Aku benar-benar tidak menyangka. Sumpah, demi apa pun. Aku tidak percaya pada kabar yang telah kudengar saat ini.

Kami-sama, aku tak tahu sejak kapan air mataku ini telah mengalir.

Aku hampir saja terjatuh menghantam lantai keras apartemenku jika Suigetsu, kekasihku, tidak menahanku di dalam dekapannya.

"Apa yang terjadi, Karin?" Dia mengelus punggungku untuk memenangkan. Sementara ponsel canggih dalam genggamanku yang masih tersambung pada panggilan suara.

"K-karin? Ada apa denganmu, Nak?—hiks,"

"Bibi Kushina?" Suigetsu kemudian merebut ponselku. Aku tidak terlalu peduli dan tidak marah karena hal itu. Aku terus menangis di dekapan hangat Suigetsu, menumpahkan segala kesedihan dan juga rasa keterkejutanku setelah mendengar kabar itu.

"Halo?" Kudengar Suigetsu bersuara, menyapa bibi Kushina yang kuyakini masih terhubung.

"Hiks—Halo, S-suigetsu, ini Bibi—hiks."

Jemari Suigetsu dapat kurasakan sedang menyusuri rambut merahku. "Ada apa ini, Bibi? Mengapa kau menangis? Mengapa Karin jadi ikut menangis juga?"

"Ini tentang N-naruto—hiks," Aku bisa mendengar suara bibi Kushina yang mulai teredam dengan isakannya lagi.

"Ada apa dengannya? Apa dia membuat masalah?"

Saat Suigetsu melontarkan itu, dnegan segera kucubit pinggangnya karena emosi. "J-jangan macam-macam, s-sialan." ujarku dengan suara serak.

"Hiks, Naruto d-dia m-meninggal—hiks—d-dia bunuh diri..."


Hanya Sebuah Cerita Tentangnya (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T mendekati M

Warning(s) : Miss Typo(s), Altenative Universe, OOC, plot gajelas, alur kecepetan, ending nge-gantung, dan semua ke-absurdan yang kalian akan temukan di fanfik ini.

Fanfiksi ini terinspirasi dari novel Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.


Maka di sinilah kami—aku dan juga Suigetsu—sekarang, di salah satu negara dalam benua Asia sebagai tempat asal kami, Jepang. Setelah aku mendapat kabar itu, aku tak peduli apa pun lagi. Apalagi dengan urusan-urusan penting nan sialan yang harus aku selesaikan di negeri Paman Sam minggu ini.

Walau biasanya terlihat sangat menyebalkan dan tolol, aku akui Suigetsu adalah kekasih yang paling siaga dan pengertian. Setelah mendengar kabar kematian adik sepupuku tersayang, dia segera mencarikan tiket ke Jepang hari itu juga. Dan kami mendapatkan dua tiket untuk pergi ke sana pada malam harinya.

Jetlag yang berasal dari penerbangan hampir 20 jam lamanya memang sedang terjadi padaku. Namun, aku tidak terlalu peduli. Aku hanya bisa terdiam dan menatap kosong pada jendela taksi yang terus berganti pemandangan karena sedang melaju.

Tanpa sadar air mataku jatuh lagi, entah sudah yang keberapa kalinya aku menangis. Menangisi kepergian Uzumaki Naruto, adik sepupu yang nyatanya sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri.

"Jangan menangis," Suigetsu berusaha mendekapku dari samping. Suaranya terdengar serak dan sangat lelah, aku menjadi merasa bersalah. "Aku yakin jika kau menangis terus, Naruto bakal kesal juga. Kau tahu sendiri betapa mengesalkannya dia kalau mengetahui Kakaknya tersayang ini kenapa-kenapa. Pasti aku yang bakal diteror olehnya." Dan dia menyenderkan kepalanya di bahuku.

"Aku masih pusing,"

Aku terdiam, berusaha menenangkan diriku sendiri. Kemudian aku menghela napas panjang, "Aku juga," ujarku pada akhirnya.

"Jangan sedih berlarut-larut Karin, aku harap kedatangan kita bukan hanya sekadar menyampaikan duka. Namun, juga membantu Bibi Kushina dan Paman Minato melepaskan rasa luka."

.

"Bibi tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Naruto, Karin." Dengan wajah muramnya bibi Kushina mengajakku berbincang ditemani dengan scones dan earl grey tea saat aku baru saja pulang dari makam Naruto.

Ya, Naruto memang sudah dimakamkan di salah satu pemakaman umum Osaka sejak kemarin sore—saat aku dan Suigetsu mungkin masih berangkat menuju ke sini. Tadinya, paman Minato katanya bersikeras untuk membawa jasad Naruto ke Eropa, Jerman. Membawa jasad Naruto ke tempat tanah kelahiran pamanku itu untuk dikuburkan. Namun, bibi Kushina tidak ingin membawa pergi Naruto jauh-jauh katanya. Menurutnya, Naruto terlahir di Jepang, Osaka, dan harus dikuburkan di tempat kelahirannya pula. Dan setelah itu semuanya menyetujui kata-kata bibi Kushina, walau bagaimanapun dia juga tetap ibunya 'kan? Orang yang melahirkan Naruto, bibiku yang merawatku pada saat orangtuaku sendiri membuangku dari saat masih kecil.

Bibi Kushina dan paman Minato sudah kuanggap sebagai orangtuaku sendiri. Dan Naruto, dia yang berada dua tahun usianya di bawahku itu sudah kuanggap sebagai adik kecilku sendiri juga.

"Kita semua memang sedih atas kepergiannya, Bi," Aku menahan air mataku yang hampir menetes. Kugigiti bibirku pelan. "Kuharap Bibi jangan berlarut-larut sedihnya, perhatikan juga kesehatan Bibi. Aku yakin jika Bibi seperti ini terus, Naruto juga akan sedih melihatnya."

Kata-kata Suigetsu tentang tujuan kami kesini terus membayangiku.

Air mata bibi Kushina menetes lagi, kali ini dia menatap mataku dalam-dalam. "Kau memang putri ibu yang sangat baik Karin, kau memang sangat menyayangi adikmu—hiks." katanya.

Aku mengulum senyum ketika mendengar 'putri ibu' yang terlontar. Bibi Kushina memang sangat menyayangiku, dia menganggapku sebagai putrinya. Dan aku pun juga sama, sangat menyayanginya seperti ibu kandungku sendiri.

Tanpa kusadari setitik air mataku sukses terjatuh, dengan segera ku hapus dengan jari tanganku. "L-lebih baik kita mulai menikmati sconesnya, Bi. Ini buatanmu, 'kan? Aku rindu semua yang dibuat olehmu,"

Ujung bibir bibi Kushina terangkat pelan walau matanya masih menunjukkan sendu yang kentara. "Uhm," Dia mengangguk pelan.

"Itu scones buatanku tadi pagi, karena aku baru ingat sebelum Naruto memutuskan loncat, dia ingin makan scones katanya. Aku ini Ibu yang buruk, ya? Sebenarnya Naruto sudah meminta itu untuk kemarin pagi. Namun, aku malah membuatnya sekarang." Dengan segera aku mengalihkan pandanganku dari scones yang ingin kulahap ke arah bibi Kushina lagi.

Wanita paruh baya itu menyesap earl grey teanya, jelas sekali terdapat raut penuh kesedihan dan kemarahan-kemarahan untuk diri sendiri.

"Bibi..."

"Karin," Bibi Kushina menaruh lagi cangkirnya ke atas meja berkaki rendah di hadapan yang ada di hadapan kami. "Tolong, panggil aku Ibu saja, Karin. Kau putriku, kau itu Nee-sannya Naru."

Kali ini aku terisak pelan mendengarnya, aku terharu. Bibi Kushina dan paman Minato orang yang baik, dia sangat menyayangi putra tunggal mereka itu dan juga aku. Tak pernah kulihat kami kekurangan kasih sayang mereka.

Paman Minato yang tegas dan penuh wibawa. Dia menjadi figur sosok ayah yang sangat baik dan idaman. Di balik wajah khas Eropanya yang terlihat cerdas dan tegas, tersimpan jiwa humoris dalam sana. Aku jadi ingat saat aku dan Naruto masih kecil, dia selalu mengajak kami bermain bersama dan melontarkan candaan. Dan aku ingat pula, Naruto menurunkan candaan recehnya juga selain kesamaan fisik keduanya.

Bibi Kushina yang ceria, lembut, penyayang, dan terlihat mengerikan kalau sedang marah. Dia tipikal ibu yang sangat pengertian pada anak-anaknya, tentu saja dia adalah ibu idaman juga. Dia suka sekali memasak apa pun, dan kami—aku, Naruto, bahkan paman Minato-sangat menyukai semua masakannya. Dia jugalah yang mendukung dan juga membantuku dalam kesulitan, dia-lah yang mendukung aku yang tadinya tolol ini untuk menjadi cerdas—bahkan menerima beasiswa di salah satu universitas swasta di Amerika. Dan omong-omong, dia juga yang mengenalkanku pada Suigetsu.

Naruto, anak yang ceria bagai matahari musim panas. Dia patner in crimeku sejak dulu. Dia lelaki tampan yang mengesalkan. Namun, dia cerdas seperti ayahnya. Dia juga tipe penyayang seperti ibunya.

Keluarga ini nampak begitu sempurna dan idaman. Keluarga ini berkecukupan juga terpandang, dan dikaruniai limpahan kasih sayang.

Rasanya baru kemarin aku vidcall dengannya-walau nyatanya itu sudah seminggu yang lalu. Wajahnya tampak seperti biasanya saja saat itu; tampan, mengesalkan, tetapi terlihat pula penuh wawasan. Kami sempat melontarkan candaan, dia bahkan mengejekku bahwa aku tambah jelek.

Namun, mengapa Naruto mengakhiri hidupnya secepat ini?

Dirisak? Kau bercanda? Mana ada yang berani merisak putra tunggal dari keluarga kaya macam Uzumaki?

Dibunuh? Siapa orang bodoh itu?

"Kau tahu Karin? Naruto memiliki sebuah klub sendiri, lho."

Ucapan tiba-tiba bibi Kushina menyentakku dari sepenggal nostalgia. Aku baru tahu tentang ini.

"Klub apa, Ibu?"

Kushina tersenyum sendu, "Klub sastra, dia mendirikannya sendiri dan bahkan menabung dengan uang jajannya sendiri untuk merenovasi sebuah gudang yang ada di sekolahnya sebagai ruang kumpul mereka."

"I-itu... Naru tidak pernah cerita padaku..." Aku menunduk dan menatap cangkir teh yang isinya tinggal setengah. Namun, ya, aku jadi kepikiran. Naruto sama sekali tidak pernah menyinggung hal itu. Bahkan saat tahun lalu aku dapat liburan dan pulang, dia tidak pernah mengatakan tentang klub itu.

"Bahkan Bibi juga baru tahu akhir-akhir ini, Karin. Karena Sasuke dan juga Sakura yang bilang, dan juga teman dekatnya di klub yang datang kemari saat upacara kematiannya. Dia memang anak nakalku yang manis."

Dan bibi Kushina mulai menangis lagi, aku sibuk untuk menenangkannya sembari otakku yang terus berpikir tentang ucapan bibi Kushina tadi.

Sasuke dan Sakura. Aku mengenal mereka dengan baik. Mereka memang sahabat Naruto sejak masih kecil. Tak jarang pula, kami bermain bersama dulu. Aku pun sebenarnya dahulu memiliki sedikit rasa pada Sasuke, tetapi sekarang jelas tidak lagi. Dan entah kenapa aku menjadi penasaran juga dengan teman dekat klub yang lainnya.

Kata bibi Kushina tadi, klub sastra Naruto hanya terdiri dari lima orang. Naruto yang menjadi ketua, dan empat orang anggotanya—termasuk Sasuke dan Sakura.

Jangan lupakan pula Hinata dan Gaara.

Aku penasaran dengan mereka berdua, menurut yang bibi Kushina tuturkan Gaara terdengar seperti adik untuk Naruto dan gadis yang bernama Hinata itu terdengar seperti kekasih dari sepupuku itu.

Ah, omong-omong tentang kekasih. Aku jadi teringat sebuah fakta bahwa Naruto menyukai Sakura dari kecil, jadi apakah Naruto sudah move-on?

"Sedang memikirkan apa?"

Suara Suigetsu cukup mengagetkanku. Aku tersenyum kecut karenanya, "Bukan apa-apa,"

"Apa tentang Naruto lagi?"

Aku menghela napas, aku memang tidak pernah menang dalam ajang membohongi kekasihku ini.

"Benar, 'kan?" tanya Suigetsu menggoda dan dia mulai mengacak tatanan rambut merahku yang sudah kuatur sedemikian rupa.

"Ish," Ku singkirkan tangannya dari atas kepalaku karena kesal akan tingkahnya.

"Ada apa?"

Menghela napas lagi, aku mulai bersuara. "Naruto ternyata pendiri dan ketua klub sastra yang isinya hanya lima orang secara diam-diam."

"Klub sastra, ya?" Suigetsu nampak menerawang, "Aku jadi ingat novel misterinya Akiyoshi Rikako."

"Huh?" Kali ini aku menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. "Girls in the dark, kah?"

Aku bukan orang yang sangat-sangat suka membaca fiksi. Namun, aku harus akui aku para penulis dari Jepang sangat berbakat dalam membuat suatu cerita. Akiyoshi Rikako adalah salah satunya. Aku pernah membaca dua karyanya yang berjudul Holy Mother dan Girls in the Dark, keduanya adalah novel misteri terbaik yang pernah aku baca-aku membacanya dalam terjemahan bahasa Inggris, omong-omong. Dan kebetulan seminggu yang lalu aku membeli lagi karya-karyanya yang lain dari online shop dan mungkin saja sudah dikirim menuju apartemenku atau memang sudah sampai dan tersimpan rapih dalam loker barang pos keamanan apartemenku.

Suigetsu mengangguk. Aku baru ingat kalau Suigetsu penggemar novel-novel misteri juga.

"Hey, Karin," Suara menyebalkan Suigetsu terdengar lagi.

Aku mendengus secara tidak sadar, "Apa?"

"Bagaimana kalau kita membuat acara yaminabe* seperti di buku juga?"

Aku memijat kening, Suigetsu mulai gila rupanya.

"Suigetsu, kau terlalu berhalusinasi," ujarku.

.

.

.

o-selesai.

.

.

.

Yaminabe : secara harfiah panci dalam kegelapan. Kalau berdasarkan novel adalah ; beberapa orang akan makan dari sebuah panci yang isinya random dalam kegelapan-jadi kita akan menebak-nebak gitu. Rasanya tentu ada yang jadi enak banget dan ada yang absurd abis tergantung dapetnya apa. Isinya itu random karena syarat yaminabe (based girls in the dark lagi), bahan-bahan isiannya dibawa oleh para orang yang ingin ikut dan biasanya dirahasiakan.

Salam,

faihyuu