Sunbae Or Hyung
.
.
.
Cast : All member BTS other
Genre : Family, brother complex
School life (AU)
.
.
.
Part 5
.
.
.
Author Pov
Pelajaran pertama baru saja selesai setelah 2 jam Lee ssaem, wali kelas mereka memulai penjelasan materi pelajarannya. Memang sangat membosankan memulai hari pertama dengan kelas bahasa. Tapi tentu saja tidak dengan Seokjin, ia dengan semangat terus mendengarkan penjelasan Lee ssaem sambil mencatat sesekali. Seokjin memang terlalu bahagia menikmati hari pertamanya.
Di jadwal kelas mereka, seharusnya sekarang sudah dimulai pelajaran kedua. Hanya saja sampai lewat 20 menit guru yang mengajar kelas Ilmu Pengetahuan masih belum memasuki kelas. Beruntung Lee saaem tadi sudah menyusun perangkat kelas, mulai dari ketua hingga seksi lainnya. Seseorang berdiri, ia adalah ketua pilihan Lee ssaem setelah dilakukan voting bersama di kelas. Park Woojin.
"Aku akan pergi ke ruang guru dulu"
Karena memang mereka belum akrab satu dengan yang lainnya, siswa yang lain hanya mengangguk saja mengiyakan. Setelahnya Woojin langsung keluar dan keadaan dalam kelas sedikit lebih hidup karena banyak diantara mereka yang sudah akrab memulai pembicaraan dan menghilangakn suasana sunyi kelas. Seokjin dan Wonho yang juga sudah kenal dari awalpun juga sibuk dengan dunia mereka.
"Seokjin, Wonho" mereka berdua lalu menoleh pada seorang siswa yang mendekati bangku mereka dan dengan seenaknya duduk diatas meja mereka.
"Emm..."
Siswa itu terkekeh melihat Seokjin dan Wonho yang seolah mengingat-ingat namanya, "Aku Jihoon kalau kalian lupa"
"Ah ne Park Jihoon. Maaf aku tidak mengingat namamu" ucap Wonho tersenyum, dipikirannya memang hanya ada Seokjin dan sunbae mesumnya itu, jadi butuh waktu untuknya mengingat nama temannya itu. Dan ingatkan Wonho kalau ia masih memikirkan sunbaenya itu, karena sekarang wajah cerahnya langsung berubah muram.
"Ada apa ya?" tanya Seokjin. Ia tidak tau mengapa anak yang bernama Jihoon ini memanggil nama mereka berdua.
"Tidak. Aku hanya ingin dekat dengan kalian saja, bagaimana kalau nanti kita ke kantin bersama?" tanya Jihoon. Seokjin yang nampaknya melihat ketulusan diwajah Jihoon tersenyum.
"Tentu" Jihoon tentu tersenyum senang.
"Baiklah nanti aku akan mengajak Woojin juga bersamaku, tidak apa-apa kan?" tanya Jihoon, ia sudah turun dari meja Seokjin.
"Boleh saja. Kami juga hanya berdua, kalau ada kalian mungkin akan sedikit lebih ramai" jawab Wonho, ia senang memiliki banyak teman.
"Baiklah, ketemu saat jam istirahat. Aku akan kembali ke tempatku" Jihoon lalu menepuk bahu Wonho sekilas dan kembali ke bangkunya yang berda dekat dengan jendela yang berada tepat disamping bangku Wonho dan Seokjin.
Setelah beberapa saat Woojin datang bersama dengan seorang guru wanita. Woojin lalu duduk disamping Jihoon. Setelah permintaan maaf atas keterlambatannya, guru tersebut akhirnya memulai materi pelajarannya.
.
.
.
Tepat seperti yang disepakati mereka, saat jam istirahat mereka berempat pergi ke kantin bersama. Seokjin yang kemarin hanya bersama Wonho, kini memiliki 2 teman tambahan yang bisa dibilang sangat berisik. Dari mereka keluar kelas hingga memasuki area kantin baik Jihoon dan Woojin terus saja berisik. Entah apa yang mereka ributkan.
"Kau tau? Siswi tadi itu cantik sekali Hoonie"
"Semua wanita dimatamu itu cantik"
"Tidak. Siswi tadi adalah yang paling cantik"
"Membual"
"Ish kenapa kau tidak percaya?"
"Kalian sepertinya sudah sangat dekat ya?" pertanyaan Seokjin membuat Woojin dan Jihoon menatap teman baru mereka.
"Kami sudah berteman hampir dari lahir Seokjinie, bahkan mungkin saat dalam kandunganpun aku sudah bertemu dengannya"
PLAK
"Yak! Apa salahku?!"
Jihoon hanya menepuk tangannya yang telah ia gunakan untuk meemukul kepala Woojin, "Kau mengotori pikiran Seokjin"
"Dan lagipula memang kau tau wujud Jihoon saat berada dalam kandungan?" Wonho hanya menggelengkan kepala, ia tidak habis pikir jalan pikiran ketua kelasnya ini. Wonho tidak mengerti apa yang dilihat Lee ssaem dari seorang Park Woojin.
"Dalam kandungan?" ucapan Seokjin membuat Wonho, Jihoon dan Woojin menghentikan pembicaraan mereka. Memang sebelum ke kantin Wonho sudah bercerita bahwa Seokjin masih belum berpengalaman hidup di dunia yang kejam ini.
"Ah bukan apa-apa Seokjin. Ayo kita cari tempat" Jihoon lalu menarik Seokjin dan memasuki kantin untuk segera mencari tempat duduk sekaligus mengalihkan pembicaraan mereka.
Memang saat mereka memasuki kantin sudah banyak siswa yang mengantri. Beberapa meja juga sudah terisi penuh, namun Jihoon melihat meja area tengah masih kosong. Jadinya sekarang mereka berempat berada tepat ditengah-tengah, beruntungnya mereka bisa melihat seluruh area kantin dari tempat duduk mereka.
"Kau mau pesan apa Seokjin?" tanya Wonho, sebagai teman terbaik dan pelindung Seokjin yang pertama. Sebenarnya ia sendiri yang mendeklarasikan diri sebagai pelindung Seokjin karena melihat kepolosan temannya itu, yang bisa saja disalah gunakan oleh orang jahat. Sedangkan Seokjin, ia bahkan tidak mengerti tindakan temannya itu.
Bukannya menjawab Seokjin malah mengeluarkan bekal makanan, ia memang tersenyum tapi menatap Wonho sedikit menyesal. "Maaf, Ahn ahjumma membawakanku bekal"
Wonho sendiri balas tersenyum, ia mengelus pelan kepala Seokjin, "Untuk apa minta maaf Seokjin, kau tidak melakukan kesalahan hanya karena membawa bekal"
Jihoon menatap Seokjin gemas. Meskipun mereka teman sekelas, Jihoon merasa ia menjadi seorang kakak yang harus melindungi adiknya jika melihat senyuman Seokjin. Senyumannnya tulus sekali. 'Benar saja Wonho selalu memperhatikan anak ini'
"Baiklah biar aku yang pesankan, kau mau apa Wonho? Kalau Jihoon aku sudah tau pesanannya" Jihoon mengacungkan ibu jarinya kearah Woojin.
"Ramyun saja Woojinie, terima kasih" ucap Wonho. Woojin hanya mengangguk dan beranjak untuk memesan makanan mereka bertiga.
Jihoon yang melihat Seokjin hanya diam saja dan memainkan ponselnya hanya tersenyum, "Seokjin, kau bisa makan duluan"
Seokjin mengalihkan pandangan dari ponselnya, "Aku akan makan bersama dengan kalian" sekilas menampilkan senyumannya dan kembali fokus pada ponselnya. Jihoon terkekeh. Ia jadi ingin menculik Seokjin karena terlalu gemas.
Beberapa saat area kantin sekolah semakin penuh dan berisik. Beruntung mereka lebih dulu kemari, kalau tidak mereka pasti harus menunggu lama untuk mendapatkan tempat duduk. Tapi meskipun begitu, Jihoon menyadari sesuatu, area pojok kantin sama sekali tidak ada yang mendekati. Seolah ada peraturan tak tertulis yang tidak membolehkan sembarang siswa untuk duduk disana. Bahkan siswa baru yang ingin duduk disana diperingatkan oleh kakak kelas untuk mencari tempat lain.
"Kau kenapa Jihoon?" Jihoon tersentak dan menatap Wonho.
"Tidak hanya melihat meja dipojok sana" Wonho menatap tempat yang ditunjuk Jihoon. Meja itu kosong, dan tidak ada yang aneh menurutnya.
"Memangnya kenapa?"
Jihoon menggelengkan kepalnya, "Tidak. Hanya saja meja itu sepertinya meja untuk siswa khusus"
"Ah, kata mereka meja itu untuk anak OSIS" Wonho sedikit mendengar pembicaraan siswa yang berada dibelakangnya. Jihoon mengangguk paham, pantas saja.
Dan seketika suasana langsung sunyi saat 6 siswa memasuki area kantin. Tidak ada yang memulai sebenarnya, namun melihat wajah 6 siswa itu saja sudah membuat mereka merinding. Tapi itu tidak berpengaruh pada sebagian anak.
Jihoon dan Wonho mengenali mereka sebagai anggota OSIS. Tentu saja karena ada Min Yoongi dan Kim Namjoon disana. Dan ternyata benar, meja dipojok itu adalah tempat mereka. Dan ajaibnya setelah mereka duduk suasana kantin kembali normal.
"Kalian memikirkan apa sih?" Jihoon dan Wonho tersentak dan menatap Woojin yang memandang mereka heran. Ia lalu memberikan pesanan Wonho dan juga Jihoon. Makanannya sendiri juga sudah ia bawa.
Karena Wonho dan Jihoon tadi sibuk memperhatikan anggota OSIS, mereka tidak menyadari kalau Seokjin juga ikut memperhatikan seperti mereka. Hanya saja Seokjin menatap mereka sambil tersenyum, dan beruntung sekali salah satu dari mereka menyadari kehadiran Seokjin dan membalas senyumannya.
"Ayo makan" Seokjin lalu menolehkan kepalanya menghadap ke 3 temannya dan membuka bekal dari Ahn ahjumma, begitupun Wonho dan Jihoon yang juga mulai menyantap makanan mereka sedangkan Woojin sudah sibuk lebih dulu dengan makanannya. Sehingga tidak mempedulikan 6 pasang mata yang melihat kearah mereka berempat.
.
.
.
"Halo Wonho-ya"
Wonho tersedak saat ia mendengar suara sunbae mesum yang meciumnya tadi pagi. Tanpa mempedulikan Jaebum, Wonho tetap fokus dengan makanannya.
"Hai Seokjin"
"Halo Yugyeom sunbae"
Dan tentu saja nasib Yugyeom lebih beruntung daripada Jaebum, karena memang Seokjin anak yang ramah dan tentu saja baik hati. Dengan senyuman manisnya ia membalas sapaan Yugyeom. Sedangkan Yugyeom yang mendapat serangan hanya mampu terpaku sesaat.
Disisi lain Jihoon dan Woojin tentu saja menyadari gelagat 2 teman dan 2 sunbaenya. Hanya 3 sebenarnya karena gelagat Seokjin biasa saja. Anak satu itu sepertinya tidak bisa mendeteksi bahaya yang menghampirinya. Semua yang menghampiri Seokjin selalu terlihat baik di mata anak polos itu.
Yugyeom lalu tersadar dan duduk disamping Seokjin. Seokjin sendiri masih sibuk makan dan tidak terlalu peduli dengan sekitarnya. Bahkan saat Yugyeom semakin mendekatinya ia bersikap biasa saja. Malah teman-temannya yang bersikap tidak biasa.
"Seokjin antarkan aku ke toilet" Wonho mendengus melihat Yugyeom yang menatapnya sengit. Ia tidak peduli, Wonho harus memisahkan Seokjin dari Yugyeom. Kalau Jaebum saja bersikap seperti itu, Yugyeom sendiri mungkin sama saja.
"Ayo. Aku juga mau ke toilet"
Dan tanpa menunggu lama Wonho langsung membawa Seokjin meninggalkan kantin. Dan Wonho tentu tidak sengaja melihat seringai diwajah Min Yoongi sambil menatapnya? Atau Seokjinnya? Dan Wonho semakin mempercepat langkahnya.
"Gagal lagi aku" Jihoon pura-pura tidak mendengar saja gumaman Yugyeom yang masih duduk didepannya.
"Ayo pergi"
Jaebum menarik Yugyeom pergi, lagipula buruannya juga sedang kabur.
"Hey Hoonie"
"Hm?"
"Bagaimana menurutmu?"
Jihoon sudah menyelesaikan makannya, 10 menit lagi jam istirahat akan selesai. Ia menolehkan kepalanya melihat Woojin yang duduk terdiam seolah memikirkan sesuatu.
"Wonho masih bisa melawan, tapi Seokjin?" Jihoon tentu saja mengerti arah pembicaraan Woojin.
"Tenang saja, sekarang Seokjin juga punya kita"
Sama seperti Woojin, Jihoon juga mengkhawatirkan Seokjin kecilnya yang polos. Bisa-bisa dunia kejam ini terus menyakitinya kalau ia tidak dijaga. Jujur saja Jihoon tidak tau kenapa ia ingin menjaga Seokjin, meskipun ini pertemuan pertama mereka, tapi Jihoon merasa selalu khawatir pada Seokjin.
.
.
Seokjin tengah membasuh tangannya di wastafel sedangkan Wonho masih berada disalah satu bilik toilet. Hingga seorang siswa memasuki toilet dan terkejut melihat Seokjin.
"Oh? Anak manis?" Seokjin yang mendengar itupun melihat sekelilingnya, dan tidak ada siapapun selain dirinya dan siswa didepannya.
"Aku?"
Siswa itu tersenyum senang, "Kau...kalau tidak salah..em..Seokjin? Kim Seokjin bukan?"
Seokjin hanya mengangguk sekilas. Ia tidak mengenal siswa ini, tapi ia balas tersenyum, "Ne, saya Kim Seokjin"
"Kita bertemu didepan gerbang saat acara pengenalan" Seokjin berusaha mencari ingantan tentang siswa didepannya ini. Dan seketika ia terkekeh saat menyadari sunbaenya ini yang bersama Hoseok hyungnya.
"Ah aku ingat sunbae, tapi maaf aku tidak tau nama sunbae"
"Mark"
"Ne?"
Mark tersenyum melihat wajah polos anak manis ini. Hari-harinya memang sedikit lebih indah saat melihat wajah manis anak ini saat pertama kali memasuki sekolah.
"Namaku Mark, Seokjin. Dan panggil aku hyung saja"
Seokjin hanya tersenyum, "Baik Mark hyung"
Ketika ingin memulai pembicaraan, seseorang memasuki toilet dan menghentikan acara perkenalan Mark dan Seokjin. Mark hanya menoleh dan tersenyum kecil sebelum berpamitan dengan Seokjin. Siswa yang memasuki salah satu bilik toilet itu meskipun hanya meliriknya, tapi ia merasa ketakutan karena tatapan tajamnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu"
Seokjin hanya melihat kepergiaan Mark. Ia melihat jam dan sebentar lagi jam istirahat akan selesai.
"Kau masih lama Wonho?" tanya Seokjin. Ia tidak mau terlambat masuk kelas.
"Sebentar Seokjin"
Seokjin hanya menghela napas dan menyandarkan dirinya didepam wastafel. Siswa yang tadi memasuki salah satu bilik toilet akhirnya keluar. Ia yang melihat Seokjin langsung tersenyum yang juga dibalas senyuman oleh Seokjin. Siswa tersebut mendekat dan mencium kening Seokjin sekilas. Sedangkan Seokjin terkekeh.
"Yoongi hyung"
Siswa tadi ternyata Min Yoongi. Ia memang sengaja mengikuti Seokjin, selain karena ingin menemui Seokjin, ia juga ingin menemui teman adik manisnya ini.
"Seokjin.." ucapan Wonho terhenti sesaat setelah ia keluar dari bilik toilet. Matanya menajam saat melihat ketua OSISnya berdiri disamping Seokjin, apalagi tangan sunbaenya itu dengan seenaknya melingkar dibahu Seokjin.
Tanpa merasa takut Wonho langsung menarik Seokjin dan menjauhkannya dari Yoongi. Seokjin sendiri hanya diam dibelakang Wonho, ia sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Sedangkan Wonho sudah memasang badan untuk menghalangi tatapan Yoongi pada Seokjin.
Dan Yoongi? ia bahkan tidak terkejut sama sekali. Bahkan yang sekarang terlihat adalah seringai kecil diwajah pucatnya. Wonho sendiri masih bersikap waspada.
"Kau itu Wonho kan? Teman Seokjin?" Wonho mengernyitkan kening. Ia sedikit memundurkan tubuhnya dan Seokjin yang masih berada dibelakangnya.
"Maaf sebelumnya sunbae. Tapi apa yang sunbae inginkan dari Seokjin?"
Seokjin hanya menatapa Yoongi dan Wonho kebingungan. Sedangkan Yoongi terdiam, namun setelah beberapa saat ia hanya tertawa kecil. Wonho semakin khawatir dengan apa yang akan terjadi. Ia tidak bisa meminta bantuan pada Jihoon atau Woojin sekarang.
"Ya ampun. Sepertinya temanmu ini sangat menyayangimu ne, Seokjinie?"
Perkataan Yoongi membuat Wonho terpengarah. Ia menatap Seokjin dibelakangnya yang tersenyum menatap Yoongi.
"Aku sudah bilang, kalau Wonho itu teman yang baik, hyung"
"Hyung?!" serua Wonho membuat Yoongi tersenyum.
"Lee Wonho ne? Aku Min Yoongi kakak Seokjin" Wonho terbelalak. Kakak Seokjin? Kakak?
"Sepertinya kau sangat menjaga Seokjin ne?" Wonho menatap Yoongi dengan pandangan bersalah. Ia lalu melepas tangan Seokjin dan sedikit membungkukkan badannya. Yoongi tetap tersenyum melihat tingkah Wonho, bahkan ia ingin tertawa melihat wajah merah Wonho.
"Eum..Maaf sunbae...aku..aku tidak tau kalau"
"Sudahlah, angkat kepalamu itu"
Wonho langsung menegakkan kepalanya dan menatap Yoongi yang kembali berwajah datar.
"Seokjin benar kau adalah teman yang baik. Kau sangat melindunginya bahkan dariku"
Ucapan Yoongi membuat Wonho menunduk malu 'bodoh kau Lee Wonho'
"Tapi aku senang kau selalu menemani Seokjinie. Jadi tolong jaga Seokjin selama di sekolah ne?"
Yoongi senang ada siswa yang sepertinya sangat tulus berteman dengan Seokjin, dan bahkan 2 teman baru lainnya.
"Tapi aku bukan anak kecil hyung" rengekan Seokjin membuat Yoongi tersenyum. Ia lalu menatap Wonho lagi yang ikut tersenyum saat mendengar suara Seokjin.
"Jadi boleh aku minta tolong padamu?"
Wonho langsung mengangguk, "Tentu sunbae"
"Kau boleh memanggilku hyung. Jadi tolong jaga Seokjin dan.."
Wonho menatap Yoongi heran,
"Jangan beritau siapapun tentang aku yang merupakan kakak Seokjin. Mengerti?"
Wonho sebenarnya ingin tau alasannya, tapi karena ia terintimidasi dengan wajah datar Yoongi, Wonho hanya mengangguk kaku.
"Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu. Nanti tunggu hyung di gerbang ne Seokjinie" ucap Yoongi mendekati Seokjin dan menepuk pelan kepala Seokjin.
"Ne hyung"
Setelah mendengar jawaban Seokjin, Yoongi lalu beranjak pergi meninggalkan Seokjin yang tersenyum dan Wonho yang masih sibuk dengan pikirannya. Ia memang sedikit bingung dengan fakta yang baru saja diketahuinya. Min Yoongi, ketua OSIS SHS adalah kakak Seokjin? Tapi bukankah marga mereka berbeda? Atau hanya sepupu saja?
"Jinnie, Yoongi hyung itu benar hyungmu kan?" tanya Wonho memastikan.
Seokjin menatap sekilas Wonho dan mengangguk, "Ne. Kenapa memangnya?"
Wonho sebenarnya masih penasaran, tapi ia urungkan saja, karena sepertinya memang begitulah hubungan Seokjin dan Yoongi. Wonho menghelas napas lega sekarang, setidaknya ia tau kepada siapa ia harus mengadu kalau saja ada yang macam-macam pada Seokjin, belum lagi jabatannya yang seorang ketua OSIS. Wonho sedikit tenang sekarang karena ia tidak sendirian menjaga Seokjin, karena pasti diam-diam Yoongi juga mengawasi Seokjin.
"Baiklah kalau begitu, ayo ke kelas. Pasti Woojin dan Jihoon sudah dikelas"
Wonho menarik tangan Seokjin untuk mengikutinya. Meskipun baru 2 hari, tapi Seokjin sudah biasa dengan Wonho yang selalu menggandeng tangannya sepeti takut kehilangannya. Tapi Seokjin senang saja, karena sekarang hyungnya percaya pada Wonho.
"Ayo"
.
.
.
tbc
