Ubiquitous –chapter 2
:
Happy Reading Minna!
:
Tohru bertemu dengan Luffy sekitar tahun 2007, ketika mereka membuat audisi untuk heroine baru. Tohru yang saat itu berada di agensi lain mencoba peruntungan dengan mengikuti audisi ini, lagipula ia hanya aktris amatir yang sedikit banyak tahu soal dunia panggung.
Ia juga ngefans dengan Nami bahkan rambutnya diblonde untuk mengikuti idolanya, ditambah matanya juga sudah merah-oranye—kelainan genetik yang membuat agensi lama menerima dirinya dengan mudah, setidaknya kalau tidak mendapatkan job disana ia masih bisa mendapatkan tanda tangan dari Nami.
Tohru berdiri dibarisan ke 15, saat namanya dipanggil ia sangat gugup. Terutama karena tatapan mata dari juri yang seakan-akan ingin mengigitnya, setengah jam Tohru melakukan semua yang minta oleh juri, mulai dari menyanyi, marah, menangis, dan berteriak, saat papan nilai diangkat ia bahkan tidak mencapai batas nilai.
Gagal audisi, Nami juga tidak berada disana, Tohru menarik nafas kesal. Ia berjalan menuju toilet dengan kaki dihentak-hentak,
"Oi, apa yang sedang kau lakukan disini?"
Tohru menoleh dengan wajah dibuat sekusut-kusutnya, "Apa!?"
"Ei, jangan marah dulu…" lelaki itu tersenyum dan menahan dengan kedua tangannya, Tohru melirik dengan jengkel, "Aku mau ke toilet, kenapa kau disini? Pervet!"
"Maksudmu ke toilet laki-laki?"
Saat itulah ia bertemu dengan Luffy, didepan toilet laki-laki. Selebihnya, Luffy mulai tertarik dengan Tohru setelah ia mengunjungi agensinya. Mereka bertukar kontak, dan 4 tahun kemudian menikah. Singkat-padat-jelasnya, Luffy tidak terlalu romantis. Bahkan ia melamar Tohru hanya dengan milkshake, dekat studio satu One Piece, alias di café. Tidak ada cincin, bunga, aku cinta padamu. Hanya "ayo menikah".
Setelah menikah mereka tinggal dirumah milik Luffy, lokasinya sangat jauh dari tempat mereka berkerja. Tohru sendiri sudah mundur dari agensinya sejak acara televisi yang diperankannya sampai di penghujung episode. Luffy sendiri (Tohru sebenarnya tidak tahu benar dengan Luffy) memiliki rumah keluarga di Brazil dan rumahnya sendiri di Jepang. Kata Dragon—ayah Luffy— suaminya itu punya darah Jepang, tapi hanya 15% dan meyakinkan Tohru kalau sisanya murni darah Brazilian sejati.
Seumur-umur Tohru belum pernah kerumah keluarga besar D di negara itu. Ia mengenal keluarga D itupun saat resepsi pernikahannya, hanya Kakek Luffy -Monkey D Garp, dan Ayahnya -Monkey D Dragon. Kemudian pemimpin keluarga D yang menyaksikan pernikahan dari via streaming yang kemudian Tohru kenal sebagai Rocks D Xebec. Walaupun hanya mengetahui sedikit tentang keluarga suaminya, ia percaya dengan intregritas dan kesetiaan sang suami terutama setelah itu ia berjanji akan mengenalkan Tohru pada seluruh Familly D yang hampir tersebar diseluruh dunia.
Kini pernikahan mereka sudah berjalan nyaris 5 tahun, dan kandungan Tohru sudah berusia 8 minggu. Setelah Luffy memberitahukan kehamilan istrinya, Garp menyarankan mereka untuk berkunjung ke Brazil sekaligus mengenalkan Tohru kepada keluarga besar. Inilah alasannya mengapa suaminya grasak-grusuk mengusahakan mereka bisa keluar negeri dengan santai tanpa pusing dengan kontrak sana-sini.
"Luffy, memangnya sempat kalau ada photoshoot jam 10?" Tohru menarik dasi Luffy, pagi buta sudah garasak-grusuk karena tiket mereka yang tertinggal diatas meja studio, "kita bisa berangkat besok saja kan?"
"Enggak- enggak, harus hari ini, yang…"
"Tapi tiketnya?"
Luffy mendongak untuk memberikan tempat untuk dasinya sambil mencoba mengunyah roti bakar. Akhirnya ia ditaplok Tohru tepat dihidungnya, "stop, siapa yang bolehin kamu makan seperti itu!"
Dasinya sudah rapi, baju gantinya juga sudah siap, Luffy memakai sepatunya dan melempar baju ganti kedalam mobil. Ia mencium istri dan calon anaknya lalu berpamitan, "aku tanya dulu sama yang lain, nanti aku telpon, oke?"
"Aku berangkat!"
Tohru melambaikan tangannya kemudian berseru, "Hati-hati dijalan"
Ada sedikit kecemasan dalam benak Tohru, masalahnya 'orang itu' kalau sudah buru-buru bisa jadi emosian. Tohru tersenyum sedikit sambil menutup pintu rumahnya, "Hari ini mau buat pancake, pudding, dan nasi goreng!" ujarnya dengan semangat menggebu-gebu karena menuruti kemauan jabang bayi yang mulai tumbuh didalam rahim.
Luffy menekan klakson keras-keras, baru jam 3 dinihari tapi jalan raya sudah padat merayap. Matanya melirik kearah kanan dan kiri untuk sekedar membuyarkan emosi tetapi lama-kelamaan Luffy mengantamkan kepalanya kearah setir. Memang dipagi buta seperti ini siapa yang tidak ingin bekerja, tentu saja banyak-kan? Bukan hanya Luffy yang ingin'nge-rush' untuk mempercepat pekerjaannya.
Lelaki (yang sekarang pantas disebut om-om) itu menghelai nafas sangat panjang. Mungkin karena berpikir 'jika begini terus dia bisa ubanan sebelum anaknya lahir' bibirnya mengerucut, seharusnya ia mengiyakan saran Tohru soal mencari supir.
Sayangnya tidak ada waktu untuk menghamburkan uang, siapa yang tahu biaya melahirkan dimana saja? Luffy sering syuting diluar, Tohru bisa 'mbrojol' dimana saja dan kapan saja, bukannya menyamakan lahiran dengan buang air besar. Tetapi menjadi suami yang tanggap terhadap situasi adalah hal yang paling Luffy ingin lakukan saat ini.
Tiba-tiba smartphonenya berbunyi, ternyata ada beberapa pesan dari seseorang.
Dari : .jp
Subjek : Hallo Luffy-san
Isi : Selamat pagi Luffy-san, maaf mengganggu pagi anda yang tenang. Kami dari tim BNHA ingin mengundang anda untuk melakukan collab, rinciannya pada lampiran yang disertakan. Kami mohon bantuannya.
p.s : Kami ucapkan selamat atas kehamilan Tohru-san, semoga lancar~
PLUS ULTRA!
Luffy menatap barisan mobil didepannya yang masih tidak bergeming, ia melanjutkan ke pesan berikutnya,
Dari : .jp
Subjek : jump force developer
Isi : Selamat pagi Luffy-san, maaf mengganggu pagi anda yang tenang. Kami akan memberitahukan lokasi syuting untuk cinematic Jump Force pada lampiran berikut, mohon bantuannya.
Pihak developer
p.s : Kami sudah berbicara dengan Oda-sensei, kemungkinan akan ada pengembangan lebih pada cerita World Seeker, mohon maaf untuk ketidaknyamanannya.
p.s.s.s : selamat tentang kehamilan Tohru-san, kami harap prosesnya lancar.
Luffy menggeser ikon pada layar smartphonenya, kemudian menekan ikon twitter. Ia menarik alis saat melihat puluhan pesan dan mention yang bersemayam didalam burung biru ini. Luffy meletakkan hanphonenya dan memajukan mobil saat jaraknya mulai menjauh, dari sekian pesan yang muncul hanya direct message dari Zoro saja yang ia balas, itupun tentang keberangkatannya ke Brazil.
rnz_OP : jadi?
mdL : jadilah!
rnz_OP : yang lain diajak?
mdL : no.
rnz_OP : tiket lu di Ussop.
mdL : anter kerumah.
rnz_OP : ay-ay . Jam 2.
mdL : pesawatnya berangkat jam 2, bego.
rnz_OP : lol, nope, ada photosht jam 3.
Luffy melempar handphonenya dan kembali berkonsentrasi pada jalanan. Sedikit lagi dia akan terbebas dari kemacetan ini, dan menuju jalur bebas hambatan. Ia melirik jam tangannya, sudah jam 3.15 dini hari. Jadi, ia terjebak disini selama 15 menit—Luffy mendecih, kenapa asistennya itu masih belum menelponnya. Luffy langsung menginjak pedal gas ketika terbebas dari macet.
Luffy sampai di studio jam 4 pagi. Sambil membawa bajunya sendiri ia langsung masuk kedalam studio One Piece dengan wajah campur aduk. Asistennya muncul saat properti, penata cahaya, dan kameramen sudah hampir selesai membuat setup mereka,
"Maaf saya terlambat, Luffy-san…"
Dimulailah ceramah Luffy yang terdengar "I'm not angry, I'm just dissaponitment", datang dini hari hanya untuk menunggu selama 3 jam karena kengaretan daripada sutrada pengganti dan asstennya yang seharusnya datang lebih awal dari dirinya, Luffy nyaris meninggalkan lokasi syuting jika tidak ditahan oleh sang produser.
Saat sudah siap-pun sang sutradara pengganti (karena sutradara yang ditunjuk sedang demam) malah salah membaca skrip yang diberikan. Sehingga mereka harus mengulang banyak sekali dialog ditambah juga adegan jatuh yang seharusnya hanya dilakukan 5 kali oleh stunt man.
Ussop datang 2 jam setelahnya. Ia hampir ikutan disambar oleh kemarahan Luffy, namun dimaafkan karena tiket flight Luffy yang tidak lupa dibawakan oleh Ussop. Aktor asal afrika itu mengatakan kalau jalur yang biasa digunakannya ke studio mengalami kemacetan parah ditambah denga truk pengangkut yang terbalik ditengah jalanan.
Tentu saja separuh dari cerita Ussop adalah kibulan.
"Aku bingung dengan adegan ini…" Robin muncul, sambil menunjuk tanda diatasnya ia melanjutkan,
"Zunesha ini seharusnya berapa meter?"
"Bukannya 7 meter?" Ussop menyahut, "tapi ini pulau kan?" sambungnya lagi malah bertanya.
Sutradara pengganti tampak tidak senang dan kembali menyuruh mereka untuk cut, dan melanjutkan ke adegan lain. Sementara ditempat syuting zunesha dirombak ulang oleh properti atas perintah sutradara pengganti.
Hari ini memang sangat melelahkan semi-menjengkelkan bagi kru, dan para aktor karena harus mengulang semua adegan yang ditolak oleh sutradara pengganti. Terutama sifat sang sutradara yang tidak teliti dalam memberikan arahan sehingga membuat banyak properti yang tidak digunakan dan adegan yang dipotong.
Di sela istirahatnya sempat saja Ussop berbisik ke Franky, "untung aja cuma sehari. Bayangin kalau selamanya"
Franky melepas buntalan hijau ditangannya mengangguk setuju.
"Oh ya, ngomong-ngomong soal tiket. Luffy ini dia tiket terbangnya, pas 2 jumlahnya…" Ussop menyerahkan dua lembar tiket menuju Brazil, ditambah cengiran khasnya ia mengedipkan mata. Tanda itu dikenali oleh Luffy sebagai 'minta oleh-oleh makanan' dan dijawab kedipan oleh Luffy.
"Liburan ya, enaknya…" Robin berkomentar sedikit, namun dijawab Franky dengan ajakan untuk jalan-jalan, namun ditolak sekaligus diingatkan kalau mereka memiliki banyak kegiatan.
"Ingat Franky, besok ada pertemuan orang tua…"
"Baik, baik…"
::
::
tbc
