Disclaimer: All the characters belong to Masashi Kishimoto, but the story does belong to me. No material profit is taken from making this.
Note: AU, 7913 words.
Other: A song entitled You Belong With Me by Taylor Swift is recommended to be listened.
Warning: This contains (a lot of) harsh words.
two idiotic fools
they ain't gonna admit the feeling until the mess buries them alive.
this story is dedicated to Ricchi
.
by chilled potato
Di bawah pohon-pohon ginkgo yang daunnya memantulkan sinar hijau dan sedikit kuning, sepasang kaki menapaki jalanan kampus yang dipenuhi oleh puluhan orang yang tengah bermobilisasi. Melodi dari lagu A Change of Heart melantun melalui earphone-nya, selaras dengan tempo jalannya yang santai melewati beberapa bangunan tua. Angin yang mendesir pelan membuat helai merah mudanya berosilasi, ke kanan dan ke kiri. Musim berganti, atmosfer juga ikut berganti.
Sudah sampai di halte bus, langkahnya terhenti. Jam yang menunjukkan pukul 4.51 membuatnya meruntuk sial dalam hati, orang itu pasti sudah menanti sambil menyeruput secangkir kopi. Terlambat sekitar lima belas menit, ditambah menaiki bus dan berjalan, akan jadi kira-kira empat puluh.
Saat bus yang membawanya berhenti di destinasinya, ia bergegas turun, mengucapkan empat kali kata permisi, maaf pada orang-orang yang ia serobot jalur langkahnya. Dengan pergerakan yang terburu-buru, ia terobos kerumunan di trotoar yang konsentrasi manusianya tinggi. Beberapa meter lagi, satu belokan lagi, sebuah bangunan kafe tempat orang itu menunggu terpampang.
"Sudah lama, ya? Tadi aku habis dari perpustakaan dulu. Maaf kelamaan, Sasuke."
Orang itu, Sasuke, tidak merespon. Mata obsidiannya hanya menaruh pandang pada mata emerald milik gadis itu. Cukup lama, sampai akhirnya ia tarik pandangannya ke arah lain.
"Aku pacaran," begitu kata-kata pertama yang Sasuke ucapkan hari ini dengan raut wajah yang terlampau datar, tetapi terdapat nada kehati-hatian yang melantun di dalamnya. Netra hitamnya kembali menatap sosok merah muda yang tengah duduk di hadapannya, menyelisik tindak tanduknya secara holistis. Gadis itu tersentak setelah beberapa detik berlalu, itu yang matanya tangkap. Mandibula bagian bawah milik gadis itu jatuh dengan cara yang tidak elegan. Mulutnya melengkapkan, "sama Karin."
Satu detik, dua detik, tiga detik, sampai lima puluh tiga detik, bibir ranum milik gadis itu akhirnya kembali mengatup. Otaknya memproses empat kata yang terlontar dari mulut Sasuke. Hanya empat kata yang kelewat simpel, tapi barang setitik pun dia tak bisa paham. Seperti ada sesuatu yang mengabrasi kemampuan kognitif otaknya. Ia matikan lagu yang sedari tadi melodinya mengalun melalui sumpalan earphone-nya. Intesitas fokusnya ia naikkan, dia berintensi memikirkan empat kata itu lebih serius lagi. Ia menjelajahi arti kata pacaran dalam kamus eksklusif yang berada di otaknya.
"Kamu pacaran?"
Sasuke menganggukkan kepalanya pelan, tanda mengiyakan. Ia seruput pelan Americano yang sudah mendingin seiring berjalannya waktu. Dengan santainya dia taruh laptopnya di atas meja, bermaksud untuk mengecek pesan masuk di pos elektroniknya.
"Pacaran?" Ia masih melayangkan retorika yang sama melalui bisikan. Satu kata itu, pacaran, terus menggaung repetitif di benaknya, membuat jalan pikirannya menjadi stagnan. Perlahan-lahan ia mengerti. Perlahan-lahan ia telan apa yang Sasuke katakan. Namun, perasaan fluktuatif mendadak merasuki raganya, jantungnya seketika beratraksi tidak lazim. Ada sesak yang menyelubungi relung dadanya. Suaranya jadi sedikit terdengar gelagapan. "S-sama Karin?"
Sasuke menghela napasnya. Ia hentikan pergerakan jari-jarinya di atas papan ketik laptopnya. Ia menjawab, "Iya, Sakura," seraya melirik si gadis musim semi itu yang alisnya tengah menukik tajam dengan tangan yang memegang dagunya. Emeraldnya serius menatap secangkir latte di atas meja. Oh, dia sedang berpikir, konklusinya. "Kenapa, emangnya?"
Bukan musim dan atmosfer saja yang berganti, rupanya status juga ikut berganti. Sakura mengangkat kepalanya sedikit, tangannya ia simpan di atas meja. Raut serius di wajahnya perlahan memudar. Manik hijaunya menatap lurus manik hitam itu, menerobos. Ada siratan yang Sakura coba sampaikan melalui matanya, tetapi otak Sasuke tidak bisa memecahkan misterinya.
Kenapa tanyamu? Pacaran itu hubungan spesial antara dua orang, 'kan? Kenapa tiba-tiba sama Karin? Aku enggak suka kamu dekat sama si Karin itu. Ngebayangin kamu gandengan sama dia aja sudah bikin aku ingin muntah darah. Kamu seenak dengkul banget pacaran sama dia, "Aku terharu aja sama kamu yang akhirnya sudah dewasa. Selamat!"
Alih-alih jujur, Sakura memilih untuk membunyikan omong kosong.
"Kamu nggak perlu ketawa segitunya."
Alih-alih merajuk, Sakura melemparkan tawa karena sebuah fakta yang bukan jelas-jelas bukan sebuah jenaka. Panggil saja dia idiot.
Suara alunan musik yang tadi sempat dihentikan ia putar kembali. Tangannya menopang dagu, otaknya kembali memikirkan kejadian tragis hari ini. Sebersit harapan ia taruh di jauh di atas sana, di langit yang berpoles jingga keunguan, tempat segulung awan terbentuk dengan estetis. Semoga mereka putus, itu yang ia jampikan padanya—ya, meskipun terdengar jahat, siapa yang peduli? Semburat sinar solar yang menerobos kaca kafe di kala senja itu perlahan memudar, mengiringi pamitan matahari di ujung barat, dan membuat terangnya cahaya lampu jalanan semakin kentara.
Mulai detik ini dan kedepannya, hari-hari diskusi senja atau tengah malam dengan Sasuke mungkin sudah habis. Mungkin tidak ada lagi perdebatan kusir antara buku Harry Potter dan The Lord of The Rings—mana yang lebih bagus, atau keluhan mengenai novel-novel klasik Shakespeare yang nyaris sulit dibaca karena tata bahasa Inggrisnya yang kuno. Mungkin tidak ada lagi diskusi politik Asia Timur, skandal-skandal politikus yang membuat kredibilitas mereka jatuh, atau sejarah menarik para samurai dari periode Heian sampai era dinasti keshogunan Tokugawa. Mungkin tidak ada lagi obrolan tentang serial-serial yang mereka tonton, dari Sherlock Holmes yang membuat otak mereka ikut menalar deduksi, sampai The End of The F****ng World yang membuat mereka tertawa karena ketololan dan sikap impulsif James dan Alyssa.
Mulai detik ini dan kedepannya, hari-hari di saat tidak ada status romansa yang mereka berdua sandang sudah berakhir. Senyuman tipis yang selalu Sasuke ulas tidak bisa sembarang ia kagumi lagi. Tatapan mata jelaganya tidak bisa ia nikmati lagi. Mencoba mendapatkan atensi lebih dari teman laki-lakinya ini akan mendatangkan insinuasi. Tidak bebas, Sasuke sudah ada yang punya. Orang lain sudah mengambil waktu Sasuke, hanya sedikit yang tersisa untuk Sakura, mungkin nyaris tidak ada. Sakura tidak boleh serakah.
Hari ini adalah titiknya. Tepatnya, setelah sore bertransisi menjadi temaram yang membawa malam di kemudian waktunya.
Di ujung lagunya, suara Taylor Swift mengalun lembut, 'cause everything has changed.
...
Entah sedari kapan, entah di mana titik mulanya, yang jelas adalah pandangan Sakura selalu berlabuh pada Sasuke. Sudah dua bulan kira-kira, mata emerald itu tahu-tahu sudah bertingkah begitu saat ia sadari. Orientasi mana pun yang ia lihat, pada akhirnya matanya pergi mencari sosok laki-laki itu. Ada sekelebat sengatan elektrik saat pandangan mata oniks itu tak sengaja bertubrukan dengannya. Sakura selalu cepat-cepat menarik pandangnya, melemparkannya pada sembarang arah. Itu selalu membuat detak jantungnya terakselerasi hingga ia berpikir jantungnya akan meledak dalam hitungan detik.
Kamu salah tingkah, ya, komentar Naruto tiap kali melihat kelakuan tolol yang Sakura buat, selalu sukses mendapatkan hantaman keras di perut atau di wajah dari gadis itu; kalau sedang beruntung, hanya akan dapat delikan tajam dan hujaman kata, Oh, kamu mau mati sekarang, ya? Atau mau bikin surat wasiat dulu? Aku sudah siapin pisau cukur buat ritual kematianmu.
Sakura tidak mengerti. Sasuke sudah terlalu lancang lantaran membuat pikirannya terdistraksi, mendominasi slot working memory-nya. Barang sepetak pun tidak ada ruang untuk dirinya mengosongkan pikiran. Ia dibuat dongkol. Ada perasaan yang bertunas jauh di lubuk hatinya, rasanya mendebarkan, jantungnya berderap cepat karena itu, perutnya geli seperti digelitik. Otaknya selalu memerintahkan, Jangan terus dipupuk, nanti tambah besar, meski dia tidak tahu apa yang terjadi kalau perasaan itu tumbuh membesar. Kelihatannya bakal gawat, itu yang firasatnya katakan sebagai tiang penyangganya. Tapi kenapa? masih terus berputar di benaknya.
Waktu dia bertanya pada Ino, sepulang sekolah di ruang kesenian, Ino tertawa cekikikan bukan main, seperti kerasukan setan, padahal itu pertanyaan serius. Dua musim sudah dilewati, dua tingkatan temperatur ia lalui—hangat ke dingin—tetapi Sakura masih dibuat kalut karenanya. Sambil membuka sarung tangan dan mengambil kuas, Ino menjawab:
"Kamu lagi jatuh cinta, Sakura."
"Dih, kamu sok tahu banget."
Ino memutar bola matanya. "Dih, kamu tuh kepala batu banget kalau dibilangin," sungutnya sembari beranjak dari duduknya, mengambil kuas jenis lain di lemari. Ia menerka, "Pasti Sasuke, ya?"
Kalau tentang Sakura, Ino selalu bisa tahu.
"Aku dan Sasuke itu teman. sudah gila kalau aku suka dia."
Sakura dan Sasuke itu teman, sedari mereka berumur sebelas tahun. Kalau Sakura suka pada Sasuke, itu artinya tali pertemanan mereka terancam putus—hanya karena gejolak hormon seorang gadis tujuh belas tahun. Pikirannya jelas menangkis pernyataan Ino—yang menurutnya manipulatif. Ini di luar nalarnya, seperti hal paranormal yang tidak bisa dicerna oleh jutaan saraf otaknya. Konyol, cerca logikanya.
"Bukan pandanganku yang konyol, justru kamu sendiri. sudah jelas-jelas suka, kenapa masih ngotot enggak suka, sih?"
Seolah-olah Ino bisa membaca isi pikirannya. Seolah-olah Ino paham caranya berpikir. Percuma menangkis tebakannya itu.
"Bukannya kamu suka Sasuke? Aku pikir ka—"
"Kamu takut orang lain pikir yang tidak-tidak? Enggak akan ada yang bakal taruh prasangka buruk padamu hanya karena kamu suka orang yang pernah aku sukai, Sakura." Lagi, Ino tahu apa yang ada di pikiran Sakura. Mulutnya melanjutkan, "Yang Sasuke lihat juga bukan aku, aku enggak apa-apa."
Ah, Sakura baru sadar.
Beberapa bulan yang lalu, Ino masih bercerita tentang Sasuke, betapa meneduhkannya wajah lelaki yang satu itu, betapa keren tatapan yang mata hitamnya pasang, dan tentang laju derap jantung yang tidak normal tiap kali mereka berpapasan atau bertemupandang. Beberapa bulan yang lalu, Ino masih mencari kesempatan pulang bersama Sasuke melalui intervensi Sakura; Sakura akan jalan bersampingan dengan Naruto, di belakang ataupun di depan, memberikan ruang untuk Ino dan Sasuke berdua. Beberapa bulan yang lalu, Ino mengujungi kelasnya setiap hari, berdalih ingin makan siang dengan Sakura, padahal intensi yang sebenarnya adalah melihat Sasuke yang duduk di depan bangku Sakura. Beberapa bulan yang lalu, Ino berusaha lebih dan lebih dekat Sasuke, hampir seantero sekolah tahu bahwa Ino Yamanaka menyukai Sasuke Uchiha. Terlalu kentara.
Sekarang ia paham, kenapa Ino tidak lagi memaksanya pulang bersama Sasuke, kenapa tiga bulan belakang ini Ino tidak pernah makan siang di kelasnya lagi. Paham, Ino membiarkan perasaannya menguap ke atmosfer. Paham, Ino sudah menyerah, dia kalah. Bukankah seharusnya ia lebih peka terhadap perasaan Ino? Itu pasti berat.
"Kamu punya kesempatan. Lumayan, dia itu tampan, tahu. Jangan bertingkah bodoh."
Sasuke itu tampan, itu satu fakta yang tidak bisa Sakura tampik; terlalu realistis untuk diberi kata tidak. Sakura tertawan pada pesona Sasuke yang terlalu memikat itu, hal klise yang membuatnya selalu hampir kalah telak. Harusnya dia selalu siap siaga pulpen setiap saat, ada sebuah dokumen kapitulasi menunggu untuk ditandatangani. Sampai lima semester sudah menjalani dinamika perkuliahan, perempuan itu masih belum mau memvokalkan perasaannya. Teman, hanya teman, mana mungkin suka. Ah, dia kepala batu sekaligus kepala udang.
...
"Kenapa aku nangis, sih? Tolol banget!" Sakura membuang tisu ke sembarang arah—yang mendapat delikan tajam dan wajah jijik dari si pendengar ceritanya. Tangannya kembali meraih kotak tisu di sampingnya. "Bajingan, tisunya habis! Ingusku masih meler."
"Heh, kamu dengar, enggak? Bukan tolol lagi, kamu goblok betulan sampai-sampai enggak ada obatnya."
"Kamu tuh gimana, sih? Sahabat lagi nangis malah dikata-katain. Enggak punya hati, emang."
"Justru aku bingung apa harus sedih atau ketawa. Kamu malah kocak banget soalnya."
Tercatat sudah dua jam Sakura menyemburkan sebentang spektrum emosinya. Runtukan pada dirinya sendiri serta isak tangisnya bersinergi menciptakan suara yang menggema di dalam apartemen studio miliknya. Masih sesak, rasa sakitnya belum juga terdegradasi. Ia benar-benar mual karena realita yang baru dihadapinya. Ini terlalu ironis, tetapi dia juga tidak mengerti kenapa sampai harus bereaksi sebegitunya.
Sekarang ia paham, kenapa Sasuke memilih untuk bertemu di kafe dekat apartemennya, tidak di kafe yang dekat dengan gedung fakultasnya, padahal sore itu dia juga baru pulang kelas. Sebab, nanti orang-orang bisa salah paham, ia menghindari itu.
Awalnya tidak sesesak ini, tidak seperih ini. Bahkan Sakura masih bisa bicara kasual pada Sasuke. Sakura masih bisa tertawa menimpali cerita Sasuke tentang maketnya yang rusak tersiram kuah cup ramen instan Naruto atau mendengarkan rencana summer program tahun depannya bersama seorang arsitek yang ia lupa namanya.
"Ino, tolong bawain baju kotorku. Enggak ada lagi yang bisa dijadiin lap ingusku."
Mata akuamarin milik Ino melotot, menatap galak, hampir menganggap makhluk di sampingnya ini setara dengan binatang. "Kamu jorok banget! Kasihan nanti yang nge-laundry-in baju kamu, banyak ingusnya," hardiknya tanpa pertimbangan yang matang akan perasaan Sakura, untuk kesekian kalinya. Ia menghela napas dan kembali bicara, "Dengar, Sakura Haruno. Kamu tuh emang suka sama Sasuke, buktinya kamu sakit hati sampai kayak kerasukan setan melankolis gini."
Sakura tidak merespon. Tangisannya sedikit mereda. Bukan sudah berekonsiliasi dengan perasaannya, melainkan ia tahu harus mendistraksi pikirannya—dan persedian tisu sudah habis tuntas, juga Ino yang enggan membawakan baju kotornya yang sebagai alternatif tisu. Buku referensi imunologi yang dipinjam tadi sore ia buka, laptop dan tabletnya ia nyalakan. Ino hanya mendecih, mode Hermione-nya kembali aktif. Hanya Sakura seorang diri yang mendandani rasa cemburu dengan rasa ambisius. Hanya dia, dongkol.
"Aku heran sama kamu. Kamu itu pinter banget, makanya bisa lolos ke Todai tanpa harus belajar mati-matian kayak aku. Tapi soal cinta ginian, kamu bodohnya kokoh banget, nggak tertandingi," dumel Ino seraya membersihkan lembaran-lembaran tisu yang berserakan dengan raut muka jijik karena lendir hidung Sakura yang menempel di setiap sentinya. Sudah habis empat bungkus besar, si Sakura ini manifestasi jiwa yang tidak peduli lingkungan, sebaris pikiran Ino melintas.
"Aku enggak jatuh cinta sama dia. Ngapain juga aku suka sama dia? Cuma sedih, itu aja."
Andai saja Sakura tidak sedongkol dan sekeras kepala ini dalam urusan jatuh cinta, nasibnya tidak akan semiris ini. Sudah tahu dalam urusan ini sensibilitas Sasuke itu payah, masih saja keras kepala tidak mau mengalah. Tanda-tandanya sudah jelas, gejala-gejala yang muncul sudah mengindikasikan ke arah sana, masih saja ditangkis. Dungu sekali. Sudah berapa lapis sangkalan yang kaubuat untuk menutupi fakta yang kelewat konkret, Sakura?
...
Dalam ruang kelas yang terbalut oleh radiasi cahaya matahari, Sakura menghentikan gerakan jarinya di atas papan ketik laptopnya. Ia tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan, mereda kelelahan yang merundungnya. Tangannya menopang dagu, orientasi pandangnya bergulir ke arah luar jendela. Sepasang manik hijaunya menyusuri hamparan pohon yang membentang di kejauhan, bertemu dengan garis horison di ujung sana. Warna-warni yang tipikal dari dedaunan musim gugur saling tumpang tindih. Mau dilihat berapa kali pun, ini monoton. Sesuatu yang menarik akan jadi biasa saja jika terus direpetisi.
Hari-harinya sama-sama monoton lantaran tidak ada kehadiran Sasuke. Sudah berlalu pas dua bulan, belum ada satu pertemuan pun yang terjadi. Belum ada suara berat Sasuke yang ia dengar. Tidak ada sehelai benang takdir pun yang mempertemukan mereka—dalam keadaan tak ada seseorang yang menginterferensi. Selalu ada orang itu—Karin—di sebelah Sasuke. Kehadirannya terlampau serakah, membuat mulut dan pikiran Sakura menyumpah serapah. Ini terlihat seperti sesuatu yang fatalistik, takdir mengelem terlalu kuat eksistensi dua orang itu, jadi seperti perangko. Namanya juga orang pacaran, pasti maunya berduaan, kemakluman yang kelewat basi untuk didengar. Sakura ingin meludahi kata-kata itu, juga mereka berdua, kalau bisa.
Hanya sunggingan canggung yang terpatri di wajah Sakura tiap kali mereka berpapasan, tidak ada sapaan yang disuarakan. Sasuke juga tidak ambil peduli, jadi begitu dingin sampai-sampai Sakura ingin melelehkan sikapnya dengan api yang bertemperatur lima ratus Kelvin. Kata-kata Sasuke! Hopper masih hidup! Demogorgon ada di Rusia, atau aku dapat skor A di midterm imunologi. Gila, enggak, tuh! Hahaha, juga kemarin aku muntah gara-gara makan tiga mangkuk ramen sama Naruto, rasanya kayak mau meninggal aja, harus ditelan mentah-mentah. Terlalu banyak yang sudah Sakura telan, sudah tertimbun sampai menggunung. Ia harap satu waktu bisa memuntahkan itu semua di wajah Sasuke yang tampan. Ingatkan dia nanti.
Sakura kembali menghela napas panjang, ia putus alur pikirannya. Dalam beberapa menit kemudian, dia bawa langkahnya ke luar, meninggalkan kekosongan di dalam kelas. Hatinya masih asyik mengumpat di sepanjang derap langkahnya. Tidak ada yang dengar kata-kata kotor Sasuke goblok, tolol, bisa-bisanya lupain teman sendiri. Mungkin dia lupa bahwa dia sendiri yang menjauh dari Sasuke, dua-duanya sama saja. Jadi, siapa yang tolol?
"Kamu habis ngegembel di mana? Mukamu kacau banget."
Sakura mendecih, mata emeraldnya menatap risih pada dua makhluk yang ia anggap binatang karena sudah lancang hadir di hadapannya. Kemudian ia sodorkan dua buku tebal pada orang yang mengomentari penampilannya, Ino Yamanaka. Dengan tangan kosongnya ia rapikan gelungan rambutnya dengan asal sambil berjalan memimpin di depan, dua orang itu mengekorinya sambil cekikikan seperti halnya dunia milik berdua. Mulutnya bersuara, "Jangan jemput aku kalau kalian berdua lagi pacaran. Ujung-ujungnya aku jadi nyamuk."
"Eh, kamu masih jelek ternyata. Enggak ada yang berubah dari dua menit yang lalu," sederet kalimat dialunkan bak sebuah pujian. Sudah jadi penggiring orang pacaran, dapat cemoohan pula. Sakura mendapat dorongan keras untuk menggorok leher pemuda yang bernama Sai itu dengan golok yang baru saja ayahnya kirimkan tiga hari yang lalu—entah untuk apa tujuannya. Tapi lupakan—dia butuh pedang legendaris milik Godric Gryffindor untuk saat ini, terlihat lebih keren membunuh dengan pedang ini ketimbang golok.
Intensinya terpatahkan. Sepasang netranya baru saja menangkap dua eksistensi yang selalu Sakura hindari untuk dilihat. Mereka ada di sana, ada dalam radius yang cukup jauh dari titik koordinatnya saat ini. Berjalan beriringan menuju kolam Sanshiro dan saling melempar obrolan, dunia sepertinya memang sedang mereka pinjam untuk berdua. Langkahnya terhenti. Suara Sakura mengudara, "Kayaknya aku mau mati aja."
Sudut-sudut bibir Sai terangkat ke atas, menampilkan senyum tulus yang baru Sakura lihat kali ini. "Bagus. Ke laut aja sana. Aku tunggu berita mayatmu ditemukan di sana." Setan, pasti sikap empatinya baru akan muncul saat gadis ini sudah mati nanti.
Ino terbahak keras, semacam kerasukan Joker. Sakura tidak merajuk kali ini, niat untuk melanjutkan hidupnya sudah mengering dalam sekejap mata. Mati jadi opsi yang paling menjanjikan. Bahkan telinganya sudah mengindera serangkaian elegi yang mengalun merdu.
"Pasti Sasuke, ya?"
Lagi. Kalau tentang Sakura, Ino selalu bisa tahu.
"Bukan, Babi," diikuti dengan gelengan kepala merah mudanya. Sakura sudah dungu, Ino tahu dia berbohong sebab ia juga lihat Sasuke dengan Karin di sana. "Kalau aku mati, aku wasiatkan Gandalf Isaac Baratheon, Tokugawa Joukichi, sama Meropelcyone ke kamu, Ino. Mereka masih empat bulan. Aku sudah susah payah menghidupi mereka, jadi jangan cincang mereka hidup-hidup." Sakura memulai berkontemplasi dadakan di bangku taman yang kosong, memikirkan cara terbaik untuk mengantarkan dirinya sendiri ke liang kuburnya.
Alis Sai mengjengit. "Mereka siapa? Kamu sudah beranak, Sakura?"
"Kucing-kucing dia," dijawab oleh Ino seraya duduk di samping Sakura.
"Kemarin papa telpon aku, katanya dia sudah bikin perjanjian sama Tuan Orochimaru, tetanggaku yang tinggal di depan rumahku. Mereka sepakat buat jadiin mereka bertiga makanan Manda kalau aku mendadak mati. Kegoblokan papaku emang ajaib, kronisnya enggak main-main."
"Ha? Ular gede yang suka dia sebut 'sayang' itu?"
Sakura mengangguk. Sai ikut duduk di sebelah Ino, kemudian memulai konversasi kasual, hanya berdua. Sakura membisu, pura-pura membaca buku Crime and Punishment karya Fyodor Dostoyevsky, menenggelamkan kepalanya di balik buku itu untuk mengelabui sekitar demi bisa memperhatikan Sasuke dan Karin. Tatapan matanya tajam menyeruak. Sakura bisa menerka Sasuke sudah tahu bahwa dia juga di sini, surai merah mudanya terlalu mencolok untuk tidak dikenali oleh indera penglihatan netra obsidian itu. Jarak di antara mereka terpaut cukup lebar, lelaki itu mana mungkin menyadari aksi pengintaiannya. Dalam urusan penguntit sekalipun, sensibilitas Sasuke itu sama payahnya sampai-sampai minta di-sparring panca inderanya.
"Bukumu kebalik. Kamu sadar, enggak?"
Sudah tahu, bukan? Sakura dongkol sampai-sampai minta digorok ubun-ubunnya.
"Ini metode baru. Kamu enggak tahu, ya? Menambah kecerdasan katanya."
Ino memutar bola matanya. Rasionalitas Sakura akan tersungkur secara tragis dan ironis jika sudah menyangkut urusan Sasuke, seperti saat ini. Ia mendengus keras, Kamu kalau lagi cemburu kentara banget keliatannya. Ingin sekali disuarakan, tetapi Sakura punya seribu alasan klise sebagai basis sanggahannya.
"Karin itu cantik, ya. Kalau aku yang pakai dress selutut begitu pasti sudah masuk angin."
Sakura mendadak bicara begitu di tengah pengintaiannya; komentarnya aneh, sama seperti dirinya. Sai tidak peduli, baginya hanya Ino yang cantik dan selain Ino adalah babi. Ino hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya setelah tiga detik.
Karin itu cantik memang sebuah fakta. Banyak gosip yang berbisik dari telinga ke telinga: katanya, dia itu primadona kampus yang jadi idaman banyak pria. Sasuke itu tampan juga sebuah fakta, diidamkan oleh banyak perempuan. Dua buah realita yang membuat Sakura tertegun, tercekik, tertampar, dan terseret ombak sampai hanyut di antah berantah.
Seharusnya mereka jadi pasangan yang cocok di mata Sakura, kata orang lain pun mereka cocok. Seharusnya dia jangan coba berani-beraninya merangkak masuk ke dalam dunia mereka, mendistorsi warna ilusi yang mereka padukan dari sebentang spektrum warna. Seharusnya dia tidak mengutuk harumnya kebahagian yang menguar dari eksistensi mereka sebagai pasangan. Seharusnya dia tidak menghakimi sikap Sasuke yang berubah semenjak hari itu dengan embel-embel status pertemanan mereka. Seharusnya dia bersikap rasional. Seharusnya dia tahu tempatnya. Seharusnya, seharusnya, dan seharusnya.
...
Kamu cemburu?
Pelupuknya terbuka, iris hijaunya kembali muncul, merefleksikan sejumlah cahaya yang kian meremang. Dia nyaris terlelap lantaran lelah melanda. Kalau bukan karena kata-kata itu yang menghadangnya ke alam mimpi, mungkin akan diajak berkeliling Tokyo sampai malam tiba. Pandangannya melesat ke arah jendela bus, seluruh wajahnya jadi tersorot sinar senja. Warna helai rambutnya berpadu dengan jingga, jadi terlihat semakin menyala.
Kamu cemburu?
Jangan bercanda, Sakura pasti akan menjawab dengan lantang bak mendeklarasikan kemenangan yang baru saja ia raih, tidak. Umurnya sudah menginjak angka dua puluh, untuk apa dia cemburu pada ... Karin. Itu kekanak-kanakan. Sakura tidak punya hak ataupun kewajiban untuk cemburu. Status teman itu tidak bisa memvalidasi alasan untuk cemburu.
Kalau begitu, kamu iri?
Pertanyaan Naruto mendengung di kepalanya. Harusnya tadi siang Sakura jangan mau menemani Naruto makan, akhir ceritanya jadi begini, dia itu.
Naruto itu bodoh, kedongkolannya bahkan sudah mencapai titik di mana dia tak tahu Yoshihide Suga itu siapa—hidupnya sepertinya hanya berotasi pada makan ramen, ritual sakral di toilet, dengar country musics, tidur, dan ambisi membuat space probe yang bisa menjangkau Proxima Centauri. Kenapa Todai bisa menerima orang semacam dia? Entahlah. Itu adalah sebuah konundrum yang amat sangat spektakular.
Naruto punya semacam kekuatan magis. Radiasi cengirannya bisa membuat raut dan suasana hati seseorang termutasi, jadi ikut gembira seperti takkan ada lagi masalah yang menimpa di hari esok. Kata-katanya bisa membuat hati seseorang tergerak, sampai-sampai dia dikenal sebagai tempat konsultasi masalah perkuliahan dan hidup.
Naruto juga selalu bisa tahu tentang Sasuke dan Sakura. Karena dia tahu tabiat dan kelakuan mereka berdua sedari dulu, dia selalu bisa membidik dengan tepat. Terlampau tepat sampai membuat kepala Sakura penat. Kalau saja membenturkan kepalanya sampai hancur bisa membuat kata-kata itu berhenti menari di otaknya, akan ia lakukan. Sayangnya, tidak. Hancur iya, mati juga iya. Tapi bukankah kau sudah siap mati, Haruno?
Kepalanya berpaling dari jendela, pandangannya jadi lurus ke depan. Pemandangan bus sore hari dilihat dari kursi paling belakang, cahaya matahari menembus kaca jendela, sampai menyentuh kursi penumpang. Matanya menangkap siluet bangunan dan tiang listrik di lantai bus. Tubuhnya bergerak otomatis ke depan saat pergerakan bus direm.
Sepulang sekolah, seusai kegiatan klub atau OSIS, Sakura akan memilih bangku paling belakang, duduk bersisian dengan Sasuke, dan mengobrol sambil melihat pemandangan semua ini. Ia ingat itu semua. Ia menahan senyum, mengulum bibirnya agar tidak memformasikan kurva parabolik. Nanti dia dikira gila oleh penumpang bus lainnya.
Aku suka kamu, Haruno.
Sakura tidak butuh pernyataan cinta. Atau mungkin, tidak kalau itu dari orang lain.
Aku tahu kamu bakal bilang begini, aku ngerti sekarang. Kamu terbaca. Hanya Uchiha, bukan?
Kata Ino dan Naruto, jangan terus-terusan keras kepala, dia harus jujur pada perasaannya. Pertanyaannya, perasaan yang mana? Cemburu, iri, kesal, marah, atau ...
Kalau soal Teme, jawabannya sudah jelas. Suka, 'kan?
"Sakura?"
Kakinya berhenti melangkah. Mata hijaunya sedikit melebar. Napasnya sedikit tercekat.
Suara itu memanggil namanya lagi, setelah sebelas minggu dia memainkan peran orang asing. Sepasang kaki itu mendekatinya dari ujung persimpangan, memangkas jarak yang ada. Mengejutkannya dengan pertanyaan sederhana, "Jalan bareng?"
Pandangannya masih terpaku pada wajah lelaki itu, siapa lagi kalau bukan Sasuke? Kepalanya mengangguk pelan, sepasang kakinya mengekori langkah Sasuke di belakang. Sudah lama. Suka? Simpan dulu pertanyaannya.
"Kamu baru pulang? Dari mana?"
Kepala Sasuke menoleh sedikit, melihat Sakura yang kini berjalan di sisinya, menyamakan langkah. "Toko elektronik. Borku rusak gara-gara Naruto mabuk di apartemenku kemarin malam."
Tawa Sakura menggelegak ke udara. Ia mengontrol tawanya, kembali berbicara, "Dia apain? Lempar ke dinding?"
Sasuke hanya merespon dengan hn, Sakura melanjutkan tawanya.
"Dua hari yang lalu dia juga ke apartemenku." Sakura berbicara sembari mengingat-ingat kejadian. "Dia kasih titipan papaku karena kita enggak sempat ketemu. Aku lihat itu dus dari ponsel yang aku minta, tapi waktu aku pegang malah hangat begitu."
Kedua alis hitam Sasuke bertaut. "Kalau itu papamu, aku enggak yakin itu barang yang normal."
"Memang. Isinya takoyaki, ya iyalah jadi hangat gitu. Ada juga kalung penangkal iblis yang diselipin di amplop, itu bonus katanya, dari Bordeaux. Aku kira uang." Sakura mendecih, masih ingat kejadian tolol itu, masih ingat cekikikan Naruto yang saking kerasnya sampai membuat penghuni apartemen sebelah melabraknya. Sekarang, Sasuke terkekeh, tawanya sedikit ditahan, tipikal anak keluarga Uchiha. "Kegoblokan papaku emang sudah stadium akhir. Otaknya harus diangkat."
Itu konversasi pertama setelah sekian lama, sampai sudah dirasa berbulan-bulan, padahal musim saja belum bertransisi. Waktu yang berjalan lama atau roda waktu dia sendiri yang melambat? Masih banyak kata-kata yang dia simpan untuk Sasuke, sudah menumpuk, ingin disemburkan sekaligus, tetapi tidak bisa. Tertahan di ujung lidah.
"Kamu biasanya banyak bicara." Sasuke membuka suara pertama setelah sepuluh menit berlalu. Delapan tahun jadi teman Sakura, tentu saja Sasuke tahu tingkah lakunya, amat sangat tahu. Ekor matanya melirik Sakura yang masih bergeming, berjalan di sisinya dengan pandangan mata lurus ke depan. Warna surainya sedikit redup, hanya memantulkan cahaya remang lampu jalanan. Ia kembali bersuara, "Ada hal yang mau dibicarain lagi?"
Banyak! Masih banyak! Saking banyaknya aku sampai bingung harus ngomongin yang mana dulu!
Mulutnya terbuka, sedetik kemudian kembali mengatup. Bingung dan ragu, mending tidak usah. Tahu, ia tahu ke mana arah pertanyaan Sasuke merujuk, ke arah persoalan mulut Sakura yang tak mau diam tetapi sekarang mendadak banyak diam. Mau bicara soal apa lagi? Soal hubungan Sasuke dengan gadis itu? Atau soal remeh kesehariannya sebagai mahasiswa kedokteran yang membuatnya sekarat di setiap tarikan napasnya? Atau blunder-blunder fatal yang ia buat saat Sasuke tidak menyaksikannya? Atau diskusi berat soal buku 1984 karya George Orwell yang baru ia baca? Begini jadinya kalau terlalu banyak yang ingin dibicarakan tapi waktu sempit. Sebentar lagi ia sampai di depan gedung apartemennya.
"Mungkin lain kali," padahal belum tentu ada kesempatan lagi. "Kamu sibuk juga, bukan? Kantung matamu bengkak gitu, jadi kayak setan."
"Kamu nggak bercermin, ya?"
Langkah Sakura terhenti, bibirnya mengulas senyum manis dan bersuara, "Sampai jumpa nanti," ditambah sedikit jenaka, "hati-hati, ini sudah malam jadi jangan sampai nakutin orang. Muka kamu serem soalnya. sudah cocok jadi youkai."
Sudut-sudut bibir Sasuke memformasikan senyuman. Itu senyuman pertama yang baru Sakura lihat setelah sekian lama. Hanya senyuman tipis, tapi efeknya bisa membuat degupan jantungnya meloncat-loncat. Kalau dilihat dari dekat, wajahnya menawan, sedikit cerah di antara temaram lantaran pantulan cahaya lampu jalanan. Iris yang berwarna obsidian, bulu mata yang panjang, hidung yang mancung, dan bibir tipis itu terpatri di wajahnya yang putih. Kalau ia selisik, tatapan yang Sasuke pasang itu keren juga, penilaian Ino benar soal ini. Tampilan fisiknya memang memikat.
Sakura suka bersama Sasuke. Dia bisa jadi diri sendiri, itu alasannya. Sakura suka cara Sasuke berpikir dan persepinya terhadap dunia. Kalau bersama Sasuke, Sakura tidak pernah kehabisan topik atau kewalahan karena tidak menemukan topik. Simbiosis mutualisme, itu gambaran hubungan mereka. Para pengagum, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan, boleh tahu betapa tampannya Sasuke, tapi mereka tidak tahu hal impresif dan kelam apa yang ia simpan. Mereka tidak bisa mengerti Sasuke sampai mereka bisa mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandangnya. Sakura bisa, Sasuke mengakui keberadaannya.
Sakura sudah tahu sejak lama tentang Sasuke, luar dan dalam, sudah menaruh perhatian sejak lama. Sudah tiga tahun seperti ini, jadi kalau didefinisikan, perasaan ini tepatnya apa?
Suka, 'kan?
...
Kalau soal perasaan pada Sasuke, jalan pikiran Sakura jadi mandek. Ini sebuah kombinasi yang pelik: enggan mengaku suka, membodohi dirinya sendiri dengan status pertemanan, dan takut jatuh cinta pada sahabat sendiri. Dia memperumit segalanya, terjebak dalam labirin buatan sendiri. Tinggal memvokalkan, apa susahnya? Kenapa masih keras kepala seperti ini? Bukan batu lagi, sudah jadi sekeras berlian. Kenapa tidak mau mengalah juga? Dinding defensi Sakura sudah kelewat tebal, orang tidak bisa menghancurkan, sekalipun itu Ino dan Naruto. Mengalah satu-satunya cara untuk dia mengaku. Ribet amat, sih—kata-kata Ino yang selalu ia lontarkan saat berurusan dengan kompleksitas jalan pemikiran dan perasaan Sakura.
"Kamu tahu," Ino berdeham, membersihkan tenggorokannya agar aliran vokalnya lancar, "aku sudah punya semacam firasat."
Sakura mengangkat satu alisnya, melempar Ino tatapan heran, menunggunya melanjutkan perkataannya. Lama. Gadis itu kembali fokus pada menapaki jalan menuju kuil yang diterangi lampion-lampion yang terpasang di sepanjang jalan. Suara Ino masih berhenti, membuat jeda melebar.
"Soal aku yang enggak mungkin dapat hati Sasuke."
Langkah Sakura terhenti, tinggal beberapa meter lagi untuk mencapai torii besar yang berada di halaman Meiji-jingu. Kepalanya ia tolehkan pada Ino, omong kosong apa lagi ingin ia utarakan, tapi ditahan. Dahinya berkerut. Mata emeraldnya menatap mata akuamarin milik Ino, menganalisa dan menyelisik raut mukanya. Napasnya dihela. "Kenapa bahas itu lagi?"
"Kamu punya kesempatan, aku pernah bilang begitu, bukan?" tanya Ino yang mendapat anggukan kepala merah muda. Kaki jenjangnya ia gerakkan kembali, mempersempit jarak menuju kuil di depannya. Sakura mengekori, wajahnya memancarkan aura penasaran. Mulutnya kembali bersuara, "Dulu aku lihat Sasuke dari dekat, tapi yang dia lihat itu orang lain. Kamu tahu siapa?"
Sakura mengedikkan bahu. Mana dia tahu, lah, dia 'kan bukan Sasuke.
"Kamu, Sakura. Tatapannya beda, aku tahu itu apa."
Itu sukses mengejutkan Sakura, pupilnya melebar dalam hitungan detik. Jantungnya memompa darah lebih cepat dari laju normalnya hanya karena perkataan Ino. Sasuke melihat Sakura? Yang benar saja, ingin sekali ia teriakkan, kalau saja di sini bukan tempat umum. Wajahnya panas seperti terbakar, padahal temperatur lingkungan sekitar empat derajat. "Kalau pun emang begitu, sekarang enggak lagi," kilahnya gugup sembari melangkah lebih cepat, memimpin Ino menuju depan kuil.
"Aku harap kamu dan Sasuke enggak terus-terusan membodohi diri sendiri."
Sakura mendengarkan, tapi mulutnya enggan merespon lagi. Ino tidak membuka suara juga. Sampai mereka selesai berdoa, akhirnya bertemu Sai yang eksistensinya datang tiba-tiba. Kejutan di akhir tahun, katanya. Sakura ditinggal sendiri karena ada hal yang mau dibicarakan berdua. Dia tidak banyak mendumel karena lagi-lagi jadi nyamuk yang hadir di antara interaksi mereka berdua. Hanya berpesan, "Jangan sampai mabuk berat, aku yang susah urusin kamu."
Intensinya pulang—itu dua detik yang lalu. Matanya tidak sengaja menangkap dua eksistensi temannya yang tenggelam dalam lautan keramaian halaman kuil. Beberapa detik kemudian, mereka melepas diri dan bebas. Sakura membawa langkahnya menuju mereka berdua, sekaligus menyapa dari kejauhan.
"Wah, ternyata kamu punya bakat jadi badut pengiring orang pacaran, ya, Sakura."
Sakura mendelik, melemparkan tatapan tajam yang letal, membuat bulu kuduk Naruto berdiri. Sasuke diam, hanya berjalan menyakukan kedua telapak tangannya ke dalam saku mantelnya, dingin. Naruto kembali berceloteh hal lain yang punya potensi rendah memicu kebrutalan Sakura. Sakura menimpali dengan kekehan, juga beberapa kali dengan sinisan. Sasuke hanya menanggapi dengan kata bodoh, berisik, dan mati aja sana, seperti sedang tidak nafsu untuk mengobrol hal konyol dengan teman masa kecilnya. Tiga pasang kaki itu membawa langkah mereka ke Yoyogi Park yang tidak jauh dari kuil. Menelusuri tepi danau buatan, mencari bangku kosong di tengah ramainya selebrasi pergantian tahun.
... tadinya rencananya begitu, sampai akhirnya Naruto bertemu pacarnya yang kebetulan jalan-jalan di sini, lalu pamit seenak jidat meninggalkan mereka berdua. Ini kali keduanya jadi pengiring orang pacaran, beruntung Sasuke menemaninya. Awas saja kalau mereka bertemu Karin secara tak terduga lalu Sasuke pamit. Sialan. Lain kali ia akan menolak jika diajak pergi oleh temannya.
Mereka duduk berdua di bangku taman yang agak terisolasi dari hiruk pikuk manusia. Berduaan saja. Seharusnya sudah biasa, toh frekuensi mereka berduaan jauh lebih sering dibandingkan bertigaan bersama Naruto. Seharusnya pertemuan ini kasual dan normal, sama seperti yang dulu-dulu. Seharusnya tidak ada atmosfer canggung di antara mereka—setidaknya itu yang Sakura indera.
"Clair de Lune," Sasuke membuka suara. Sakura memasang pendengarannya baik-baik, mencari sumber suara piece tersebut. Ah, suaranya agak sayup, tapi masih bisa didengar. Ini romantis, aku suka piece ini. Sakura ingat pernah bilang begitu padanya sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA. Sasuke, si maniak musik aliran country, tidak suka. Impresinya, terlalu halus. "Dimainkan di harpa tidak buruk juga."
Itu segmen ketiga dari Suite bergamasque, karya komposer Claude Debussy. Kalau diterjemahkan dari bahasa Perancis, Clair de Lune artinya sinar bulan. Sayang, bulan tidak muncul di malam ini, sudah tenggelam di ufuk barat dua jam yang lalu, menyisakan sedikit taburan bintang di langit Tokyo. Lantaran kalah dengan cahaya gedung, mereka tampak redup. Seperti percuma.
Melodi-melodi lembut yang keluar dari petikan senar harpa mengudara. Sedikit lemah suaranya akibat berinterferensi secara desktruktif dengan gelombang suara manusia di kejauhan sana, ditambah jaraknya jauh dari mereka. Keduanya diam, hanya memandangi pohon dan danau yang ada di depan sana. Tiupan lemah angin musim dingin berhasil menembus mantel tebal Sakura, tetapi tidak apa, masih kalah dengan hangat yang tiba-tiba muncul di dadanya. Tidak buruk juga, senyuman terpatri di wajah Sakura, merasa menang. Aku bilang, apa? Piece yang satu ini emang indah.
Harusnya dia ingat. Kalau dengan Sasuke, dia tidak takut ada keheningan karena kehabisan topik obrolan. Kalau dengan Sasuke, segalanya bisa dibicarakan. Kalau dengan Sasuke, segalanya terlihat lebih berbeda dan impresif dari sebelumnya. Kalau dengan Sasuke, dia bisa jadi diri sendiri.
"Kamu suka juga?"
Sasuke menoleh padanya, tidak langsung menjawab. Manik obsidiannya bertemupandang dengan manik emerald milik Sakura. Terpaku di sana, cukup lama sampai—"Karena kamu, iya."
"Kamu keliatan kacau," komentar Sakura tiba-tiba, membuat mata oniks milik Sasuke sedikit terbelalak. Matanya mengindera perubahan rautnya, tanpa Sasuke sadari. "Sesuatu terjadi?"
Ia kembali menarik pandangnya dan melemparnya ke depan. Jawabnya, "Tidak."
Dan itu bohong, Sakura tahu.
Sakura sudah tahu sejak lama tentang Sasuke. Kalau ada hal yang ingin kamu ceritakan, aku akan dengar, sebaris kalimat ini selalu ia ulang tiap kala Sasuke menyimpan perasaannya sendiri. Sakura tahu sekacau apa dirinya jika sudah jatuh ke titik nadir. Sakura bisa mendeteksi kebohongan yang terselip dalam perkataan Sasuke. Musik yang ia suka, makanan yang dibencinya, seberapa keras kepalanya dia, rahasia-rahasia yang ia simpan, atau kebiasaan buruknya saat sisi perfeksionisnya muncul. Tahu hampir segalanya, relatif lebih banyak daripada siapa pun. Lantas, "Kenapa harus Karin?"
Cara bicaranya tegas. Mata emeraldnya memandang lurus sesuatu yang jauh di sana. Raut wajahnya tidak terdefinisikan, seperti santai bercampur serius. Bibirnya tersenyum, tapi tipis sekali sampai tidak berarti apa-apa. Ada hal yang ia tahan di balik senyumnya.
Detik dan detik berkumpul, jadi menit, menciptakan jeda panjang di antaranya. Keduanya bergeming, larut dalam lautan pikirannya masing-masing. Hanya desiran angin, suara letupan kembang api tepat di jam 00.00, dan hingar bingar di kejauhan yang mengisi suara di latar. Sasuke sedikit menunduk, memandangi beberapa tumpukan tipis salju di tanah. Sakura sedikit menengadah, memandangi kembang api itu.
"Kita belum pernah benar-benar bicara sejak hari itu," Sakura kembali bersuara, nada jenaka sekaligus serius tertuai di dalamnya. "Kenapa kita berhenti bertemu? Kamu bahkan enggak pernah muncul lagi di kafe biasa, di tengah malam sekalipun."
"Aku ...," suara Sasuke terdengar ragu, ia menggantungkan ucapannya selama beberapa detik, otaknya masih belum selesai berpikir, "sibuk."
Iya sibuk. Sibuk karena Karin, bukan? Aku dengar dia cukup merepotkanmu.
"Aku tahu bakal ada yang berubah di antara kita, dari awal aku sempat mikir kemungkinan buruknya kita jadi orang asing." Sakura melebarkan senyum di bibirnya, tetapi tidak mengajak matanya juga untuk tersenyum. Lumayan kentara, ada ringisan yang tersembunyi di raut wajahnya. Ia tertawa kecil dan menutur, "Dan itu terjadi."
"Maaf, Sakura."
Pandangan Sakura berpaling padanya. Emerald itu menatap tajam obsidian itu, ada sedikit refleksi kerlap-kelip kembang api di iris hitamnya. Senyumnya masih tertahan di sana. Bukan, bukan itu yang ingin telinga Sakura dengar, melainkan jawaban dari pertanyaan kenapa yang selalu menyangkut di kepalanya. Hari ke hari semakin mengganggu. Hari ke hari frekuensi munculnya naik. Hari ke hari dia menahan diri. Hari ke hari dia makin bingung dengan perasaannya.
"Kenapa kita berubah, ya?"
"Tadi sore aku putus sama Karin." Fakta baru yang mengejutkan Sakura, tetapi dia tidak bereaksi banyak. Sasuke menatap wajah samping Sakura yang diterpa sinar lampu taman. Guratan senyumnya hilang, hanya wajah tegas yang tersisa. Dia tidak merespon, sama sekali tidak. Menghentikan bilangan jeda yang semakin melebar, ia kembali berbicara, nadanya sedikit bimbang. "Kamu orang pertama yang kuberitahu."
Lantas apa istimewanya jika Sakura orang pertama yang ia beritahu? Ada arti khusus? Tidak, bukan? Bahkan pertanyaannya saja dia abaikan, mungkin ia anggap retorika semata. Otaknya terus berasumsi dan berasumsi. Pening. Empat bulan ini tidak berarti apa-apa, Sakura sudah terbiasa dengan ketidakadaan eksistensi Sasuke di hari-harinya. Mulai hari ini dan besok, ia mengizinkan Sasuke pergi. Namun, kenapa Sasuke seakan-akan membuatnya mengurungkan niatnya untuk ikhlas?
"Kenapa kita berubah? Aku juga mikir begitu, kita sama-sama enggak tahu jawabannya."
Sakura masih diam. Sasuke ikut diam. Satu menit, dua, sampai tak terhitung. Suara riuh di kejauhan melemah intesitasnya. Kesunyian jadi semakin pekat. Kepekatannya stabil sampai keduanya sampai di apartemennya masing-masing.
Aku harap kamu dan Sasuke enggak terus-terusan membodohi diri sendiri.
Kalau Sakura berhenti bersikap begitu, ia bebas dari lingkaran setan ini, 'kan?
...
"Teme jadi agak beda semenjak pulang dari pertukaran pelajar. Apa terjadi sesuatu di Amerika, ya?"
Suara Naruto berbisik ke membran timpaninya, mengalahkan suara pompaan semangat yang menggelora di sekeliling tribun. Sakura tidak memberikan reaksi apa pun, bahkan secuil respon seperti mengangguk. Fokusnya ke arah Sasuke yang sedang berlarian di atas lapangan hijau mengejar bola.
"Eh, tapi kayaknya sejak dari tahun baru, deh. Kayaknya ada yang terjadi pas aku tinggal kalian berdua."
"Cih, jangan asal menuding. Dari semenjak pacaran sama Karin dia sudah gitu, asal kamu tahu," balas Sakura, meluruskan yang menurutnya keliru. Orientasi pandangnya beralih ke gadis bernama Karin, yang menjadi pemandu sorak yang diam di tepi lapang. Sudah tiga bulan mereka putus, doa Sakura terkabul meski membutuhkan waktu yang sedikit lama. Dia lega sekaligus ... bingung.
Terompet ditiup, drum berbagai ukuran ditabuh, berbagai alat musik ansambel ikut dimainkan para anggota marching band. Para gadis pemandu sorak mulai berdansa, melempar-lempar beberapa di antara mereka ke udara, terlihat lihai. Sorak penonton memecah udara, bendera tim dikibarkan, hamburan konfeti mewarnai suasana kemenangan. Para pemain berdifusi ke berbagai sisi lapangan, beberapa dari mereka berlarian sambil telanjang dada. Atmosfer euforia berlangsung lama, ini mutlak kemenangan Todai.
Pucuk merah milik mantan kekasih Sasuke bergerak mendekati para pemain, terlihat antusias dan tak sabar. Mata Sakura melongok kala ia mendapati gadis itu mencium pipi Gaara, tangannya bergelantungan di lehernya dengan intim. Gaara. Gaara yang itu. Gaara si kapten sepak bola sekaligus orang yang pernah mendekati Sakura dan bilang hanya Uchiha, bukan? padanya lima bulan yang lalu. Gaara yang dikabarkan tergila-gila pada Sakura sedari tahun kedua sampai seantero Todai tahu kalau dia itu mengincarnya—itu yang ia dengar dari Ino. Gaara yang tipe orang serius, bertanggung jawab, sulit diajak bercanda melebihi seorang Sasuke—Gaara yang itu? Sekarang, mereka berdua pacaran? Kedua orang itu cepat sekali pindah hatinya, Sakura berdecak kagum.
"Idih, babi banget, Cimex lectularius! Si Karin itu sengaja mengompori Teme, ya?"
Mungkin temannya yang berisik ini benar soal niat busuk gadis itu—tapi mungkin juga tidak. Barangkali hanya ingin mengekspresikan kebahagiannya. Tidak boleh berprasangka buruk, bukan begitu, Sakura? Mata emeraldnya mencari-cari eksistensi Sasuke di sana, menelusuri sudut-sudut lapangan yang penuh dengan berbagai jenis manusia. Ketemu!
Saat sudah disadari, jalur pandangnya berada dalam satu garis dengan jalur pandang milik Sasuke. Dia berdiri di bawah, melirik lewat ekor mata hitamnya, kepalanya sedikit menengadah. Di jarak ini Sakura bisa tahu napasnya tersenggal, gerakan naik turunnya tertangkap oleh indera penglihatannya. Wajahnya penuh sedikit mengkilap akibat balutan keringat. Bibirnya menyunggingkan senyuman, entah untuk dan pada siapa. Sakura tidak mau ambil banyak pikir.
"Dia lihat kamu, tuh."
Naruto menyenggolnya pundaknya dengan keras sampai tubuhnya hampir tersungkur, tenaga babi, dasar. Sakura tidak mendelik seperti biasanya, hanya mendengus kesal. Dipandangnya Sasuke sudah tidak melihat ke arahnya lagi.
"Jadi," Naruto sok-sokan berdeham, jadi berlagak serius, padahal masih ada nada gurauan yang melekat, "dengan Sasuke gimana?"
"Apaan, ha?"
"Tolol banget, sih! Masa sampai sekarang belum habis gobloknya? Serakah banget kamu, kasihan orang-orang jadi kekurangan kegoblokan."
Sakura mendecih, bisa enggak kamu enggak nanya itu di sini? Malu banyak orang bakal dengar, woi tolol, "kamu cari mati banget, ya. Dari tadi malaikat maut ngobrol sama aku soal cara nyabut nyawa kamu gimana baiknya, kamu dengar, enggak? Aku kasih saran cabut otak sama jantungnya terus rebus jadi sup miso."
"Kamu cocok buat dipanggang di neraka."
Satu per satu penonton di tribun pergi, membuat konsentrasi manusia di stadion menjadi rendah, suara di sekitar menjadi senyap. Naruto masih terus membeo sampai-sampai telinga Sakura nyaris meledak. Saat akhirnya mereka tinggal berdua, Naruto kembali serius bicara, "Sakura, mau keras kepala sampai kapan?"
"Sampai aku bisa men-sleding ususmu," jawab Sakura, nada bicaranya ikut-ikutan jadi serius. Naruto menghela napas berat, membuat dia takjub sendiri karena ini momen langka. Matanya memandangi langit biru, mulutnya terkekeh. "Iya, iya, aku bercanda."
"Teman juga boleh saling suka. Enggak ada yang salah. Yang salah itu kalau kamu pendam terus perasaan kamu dan bodohin diri kamu karena status teman. Status juga boleh naik, asal kamu tahu, Sakura."
Tahu, ujung-ujungnya kalau dengan Naruto pasti membahas hal ini lagi. Dari hari ke hari makin kentara, makin jelas wujudnya. Debaran yang menggila, pikiran irasional dan salah tingkah, hawa panas yang tercipta karena malu, perubahan emosi yang tidak jelas dan dadakan adanya, rasa bingung antara perbedaan iri dan cemburu tatkala ada orang lain yang berhasil digenggam tangan itu. Sudah kelewat jelas sekarang. Iya, dia tahu. Naruto dan Ino tak perlu buang-buang energi lagi untuk memberitahu si kepala batu sekaligus udang ini. Kebodohannya berkurang sekarang, saatnya kalian merayakannya dengan satu atau dua botol sake.
Sakura lelah, ia mengaku kalah. Persetan dengan kata teman. Dia tak mau terus-terusan didongkoli oleh pikiran rasionalnya, enggak penting, kamu mana mungkin suka sama Sasuke. Dia tak mau lagi menepis perasaannya. Buang-buang waktu.
...
Jangan ngehindar dari Sasuke terus, kapan majunya?
Bicara itu mudah, tapi sekarang persetan. Ia telanjur terciprat air, sekalian saja buat jadi basah kuyup. Tidak bisa diurung begitu saja, rencananya harus dijalankan. Kalau sampai tidak jadi, kacau.
Sudah sekitar jam sepuluh lebih. Acara ini khusus panitia, ada juga beberapa nonpanitia yang masih ingin bermalam di kampus Hongo. Kalau diestimasikan, paling banyak lima puluh murid di sini. Kebanyakan 'kan anak ambisius, wajar kalau banyak yang enggan menghabiskan waktu di sini sampai larut malam. Bagus, setidaknya nanti dia takkan menanggung malu yang terlalu berat. Ah, tapi tetap saja malu sampai rasanya ingin kembali berkubang di lumpur.
"Oh, jadi kamu mau tampil Sakura? Main gitar dan menyanyi?" Lee menanyakan pertanyaan retorik saat melihat Sakura di backstage. Dia hanya basa basi untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Pakai nanya segala, "Mau gladiresik mati di depan orang."
Giliran tampilnya tiba. Sakura berani bersumpah dia tak pernah segugup ini saat di panggung. Kali ini beda, mungkin karena niat terselubungnya yang menyeleneh. Tidak bisa berhenti sekarang, harus dilanjutkan sampai selesai. Sekalipun itu harus menanggung malu, dua setengah tahun lagi kira-kira sampai bisa lulus dari sini. Itu namanya mati, sialan.
Gitarnya ia petik, getaran senarnya membuat udara ikut bergetar, mentransimisikan bunyi ke telinga orang-orang di sini. Suara intro lagu You Belong With Me mengalun khas di udara. Semua orang menikmatinya, menggangguk-anggukkan kepala dengan pelan. Lampu-lampu menyinari pucuk kepala mereka, menciptakan gradasi warna yang menarik. Semua mata tertuju padanya. Dia makin gugup, apa suaranya terdengar bergetar tidak, ya?
That what you're looking for has been here the whole time
Sekarang dia sudah tidak mau membodohi diri sendiri. Sasuke harus ia hadapi, main petak umpet dengan Sasuke itu melelahkan. Sekarang dia yakin terhadap perasaannya—iya, ini perasaan itu, setelah satu tahun dipenuhi drama-drama bodoh. Semakin sadar dan yakin, semakin malu. Namun, sekarang ia yakin ia bisa mengontrol dirinya, persetan, lah. Remnya sudah dia rusak, untuk berhenti nanti berarti dia harus menabrakkan diri dan mati. Mati memang intensinya sekarang. Mati karena terlalu malu, iya.
Been here all along, so why can't you see? You belong with me
Memang seharusnya sedari dulu, harusnya lebih dari teman, setidaknya itu yang Sakura rasakan. Memang seharusnya Sasuke melihat ke arahnya karena dia yang selama ini ada di sini. Bukan Karin, atau siapa pun, melainkan dia, Sakura.
You belong with me
Lagu selesai dilantunkan. Tangan ditepuk, mengapresiasi pertunjukan simpelnya. Sorak diriuhkan, ini hampir tiba di penghujung acara bunkasai. Mata Sakura menangkap eksistensi Sasuke di sana, agak jauh. Kalau dia menyerah, pengecut artinya. Kalau dia lanjut, mati artinya. Tidak ada pilihan, barangkali dirinya sendiri yang terlalu ketat mempersempit pilihan. Sudahlah, sekarang waktunya. Besok mati jangan ditanya lagi sebabnya apa, sudah author narasikan panjang-panjang. Surat wasiat sudah ia taruh di atas kasur.
"SASUKE UCHIHA ... AKU SUKA KAMU!"
fin.
A change of heart - the 1975
Todai: Tokyo Daigaku (Tokyo University)
Yoshihide Suga: perdana menteri Jepang
A/N: fiksi ini terlahir dari kombinasi 1) kegabutan yang didorong oleh kerandoman, 2) denger lagu TS, You Belong With Me, dan 3) dapet ilham buat nulis cerita yang vibes-nya gini.
anyway, this is a thank you return for kak Rima aka Ricchi! it was a surprising moment when you dmed me that you wrote a story for me. it trembled me, saking senengnya haha!
Semoga fiksi ini bisa menghibur kak Rim dari hari-hari padat yang melelahkan—ya, walau ga seberapa dan masih banyak kurangnya. Tetep jaga kesehatan, ya!
.
untuk para reader(s), semoga fiksi ini juga bisa menghibur! makasih sudah baca sampai akhir!
saran, kritik, atau review apa pun akan aku apresiasi. terima kasih!
omake
Kalau ada satu hal membuat Sasuke bertingkah aneh dan tidak masuk akal, itu adalah Sakura Haruno. Sedari dulu, kalau tidak salah sejak menduduki bangku SMA. Dia terjerap pada cara bibirnya tersenyum dengan manis, bisa meliarkan debaran jantungnya dalam sekejap mata. Dia tertawan pada wajah cantiknya yang suka memformasikan berbagai ekspresi, sering mendesak bibirnya untuk tersenyum. Dia suka caranya berbicara, perpaduan serius, santai, dan suka bergurau; enak didengar. Dia terkagum pada caranya berpikir, unik menurutnya.
Kamu suka juga?
Suka kamu, iya, tapi yang dikeluarkan malah hal yang lain. Lain di mulut lain di hati. Sasuke dungu, dia malah melewatkan kesempatan. Sampai detik ini, ribuan jam sudah terbuang sia-sia.
"Sakura sindir kamu. Sadar, enggak?"
Naruto menarik dirinya dari lautan kontemplasi. Tatapannya ia alihkan pada mata biru Naruto, mengirimkan sinyal apa maksudmu melalui telepati antarmata.
"Lagu ini tentang kamu, Karin, dan Sakura. Masa enggak paham, sih? Tolol amat."
Sasuke mengedikkan bahu, bersikap tak acuh. Lama-lama urat emosi Naruto pecah, ke-greget-annya sudah melewati ambang batas yang bisa ditolerir. Dodol sekali si Sasuke, yang begini dia masih tidak peka. Sensibilitas inderanya patut dipertanyakan. Salahkan Sasuke kalau nanti dia kejang-kejang lalu sampai harus dibawa ke rumah sakit karena kekonyolan ini.
"Jadi, kapan mau bilang ke dia?"
Pertanyaannya tidak Sasuke indahkan, berisik, katanya. Matanya sibuk pada Sakura di depan sana, terlihat menarik dalam balutan kaos biru pastel dan overall biru tua yang berbentuk rok selutut. Tangannya membunyikan permainan gitarnya khasnya dan mulutnya melantunkan suara lembutnya. Beberapa kali ekspresi mukanya berubah, mengikuti lirik lagu yang ia suarakan. Harusnya dia membawa kamera, biar bisa merekam atau sekedar memotret dari jauh.
"Dari dulu tuh kamu kebaca banget. Sampai kapan rasa sukamu mau disimpan, ha?"
"Berisik, bodoh."
"Dih, bilang aja malu. Cemen amat, sih. Asal kamu tahu, si Sak—"
"... AKU SUKA KAMU!"
Hah?
Pupil Sasuke melebar, telinganya tidak salah menangkap vokal Sakura yang menyebut namanya, 'kan? Aliran jantungnya mendadak tidak normal, pompaannya menggebu-gebu. Suara riuh yang semula ada dari berbagai arah, sekarang mendadak senyap. Semua mata tertuju pada Sakura, juga pada Sasuke. Canggung bukan main, dia bergeming untuk beberapa puluh detik. Sementara detik demi detik berlalu, riuh akhirnya kembali memenuhi malam di kampus. Sorakan demi sorakan diteriakkan, selebrasi dua manusia yang dulunya berlagak pasangan kini benar-benar jadi pasangan, mungkin? Dan di sebelahnya ini, Naruto terbahak-bahak seakan-akan sudah siap mati besok.
"Kamu tahu, semua orang itu tahu kalau kalian saling suka. Yang enggak tahu cuma kalian berdua," kata Naruto di ujung tawanya. Ia menyeka air mata yang keluar, ini terlalu lucu pikirnya. Tangannya mendorong Sasuke keras, ia berbicara, "Sana, temui dia."
Ini sudah gila. Sakura benar-benar nekat, sumbu akalnya sudah padam, gadis itu jadi bertindak ekstrim begitu. Sasuke juga sama-sama gila—iya, karena Sakura, jadi impulsif begini. Kakinya bergerak cepat, setengah berlari, mencari spot tempat Sakura berdiri. Jantungnya masih berdegup cepat, akan meledak tidak, ya? Ada yang menggelitik perutnya, benar-benar geli bercampur senang. Kenapa tidak dari dulu, kenapa harus menunggu enam tahun untuk mengeluarkan kata suka dari mulutnya?
Jangan membodohi diri terus, nanti kamu menyesal.
Kalau sekarang dia berhenti, masih belum terlambat, 'kan? Seharusnya dari dulu, jadi tidak perlu repot-repot memacari Karin karena salah paham mengira Sakura pacaran dengan Gaara. Dia dongkol. Dia dan Sakura, sama-sama saja.
"Oi, kamu cari siapa? Kacau banget mukamu."
Itu. Suara gadis itu. Langkahnya langsung ia bawa menuju gadis itu. Dia melemparan cengiran lebarnya, sederet gigi putihnya berbaris rapih. Wajahnya cerah, diterpa sinar lampu-lampu yang dikaitkan di pohon-pohon. Untuk seukuran gadis yang sudah menyatakan perasaan di depan umum, dia masih berani juga memperlihatkan raut wajah normalnya di depan objek pengakuan sukanya. Mungkin dia hanya berakting? Kalau begitu, aktingnya hebat.
"Tadi kamu dengar, enggak? Kaget?"
"Setengah mati."
Dia terkekeh. "Aku mau bilang itu aja. Kamu suka atau enggak bukan urusanku."
"Emang bukan urusan kamu," Sasuke menarik napas, mengontrol detak jantungnya yang kelewat cepat, "tapi aku juga suka kamu, Sakura."
Seharusnya mereka begini saja dari dulu, tidak perlu membuang energi untuk cemburu dan iri yang tak mendasar. Kata teman tidak cukup untuk mendeskripsikan hubungan mereka, lebih seharusnya. Seharusnya dari dulu dia bilang saja aku suka kamu pada gadis ini ketimbang membodohi diri bahwa ini perasaan irasional. Sejak kapan perasaan bisa dikelompokkan jadi rasional dan irasional, Sasuke?
Seharusnya sedari dulu ia bisa memangkas jarak di antara wajahnya dan Sakura lalu mencium bibir miliknya, seperti sekarang ini. Kini, dunia mereka pinjam dulu sebentar, untuk berdua saja.
