Disclaimer: Kuroko no Basuke dikarang oleh Tadatoshi Fujimaki, Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: oneshot, AkaFuri.

.

.

Kita ini apa?

by Fei Mei

.


.

Berkali-kali Furihata ingin putus dari Akashi, tetapi berulang kali juga ia mempertanyakan hubungan mereka dalam hati. Apakah mereka memang berpacaran? Atau selama ini afeksi dari mantan Kapten Rakuzan itu dilancarkan tanpa status? Apakah bebas baginya jika ingin mundur dari hubungan yang tidak pasti ini? Seperti, misalnya cari pacar yang memang benar menyandang status, begitu?

Furihata menelan makanan dengan susah payah. Itu adalah makanan yang mahal, jelas, sebab jika makan malam dengan Akashi sudah pasti di restoran ternama dan makanan yang seporsinya akan langsung menguras dompet Furihata seorang. Tapi, jika hanya berteman dekat, apakah Akashi akan memperlakukannya dengan cara mewah begini?

"Makanan hari ini tidak enak, Kouki?" tanya Akashi.

"T-tidak! Anu, bukan begitu—"

"Kau tampak tidak menikmati, apa ganti menu saja?" tawar Akashi.

Buru-buru Furihata memasukkan makanan dalam mulutnya. "Wenak kuok!"

Akashi tampak tak percaya. Lidahnya mengatakan bahwa makanan yang disantapnya enak, tapi mungkin selera Furihata untuk yang satu ini berbeda. Tetapi karena anggota tim Seirin itu terus menyantap makanannya, Akashi tidak mengatakan apa-apa lagi.

Selagi menunggu tibanya makanan penutup, Furihata tetap tampak gugup. Sudah lima tahun sejak mereka pertama kali bertemu, dan sejak itu jugalah Akashi melempar afeksi khusus padanya. Furihata tersanjung, tapi dalam hati mempertanyakan semua maksudnya. Tidak berani bertanya juga, karena takut segala perilaku Si Rambut Merah padanya berubah.

Satu hal yang paling Furihata tidak ingin hiang dari antaranya dengan Akashi adalah pesan-pesan singkat yang muncul di ponsel pintarnya. Akashi bukan sok posesif bagaimana, tapi memang kadang pesan-pesan itu bukanlah sesuatu yang menuntut untuk dibalas. Seperti pesan 'selamat pagi, semoga harimu menyenangkan', atau 'selamat malam, mimpi indah', atau 'hari ini aku ada latih tanding dengan kampus Daiki, tertarik untuk nonton kemenanganku?', atau bahkan 'hari ini ibumu ulangtahun, kan? Sampaikan salamku untuk beliau, ya'. Furihata sering membalas pesan-pesan itu, tapi Akashi pun tidak tampak marah jika orang yang ia kirimi pesan itu tidak membalasnya. Pesan-pesan yang kadang hanya sesimpel itu membuat perasaan Furihata menghangat dan tidak jarang menjadi penyemangat untuk menjalani hari, ia tidak ingin semuanya lenyap.

"Kouki, sepanjang makan tadi kau tidak nyaman," tutur Akashi. "Apa ada sesuatu?"

"T-tidak!"

"Tugas kuliahmu?"

"B-beres semua!"

"Klubmu?"

"A-aman!"

"Akashi Seijuuro?"

"B-bingung!"

" … "

" … "

" … "

"A—tunggu, itu—"

"Apanya dariku yang membuatmu bingung?"

Furihata meneguk ludah susah payah, tidak menyangka tadi ia bisa keceplosan. Raut muka Akashi tidak menyerngit, tidak menampakan sisi prihatin atau sedih. Hanya datar dengan senyum tipis seperti yang biasa ia tunjukkan, dan itulah yang membuatnya kadang tampak mengerikan.

"Kouki, aku tidak akan tahu apa yang kaurasakan jika kau tidak pernah mengatakannya," tutur Akashi, lembut tapi tegas.

Jadi, Furihata mencoba mengutarakan isi hatinya. "A-aku, eh, aku benci ciuman A-Akashi."

" … "

" … sentuhan Akashi, pelukanmu juga, a-aku benci."

" … "

"T-tiap kali aku mendengar s-suara A-Akashi, aku sebal sendiri."

Ekspresi Akashi tidak berubah. Tapi sekilas, Furihata dapat melihat sorot mata Akashi yang tampak sedih. "Begitu … ? Kenapa?"

"Erm, dadaku, eh, selalu sakit … dan tiap kali A-Akashi menciumku, erm, menggenggam tanganku atau memelukku, malamnya aku jadi susah tidur. Eh, terus, suara A-Akashi, aku, uh, dadaku selalu berdegup kencang … A-aku tidak suka. Setiap kali berada dekat Akashi, aku merasa seperti lupa diri!"

Akashi tersenyum kecil. "Kenapa?"

"K-karena, eh, aku ingin lagi!" sahut Furihata, cukup bersyukur setelahnya karena mereka ada di ruang privat restoran. "A-aku tidak tahan, hampir tiap, eh, malam, aku mimpiin Akashi, saat terbangung pun aku jadi ingin ketemu. Kalau sudah ketemu, rasanya aku ingin disentuh Akashi. Aku benci!"

"Kenapa?" Suara Akashi terdengar begitu lembut, tapi tanpa nada kecewa.

"Karena aku tidak paham! Ini seperti, eh, berenang di laut, gak pernah sampai ke ujung, tapi semakin lama semakin tenggelam!"

"Kalau begitu, coba kembali dulu ke permukaan, dan tarik nafas panjang," balas Akashi.

Furihata menggeleng. "Tidak bisa! Tenggelamnya udah jauh banget! Tiap hari, eh, A-Akashi melakukannya. Setiap pesan singkat dari Akashi, jantungku berdebar tidak karuan saat membacanya, bahkan saat baru melihat notifikasi dengan namamu. Tapi aku tidak paham—"

"Kouki, apanya yang kau tidak paham?"

Dengan takut, Furihata menatap lurus pada orang di hadapannya. Ia agak tercengang karena saat ini Akashi tidak tampak mengerikan atau mengintimidasi. Si Rambut Merah tersenyum lembut dengan tatapan hangat. Itu, tatapan Akashi yang seperti juga yang Furihata tidak paham.

"Aku tidak mengerti." Furihata meneguk ludah susah payah. "Akashi, kenapa kau melakukan semua itu padaku?"

"Kenapa?" Akashi mengulangnya.

"Akashi, kita ini apa?" tembak Furihata. "Sejak final Winter Cup saat kita kelas 1 SMA dulu, sejak ulangtahun Kuroko saat itu, kau sangat, eh perhatian. Tiba-tiba mengajakku keluar saat libur, mengirim pesan tiap hari. Sekarang ketika kuliah, tiba-tiba kau menggenggam erat tanganku, memelukku tiap kali berpisah. Menci—uh, menciumku—Akashi, kenapa?"

"Hmmm, kenapa, ya … " gumam Akashi, tanpa mengubah ekspresi.

"Aka—"

"—permisi, saya membawakan hidangan penutup," ujar seorang pelayan.

Furihata agak kaget, lupa bahwa masih akan ada hidangan terakhir untuk disajikan. Pelayan itu masuk, lalu menaruh piring di hadapannya dan Akashi. Keduanya ditutup oleh tutup saji alumunium, dan Akashi menyengir tipis. Setelah mengisi ulang minum pada gelas kedua tamunya, pelayan itu undur diri.

"Kouki, kau bertanya kenapa aku melakukan semua itu padamu, kan?" tanya Akashi. Yang ditanya mengangguk. "Kau juga bertanya tentang apa kita sebenarnya, kan?" Lagi Furihata mengangguk. "Buka tutup sajinya."

Furihata mengerjap sejenak, lalu dengan ragu ia menurut. Begitu dibukanya tutup saji, ia terpesona dengan kreasi gula warna-warni abstrak yang ada di atas potongan bolu di tengah piring. Saus bluberi—eh, iya kan, blueberi?—melingkar di pinggir piring, serta ada berbagai macam potongan kotak-kotak kecil buah. Tetapi ada satu hal yang membuat Furihata tercengang dari piring itu: hadirnya cincin di salah satu sisi dekat saus bluberi.

"A-Akashi—"

"Kalau kamu menjawab 'ya', kamu tidak akan perlu bingung lagi tentang hubungan kita," tutur Akashi.

"Ap-apa?"

Akashi bangkit dari kursinya, menghampiri Furihata, lalu berlutut satu kaki di sampingnya, dengan wajah terangkat untuk menatap rekan makan malamnya. "Furihata Kouki, menikahlah denganku."

"Akashi, itu—"

"Jawabannya hanya 'ya' atau 'tidak', Kouki."

"Tapi—"

"'Ya', atau 'tidak'."

"Urm, y-ya … ?"

"Katakan dengan lebih pasti, Kouki."

"Ya!"

"Apanya?"

"Aku mau menikah dengan A-Akashi!"

Mantan Kapten Rakuzan itu sedikit cemberut. "Biasakan diri untuk memanggil nama kecilku, Kouki, dari tahun-tahun lalu aku juga sudah bilang begitu, kan?" Akashi bangkit, mengambil cincin di piring Furihata, dan memasangkannya dengan lembut pada jari manis tunangannya. "Biasakan memanggilku 'Seijuuro', Kouki, karena nantinya orang-orang akan memanggilmu 'Akashi' juga."

"Ukh—"

Kenapa panas banget disini!? Pengap, pengap

Furihata semakin merasa sesak, terutama ketika Akashi mencium bibirnya.

.


.

Selesai

.


.

A/N: Gak nyangka suatu hari bakal bikin AkaFuri, tanpa genre humor pula astaga! Fanfiksi ini terinspirasi dari lagu 'Not Another Song About Love' dari Hollywood Ending, tapi ini bukan songfict, ya, cuman kata-kata dalam liriknya menarik. Awalnya Fei ingin buat di fandom Haikyuu karena bisa kenal lagu ini saat nonton video haikyuutext di Youtube. Tapi tiba-tiba banting stir ke KnB karena Furihata ulangtahun! Hepibesdei kesayangannya Akashi~~~

Review?