Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: oneshot drabble.
.
.
Plot Twist
by Fei Mei
.
.
Si Kembar mengerjap.
"Kutanya," ujar Kita sabar, mengulang pertanyaannya, "diantara kalian, siapa yang lebih tua?"
Lagi Duo Miya mengerjap, kemudian saling lirik. Memang sesekali mereka kepikiran tentang kira-kira siapa yang muncul ke permukaan bumi duluan, tapi ya begitu saja, tidak ada diskusi lebih lanjut. Orangtua dan keluarga besar mereka memperlakukan mereka dengan sama juga, seakan mereka benar keluar bersamaan, tidak ada yang duluan.
Walau begitu, dengan percaya diri, Atsumu selalu menunjuk dirinya sendiri jika mendapat pertanyaan seperti itu. "Aku dong, yang orisinil selalu punya tampang yang lebih baik, beda dengan hasil fotokopi!"
Dan tiap kali mendengar saudaranya mengatakan hal itu, Osamu hanya memutar bola matanya. Ia tidak menyanggah—lebih tepatnya, ia terlalu malas untuk berdebat. Entah bagaimana kenyataan mengenai siapa yang lahir duluan, Osamu tidak mau ambil pusing. Kalau Atsumu memang lahir duluan, ya sudah. Kalau Osamu yang muncul duluan, ya sudah juga.
"Hmmm, tapi biasanya, kalau kalem, itu berarti lebih tua," tutur Aran. "Berarti mungkin saja Osamu keluar duluan, kan?"
Atsumu mendengus. "Enggak! Pasti aku duluan! Osamu kalem begitu karena ngalah, sadar diri bahwa aku kakaknya!"
Detik itu, selain Kembar Miya, semua anggota tim voli putra SMA Inarizaki berpaduansuara dalam hati: 'fiks, Osamu lebih tua'.
.
.
"'Samu, coba tanya Ibu, yuk!" ajak Atsumu setelah makan malam.
Osamu mendelik. "Tanya apaan? Makanan penutup?"
"Yeee, bukan, Gembul!" cibir si Setter. "Tanya siapa yang keluar duluan dari perut!"
" … bukannya dulu sudah pernah?"
Atsumu mendengus. "Iya, tanya Ibu dan Ayah, jawabannya cuman 'itu gak penting, pokoknya kalian seumuran'. Aku penasaran, pengen konfirmasi kalau aku beneran anak pertama!"
Osamu menghela, lalu mengangguk. Saudara kembarnya langsung tersenyum senang, menarik kembarannya untuk menghampiri sang ibu yang sedang mencuci piring.
"Ibu~"
"Tidak ada makanan penutup malam ini, Osamu~" senandung ibu mereka tanpa menoleh.
Atsumu mingkem. "Ini yang manggil 'Tsumu, lho, Bu."
Nyonya Miya menoleh, mengerjap melihat kedua putranya, lalu tertawa kecil. "Oh, sori, sori, hehehe. Ada apa?"
"Kami penasaran, siapa yang lahir duluan," tembak Atsumu tanpa ba-bi-bu lagi.
Lagi ibu mereka mengerjap. "Lho, kan sudah pernah ibu bilang—"
"Hebat bener, kami keluar barengan di detik yang sama," dengus Atsumu. "Keluarin satu aja udah susah, kan? Apalagi langsung keluar dua?"
Kali ini si ibu yang mingkem. "Ya sudah, sebentar, kalian duduk di ruang tengah, gih, Ibu bakal ambilin surat lahir kalian, biar kalian lihat sendiri jam lahirnya."
Atsumu langsung tersenyum puas. Walau wajahnya datar, dalam hati Osamu jadi semangat juga.
Jadilah dengan tidak sabar, keduanya duduk di sofa. Memang Osamu tidak peduli siapa yang lebih tua, tapi ia penasaran. Sangat berbeda dengan saudaranya yang sudah sangat yakin dirinya muncul duluan, tapi butuh konfirmasi resmi.
"Nah, ini dia!" sahut Nyonya Miya. Ia meletakkan dua carik kertas terbalik di atas meja. "Hitungan ketiga buka barengan yaaa~"
Asem, udah kayak ulangan.
"Satuuu, duaaa, dua setengaaahh—"
Asem, berarti keresehan Atsumu nurun dari emak mereka ini, sih!
"Ehem, tiga!"
Dengan segera masing-masing dari Si Kembar membalik secarik kertas. Dengan saksama mereka membaca tiap baris yang tertulis di sana, lalu membandingkan dengan kertas yang satu lagi. Setelah kebenaran terungkap, Atsumu memucat.
"A-aku—" Atsumu terbata-bata. "S-'Samu keluar tiga menit sebelum a-aku?"
Sang ibu yang tidak sadar betapa hancurnya perasaan salah satu anaknya, masih tersenyum riang. "Cuman tiga menit koook~"
"E—enggak mau!" rengek Atsumu. "Aku maunya jadi yang lebih tua!"
Osamu, yang tampangnya masih kalem padahal hatinya sudah tertawa bahagia, hanya menepuk sayang lengan saudaranya. "Cuman tiga menit, 'Tsumu, gak keliatan sama sekali, kok."
"T-tapi!" Atsumu masih terus merengek, bahkan sudah cemberut banget sekarang.
"Tanggal lahir kita masih sama, kita kembar, kita seumuran, gak peduli siapa yang lahir duluan," sambung Osamu.
Atsumu menatap kembarannya, perlahan tersenyum. "'Samu … "
Osamu membalas tipis senyuman itu. "Jadi jangan nangis, ya, adikku sayang."
ASEM.
"Adududuh, Osamu memang kakak yang baik yaaa~" sahut sang ibu dengan genit.
"Ukh—UWAAAAAHHH—"
Iya, tangis Atsumu pecah sampai bisa terdengar di komplek sebelah.
.
.
Selesai
.
.
A/N: Tadinya fanfict Atsuhina smut kemarin itu untuk diunggah hari ini, tapi tiba-tiba kemarin kepikiran soal hal ini. Pencetusnya, yah, jelas ya, di guidebook HQ Furudate teuteup gak mau ngasihtau siapa yang lebih tua, seakan sengaja jadi misteri yang gak bakal terjawab. Perihal ada yang bilang Atsumu lebih tua, itu hanya deskripsi untuk nendoroid mereka, jadi bukan canon dari Mangaka-nya sendiri. Selama ini sih, Fei mikirnya Atsumu lebih tua, tapi katanya kalau anak yang lebih kalem biasanya adalah sang kakak.
Review?
