya menyipit. "Kau sudah menemui sesuatu yang mirip manusia?" tanya Yui terang-terangan.

Dengan ragu, Eijun mengangguk. Ia mulai menjelaskan meski terbata-bata. "Malam itu aku mimpi buruk. Seorang wanita yang mirip dengan pemilik rumah itu menghantuiku dan mencekikku. Aku terbangun tiba-tiba dan tidak bisa tidur … lalu karena aku butuh udara segar, aku pergi keluar dan menemukan piano di salah satu ruangan terbuka di penginapan itu. Aku memainkannya dan tidak lama ada Haruno-san berdiri. Kami … Kami sempat mengobrol. Makhluk itu tersenyum padaku—meski senyumannya aneh dan bukan Haruno-san sekali. Karena aku tetap berpikir positif, aku mengiyakan keinginannya untuk memainkan piano sekali lagi … setelah selesai bermain, sosok yang mirip Haruno-san menghilang."

Semua orang disana menelan ludah.

Yui mendengkus kemudian terkekeh geli. "Beruntung yang kau temui itu termasuk makhluk baik." ia berkata seolah-olah hal itu bukan masalah. Ia kembali duduk dan menatap Eijun dengan ekspresinya yang serius. "Aku mungkin bisa membantumu, Sawamura-kun. Jika kau ingin membatasi penglihatanmu lagi. Entah berhasil atau tidak aku tidak yakin … tapi jika dibiarkan, kau akan gila nanti."

"Gila…" Eijun mengulang dengan pelan. Jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Tidak bisa Eijun membayangkan ia akan terjebak dalam ilusi gila.

"Apakah seburuk itu?" Kazuya bertanya dengan penasaran sekaligus khawatir.

"Tentu saja buruk, Miyuki," Yui menjawab. Ia menatap Kazuya dengan serius. "Bayangkan kau setiap hari melihat hal-hal di luar nalar. Seperti potongan tubuh yang berjalan sendiri, atau sosok tanpa kepala, atau ketika kau membuka jendela tiba-tiba ada sebuah wajah di depanmu. Ketika kau tidur, ada sesuatu yang merayap masuk ke dalam selimut. Atau hantu dengan wajah remuk muncul di kamar mandi, atau—"

"Oke! Sudah cukup!" Kazuya berseru menghentikan penjelasan liar Yui mengenai makhluk-makhluk mengerikan itu. Jujur Kazuya tidak mau mendengarnya lebih lanjut. Bukannya takut, membayangkan darah mengalir dari potongan tubuh saja sudah membuat ia mual.

Yui tersenyum puas. Ia kembali menatap Eijun. "Bagaimana? Apa keputusanmu?"

Eijun terdiam sejenak. Ia memikirkan berbagai kemungkinan. Menjadi gila? Apakah ketakutannya di masa kecil akan kembali lagi? Aah, ia ingat. Nama mereka adalah Nobu dan Wakana. Teman masa kecilnya yang selalu disebut-sebut sebagai teman khayalannya. Tapi ia bisa menggenggam tangan mereka, ia bisa memeluk mereka. Ia merasa nyata dengan hal itu. Mereka selalu ada menemaninya ketika kecil. Mereka yang selalu meredakan ketakutan Eijun ketika petir menyambar, badai di luar rumah, atau kesendirian yang mencekam.

Dan semenjak ia pindah ke Inggris—ia tidak menemukan siapapun lagi. Selain teman nyata yang bernama Maria Blackstoon. Kemudian sesuatu mulai mengganggunya. Ia mengalami banyak mimpi buruk, hampir di setiap malam, ia merasa tersesat di dalam labirin penuh duri dan jebakan. Hal itu hampir membuatnya ketakutan dan merasa tidak ingin di sentuh siapapun.

Kemudian kecelakaan hebat yang menewaskan kedua orang tuanya. Dua hari setelah kematian kedua orang tuanya, rumahnya di Inggris kebakaran—beruntung ia berhasil diselamatkan. Kebakaran itu besar dan menyeramkan. Saat di dalamnya, ia mendengar teriakan mengerikan yang memekakkan telinga.

"Tolong kami!"

"Jiwa segar! Berikan kami darahmu!"

"Hentikan penderitaan ini!"

"Toloong! Tolong kami!"

Teriakan itu bersaut-sautan satu sama lain dan datang dari berbagai arah. Mengerikan. Lalu di susul siluet hitam yang mendekatinya, berusaha mengambilnya dan membawanya menuju neraka.

"—mura…"

"Hei—Sawamura…"

"Sawamura!"

Eijun berjengit mendengar namanya di panggil. Ia mendongak, Kazuya menaruh kedua tangan di bahunya dan berekspresi khawatir. "Y-Ya?" ia merespon dengan gugup.

Kazuya melepaskan tangannya dari bahu kemudian menghela nafas pelan. "Wajahmu mengerut seolah kamu sedang mengingat sesuatu yang mengerikan." ujar Kazuya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Chris. Pertanyaan itu ditekan seolah ingin Eijun ingat bahwa ia berjanji untuk terbuka pada mereka.

Eijun mengusap tengkuknya. "Hanya kenangan masa kecil … yang cukup suram dan ngeri." ia menjawab tetapi tidak mau menjelaskan panjang lebar. Ia kembali menatap Yui sebelum mereka bertanya lebih lanjut. "Baiklah, aku mengambil jalan aman." putusnya pada Yui.

Yui mengangguk. "Secepatnya aku akan memberitahu temanku. Kalian bisa bertemu nanti." ia memasang senyum singkat. Ketika berdiri dan hendak mengatakan sesuatu lagi, seseorang masuk ke dalam ruangan. Itu adalah Kominato Haruichi.

"Ano, maaf mengganggu. Ada yang ingin bertemu kalian," kata Haruichi masih dengan jaket dan tas lengkap di tubuhnya, bahkan satu tangannya masih memegang helm. Menandakan bahwa Haruichi baru saja datang. "Dia dari penginapan kemarin."

Seorang wanita berumur empat puluhan duduk di sofa dengan ekspresi cemas, kedua tangannya bertautan diatas paha. Kaki kirinya bergetar karena tidak sabar. Beberapa kali ia menghela nafas panjangnya seolah takut akan sesuatu. Ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, ia spontan berdiri, sekumpulan pria yang lebih muda darinya serta dua orang wanita datang membungkuk hormat padanya.

"Apa kabar Tachibana-san?" Fujiwara Takako menyapa dengan senyumannya kemudian duduk di salah satu sofa bersama Yui di samping kirinya dan Tetsuya di samping kanannya. Sementara Chris, Ryosuke dan Eijun duduk di salah satu sofa panjang. Sedangkan Kazuya dan Yoichi berdiri menyender ke dinding. Sebagian dari mereka adalah yang mengikuti ekspedisi kemarin, sebagiannya lagi—Ryosuke yang ikut andil dalam mengelola tim merasa ikut bertanggung jawab meski tidak bisa datang.

Tachibana Riko tersenyum singkat. Ia tidak mau basa basi lagi. "Baik, kabarku baik." ia mengambil nafasnya. "Tentang rumah itu … rumah kosong di tengah hutan…"

Semua orang menahan nafas mendengarnya.

"Rumah itu … rumah mengerikan itu milik Kakekku."

Semua mengernyit tidak mengerti. Lain halnya dengan Eijun yang langsung menyela. "Tunggu … bukankah semua anak di sana di bunuh?" tanyanya terang-terangan. Seolah kalimat 'bunuh' tadi tidak membuatnya ketakutan.

Riko menatap Eijun, dia bernafas tegang kemudian mengendurkan wajahnya. "Ya. Semuanya di bunuh." jawabnya dengan nada tegang. Tangannya hampir bergetar karena takut.

Eijun berpikir sejenak. Jika semua anak di bunuh, kenapa Riko mengatakan bahwa rumah itu milik kakeknya—Eijun melotot. "Oh! Ayah Hanabi memiliki anak dari istri keduanya bukan?"

Chris paham apa maksud Eijun, begitu juga semua orang di sana.

Riko mengangguk. "Ya. Anak itu adalah Ibuku. Ibuku menceritakan bahwa setelah kejadian itu—ia dan Ibunya pindah ke luar negri demi menghindari masalah. Kemudian setelah ia besar, ia kembali ke Tokyo—menjalani hari-harinya seperti orang normal pada umumnya. Ia menikah dan lahirlah aku. Kami tinggal di Kyoto saat itu. Kemudian saat aku besar, aku menikah dengan seorang pria pemilik penginapan—yang ternyata begitu dekat dengan rumah kakekku."

Ryosuke menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Memandang Riko yang sedang duduk diatas sofa single itu. "Lalu apa hubungannya dengan kami?" tanyanya tanpa sopan santun.

Riko nampak tidak begitu peduli dengan sikap Ryosuke padanya. Iris hitamnya malah menatap Ryosuke dengan penuh keseriusan—terdapat setitik kesal, benci dan tidak terima berada di matanya. Ia mengepalkan tangan kanannya. "Karena kalian yang masuk ke sana dan mengganggu penunggu di sana—hutan itu kini lebih menyeramkan dibanding biasanya. Aku mendengar suara teriakan ketika matahari belum muncul—masih sangat pagi sekali—suara teriakan itu menggema di dalam hutan dan terdengar sampai penginapan. Itu karena kalian yang memulai tanpa mengakhirinya!" tudingnya pada mereka.

Eijun menelan salivanya. Begitu juga dengan yang lain. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ini salahnya karena menyuruh mereka kabur, bukan mengakhiri dengan mengatakan salam atau apapun yang biasanya mereka lakukan. Ini karena ia yang terlalu takut karena sosok menyeramkan itu menyerangnya—baik di alam bawah sadar ataupun di rumah itu. Ia mengadah lalu menatap Riko. "Maaf, ini salahku. Aku yang menyuruh tim untuk kabur karena penunggu di sana marah. Tanah bergetar dan semua barang terbang kesana-sini. Ini semua karena aku takut menghadapi penunggu itu. Seram dan jahat. Begitu kuat sehingga aku tidak bisa menutupi ketakutanku … Tachibana-san, aku berjanji, aku akan menyelesaikan masalah di rumah itu. Aku mohon, maafkan aku!" tubuhnya bergetar karena kesalahan yang ia perbuat.

"Sawamura!" Chris menghentikannya. Menaruh tangannya di bahu kanan Eijun dan mengusapnya pelan guna meredakan emosi Eijun. "Tenang, ini semua bukan salahmu. Kami juga termasuk."

"Tapi …"

"Itu benar," Takako menyela. Ekspresinya tampak cemas dan bersalah. "Seharusnya kami tetap di sana dan melakukan apa yang sepatutnya kami lakukan setelah melakukan uji nyali." ia mendukung apa kata Chris dan Eijun. Ia memandang Riko kembali lalu menundukkan kepalanya. "Kami berjanji kami akan menyelesaikan semuanya."

Alis Ryosuke menyatu tidak setuju. "Lalu apa yang akan kita lakukan?" ia kemudian menatap Riko dengan mata sipitnya. "Apa yang harus kami lakukan?"

Riko membuat gerakan kecil di wajahnya seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menjawab. "Buat penunggu di sana—entah kakekku atau siapapun itu—diam kembali. Hal itu bisa saja merusak bisnis keluarga suamiku."

"Tapi bukankah penginapan itu memang sudah sepi sebelum kami datang?" sarkasnya. Ayolah, jadi semua ini tentang bisnis? Yang benar saja!

"Ryo." Tetsuya menegur. Ia menatap Riko dengan tatapan meminta maaf.

Ryosuke menghela nafasnya pelan. "Tachibana-san, kami ini hanya orang biasa yang tidak memiliki kemampuan untuk membasmi hantu atau semacamnya. Kau mencari orang yang salah." katanya disertai gelengan pelan.

Alis Riko mengerut, tatapannya tertuju pada Eijun yang sedang mengatupkan mulutnya dan berekspresi pucat. "Aku yakin mendengar anak itu menyebutkan nama saudari tiri Ibuku." katanya menuntut pada Eijun. Ia menaikan dagunya, keberanian kembali datang padanya. "Apa aku salah, anak muda?"

Eijun menelan ludahnya. Ia merasakan aura Ryosuke yang menekannya untuk tidak menjawab jujur.

"Kau pasti berhalusinasi." Ryosuke berdiri. Ia menatap Tachibana Riko dengan tatapan yang mengatakan bahwa ia tidak mau berhubungan dengan wanita ini lagi. "Kalau kau ingin membuat bisnis keluarga suamimu lancar. Mintalah bantuan pada orang yang ahli dalam bidangnya. Bidang kami hanya memburu tempat angker dan membuat konten. Kami hanyalah orang biasa tanpa kekuatan seperti Tuhan." setelah itu ia pergi dari sana tanpa mendengar penjelasan Riko lebih lanjut.

"Ryo…" Tetsuya berdiri. Ia membuang nafas pelan. Ryosuke dengan sikap egoisnya kembali muncul. Tetsuya membungkuk meminta maaf pada Riko. "Maafkan Saya, dia memang seperti itu."

Riko mendelik melihat kepergian Ryosuke. Ia menatap Tetsuya. "Dia akan kesusahan nantinya," kutuknya pada Ryosuke dan mengatakan hal itu pada Tetsuya sebagai ancaman.

Eijun menggigit bibirnya. Ia kemudian mencengkram celananya. "Ta-Tapi kami akan tetap bertanggung jawab!" serunya, ia tidak peduli Ryosuke mendengarnya. Ia hanya ingin menyelesaikan apa yang ia perbuat. "Jika … bahkan jika tim tidak mendukungku, aku akan tetap bertanggung jawab!"

Kazuya mendengkus. Meski ia tidak terlibat di depan kamera dan lebih memilih berada di belakang kamera atau membantu mengedit, ia mengangkat sebelah tangannya. "Tolong jangan lupakan cameramen yang berhasil menangkap penampakan. Kami juga bagian dari tim, lho."

Yoichi terkekeh geli. "Kau tidak sendirian, Sawamura." diam-diam dia setuju pada Kazuya.

Eijun menatap Yoichi dan Kazuya dengan berbinar lalu kembali menatap Riko. "Anda dengar? Saya—Sawamura Eijun—tidak pernah menarik janji!" serunya formal pada Riko.

Yui menggeleng pelan melihat reaksi Eijun yang menurutnya lucu itu. "Tentu saja, Sawamura-kun," ia kemudian menatap Riko dengan iba. "Meski Saya tidak berada di lokasi saat kemarin. Saya akan membantu." ia mengangguk.

Riko sedikit lega sekarang. Ia mengangguk pelan. Getaran ketakutan di tubuhnya sedikit mereda dan ia bisa menghela nafasnya dengan bebas. Ia kemudian berdiri membuat Takako ikut berdiri.

Takako membungkuk. "Sekali lagi kami meminta maaf karena kesalahan yang kami perbuat." ujarnya diikuti yang lain.

Riko mengangguk. "Tentu saja kalian harus," katanya dengan nada sedikit kasar namun terdengar setitik kelegaan di sana. Ia mengambil tas dompetnya dan berbincang ringan dengan Takako hingga pintu masuk kantor—Eijun mengikuti mereka dari belakang. "Aku yakin kau mengatakan nama saudari tiri Ibuku, anak muda," katanya pada Eijun menyinggung topik barusan. "Namanya 'Hanabi' ya? Itu nama yang indah. Seandainya Ibuku masih ada, mungkin ia ingin bertemu dengan saudari tirinya." iris hitamnya menerawang ke depan kemudian memberi Eijun senyum singkat.

Eijun mengangguk kemudian tersenyum. Ia terpaku pada sebuah pohon di sebrang jalan yang berguna untuk membuat jalanan menjadi teduh. Seorang pria bertudung hitam berdiri di balik bayangan pohon. Ia menyipit. "Tachibana-san, Anda kemari bersama suami Anda?" tanyanya penasaran.

Riko menggeleng dengan tegas sekaligus keheranan. "Tidak. Aku kemari sendirian. Suamiku sedang sibuk di penginapan." jawabnya.

Takako merasa bulu kuduknya merinding ketika Eijun hanya terpaku pada satu objek di sebrang kantor mereka. Bahkan ketika Eijun menunjuk objek itu dengan terang-terangan—seolah objek itu nyata berada di depannya sendiri.

"Lalu, kenapa ada seorang pria yang dari tadi memerhatikan kita?"

Selain musik klasik, Eijun menyukai buku-buku. Aroma buku baru yang selalu membuatnya candu. Tumpukan buku-buku yang tinggi seolah merupakan surga baginya. Begitu pula aroma buku lama yang ia sukai. Atau ketika ia menemukan buku biografi sejarah tokoh penting—entah dari Jepang atau dari luar Jepang—ia selalu membacanya dan melupakan bumi. Seolah ketika ia membaca buku, waktunya berhenti saat itu juga.

Karena kegemarannya membaca buku, Eijun bekerja di sebuah toko buku miliki Kataoka Tesshin—pria yang merupakan kenalan walinya. Beruntung Eijun bekerja di sini sebagai pekerja shift. Sehingga sebagian waktunya bisa ia pakai di kantor tim—entah itu membantu atau bersantai, atau membuat komik strip ketika bosan.

Musik klasik Rondo Alla Turca karya Wolfgang Amadeus Mozart menjadi temannya hari ini. Okumura Koushuu—teman satu shiftnya—yang lebih muda satu tahun dengannya—sedang pergi untuk mengambil stok buku yang tertinggal di pabrik percetakan. Sedangkan Asada Hirofumi—teman satu shiftnya juga—sedang pergi mengambil hasil cetak poster untuk dipajang di depan pintu masuk toko ini.

Toko buku hari ini lumayan sepi karena seharian ini hampir hujan. Ia menunduk setelah menghela nafas panjang, kembali menempelkan label harga ke tumpukan buku di depannya. Beberapa saat yang lalu, Kataoka Rei—istri dari pemilik toko buku ini masuk dan pergi ke basemant sekadar cari kegiatan karena di rumah ia sedang sendirian. Sedangkan Kataoka Tesshin sendiri sedang pergi ke Hokkaido mengurus sesuatu yang tidak Eijun tahu.

Ketika selesai mengerjakan pekerjaannya. Ia terpaku pada sebuah novel yang selalu ia baca ketika sedang bosan—buku itu cukup tebal karena hal itu Eijun belum pernah bisa menamatkannya. Eijun mengambil novel itu kemudian membacanya, berjanji dalam hati bahwa ia akan membaca sekitar sepuluh menit saja lalu menata buku-buku di depannya ke rak buku.

Nyatanya, Eijun menghabiskan waktu setengah jam tenggelam pada diksi-diksi indah yang berada di dalam buku itu. Ia hampir melupakan dunia. Eijun menghela nafas pelan kemudian bangun dari duduknya dan menata buku ke dalam rak. Ia memerhatikan ada seorang remaja memakai baju seragam sedang memerhatikan sebuah buku di rak paling atas. Setelah selesai menaruh buku-buku di tangannya, Eijun mendekatinya. Ia tidak sadar bahwa ada pelanggan yang masuk. Kalau Rei tahu, mungkin ia akan dijitak.

"Hai, ada yang bisa Saya bantu?" tanya Eijun ramah.

Gadis remaja itu menatapnya sekilas. Rambut panjangnya tergerai hingga pinggang. Ia belum menjawab dalam beberapa detik. "Aku sedang mencari buku," suaranya begitu pelan nyaris Eijun tidak bisa mendengarnya kalau ia tidak memasang telinganya baik-baik.

Senyum Eijun masih belum luntur meski ia merasa senyumannya sudah kering. Eijun melirik ke arah buku yang ditatap oleh gadis remaja itu. "Ah, buku itu?" tanya Eijun kembali menatap si gadis remaja.

Kepalanya mengangguk pelan.

Eijun memandangnya selama beberapa detik sebelum memutuskan untuk mengambil buku yang ia maksud. Setelah itu ia memberikannya pada si gadis remaja. "Ini, apakah sudah benar?"

Si gadis remaja itu melihat buku di tangannya—seperti membaca tulisannya—kemudian mengangguk. Ia kembali memberikannya pada Eijun.

"Oh … kau ingin membelinya? Sebentar," ia melihat label harga namun tidak ada di sana. "Hm, mungkin aku akan mengecek harganya dulu. Bagaimana?" Eijun menaikan alis dikala gadis itu tetap diam tidak menjawab. Wajahnya tertunduk. Eijun menggaruk kepalanya. "Oke … kupikir itu iya … mohon tunggu sebentar ya."

Eijun berbalik menuju meja kasir untuk mengecek harga. Bunyi tit yang dihasilkan dari komputer di depannya memunculkan harga buku itu. Buku yang cukup lama dan berjudul 'Cara Menjadi Diri Sendiri' Eijun bahkan baru tahu ada buku seperti ini di sini. Mungkin kapan-kapan ia akan membacanya karena dari judulnya saja sudah menarik. Eijun mengadah, melihat ke arah gadis remaja tadi—namun gadis tadi tidak ada di sana.

Eijun keluar dari meja kasirnya kemudian mencari gadis tadi—ia melihat siluet bayangan masuk ke dalam ruang gudang yang tidak boleh dimasuki seseorang selain karyawan. Eijun melotot, sial, kalau ketahuan Rei, ia pasti—bukan sekadar di jitak lagi—pasti langsung dihukum habis-habisan! Eijun berlari ke arah gudang. "Hei, tunggu! Anda tidak boleh masuk ke sana!" seru Eijun mengingatkan.

Ketika ia sampai ke gudang penyimpanan buku-buku. Lampu di sana berkedip—padahal sebelumnya normal. Ia terdiam sejenak, melihat lampu yang berkedip di atasnya. Ia masuk ke sana kemudian kembali mencari gadis tadi. Apa saking penasarannya mencari buku gadis itu sampai-sampai masuk ke dalam gudang? Eijun mengedarkan pandangannya. Gudangnya lumayan besar—tidak terlalu besar seperti gudang pada umumnya. Tetapi ada tiga rak besi besar berisi buku-buku, ruangan ini dibuat dingin supaya buku tidak mudah rusak.

BRAK!

Pintu tertutup sendiri membuat Eijun terlonjak. Ia langsung berusaha membuka pintu itu namun sialnya ia lupa kalau pintu gudang kadang suka macet sendiri. Eijun mengerang. Ketakutan kini menjalar, jantungnya berdebar-debar. Ia berteriak meminta tolong namun tidak ada yang menyaut—bahkan Rei yang sedang ada di basement. Bulir keringat menetes dari dahi, tubuhnya bergetar ketakutan. Nafasnya menjadi patah-patah. Di tambah lampu yang berkedip menambah kesan menyeramkan. Eijun memberanikan diri untuk mencari gadis tadi. Ia menelan ludahnya meredakan ketakutan.

"Ano … Nona Pelanggan? Anda tidak boleh ada di sini … ruangan ini khusus karyawan … Nona Pelanggan?" Eijun tidak tahu harus memanggil apa gadis remaja tadi. Tapi tetap saja tidak ada sahutan. Di mana dia? Kedua alisnya menyatu, ia masih berusaha berpikir positif. Di tengah ketakutannya, ia berjalan perlahan, mengendap-endap dari setiap rak ke rak.

"Nona … Pelanggan?" dahinya mengerut. Di ujung ruangan ia melihat gadis remaja tadi berbaring. Ketika lampu berkedip mati, kemudian berkedip nyala, darah mulai terlihat menggenang. Eijun melotot. Penjelasan Yui kemarin tiba-tiba menggema di dalam kepalanya.

Karena dari yang selama ini kulihat, banyak jelmaan yang mirip dengan manusia. Saking miripnya aku bahkan tidak bisa membedakan.

Sial sial sial! Kenapa ia kecolongan lagi?! Eijun beringsut mundur. Ia menggelengkan kepalanya. Kakinya bergetar ketakutan, wajahnya berubah menjadi pucat, ia merasa stok udara menipis sehingga ia kesulitan mengatur nafasnya. Jantungnya berdebar kencang.

Sosok yang tadinya berbaring itu perlahan mulai bangun, merangkak, kemudian berdiri sambil membuka mulutnya—kulitnya yang putih pucat berlumuran darah. Matanya melotot tajam ke arah Eijun, mulutnya terbuka berwarna hitam. Baju seragam gad—sosok itu menjadi dress berwarna merah.

"Ti … Tidak … TIDAAK!" Eijun berteriak, beringsut mundur kemudian berlari menuju pintu. Menggedornya kasar. "Tolong! TOLOOONG! REI-CHAN! TOLONG! OKUMURA-SHOUNEN! ASADAAAAA!" Eijun berteriak kesetanan, memanggil siapapun yang terlintas di kepalanya. "BOOOOSSS TOLOOONG AKUUUU!" dan ia sempat memikirkan Bosnya yang sedang di Hokkaido.

Terdengar nafas tertahan dan suara jeritan kecil yang kian mendekat. Eijun berbalik. Matanya melotot kala sosok itu mulai mendekatinya. Ia dengan cepat menghindar dan pergi ke sisi tembok. Namun sayangnya sosok itu lebih cepat lagi. Berteriak memekakkan telinga membuat Eijun ikut berteriak. Sosok itu mendekati Eijun, menyudutkannya, Eijun merasa udara mulai menipis sehingga ia tidak sadarkan diri.

Brak!

"Sawamura!" suara wanita memanggilnya dengan kaget. Hal itu membuat Eijun kembali sadar.

Telinganya berdengung panjang. Ia merasakan seberkas cahaya masuk ke matanya. Kemudian di susul cahaya lainnya yang terang.

"Astaga! Lihat ini!" Rei melotot melihat semua kekacauan di dalam gudang. Buku-buku berjatuhan ke atas lantai, bahkan saat ia masuk tadi, lampu di dalam gudang mati. Ia menatap Eijun yang bersandar di tembok dengan wajah lesunya. "Apa-apaan ini, Sawamura?!"

"Senpai?" Asada datang dengan panik. Ketika ia baru sampai, ia sudah mendengar nama Eijun diteriaki oleh Rei. Dengan cepat ia masuk dan mendekati Eijun sementara Rei masih terlihat marah. "Sen—" ketika hendak membantu Eijun, tangannya sudah di tepis duluan.

Eijun memucat, tubuhnya bergetar ketakutan. Bayangan sosok tadi masih menghantui pikirannya. Telinganya masih berdengung. "Jangan! Menjauh dariku!" teriak Eijun beringsut mundur menekan punggungnya pada tembok.

"Senpai! Ini aku, Senpai! Asada!" Hirofumi berseru mencengkram kedua tangan Eijun.

Eijun sadar. Ia melotot, matanya berair karena menangis ketakutan. Asada melepaskan cengkramannya dan ia langsung menghapus air matanya. Tubuhnya masih bergetar lemas karena ketakutan.

"Sawamura!" Rei menyentak namanya. Matanya tajam menatap Eijun. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini?!" ia menunjuk buku-buku yang berserakan. "Semuanya berantakan! Lihat itu!"

Eijun melihat buku-buku yang berserakan. Ia menggeleng pelan. Tadi masih rapi, kenapa sekarang sudah berserakan saja? Wajahnya memucat dan memelas pada Rei. "A-Aku tidak tahu … demi Tuhan, aku tidak tahu!"

Dahi Rei mengerut. "Lalu apa yang terjadi hingga kau berada di sini dan berteriak?" tanyanya. Ia memang mendengar teriakan Eijun ketika ia hendak membeli minum ke kedai di sebrang toko buku.

Eijun menelan ludahnya. Ia mengap-mengap karena masih kaget dan ketakutan. Perlahan tangan kirinya menunjuk ke tempat di mana ia melihat sosok tadi berbaring. "Di … Di sana … aku melihat … hantu," jelasnya patah-patah dan gugup. Ketika melihat Rei menaikan alis tidak percaya, Eijun kembali bicara. "Aku tidak berbohong! Demi Tuhan aku melihatnya sendiri!" ia berseru kemudian berusaha berdiri di bantu Hirofumi karena kakinya masih lemas.

Hirofumi menatap Eijun dengan pucat. Melihat hantu? Seram juga. Namun wajahnya menjadi cemas, ia menyatukan alisnya. "Senpai, telinga Senpai berdarah!"

Angin berderu masuk melalui jendela yang sengaja di buka oleh Eijun. Terdapat Rei duduk di kursi supir di sampingnya. Kedua telinganya tersumpal oleh kapas tepat setelah pemeriksaan yang hampir memakan satu jam. Kedua tangan Eijun terkepal menyatu di atas pahanya, sekilas ingatan tentang sosok itu menghantui isi kepalanya lagi. Potongan demi potongan yang mengerikan membuat ia gelisah dan cemas. Meski sudah dewasa sekali pun, jika ia melihat sosok mengerikan yang belum ia lihat sebelumnya hal itu membuatnya ketakutan.

Berbagai mimpi buruk yang mampir di setiap malamnya membuat jantungnya dipacu cepat. Bahkan tadi malam ia bermimpi sedang berada di rumah tengah hutan yang kemarin, anehnya rumah itu menjadi baru kembali, furniture serta pondasi rumah masih kokoh seperti baru. Ia mengelilingi rumah itu, kemudian menemukan dua orang dewasa yang tersenyum padanya. Mereka kemudian menyebutnya 'Hanabi'. Saat itu juga Eijun menyadari bahwa ia berubah wujud menjadi Hanabi.

Ketika ia mandi, ia melihat sekilas ke cermin yang bisa ia pakai ketika sedang gosok gigi—sosok mengerikan ada di sana, namun sebelum sosok itu menyadari Eijun lebih dulu menenggelamkan diri ke bak mandi.

"Jadi … kau bisa melihat hantu?" Rei bertanya diantara kesunyian yang mereka buat. Tangannya mencengkram setir mobil. Ia merasa bertanggung jawab ketika tahu bahwa salah satu karyawan suaminya harus dilarikan ke rumah sakit. Syukurlah bahwa telinga Eijun baik-baik saja dan tidak ada keluhan apapun.

Eijun tidak langsung menjawab. Ia menghela nafas pelan kemudian mengeluarkan kapas dari telinganya. "Aku … yah, bisa dikatakan begitu," jawabnya dengan pelan seraya menggosok tengkuknya. Kepalanya menunduk karena masih takut dengan Rei.

Rei membuang nafas kasar. "Apa pun itu, aku masih belum percaya dengan hal-hal seperti hantu,"

Eijun tersenyum masam.

Tapi setelah itu Rei melanjutkan, "karena Ibuku selalu mengatakan kalau ketakutan itu berasal dari diri kita … dan mungkin ini beda konteksnya. Aku yakin. Bukan berarti aku menganggapmu remeh, Sawamura. Hanya saja … ini sudut pandangku."

Eijun tersenyum, kali ini benar-benar tersenyum. "Ya, aku mengerti." jeda beberapa saat, ia mengingat tentang buku-buku yang berserakan. Jujur saja ia jadi tidak enak karena Koushuu dan Hirofumi yang harus membereskan. "Maaf tentang buku-buku itu… aku akan langsung membersihkannya."

Di lampu merah, mobil mereka berhenti. Rei menatap Eijun dengan kedua alisnya yang menyatu. "Kau butuh istirahat, kata dokter begitu bukan?"

Eijun mengerti. Fisiknya sudah baik-baik saja. Mentalnya mulai pulih. Ia tidak mau dianggap lemah seperti ini. "Aku baik-baik saja. Mungkin hanya butuh mengisi perut saja, semuanya akan—ah, maksudku, yah, aku sedikit lapar. Kalau perutku terisi, aku tidak akan pingsan. Tenang saja!" Eijun menyeru. Hampir saja ia mengatakan hal itu lagi. "Sawamura Eijun ini akan baik-baik saja!"

Rei mendengkus geli. Ia kembali melaju ketika lampunya berubah. "Nah, sekarang, ketika kau bertemu dengan hantu itu. Kau akan apa?" tanya Rei kembali mengungkit topik barusan. Ia begitu penasaran dengan sudut pandang Eijun.

Eijun menggigit bibir bawahnya. Ingatannya kembali ketika ia melihat hal-hal mengerikan, baik di rumah, di dalam mimpi, atau pun di luar rumah. Namun ia tidak bisa menyalahkan Rei begitu saja. Ia tahu bahwa Rei mungkin penasaran. "Ini pertama kalinya bagiku. Karena selama ini, penglihatanku dibatasi sejak kecil. Natsukawa-san—dia sama sepertiku tetapi levelnya sudah jauh di atasku—dia mengatakan bahwa hal itu tidak permanen sehingga secara tidak sengaja aku bisa membuka penglihatanku lebar-lebar. Karena ini baru … biasanya aku akan mengacuhkannya; pura-pura tidur, menyumpal telinga dengan earphone, atau mencari kesibukan lain. Hanya saja … hantu tadi benar-benar mengerikan. Kalau Rei-chan tidak masuk … entahlah—mungkin lebih buruk dari ini?"

Penjelasan Eijun membuat Rei mengangguk paham. "Cukup mengerikan dan merepotkan juga," ia mengetukkan jemarinya ke setir mobil. Matanya masih fokus dengan jalanan, mengarahkan mobil menuju toko buku kembali.

"Yah, begitulah." Eijun menjawab dengan masam. Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Iris mata keemasannya itu mengecil, matanya melotot ketika tahu Rei akan menabrak seseorang yang hendak menyebrang. "Re—Rei-chan!" Eijun berseru, ia menjauhkan wajahnya dan menutupnya dengan kedua tangannya yang tersilang. "Awas kau akan—"

Wush!

Mobil menabrak orang itu bagaikan menabrak debu.

Eijun melotot tidak percaya. Ia menatap Rei yang sekilas memandanginya aneh. "Ma—Maksudku … tadi…" suaranya mengecil dan bergetar ketakutan, Eijun menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa di jalanan itu.

"Kau kenapa sih?" tanya Rei sedikit kaget dan risih karena Eijun tiba-tiba berteriak.

Eijun menelan ludah. Dengan gerakan slow-motion ia menatap Rei kemudian menyenderkan punggungnya ke kursi. Eijun menatap ke luar jendela, jantungnya berdebar tidak karuan seperti sedang lari marathon. Sudah cukup. Ia tidak mau melihat hal-hal yang mengejutkan lainnya lagi.[]

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

review?

note : maaf jika ada typo yang mengganggu.

aku juga publis ini di wattpad dengan visualnya, by the way.