Sunbae Or Hyung
.
Cast : All member BTS other
Genre : Family, brother complex
School life (AU)
.
.
.
Part 11
.
.
.
Author Pov
Malam itu setelah selesai makan dan memastikan Seokjin sudah tidur, ke 6 hyungnya mengadakan pertemuan dadakan di kamar Yoongi. Sudah jelas yang akan mereka bahas adalah masalah detak jantung Seokjin yang menggila tadi sore. Bahkan Jungkook yang saat itu memangku Seokjinpun merasakan debarannya. Masalahnya adalah, apa dan siapa yang membuat Seokjin dengan santai mengatakan itu.
Jungkook yang hanya diam akhirnya mengutarakan pendapatnya, "Apakah karena Seokjin punya perasaan padaku, hyung? Sampai jantungnya berdegup kencang saat aku mengecup tangannya. Kalau begitu aku dengan senang hati akan mengencani Seokjinie" ucapnya tersenyum.
PLAK
"Hentikan khayalanmu Jeon, ini masalah serius. Kalaupun ia jatuh cinta padamu, aku yang pertama akan merebutnya darimu" ucap Taehyung setelah memukul kepala Jungkook. Sedangkan Jungkook cemberut dan mengelus kepalanya.
Yang lain hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan 2 orang maknae mereka. Untuk saat ini Jimin tidak akan ikut memperebutkan Seokjin, karena ia yakin ini bukan tentang mereka. Karena sejak awal kasih sayang mereka sudah sangat berlebihan pada Seokjin, mencium, memeluk, tidur bersama, bahkan mandi bersamapun mereka pernah melakukannya. Sudah jelas bukan karena mereka, karena mungkin saja Seokjin sudah terbiasa dengan sikap mereka.
"Yoongi hyung, kau tidak punya kontak teman Seokjin?"
Yoongi hanya menggeleng. Ia memahami maksud Jimin, tapi mau menanyakannya pun kemungkinan teman Seokjin juga tidak akan tau. Dan kalaupun terjadi sesuatu pada Seokjin, sudah pasti Wonho akan menemuinya seperti kemarin.
"Aku tidak masalah kalau Seokjin memang punya perasaan seperti itu" ucap Hoseok tenang.
"ITU MASALAH, HYUNG!" Hoseok menutup telinganya mendengar teriakan Jungkook, Jimin, dan Taehyung.
PLAK
PLAK
PLAK
"Bodoh. Kalian bisa membangungkan Seokjin" ucap Namjoon setelah memukul kepala mereka bertiga. Sedangkan Yoongi menatap tajam mereka bertiga, sambil melihat kearah kamar Seokjin. Takut pintu kamar itu terbuka karena pemiliknya terbangun mendengar teriakan barusan.
"Mian" ucap mereka bertiga sambil mengelus kepala. Sial bagi Jungkook harus merasakan sakit lagi dikepalanya.
"Menurutku juga bukan sebuah masalah Seokjin merasakannya. Yang jadi masalah adalah penyebabnya" ucap Namjoon kembali. Ia santai saja dengan perasaan Seokjin, karena pada akhirnya ia yakin Seokjin akan tetap memilih mereka.
"Itu maksudku. Seokjin wajar merasakan itu, namun kita tidak tau siapa dan apa yang membuat Seokjin seperti itu. Tapi kalau dipikirkan, Seokjin menyadari debaran jantungnya saat Jungkook mencium tangannya. Apa jangan-jangan.."
"TID.."
"Diam!" Jungkook dan Taehyung membungkam mulut mereka saat mendengar suara Yoongi. Mereka tidak bisa melanjutkan ucapan mereka, karena Yoongi sudah menatap tajam mereka.
"Sebelum Jungkook melakukannya pada Seokjin, ada orang lain yang melakukannya. Itu maksudmu?"
Hoseok mengangguk mengiyakan ucapan Namjoon, "Menurutku begitu"
"Tapi bukankah kita juga sering melakukannya juga, hyung? Bahkan lebih" ucap Taehyung menyangkal.
Hoseok menggeleng, "Itulah mengapa Seokjin tidak akan merasakan apa-apa saat kita melakukannya, karena ia sudah terbiasa. Berbeda lagi jika orang lain yang melakukannya"
Dan ucapan Hoseok membuat mereka terdiam. Mungkin Namjoon dan Hoseok menyingkapinya dengan biasa saja. Namun 3 maknae mereka jelas menganggap ini adalah ancaman.
"Tidak ada yang boleh mengambil milikku"
"Siapa yang milikmu, Jeon?!"
"Tae Tae hyung juga tidak boleh mengambilnya"
"Aku akan menculiknya darimu"
"Tidak akan aku biarkan Jimin hyung melakukannya"
"Aku akan..."
"Seokjin milik kita"
Sekali lagi, pertengkaran ketiga maknae itu harus terhenti karena suara Yoongi.
Yoongi menghela napas dan menatap teman-temannya, "Aku juga baik-baik saja dengan apa yang dirasakan Seokjin. Namun, bukan berarti aku juga baik-baik saja Seokjin merasakan itu pada orang lain, apalagi orang yang salah" mereka mengangguk menyetujui perkataan Yoongi.
"Ini tidaklah terlalu serius, mengingat Seokjin tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya. Jadi sekarang kita hanya perlu mengawasi orang-orang disekitar Seokjin yang berpotensi menarik perhatiannya"
"Dan aku akan jadi salah satunya" ucap Jungkook percaya diri, yang membuat Jimin dan juga Taehyung menganggukkan kepala. Mereka siap bersaing untuk mendapat perhatian Seokjin. Dan lagipula mereka lebih unggul karena Seokjin sudah mengenal mereka.
"Inilah yang aku maksud, Seokjin jelas akan membuat kita kewalahan karena banyak orang yang ingin mengambilnya dari kita. Tapi keuntungan bagi kita, karena Seokjin selalu menurut dengan apa yang kita katakan. Jadi setidaknya lebih mudah bagi kita menghindarkan Seokjin dari ancaman disekitarnya."
Yoongi sebenarnya tidak apa-apa dengan perasaan Seokjin, meskipun ia tidak rela Seokjin merasakannya pada orang lain. Mungkin. Karena bagi Yoongi itu hanya sebuah kemungkinan. Dan setiap kemungkinan bisa saja berubah.
CKLEK
Mereka serentak mengalihkan pandangan ke arah kamar yang terbuka. Sang pemilik berdiri dengan wajah cemberut dengan rambut sedikit berantakan.
"Hyung~" oke rengekan itu membuat mereka semua merinding mendengarnya.
Yoongi berjalan mendekat dan mensejajarkan tinggi mereka, "Kenapa bangun, sayang, hm?" ucapnya sambil mengelus rambut Seokjin.
"Haus" ucap Seokjin yang tampak masih mengantuk. Yoongi terkekeh mendengarnya. Yoongi melirik Hoseok yang sudah beranjak ke dapur. Sedangkan yang lain menghampiri Seokjin.
"Uh Jinnie baby imut sekali" ucap Jungkook dan mengecup pipi Seokjin.
Seokjin hanya menatap Jungkook sekilas. Sungguh ia sangat mengantuk, namun karena haus ia jadi terbangun.
"Kau lucu sekali" Taehyung mencubit pipi Seokjin yang berbuah rengekan.
"Hyung, aku masih ngantuk" hyungdeulnya hanya tertawa melihat keimutan Seokjin.
Hoseok menghampiri mereka dan memberikan segelas air pada Seokjin, yang langsung ia habiskan.
"Nah, sekarang Jinnie tidur lagi ne" ucap Yoongi mencium keningnya, diikuti yang lain. Seokjin menangguk dan masuk kembali ke kamarnya. Meninggalkan hyungnya yang terdiam.
"Bagaimana mungkin aku akan rela menyerahkan anak manis sepertinya pada orang lain, hyung" rengekan Jungkook hanya berbuah helaan napas dari yang lainnya. Karena apa yang dikatan Jungkook adalah apa yang tengah mereka pikirkan.
'aku tidak rela'
.
.
.
Pagi itu seperti biasa Seokjin sudah berdiri disamping gerbang masuk setelah turun dari mobil Yoongi. Ia masih menunggu Wonho yang masih belum datang. Selama menunggupun ia melihat sudah banyak siswa yang berdatangan. Ia juga barusan melihat mobil hyungdeulnya yang memasuki sekolah. Entah mengapa Wonho belum datang.
"Jin!"
Seokjin melihat kearah sumber suara, dan ternyata itu Woojin dan juga Jihoon.
"Selamat pagi, Jin" sapa mereka berdua saat sudah sampai didepan Seokjin.
Seokjin tersenyum, "Selamat pagi"
"Kau sedang apa?" ucap Jihoon yang berdiri disebelahnya. Sedangkan Woojin tengah memarkirkan sepeda.
"Aku menunggu Wonho. Ia belum datang" ucap Seokjin sambil melihat-lihat keberdaan Wonho.
"Tumben"
Jihoon berniat mengambil ponselnya dan menghubungi Wonho, sebelum,
"Seokjin!"
Jihoon dan Seokjin menolehkan kepala dan melihat Wonho yang berlari kearah mereka. Dan saat Wonho didepan mereka, bisa terlihat keadaan Wonho yang berantakan. Baju yang kusut, serta keringat yang menetes dari keningnya.
"Kau kenapa berlari sampai seperti ini?" ucap Jihoon heran. Sedangkan Seokjin sudah mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada Wonho.
Wonho berusaha tenang, karena napasnya masih terdengar terburu-buru. Belum sempat tenang seseorang mengejutkan Wonho dengan menepuk bahunya.
"Kau kenapa Wonie-ya?"
Mendengar suara itu, lantas Wonho langsung menolehkan kepalanya. Dan yah, Jaebum berada didepannya.
"Kau kenapa berantakan seperti ini? Kau baik-baik saja?"
Wonho tidak menjawab. Ia masih terdiam dengan deru napas yang masih cepat. Jaebum yang tak mengerti apa-apa memberikan sebotol air mineral yang tadi ia beli kedepan Wonho. Jelas terkejut, namun ia malah berlari meninggalkan Jaebum yang menatapnya heran, serta Jihoon dan Seokjin yang belum mengerti dengan apa yang terjadi.
"Em sunbae, kami permisi masuk kelas dulu" ucap Jihoon membuat Jaebum tersentak. Ia lalu menatap mereka berdua yang diketahui adalah teman Wonho, terutama Seokjin.
"Ne, silahkan. Oh ya, tolong berikan ini pada Wonho ya" ucap Jaebum kembali menyerahkan botol air mineral dihadapan Jihoon.
Jihoon yang bingung lalu menatap Seokjin. Dan hanya dibalas anggukan pelan. Mau tidak mau akhirnya ia mengambil botol tersebut, "Baik sunbae. Kalau begitu kami permisi"
Jaebum hanya mengangguk melihat kepergian 2 juniornya itu. Ia menggelengkan kepalanya, "Hah, kenapa sulit sekali"
.
.
Wonho terus berlari tanpa melihat ke belakang lagi. Ia lelah sebenarnya, namun karena melihat sunbaenya itu, ia harus kembali berlari menghindari hal-hal yang tidak diinginkannya terjadi lagi seperti kemarin lalu. Ia tidak mau dicium orang sembarangan.
BRUK
Dan beginilah akibatnya ketika ia berlari tanpa menoleh kemana-kemana. Wonho tanpa sengaja menabrak seseorang yang membuat mereka berdua terjatuh. Wonho benar-benar ingin mengumpat hari ini. Tadi pagi bus yang akan mengantarnya ke sekolah mogok, hingga membuatnya berlari takut terlambat. Sampai di sekolah ia bertemu Jaebum yang tidak pernah ia harapkan. Dan sekarang ia menabrak orang yang tak bersalah.
Wonho bangkit perlahan dan beruntung ia tidak apa-apa. Melihat kedepan, orang yang ia tabrak juga baru akan berdiri. Membuat Wonho reflek mengulurkan tangannya.
"Maafkan aku. Kau tidak apa-apa?" ucap Wonho pada orang tersebut. Ia sangat berharap orang ini tidak marah.
Ternyata uluran tangannya diterima. Belum lagi orang yang ditabraknya ini tersenyum kecil padanya. Dan membuat Wonho terkejut.
"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya" ucapnya pada Wonho, yang mengangguk kaku karena merasa canggung.
Wonho segera melepas tangannya setelah mereka berdua berdiri, "Maafkan aku ya"
"Tidak apa-apa sungguh. Aku tau kau terburu-buru. Lihat bajumu sedikit kotor, dan kau berkeringat. Pergilah ke kamar mandi dulu dan bersihkan dirimu. Kau tidak terlihat tampan kalau seperti ini" ucap orang tersebut terkekeh.
Wonho terbelalak mendengar ucapannya, 'Tampan?'
Orang tersebut tersadar akan sesuatu. Ia tersenyum dan kembali mengulurkan tanganya, "Oh ya namaku Chae Hyungwon dari kelas 10-2C. Kau?"
Wonho yang sudah sadar ikut mengulurkan tangannya, "Lee Wonho kelas 10-2A"
"Baiklah Wonho, aku harus ke kelasku sekarang. Lain kali berhati-hatilah. Sampai jumpa lagi" Hyungwon tersenyum meninggalkan Wonho yang merasa bingung dengan kejadian barusan. Ia masih tetap berdiri sampai ia kembali dikejutkan tepukan dibahunya.
"Jangan melamun" Wonho menghela napas melihat ternyata Seokjin yang juga bersama Jihoon dan Woojin.
"Lain kali jangan kabur begitu saja, Wonho. Kalau kau tidak suka katakan saja terus terang. Ini" ucap Jihoon lalu menyerahkan botol air mineral yang ia tau dari Jaebum. Dengan enggan ia mengambil botol tersebut.
Woojin menggelengkan kepalanya melihat keadaan Wonho yang jauh dari kata baik, "Cepat ke kamar mandi dan rapikan penampilanmu. Sebentar lagi bel masuk"
"Baiklah. Kalian duluan ke kelas ya" Wonho lalu melangkah meninggalkan ketiga temannya yang menatap punggung itu prihatin.
"Sepertinya ini hari yang buruk untuknya" ucap Woojin yang melangkah bersama Jihoon dan Seokjin.
"Yah kita kan tidak pernah tau apa saja yang akan terjadi hari ini, kan" ucap Jihoon sambil merangkul Seokjin yang hanya mengangguk saja.
Mereka berjalan memasuki kelas dan mendapati sudah banyak siswa di kelas. Bahkan ia juga melihat Guanlin yang sudah duduk dikursinya. Ingin menyapa tapi sepertinya anak itu sedang sibuk membaca.
Jihoon dan Woojin berjalan ke bangku mereka, begitupun Seokjin. Namun belum sempat duduk. Seulgi datang menghampiri Seokjin.
"Pagi Seokjin" ucapnya ceria.
Sedangkan Seokjin merasa sedikit tidak nyaman, "Ne selamat pagi"
"Aku ada hadiah untukmu. Tolong diterima ya" ucap Seulgi dengan terseny manis.
"Jangan repot-repot"
"Tidak. Terimalah, aku mohon" Seokjin sebenarnya tidak enak menerima pemberian dari orang yang belum ia kenal, apalagi seorang perempuan. Kejadian inipun disaksikan Jihoon dan Woojin dengan tatapan tajam pada Seulgi. Mereka tidak mengerti apa yang diinginkan wanita ini.
Sedangkan didepan Seokjin, meskipun tengah fokus membaca, Guanlin bisa mendengar nada tidak nyaman dari Seokjin. Ia ingin menghentikan pembicaraan mereka, tapi ia sadar ia bukan siapa-siapa. Jadi ia hanya mampu diam memperhatikan.
Seokjin tidak enak sebenarnya. Namun mendengar Seulgi memohon ia jadi tidak tega menolak, "Baiklah. Terima kasih" Seokjin mengambil sebuah coklat yang dipegamg Seulgi.
Seulgi tersenyum senang karena Seokjin menerimanya, "Kalau begitu aku kembali ke kursiku" Seulgi pergi sambil melambai pada Seokjin.
Seokjin menghela napas dan menaruh coklatnya diatas meja. Yang ia baru sadari ada note kecil diatasnya. Seokjin duduk dan mengambil note tersebut. Saat membacanya, Seokjin sungguh terkejut. Ia lalu melirik Seulgi yang juga tengah menatapnya dengan senyum manis.
.
'Jin, aku melihatmu keluar dari mobil ketua OSIS Min Yoongi :)'
.
Apa maksudnya?
.
.
.
tbc
semoga cerita ini masih bisa menghibur kalian :)
