Sunbae Or Hyung

.

Cast : All member BTS other

Genre : Family, brother complex

School life (AU)

.

.

.

Part 9

.

.

.

Author Pov

Pelajaran sejarah berlangsung selama hampir 2 jam, namun karena penyampaian materi yang baik, membuat siswa dan siswi tidak merasa bosan seperti siswa di sekolah lain yang mengeluh pelajaran sejarah membosankan. Nyatanya tidak, Han ssaem bisa membuat kelas bosan yang ada dipikiran siswa menjadi kelas yang menyenangkan.

"Masih banyak yang ingin ssaem ceritakan untuk kalian. Namun karena jam sudah berakhir kita lanjutkan minggu depan ne. Sampai jumpa"

Han ssaem meninggalkan kelas 10-2A dengan senyuman hangatnya. Sambil menunggu guru selanjutnya mereka hanya berbincang di kelas. Ada yang bernyanyi, ada yang sibuk berbicara, atau sibuk membaca seperti Seokjin. Memang kebiasaan Seokjin selalu membaca ulang materi yang sudah dipelajarinya. Itu membantunya utuk memahami kembali materi pelajarannya.

"Aku ke toilet sebentar" terdengar suara Jihoon yang sedikit berlari keluar. Woojin hanya menolehkan wajah sekilas dan kembali melanjutkan acara bergosipnya dengan Wonho.

"Lantas bagaimana hubunganmu dengan sunbae mesum itu sekarang?" tanya Woojin.

Wonho merengut tidak suka, "Jangan bahas dia lagi, aku sungguh tidak suka dengan tingkahnya. Aku bahkan tidak mengenalnya dan dia sudah bersikap seenaknya begitu"

Woojin terkekeh dan menepuk bahu Wonho menenangkan, "Tenang saja, aku akan membantumu menghindarinya. Lagipula kita punya musuh yang sama" Woojin lalu menatap Seokjin yang masih sibuk dengan buku pelajarannya. Wonho mengikuti arah pandang Woojin dan ikut menatap Seokjin.

Wonho menatap Woojin menyeringai, "Mohon bantuannyanya"

"Tentu saja" Woojin tertawa. Sedangkan Seokjin, dengan santai terus membaca bukunya tanpa mempedulikan kedua temannya yang sibuk membicarakannya.

Dan saat Jihoon kembali dari toilet, ia membawa 2 barang ditangannya. Woojin dan Wonho hanya menatapnya heran, karena saat Jihoon keluar ia tidak membawa apa-apa. Namun saat kembali malah membawa sesuatu yang sepertinya terpaksa ia bawa karena terlihat dari wajahnya yang sedikit tertekuk.

"Apa itu?" tanya Woojin penasaran.

Jihoon tak mempedulikan ucapan Woojin dan meletakkan 2 benda yang ternyata adalah cokelat, tepat dihadapan Wonho dan Seokjin. "Untuk kalian"

Wonho mengernyit heran dan mengambil note yang tertempel dibungkus cokelatnya.

'For my lovely Prince' - JB

Wonho merinding membacanya dan menyingkirkan benda itu dari hadapannya, "Ayolah aku bahkan baru menyinggungnya tadi untuk tidak menggangguku"

Woojin yang membaca note itu tertawa saja, dan Jihoon masihlah kesal karena menjadi suruhan sunbaenya untuk menyampaikan 'hadiah' bagi para pujaan hati mereka. Saat Woojin masih sibuk menertawakan Wonho, Jihoon malah memandang Seokjin yang sepertinya tidak sadar dengan topik pembicaraan mereka itu. Dan sepertinya Seokjinpun tidak sadar ada sebungkus cokelat didepannya.

"Seokjin, itu untukmu" ucap Jihoon sedikit mengejutkan Seokjin.

"Ne?"

Jihoon tersenyum dan menunjuk cokelat dihadapan Seokjin, "Itu untukmu, dari Yugyeom sunbae"

Seokjin meletakkan bukunya dan mengambil cokelat itu. Baik Wonho, Woojin, dan Jihoon menunggu reaksi Seokjin saat teman polos mereka mendapat hadiah cokelat. Seokjin membaca note yang juga tertempel dibungkus cokelatnya itu.

'Have a nice day, Baby Angel' – Yugyeom.

Seokjin hanya tersenyum saja. Sedangkan 3 teman yang lainnya hanya termenung melihat senyuman Seokjin, apakah ini tanda kalau Seokjin menyukai Yugyeom sunbaenya itu? dan tanpa mempedulikan temannya, Seokjin mengambil note tadi dan menaruhnya dibawah meja, sedangkan cokelat itu masihlah terpajang didepan Seokjin.

"Untuk kalian saja" ucap Seokjin lalu melanjutkan membaca bukunya. Sedangkan ketiga temannya hanya menatap heran, namun dalam hati mereka sangat senang dan mengejek sunbae mereka yang gagal menarik atensi Seokjin.

Jihoon yang hampir tertawa segera merubah ekspresi bahagianya dan menatap Seokjin penasaran, "Kenapa? Kau tidak suka cokelat ya?"

Seokjin hanya menatap Jihoon, ia lalu menyimpan bukunya di tas karena sudah selesai ia baca, "Bukannya aku tidak suka, hanya saja hyungku memintaku untuk jangan mudah menerima pemberian orang lain yang tidak dikenal, dan lagi aku bahkan tidak terlalu mengenal Yugyeom sunbae. Jadi kalian makan saja"

Jihoon yang menahan senangnya akhirnya tersenyum juga sambil mengelus rambut Seokjin, "Hyungmu benar, Seokjin. Jadi seumpama kau mendapat yang seperti ini lagi secara langsung, lebih baik kau terima dulu setelah itu kau berikan pada hyungmu itu"

Seokjin hanya mengangguk mengiyakan, "Tentu saja, aku juga tidak mungkin menyakiti perasaan orang karena menolak pemberiannya"

"Tapi kau baru saja menolak cokelat pemberian Yugyeom sunbae" ucapan Woojin membuahkan tatapan tajam dari Wonho dan juga Jihoon seolah mengatakan 'Apa maksudmu?!', Woojin langsung menutup mulutnya saat menyadari kalau ia akan mati sebentar lagi.

"Ah maksudku..."

"Aku menerimanya kok" ucapan Seokjin membuat Jihoon dan Wonho balik menatap Seokjin. Sedangkan Seokjin mengambil note yang tadi tertempel diatas cokelat tadi dari bawah mejanya, "Sebagai gantinya aku menerima note ini. Jadi setidaknya aku merasa tidak menolak pemberian Yugyeom sunbae, dan tidak melanggar permintaan hyungku" ucapnya tersenyum.

Ketiga temannya lagi-lagi terpengarah, Seokjin sangat baik dan manis sekali. Ya ampun bahkan baik Jihoon, Wonho, dan Woojin siap mempertaruhkan nyawa untuk menjaga kepolosan Seokjin agar tidak tercemar. Baiklah, sepertinya para knight harus lebih bersiaga nantinya.

Wonho lalu memeluk Seokjin, "Seokjin, kau tau kalau aku menyayangimu, kan? Aku akan berusaha tetap disampingmu"

Seokjin tersenyum dan balas memeluk Wonho, "Tentu saja" sedangkan Jihoon dan Woojin tersenyum menatap teman mereka.

"Kau tidak menyayangi kami juga, Jinnie?" tanya Woojin pura-pura cemberut. Seokjin melepas pelukan Wonho dan menatap Woojin dengan tawa kecilnya.

"Tentu saja aku juga sayang pada kalian berdua"

Jihoon tersenyum dan memeluk Seokjin sekilas, sedangkan Woojin sudah tertawa bahagia dengan Wonho. Mereka menikmati kebahagiaan mereka tanpa menyadari perasaan cemburu Guanlin yang hanya mampu mendengar tawa Seokjin tanpa bisa ikut tertawa bersamanya. Dari tempatnya duduk ia hanya mampu melihat jika tawa Seokjin sangatlah indah. Bisakah Guanlin berharap kalau ia bisa menjadi alasan Seokjin untuk tertawa suatu saat nanti?

"Annyeonghaseyeo"

Jihoon dan Woojin langsung kembali ketempat duduk mereka saat melihat guru mereka sudah memasuki kelas. Sedangkan Seokjin dan Wonho mulai menyiapkan alat tulis mereka. Dan mereka harus kembali serius di jam pelajaran kedua.

.

.

.

Saat menengok ke kelas 11-1B, nampaknya jam pelaran mereka saat ini adalah olahraga. Karena nampak hampir semua siswa dan siswinya sudah memakai seragam olahraga dan mulai beranjak menuju lapangan. Dan salah seorang dari mereka sepertinya sangat semangat, ia sedikit berlari dan meninggalkan temannya.

"Yak! Chanyeol-ah"

Chanyeol tidak mempedulikan teriakan temannya itu dan terus berlari, hingga ia sampai di ruang kelas siswa kelas 10. Matanya terus menatap kedalam kelas dengan posisi tetap berlari kecil. Hingga ia harus berhenti di depan seorang guru yang akan memasuki kelasnya. Guru tersebut menatap aneh Chanyeol yang tersenyum kecil karena merasa bersalah.

"Kenapa kau terburu begitu? Nampaknya Joon ssaem belum berada di lapangan"

Chanyeol mengangguk sebentar, "Maaf Jung ssaem, saya hanya ingin melakukan pemanasan" ia menatap gurunya itu.

Jung ssaem hanya menggelengkan kepala, "Lain kali kurangi tingkah gilamu itu, Chanyeol. Dan jangan berlarian lagi di koridor"

"Baik ssaem. Saya mohon maaf" Jung ssaem hanya mengangguk dan memasuki kelasnya. Chanyeol yang melihat kedalam kelas Jung ssaem terpaku pada sosok namja manis yang membuatnya melayang kemarin. Ya, Kim Seokjin. Chanyeol melihat pergerakan Seokjin yang mengambil peralatan tulisnya dan fokus menatap Jung ssaem. Ya ampun, ketika ia diam pun membuatnya terpesona.

Ketika masih terpaku melihat Seokjin, seseorang sudah berdiri disamping Chanyeol dan menepuk bahunya pelan, "Boo.."

"Ya?!" Setelah berteriak karena terkejut, Chanyeol segera menunduk dan berlari menuju lapangan. Ia menghela napas dan menatap tajam seseorang yang mengagetkannya tadi. Sedangkan orang tersebut hanya tertawa saja.

"Dasar kau Kim Taehyung. Beruntung Jung ssaem tidak mempedulikan teriakanku"

Sedangkan Taehyung masih saja tertawa, "Lagipula mengapa kau ada di depan kelas 10-2A dengan wajah menyebalkanmu itu"

Chanyeol hanya mendengus dan kemudian mengingat tingkahnya di depan kelas tadi, "Aku memandang karya Tuhan yang paling indah" ucapnya tersenyum sumringah.

"Huh?"

"Kau pasti belum melihatnya kan? Namanya Kim Seokjin, dan aku yakin tidak ada makhluk terindah selain dia. Dia cantik sekali"

Taehyung sebenarnya ingin memukul Chanyeol karena sikap lebaynya, belum lagi ia membawa-bawa nama adik manisnya itu. Andai saja ia bisa leluasa mengklaim Seokjin sebagai miliknya.

"Lantas?"

Chanyeol berdecih, "Seharusnya kau sudah tau bukan Tae, kalau.."

"Kalau kau menyukainya. Itukan maksudmu telinga lebar?" ucap Jongdae yang baru bergabung dengan mereka. Sungguh temannya ini sepertinya sangat menyukai anak kelas satu itu, karena tingkah menyebalkannya semakin bertambah. Senyum-senyum sendiri di kelas, membanggakan sang idaman dihadapan temannya, dan barusan bahkan berlarian di koridor hanya untuk melihat sang pujaan hati. Ingin Jongdae tidak mengakuinya sebagai teman.

Chanyeol tertawa dan merangkul bahu Jongdae, "Kau memang temanku"

Jongdae hanya mendengus dan melepas rangkulan Chanyeol untuk mulai pemanasan. Sedangkan Taehyung hanya memandang Chanyeol saja, ia biarkan saja Chanyeol mendekati Seokjin. Namun saat memikirkan Seokjin, Taehyung jadi menyeringai mengingat sifat Seokjin. Ia mulai bergabung dengan Jongdae juga teman-teman lainnya untuk pemanasan. 'Kita lihat, apa ia bisa menarik perhatian Seokjin' Taehyung tak terlalu peduli, selama tidak mengganggu Seokjin, Taehyung hanya akan melihat saja. 'Aku jadi merindukan adik kecil manisku itu'.

.

.

.

"Kerjakan latihan soalnya dan kumpulkan minggu depan ne."

"Ne ssaem"

Jung ssaem merapikan barangnya setelah mendengar bel istirahat berbunyi, dan segera berpamitan pada siswanya lalu meninggalkan kelas. Setelah kepergian Jung ssaem tentu saja kelas menjadi kembali berisik bersamaan siswa dan siswi yang meninggalkan kelas untuk menuju kantin sekolah. Dan seperti biasa, Seokjin sudah membawa bekalnya dan menatap ketiga temannya yang sudah menunggu.

"Aku akan makan enak hari ini" ucap Woojin sambil melangkah keluar dengan merangkul Wonho yang mengerucutkan bibirnya.

"Tentu saja karena makanan gratis kan?" ucap Wonho sarkatis.

Jihoon dan Woojin tentu tertawa senang, "Kau tau saja prince" ucap Woojin menggoda Wonho yang malah membuat Wonho semakin cemberut.

"Jangan panggil aku seperti itu bodoh" Wonho lalu melepas rangkulannya dan melangkah mendahului 3 temannya itu. Tentu saja Woojin dan Jihoon hanya tertawa saja, sedangkan Seokjin hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu yang suka sekali menggoda.

Koridor jelas ramai dengan para siswa, karena tujuan mereka kantin juga. Semuanya berkumpul jadi satu, dan koridor jadi sangat berisik. Banyak yang bercanda dan mengobrol, belum lagi Seokjin melihat salah seorang siswa tengah berlarian, atau mungkin kejar-kejaran. Jihoon yang berada didepan Seokjin sesekali menengokkan kepalanya untuk melihat keberadaan temannya itu, takut Seokjin diculik.

Seokjin masih tenang-tenang saja berjalan perlahan dibelakang Woojin dan Jihoon. Awalnya memang tidak ada perasaan aneh, tapi saat hampir sampai di kantin ia merasa seseorang memperhatikannya. Seokjin sebenarnya tidak peduli siapa yang menatapnya, hanya saja ia merasa tatapan orang ini malah membuatnya tidak nyaman. Saat kepalanya menoleh kesisi belakang, Seokjin tidak bisa memastikan siapa yang menatapnya itu karena terlalu banyak siswa yang berlalu-lalang.

Mencoba menghilangkan pikiran buruknya, Seokjin kembali melangkah tanpa mempedulikan sekitarnya. Dan ketika akan memasuki area kantin, Seokjin merasa ada orang yang menabraknya.

"Yak! Hati-hati" Seokjin menolehkan kepalanya saat mendengar suara seorang perempuan dibelakangnya. Saat menolehkan kepalanya ia melihat seorang siswi yang berdiri dengan angkuhnya dan seorang siswa yang tengah mengambil bukunya yang terjatuh. Sepertinya perempuan ini tidak sengaja menabraknya.

"Eh Guanlin"

Seokjin segera membantu Guanlin berdiri. Ternyata siswa yang tengah mengambil buku itu adalah Guanlin.

"Kau tidak apa-apa?"

Guanlin mengangguk menatap Seokjin, "Aku baik. Terima kasih"

"Lain kali hati-hati Guanlin-ssi" Seokjin menolehkan wajahnya dan menyadari kalau siswi yang berada dibelakangnya itu adalah Seulgi. Sedangkan Seulgi menatap tajam Guanlin yang tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan itu.

Sepertinya Guanlin tidak sengaja menabrak Seulgi yang kebetulan berada dibelakang Seokjin. Jadinya buku Guanlin jatuh dan Seulgi menabraknya. Begitulah pemikiran dalam kepala Seokjin. beberapa saat kemudian, Seokjin tersentak saat ada yang menepuk pundaknya, "Jihoon"

Jihoon tiba-tiba sudah berada disampingnya, ia lalu merangkul bahu Seokjin, "Ada apa?" Matanya menatap Seulgi yang ada didepan Seokjin dengan pandangan curiga. Sejak pertama ia melihat siswi didepannya ini, Jihoon sudah berfirasat kalau anak ini memiliki maksud tertentu, terlebih ia secara jelas mendekati Seokjin.

"Aku hanya membantu Guanlin, barusan bukunya terjatuh" Jihoon mengangguk dan menatap Guanlin yang masih setia dengan wajah datarnya. Guanlin hanya menunjukkan bukunya yang terjatuh tadi.

Jihoon kembali mengangguk lalu menarik Seokjin ke kantin, "Ayo, Woojin dan Wonho sudah menunggumu" mereka lalu beranjak, dan meninggalkan Guanlin yang kembali melangkah serta Seulgi yang tengah menahan emosinya.

'Sial!'

'Kau pikir aku tidak tau maksudmu'

.

.

.

"Kenapa lama? Terjadi sesuatu?" tanya Wonho. Ketika Woojin dan dirinya sudah menemukan tempat duduk, Jihoon dan Seokjin malah belum kelihatan. Jadinya ia sempat khawatir. Tapi beruntung saat Wonho akan menyusul, 2 temannya sudah mendekati meja mereka.

Seokjin hanya menggeleng, sedangkan Jihoon hanya terdiam saja.

"Ada apa?" tanya Woojin melihat ekspresi Jihoon yang tidak biasa.

"Kami bertemu rubah" ucap Jihoon.

"Hah?!"

Seokjin jadi bingung, rubah?

"Siapa rubah itu Jihoonie? Bukankah tadi kita hanya bertemu Guanlin dan Kang Seulgi?"

Dan saat mendengar nama Seulgi, Woojin dan Wonho secra bersamaan terbelalak. Pantas saja Jihoon seperti ini. Mereka berdua juga akan jengkel jika melihat perempuan itu. Bukannya mereka benci, hanya saja, mereka bertiga sama-sama merasakan aura tidak menyenangkan disekitar siswi tersebut.

"Ah bukan apa-apa kok. Kau mau pesan minum apa Seokjin?" tanya Wonho mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Jihoon dan Woojin sudah bersikap normal.

Seokjin yang tidak curiga hanya menjawab pertanyaan Wonho. Lalu setelah itu Wonho menarik Woojin untuk memesan makanan. Tugas Woojin tentu saja untuk memesankan makanan Jihoon, dan Wonho sudah jelas ia yang membayar sekaliah memesankan minuman Seokjin.

Sedangkan Jihoon hanya menatap Seokjin yang tengah meletakkan bekalnya, "Apakah Seulgi mnegatakan sesuatau padamu, Jinnie?" Jihoon hanya tidak mau kalau Seulgi menyentuh Seokjin.

"Dia tidak mengatakan apapun" ucap Seokjin santai. Pandangannya terarah keseluruh area kantin. Sepertinya para hyungnya belum datang.

Jihoon tersenyum dan mengelus rambut Seokjin. Namun senyuman itu pudar saat melihat seseorang dengan kurang ajar duduk dihadapan Seokjin.

"Hai Seokjin" sapa siswa itu.

'Siapa lagi ini?' pikir Jihoon.

Sedangkan Seokjin hanya tersenyum kecil, "Halo Chanyeol sunbae"

Chanyeol memang tadi berniat menemui Seokjin di kelasnya, namun saat sampai sana semua penghuninya telah pergi. Jadinya ia menyusul ke kantin. Dan beruntungnya ia melihat Seokjin tengah duduk dengan temannya, mungkin. Karena Chanyeol melihat sikap manis anak ini pada Seokjin.

"Annyeong sunbae" Jihoon sebenarnya malas menyapa, namun ia hanya ingin bersikap sopan. Karena bagaimanapun dia adalah seniornya.

"Ne" jawab Chanyeol singkat. Karena selebihnya yang ia lakukan adalah memperhatikan Seokjin, yang jelas tidak menyadari pandangan Chanyeol padanya karena ia tengah sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Jihoon sudah memandang aneh Chanyeol saat sunbaenya itu menampilkan senyum menyebalkan sambil menatap Seokjin.

"Apakah anak ini pasanganmu, Seokjin?" tanya Chanyeol sambil menunjuk Jihoon. Yang membuat Jihoon terbatuk dan Seokjin yang kebingungan. Jihoon tidak habis pikir, kenapa ia memiliki senior yang seperti ini.

"Maaf, pasangan apa sunbae?" tanya Seokjin yang memang tidak mengerti.

Chanyeol yang gemas dengan tingkah Seokjin hanya berdehem, "Maksudku kekasih atau pacarmu begitu"

Seokjin hanya mengangguk dan Jihoon mengalihkan pandangannya. Sungguh ia berharap Woojin dan Wonho segera datang. Jihoon sudah ingin muntah mendengar pembicaraan ini.

"Dia temanku sunbae, namanya Park Jihoon"

Sedangkan Chanyeol melebarkan senyumannya, "Jadi kau tidak punya pacar?"

'Modus' Jihoon jadi ingin mengumpat.

Seokjin kembali menggeleng, "Tidak sunbae"

Perasaan Chanyeol semakin bahagia. Ia yakin ini adalah kesempatannya untuk menjadikan Seokjin sebagai kekasihnya dan memamerkannya pada teman-temannya.

"Em...Kau mau jadi pacar sunbae, Seokjin?"

"APA?!" itu adalah teriakan Woojin dan Wonho yang tepat berada disamping Seokjin. Semua siswa siswi langsung memandang kearah mereka, namun hanya sebentar saja. Sedangkan Jihoon sudah terbelalak dengan tingkah blak-blakan sunbaenya ini. Bahkan Woojin dan Wonho sudah berniat akan melemparkan makanan mereka pada sunbae kurang ajar ini.

Sedangkan Chanyeol sudah tersenyum manis, ia tidak peduli dengan tiga orang anak kecil yang berada disamping Seokjin. Yang penting tujuannya terpacai. 'aku akan dapat pacar' ujarnya kesenangan.

Seokjin hanya menatap bingung Chanyeol, "Maaf sunbae, bukankah kalau orang berpacaran itu saling mencintai ya?"

"Tentu saja" ucap Chanyeol senang 'karena aku sudah mencintaimu'

Seokjin jadi semakin kebingungan, "Tapi aku tidak mencintai sunbae"

TREK

Entah telinga Chanyeol yang terlalu peka, atau karena ucapan Seokjin yang tiba-tiba, tapi sepertinya ia mendengar suara hatinya yang patah. Sedangkan Wonho, Jihoon, dan Woojin ingin meledakkan tawa mereka namun mereka tahan untuk menghargai perjuangan sunbae mereka.

"Ah kalau begitu, bagaimana kalau kita berteman dulu?" ucap Chanyeol yang sudah kehilangan semangat

Sedangkan Seokjin tersenyum, "Boleh sunbae"

Chanyeol tersenyum masam, namun dihatinya ia masih berharap pada Seokjin, "Sekarang kau harus memanggilku hyung, karena kita berteman sekarang"

"Baiklah Chanyeol hyung"

Chanyeol yang merasa lelah lalu beranjak pergi, ia jadi tidak bernapsu makan, "Kalau begitu sampai bertemu nanti Seokjin"

"Dah hyung"

Dan Chanyeol harus merelakan hatinya patah diawal perjuangan. Tapi meskipun begitu ia akan berusaha lagi untuk bisa menjadikan Seokjin sebagai pacarnya. Yah Chanyeol yakin ia pasti bisa meluluhkan hati Seokjin nanti. 'tunggu saja Seokjinie. Kau akan mencintaiku nanti'

Setelah kepergian Chanyeol tawa Woojin, Wonho dan Jihoon akhirnya terlepas juga. Bahkan Woojin sampai meneteskan air matanya karena meras terhibur dengan drama dadakan antara Seokjin dan sunbaenya itu.

"Oh tidak perutku" ucap wonho sambil memegang perutnya. Sungguh ia tidak bisa menahan tawanya lagi. Sedangkan wajah Jihoon sudah memerah karena tawanya.

Seokjin yang melihat ketiga temannya itu tertawa tidak mengerti sama sekali. Apa ada hal yang lucu?

"Kenapa kalian tertawa? Memang ada yang lucu"

Seokjin tidak mendapatkan jawabannya. Karena temannya itu kembali tertawa dan semakin kencang. Beruntung semua orang di kantin sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

"Tidak Seokjin. Hanya saja kau sangat berbakat" ucap Woojin ditengah tawanya.

"Huh?"

"Mematahkan hati orang"

Dan ketiga orang itu kembali tertawa meninggalkan Seokjin yang masih kebingungan.

.

.

.

tbc

halooooo

sorry ga bisa up barengan kaya dulu

satu satu aja ne...

sorry for typo everywhere

thank u

semoga cerita ini bisa menghibur kalian :)