Sunbae Or Hyung

.

Cast : All member BTS other

Genre : Family, brother complex

School life (AU)

.

.

.

Part 10

.

.

.

Author Pov

Jam istirahat telah selesai dan sekolah kembali sepi karena pelajaran kembali dimulai. Sama halnya dengan kelas Seokjin yang hening. Bukan karena sedang fokus menulis, tapi karena memang para murid sedang tidak ada di kelas. Para murid 10-2A sedang berada di lab komputer.

Tapi malang bagi Seokjin, ia melupakan bukunya di kelas hingga membuatnya harus berlari untuk mengambilnya. Beruntung gurunya baik mengijinkannya untuk kembali. Dan disinilah Seokjin, didalam kelas menuju tempat duduknya. Ia segera membuka tas miliknya dan mengambil bukunya yang tertinggal.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal ia langsung berlari keluar karena tidak ingin tertinggal pelajaran. Namun naas, saat baru berbelok dari pintu kelas, Seokjin tanpa sengaja menabrak seseorang dan membuatnya jatuh terduduk. Sedangkan orang yang ditabraknya masih berdiri dengan wajah terkejutnya.

"Hey, kau tidak apa-apa?" orang tersebut membantu Seokjin berdiri.

"Maafkan saya" ucap Seokjin menunduk, menyesal karena terburu-buru hingga membuatnya seperti ini.

Sedangkan orang didepannya hanya tersenyum saja. Ia tidak apa-apa, hanya terdorong sedikit. Yang kasihan siswa, yang mungkin adik kelasnya, yang jatuh terduduk barusan. Ia kembali meneliti tubuh kecil didepannya ini dan menemukan sedikit ruam merah ditelapak tangannya.

"Hey, kau terluka?" tanpa menunggu persetujuan Seokjin, orang itu lalu mengambil tengannya yang terluka. Seokjin mengangkat kepalanya dan menatap wajah namja yang sedang memperhatikan lukanya. Seokjin tidak sadar ia terluka, mungkin karna terjatuh tadi tangannya sedikit tergores lantai.

"Uh"

Namja tersebut menatap Seokjin khawatir saat mendengarnya meringis, karena tanpa sengaja menekan memar itu. Seokjin sendiri kembali menunduk.

Namja tersebut tersenyum. Mungkin anak ini takut dimarahi. "Ayo aku antar ke UKS dulu, lukamu harus diobati"

Seokjin menggelengkan kepalanya yang membuat namja didepannya ini terheran, "Maaf. Tapi saya ada kelas, dan harus segera ke lab sekarang"

Namja tersebut mengangguk mengerti, "Baiklah, tapi kita obati dulu ne"

"Tapi"

"Sudahlah. Nanti aku akan antar ke lab. Sekalian menjelaskan keterlambatanmu. Ayo"

Seokjin hanya diam saja saat orang didepannya ini menariknya pelan. Dan tangannya masih digenggam erat. Setelah berjalan sebentar akhirnya mereka sampai di UKS. Namja tersebut berdiri didekat pintu membiarkan penjaga UKS memeriksa luka Seokjin. Dan melihat Seokjin yang meringis saat tangannya diobati, membuat namja tersebut tersenyum. Anak ini manis dan menggemaskan.

"Baiklah. Lain kali hati-hati ya"

"Ne. Terima kasih." Seokjin membungkuk hormat pada penjaga UKS dan menuju namja tadi yang masih menungguinya. Sepertinya ia memang akan mengantar Seokjin.

"Kau baik-baik saja?" tanya namja tersebut.

Seokjin mengangguk, "Ne. Saya baik-baik saja. Saya minta maaf karena menabrak anda barusan"

"Hey, aku ini hanya kakak kelasmu, bukan seorang guru" ucapnya terkekeh. Ia geli sendiri mendengar adik kelasnya menggunakan bahasa yang terlalu formal.

"Ah maafkan aku, sunbae"

"Sudahlah tidak apa-apa. Oh ya, aku Lee Jaehwan, siapa namamu?" tanya Jaehwan sambil tersenyum. Ia merasa senang melihat adik kelasnya ini. Entah mengapa.

"Kim Seokjin, sunbae" Jaehwan mengernyit. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu? Tapi ia lupa dimana pernah mendengarnya.

"Baiklah Seokjin, ayo aku antar"

"Terima kasih sunbae"

Jaehwan terkekeh dan mengelus rambut Seokjin pelan, "Hyung saja, Seokjin"

Seokjin yang diperlakukan seperti itupun tersenyum, "Baik hyung"

Jaehwan mengantar Seokjin seperti yang ia katakan tadi. Ia hanya tidak mau guru Seokjin memarahinya karena terlambat, padahal ada sedikit kecelakaan yang membuat Seokjin lama kembali ke lab. Sesampainya didepan pintu lab, Jaehwan mengetuk pintu dan membukanya.

"Permisi"

"Oh, Jaehwan. Ada yang bisa dibantu?"

Jaehwan menunduk sebentar, "Maaf Song ssaem. Saya kemari karena mengantar siswa anda Kim Seokjin."

Song ssaem lalu beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan 3 teman Seokjin yang dari tadi khawatir, semakin khawatir karena Seokjin diantar oleh seseorang yang tidak mereka kenal.

Seokjin yang mendengar langkah kaki dari dalam, langsung berdiri disamping Jaehwan. Ia membungkuk sejenak dihadapan Song ssaem yang bingung melihatnya, "Seokjin"

"Maafkan saya, ssaem. Saya terlambat"

"Maaf ssaem. Seokjin tadi terburu-buru kemari dan tidak sengaja menabrak saya, hingga tangannya terluka. Jadi saya membawanya ke UKS dulu, makanya ia terlambat"

Song ssaem terkejut, "Ya ampun, kau baik-baik saja kan, Seokjin?" tanya Song ssaem khawatir.

"Saya sudah tidak apa-apa, ssaem. Ini berkat Jaehwan sunabe" ucap Seokjin.

"Syukurlah. Kalau begitu kau masuklah, Seokjin."

"Terima kasih ssaem" Seokjin lalu memasuki lab setelah tersenyum sekilas pada Jaehwan. Sedangkan Jaehwan juga balas tersenyum pada adik kelasnya itu.

Song ssaem lalu menatap Jaehwan, "Terima kasih ya, Jaehwan. Kau boleh kembali ke kelasmu."

"Kalau begitu saya permisi, ssaem" Jaehwan menunduk dan beranjak dari depan lab komputer.

Song ssaem kembali masuk dan melihat Seokjin yang sudah duduk tenang. "Baiklah kita lanjutkan pelajarannya"

.

.

.

Setelah 2 jam pelajaran di lab, siswa 10-2A kembali ke kelas mereka untuk pelajaran selanjutnya. Karena masih 10 menit lagi, beberapa siswa memilih mampir ke kantin sebentar, atau ke toilet. Tapi berbeda dengan Wonho, Woojin, dan Jihoon. Mereka segera menarik Seokjin ke kelas dan mengelilinginya. Seokjin sendiri hanya menatap ketiganya bingung.

"Kenapa?"

Ketiganya masih terdiam, sebelum memeluk Seokjin bersamaan. Seokjin sendiri terkejut dan hampir jatuh kalau tidak ada Wonho yang memegangnya.

"Ya ampun Seokjin, kau baik-baik saja kan? Tidak ada hal buruk yang terjadi kan? Tidak ada orang yang menggodamu kan? Atau ada yang mengancammu tadi? Kau.."

"Diam Wonho!" Ok Wonho segera menutup mulutnya saat Jihoon membentaknya. Sedangkan Woojin masih memeluk Seokjin sambil sesekali menciumi rambut Seokjin gemas. Khawatir yang berlebihan.

"Seokjin, kau darimana tadi? Kenapa lama sekali? Kami mengkhawatirkanmu. Apalagi melihat orang asing mengantarmu tadi" ucap Jihoon. Mereka hanya takut terjadi sesuatu pada Seokjin. Sebagai teman merangkap penjaga Seokjin, mereka bertiga selalu overprotektif padanya. Padahal Seokjinnya biasa saja.

"Aku minta maaf karena membuat kalian khawatir. Tadi aku auww"

Seokjin lalu menarik tangannya yang terluka. Woojin tidak sadar mengenggamnya terlalu erat. Dan ketiganya menatap horor telapak tangan Seokjin yang tertutup plester.

"Tanganmu kenapa?!" ucap mereka bertiga bersamaan. Seokjin meringis mendengarnya, sedangkan siswa lain yang ada disana hanya menatap bingung kearah mereka.

"Kalian tenang sedikit ya" ucap Seokjin tenang. Teman-temannya ini memang kadang terlalu berlebihan.

"Ini karena"

"Annyeonghaseyeo"

Woojin dan Jihoon segera kembali ke kursi mereka, sedangkan Wonho langsung tenang. Mereka harus menahan rasa penasaran mereka sampai jam pelajaran berakhir. Sedangkan Seokjin kembali ke rutinitasnya. Mengamati penjelasan guru dengan cermat, tanpa mempedulikan pandangan penasaran ketiga temannya.

.

"Makanya Jaehwan sunbae mengantarku ke lab, mungkin takut aku akan dimarahi Song ssaem karena terlambat" ucap Seokjin sambil membereskan peralatan tulisnya. Woojin dan Jihoon sudah berada disamping Seokjin seperti tadi. Sedangkan Wonho memandang ketiganya dari bangkunya. Mereka masih belum pulang karena menunggu cerita Seokjin.

"Syukurlah kalau kau tidak apa-apa. sepertinya Jaehwan sunbae itu baik" ucap Woojin. Ia tidak mau berprasangka buruk dulu pada orang yang sudah berbuat baik pada Seokjin.

"Ya sudah ayo pulang" ucap Wonho dan berdiri. Ia merenggangkan pinggangnya dan menatap ketiganya yang mulai beranjak juga.

Koridor masih sangat ramai dengan banyaknya siswa yang berlalu lalang meninggalkan sekolah. Suara siswa yang bercanda juga menemani perjalanan mereka ke area parkir sekolah. Setelah sampai, Jihoon langsung mengambil sepeda Woojin. Mereka memang selalu bergantian untuk mengendarai sepeda ini. Saat berangkat Woojin, dan pulangnya Jihoon. Atau bahkan sebaliknya.

"Kalian?" tanya Jihoon yang sudah menaiki sepeda.

"Aku naik bus, Seokjin sedang menunggu jemputannya. Kalian duluan saja" ucap Wonho menjelaskan.

Woojin dan Jihoon mengangguk bersamaan, "Kalau begitu sampai jumpa besok" teriak Woojin dan Jihoon sudah berdadah heboh pada mereka berdua.

Seokjin dan Wonho hanya menatap mereka sambil tertawa. Dua orang temannya itu memang selalu membuat tertawa. Seokjin mengecek ponselnya begitupun Wonho. Berbeda dari Seokjin yang tenang, Wonho nampak gelisah disampingnya.

"Kenapa Wonho?" tanya Seokjin. Wonho memandang Seokjin merasa bersalah.

"Maaf Seokjin, aku harus pulang lebih dulu. Ibu mengirim pesan agar aku segera pulang" Ucap Wonho menyesal.

Seokjin hanya tersenyum, "Tidak apa-apa. Kau pulanglah dulu. Aku akan ke ruang OSIS menemui Yoongi hyung untuk menemuinya. Ia memintaku untuk kesana"

Wonho mengangguk, "Aku antar ne?"

"Tidak usah. Aku bisa kesana sendiri. Kau cepatlah pulang, ibumu pasti menunggu" ucap Seokjin menenangkan. Lagipula ia juga sudah tau ruangan OSIS. Jadi ia tidak perlu takut tersesat untuk kesana seorang diri.

Wonho sebenarnya tidak rela, tapi ia juga harus segera pergi, "Kalau begitu hati-hati ya. Sampai jumpa besok" ucap Wonho lalu memeluk Seokjin. Setelah melepas pelukannya Wonho segera pergi menuju halte didekat sekolah. meninggalkan Seokjin yang harus kembali kedalam sekolah menuju ruang OSIS.

.

.

.

Sekolah sedikit lebih sepi karena hampir semua penghuninya sudah pulang. Beberapa siswa memang masih terlihat, namun seolah sibuk dengan urusan mereka sendiri. Seokjin memang baru kali ini akan mengunjungi hyungnya itu karena sang hyung masih ada rapat sebentar. Mau tidak mau Seokjin harus kesana daripada sendirian di parkiran.

Tepat sebelum berbelok di koridor, seseorang merangkul Seokjin, "Hei Seokjin"

Seokjin yang terkejut menolehkan kepalanya, dan mendapati orang yang dikenalnya berada disampingnya, "Daniel" yah Kang Daniel. Teman yang ditemuinya kemarin.

"Kau sedang apa? Belum pulang?" tanya Daniel penasaran. Dan tangannya dengan kurang ajar masih bertengger dibahu Seokjin.

Dilihat dari arah datang Daniel, sepertinya sudah berniat pulang. "Aku mau ke ruang OSIS dulu. Ada keperluan"

Daniel mengernyit heran, "Kau mau masuk OSIS?"

"Tidak. Hanya ingin menemui seseorang. Kau sendiri tidak pulang?" tanya Seokjin. Ia harus segera kesana, takut rapatnya sudah selesai dan Seokjin harus kembali ke parkiran.

"Aku akan pulang setelah mengantarmu" ucapnya tersenyum manis. Daniel ingin sedikit berlama-lama disamping oarang yang mengambil alih perhatiannya.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri, kau pulanglah ne" ucap Seokjin melepas rangkulan Daniel. Sebenarnya ia merasa tidak enak tapi ia juga buru-buru.

"Sampai jumpa, Daniel" Seokjin segera beranjak namun tangannya tertahan dalam genggaman Daniel. Seokjin menolehkan wajahnya dan mendapati Daniel yang masih setia berdiri disana dengan senyumannya.

Daniel perlahan mendekat dan melepas genggaman tangannya, ia lalu mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus rambut Seokjin, "Sampai jumpa besok, cantik" ucap Daniel dengan tambahan wink darinya. Ia lalu melangkah pergi meninggalakan Seokjin yang menatapnya bingung. Seokjin hanya mengedikkan bahu dan kembali ketujuan awal menuju ruang OSIS. Ia tidak sadar telah digoda temannya sendiri.

Ruang OSIS sudah didepannya, namun Seokjin menghentikan jalannya saat melihat Guanlin yang baru saja keluar dari ruang guru. Memang ruang OSIS berdekatan dengan ruang guru.

"Guanlin"

"Seokjin"

Seokjin mendekatinya, "Kau belum pulang?"

"Aku masih menemui Song ssaem, menanyakan tugas kita tadi" ucap Guanlin, "Kau sendiri?"

Seokjin mengangguk, "Aku mau ke ruang OSIS, ada keperluan. Kalau begitu aku duluan ya"

Guanlin mengangguk, namun ia teringat sesuatu saat akan melangkah, "Tunggu Seokjin"

"Ne?" Seokjin yang tidak terlalu jauh menghentikan langkahnya.

Guanlin mendekati Seokjin dan berdiri dihadapannya, "Tanganmu. Baik-baik saja?"

Seokjin yang sedikit bingung, langsung mengingat kejadian tadi, "Oh ini, sudah tidak apa-apa kok" ucapnya sambil tersenyum menatap Guanlin.

"Boleh kulihat?" Sebenarnya ia takut Seokjin tidak nyaman, namun ia terlalu khawatir dengan keadaan Seokjin. Sedangkan Seokjin yang pikirannya selalu positif mengangkat tangannya yang terluka dan ia hadapkan pada Guanlin. Dan dengan perlahan Gunalin menarik tangan Seokjin melihat luka yang sudah ditutup plester itu. Tanpa sadar jarinya mengelus plester tersebut.

"Tidak sakit?"

Seokjin menggeleng, "Tidak kok. Aku kan sudah bilang aku baik-baik saja"

Guanlin hanya mengangguk sekenanya. Ia sangat menyayangkan tangan sehalus ini harus terluka. Dan tanpa berpikir Guanlin mengangkat tangan itu dan mengecup telapak tangan Seokjin tepat di luka yang tertutup plester itu.

"Semoga cepat sembuh ne. Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok, Seokjin" ucapnya setelah melepas tangan Seokjin perlahan. Seokjin yang terpengarah dengan tingkah Guanlin semakin terkejut saat melihat senyum temannya ini. Karena memang Seokjin tidak pernah melihat senyuman Guanlin. Jadi ia terkejut saat Guanlin tersenyum padanya.

Tanpa menunggu balasan Seokjin, Guanlin beranjak lebih dulu. Sedangkan Seokjin masih termenung dengan kejadian barusan. Ia menatap telapak tangan yang menjadi korban bibir Guanlin. Seokjin menggelengkan kepalanya namun senyuman tetap terlihat diwajahnya.

.

Sudah lewat 15 menit Seokjin menunggu didepan ruang OSIS. Ia sudah mengirim pesan pada Yoongi mengenai keberadaannya. Namun, belum ada balasan sama sekali dari pesan yang ia kirimkan. Mungkin rapatnya masih belum selesai.

CKLEK

Seokjin menolehkan kepalanya dan melihat beberapa orang mulai keluar dari ruang OSIS. Seokjin tak mengenalnya, jadi ia hanya diam memperhatikan.

"Eh Seokjin?" Yugyeom lalu duduk disamping Seokjin yang tersenyum "Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku ingin bertemu dengan Yoongi hy- sunbae, Yugyeom hyung" ucap Seokjin hampir saja kelepasan.

Yugyeom terlihat bingung, "Kenapa..."

"Ayo pulang...Eh? Hai Seokjin. Apa yang kau lakukan disini? Wonho mana?" Jaebum baru keluar dari ruang OSIS dan berdiri disamping Yugyeom.

"Annyeong Jaebum sunbae. Aku ada keperluan, dan Wonho sudah pulang, sunbae"

Jaebum mengangguk mengerti, "Begitu. Ayo pulang, kita ada tugas kelompok ingat? Maaf ya Seokjin kami harus pergi dulu. Sampai jumpa lagi" ucap Jaebum dan menepuk bahu Yugyeom untuk segera pergi. Sedangkan Seokjin hanya tersenyum.

Yugyeom nampak tidak rela kalau harus meninggalkan Seokjin, namun dia juga harus segera pergi. "Kalau begitu kau masuklah kedalam ne, Yoongi hyung masih didalam. Aku pergi ya, sampai jumpa baby angel" ucap Yugyeom dan mengelus rambut Seokjin pelan.

"Sampai jumpa, hyung" ucap Seokjin, sama sekali tidak terpengaruh dengan panggilan manis dari Yugyeom, meskipun ia sedikit merasa geli dengan panggilan itu.

Karena saran yugyeom, Seokjin memberanikan diri memasuki ruang OSIS.

TOK TOK

"Permisi"

Beberapa orang yang masih berada di ruangan tersebut menatap kearah pintu masuk dan mendapati seorang kakak kelasnya yang berdiri disana.

"Seokjin" teriakan ceria itu mengalihkan pandangan Seokjin pada seseorang yang ia temui saat jam istirahat tadi. Orang itu kini berdiri didepannya.

"Chanyeol hyung" ucap Seokjin tersenyum, seolah menyapa.

"Kim Seokjin" Seokjin menoleh saat ada orang lain yang memanggilnya.

"Eh, annyeong Jaehwan hyung" Jaehwan yang tengah merapikan barangnya tidak menyangka melihat adik kelasnya disini. Sedangkan Chanyeol yang merasa ada saingannya disini menatap tajam kearah Jaehwan.

Beberapa yang tidak mengenal Seokjin hanya menatap dengan bingung. Lain halnya dengan 6 orang yang menatap datar interaksi 2 orang anggota OSIS tersebut.

"Apa yang kau lakukan disini, Seokjin?" tanya Chanyeol pelan.

Seokjin tersenyum, "Aku ingin menemui Yoongi sunbae, hyung"

Chanyeol yang mendengarnya penasaran dengan apa yang terjadi diantara pujaan hatinya dengan ketua OSIS mereka.

"Hei Seokjin daripada kau bersama namja dingin itu, lebih baik ayo ikut aku saja" saran Chanyeol dengan seringai diwajahnya.

"Park Chanyeol"

Chanyeol hanya menyengir dan menatap Yoongi yang memandangnya tajam. Chanyeol lalu mengambil tasnya dan menepuk pelan kepala Seokjin, "Sampai jumpa besok, Seokjin"

"Ne hyung" ucapnya tersenyum. Beberapa orang yang tidak Seokjin kenal ikut keluar juga. Dan saat melewati Seokjin, mereka tersenyum menatapnya. Sedangkan Seokjin balas tersenyum pada sunbae-sunbaenya itu.

"Tanganmu sudah lebih baik, Seokjin?" kali ini Jaehwan yang mendekat dengan teman akrabnya. Dan lagi-lagi 6 pasang mata menatap tajam interaksi mereka.

"Sudah hyung. Terima kasih sudah menolongku"

"Sama-sama. Oh ya, kau tinggal dengan siapa?"

Seokjin sedikit bingung, namun ia tetap menjawabnya, "Dengan hyungku, Jaehwan hyung"

Jaehwan mengangguk, "Kalau begitu, saat kau pulang nanti, minta hyungmu untuk mengganti plester ditanganmu itu ne"

Seokjin tersenyum senang, "Baik hyung. Terima kasih"

Jaehwan mengangguk, "Kalau begitu hyung pergi dulu. Kau ada keperluan dengan Yoongi kan?"

"Ayo Sandeul. Yoongi, aku pergi. Sampai jumpa, Seokjin" Jaehwan berjalan melewati Seokjin dengan temanya, Sandeul. Ia juga tersenyum pada Seokjin yang berbalas senyuman juga.

Tepat setelah mereka berdua keluar dan pintu tertutup. Kini hanya tersisa Seokjin dengan 6 orang anggota OSIS didalamnya. Seokjin hanya menatap mereka dalam diam, sampai akhirnya,

"Jinnie, kemari" suara lembut Yoongi menghilangkan kesunyian diruangan itu. Seokjin mendekat ke arah Yoongi.

"Hyung lihat tanganmu" tanpa banyak bicara Seokjin menunjukkan luka yang didapatnya tadi. Yoongi mengambil tangan Seokjin dan menggenggamnya.

"Jadi?"

"Saat jam pelajaran komputer tadi, bukuku tertinggal di kelas. Jadi aku harus kembali ke kelas untuk mengambilnya, hyung. Dan saat akan kembali ke lab, aku tidak sengaja menabrak Jaehwan hyung dan terjatuh. Makanya tanganku terluka. Tapi Jaehwan hyung sudah membawaku ke UKS kok hyung. jadi aku tidak apa-apa" ucap Seokjin tersenyum manis. Ia hanya tidak mau membuat hyungnya khawatir.

Yoongi yang mendengar penjelasan Seokjin hanya mengangguk. Ia lalu menarik Seokjin untuk ia peluk, yang juga balas memeluknya.

"Lain kali hati-hati ne adik manis"

Seokjin terkekeh dan mengangguk, "Baik hyung"

"Seokjinie"

"Ne"

Seokjin menolehkan pandangannya pada Hoseok yang merentangkan tangannya, dan dengan senang hati Seokjin masuk kedalam pelukannya.

"Hyung hampir saja pingsan saat Jaehwan mengatakan tentang lukamu. Kau baik-baik saja kan?" ucap Hoseok sambil mengelus rambut Seokjin.

"Aku tidak apa-apa, hyung"

Seokjin sedikit menoleh kesamping Hoseok dan melihat Namjoon yang tersenyum padanya. Tangannya terulur ikut mengelus rambut halus Seokjin. Baru saja lepas dari pelukan Hoseok, Jungkook langsung menarik Seokjin dan mendudukkannya dipangkuannya.

"Uhh hyung rindu Jinnie" ucap Jungkook lalu mencium pipi Seokjin. Seokjin terkekeh saja, karena ia juga rindu hyungnya.

"Seokjin, kapan kau mengenal Chanyeol hyung?" tanya Jimin disamping Jungkook. Ia menarik tangan Seokjin yang terluka dan memandangnya iba.

"Tadi saat istirahat hyung" ucap Seokjin. Dan Jimin hanya menganguk saja.

Taehyung yang berada disisi satunya mengelus rambut Seokjin dan menciumnya. "Syukurlah kau baik-baik saja. Jangan terluka lagi ne" ucap Taehyung tersenyum.

"Baik hyung"

"Coba hyung lihat" Jungkook lalu mengambil tangan Seokjin dan melihat plester luka itu, "Pasti sakit"

Dan dengan pelan ia mengecupi tangan Seokjin. Seokjin sendiri hanya tersenyum saja. Namun ia menyadari satu hal. Sepertinya ada yang aneh dengan dirinya.

"Hyung, kenapa jantungku berdetak terus ya dari tadi?"

Pertanyaan Seokjin membuat kegiatan Jungkook terhenti dan 6 pasang mata kembali menatap Seokjin dengan pandangan terkejut.

"NE?!"

"Tunggu kenapa jantungmu berdetak kencang Jinnie? Apa yang sebelumnya terjadi?" ucap Jimin heran. Yang lain memandang Seokjin horor.

Sedangkan Seokjin bingung dengan pertanyaan hyungya. Memang apa yang terjadi sampai jantungnya berdetak kencang?

.

.

.

tbc

Halooooo

akhirnya aku bisa melanjutkan cerita ini lagi

terima kasih untuk kalian para readers

semoga cerita ini masih bisa menghibur kalian